MARIONETTE

Setting : Semi-Canon

Ratting : T semi M, buat jaga-jaga

Genre : mystery, friendship, supernatural, action

Warning: Probably OOC

Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto


Chapter 1

Seharusnya Ino bersyukur dan menikmati liburan singkatnya semaksimal mungkin. Tapi sedari tadi yang ia lakukan hanyalah duduk bertopang dagu di meja kasir dan memelototi jam kukuk antik di tokonya dengan sengit. Astaga, betapa lambatnya jarum-jarum jam itu bergerak!

Ino mengeluh dalam hati lagi untuk yang kesekian kalinya. Kalau saja tahu bakal semembosankan seperti ini, ia pasti akan menerima permohonan Sakura untuk membantunya menyusun segunung buku dan dokumen-dokumen yang baru datang di perpustakaan gedung hokage. Tadinya ia menertawakan Sakura diam-diam karena mendapat tugas tambahan dari nona Tsunade. Tapi sepertinya malah Ino yang kena batunya. Ia jadi diminta oleh ayahnya menjaga toko bunga Yamanaka selama liburan.

Bukannya Ino membenci pekerjaan itu. Ino dengan senang hati akan melakukannya karena bunga sampai kapan pun tetap menjadi favoritnya. Yang membuat Ino hampir mati karena bosan adalah, tidak adanya pengunjung satu pun yang datang sejak kemarin. Satu pun. Bahkan bayangannya pun tidak ada. Tambahan lagi, semua pekerjaan toko sudah ia bereskan sejak tadi. Jadi tak yang bisa dikerjakan Ino sekarang.

Kedua jarum jam terus begerak, tetapi masih telalu lambat. Ketika pada akhirnya jam menunjukkan pukul satu siang, Ino sudah menguap hingga yang ke sepuluh kalinya.

Pukul dua siang. Ino mulai menghitung uang receh yang ada dalam mesin kasir.

Pukul tiga sore. Ino memainkan pensil di ujung hidungnya.

Pukul empat sore ...

"ARRRGGHH! Aku bosann! Kenapa hari ini tidak ada pelanggan yang datang si..."

"Permisi." Seseorang masuk ke toko bersamaan dengan bunyi bel ketika pintu dibuka.

Seketika Ino langsung melonjak dari kursinya. Malu, tentu saja, kedapatan berteriak-teriak seperti itu di depan calon pelanggan. Wajah Ino memerah ketika kursinya terguling dan menghasilkan bunyi gedebuk keras di lantai toko. Dengan gelagapan, Ino membetulkan kursi hingga ke posisi semula.

"Eh, selamat datang di toko bunga Yamanaka," kata Ino gugup. Tangannya dengan panik merapikan celemek yang ia pakai, yang sebetulnya tidak perlu dirapikan. Hanya untuk menutupi kegugupan. Tapi detik berikutnya Ino langsung terpana. Tepatnya, ia terpana oleh penampilan calon pelanggannya pada hari itu. Orang itu mengenakan jubah bepergian berwarna merah tua lusuh dengan tudung yang ditarik hingga menutupi kepala. Mulanya ia berdiri ragu di ambang pintu. Ino hanya bisa menerka-nerka apakah orang di depannya ini laki-laki atau perempuan. Ino tidak terlalu memperhatikan suaranya tadi.

"Selamat sore," sapa Ino riang. Pelanggan adalah raja, tak peduli seperti apa penampilannya.

"Sore," balas orang itu. Kali ini Ino mendengarkan. Kalau dari suaranya sih sepertinya laki-laki. Orang itu lalu membuka tudung dan mendekat ke meja kasir.

Dia memang laki-laki, tapi masih terlihat muda, kira-kira sepantaran dengan Ino. Atau mungkin lebih muda? Wajahnya tampak kekanakan, tapi tidak terlalu berekspresi.

"Nah, apa yang bisa saya bantu? Bunga jenis apa yang Anda cari?"

"Apa kau punya obeng?" tanya si pemuda berambut merah.

"Hah?"

"Kubilang, apa kau punya obeng? Yang kecil kalau bisa, yang seukuran sekrup untuk kacamata."

Ino makin bengong. Ia tidak salah dengar ... 'kan? Pemuda di depannya ini barusan minta obeng?

Tidak ada reaksi berarti, pemuda itu jadi meradang. "Dengar ya. Kau tidak tuli kan? Kubilang ... "

Ganti Ino yang meradang. "Kalau aku tuli, kau buta!" potong Ino sewot. Tak perlu menahan diri lagi. Ino tak ada waktu meladeni orang gila. Sejak kapan toko bunga menyediakan obeng? Dasar sinting! "Kau tidak baca tulisan di depan? Toko Bunga Yamanaka. To-ko-Bu-nga! Mengerti? Kalau toko peralatan ada di sebelah selatan sana, satu kilometer dari sini!"

