MARIONETTE

Setting : Semi-Canon

Ratting : T semi M, buat jaga-jaga

Genre : mystery, friendship, supernatural, action

Warning : Probably OOC

Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto


Chapter 3

Ino baru keluar dari gedung Hokage setelah lewat dari pukul tujuh malam. Ia berjalan separuh melamun sehingga tidak terlalu memperhatikan suasana sekitar. Setidaknya, jalanan saat itu hanya sedikit diramaikan oleh pejalan kaki.

Kepala Ino disesaki memori mengenai peristiwa tadi siang. Ketika tiga orang ANBU dibawa masuk ke gedung Hokage, keadaan menjadi ricuh. Dua orang ANBU mengalami luka bakar yang lumayan parah, tapi nyawa mereka masih tertolong. Yang mengkhawatirkan adalah seorang ANBU pria yang rambutnya dikuncir ke atas. Kata Shizune, orang itu terkena racun. Yang menjadi masalah adalah, komposisi racunnya tidak dikenal. Bahkan benar-benar baru bagi Tsunade yang sudah tidak asing lagi dengan racun. Tapi, bukan Tsunade namanya kalau takluk oleh substansi tidak dikenal. Dibantu dengan keahliannya membaca racun dan persediaan tanaman obat yang terbilang lengkap milik Tsunade, penawar racunnya bisa dibuat. Nyaris terlambat, tapi menurut Tsunade orang itu akan selamat.

Setelahnya, Tsunade menetapkan status waspada untuk semua shinobi setingkat chuunin dan jounin. Berita disebar, namun karena serangan yang terjadi tidak bersakala besar, Tsunade tidak menyiarkannya ke seluruh desa. Ia tidak ingin membuat warga menjadi panik. Ia ingin masalah si penyusup diselesaikan sebelum sampai ke permukaan. Keamanan desa akan ditingkatkan dan setiap shinobi yang mampu harus siaga setiap saat.

Memang merupakan tugas tambahan, tapi masih lebih baik sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai kejadian saat kematian Hokage ketiga terulang lagi.

Ino berhenti melangkah, lalu meregangkan badan. Yosh! Baiklah! Ia sebenarnya tidak suka misi yang seperti ini, tapi demi desa, ia siap! Trio Ino-Shika-Chou akan kembali beraksi!

"Olahraga malam, Ino-chan?"

Kontan Ino menoleh. Seorang pria paruh baya berwajah ramah sedang berdiri di depan pintu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celemeknya. Ino perlu beberapa detik untuk menyadari siapa orang itu. Ia adalah pemilik toko reparasi yang tadi pagi Ino datangi bersama ayahnya. Rona-rona merah menghiasi pipi Ino ketika gadis itu baru menyadari di mana ia berdiri sekarang. Kekuatan melamun memang hebat, arena pertokoan pun terasa seperti jalanan sepi. Bahkan Ino baru benar-benar menyadari ada satu atau dua orang pejalan kaki yang lewat dan tersenyum-senyum melihat dirinya.

"A-ahahaha, nggak kok Jisan," kata Ino ceria. Kata Tsunade-sama, sebisa mungkin jangan sampai warga sipil tahu dulu. Jadi, jangan memasang tampang lusuh! "Cuma sedikit bersemangat karena baru dapat misi."

Si paman terkekh. "Wah, asyiknya yang masih muda. Aku jadi ingat saat masih aktif dulu." Pandangan si paman lalu menjadi menerawang, teringat dengan kenangan masa mudanya. Beberapa saat kemudian, ia kembali pada dunia. "Oh iya, jamnya mau diambil sekarang?"

Ino mengerjap sebelum menjawab, "Ai-yaa, boleh."

Ino agak malu. Sebenarnya ia sempat lupa kalau akan mengambil jamnya hari ini. Bahkan keberadaannya di depan toko itu sekarang pun bisa dibilang suatu kebetulan, hanya karena searah jalan pulang saja. Ino benar-benar tidak bermaksud mampir saat ini. Ia jadi tak enak hati.

"Maaf merepotkan, padahal sudah lewat dari jam buka toko."

Sang pemilik toko melambaikan sebelah tangan."Tidak masalah kok. Kebetulan tadi ada beberapa barang yang harus diperbaiki hari ini juga. Jadi bisa dibilang, tokonya baru mau , ayo, ayo, silakan masuk."

