MARIONETTE
Setting : Semi-Canon
Ratting : T semi M, buat jaga-jaga
Genre : mystery, friendship, supernatural, action
Warning: Probably OOC
Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto
Chapter 4
Seperti tupai, Sasori merayap lincah di antara pohon-pohon. Ia tiba di pohon terdekat di depan kediaman Yamanaka tak lama setelah si pemuda ANBU menjauh beberapa meter dari depan pintu tokonya. Selama beberapa saat, Sasori memperhatikan punggung si ANBU hingga hilang dari pandangan, lalu ganti melirik bangunan di dekatnya.
Sasori bisa merasakan keberadaan si boneka. Posisinya kurang lebih sejajar dengan posisi Sasori, karena itu ia simpulkan si gadis bunga berada di lantai dua. Terus bergerak ke ujung bangunan, berhenti sebentar, lampu menyala, bergerak lagi, kemudian diam. Setelah memastikan si boneka tetap di tempat dan hawa keberadaan si gadis menjauh, Sasori baru bergerak menuju pohon tak jauh dari jendela kamar itu.
Ia berada dalam jarak yang aman. Dan bagusnya lagi, kamar si gadis bunga berada di posisi yang menguntungkan untuk dimatai-matai. Dari tempatnya meringkuk, Sasori bisa melihat jelas isi kamar dari jendela yang kerainya tidak ditutup itu.
Mata Sasori menyipit ketika menyadari keadaan si boneka sekarang. Tergeletak di atas meja belajar, hanya kayu berbalut saputangan dan beralas koran. Ia jadi gusar. Apa yang terjadi dengan pakaiannya?
.
Selesai berpakaian, Ino mencuci kimono hitam si boneka di baskom kayu sambil bersenandung. Tapi setelah dibilas, ia menghela napas. Baru terlihat jelas olehnya kerusakan yang dilakukan si anjing pada pakaian mini itu. Lubang bekas gigitan dan cakarannya ternyata lumayan parah, terutama di bagian tengah kimono . Yang seperti ini sih, lebih baik beli yang baru daripada diperbaiki.
Tapi mungkin, Ino tidak perlu membeli. Ia teringat sesuatu. Dengan kepala terbebat handuk, ia keluar dari kamar mandi dan turun ke lantai satu.
"Ibuu," panggil Ino begitu memasuki dapur. "Ibu masih simpan boneka Hina-nya tidak?"
Seorang wanita dengan rambut berwarna terang yang disanggul ke atas mengangkat alisnya. "Bagaimana kalau bantu beres-beres dulu?"
Ino hanya bisa mengerucutkan bibir, namun dipenuhi juga permintaan ibunya itu.
"Jadi," kata Ino tak sabar setelah membantu Ibunya mencuci piring, "Ibu masih simpan boneka Hina-nya tidak?"
"Kalau tidak salah ada di loteng. Memangnya untuk apa Ino?"
"Cuma ingin lihat saja, kangen," kata Ino sambil lalu.
"Setelahnya bereskan yang benar yaa," sahut Ibunya, namun ia tidak mendapat balasan. Ino sudah keburu menghilang ke lantai dua.
Ibunya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putrinya. Ia tahu barusan Ino hanya asal menjawab. Tapi ya sudahlah. Tak ada yang salah dari melihat boneka Hina. Wanita itu lalu bergabung dengan suaminya di ruang keluarga.
Sementara itu, di loteng, Ino berkacak pinggang. Ia jarang mampir ke loteng, tapi seingatnya, barang di sana tidak sebanyak ini. Entah apa saja yang ibunya masukkan akhir-akhir ini. Gadis itu lalu melangkah hati-hati di antara barang-barang, tidak ingin menyenggol apapun. Repot membereskannya nanti.
Ino berkeliling, mencermati kotak dan kardus yang ada di sana. Ia buka tiap kotak dan kardus yang berukuran besar, namun tak ia temukan apa yang ia cari. Ia melihat berkeliling lagi, lalu tersenyum. Ia belum coba lemari gesernya. Letaknya ada di sebelah kiri dari tangga. Ia melewatinya begitu saja karena tidak berpikir ada di dalam sana.
Ia menggeser beberapa kotak sebelum membuka pintu lemari. Ada dua buah kotak berukuran besar di dalamnya. Ino membuka yang di bawah terlebih dulu. Isinya penuh dengan tumpukan buku tua dan awan debu. Kalau begitu, berarti kotak yang kedua. Dan letaknya di atas. Ino mencoba menarik keluar kotak kayunya, tapi ternyata lebih berat dari dugaannya. Ia lalu terpaksa menggunakan pijakan agar bisa menarik kotaknya keluar.
