MARIONETTE
Setting : Semi-Canon
Ratting : T semi M, buat jaga-jaga
Genre : mystery, friendship, supernatural, action
Warning: Probably OOC
Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto
Chapter 2
Pagi itu koridor di gedung Hokage dipenuhi oleh gema langkah yang bergantian teratur dari alas kaki dan tongkat kruk. Tinggal satu belokan lagi dan tibalah Kakashi di koridor kantor Hokage. Tapi Kakashi bukan pendatang pertama. Sudah ada dua orang yang berdiri berseberangan di dekat pintu Hokage. Keduanya sama-sama bersedekap. Salah satu yang berdiri di sebelah pintu menoleh ketika Kakashi muncul dari belokan.
"Kakashi-san?" kata Tenzou terkejut. "Kenapa sudah keluar dari rumah sakit?"
"Yah, memang belum boleh, meski sebenarnya lukaku tidak separah itu sih," kata Kakashi sambil menghela napas. Nada dan pandangan matanya kemudian menjadi serius. "Aku ke sini karena Tsunade-sama memanggil. Tapi kalau kalian di sini juga, kelihatannya penting."
Ketiganya terdiam.
"Berarti, pembicaraan yang tak bisa dilakukan di rumah sakit ya," imbuh Itachi hati-hati. Tangan kirinya tanpa sadar bergerak menuju tangan kanannya yang dibebat, mengusap perban di balik lengan bajunya. Kata-kata Itachi menggantung di udara, membangkitkan memori dari masing-masing benak mengenai kejadian dua hari sebelumnya.
"Ada kabar terbaru apa?" Kakashi akhirnya buka suara setelah keheningan yang muram mengambil alih. Sejak terluka karena ledakan di ruang bawah tanah kuil dua hari yang lalu, dia hampir tidak mendapat kabar apa-apa mengenai pengejaran buronan yang mereka cari.
"Tidak banyak," Tenzou menjelaskan. "Buku hitam itu sepenuhnya ditulis dengan bahasa sandi. Tim ahli sandi sedang berusaha memecahkannya, tapi sampai sekarang baru sedikit yang berhasil diartikan. Setidaknya, kertas yang Itachi dapat ..."
Omongan Tenzou terputus ketika melihat Itachi meletakkan satu jari di bibir. Sedetik berikutnya, pintu di sebelah Tenzou terbuka, memperlihatkan dua orang kunoichi muda beraura riang yang kedua tangannya dipenuhi tumpukan buku dan gulungan dokumen.
"... kautahu? Kemarin aku ... lho? Itachi-san? Sedang apa di sini? Kakashi-sensei juga. Dan, ng ..."
"Ino," sapa Itachi sambil mengangguk, secara halus memotong perkataan gadis itu. Pemuda itu lalu tersenyum tipis. "Kami ada panggilan tugas. Apa kabar?"
"Baik, baik," kata Ino ceria. "Ah ya, kami duluan ya. Masih ada kerjaan. Titip salam buat Sasuke-kun yaa."
"Akan kusampaikan."
Ino masih sempat melambai sebelum Itachi dan kedua orang lainnya masuk ke ruangan Hokage. Sekali lagi Itachi mengangguk pada Ino.
Setelah beberapa langkah, Sakura menyikut pinggul Ino. "Kau ini, bukannya kau naksir si kakak ya? Kenapa malah titip salam buat adiknya?"
"Itu namanya taktik, tahu. Tak-tik," Ino menjelaskan dengan nada tidak sabar. "Kalau aku terkesan sering memperhatikan Sasuke-kun, nanti lama-lama Itachi-san akan cemburu 'kan?"
Sakura memberikan sebuah cengiran. "Kalau Itachi -san tidak cemburu juga bagaimana?"
"Artinya dia belum terlalu kenal denganku. Tahu pepatah ini kan? Tak kenal maka tak sayang."
Sakura menahan tawa. "Itu kan maumu. Ya ampun, padahal 'kan dulu kau naksir Sasuke-kun."
"Itu kan sebelum aku kenal Itachi -san." Ino menjawab dengan nada defensif. "Tak apa 'kan? Toh Sasuke-kun juga tidak menggubrisku kok."
Sakura tertawa. "Yah, perjuanganmu masih panjang kalau begitu. Ganbatte ne."
