MARIONETTE
Setting : Semi-Canon
Ratting : T semi M
Genre : action/suspense, mystery, a bit friendship-romance-supranatural
Warning: Probably OOC
Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto
Chapter 5
Tsunade langsung memimpin para anggota medis untuk penyembuhan darurat. Yang terluka ringan dirawat di tempat, yang terluka parah diberi pertolongan pertama sebelum dipindahkan ke ruang medis baru di gedung Hokage. Komando dialihkan pada Shizune sepuluh menit kemudian.
Masih di dalam aula, Tsunade lalu mengadakan rapat darurat dengan para shinobi yang masih sehat. Beberapa orang lalu diutus untuk memanggil semua shinobi tingkat atas yang tidak sedang menjalankan misi. Semua misi yang bukan setingkat S juga dibatalkan.
Prioritas utama untuk saat ini, jangan biarkan Sasori keluar dari desa. Tangkap hidup-hidup jika memungkinkan. Tapi kalau tidak bisa, maka eksekusi langsung di tempat.
Dua urusan sudah diatur. Sekarang yang perlu diselidiki adalah penyebab serangan Sasori. Kesimpulan saat ini, Sasori datang karena si boneka berambut merah terpojok. Bila boneka itu hanya sebuah senjata biasa, tak mungkin pemiliknya mau mati-matian menyerang hingga ke garis depan. Jadi kemungkinan besar ada sesuatu dengan benda itu. Sesuatu yang mungkin saja penting dan fatal bila diketahui musuh.
Info segera disebar. Jika memang demikian, maka boneka itu bisa diperhitungkan sebagai salah satu titik lemah Sasori nantinya.
Tsunade sudah kecolongan tiga kali. Yang pertama saat kejadian di kuil dengan ruang bawah tanah, yang kedua saat insiden ledakan kemarin dan ketiga yang ini. Sudah cukup. Ia tidak berniat membuat angkanya menjadi empat.
Wanita itu menggeretakkan giginya geram.
Ini berarti perang.
Dalam kondisi seperti ini, Ino paham betul kalau informasi sekecil apapun bisa berpengaruh besar. Karena itu ketika Tsunade mencari tahu kenapa si boneka berambut merah bisa masuk dalam gedung, Ino dengan susah payah memberanikan diri membuka suara. Diawali dari pertemuannya dengan Sasori di toko bunga Yamanaka hingga alasan Ino membawa si boneka berambut merah ke gedung Hokage.
Namun tidak semua ia ceritakan. Ia melewati fakta mengenai tercetaknya simbol kalajengking di jam kukuk milik kakek buyutnya. Ino tidak yakin perlu memberi tahu hal kecil itu pada Tsunade. Toh, selama ini klan Yamanaka selalu setia pada Konoha. Dan siapa tahu, simbol di jam kukuknya hanya kebetulan mirip dengan simbol si ninja buronan. Yang seperti itu 'kan bukannya tidak bisa ditiru.
Semua yang hadir dalam kerumunan kecil itu; Tsunade, Kankurou, dan dua Shinobi Konoha, mendengarkan penjelasan Ino dengan terperangah. Untuk sesaat, tak ada yang berkomentar setelah Ino selesai. Gadis itu lalu melirik Tsunade takut-takut.
Sang Hokage tampak sedang berpikir keras. Beberapa detik kemudian, yang dirasa Ino seperti berjam-jam, sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut Tsunade.
"Jadi bukan karena ada pengkhianat atau penyusup ya," gumam Tsunade sambil menekan pelipisnya.
"Eh?"
"Ah, tidak. Ino, pergilah ke ruang medis," kata Tsunade kemudian. "Kuyakin kau masih terpukul, tapi kami memerlukan tenagamu."
Mulanya Ino menatap Tsunade tak percaya. Bukannya teguran keras atau semacamnya, Tsunade malah menyuruhnya membantunya. Tapi yah, setelah dipikir lagi, dalam keadaan darurat begini, justru aneh kalau Ino malah mendapat sanksi.
Meski demikian, Ino tidak membalas perkataan Tsunade. Ia hanya mengangguk lalu berbalik. Ino berjalan menuju langkan pintu yang hancur dengan langkah berat.
"Ino,"panggil Tsunade persis sebelum Ino mencapai pintu. Gadis pirang itu menoleh dan terkejut karena Tsunade malah tersenyum kecil padanya. "Musuh kita lihai. Kau hanya tidak sengaja terlibat. Lebih waspadalah, lain kali."