Ino masuk menyusul sang pemilik toko. Pria paruh baya itu langsung melangkah ke meja konter dekat meja kasir, sementara Ino melihat-lihat barang-barang yang dipajang di seantero toko. Dinding, meja konter serta etalase toko penuh dengan berbagai peralatan mekanis. Namun yang dominan adalah jam. Kebanyakan adalah jam antik dengan berbagai ukuran dan jenis. Jam model terbaru juga ada, tapi hanya beberapa. Meski Ino sudah melihat-lihat tadi pagi, tapi ia masih saja dibuat terpana oleh isi toko. Ino berpendapat, toko ini lebih cocok disebut toko barang antik daripada toko reparasi peralatan mekanis.

"Nah, ini dia si cantik," kata si pemilik toko bangga, membuat perhatian Ino beralih dari sebuah miniatur bangunan kincir air yang kincirnya bisa berputar, lengkap dengan sungai mini dan perlengkapan mini lainnya. "Sudah kupoles. Servis."

Di meja konter, benda itu terpajang dengan apik pada sebuah kayu penyangga. Beda dengan keadaannya tadi pagi yang redup, kini jam peninggalan kakek buyut Ino itu seolah bersinar. Samar-samar hidung Ino menangkap bau pelitur kayu. Tak ada debu setitik pun, didengar dengan saksama pun bunyi detak jamnya seolah penuh vitalitas. Benda itu seperti dilahirkan kembali.

Sang pemilik toko mendesah puas. Tangan kanannya mengelus sisi atap jamnya dengan sayang. "Buatannya bagus sekali. Selain sebuah roda gigi yang aus dan beberapa lagi yang sedikit macet karena debu, semua elemennya masih dalam kondisi yang bagus. Padahal kira-kira usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Aku jadi iri ... hei, Ino-chan, jamnya boleh buatku tidak?"

Ino langsung tersenyum. Benar-benar deh, orang yang fanatik memang sulit dimengerti. "Aduh, jangan dong, Jisan. Toko Bunga Yamanaka tidak akan lengkap tanpa jamnya."

Sang pemilik toko terkekeh. "Walau kubeli dengan harga tinggi?"

"Nanti kakek buyutku datang menghantui lho," kelakar Ino. "Kata ayah, jamnya kesayangan kakek buyut. Kalau tidak salah sih pemberian dari seorang teman."

"Begitu? Aah, sayang sekali," gumam sang pemilik toko, kecewa. "Ngomong-ngomong, apa Ino-chan tahu siapa pembuatnya? Aku benar-benar jatuh cinta nih."

Ino tertawa. "Maaf Jisan, aku tidak tahu. Tapi mungkin ayah tahu. Nanti akan kutanyakan."

"Benar ya? Jadi tertolong nih. Sebenarnya tadi aku sudah cari info ke mana-mana, tapi tak ada yang kudapat. Padahal pembuatnya meninggalkan tanda yang jelas sekali. Orang yang misterius eh?"

Ino memiringkan kepalanya. "Tanda apa?"

"Eh? Ino-chan tidak tahu?" Sang pemilik toko terlihat heran, tapi sejurus kemudian wajahnya menunjukkan kepahaman. "Ah iya, iya, wajar saja. Sebelumnya 'kan jamnya penuh debu. Jelas saja tidak terlihat. Nah coba lihat ini."

Sang pemilik toko membalikkan satu dari tiga bandul pemberat dari besi yang berbentuk buah pinus. Di bagian ujung dari bandulnya terdapat sedikit bagian yang dibentuk rata. Terdapat sebuah ukiran timbul yang dicat berwarna merah tembaga di bagian yang rata itu.

Ukiran timbul itu membentuk siluet kalajengking.

Alis Ino mengerut melihat itu. Aneh. Rasa-rasanya ia tidak asing lagi dengan gambar itu.

Sang pemilik toko kembali menjelaskan, tidak memperhatikan raut wajah Ino. "Pengrajin yang ahli biasanya selalu meninggalkan tanda yang seperti ini. Anggap saja seperti tanda tangan atau ciri khas si pengrajin. Juga supaya karyanya mudah dikenali orang. Makanya aku heran semua kenalanku tak ada yang mengenali tanda ini."

