Pt.7 : Kim Namjoon x Jeon Jungkook
Stupidity
Sepasang mata sipit milik seorang pemuda berlesung pipit tampak mengawasi dari balik tembok. Mata itu dengan awas memperhatikan murid-murid yang berlalu lalang didepan kelasnya. Saat dia merasa orang yang dia hindari tidak ada, Kim Namjoon, pemuda itu menghela napasnya lega. Dia keluar dari tempat persembunyiannya sambil merapikan baju, belum ada sepuluh langkah dia berjalan, sebuah suara menghentikannya.
"Ohayou, Namjoon senpai!" Suara milik orang yang dihindarinya.
Dengan enggan dan terpaksa Namjoon membalikkan badannya, dan sekarang dia bersitatap dengan seorang pemuda yang hampir sama tinggi dengannya, mata bulatnya bak kelereng hitam yang sering dimainkannya saat kecil dulu, menatapnya dengan ekspresi begitu menggemaskan dan senyum hangat. Namun, Namjoon hanya mengangkat tangannya dan menyunggingkan sekilas senyum untuk membalas sapaan manis tadi dan langsung meninggalkan pemuda pindahan dari Jepang itu.
"Kenapa sih dengan dia. Aku bosannn~~"
Rengekan Namjoon saat dia sudah duduk di kursinya itu membuat beberapa kepala murid kelas itu menatapnya dengan raut datar.
"Hey, Kim Namjoon, apa salahnya kau membalas sapaannya saja?"
Ucapan seorang pemuda berwajah ceria yang duduk didepannya itu membuat Namjoon jengkel. Sudah beribu kali teman-teman sekelasnya mengatakan hal yang sama.
"Hoseok is right, dude. Kalau kau tidak mau, untukku saja. Lumayan dapat pacar orang Jepang."
"First of all, Mr. Wang, he is Korean. His mother is Japanese and his father Korean."
"Wah, aku tidak menyangka, Kim. Ternyata kau diam-diam memperhatikannya."
"Diam kau, kuda! Dia tetanggaku, asal kalian tahu saja."
"Seriously? Kau tidak pernah mengatakannya. Tapi, dia menyukaimu, bro."
"Omong kosong, itu hanya perasaan sesaat saja, dia bukan tipeku. Terlalu cerewet dan kekanak-kanakan."
"Tapi dia pintar, sangat pintar malah. Aku dengar dia menjadi juara 1 paralel dulu saat masih di Jepang. Dia rajin dan baik, dia bahkan rela membuatkanmu bento, menunggumu sampai kau pulang baru dia pulang."
"Sudah aku bilang, aku hanya melihatnya sebagai adik kelas, tidak lebih, aku tidak peduli."
"Hati-hati dengan ucapanmu, Kim Namjoon. Terkadang cinta berawal dari ketidak pedulian."
"Sudah kubilang, bullshit. Kalau peduli, baru itu bisa disebut cinta"
"STUPID."
.
"Namjoon senpai, aku membuatkanmu bento."
"Aku sudah makan."
.
"Namjoon senpai, ayo pulang sama-sama."
"Aku masih ada urusan."
.
"Mau pakai payungku? Hujan sedang deras-derasnya loh."
"Tidak, terima kasih."
.
"Namjoon senpai, otanjoubi omedetou."
"Aku tidak mengerti kau bicara apa."
.
"Namjoon senpai, aku membawakanmu obat, katanya kau demam."
"Aku sudah makan obat di rumah tadi."
.
.
.
.
Hembusan napas lelah terdengar begitu suram dari balik sebuah pohon besar. Semilir angin menggerakkan anak rambut yang menutupi wajah Jeon Jungkook yang menyiratkan rasa kecewa. Dia melihat-lihat foto di kamera yang ada di genggaman tangannya sambil tertawa hambar.
"Apa menyerah saja ya..."
Dia mematikan kameranya dan menatap langit yang begitu bersih dari awan, cerah namun tidak secerah hatinya. Jungkook melangkah memasuki sekolah, namun langkahnya terhenti saat melirik ke dalam ruang siaran, dia melihat punggung orang yang begitu dikenalnya, tertidur dengan pulas. Senyum perih tertoreh di bibir Jungkook melihat betapa sulit dia hanya untuk bisa menyapa pemilik punggung itu, namun dia merasa ada yang aneh, saat melihat jam tangannya, tanpa pikir panjang dia masuk ke ruang siaran.
"Sen— Namjoon-ssi bukannya kau ada tes?" Suara Jungkook yang bergetar tidak digubris oleh Namjoon. Dengan mengumpulkan semua keberanian, Jungkook menggoyangkan bahu Namjoon dan berhasil membuatnya terbangun.
"Berhenti mengangguku, bocah, aku muak!" Ucapan bernada dingin itu begitu menggores hati Jungkook, namun dia tetap berusaha menyampaikan maksudnya.
"Itu... kau—tes, sudah siang." Jungkook menunduk takut, tidak berani menatap lawan bicaranya.
Ucapan Jungkook membuat Namjoon buru-buru melihat jam dan terlonjak kaget, dia langsung berdiri dan berlari keluar setelah sebelumnya tidak sengaja menabrak tubuh Jungkook. Tawa perih terdengar dari ruang siaran itu.
"Yah, sia-sia saja."
Jungkook merogoh saku baju dan megeluarkan handphonenya. Dia menekan speed dial dan menempelkan handphone itu di telinga. Suara lembut menyapa indra pendengarannya.
"Eomma, aku sudah memutuskannya. Aku..." Jungkook melirik tempat duduk Namjoon tadi dengan sendu.
"Aku sudah tidak kuat lagi."
.
.
.
.
"Hei, Namjoon apa kau sudah dengar?"
"Hm?"
"Dia sudah tidak ada lagi."
"Nugu?"
"Jeon Jungkook." Mendengar nama itu membuatnya terdiam, dia tidak mengerti dan tidak ingin mengeerti.
"Oh."
"Bagaimana tesmu kemarin? Jackson bilang kau nyaris gagal karena nyaris terlambat."
"Yeah, aku berhasil sampai."
"Untung saja, kalau tidak pupus sudah impianmu, Joon."
Ucapan itu membuat Kim Namjoon terdiam, dia tertunduk dan terkekeh pelan, merutuki kebodohan dan ketidak acuhannya selama ini. Dia menyesal? Entahlah, dibanding menyesal dia malah merasa kosong dan bingung dengan semua ini.
"Bagaimana dia tahu..."
"Dia tahu segalanya tentangmu, Kim."
Namjoon tersentak di tempat dan menoleh ke belakang, matanya bersirobok dengan pemuda yang lebih pendek, pemuda itu menatapnya tajam.
"Jackson..."
"Like I said before, STUPID."
"Aku tahu, berhenti menyalahkanku karena penyesalan tidak akan merubah segalanya."
.
Because he's gone now, stupid
.
.
A/N : Hai, ada yang rindu? Nggak lah ya :v Jadi, sebenarnya ini ff pelampiasan sebelum semua ujian menerpa jadi isinya agak gak jelas karena sebenarnya ini ff untuk meringankan pikiran aja XD Makasih yang udah bersedia meluangkan waktu untuk membacanya.
Annyeong ^^