Dan Ino salah perhitungan, lagi.
Kotaknya jauh lebih berat dari dugaannya. Entah apa isinya. Ino harus bersusah payah agar tidak jatuh berdebam ke belakang gara-gara beban kotak. Ia memang tidak jatuh sih, hampir, tapi punggungnya jadi harus menderita sakit karena melengkung di luar batas. Sedikit berkutat di sana sini dan si kotak akhirnya turun dengan selamat ke atas pijakan yang sebelumnya ia pakai.
Satu helaan keras keluar dari hidung Ino. Ia memutar bahu dan memijat pinggangnya sebelum membuka tutup kotak. Mata ino langsung disambut oleh warna hitam dari kain penutup benda apapun di dalam sana. Sekali sibak, dengan perlahan tentunya, senyum lega pun muncul di bibir Ino.
Deretan rapi boneka Hina berdiam diri di dalam kotak beralasan kain hitam itu. Ino mengangkat salah satu boneka Hina yang mengenakan kimono laki-laki, namun alisnya langsung mengerut. Boneka di tangannya ini lebih kecil daripada boneka yang ia temukan di taman. Dan itu berarti, pakaiannya tidak muat. Sekali lagi, Ino menghela napas. Rasanya perjuangannya jadi sia-sia deh.
Ino lalu mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya. Tapi, sudah sampai sini, tidak ada salahnya dicoba juga sih. Siapa tahu muat? Semoga.
Ia letakkan boneka pilihannya di atas sebuah kardus di sampingnya, menutup kotak seperti semula ... lalu menarik napas panjang. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk mengembalikan si kotak ke tempat kediamannya. Entah apa lagi yang ibunya masukkan ke sana selain boneka Hina hingga bisa seberat ini. Dan ketika Ino berusaha menggeser kotaknya semakin dalam, sesuatu melayang jatuh dari dasar kotak ke dekat kaki Ino.
Ternyata hanya selembar kertas lusuh. Ino memungutnya lalu menyadari bahwa itu adalah selembar foto hitam putih tua yang sudah kekuningan. Beberapa detik mencermati foto membuat Ino mengembangkan senyumnya.
Ada empat orang dalam foto itu, satu yang paling tua dalam posisi duduk dengan seorang bocah lelaki di pangkuannya. Satu yang berdiri di samping kursi – di sebelah kanannya, Ino kenali sebagai kakeknya. Di foto itu, kakeknya masih tampak muda, masih tampan dan segar. Kalau begitu yang duduk di kursi pasti kakek buyut Ino. Lalu, bocah laki-laki yang dipangku itu ... ayahnya? Seketika, tawa tertahan tersembur keluar dari mulut Ino. Ternyata saat kecil, ayahnya terlihat lucu!
Masih sambil tersenyum-senyum, mata Ino lalu pindah pada sosok terakhir yang duduk agak tersembunyi di balik kursi di sebelah kiri kakek buyutnya. Wajahnya menghadap ke samping. Entah kebetulan atau tidak, tapi Ino merasa perhatian si anak teralih oleh jam kukuk yang bertengger cantik di dekat jendela – jam kukuk kakek buyutnya. Ino tidak tahu dia laki-laki atau perempuan karena pakaiannya menyembunyikan bentuk tubuhnya, tapi dari ukuran tubuhnya sih orang ke empat masih anak-anak.
Ia jadi penasaran. Mungkin ayahnya tahu siapa orang di foto itu.
Ino keluar dari loteng bersama dengan sebuah boneka Hina dan selembar foto tua di tangan. Tapi ia urung menanyakan pada ayahnya. Tanpa melongok ke bawah, Ino bisa mendengar gumam suara obrolan hangat antara kedua orangtuanya. Mereka sedang asyik bercengkerama, sayang sekali kalau diinterupsi. Jadi yang ia lakukan adalah balik badan dan berjalan menuju kamar.
Setibanya di kamar, ia segera melangkah mendekati meja, namun tiga langkah sebelum sampai, mendadak ia berhenti. Ino mengerutkan dahi. Ia merasa ada yang berubah di sekitar meja, entah apa. Ia meneliti, lalu mengangkat bahu. Ya sudahlah. Yang penting tak ada yang hilang.
Barang bawaan dari loteng diletakkan di meja dan Ino berjalan keluar kamar. Ia kembali dengan sebaskom air hangat dan beberapa kain lap. Ino akan sibuk selama satu jam ke depan.
.