Nasihat yang kurang lebih sama dengan Itachi. Mendengar itu, pertahanan Ino hampir runtuh. Namun ia masih bisa menguasai diri. "Terima kasih, Tsunade-sama."
Di ruang medis, Ino disambut oleh pemandangan seorang gadis berambut merah muda yang sibuk mondar-mandir dari satu nampan peralatan medis ke nampan lainnya. Untuk beberapa saat, Ino sempat terpaku melihat keadaan Sakura. Sama seperti dirinya, Sakura juga mendapat luka gores dan memar di sana-sini. Tapi tidak seperti dirinya, ada perban yang membalut lengan kiri Sakura dan jalannya agak timpang. Sakura terluka lebih banyak daripada Ino.
"Kau dari mana saja?" Sakura mengangkat kepala setelah Ino mendekat padanya, tapi separuh perhatiannya kembali lagi pada nampan. "Kucari-cari dari tadi. Ayo lekas, bantu aku merawat yang dari Suna. Mereka hanya bawa dua tenaga medis dan ..."
"Mana yang belum dapat perawatan?" potong Ino cepat.
Sakura berhenti bekerja dan menatap Ino sejenak. Rasanya ada yang agak berbeda dengan temannya itu. Rasanya, nada suara Ino terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya. Namun Sakura menggeleng. Mungkin ia hanya salah dengar. "Di sebelah kanan sana, tiga ranjang pertama baru mendapat pertolongan pertama sekenanya. Tolong beri perawatan yang lebih baik ya."
"Ya," gumam Ino mengiyakan. Tanpa berkata-kata lagi, ia mendekati pasien yang dimaksud Sakura. Namun Ino bekerja seperti zombie. Tubuhnya bergerak tapi hatinya tidak. Gara-gara itu, kebanyakan usaha penyembuhan yang dilakukan olehnya tidak berjalan baik. Cenderung asal-asalan, kalau boleh dibilang. Dan hal itu terlihat jelas di mata Sakura.
"Hei," kata Sakura pelan sambil menghentikan tangan kanan Ino. Gadis pirang itu menoleh kaget.
"A...?"
"Cara membalut perbanmu salah."
Ino ganti menunduk menatap balutan perban pada lengan pasien Suna-nya yang tak sadarkan diri. Alur perbannya tidak rapi dan sedikit longgar di beberapa tempat.
"Astaga!" seru Ino kaget. Ia lalu tertawa salah tingkah. "Sori, aku melamun kayaknya. Akan kubetulkan segera."
Selama beberapa saat kemudian, Sakura masih mengawasi pekerjaan Ino dengan prihatin. Kerja Ino tidak lebih baik dari yang sebelumnya. Konsentrasinya kembali, tapi terlihat dipaksakan. Ketika membebat ulang, kedua tangan Ino masih bergerak sedikit kaku dan terlihat kikuk.
Ternyata memang ada yang berbeda dengan temannya itu. Sakura tidak mengerti mengapa, tapi kurang lebih ia merasa kalau ini ada hubungannya dengan kekacauan di aula sebelumnya.
"Ino," panggil Sakura pelan.
Sekali lagi, Ino menoleh kaget. "Ng? Kenapa? Caraku masih salah?"
Sakura menggeleng sambil tersenyum tipis. "Istirahatlah. Dari sini biar aku saja ya."
"He? Aku baik-baik saja kok. Aku memang sempat luka dan masih agak kesemutan sih, tapi kalau penyembuhan bisa ku..."
"Sudahlah," potong Sakura tak sabar. Ia dorong punggung Ino dan menggiringnya ke kursi dekat jendela. "Kau istirahat saja, oke? Serahkan sisanya padaku."
"A - hei! Jangan perlakukan aku seperti yang luka!"
"Kalau kau lanjutkan, nanti yang luka jadi makin luka," kata Sakura setengah bercanda. "Gantian denganku kalau kau sudah mendingan, oke?"
Mulut Ino otomatis membuka, namun ia urung menyerukan protesnya karena tak ada kata-kata balasan yang bisa ia pikirkan. Setelah duduk pun, hanya satu helaan napas panjang keluar dari mulutnya; satu percikan kecil dari rasa frustasinya. Ia kesal pada perlakuan Sakura, tentu saja. Padahal Sakura yang lebih banyak mendapat luka, tapi malah Ino yang disuruh istirahat.
Tapi hati Sakura tidak luka, bisik hati kecilnya. Ino lalu tepekur memandangi punggung Sakura.