Ino hanya mengangguk-angguk selama si paman menjelaskan. Separuh pikiran Ino sedang tidak tempat. Ia sedang mencoba mengingat di mana ia pernah melihat gambar itu sebelumnya.

"Jadi, kalau Inoichi-san tahu sesuatu, tolong kabari secepatnya ya."

"Baiklah Jisan."

Kemudian, Ino memperhatikan ketika si paman mengemasi jamnya ke dalam sebuah kotak kayu berukuran 30 x 40 x 40 cm. Setelah diikat dengan tali, Ino membayar biaya perbaikan. Tidak terlalu mahal, setidaknya, sesuai dengan isi dompet Ino. Gadis itu lalu pamit.

"Hati-hati di jalan Ino -chan. Salam buat ayahmu ya." Si paman pemilik toko mengantar Ino hingga ke depan pintu.

Ino berbalik. Sebenarnya ia ingin melambai, tapi kedua tangannya sibuk memegangi kotak kayu jamnya. Jadi yang bisa Ino lakukan hanya menjawab, "Tentu. Jaa ne, Jisan!"

Si paman memperhatikan Ino hingga gadis itu menghilang dari pandangan. Ia lalu masuk ke dalam toko dan mulai membereskan tokonya, persiapan untuk tutup.

Sementara itu, Ino berjalan seorang sendiri menembus malam. Ada satu atau dua orang yang berpapasan dengannya, tapi tidak sering. Selebihnya, jalanan hanya dipenuhi oleh bunyi gema langkah kaki Ino. Dan sesekali, bunyi dari perut Ino.

Setelah berbunyi yang ketiga kalinya, Ino mempercepat langkah kakinya. Ia memang sedang diet, tapi diet kan bukan berarti harus kelaparan. Ino tetap mengusahakan dirinya makan teratur. Lagipula, sebentar lagi sampai rumah. Ia hanya perlu memutari taman, jalan beberapa meter, dan perjalanannya pun selesai.

Ino tersenyum ketika dilihatnya tangga batu menuju taman. Tapi ia berhenti melangkah setelah melewati tangga. Ia mundur empat langkah, lalu berdiri menghadap tangga. Ino kepikiran sesuatu. Bukankah akan lebih cepat kalau ia memotong lewat taman saja? Tamannya agak berbukit dan lebih tinggi dari sekitarnya, sehingga diperlukan tangga untuk mencapai taman. Ada empat buah tangga, masing-masing ditempatkan mengikuti arah mata angin. Sekarang ini Ino ada di tangga Selatan. Kalau ia keluar dari tangga Utara, ia akan tiba di jalan yang menuju rumahnya.

Daripada jalan memutar, lebih baik memotong jalan lurus saja. Bakal sedikit lebih capek sih, tapi masih lebih cepat. Sekalian olahraga.

Dan Ino pun menaiki anak tangga dengan semangat. Sampai separuhnya. Di tengah jalan, ia ngos-ngosan.

Ino lupa memperhitungkan dua hal. Satu, ia lapar, berarti tenaganya kurang. Dua, ia sedang membawa barang berat di tangannya. Memang tidak seberat itu sih, tapi karena energinya mendekati titik merah, barang bawaan Ino jadi terasa lebih berat. Kedua tangannya mulai memprotes karena pegal.

Makin ke atas, langkah Ino makin melambat. Kemudian berhenti sama sekali setelah mencapai anak tangga paling atas. Totalnya ada sekitar enam puluh anak tangga. Itu kira-kira hampir sama dengan naik tangga menuju lantai empat. Baru kali ini Ino merasa begitu capek setelah mendaki setinggi ini, padahal ia sudah biasa naik tangga.

Ino lalu memaksa kakinya melangkah. Tepatnya, Ino berusaha menyeret kakinya ... menuju bangku kayu terdekat. Sampai di sana, Ino langsung merobohkan dirinya ke bangku. Kotak kayunya ia letakkan di sebelahnya. Dan sekali lagi, perutnya berbunyi.

Gadis itu mendesah. Ia perlu mengatur napasnya dulu. Semoga lima menit cukup. Pandangan Ino lalu jatuh pada kotak di sebelahnya. Ia angkat kotaknya dan ia letakkan di pangkuannya. Dengan sekali tarik, tali jerami yang mengikat kotaknya dengan rapi pun lepas. Setelahnya Ino mengangkat tutupnya dengan hati-hati.

