MARIONETTE
Setting : Semi-Canon
Ratting : T semi M, buat jaga-jaga
Genre : action, mystery, friendship, supernatural
Warning: Probably OOC
Disclaimer : Saya cuma numpang pinjam. Naruto selalu © Masashi Kishimoto
Tapi fic ini punya saya 8D
Chapter 6
.
.
.
Tuk ...
Gelap. Semuanya gelap. Di sini yang gelap, atau mata ini yang tak bisa melihat ya?
Tuk!
Agak membuat gelisah, sejujurnya. Dan perasaan aneh yang masih belum juga hilang ini ... rasanya seperti ada yang menyumbat.
Tuk! Tuk!
... dan ngomong-ngomong, bunyi mengetuk apa sih itu? Dari tadi bunyi terus, makin lama makin keras ...
Tuk! Tuk!
" ... ah ..."
Seperti bunyi lonceng kecil, mendadak sebuah pemahaman muncul di benaknya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Itu bukan suara mengetuk, tetapi menepuk.
Karena sambungan antara keinginan dengan gerakannya sempat terputus, kedua kelopak mata Sasori sempat susah dibuka.
"Adapa?" gumam Sasori tak jelas. Kepalanya seperti berada di tempat lain hingga ia tak mampu menganalisa sosok buram kemerahan yang ditangkap matanya. Sasori mencoba bergerak, tapi gerakan paling mulus yang berhasil ia lakukan hanyalah menggerakkan jari tangan kirinya. Yang kanan terasa kaku. Entah ada apa dengan tangan kanannya. Tubuhnya juga sulit digerakkan.
Gumaman Sasori langsung disambut oleh suara keletakan. Dan suara itu terdengar panik.
Sasori memejamkan mata. Suara keletakan panik itu kedengarannya tidak asing lagi. Rasanya belum lama ini ...
Serta merta ia langsung bangkit. anjir informasi langsung memenuhi kepalanya.
Sasori mengernyit sambil memegangi kepala dengan tangan kiri. Keletakan panik itu, gerombolan ANBU itu, Hiruko, bola api raksasa, puing dan debu dan si cewek bunga ... tunggu. Rasanya ada yang terlewat. Sebelum ia jatuh ke seruangan penuh shinobi ... tidak, sebelumnya lagi ... lebih mundur lagi ...
Sasori membuka matanya lebar-lebar. Itu dia. Orang itu. Dan dia.
"Cih!"
Tadinya Hiruko hanya akan dipakai sebagai pengalih perhatian agar ia bisa mengambil bonekanya. Bukan rencana yang buruk sebenarnya, sampai dia muncul dari belakang tepat setelah Hiruko dikeluarkan. Sasori terlambat menyadari sedetik. Dia, yang membuka punggung Hiruko, melempar Sasori tepat ke dalamnya, lalu merusak mekanisme punggung Hiruko hingga tak bisa dibuka dari dalam. Dia juga yang membuat Hiruko melesat langsung ke arah para ANBU yang sedang memburu rekannya yang berambut merah.
Sasori tak sempat melakukan apapun karena semuanya terjadi dalam hitungan detik yang membingungkan. Ia juga tak sempat memikirkan bagaimana dan mengapa dia bisa ada di dekat gedung Hokage. Yang ia pikirkan hanya bagaimana ia bisa bertahan dan membuat celah untuk kabur saat ia jatuh ke dalam ruangan itu. Apapun dan bagaimanapun caranya.
Kini semuanya jadi berantakan. Bukan hanya keberadaannya saja yang terbongkar, tetapi juga chakra-nya berkurang banyak. Ia jadi benar-benar tak punya waktu lagi. Chakra-nya, substansi yang selama ini mengikat nyawanya pada tubuhnya yang sekarang, tak akan bertahan lama. Ia sudah tidak bisa mencuri chakra lagi seperti dulu. Koneksi dengannya sudah melemah.
Jika beruntung, ia hanya punya waktu sekitar tiga hari lagi. "Atau mungkin malah hanya tiga jam," gumam Sasori sambil menyeringai. Ia sudah ketahuan, jadi cepat atau lambat, akan ada konfrontasi. Dan di saat itu terjadi, tak gunanya lagi menghemat chakra.
Sasori bangkit berdiri dengan kaku. Sambungannya belum stabil sehingga tubuhnya terasa lumpuh. "Sudah berapa lama kesadaranku hilang?"
Boneka berkimono merah itu menengadah dan mengeluarkan suara keletakan halus dari mulut mekanisnya.
"Sekitar dua jam ya? Tak separah yang kuperkira ..." Omongan Sasori terpotong ketika tiba-tiba semuanya kembali menjadi gelap. Ia terbentur keras ke tanah, tak sempat menahan jatuhnya.
Ada yang menyedot chakra -nya, membuat sambungan rapuh yang baru terjalin antara nyawa dengan tubuhnya kembali terputus. Dan di sela sisa kesadarannya, Sasori baru menyadari.
Yang satunya tak ada di dekatnya.
00o00
Ino sedang duduk bertopang dagu ketika serangan terjadi. Segalanya berlangsung begitu cepat hingga ia tak sempat melihat seperti apa sosok penyerangnya. Tapi yang memenuhi perhatiannya sekarang bukan kenapa serangan terjadi atau ruang baca yang yang menjadi puing atau badannya yang sakit.