Benar. Tidak seperti dirinya, hati Sakura baik-baik saja. Ia tetap dapat bergerak lincah meski ia lebih banyak mendapat serangan. Luka batin dapat membuat tubuh berhenti bekerja meski tubuhnya sehat. Dan luka batin tak akan sembuh dalam waktu singkat.
Ino jadi benar-benar merasa bodoh.
Kenapa dia bisa dengan santainya membawa barang mencurigakan seperti itu ke dalam gedung Hokage sih? Mananya yang murid Asuma? Mananya yang jadi putri kebanggaan ayahnya? Karena kecerobohannya, ia hampir membuat nyawa orang melayang! Memang tidak secara langsung, tapi yang menjadi pemicunya adalah Ino sendiri. Dan di atas segalanya, ada satu hal yang paling membuat Ino didera perasaan bersalah. Meski sambil memejamkan mata pun, Ino bisa dengan jelas merasakan keberadaannya di sudut ruang medis di seberang sana.
Dia duduk di dipan sambil bersandar di tembok. Jika dilihat sekilas, Itachi terlihat baik-baik saja walau terlihat lusuh. Memang ia sedikit berkeringat karena demam dan caranya bernapas terlihat agak berat, namun itu semua terbayangi oleh raut datarnya seperti biasa. Orang yang tak kenal Itachi tak akan mengira kalau saat ini ia sedang tidak sehat.
Namun di sana Itachi tidak sendiri. Beberapa orang shinobi sedang berkumpul di sekitar kursinya, mendiskusikan sesuatu yang serius. Memang bukan hanya Itachi saja yang terluka dalam kerumunan itu, tapi bisa dibilang, Itachi yang paling parah. Senjata si boneka membuat lengan kiri Itachi dipenuhi ruam kebiruan hingga siku. Kalau dia sudah mendapat perawatan, maka sebelumnya pasti lebih parah.
Ino tahu sekarang ini keadaan sedang gawat, dan semua shinobi yang masih bisa berdiri diharapkan dapat berkontribusi. Tapi ia tak tahan melihat pemuda yang disukainya tetap bertugas meski kondisinya seperti itu.
Ino lalu memalingkan kepala. Semakin lama menatap kerumunan itu hanya membuat batinnya makin disesaki perasaan bersalah. Penuh sesak hingga Ino tak kuasa lagi menahan luapan emosinya. Secara berangsur, pandangannya mulai memburam.
Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Ino. Sontak, Ino mengangkat kepala dan mengerjap. Seorang shinobi Suna berkacamata yang bertampang cemas balik menatap Ino.
"Kau ... tidak apa?" tanya pemuda itu ragu.
"A – ," Ino langsung otomatis menggosok kedua matanya, "ini hanya ... sedikit kelilipan."
Pemuda itu lalu menggaruk kepala salah tingkah. "Oh. Ku-kukira kau ... ng, sudahlah."
Ino tersenyum tipis. Kalau dilihat-lihat, sepertinya usia pemuda ini tidak terpaut jauh di atas Ino meski ia mengenakan seragam Jounin Suna yang khas dengan kain penutup kepalanya.
"Ada perlu apa?" tanya Ino berusaha sopan. "Ada yang perlu disembuhkan?"
Pemuda itu menggaruk pipinya dengan satu jari. "Ng, anu, a-aku juga ninja medis kok. Barusan kau pucat sekali. Makanya kukira kau ... kenapa-napa."
Pipi Ino sedikit memerah. Benar juga. Ini kan masih tempat umum. Sama saja dengan mengundang orang untuk mendekatinya kalau ia bertingkah galau seperti ini. Setidaknya Sakura sedang sibuk dengan pasiennya sehingga tidak memperhatikan.
"Terima kasih," kata Ino pada akhirnya. Terima kasih sudah memperhatikan. Aku jadi sadar. Sedikit.
"Sama-sama?" kata pemuda itu tak yakin karena ia tak merasa telah melakukan sesuatu yang berguna.
Sekali lagi Ino tersenyum, namun matanya hanya sedikit fokus. Separuh benaknya kembali berada di tempat lain yang susah teralihkan. Pemuda itu mengawasi Ino lekat-lekat, lalu tersenyum kecil.
"Kau tidak kenapa-napa," kata pemuda itu menyimpulkan, "tapi kupikir kau butuh udara segar."
Pandangan Ino langsung fokus sepenuhnya. "Hah? Buat apa?"