Jamnya masih berada pada penyangganya dengan rapi. Diam, tidak berbunyi karena si paman reparasi memasukkan semacam kunci putar pada lubang yang ada sisi kanan jam. Fungsi kuncinya untuk mengatur posisi jarum jamnya. Setelah bandul pemberatnya yang paling kiri ditarik dan kuncinya dilepas, maka jamnya akan berdetak seperti semula.

Tapi bukan itu alasan Ino membuka tutup kotak kayunya. Ino mengangkat bandul pemberat yang di tengah, lalu membaliknya.

Tanda itu. Ukiran timbul berbentuk kalajengking itu, berkilat di bawah kilatan lampu taman di dekat Ino. Sekali lagi, alis Ino mengerut.

Tangan Ino menimang-nimang bandul pemberatnya. Tidak salah lagi, Ino benar-benar pernah melihat gambar ini. Hanya saja, ia sama sekali tidak ingat kapan dan di mana ia pernah melihatnya. Rasanya belum lama ini...

"Sedang apa, Ino?" sapa seseorang tiba-tiba. "Belum pulang?"

Sekali lagi, Ino langsung menoleh. Tapi kali ini, mata Ino melebar karena girang. Jantungnya langsung berdegup kencang. Bandul pemberatnya pun terlepas dari tangannya, membuat suara duk pelan, yang tidak disadari Ino.

"Itachi-san," kata Ino dengan nada senang yang kentara. Ia menyadari kemudian, tapi terlambat. Kini kegugupan mewarnai rasa senangnya. Ino lalu berdehem sekali. "Belum. Eh, ehem, aku hanya sedang, eh, istirahat ... habis dari tukang reparasi jam. Emm, Sasuke-kun apa kabar?"

Itachi tersenyum tipis. Lagi-lagi Sasuke. Rasanya gadis di depannya ini tidak jujur. Itachi sempat bertanya-tanya, kenapa Ino selalu menitipkan sesuatu untuk Sasuke melalui dirinya, tapi tidak pernah terlihat kasmaran ketika Sasuke ada di depan Ino. Itachi hanya punya dugaan samar, walau sebenarnya ia sendiri juga tidak terlalu yakin. Memahami isi otak perempuan lebih sulit daripada menghadapi musuh.

"Dia sedang ada misi di luar desa. Tidak tahu kembali kapan. Jadi maaf ya, salammu tadi baru bisa kusampaikan nanti."

Ino dengan ringan melambaikan sebelah tangan. "Tak masalah. Sama sekali tak masalah. Ngomong-ngomong, Itachi-san sedang apa di sini?"

Sebelum menjawab, Itachi duduk di sebelah Ino. "Cuma ambil jalan pintas ke toko 24 jam. Lebih cepat lewat sini."

"Oh, emm, begitu ya," kata Ino gugup, lebih daripada sebelumnya. Jantungnya ribut berdetak di dalam sana. Baru kali ini Ino bisa duduk berdekatan dengan Itachi seperti ini. Untung saja tadi ia lewat sini! Hari ini pasti hari keberuntungannya, bisa bertemu Itachi dua kali dalam sehari seperti ini. Dear Kamisama, Ino ingin sekali waktu berhenti! "Aku juga cuma ambil jalan pintas. Lebih dekat ke rumahku kalau lewat sini."

"Toko Bunga Yamanaka ya? Hmm, memang lebih dekat sih." Itachi melirik kotak di pangkuan Ino. "Tapi melihat bawaanmu, sepertinya lebih baik kalau memutar. Bawaanmu kelihatannya berat."

"Tidak kok, tidak berat. Kotaknya saja yang besar. Jamnya juga terbilang ringan kok. Ukirannya memang agak heboh, tapi bobotnya tidak."

Itachi memperhatikan detail permukaan jamnya dengan saksama. "Hee, kau hobi jam antik?"

Ino menggeleng. "Jam di toko, peninggalan kakek buyut. Karena sampai sekarang masih bagus, jadi ayah memajangnya di toko untuk dekorasi."

"Peninggalan kakek buyut," ulang Itachi. Pandangannya menjadi menerawang. Ia lalu bergumam, "Pasti menyenangkan ya punya suatu kenangan yang damai seperti itu."

"Eh?"