Ada sindiran halus dari kalimat terakhir Sakura dan Ino menangkap itu. Ino mencibir. "Huh, kau sih santai. Kau sudah punya pacar sih."
Jari-jari tangan Sakura yang muncul dari balik tumpukan dokumen yang dibawanya meleset dari knop pintu. Sebagai gantinya, Ino yang membukakan pintu menuju perpustakaan gedung Hokage.
"Pacar apa? Naruto bukan siapa-siapaku."
Ino langsung menyeringai. Selebar mungkin. "Naruto? Hee."
Seketika, wajah Sakura memerah ketika menyadari apa arti dari seringaian Ino. "A-aku cuma salah sebut." Dan gadis itu pun melangkah masuk dengan langkah yang agak lebih cepat daripada sebelumnnya.
"Dari sekian banyak nama yang kaukenal? Aih, sekarang kau main rahasia-rahasiaan denganku yaa. Sejak kapan kau mulai akrab dengan si gila ramen itu, hm?"
"Duh, apa sih? Sudah ah, di antara kami belum ada apa-apa kok." Sekarang Sakura jalan terburu-buru menuju meja penerimaan yang ada di tengah ruangan.
"Belum ada apa-apa berarti nanti bakal ada apa-apa," goda Ino. Kuping Sakura makin merah karenanya. Segunung gulungan dokumen yang ia bawa nyaris ia hentakkan ke atas meja. Nyaris, kalau saja Sakura tidak ingat kalau dokumennya penting.
"Aduh, sudah dong," kata Sakura menyerah. "Daripada itu, apa yang tadi mau kauceritakan tentang kemarin?"
Pengalihan pembicaraan, tapi Ino tidak mendesak Sakura lebih jauh lagi. Nanti-nanti juga Ino bisa mencari tahu sendiri. Ia berpikir akan mulai menanyai Naruto kalau ada kesempatan. Kemudian, cerita mengenai tamu aneh di toko bunganya kemarin pun mengalir lancar dari mulut Ino.
"Hee, ada juga ya orang unik seperti itu," komentar Sakura. Ia bertopang dagu dengan sebelah tangan. Di depannya terhampar kertas berisi daftar dokumen yang akan disortir hari itu. "Oh, gulungan yang sampulnya hijau di rak yang situ."
"Yang biru di sini 'kan?" Ino meletakkan dua buah gulungan di rak yang berbeda, satu di barisan ketiga, satunya lagi di barisan keempat. "Oke, lanjut lagi. Nah, orang aneh itu tapi hebat deh. Dia bilang jam kukuknya rusak dan ternyata memang benar. Tadi pagi tukang reparasinya bilang, ada satu roda gigi yang aus! Dan kautahu? Yang aus itu roda gigi yang ukurannya kecil!"
"Hee." Sakura mendengarkan sambil menulis. "Mungkin tamu anehmu itu ahli peralatan mekanis?"
"Tidak tahu juga ya. Nah, untungnya yang rusak tidak banyak, jadi jamnya sudah bisa diambil nanti sore."
"Sore?" Tangan Sakura berhenti menulis. Ia lalu tampak memikirkan sesuatu. "Kira-kira jam berapa? Soalnya sore nanti ada kiriman buku-buku medis terbaru. Karena ada banyak, sebenarnya aku mau minta tolong lagi."
Ino sedikit meringis. "Bebas sih, asalkan masih jam buka toko. Tapi ... astaga, baiklah, baiklah. Kubantu kau sampai selesai. Kau bilang tadi hari ini kiriman terakhir 'kan? Lebih cepat lebih baik deh."
"Betapa baik hatinya dirimu," celetuk Sakura sambil tertawa. Ino hanya mencibir sebagai balasannya.
.
Setelah mengangguk pada Ino, Itachi masuk ke ruang kerja Hokage menyusul yang lainnya. Di sana duduk Tsunadedi meja kerjanya, ditemani oleh Shizune yang berdiri di sebelahnya. Namun setelah Itachi menutup pintu, mendadak sudah ada dua orang ANBU bertopeng putih berdiri di sisi jendela di belakang kursi Tsunade—seorang wanita dan seorang pria. Itachi mengenali mereka sebagai Komachi dan Towa.