"Soalnya kau masih pucat seperti sayuran layu sih. Pipimu masih kurang berwarna."
"Haa?" Ino langsung melotot. Malu? Sedikit. Kesal? Lebih dari sedikit. Apa maksud orang ini sih?
Si pemuda langsung mundur selangkah. "Oh, ku-kurasa aku ... ngg, temanku ... eeh... masih ada yang perlu dibebat di ... ruang sebelah," kata pemuda itu terbata-bata, sadar kalau ia sedikit menginjak ranjau. Nada suaranya kembali ke awal, agak kikuk. "Sampai nanti."
Hingga orang itu menghilang ke balik pintu, Ino tidak melepaskan pandangan sinis dari punggung si pemuda. Ino tak habis pikir. Apa maksudnya kata-katanya itu sih? Menyebalkan! Dasar tidak sensitif!
Namun demikian, perkataan usil si pemuda Suna menyentil batin Ino. Ia pasti kelihatan seterpuruk itu hingga dicemaskan oleh orang tak dikenal. Dan setelah diingat lagi, perkataannya Sakura juga.
Mungkin, mungkin Ino memang harus mencari udara segar sebentar. Atau sedikit waktu sendiri di tempat sepi juga boleh. Ia perlu menata hati dan pikirannya dulu.
Ino beranjak dari kursinya, masih bertampang layu tapi sudah tidak bergerak seperti zombie.
"Ke toilet," kata Ino singkat ketika ia melewati Sakura yang mengangkat alis padanya. Setelahnya, Ino berjalan lurus seperti robot menuju pintu.
Karena sibuk mengingat tempat mana saja yang kira-kira kosong di gedung Hokage ini, Ino tak menyadari satu lagi tatapan yang diarahkan padanya dari sudut ruangan medis. Dengan ekor matanya, Itachi mengikuti pergerakan Ino hingga gadis itu keluar ruangan.
Orang itu sudah berusaha keras menahan diri. Tapi pada akhirnya, rasa senangnyalah yang menang. Saat berbalik, ia terkekeh puas tanpa suara.
"Ah, gawat, gawat," gumam orang itu lirih. Ia tutupi mulutnya dengan tangan kanan. "Belum saatnya. Belum."
Mood-nya sedang bagus. Hari ini, tanpa berniat berusaha, Sasori keluar dari bayangan semudah ini. Ia jadi tak menyesali keputusannya membawa dia.
Sebelumnya, tak peduli seberapa kerasa ia berusaha, Sasori tak termakan pancingannya sama sekali. Ia juga sudah menyebar banyak mata-mata, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya ada informasi yang masuk mengenai insiden di reruntuhan kuil dekat perbatasan Hi dan Oto. Ia tahu Sasori akan ke Konoha demi buku hitamnya itu. Karena itu ia menyusup masuk Konoha untuk memburunya. Sekalian juga dengan buku skema boneka mekanis-organiknya.
Awalnya orang itu agak ragu membawanya turut serta. Dia tidak bisa inisiatif melakukan hal rumit dan kompleks atau berimprovisasi di tengah misi. Tapi ternyata di luar dugaan, kali ini dia sangat itu tidak tahu bagaimana detailnya, tapi dilihat dari Sasori yang selalu berhati-hati mendadak menyerang ke garis depan, pastilah berkat campur tangan dia. Orang itu hanya bisa berteori. Entah bagaimana, dia melihat Sasori di dekat sini dan memaksa Sasori muncul ke permukaan.
Dengan ini, segalanya menjadi lebih mudah. Lebih cepat dari yang ia perhitungkan. Selain buku yang belum ia temukan, sejauh ini semuanya tidak menyimpang jauh. Buku itu masih ada dalam gedung ini pastinya. Tak mungkin Sasori sempat menyusup diam-diam dan mencari buku yang entah ada di mana. Kehadirannya tadi terlalu spektakuler dan singkat.
Bukannya mustahil sih, tapi, yah, sudahlah. Benda itu masih bisa menunggu. Sudah di tangan Sasori pun, bukunya bisa ia rebut dengan mudah. Sasori yang sekarang sudah bukan ancaman lagi. Sekarang tinggal menunggu kesiapan dia bergerak kembali dan ... mulutnya otomatis membentuk seringaian tipis begitu menyadari kehadiran dia di luar sana.