Si pemuda makin terlihat geram. Atau mungkin, itu hanya imajinasi Ino saja. Soalnya, raut wajahnya tidak terlalu menunjukkan perubahan sih. Ino beranggapan dia makin geram karena bisa merasakan aura keberangan di sekeliling si pemuda.

Sayangnya, Ino tidak sekedar berimajinasi. Pemuda itu menggebrakkan kedua tangannya ke atas meja kasir. Ino ciut sedikit tapi langsung bersiap memasang kuda-kuda. Kalau pemuda di depannya ini berniat macam-macam, mana mungkin Ino tinggal diam! Jangan remehkan putri dari keluarga Yamanaka!

Kepala pemuda itu menunduk dan tubuhnya gemetar, tapi hanya sesaat. Aura kemarahannya hilang, getarannya reda. Pemuda itu lalu mengembuskan satu napas panjang. Dan ketika pemuda itu membuka mulut, nada suaranya lebih tenang.

"Dengar," kata si pemuda. Ia lalu menatap Ino dengan serius. "Aku minta maaf, oke? Aku tidak bermaksud ... aku hanya tidak punya waktu lagi. Aku sudah mendatangi toko-toko sebelum ini, tapi mereka semua menolak meminjami obeng."

Ino langsung ingat kalau toko-toko sebelum ini adalah toko roti dan daging. Jadi, pemuda ini meminta obeng pada toko makanan? Yah, wajar saja kalau ia ditolak. Belum lagi karena penampilannya yang lusuh.

"Toko peralatan yang kausebut tadi ... aku takut waktunya tak sempat."

Ino menangkap nada mendesak dari suara si pemuda. Kekesalan Ino pelan-pelan memudar, digantikan oleh rasa penasaran. Hal mendesak apa yang membuat pemuda ini sangat memerlukan obeng?

Melihat Ino terdiam, pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas selempangnya. Diletakkannya bungkusan itu dengan hati-hati. Masih sama hati-hatinya, kedua tangannya yang bersarung hitam lalu membuka kain pembungkusnya. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu Mahogani berwarna tua sepanjang lengan bawah manusia. Pemuda itu lalu membuka tutup kotaknya dengan sayang.

Seketika Ino terpana. Benda yang berdiam dalam kotak beralaskan kain beledu itu adalah sebuah boneka kayu yang mengenakan kimono berwarna merah tua elegan. Kira-kira berukuran 30 sentimeter. Selama beberapa saat, Ino terpukau melihat detail bonekanya. Rambut gelapnya yang berpotongan rata dihiasi jepit rambut mungil dari batu safir. Raut wajahnya seperti orang yang sedang tidur. Kimononya juga tidak kalah detail. Bordiran emas berbentuk sulur-sulur tanaman dan bunga menghiasi ujung lengan dan bagian bawah kimono.

Boneka yang benar-benar cantik. Tapi tidak utuh. Tangan kiri boneka itu terlepas di bagian pergelangan tangan. Dua buah jari tangannya tidak tersambung menjadi bentuk jari yang utuh : ruas-ruas jarinya terpisah dan beberapa sekrup kecil seukuran sekrup kacamata tergelatak di samping ruas-ruas jari yang berjajar itu.

"Tolonglah," kata pemuda itu kemudian. Ino menangkap nada memohon dari suara pelannya. "Tolong pinjami aku obeng kecil. Kau lihat tangan kirinya kan? Kalau aku mencari ke toko lain lagi ... waktunya tidak sempat."

Ino masih bergeming di tempatnya. Barisan tanda tanya berenang-renang dalam benaknya. Kenapa pemuda itu begitu panik karena tangan bonekanya rusak? Dan apa maksudnya waktunya tidak sempat? Apa dia ini sebenarnya adalah seorang pembuat mainan dan boneka ini adalah pesanan seorang klien?

"Jadi? Apa kaupunya obeng?" Pemuda itu mendesak lagi, menarik pikiran Ino kembali ke dunia.

"Obeng?" Ino membeo dengan bodoh. "Oh-oh ya, obeng. Yang kecil. Kacamata. Ya, ya, tunggu sebentar."

Dengan itu, Ino menghilang ke balik pintu di belakangnya. Pintu itu bersambungan dengan ruang keluarga kediaman Yamanaka. Ino tergopoh-gopoh menghampiri lemari kaca yang ada di sebelah rak buku kecil. Gadis itu kemudian mengambil kotak plastik kecil berwarna biru tua yang diletakkan di sebelah kacamata baca ibunya.