Itu artinya, apa yang akan Tsunade bicarakan mungkin merupakan informasi rahasia yang berbahaya, sampai-sampai harus dijaga ANBU seperti ini. Bahkan mungkin, di luar gedung Hokage ini, sedang ada beberapa orang ANBU yang berjaga.
Dan hal itu tersirat dari sikap Tsunade yang terlihat tegang.
"Maaf sudah memanggilmu kemari, Kakashi." Tsunade berkata muram. Ia bertopang dagu di atas jari-jari tangannya yang terkait. Bersamaan dengan itu, Shizune menyiapkan sebuah kursi yang ditempatkan tepat di depan meja Tsunade. "Duduklah."
"Makasih," kata Kakashi sambil duduk. Itachi dan Tenzou berdiri di sisi kiri dan kanan Kakashi.
"Langsung saja." Tsunade berkata tanpa basa-basi. Ada keresahan dalam nada suaranya. "Tadi pagi ada kabar dari Suna. Mereka menemukan markas kecil tak berpenghuni. Letaknya sangat terpencil, di luar perbatasan gurun Suna."
Tsunade berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Yang mereka temukan di sana adalah jasad berdebu dari orang-orang Suna yang selama ini menghilang. Masalahnya adalah, ada dua yang bukan dari Suna. Menurut pihak Suna, yang dua ini shinobi Konoha."
Ketiga orang di depan Tsunade mengernyit.
"Jika demikian, kusimpulkan temuan mereka ada hubungannya dengan buronan kami waktu itu," kata Itachi. Ia adalah ketua pengejaran buronan tempo hari. Otaknya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan mengenai tersangka, semustahil apapun.
"Kemungkinan besar, ya," kata Tsunade. "Memang belum pasti, tapi jika dicocokkan dengan informasi yang kalian dapat, ada kemiripan antara ruang rahasia yang Suna temukan dengan yang kalian temukan. Dan jujur saja, aku lumayan resah. Kemudian, buku hitam yang kalian bawa waktu itu ... meski isinya belum bisa dipahami seluruhnya, gambar diagramnya sudah menunjukkan niat dari pembuatnya."
"Penyerangan besar-besaran," gumam Itachi.
"Perang." Tenzou menambahkan, menyuarakan isi pikiran semua yang ada dalam ruangan. Perang melawan pasukan mekanis. Muram kembli bergelayut di udara.
"Salah satu alasanku memanggil kalian," lanjut Tsunade, "karena, ya, kemungkinan terburuknya adalah perang. Aku ingin kalian siap sewaktu-waktu. Dan mengenai ini, Kakashi, aku memanggilmu karena kau diperlukan. Seharusnya ini tugas para ANBU, tapi dengan kondisi seperti ini, kami membutuhkan Shinobi dengan keahlian seperti dirimu. Kuharap kau bisa menyiapkan diri setelah pulih sepenuhnya."
"Aku mengerti," kata Kakashi.
Tsunade lalu menatap kedua orang yang berdiri di samping Kakashi. "Tenzou, Itachi, aku ingin kalian bekerja sama dengan ANBU Suna. Kazekage sudah kukabari dan ia setuju untuk mengadakan pertemuan di sini besok. Ia akan mengirim perwakilannya, dan kuharap kalian juga ikut hadir."
"Baik," kata Tenzou dan Itachi bersamaan.
Setelahnya, Tsunade terdiam sejenak. Ia memperhatikan sketsa buronan tingkat S yang sedang mereka cari. Tidak banyak yang bisa diketahui dari gambar itu, karena separuh wajahnya ditutupi oleh kain. Yang bisa dijadikan petunjuk hanyalah gaya rambut dan bentuk tubuh. Rambut gelap yang ditata dengan banyak kunciran kecil dan bentuk tubuh besar yang tersamarkan oleh jubah hitam.
"Kemudian, untuk tambahan informasi yang didapat oleh tim ahli sandi, sampai sekarang, baru ini yang berhasil mereka dapat." Tsunade melirik Shizune. Wanita itu mengangguk, lalu memperlihatkan sebuah sketsa. Di situ terpampang gambar siluet kalajengking berwarna merah.