Itachi mengerjap sekali. Matanya kembali fokus pada Ino. Senyuman tipis kembali muncul di wajahnya. "Maaf, barusan aku melantur. Ayo, kuantar kau pulang."

Ino menatap Itachi yang sekarang berdiri di depannya. Ino terpana. Ia tidak sedang bermimpi kan? Dear Kamisama! Tolong hentikan waktu sekarang juga!

"Kenapa? Kok bengong?"

Dan Ino pun kembali pada dunia. "Emm, toko 24 jamnya bagaimana?"

"Saat ini aku sedang ingin sedikit jalan-jalan."

Kesempatan langka mana boleh ditolak. Ino langsung buru-buru mengemasi kotaknya. Namun begitu Ino selesai mengikat tali pengikatnya, Itachi langsung mengangkat kotaknya.

"Kubawakan ini ya?"

Ino langsung berdiri. "Tidak usah, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok."

"Membiarkanmu bawa barang seukuran ini dan aku hanya diam saja? Mana boleh begitu. Rumahmu sudah dekat kan? Tidak masalah," kata Itachi ringan. Ia menambahkan kemudian. "Dan aku sama sekali tidak merasa direpotkan lho."

Bukan hanya berbunga-bunga. Hati Ino menjadi padang penuh bunga. Bahkan di mata Ino, taman yang agak remang ini terlihat lebih bercahaya. Ternyata Itachi tidak sedingin penampilannya sehari-hari. Ino senang sekali bisa tahu sisi lunak Itachi.

"Arigatou ne, Itachi..." Kriuuukkkk!

Muka Ino langsung merah. Refleks, ia memegangi perutnya. Padang bunga di hati Ino pun runtuh.

Itachi tertawa. "Sama-sama. Ternyata memang sudah waktunya pulang ya," kata Itachi sedikit berkelakar.

Ino meringis. "Huuh, tidak lucu, Itachi-san."

"Maaf deh, maaf," kata Itachi dengan nada meminta maaf. "Ayo, sebelum makin gelap."

Karena malu, Ino hanya bisa mengangguk. Untuk beberapa saat, suasana canggung yang mengambil alih. Setidaknya, canggung di pihak Ino. Gadis itu berjalan di samping Itachi dalam diam. Meski demikian, kepala Ino sibuk memikirkan topik obrolan apa yang sebaiknya ia mulai. Bukan yang berhubungan dengan misi atau kerjaan shinobi tentunya. Kesempatan langka seperti ini, sayang sekali kalau diisi dengan obrolan yang serius.

Ino lalu melirik Itachi dari sudut matanya. Wajah Itachi terlihat tenang, nyaris tanpa ekspresi. Pandangannya lurus ke depan. Pemuda itu sepertinya bukan tipe yang senang mengobrol atau memulai obrolan, sama seperti Sasuke. Kalau begitu, Ino yang akan beraksi duluan.

Tapi, enaknya mengobrol apa ya?

"Ino," bisik Itachi tenang, bertepatan saat Ino hendak bersuara. "Terus jalan. Jangan bersikap tegang dan jangan menoleh ke belakang."

Seketika Ino meningkatkan kewaspadaannya, tapi ia berusaha untuk tidak menampilkannya pada gestur tubuhnya. "Kita diikuti?"

"Sepertinya." Itachi kembali berbisik, namun tanpa menoleh pada Ino. "Ayo mengobrol, apa saja. Bersikaplah seolah kau tidak menyadari apa-apa. Santai saja."

Sebenarnya Ino memang tidak menyadari apa-apa. Tidak sampai Itachi memperingatkannya barusan. Kalau berkonsentrasi sedikit, Ino bisa merasakan kehadiran samar yang mengekori mereka.

"Ne," kata Ino dengan nada suara yang dibuat sebiasa mungkin, memulai obrolan, "menurutmu, tipe gadis yang disukai Sasuke-kun itu seperti apa sih?"

Itachi langsung menoleh pada Ino. Selama sesaat, ketenangan wajahnya dirusak oleh raut ketidakpercayaan. Sasuke lagi? Di saat seperti ini? Astaga, kalau ini hanya akting, berarti Ino pandai dalam hal ini. Tapi entah kenapa Itachi sempat merasa kalau pertanyaan Ino barusan bukan sekedar akting. Rasanya sebelum ini Ino sudah hendak berkata sesuatu.