Semua gerakan gadis itu diperhatikannya lekat-lekat. Terutama, semua yang berhubungan dengan kontak fisik terhadap partnernya, bonekanya. Alisnya mengerut makin dalam tiap kali tangan si gadis menggosok permukaan bonekanya dengan kain lap. Gumaman omelan terlantun dari mulutnya dengan teratur, tapi tentu saja si gadis tidak bisa mendengarnya
"Awas kalau sampai retak ... arrggg, cara membersihkannya bukan begituuuu! Astaga,astaga, kepalanya! Sangga kepalanya bodoh! Dasar cewek nggak tahu benda senii!"
Benar-benar! Kalau bukan ada tujuannya, sudah sejak tadi Sasori ambil bonekanya ketika gadis tadi keluar kamar!
Sasori memejamkan matanya ketika mendengar bunyi keletakan halus yang hanya bisa didengar olehnya itu.
"Apa boleh buat. Mauku juga langsung pergi begitu yakin dia aman. Tapi kalau begini caranya, cewek itu ... tak ada ampun kalau bonekanya kenapa-napa," kata Sasori gusar, yang kemudian dibalas oleh keletakan halus lagi.
"Tak ada hubungannya dengan orang itu. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang."
Pandangan Sasori kembali pada jendela, namun telinganya tetap menangkap bunyi keletakannya. Sebelum menjawab, ia mengangkat bahu cuek. "Yah lihat saja nant..."
Omongan Sasori terputus karena ia melotot. Melotot melihat apa yang barusan dilakukan oleh si cewek bunga. Tanpa sadar, jari-jari tangan kanan Sasori yang terbungkus sarung tangan hitam mencakar permukaan batang pohon yang ia sentuh hingga terkoyak dalam.
"% #& £¥$!"
.
Jantung Ino masih berdegup kencang. Kedua matanya pun masih menatap pada benda yang sama; si boneka, yang kini tergeletak di dekat kaki tempat tidur. Tepatnya, karena dilempar oleh Ino barusan. Dan jantungnya sungguh nyaris melompat keluar ketika ketukan keras terdengar di pintu.
"Ino-chan? Semua baik-baik saja?" tanya ayahnya dari balik pintu dengan nada khawatir yang jelas. Ino langsung tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Ahahahaa, nggak apa-apa kok. Maaf ya Yah bikin kaget," kata Ino sambil tertawa garing. "Aku cuma ... kaget karena bukuku ketumpahan air minum tadi."
Inoichi mengangkat alis. "Begitu? Ya sudah, lain kali hati-hati ya."
"Iyaa," kata Ino ceria. Ia baru menutup pintu setelah ayahnya menghilang menuju lantai bawah. Helaan napas lega keluar dari mulutnya. Ia refleks berteriak tadi, tapi tak menyangka jeritannya akan terdengar hingga ke lantai bawah.
Yang meyebabkan Ino menjerit tadi adalah benda itu, boneka dengan rambut merah pendek itu.
Ino segera mengambil sapu yang ia simpan di sudut lemari gesernya, lalu mendekati si boneka sambil takut-takut. Dengan ujung gagang sapu, ia sodok sekali si boneka. Tak ada reaksi. Sekali lagi. Masih tak ada reaksi. Kening Ino langsung berkerut. Ia yakin seyakin-yakinnya kalau ada sesuatu yang aneh dengan bonekanya.
Beberapa saat sebelumnya, Ino mengangkat bonekanya dengan kedua tangan, puas dengan keberhasilannya menghilangkan tanah dan lumpur dari permukaan boneka. Tinggal kerak lumpur aneh di telapak kiri si boneka dan dia akan terlihat seperti baru lagi. Dan saat senyum Ino terkembang, si boneka mengedip.
Ino tidak sedang melamun. Yang jelas, ia bukan penderita rabun jauh. Boneka itu benar mengedip padanya. Dua kali. Padahal selama Ino bekerja tadi, mata si boneka dalam kondisi terbuka dan tidak sekalipun mata si boneka bergerak. Dan mendadak Ino kini paham mengapa ia sempat merasa ada yang aneh dengan mejanya.
Posisi si boneka berubah. Seingatnya, ia tidak meletakkannya menghadap persis ke arah jendela.
Lagi, Ino menyodok-nyodok si boneka. Dan mendadak bulu romanya berdiri. Refleks,ia langsung menoleh ke kanan, ke jendela. Ia sempat merasa melihat dua buah titik yang berkilat di cabang gelap pohon sana, tapi setelah Ino mengedip sekali, kilaunya menghilang. Mungkin hanya mata hewan liar. Ino tarik kerainya hingga menutup. Lalu kenapa tadi ia merinding ya?
Yah, itu bisa dikesampingkan dulu. Yang penting sekarang adalah si boneka. Ino jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadapnya. Sekarang ini benda itu terlihat biasa saja, tapi itu kan di luarannya. Entah seperti apa bagian dalamnya. Mungkin isinya berbahaya.