"Gambar ini berada di balik sampul kulit hitam dari buku yang Kakashi dapat. Mungkin ini berhubungan dengan identitas si pemilik buku."
Ketiga shinobi di hadapan Tsunade menatap kertas di tangan Shizune. Tapi hanya satu yang bereaksi. Mata kiri Itachi mengernyit kecil. Dan Tsunade melihatnya.
"Ada apa Itachi? Tahu sesuatu?"
Itachi hampir mendecakkan lidah, tapi ia dapat menahan diri. "Tidak. Hanya saja ... gambar itu sepertinya tidak asing."
Alis Tsunade naik. "Oh? Coba katakan. Mungkin informasimu berguna."
Hampir tanpa sadar Itachi mengepalkan tangan kanannya. Menyadari itu, Kakashi melirik pemuda di samping kirinya. Wajah Itachi terlihat terkunci seperti biasa, namun Kakashi mengenali suatu semburat emosi di bola mata hitam si pemuda Uchiha.
Ada amarah di dalamnya. Namun amarah itu cepat digantikan oleh ketenangan yang menipu. Berkat pengendalian diri hasil tempaan bertahun-tahun.
"Yah ..." kata Itachi lambat-lambat, mencoba memberi waktu pada benaknya untuk mencari alasan yang dapat diterima, "kurasa gambar itu ..."
Mendadak, kedua ANBU di belakang Tsunade tersentak. Salah satunya yang mengenakan tusuk sanggul, menarik satu dari enam tusuk di rambutnya dan melemparnya keluar jendela. Sedangkan yang seorang lagi, yang pria, langsung melesat ke luar menuju sebatang pohon oak tak jauh dari jendela.
Serentak, semua yang ada dalam ruangan berada dalam keadaan waspada. Tenzou dan Itachi bersiaga bergerak, namun Tsunade menahan mereka. Wanita itu lalu menghampiri jendela, dengan Komachi si ANBU wanita, yang memposisikan diri di depan Tsunade. Mereka memperhatikan Towa mengejar sesuatu yang berkelebat cepat melompati pohon-pohon. Tak jauh di belakang Towa, dua orang ANBU bertopeng putih menyusulnya. Mereka bertiga memburu si mata-mata, siapapun itu. Namun detik berikutnya, Towa langsung jatuh.
Ia tidak sekedar jatuh. Ia seolah mendadak lumpuh, seperti burung yang mendadak kehilangan sayap. Setidaknya, kedua ANBU lainnya tetap melaju.
Makian pelan keluar dari mulut Tsunade. Ia lalu menoleh pada asistennya. "Pergilah!"
Shizune paham. Dengan segera, ia keluar menuju tempat Towa berada.
"Komachi, beri pesan ke seluruh ANBU yang sedang siaga di dekat sini, lalu..."
Lalu, ledakan pun terjadi, sekitar seratus meter dari gedung Hokage. Bukan ledakan berskala besar dan tidak terjadi di tempat ramai, tapi cukup membuat penduduk yang lewat menjadi panik. Pohon yang meledak itu seketika diselimuti api kemerahan. Begitu juga dengan kedua sosok yang sekarang bergulingan panik di tanah, mencoba memadamkan api.
Komachi menoleh pada Tsunade, lalu melesat pergi ke arah kedua rekannya.
Tsunade menatap ketiga shinobi yang tersisa di ruangannya."Tenzou! Itachi! Siagakan seluruh jounin yang ada di desa. Kakashi..."
"Siap," kata Kakashi cepat tanggap. Dalam sekejap, ruangan Hokage dipenuhi oleh anjing-anjing kuchiyose. Semuanya langsung melesat pergi keluar jendela, lalu berlari ke berbagai arah, mencari bau musuh.
Mereka kecolongan lagi. Bahkan dalam desa sendiri. Itachi benar-benar gusar karenanya. Tapi ada semangat baru dalam dirinya. Bila dugaannya benar, maka orang di balik peristiwa ini adalah musuh yang selama ini dicarinya. Musuh yang menyebabkan ia hidup seperti sekarang ini, hanya tinggal berdua dengan adiknya. Membuat mereka menjadi kedua Uchiha yang terakhir.
Pemuda itu lalu keluar ruangan menyusul Tenzou. Dan kali ini, dengan tujuan baru.