"Emm, bagaimana ya?" Itachi menjawab ragu-ragu. "Aku tidak terlalu tahu sih. Sasuke tidak ekspresif kalau menyangkut hal-hal semacam itu."

Kau juga tidak ekspresif, batin Ino. "Begitu ya. Sasuke-kun sulit didekati nih."

Mendengar itu, Itachi hanya tersenyum maklum. "Sebentar," kata Itachi mendadak. Ia lalu berhenti. "Sepertinya, tali kotaknya longgar."

Ino terkejut sungguhan. Serta merta kedua tangannya terulur pada kotak. "Ya ampun, aku mengikatnya tidak benar ..."

"... titip ini."

"Eh?"

Dengan itu, Itachi langsung melesat ke arah gerumbulan semak di sebelah kiri dari tempatnya berdiri. Karena pergerakan Itachi yang tiba-tiba, kotak kayunya tergelincir sedikit di tangan Ino, tapi tidak jatuh. Setelahnya, Ino menyusul ke arah Itachi menghilang. Tak butuh waktu lama. Begitu Ino berjalan menembus semak setinggi satu meter, matanya langsung menangkap punggung pemuda itu. Dan di sana, Itachi tidak sendirian. Itachi melirik Ino ketika gadis itu mendekat.

"Jadi dia yang, emm, menguntit kita?" tanya Ino tak percaya.

Itachi tidak menjawab. Sebagai gantinya, seekor anjing akita menggonggong riang pada Ino. Ekornya yang menggulung mengibas kesana kemari. Moncong dan kedua kaki depannya kotor oleh tanah. Ia mengendusi kedua tamunya dengan bersemangat, namun mendadak saja anjing itu berlari melewati Ino dan menerjang semak tempat Ino datang tadi.

Di sana, di tengah sirkulasi taman, seorang anak laki-laki sepantaran Ino berdiri berkacak pinggang.

"Jadi di sini kau rupanya," seru anak itu lega. Sepertinya ia majikan si anjing. Tapi kemudian ia mendengus kesal. "Oh, astaga, kotor sekali kau! Sudah kubilang jangan gali-gali sembarangan kan? Oh man! Kerjaanku jadi tambah banyak deh."

Anak itu kemudian menambahkan ketika menyadari keberadaan Itachi dan Ino. "Hei kalian, maaf ya kalau anjingku bikin repot. Trims. Ja."

Ino tersenyum pada anak itu. Setelah anak itu beranjak pergi bersama anjingnya, Ino menoleh pada Itachi.

"Jadi anjing itu yang...?"

Itachi menggeleng. Tampangnya terllihat serius. "Bukan. Hawa keberadaannya beda. Sedari tadi aku merasakannya di atas sana." Itachi menunjuk ke atas pohon. "Tapi begitu aku mendekat, dia lenyap. Dan yang kutemukan malah anjing tadi."

Keduanya lalu terdiam.

"Apa ini ada hubungannya dengan yang tadi siang?" Ino berbisik. Kepalanya tertunduk ketika sebersit memori mengenai peristiwa tadi siang muncul di benaknya.

Itachi mengerti maksud Ino. Ia lalu mengambil kotak kayu yang dipegang Ino. "Entahlah. Semoga tidak. Ayo lekas pulang. Sebaiknya kita cepat keluar dari sini."

Tanpa menunggu jawaban, Itachi langsung berbalik menuju sirkulasi taman. Namun ia menoleh ketika Ino berseru kaget.

"Apa yang...?"

Ino berpaling dan menampilkan raut wajah minta maaf pada Itachi. "Maaf bikin kaget. Aku cuma ketemu ini."

Ino menyodorkan benda di tangannya. Benda itu berlumuran dengan tanah dan air liur. Ino memegangnya melalui saputangan.

"Boneka?" tanya Itachi heran. "Anjing yang tadi?"

"Iya. Aku cuma kaget kenapa ada di sini," kata Ino sambil membungkus bagian torso dari boneka. Saputangan Ino terlalu kecil untuk membungkus keseluruhan boneka.

"Punyamu?"

Ino menatap Itachi sebelum menjawab, "Ya. Kita pulang sekarang?"