Ino terburu-buru kembali ke meja kasir. Tapi alisnya langsung naik ketika melihat pemuda itu tidak lagi terlihat panik seperti tadi. Ia malah berdiri terpaku memperhatikan jam kukuk dari kayu yang ada dalam toko bunga Yamanaka. Ia tampak terpesona pada jam kukuknya, dan Ino yakin seyakin-yakinnya kalau mata pemuda itu terlihat berbinar.

Ino melirik boneka dalam kotak yang ditelantarkan pemiliknya. Sebuah helaan napas lalu keluar dari mulutnya. Entah dosa apa yang sudah Ino perbuat hingga hari ini dia kedapatan pengunjung yang bukan pembeli, bertingkah aneh pula. Astaga.

"Hei, kau, ini obengnya," panggil Ino akhirnya. Pemuda itu tidak menggubris.

"Hei!" panggil Ino lagi, dengan suara yang lebih dikeraskan. Setidaknya, kali ini ia mendapat respons. Pemuda itu menoleh pada Ino. Untuk sesaat ia menatapi Ino dengan bingung. Matanya mengerjap paham beberapa detik kemudian.

Pemuda itu menerima uluran kotak obeng dengan senang. Segera ia mengeluarkan boneka kayunya dengan hati-hati, lalu memilih obeng kecil dengan dua ukuran yang berbeda untuk memperbaiki jari bonekanya. Ia kemudian memilih obeng terbesar yang ada dalam kotak plastik. Ternyata ukuran obenanya masih lebih kecil daripada kepala sekrup di pergelangan tangan boneka, tapi masih bisa digunakan. Beberapa kali ia menggerakkan pergelangan tangan dan jari boneka, untuk memastikan apakah sudah pas di tempat masing-masing atau belum.

Selama pemuda itu mengerjakan pekerjaannya, Ino memperhatikan dengan saksama. Ia belum pernah melihat orang memperbaiki boneka selembut ini. Semua gerak-gerik dan pandangan mata si pemuda memancarkan rasa sayang pada bonekanya.

Dia pasti sangat menyukai pekerjaannya, batin Ino. Tanpa sadar gadis itu lalu tersenyum.

"Selesai," kata pemuda itu akhirnya. Ia menghembuskan napas lega. "Makasih."

"Sama-sama."

"Dia juga bilang makasih," kata si pemuda sambil mengangkat boneka ke posisi berdiri lalu memperlihatkannya pada Ino. Pada saat itu, kedua mata bonekanya terbuka, memperlihatkan dua buah mata kaca yang indah. "Benar-benar tertolong tepat waktu."

Ino kembali tersenyum. Pemuda yang lucu.

"Buatanmu sendiri?" tanya Ino ketika pemuda itu mengemasi boneka ke dalam kotak. "Detailnya bagus sekali."

Si pemuda berhenti berkemas, lalu memandangi Ino sebentar sebelum menjawab, "Bisa dibilang begitu."

"Apa kau punya toko? Atau hanya menerima pesanan tertentu?"

Si pemuda terlihat bingung. "Toko?"

"Eh? Yah, karena tadi kau bilang boneka itu buatanmu, jadi kukira kau punya semacam toko mainan."

Pemuda itu menggeleng. "Boneka ini bukan barang dagangan."

"Jadi, kau juga tidak menerima pesanan pembuatan boneka?"

"Aku tidak membuat apapun untuk orang lain. Tidak lagi."

Jadi dulu dia sempat menerima pesanan? Ino jadi bingung. Apa yang sekarang hanya sekedar hobi? "Sayang sekali. Padahal bonekanya bagus sekali lho. Bahkan lebih bagus daripada buatan ahli pembuat mainan di Konoha ini."

Pemuda itu tidak membalas perkataan Ino. Untuk sesaat, raut wajahnya menjadi kaku. Kemudian, sebagai gantinya ia berkata, "Kalau sudah, aku permisi. Sekali lagi terimakasih."

Dengan itu, si pemuda memasang kembali tudung jubahnya hingga melewati kepala dan tanpa basa-basi lagi, ia berbalik menuju pintu toko. Namun sebelum kakinya melangkah keluar, mendadak ia menoleh pada Ino. "Salah satu roda gigi jam kukukmu ada yang aus. Kau harus segera membawanya ke tukang reparasi."

