(A/N)
Hai, aku Anagata.
Aku menyarankan kalian untuk membaca ulang chapter ini karena ada beberapa sedikit perubahan. Enjoy!
.
.
Mahasiswa jurusan komunikasi itu kembali menunduk. Bukan berarti ingin patuh atau tunduk. Jika lawan bicaranya kembali sembarang berujar, Eijun mungkin akan sempat mengutuk.
"Aku tidak tahu, Miyuki Kazuya! Kenapa kau tidak mau percaya?"
Rahang catcher andalan tim profesional tampak mengeras di bawah cahaya ruangan. Redup, serupa dengan telinga yang berusaha ia tutup. Marah, cemburu, apa lagi? Miyuki sudah tidak tahan untuk barang mengingat sekilas. Pemandangan beberapa jam lalu masih senang menjadi bayang-bayang di pikirannya.
Kalut.
Ya. Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan hampir empat tahun lamanya, kini saling melempar kata. Saling meminta kepercayaan dan kepastian.
Setelah sekian lama terselimuti suara detik jarum jam, Miyuki membuka suara. Eijun memerhatikan dan berharap cemas agar perkara segera tuntas.
Ayolah, jika ia sudah merasa stress di kampus akibat tugas menumpuk, apakah di kediamannya sendiri (um, kediamannya dan Miyuki) pun harus merasa demikian?
Tuhan, tolonglah. Eijun membatin.
"Dia menciummu, Eijun." Ujar Miyuki. Ekspresi masam dan mata menatap tajam.
Eijun gelagapan. Dirinya lemah jika sudah dipandang dalam.
"Dia pasti sedang mabuk…"
"Oh? Dia mengajarimu sambil minum-minum, begitu?"
"Tentu tidak! Mungkin saja sebelum dia berniat mengajariku, ia sempat minum, kan?"
Kazuya diam. Tidak bergeming dari posisi duduk. Sedangkan Eijun hanya mampu berdiri di hadapan, dengan air mata tertahan.
Salah satu sudut bibir Miyuki sempat naik sekilas sebelum berujar dengan sangat, sangat pelan, "Terserah."
Namun Eijun dapat menangkap jelas makna perkataannya barusan, "Kazu—,"
"... terserah." Iris cokelat yang sering memancarkan kelembutan, kini menatap lawan bicara dengan sirat yang tajam, penuh keseriusan. "Sawamura Eijun, Jika seterusnya kau menerima tawaran darinya lagi, aku yakin tidak hanya bibirmu saja yang akan disentuh."
"… apa?" Eijun tentu kembali menangkap perkataan Miyuki barusan. Namun hentakan spontan membuat mulutnya terbuka dan bertanya. Lagipula, Sanada Shunpei pasti tidak sengaja menciumnya, kan?
"Tsk."
Kemudian, Eijun mendongak untuk mendapati kekasihnya sudah bangkit dan menyambar kunci mobil di atas nakas.
.
.
.
.
"Always Mine"
Miyuki Kazuya / Sawamura Eijun / Sanada Shunpei
Miyuki & Sanada : 22y.o
Sawamura : 21 y.o
Ace of Diamond belongs to Terajima Sensei
"Always Mine" written by Anagata
Warn(s) : Time travel, AU, Eijun tidak menjadi pemain bisbol profesional.
.
.
.
Langkah Miyuki menuju pintu menjadi penutup pertikaian malam itu.
Yang tersisa hanyalah pemuda dengan dua manik emas, menatap daun pintu yang tertutup untuk sepersekian detik seakan berharap akan ada yang membukanya kembali. Seketika sepi. Dingin.
Lemas, kaki menyerah. Eijun terduduk dekat sofa. Terduduk di atas karpet bulu yang melindunginya dari dingin marmer putih. Namun tetap saja, Eijun merasa ada angin yang datang seakan menusuk tajam relung hatinya.
Sesak.