Tapi mungkin, Ino hanya berpikiran terlalu jauh. Kalau benar berbahaya, tidak mungkin benda itu kalah dari seekor anjing. Mungkin Ino memang benar berhalusinasi, atau mungkin ia hanya salah lihat. Hanya saja, mau tak mau Ino makin merasa kalau benda itu bukan boneka biasa. Ia jadi ingat kejadian tadi siang, ketika ia merasa melihat ada sesuatu yang berlari di titian pendek samping gedung Hokage.
Mungkinkah yang tadi siang dengan boneka yang sekarang ini adalah benda yang sama? Pasalnya, yang tadi siang Ino hanya ingat kilasan kimono hitam. Tapi kalau benar si boneka bisa berlari selincah itu, ia tidak mungkin jadi mainannya si anjing 'kan?
Gerutuan tidak jelas keluar dari mulut Ino. Mungkin seharusnya ia abaikan saja benda ini tadi.
"Haahh," hela Ino panjang, "seandainya aku punya byakugan atau sharingan ..."
Ino langsung mengerjap. "Itu diaa!" Besok ia akan bertugas di gedung Hokage lagi. Dan kalau tidak salah ingat, Tsunade sempat berkata kalau beberapa orang ANBU akan menghadiri pertemuan entah apa dengan orang Suna. Siapa tahu Itachi bakal hadir juga. Ia bisa minta tolong untuk memeriksa si boneka. Kalaupun tak ada Itachi, ia bisa minta tolong yang lain. Tapi dalam hati, Ino sangat mengharapkan Itachi hadir di sana.
Karena jadi bersemangat, Ino hampir melupakan kewasapadaannya terhadap si boneka. Hampir. Akhirnya ia bungkus si boneka begitu saja menggunakan kain lap terbesar yang ia bawa. Setidaknya seluruh tubuh boneka dapat terbungkus. Setelahnya ia masukkan dalam kotak sepatu lalu diikat. Sebut saja Ino paranoid atau apa, tapi mencegah lebih baik daripada terlambat kan? Kalau bonekanya benar hidup, bisa-bisa nanti dia kabur.
Ino baru pergi tidur setelah yakin sudah mengunci si boneka rapat-rapat dalam tasnya.
.
Sakura memperhatikan Ino yang sedari tadi tampak gelisah, tidak bisa diam di kursinya.
"Oi!" kata Sakura gemas sambil menarik buntut kuda Ino ketika gadis blonde itu mendadak berdiri.
"Duh, apa sih Forehead? Sakit tahu!" sungut Ino sambil mengelus ujung rambutnya dengan sayang. "Jangan tarik-tarik nyawaku!"
Sakura memutar bola matanya dengan kentara. "Kau kenapa sih dari tadi? Lagi sembelit ya?"
"Sembarangan!" sungut Ino lagi, tapi ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Kini Ino mondar-mandir di depan rak buku. Sakura tentu saja bingung karenanya. Tidak biasanya Ino tidak reaktif bila diejek seperti tadi.
"Salah makan?" tebak Sakura.
"Tidak."
"Beratmu naik seratus gram?"
"Tidak."
"Kangen Itachi -san?"
"Ti...Ng? Hei!" Ino sukses berhenti mondar-mandir dan mendapati cengiran lebar dari Sakura.
"Lho? Berubah haluan ternyata?" goda Sakura.
"Arrggg, sesukamu saja deh!" kata Ino gemas. Ia ingin bercerita pada Sakura mengenai si boneka kayu yang ia temukan kemarin, tapi belum saatnya. Nanti kalau semuanya sudah jelas.
Walau agak bingung, tapi Sakura masih membiarkan senyumnya terkembang. "Menyembunyikan sesuatu eh? Ya sudah. Kalau gitu mungkin tidak seharusnya aku bilang kalau barusan Itachi-san lewat..."
"Apaa?" kontan Ino menoleh ke arah pintu, "Kenapa nggak bilang dari tadiiii."
Tanpa menjelaskan apapun pada Sakura, Ino langsung menyambar tas selempang yang ia sampirkan pada punggung kursi dan berlari menuju pintu. Tinggallah Sakura seorang diri di perpustakaan pribadi Hokage. Ia hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Ino.
.
Reaksi Itachi di mata Ino sama seperti reaksi orang yang seakan sudah sering menjumpai hal semacam ini sebelumnya. Meski tertarik pun, Itachi tidak menampakkannya. Itachi tidak berkomentar apapun saat Ino menceritakan apa yang ia kira ia lihat dari jendela perpustakaan Hokage dan apa yang ia alami tadi malam. Pemuda itu terdiam sebentar setelah Ino selesai.