Ino mengerjap beberapa kali. Tapi ketika ia hendak bertanya, si pemuda sudah pergi. Gadis itu lalu menatapi jam kayu yang dibentuk seperti rumah-rumahan. Jarumnya jamnya masih berdetak kok, masih berbunyi tik-tok yang teratur. Bandul kecil di bawah jamnya juga masih bergerak. Rasa-rasanya sih tidak ada yang rusak. Lalu apa katanya tadi? Satu roda giginya ada yang aus? Yang benar saja! Roda gigi jam 'kan ada di dalam jamnya? Tidak mungkin kelihatan kalau tidak dibuka.

Mata Ino langsung melebar. Ia segera mengambil tangga pendek dari kayu yang diletakkan di bawah meja kasir. Ino menaiki tangga, lalu mengambil jam yang tergantung di dinding itu. Ia memperhatikan permukaan jam seteliti mungkin. Masih berdebu seperti biasa dan jejak debu yang terhapus hanya berasal dari Ino saat ia memegang jamnya. Penutup kayu di bagian belakang jam juga tidak menunjukkan tanda-tanda telah dibuka. Aneh.

Jam diletakkan ke tempatnya semula. Ino kembali mengamati jam kukuk warisan dari kakek buyut Ino. Bertepatan dengan itu, waktu menunjukkan pukul lima tepat. Terdengar bunyi lonceng yang berasal dari dalam jam. Satu kali. Tapi hanya itu. Tidak ada burung kecil yang muncul lalu berkicau lima kali. Padahal seharusnya ada.

Kali ini mata Ino melebar karena takjub. Pemuda tadi benar! Tampaknya memang ada suatu bagian yang rusak. Tapi Ino tidak habis pikir. Bagaimana pemuda itu bisa tahu?

Suara bel berdenting dari arah pintu membuyarkan kebingungan Ino. Saat menoleh, Ino mendapati ayahnya berdiri di ambang pintu. Pria itu lalu mendekati Ino.

"Selamat datang Ayah," sambut Ino dengan ceria. Gadis itu lalu turun dari pijakannya. "Bagaimana acara jalan-jalannya dengan Ibu?"

"Lumayan," jawab ayahnya sambil menyunggingkan senyum tipis, tapi selanjutnya pria itu pura-pura cemberut. "Tapi rupanya Ibumu lebih memilih acara jalan-jalan kedua dibandingkan pulang dengan Ayah."

Ino geli melihat raut wajah ayahnya. "Pasti di jalan tadi Ibu ketemu Yoshino-san ya?"

Inoichi terkekeh. "Yah, semoga tidak lama. Ngomong-ngomong, ada apa dengan jamnya, Ino-chan? Serius sekali melihatnya."

Ino menimbang jawabannya sejenak. "Sepertinya ada yang rusak. Burung kenari-nya tidak muncul seperti biasa."

"Begitu? Wajar, jam tua sih. Ya sudah, besok Ayah bawa ke tukang reparasi."

Ino hanya mengangguk.

"Hari ini ada yang datang?"

"Tidak ada, Yah, sepi seperti kemarin." Ino berbohong dengan lancar. Ia putuskan untuk tidak menceritakan tamu hari ini pada ayahnya.

"Tokonya ditutup saja kalau begitu. Ayo sini Ayah bantu."

Sekali lagi Ino mengangguk. Tanda tanya mengenai pemuda berambut merah itu pun pelan-pelan tersingkir ke sudut otaknya.


Malam ini bulan purnama sedang tinggi-tingginya. Keindahannya lebih bisa dinikmati bila dilihat dari tempat terbuka atau tempat tinggi. Dan itulah yang dilakukan oleh Sasori saat ini. Berbaring telentang di tempat terbuka dan paling tinggi yang ada di Konoha—di atas salah satu bukit tertinggi Konoha dekat patung para Hokage.

Wajahnya terlihat sendu. Sebelah tangannya lalu terangkat. Telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam terbuka menghadap bulan.

"Sedang melankolis, eh?" sapa seseorang tiba-tiba. Seketika tangan Sasori yang terangkat mengepal erat. Ia lalu menjatuhkan tangannya ke samping tubuhnya.

"Mau apa kau ke sini?" tanya Sasori tanpa mengubah posisi berbaringnya. Ada nada tajam dalam suaranya.

"Tidak ada alasan khusus. Kau tahu 'kan, aku selalu beredar ke mana-mana."

"Hoo? Jadi maksudmu ini kebetulan?"

Orang itu terkekeh. "Ayolah, jangan sinis begitu. Aku benar-benar tak bermaksud apa-apa. Hanya mengamati, seperti biasa."

Sasori tidak membalas. Berdebat dengan orang ini hanya buang-buang waktu.