Tak kuasa lagi menahan, air mata yang menumpuk akhirnya turun menuruni pipi. Isakan terdengar, terpantul dinding. Eijun mendekap kedua kakinya erat-erat depan dada. Wajah yang merah karena isak tangis tenggelam tak terlihat.
Jika sudah terjadi perkara, maka akan sulit untuk menemui titik temu penyelesaian. Dan jika seorang shortstop bersurai hijau itu tahu, Eijun yakin masalah akan semakin runyam (dan mungkin dirinya akan sempat terkena omelan panjang).
Lagipula, Miyuki tidak bersalah.
Haruicchi berkata benar dan kini Eijun menyesal.
Tidak seharusnya ia kembali menemui Sanada Shunpei.
.
.
Sinar cerah menyeruak. Silaunya menampar wajah remaja yang tertidur pulas. Seakan cahaya itu masuk dalam alam mimpinya, remaja berusia enambelas tahun itu perlahan membuka mata.
Di bawah sorot cahaya mentari, pantulan cantik tercipta. Saat cahaya terang menabrak iris matanya yang besar dan bundar, tercipta pantulan emas memamerkan kilauan keindahan.
Kedua irisnya, tampak serupa dengan lautan emas yang hanya bisa dibayangkan berada di alam surga. Sungguh memukau siapapun yang melihat.
Pemuda itu berusaha mengumpulkan kesadaran. Cukup memakan waktu. Setelah merasa cukup sadar, sang remaja mengangkat kedua tangan, melakukan peregangan kecil. Dahinya berkerut mendapati diri tidur dengan posisi duduk dan kepala bersandar di atas sofa kulit.
Matanya mengerjap. Lalu memandang sekitar. Dari ekspresi wajah, jelas jika ia terjebak dalam kebingungan.
"Dimana… aku?"
Pertanyaan tersebut menggantung di udara. Tidak ada yang menjawab.
Ruangan yang luas adalah tempat dirinya berada. TV LCD besar menempel pada dinding, sofa kulit berwarna putih yang cantik (uh, terlihat mahal), karpet lembut menyentuh kaki, serta beberapa furnitur minimalis menyegarkan mata. Terlihat pula dapur berukuran luas serta tiga pintu berpoles cat hitam. Mungkin ketiga ruangan itu adalah kamar dan salah satunya adalah kamar mandi. Mungkin.
Demi Tuhan, Eijun terkesima. Tempat ini terlihat mewah. Mungkinkah ia berada dalam sebuah apartemen dengan harga huni mahal?
Tunggu, apakah ini semua hanya mimpi?
"Aw!" Lucu, ia mencubit lengannya sendiri. Oh, yang barusan itu terasa sakit.
Jadi…
Apartemen...
Hah?
"AKU DIMANAAAA?!"
Bocah lugu itu berteriak. Dramatis hingga dirasa-rasa ingin menangis. Syukurlah tempat itu dilengkapi dinding kedap suara. Jika apartemen murah, sudah jelas suaranya akan terdengar hingga lantai dasar. Bahkan, burung yang bersantai di balkon apartemen pun terbang kabur akibatnya.
Oke. Tempat ini mungkin indah, namun sangat asing. Pemuda itu tidak tahu di mana ia berada. Dirinya hampir kalap dibuncah rasa cemas.
Seingatnya tadi malam ia berada dalam balutan selimut kamar nomor 5 asrama Seido.
Bukan. Dalam. Sebuah. Apartemen!
Perhatiannya teralihkan pada pintu kaca besar tidak jauh dari posisi duduknya. Beberapa kursi dan sebuah meja bundar tersusun rapi di luar sana. Itu balkon.
Kemudian, tampak jelas gedung-gedung tinggi menjulang di sekitarnya. Di lantai berapa ia berada sekarang? Ia tidak mungkin kabur dengan melompat dari sana, kan?