"Jadi," kata Itachi akhirnya, "kau bawa pulang karena ingin tahu?"
"Ya," jawab Ino singkat. Namun, bukan itu alasan sebenarnya. Boneka kayu itu mengingatkan Ino pada tamu anehnya tempo hari yang juga memiliki boneka serupa. Hanya beda penampilan. Yang satu berkimono merah dan berambut panjang, yang ini berkimono hitam dan berambut pendek. Dan entah kenapa Ino sempat merasa boneka itu sesungguhnya tidak berbahaya, selain bikin merinding tentunya.
"Seharusnya kau memberitahuku kemarin."
"Maaf, kukira aman."
Itachi menggeleng sekali, lalu menatap Ino serius. "Berikutnya mungkin kau tak akan seberuntung ini. Selalu berhati-hatilah. Yang berbahaya bisa jadi terlihat tidak berbahaya."
Hanya nasihat biasa. Asuma-sensei atau ayahnya juga pasti akan mengatakan hal yang kurang lebih sama. Tapi untuk yang satu ini Ino sangat senang, karena yang mengatakannya adalah orang yang disukainya. Dan lagi, baru kali ini Ino bertemu Itachi selama tiga kali berturut-turut seperti ini. Rasanya seperti mimpi saja.
Ino mengangguk sambil berusaha mengontrol bibirnya agar tidak tersenyum. Nasihat dari Itachi disimpannya lekat-lekat dalam ingatan.
Sharingan diaktifkan. Itachi membuka lapisan tebal kain lembab yang membungkus boneka dengan tangan kanan. Dan saat matanya menangkap letupan kecil energi yang mendadak muncul dalam tubuh boneka, tangan kiri Itachi tersengat. Bungkusan yang separuh terbuka itu lalu bergulir jatuh akibat gerak sentakan refleks tangannya. Dalam sepersekian detik yang mengejutkan, saat Itachi baru akan bereaksi, awal dari kekacauan pun terjadi.
Seperti pegas, boneka itu melenting tinggi ke langit-langit begitu saja seolah terpental dari lantai. Setidaknya itu yang dilihat oleh mata Ino. Sedangkan Itachi dengan sharingan-nya menangkap hal yang lebih mendetail. Tubuh kayu yang bergulir terlepas dari kelebatan kain, tangan kayu yang bergerak untuk menopang tubuh, kaki-kaki kayu yang menapak lalu melipat, tubuh kayu yang melompat tinggi ke langit-langit. Dan yang terakhir, yang membuat mata Itachi melebar karena luapan amarah, sebuah cetakan siluet kalajengking berwarna merah tepat di telapak kaki kiri si boneka.
Saat itu juga, Itachi langsung melempar kunai. Bidikannya tepat, namun kunainya berbelok ketika akan mengenai torso boneka. Benda kayu itu dilindungi. Pancaran energi pelindung muncul sekilas ketika kontak antara kunai dengan punggung boneka akan terjadi.
Boneka itu lalu berjongkok terbalik di langit-langit. Kepalanya menengadah kepada kedua manusia di bawahnya. Kedua mata kacanya memperhatikan lekat-lekat. Sedetik kemudian, si boneka menghindar lincah ketika semburan api menghantam tempatnya bertengger sebelumnya. Sekali lagi bola api menghantam langit-langit ruangan, namun tak bertemu dengan sasarannya. Boneka itu bergerak lincah secara terbalik di sekitar area yang menghitam seolah mengejek Itachi.
Mendadak pintu di ruang bekas penyimpanan gulungan bekas itu menjeblak terbuka. "Ribut-ribut apa ini?" bentak Tsunade berang. Ia berdiri berkacak pinggang di depan pintu.
Perhatian Itachi teralihkan sesaat, namun waktu yang sesaat itu merupakan jalan keluar yang lebar bagi si boneka. Benda kayu itu melesat ke arah pintu bagai peluru kendali. Tsunade menyadarinya tetapi terlambat setengah detik. Si boneka meluncur mulus tepat di samping wajah Tsunade tanpa terhambat apapun.
Tsunade berbalik dengan raut wajah bingung. "Apa i...?"
"Musuh," potong Itachi langsung. Ada ketajaman tipis dalam nada suaranya. Ia melewati Tsunade tanpa menjelaskan lebih lanjut, mengejar kelebatan bayangan berkepala merah yang melompat-lompat lincah di antara dinding lorong.