"Ya," gumam Itachi. Ia memimpin keluar dari area hijau menuju sirkulasi taman. Itachi melirik Ino ketika gadis itu mensejajari langkahnya. Ia sedikit curiga. Ada yang disembunyikan Ino, entah apa. Itachi yakin ada kaitannya dengan boneka yang kini ada di tangan Ino. Tapi sepertinya bukan hal yang penting. Karena kalau sesuatu yang berbahaya, Ino pasti memberitahunya. Karena itu, ia putuskan untuk tidak menanyai Ino.

Sisa perjalanan dihabiskan keduanya dalam diam.

.

.


Dia menyeringai. Sasori menyeringai ketika kedua orang itu berjalan pergi menuju tangga Utara. Dengan ini rencananya bisa dijalankan. Sepertinya hari ini hari keberuntungannya, walau tidak sepenuhnya diawali dengan nasib baik.

Tadinya Sasori datang ke taman ini hanya berniat untuk mencari rekannya yang putus kontak sejak tadi siang. Sebelumnya belum pernah terjadi seperti ini, jadi Sasori sempat panik. Ia sempat mengira dia telah melakukan sesuatu terhadap rekannya. Tapi sebelum Sasori menggunakan chakra-nya yang terbatas, mendadak ia menangkap sinyal lemah yang berasal dari rekannya. Sinyal lemah itu terus menerus hilang timbul sehingga tidak membuat kepanikan Sasori mereda. Setidaknya satu yang pasti, bukan dia penyebab rekannya mengalami putus kontak dengan Sasori. Ia yakin karena ia bisa merasakan kalau rekannya terus berpindah-pindah tempat. Kalau dia memang menangkap rekannya, seharusnya sinyalnya berdiam di satu tempat. Tak ada gunanya berpindah-pindah.

Sasori sedikit lepas kendali ketika menemukan rekannya di moncong seekor anjing—yang membuatnya hampir terlacak oleh si ANBU. Entah bagaimana ceritanya hingga rekannya bisa bernasib seperti itu. Sasori akan tahu nanti. Yang penting sekarang, rencana sudah menemukan jalurnya.

Sasori tidak menduga ia bisa menemukan celah untuk menyusup lebih dalam ke gedung Hokage secepat ini. Lebih cepat dari perkiraannya. Ia tak menyangka kalau si pemuda anggota ANBU yang mendatangi markasnya dua hari yang lalu ternyata kenalan si gadis bunga.

Berarti, gadis itu bisa dimanfaatkan.

"Iya, iya aku tahu," gumam Sasori setelah mendengarkan. "Si cewek bunga tidak akan kuapa-apakan. Dia cuma media untuk mendapatkan buku."

Namun Sasori tidak tahan untuk tidak menambahkan, "Tapi itu kalau dia bukan ancaman."

Seruan protes memenuhi telinga kiri Sasori.

"Baiklah, baiklah, aku cuma bercanda, oke? Astaga." Sasori menggerutu pelan, tapi dua jari tangan kanannya ia silangkan.

Sasori kembali mendengarkan.

"Tenang saja. Kelihatannya dia tidak apa-apa. Hanya berlumur tanah dan liur. Bajunya memang sedikit robek sih, tapi kurasa tidak sampai kena ke lapisan kayunya."

Sasori tersenyum tipis.

"Si ANBU? Tenang saja. Dengan aku yang sekarang, dia akan sulit melacakku. Ironis eh?"

Pemuda berambut merah itu kembali tersenyum setelah mendengarkan. Tapi kali ini, lawan bicaranya tidak perlu jawaban. Sasori terdiam selama beberapa saat, berpikir.

"Aku akan mengecek sebentar," kata Sasori sambil bangkit dari tempatnya duduk, di salah satu cabang pohon pinus yang ada di taman itu. "Setelahnya, kita lanjutkan mencari dia."


Chapter 3 selesai :) Maaf yang ini juga agak lama. Dan, ehm, nampaknya buat update berikutnya juga bakal agak lama, soalnya lagi ada ini dan itu yang harus dikerjakan T_T Mohon dimaklumi yaa

Ucapan makasih dihaturkan buat Iztii Marshal, StrawberrySquash dan pichi yang udah bikin jejak di chapter sebelumnya.

Makasih juga buat silent reader dan yang udah nge-follow ini cerita. Juga buat yang udah bersabaarrrr nungguin ini cerita dan masih lanjut baca sampe sekarang ;)

Saran, komen, kritik, silahken masuk ke kotak review ya :)

Akhir kata, met baca ;)