Rasa panik mulai menyelimuti. Kini ia telah bangkit dan sibuk berjalan tak tentu arah mengelilingi ruangan. Rasa panik membuatnya sulit mengatur tubuh dan pikiran. Siapa yang tidak panik saat tersadar di tempat asing?
Tarik buang napas, sang pemuda berusaha membongkar ulang memori kepala, berusaha mengingat-ingat.
Ya. Hal terakhir yang ia ingat, ia sedang dalam balutan selimut dan redupnya ruangan. Kuramochi-senpai dan Asada sudah terlelap. Namun dia belum kunjung tidur karena….
…. oh.
Ia ingat.
Ia sibuk menangis.
Itu semua karena Miyuki Kazuya sialan! Catcher itu tanpa henti mengatainya bodoh. Oke, itu sudah biasa dan orang-orang cukup sering memanggilnya demikian. Namun…
Tadi malam, Miyuki kembali mengingkar janji manisnya. Jangan salah paham. Janji yang dimaksud ialah, pemuda itu telah berjanji untuk menemaninya berlatih lempar tangkap. Kemudian, ntah apa niat Miyuki sebenarnya, dengan mudah sekali ia meruntuhkan janjinya. Furuya tidak perlu perlu repot-repot untuk cerewet meminta Miyuki mengangkap lemparannya. Hanya sekali minta, dirinya dengan mudah mendapat lampu hijau, tanda bahwa Miyuki bersedia membantunya latihan untuk berkembang. Baiklah. Mungkin hal itu sudah biasa. Ia, sebagai yang selalu dinomor duakan, tau betapa pentingnya posisi Furuya sebagai seorang ace yang pantas mendapat latihan ekstra.
Namun kali ini berbeda. Pemuda itu, Miyuki Kazuya, telah mengingkar janji yang sempat membuat Eijun tidak dapat berhenti menahan senyum semenjak pagi. Bayangan malam ini untuk mendapat masukan, mendapat pujian, dan mendapatkan kesempatan untuk semakin berkembang seketika buyar dan hilang tersapu badai kekecewaan.
"Ah, aku sudah berjanji ya. Tapi maaf, Sawamura." Ibu jari menunjuk remaja tinggi berkaus biru tua, berdiri tepat di sebelah sisi kanannya. "Ace kita butuh beberapa latihan ekstra."
Sontak saja seakan ada belati menusuk dada. Eijun tidak pasti mulutnya ingin berkata apa.
Saat sebuah janji yang sudah kau nantikan dilanggar begitu saja dengan mudah, menghasilkan rasa sakit cukup luar biasa pedihnya..
Seperti dicampakkan dan dianggap tiada guna.
Seketika dunia terasa hening. Eijun dapat melihat bagaimana mulut Miyuki berbicara, namun tidak ada suara yang kembali dapat ia tangkap.
Lucunya, tatapan Furuya menuju padanya.
Ada apa, Furuya? Kau mengasihaniku?
"Sialan kau, Miyuki Kazuya!" Ia setengah berteriak, tak tahan. Pandangannya buram ntah oleh amarah atau titik air mata. Peduli setan, saat ini ia hanya ingin berteriak dan memaki.
Jika aku hanya terus melempar pada net, apa itu akan memberitahu lemparanku sudah cukup baik atau belum?
Mengapa aku merasa kau menjauhiku, Miyuki?
Apa kau tidak ingin mengurusi pitcher sepertiku lagi?
"Jangan buat janji jika kau tidak mau menepatinya, Miyuki-senpai!"
Miyuki dan Furuya hanya menatap. Sebelum ia melihat sang kapten berbicara, ia berbalik, berlari.
Hingga waktu untuk mandi malam tiba, Eijun menolak mempertemukan pandang dengan siapapun. Kuramochi, sebagai manusia paling peka, tentu menyadari hal tersebut.
"Aaah, ini pasti akibat ulah si bodoh."
Kuramochi harus mempersiapkan diri merasakan aura kelam di kamarnya nanti.