.
Hampir saja. Interupsi itu benar-benar terjadi di saat yang tidak tepat. Padahal sedikit lagi ia bakal mendengar apa yang akan dipaparkan oleh si pemuda yang rambut hitam panjangnya diikat tersebut. Apa yang akan dikatakan si pemuda itu mungkin akan membantu pencarian rekannya. Tapi kemudian ia datang. Entah karena kebetulan atau tidak, tapi kemunculannya yang tidak terduga malah membuat keberadaannya terendus.
Berita bagus? Ya dan tidak. Tapi rekannya pasti menyukai informasi yang dia dapat.
Ia menunggu hingga kedua orang terakhir,si Hokage perempuan dan si pria bertongkat kruk, keluar ruangan. Hanya beberapa detik, tapi rasanya seperti berjam-jam. Dalam diam, boneka berkimono hitam itu lalu bergerak pelan keluar dari tempat persembunyiannya, yaitu tepat di bawah meja Hokage. Ia sudah di sana semalam. Tadinya ia hanya mencoba mencari tahu mengenai keberadaan si buku hitam. Tapi dengan kondisi sekarang, sepertinya pencariannya harus ditunda. Ada yang lebih penting.
Boneka berambut kemerahan pendek itu lalu beringsut ke arah jendela. Dengan bunyi klak-klek lembut, ia memutar kepala, menengadah ke langkan jendela. Ia menekuk lutut kayunya, dan sekali lompat, ia berdiri mantap di kusen jendela.
Ia lalu turun menuju titian pendek di bawah jendela dan melesat pergi.
.
Sakura dan Ino sedang sibuk mencatat daftar gulungan yang dibereskan ketika ledakan itu terjadi. Keduanya mengangkat kepala secara bersamaan, lalu menoleh satu sama lain. Mereka pun berlari menuju jendela secara bersamaan.
"Apa itu?" tanya Ino dengan mata melebar. Dilihatnya sebatang pohon berkobar kemerahan. Beberapa penduduk terlihat bertemperasan menjauh.
"Tidak tahu," kata Sakura, sama bingungnya dengan Ino. Ia lalu melanjutkan ketika melihat beberapa kelebat orang-orang bertopeng putih yang mengejar sesuatu. "Tapi sepertinya berbahaya. Ayo, ke tempat Tsunade-sama. Siapa tahu kita diperlukan."
Ino masih melihat keluar selama beberapa lama lagi.
"Ino!"
"Iya, i...ng?" Ino yang sudah hendak berpaling dari ambang jendela, mengurungkan niatnya ketika sudut matanya menangkap sesuatu. Mata Ino langsung melebar. Ia mengucek kedua mata, lalu melihat lagi ke arah jendela sebelah kiri, yang tak lain adalah jendela tempat ruang kantor Hokage berada.
Selama beberapa saat Ino melongo. Tidak ada apa-apa. Tapi barusan ia yakin kalau ia melihat sosok kecil berkimono hitam berlari di titian pendek yang ada luar gedung, tepat di bawah jendela.
Kepala Ino menggeleng sekali.
"Ino! Kau ngapain aja sih? Kita dipanggil!" seru Sakura dari arah pintu perpustakaan Hokage.
"Iyaaa!" balas Ino. Sebelum memenuhi panggilan Sakura, gadis berambut pirang itu melongok ke luar jendela sekali lagi. Tak ada yang aneh. Ya sudah.
Ino bergegas menghampiri Sakura di luar ruang perpustakaan, yang ternyata tidak sendirian. Ada Tsunade di sampingnya. Seketika Ino langsung bersiaga. Untuk saat ini, ia tak ambil pusing dengan apa yang mungkin dilihatnya karena sekarang ada yang lebih penting yang harus dikerjakan.
.
Chapter 2 selesai :) Maaf lama baru update ;)
Makasih buat Iztii Marshall, Minori Hikaru, StrawberrySquash, seorang guest dan Reiya Hakami yang udah meninggalkan jejak di chapter satu :v
Makasih juga buat silent reader dan yang udah nge-follow ini cerita dan yang udah bersabar menantikan chpater lanjutannya.
Saran, komen, kritik, silahken masuk ke kotak review ya :)
Akhir kata, met baca ;)