Tsunade kini ganti menatap Ino yang masih berdiri di tengah ruangan, menuntut penjelasan. Tapi Ino tidak terlalu fokus menatap Tsunade karena pikirannya sedang tidak di tempat. Otaknya sedang sibuk mematri pencitraan yang baru saja dilihatnya. Hanya dua kata yang kemudian diucapkan Ino dengan suara bergetar.
"Kalajengking ... merah..."
.
Suara keletakan halus itu terdengar panik, meminta Sasori mempercepat larinya. Namun tanpa diminta pun, Sasori sudah mengerahkan seluruh kemampuan tubuhnya untuk berlari begitu ia merasakan lonjakan suplai chakra yang dikuras dari dirinya. Tak dipungkiri lagi, partnernya sedang di ujung tanduk.
Sasori mendecih pelan. Ia sebenarnya sudah menduga hal semacam ini sebelumnya. Hanya saja ia tak menyangka akan terjadi secepat ini.
"Dia masih hidup," kata Sasori mencoba meredakan keletakan panik yang tak henti-hentinya berbunyi dari dalam tasnya. "Masih bisa kurasakan ... tunggu! Mau apa kau? Jangan keluar!"
Tanpa melambatkan lari dan tanpa melihat, Sasori menyambar tas yang ia sampirkan di bahu kiri lalu menutup restleting tas yang sudah separuh terbuka.
"Ingat kondisimu!" kata Sasori dengan nada suara yang sedikit tinggi. "Kau baru pulih!"
Suara keletakan halus itu lalu dipotong Sasori. "Percayalah padaku. Dia akan selamat. Chakra-ku masih melindunginya."
Tapi tak akan lama. Sasori paham betul itu. Dari besarnya aliran chakra-nya yang terus diambil, Sasori bisa merasakan bahwa musuh yang dihadapi partner satunya bukan shinobi biasa. Dan mendadak, Ia teringat dengan ANBU bermata merah yang sudah dua kali dilihatnya itu. Sekali lagi, sebuah decihan keluar dari mulut Sasori.
Mereka tiba di atap bangunan tertinggi dekat gedung Hokage. Dari situ, Sasori bisa melihat dengan jelas bubungan asap tipis yang keluar dari salah satu jendela. Tak lama kemudian, suara ledakan teredam terdengar di salah satu ujung bangunan.
Kemudian, Sasori melihatnya. Tubuh kecil kayu yang melompat keluar dari jendela yang lalu diikuti oleh sosok seorang pemuda berpakaian seragam khusus. Pemuda itu, si ANBU dengan bola mata merah. Kedua sosok itu melesat di sepanjang dinding bangunan menuju atap. Berita buruknya, ANBU kedua dan ketiga ikut menyusul di belakang si pemuda bermata merah itu.
Sasori sudah cukup melihat, tapi tidak akan berbuat ceroboh dengan menerjang langsung. Sebuah gulungan yang segelnya terbuka telah siap di tangan. Yang ia butuhkan adalah pengalih perhatian.
.
Rasanya kepala Ino seperti diguyur oleh seember air es. Kata-kata ayahnya muncul ke permukaan seperti rekaman kaset lama yang diputar.
"Ino-chan, lihat! Jam kukuk ini masih bagus 'kan? Kakekku – kakek buyutmu – pernah cerita kalau ini adalah hadiah dari seorang teman..."
Seorang teman. Jamnya pemberian seorang teman. Leluhurnya, kakek buyut Ino mungkin berkaitan dengan si pemilik tanda kalajengking merah ini. Yang kemungkinan besar musuh bila melihat raut wajah Tsunade setelah Ino mengucapkan dua kata itu.
"...no..."
Bagaimana ini? Jika memang benar leluhurnya ada hubungan si pemilik tanda kalajengking merah itu ...
"Ino!"
Yang dipanggil mengangkat kepalanya kaget, bingung sesaat ketika mendapati Sakura berwajah khawatir. Bunyi-bunyian pun kembali memenuhi telinga Ino, menyadarkan gadis itu mengenai situasi yang sedang berlangsung saat ini.
"Kau ... baik-baik saja?" tanya Sakura ragu-ragu.
Ino tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir."
"Aku juga bertanya-tanya," kata Sakura. Nadanya terdengar serius. "Apa insiden kemarin ini ada hubungannya dengan benda itu."
Sakura salah mengartikan kata-kata Ino. "Entahlah, semoga tidak," kata Ino hambar. Dan ia benar mengharapkan tidak ada kaitannya antara yang kemarin dengan yang hari ini.
Ino mencoba memusatkan perhatian pada sekitarnya. Orang-orang yang sibuk berlalu-lalang, entah shinobi Konoha dan Suna, petugas media seperti dirinya dan Sakura atau petugas divisi khusus lainnya.