...
18 Februari 2020.
Eijun telah berusaha mencerna informasi tersebut selama lima menit lamanya. Kalender di hadapan masih ia tatap. Bahkan, benda itu sudah lepas dari dinding karena Eijun ingin memastikan apakah tahun yang tertera adalah akibat salah pengetikan.
Tahun 2020...
Seingatnya, ia baru saja merayakan tahun baru 2015.
Eijun tersentak. Suara detik jam memanggil pelan. Menahan napas, sudut bibir bergetar. Ah, rasanya ingin kembali menjatuhkan air mata.
Namun keadaan saat ini tidak pantas ia kondisikan dengan kesedihan. Kini ia diselimuti misteri. Selain rasa sedih, rasa takut menyertai.
Kembali pada kenyataan, tempat asing kembali menyapa. Mungkinkah saat ia tertidur dari tangis, penculik datang?
Apakah ia diculik tanpa kesadaran dari sekuriti asrama?
Rasa panik semakin menjadi. Eijun menunduk, dan mendapati jika ia memakai pakaian… dengan ukuran sedikit kebesaran.
Oh Tuhan. Baju siapa yang ia pakai?
Apa yang sebenarnya terjadi?
.
Setelah menunggu dua jam lamanya, rasa bosan menghampiri pemuda surai hijau. Waktu terkikis hanya dengan memainkan ponsel. Di dalam mobil pula.
Jam malam membuatnya menguap. Ibu jari menyentuh aplikasi berwara hijau, LINE.
'Ryo-san, aku akan menunggumu di bar terdekat.'
Kirim.
Kuramochi kembali menguap. Walau mengantuk, sebagai kekasih terbaik, ia rela menunggui Ryousuke. Pemuda bersurai merah muda itu memiliki sebuah pertemuan dengan seseorang yang sudah setuju untuk membangun bisnis bersama (Ya, Ryousuke melanjutkan kuliah dan tidak memutuskan untuk bergabung tim bisbol laga). Pertemuan itu dilakukan di sebuah restoran Korea di ujung jalan. Malas ikut bernegosiasi, Kuramochi memilih menunggu dalam mobil. Namun akibat bosan dan dirasa membutuhkan udara segar, ia memutuskan keluar dan mendekati salah satu bar di jalan yang sama dengan lampu tumblr gemerlap di segala sudut.
Tentu ia tidak parkir sembarangan. Tempat parkir umum sudah dipercayai untuk menjaga mobil barunya.
Terima kasih untuk Giants. Gaji melimpah dan Kuramochi bersyukur pada Tuhan karenanya.
Tidak peduli bagaimana kondisi di dalam bar, setidaknya ada sebuah tempat untuk duduk. Menegak sedikit alkohol sebelum menyetir kembali dirasa tidak masalah.
Kehadirannya disambut bartender pria muda dengan senyuman. Tangannya lihai mengelap gelas-gelas berkaki tinggi. Sesekali menanyakan sesuatu pada salah satu pelanggan yang duduk tepat di seberang konter.
Tapi-
tunggu. Rasa familiar tiba saat matanya benar-benar fokus pada salah satu pelanggan yang duduk dalam diam dan menyesapi arak.
Postur tegap, bahu bidang, surai cokelat, kacamata…
Sedang apa dia di sini?
"Yo."
Yang disapa secara tiba-tiba, anehnya tidak kaget sama sekali.
"Kuramochi?"
Mendengus, lalu menempatkan bokong di sebelah teman satu tim. "Miyuki Kazuya. Catcher profesional menghabiskan waktu dalam sebuah bar… " Suaranya mengecil. "Biar kutebak, kau pasti sedang stress."
Miyuki bukanlah orang yang suka menghabiskan waktu di bar. Semenjak hidup berkecukupan karena profesinya, ia selalu memiliki bar khusus di kediamannya. Jadi, melihat sosoknya di sini adalah suatu hal yang mengejutkan.