"Dan mencari teman untuk sedikit mengobrol."

Sasori mendengus.

"Yah, setidaknya aku masih berusaha bersosialisasi dengan makhluk yang masih hidup."

Hening sesaat. Sasori kemudian bangkit dari posisi telentangnya. Ia duduk masih dengan memunggungi tamunya.

"Tergantung, seperti apa konteks hidup yang kaumaksud itu," kata Sasori akhirnya. Nadanya dingin. Tamunya terkekeh lagi. Tapi ketika berikutnya ia berbicara, keseriusan langsung memenuhi udara di sekitar mereka berdua.

"Sebelum aku pergi, ada yang harus kuberitahu. Langsung saja. Waktumu tidak banyak lagi," kata orang itu serius.

"Aku tahu," kata Sasori datar. "Itu sebabnya aku datang ke Konoha ini. Kalau ada buku itu, dia pasti akan mendatangiku. Tapi aku tidak tahu, waktuku tinggal berapa lama lagi."

Orang itu terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. "Lima hari. Tapi kalau kau bisa efisien, paling lama jadi seminggu. Tidak bisa lebih."

"Itu cukup."

"Kau yakin?"

Sasori tidak menjawab.

"Lawanmu kali ini ketambahan orang-orang Konoha juga."

"Aku tahu," kata Sasori kemudian. Dan itu adalah akhir dari pembicaraan mereka.

Orang itu paham. "Kalau begitu, aku pamit dulu. Kuharap kita masih bisa bertemu suatu saat nanti."

Sasori kembali terdiam.

"Satu lagi," kata orang itu mendadak, "dia juga ada di desa ini."

Seketika Sasori membalikkan badannya. Tapi ia hanya mendapati kabut tipis yang bergulung tidak normal di tempat orang itu berdiri sebelumnya. Selama sedetik, mata Sasori menangkap siluet sosok hewan kecil berekor banyak. Mata mereka beradu. Kemudian, hewan itu berbalik dan berlari menyusul majikannya yang telah pergi lebih dulu.

Ketika kabutnya memudar, suasana magis yang menyertai kedua tamu Sasori menghilang. Semuanya kembali seperti semula, seolah sedari tadi memang hanya Sasori seorang yang berada di bukit itu.

Sasori mendecih pelan. Orang itu selalu begitu. Pemuda berambut merah itu lalu mengerjap sekali. Ia menelengkan kepalanya ke kiri, mendengarkan.

"Tentu saja aku kesal," kata Sasori membela diri. "Dia selalu datang dan pergi sesukanya. Bahkan saat di tengah-tengah pembicaraan. Dasar sok misterius."

Sasori kembali mendengarkan.

"Iya, iya. Kalau dia tidak ada, aku tidak akan sampai sejauh ini," gerutu Sasori. Ia lalu menambahkan dalam hati, Dan kalau dia tidak ada, kalian tidak akan bersamaku seperti saat ini.

Sekali lagi, ia mendengarkan. Namun, keningnya berkerut.

"Huh? Cewek toko bunga yang tadi? Memangnya dia kenapa? Cantik katamu? Tidak ah, biasa saja. Iya, dia memang baik, beda dengan yang lain, ia mau menolongku tadi. Itu saja ... apa? Mau kenalan dengannya? Tidak, tidak. Maaf, kalau yang satu ini, aku tidak setuju."

Kali ini Sasori berlagak tidak mendengarkan.

"Daripada itu, lebih baik kita mulai mencari dia 'kan? Tak ada waktu untuk bercanda seperti ini."

Sasori tidak menunggu jawaban. Ia tahu perkataannya yang barusan telah disetujui. Sasori lalu bangkit dari tempatnya duduk. Ia mengemasi barangnya yang hanya berupa satu buah tas punggung berukuran sedang. Tak butuh waktu lama. Tasnya ia sandangkan di satu bahu. Sekarang ia siap berangkat.

Bertepatan dengan tertutupnya bulan oleh awan kelabu, Sasori melesat pergi dari tempat itu. Ia pun menghilang ditelan oleh kegelapan malam.


Chapter 1 selesai :)

Makasih buat Suu Foxie yang udah jadi pembaca draft awal dari chapter ini.

Makasih juga buat Iztii Marshall, StrawberrySquash, Minori Hikaru dan yeah, sekali lagi Sukicchi yang udah meninggalkan jejak di chapter prologue :v

Makasih juga buat silent reader dan yang udah nge-follow ini cerita. Juga buat yang udah mampir

Saran, komen, review, silahken masuk ke kotak review ya :)

Akhir kata, met baca ;)