Instruksi dari Tsunade jelas. Bersiap untuk kemungkinan serangan lanjutan dari musuh. Jangan lengah meski saat ini penyusup hanyalah sebuah boneka kayu setinggi lengan bawah manusia. Yang jelas pemiliknya, pengendalinya, tak mungkin jauh dari si kugutsu ini. Begitu istilah yang disebut oleh Kankurou saat pertemuan singkat antara shinobi Konoha-Suna yang diadakan Tsunadi barusan. Kankurou datang mewakili Kazekage Suna, Gaara.
Namun yang paling diingat Ino adalah wajah para ANBU Suna begitu Tsunade menyebutkan tanda 'kalajengking merah'. Mereka tampak terkejut. Terkejut karena mereka tampak tidak asing dengan tanda itu, terutama Kankurou. Dan reaksinya tidak terlihat bagus. Ino jadi ragu apakah perlu memberitahu Tsunade tentang informasi mengenai kakek buyutnya atau tidak. Dan yang lebih penting, ia paling takut dengan kemungkinan jika masa lalu klan Yamanaka ternyata ... tidak sebaik itu.
Mendadak Ino menepuk kedua pipi keras-keras. Ia harus fokus. Terlalu banyak berasumsi yang tidak-tidak tidak akan membuat kemajuan apa-apa. Untuk saat ini, ia harus terus waspada.
Kemudian, langit-langit aula tempat Ino berada saat ini runtuh.
Ino nyaris terlambat menghindar, namun pecahan dari beton dan kayu yang beterbangan ke mana-mana mustahil dihindari sepenuhnya. Ia terkena gores di beberapa bagian di sana-sini. Hanya sedikit lecet, tak perlu disembuhkan dengan chakra.
Lalu Ino melihatnya, begitu juga dengan semua yang berdiri ada di antara reruntuhan langit-langit ruangan. Ada yang berdiri di pusat ruangan. Sosok besar bungkuk yang tidak tampak seperti manusia. Proporsi badannya aneh, melebar menyerupai setengah bola. Namun yang membuat sosok itu tidak manusiawi adalah sesuatu yang seperti ekor panjang besar beruas banyak dengan sengat di ujungnya.
Perhatian Ino lalu beralih pada ketiga shinobi tak jauh dari sosok tak manusiawi tersebut. Dan salah satunya adalah Itachi.
Ino terkesiap. Kondisi Itachi tampak payah. Posisi berdirinya sedikit goyah dan ia mengernyit sambil memegangi lengan kirinya. Dari tempatnya, Ino bisa melihat rona-rona kebiruan memenuhi lengan kiri Itachi.
"Bodoh sekali," geram Tsunade di samping Ino. Wanita itu maju sambil menggeretakkan kedua tangannya, siap tempur. "Menyerang seorang diri ke pusat pemerintahan Konoha. Sudah bosan bersembunyi di bawah tanah rupanya eh?"
Sosok itu terkekeh dari balik kain hitam yang menutupi wajah bawahnya, diselingi oleh suara keletakan kayu. Tsunade tak menunggu lama. Ia maju, disusul oleh kedua ANBU Konoha yang berdiri tak jauh dari sosok itu. Gerakan ketiganya cepat, tapi musuh lebih gesit lagi. Ia melompat tinggi ke atas, menghindar tepat waktu dari serangan mematikan Tsunade.
Saat itu juga, sebuah bola api raksasa langsung menerjang ke arah musuh. Serangan Itachi telak. Sosok itu meledak dan terbakar di udara tapi tidak berpengaruh banyak. Yang terbakar hanyalah jubah hitam lusuh yang dikenakan sosok itu. Apa yang ada di balik kain hitam itu membuat semua yang ada terkejut.
Sosok itu ternyata memang bukan manusia. Ekor panjangnya keluar dari punggung yang berbentuk wajah seperti lidah, tangan kirinya berbentuk tabung dan rahangnya terbelah tiga.
"Kugutsu," gumam Kankurou. Ia bersiap dengan tiga buah kugutsu seukuran manusia dewasa; Kuroari, Shanso-Ou dan Karasu. "Jadi benar, kau memang Sasori si Pasir Merah?"
Tsunade mengernyitkan alis. "Musuh kita boneka?"
"Bukan. Itu bukan tubuh aslinya. Dia pasti ada di dekat sini," kata Kankurou sambil menilai sosok di depannya. Matanya menyipit, mencari-cari benang-benang chakra yang menempel pada tubuh boneka. Ternyata, tidak ada satupun. "Atau kemungkinan lainnya, dia ada di dalam kugutsu itu sendiri."