Miyuki memutar malas kedua bola mata, "kau sendiri?"
"Menunggu Ryo-san mengurus sesuatu." Memesan satu segelas wine dan melanjutkan, "pertama kali kemari, eh?"
Jari-jari panjang menggoyang tubuh gelas, tatapan fokus pada batu es yang berputar di dalamnya. Alkohol kembali ditegak sebelum menjawab singkat, "...hm."
Salah satu alis Kuramochi naik, melirik Miyuki sekilas, "biar kutebak. Sedang ada masalah dengan Bakamura?"
Tak ada jawaban. Kuramochi mendengus, lagi.
"Lagi, Miyuki?" Tak perlu jawaban, ia sudah tahu. "Kali ini apa masalahnya?"
Kuramochi dapat bersumpah bahwa ia melihat rahang Miyuki mengeras. Gelas dicengkram dan kedua mata itu… terdapat kilat amarah.
"Sanada Shunpei." Kali ini Miyuki menjawab dengan gusar, tentunya. Jika tentang pria itu, hal apapun Miyuki tidak akan suka.
"Whoa." Ntah mengapa, Kuramochi ingin tertawa. Namun sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tidak perlu bertanya, ia sudah tahu apa perbuatan Sanada sehingga membuat Miyuki tampak kesal.
"Kembali menggoda Sawamura? Dia tidak pernah kapok, ya."
"Orang bodoh tidak akan pernah paham, Kuramochi. Kali ini tindakannya sudah semakin jauh. Padahal dia sudah tahu betul bahwa Eijun milik-"
"Ya ya aku tahu." Tukas shortstop. "Cepat saja melakukan lamaran, Miyuki. Hyahaha! Agar dia tahu tempat."
Miyuki tidak menjawab. Wine kembali diteguk, tandas. Perkataan Kuramochi barusan mengingatkannya akan suatu hal. Untuk saat ini ia memutuskan untuk mengesampingkan itu semua. Sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Sejak SMA Kuramochi sudah tahu betul bagaimana seorang Miyuki Kazuya jika sudah kesal. Seperti saat salah satu taktik cerdas permainan bisbolnya digagalkan oleh lawan. Ia akan tampak gusar dan mengeluarkan aura dominannya. Namun, rasa kesalnya saat ini sangat melebihi dari hal itu.
"Jadi Kau pergi meninggalkan Eijun sendiri di apartemen? Jangan berharap untuk menginap di tempatku."
"Tidak mungkin, bodoh. Kau sudah berumah tangga dan ada Ryo-san-"
"Kami belum menikah, Miyuki."
"-atau kekasihmu itu, cukup menyeramkan." Tidak peduli, Miyuki tetap melanjutkan.
"Oi oi." Kuramochi protes.
"Lagipula... aku akan pulang."
"Ah, baguslah. Lagipula tidak baik jika kau seperti ini, Miyuki. Bisa saja Sawamura malah menganggap Sanada lebih baik darimu. Jauh lebih baik."
Miyuki mengumpat pelan begitu mendengar nama pitcher sialan asal tim rival, Softbank HAWKS.
"Lagipula, Sawamoron itu masih bocah, menurutku. Walau umur bertambah, tidak ada pengaruh. Ia itu polos, Miyuki."
"Aah, Mochi." Kuramochi mengangkat alis saat melihat senyum miring di wajah kawan dekat, "Rupanya kau sangat kenal Eijun, eh? Onii-chan yang baik."
"Tch." Balas Kuramochi. "Pulanglah, bodoh." Biji mata menatap jam tangan. Pukul sepuluh malam. "Anak itu pasti sedang menangis. Kau sudah tahu betul jika ia terlalu sedih maka pelajarannya akan semakin, semakin, memburuk."
Miyuki mengangguk. Walau dengan sekali lihat, Kuramochi tau bahwa temannya itu masih belum siap untuk pulang.
.
.
TBC