"Panjang umur sekali," gumam orang itu. Sambil terus berjalan, matanya melirik sekilas ke luar ketika melewati jendela di lorong dan mendapati dia yang berbalut jubah lusuh kecokelatan berdiri kaku di sebuah atap bangunan. Kehadirannya hanya sekejap. Ia lenyap dalam satu kedipan mata. Tapi orang itu paham.
Ia telah siap.
"Dan tumben sekali," gumam orang itu lagi. Baru kali ini dia kelihatan bersemangat seperti ini. Seolah dia tak sabar ingin segera mengakhiri keadannya yang hanya separuh.
Sekali lagi, orang itu menyeringai tipis.
Hewan kecil berekor banyak itu mendengking pelan. Ia menggulung ekornya mengelilingi tubuh kecilnya dan merapatkan diri ke kaki pemiliknya. Pria dalam balutan jubah panjang berwarna gelap itu lalu terkekeh pelan.
"Bahkan kau pun sudah bisa merasakan ketegangannya dari sini, ya" kata pria itu sambil tersenyum, namun matanya tidak menatap ke bawah. Matanya yang jernih menatap gedung beratap merah dan beraksara kanji api di seberang sana.
Hewan kecil berekor banyak itu mendongak ke atas, menatap pemiliknya dengan gelisah. Ia mendengking lagi. Sejujurnya, ia tidak terlalu suka ketegangan seperti ini. Rasanya seperti ada kutu menyebalkan yang membuat gatal di salah satu sudut tubuhnya, tapi tidak bisa diraih oleh cakar ataupun giginya.
Pemiliknya tersenyum lagi. "Itu artinya, semua pemainnya sudah berkumpul. Sebentar lagi tirainya akan terbuka."
Sekali lagi, hewan itu mendengking.
"Ah, kau khawatir dengan keadannya, Kurama?" tanya sang pria dengan nada maklum. Sebagai jawaban, hewan kecil berekor banyak yang dipanggil Kurama itu mengusapkan kepalanya sekali ke kaki majikannya. "Tidak apa-apa. Itu bukan sesuatu yang buruk. Tapi jangan lupa, kita tak bisa ikut campur. Ini urusan mereka, bukan kita. Kita hanya bisa mengamati, seperti biasa."
Kurama menatap bangunan beratap merah itu dengan tampang sedih. Tak lama, kedua telinganya menegak. Hidungnya yang diangkat lalu mengendus udara dengan curiga.
Sang pria terkekeh ketika melihat itu. "Ada tamu ya? Kita agak terlalu lama di sini rupanya."
Pemandangan di sekeliling pria itu lalu berubah. Yang tadinya terlihat jelas menjadi buram. Semakin dan semakin buram seiring menebalnya kabut. Dan di balik kabut itu, tidak terlihat oleh mata orang biasa, muncullah sesuatu yang terlihat seperti sebuah cabikan berwarna hitam yang menggantung di udara. Sang pemilik dan hewannya itu lalu melenggang masuk ke dalamnya.
Ketika kedua orang jounin yang curiga tiba di tempat itu, yang mereka dapati hanyalah udara bertemperatur rendah yang bergulung tidak normal dan membuat bulu kuduk meremang. Tak berkesan pernah didatangi orang dan tanpa tanda-tanda kehidupan.
Setelah saling lirik, kedua orang itu lalu sepakat untuk tidak melaporkan yang barusan.
-TBC-
(Langung membungkuk 45 derajat)
Mohon dimaafkan karena baru update setelah berabad-abad. No excuse deh :') Yang jelas, cerita ini bakal saya tamatin kok. Soalnya endingnya udah tersusun rapih dalam otak. Sayang kalau nggak dibikin sampai akhir :)
Ucapan makasih sebesar-besarnya saya haturkan buat yang masih mau mengikuti cerita ini sampai kini XD
And thanks for those who leave review for latest chapter :
Moku-chan (maaf update nya nggak kilat :')), Mala Febrianis (thanks :)) , kikurocchi (Tik, ganti pen-name lagi kau, hahaa), Sayumi Takahashi (terima kasih udah suka sama alurnya XD Maaf update-nya nggak kilat), pichi (uh, romence yah? uhuk, ehem. Spoiler dikit ah~ chapter depan ada Ino dan Sasori :3), kirei-neko (ah, gitu yah? karena scene InoSaso dikit? hehe. Nantikan saja chapter berikutnya ;D)
Ucapan makasih juga buat silent reader dan yang udah nge-follow ini cerita
Kalau ada saran, komen, review, boleh masuk ke kotak review ya :)
Akhir kata, met baca ;)