Sosok yang dipanggil Sasori itu hanya mengeluarkan suara keletakan yang terdengar seperti tawa. Rahangnya yang terbelah tiga bergerak-gerak seiring dengan suara keletakannya. Ia mengulurkan lengan kirinya yang berbentuk seperti tabung ke atas. Lalu serangan terjadi.
Tabungnya meluncur lepas dari sendi siku dan disaat perhatian orang-orang beralih pada benda itu, lusinan tabung yang lebih kecil melesat keluar dari dalamnya. Ribuan jarum-jarum meledak keluar dari masing-masing tabung kecil seperti kembang api. Beberapa shinobi terdekat yang tak mampu menghindari terkena serangan jarum-jarum itu. Efeknya terasa beberapa saat kemudian. Mereka yang terkena paling banyak mendadak roboh dengan tubuh kejang-kejang.
Bahkan yang hanya tergores pun mengalami kesemutan parah, dan Ino adalah salah satunya. Kedua kakinya seperti menjadi lumpuh dan tidak berhenti gemetaran. Ia sudah menggunakan chakra penyembuhnya untuk mengeluarkan racun tapi efeknya masih terasa. Ino tak bisa berbuat banyak dengan keadaannya yang sekarang.
Sosok itu – Sasori – bergerak lagi. Kali ini, mereka yang tidak terkena serangan lebih sigap. Kankurou menerjang dengan ketiga kugutsu -nya, dibantu Tsunade yang selamat karena dilindungi Kuroari.
Kankurou menggerakkan satu jarinya dan Karasu terbang ke arah Sasori, keempat lengannya terangkat mengancam. Satu jari lagi dan Kuroari yang bergerak dari sisi berlawanan. Keduanya ditangkis dengan mudah oleh ekor Sasori. Saat ekornya bergerak menangkis, Tsunade menyerang masuk.
Sasori melompat ke samping namun gelombang dari tinju Tsunade tak berhasil dihindari. Ia terlempar ke samping beberapa meter setelah tersenggol sedikit. Bagian samping tubuh Sasori menabrak tembok, membuat satu retakan panjang di lengan kanan buatannya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Tsunade menerjang Sasori yang masih berusaha bangkit. Sasori langsung memutar lehernya ke arah Tsunade dan membuka rahangnya lebar-lebar. Jarum-jarum beracun melesat keluar dari dalam mulut Sasori. Tepat ke arah Tsunade namun Kankurou yang sigap membuat Shanso-ou menjadi tameng. Memanfaatkan itu, sekali lagi sosok yang disebut Sasori itu melompat, berusaha kabur. Kedua kugutsu kembali menyerang, tapi lagi-lagi ditangkis oleh ekor Sasori. Karasu hancur, ekor Kuroari terpotong. Dengan sisa kugutsu-nya, Kankurou terus menyerang Sasori.
Sasori yang sedang disibukkan oleh serangan kugutsu dan Tsunade tak menyadari serangan ketiga yang muncul. Saat Sasori menyadari, semuanya terlambat.
Itachi mengeluarkan jutsu elemen apinya dari samping. Kali ini serangannya kena. Retakan yang dibuat Tsunade sebelumnya membuat pertahanan kugutsu Sasori melemah. Sekali lagi, ledakan terjadi. Sosok besar kugutsu itu terlempar ke tengah puing-puing, menimbulkan jejak awan debu dan asap.
Tubuh bungkuk yang terbakar dan terbelah itu diam tak bergerak, namun dari punggungnya yang hancur, berdiri perlahan satu sosok berpostur lebih kecil. Sosok berselubung asap itu berdiri tegak dan melihat berkeliling.
Dan Ino, yang posisinya berada cukup dekat dengan sosok itu hanya bisa menahan napas dengan mata membelalak. Sosok yang dipanggil Sasori si pasir merah itu tak asing lagi di mata Ino. Meski hanya bertemu sekali, Ino tidak sekalipun melupakan sosok itu.
"Tidak mungkin."
Sosok itu menoleh, tepat pada Ino. Matanya bertatapan dengan mata Ino sejenak sebelum melesat pergi.
Maaf telat update chapter lagi ^^; Baru dapet pace nulis beberapa hari belakangan ini, hehe. Semoga chapter ini bisa menghibur ^^;
Ucapan terima kasih saya dedikasikan buat yang masih ngikutin cerita ini sampee chapter terbaru. Buat silent reader, buat yang udah nge-follow, dan buat yang udah nge-fave XD
Makasih juga buat jejak-jejak di chapter sebelumnya : Pichi, Reiya Hakami, Iztii Marshall, dann seorang anonymous guest.
Akhir kata, met baca ;)