Ino terlalu sibuk terpaku melihat punggung penolongnya.
Ia tahu ini bukan genjutsu, karena sampai tiga menit yang lalu, hanya ada dia seorang di perpustakaan. Ia juga yakin kalau ini bukan mimpi, karena rasa sakit di lengan dan punggungnya asli. Tapi kalau ini kenyataan, maka rasanya ini terlalu absurd untuk dibilang nyata.
"Ke-kenapa?" tanya Ino terbata-bata kepada sosok yang berdiri membelakangi dirinya; sosok dengan buku hitam terikat di punggung. "Kenapa kau...?"
Sosok berambut merah setinggi lengan bawah manusia dewasa itu tak bereaksi dengan pertanyaan Ino. Ia malah menengok kesana kemari. Setelah memastikan kalau si penyerang sudah pergi, ia hilangkan dinding energi pelindung kebiruan yang ia gunakan untuk melindungi mereka berdua dari serangan. Kedua lengannya yang terentang lalu jatuh ke samping tubuhnya begitu saja. Setelahnya, boneka itu mendadak menjadi diam tak bergerak seolah ada yang melepas daya hidupnya secara paksa. Tubuhnya membungkuk, kepalanya tertunduk dan kedua lututnya menekuk.
Ino mengedip kebingungan. Ragu sedetik sebelum akhirnya sebuah kunai dikeluarkan. Ia acungkan dengan tangan kanannya tepat ke arah punggung si boneka dari jarak aman sambil sedikit gemetaran.
Tak ada yang terjadi. Padahal si boneka pasti bisa melakukan sesuatu di saat Ino ragu sedetik tadi.
Ino lalu beringsut ke kiri sedikit, memperbaiki kuda-kudanya.
Masih tak ada yang terjadi. Ino jadi tak yakin harus melakukan apa. Keributan barusan pastinya mengundang perhatian semua yang ada dalam gedung ini, tapi orang-orang bakal teralihkan ke tempat lain karena tak lama kemudian, ada ledakan lagi yang terdengar dari arah luar sana.
Jadi, untuk saat ini, tak akan ada yang datang ke sini. Ia harus bisa bertahan sendiri.
"Haahh..." tanpa sadar Ino menghela napas panjang bernada pasrah. Bersamaan dengan itu, si boneka tiba-tiba berdiri tegak dengan satu bunyi 'klek' keras. "Hiiihhhh!"
Refleks, Ino mundur hingga punggungnya menabrak sebuah rak buku tinggi yang miring. Kunainya hampir terlepas, tapi Ino berhasil memantapkan genggamannya pada gagang kunai.
"Jangan coba-coba!" Ino berusaha membuat suaranya menjadi tegar ketika si boneka berbalik menghadap Ino. Benda itu menatapnya, mata kaca beradu langsung dengan mata manusia. Si boneka lalu berkedip sekali, membungkuk dan mengambil secarik besar robekan tirai jendela yang tergeletak di dekat kaki kayunya. Mendadak, boneka itu menekuk kedua kakinya sambil menyelubungi diri dengan tirai, lalu melesat keluar dengan cepat melalui lubang besar di tembok.
"A-heii!" Ino menghambur menuju lubang di tembok. Kedua matanya melebar ketika melihat gulungan tirai berwarna putih gading melesat menjauh. Ino langsung bergerak menapaki puing terdekat untuk pijakan, bersiap mengejar.
" ... Lebih waspadalah, lain kali."
Kaki kanan Ino berhenti tepat di tepi lubang tembok.
" ... Selalu berhati-hatilah. Yang berbahaya bisa jadi terlihat tidak berbahaya."
" ... "
Setelah Tsunade, kini nasihat Itachi yang kembali terngiang. Ino berdiri ragu di depan lubang di tembok.
Nasihat, itu satu. Yang kedua, rasa bersalah. Ia jadi makin bimbang. Matanya menatap nanar pada titik putih gading kecil di kejauhan yang melesat di antara atap-atap.
Mengejar benda itu begitu saja adalah tindakan yang ceroboh, sudah pasti. Meski sanggup pun, seorang kunoichi selevel chuunin seperti dirinya tak akan bisa berbuat banyak melawan sesuatu yang bisa membuat repot seorang anggota ninja elit seperti Itachi. Tapi saat ini hanya ada dia seorang dan Ino ragu ada yang melihat si boneka selain dirinya. Dan tiap detiknya, si titik putih makin mengecil di ujung sana. Tapi kalau dia bertindak ceroboh lagi ...
"Aa mou!" seru Ino gemas sambil mengacak rambutnya. Entah mana yang lebih ceroboh, mengejar musuh yang jelas lebih kuat atau membiarkan musuh lolos walau ada kesempatan.
Ino lalu menepuk pipi keras-keras untuk meneguhkan hati. Ia ambil ancang-ancang sebelum akhirnya melompat tinggi ke udara.
Kalau hanya membuntuti, rasanya tidak masalah asalkan bisa tetap berhati-hati. Iya 'kan?
Terlepas dari benar atau tidak tindakannya, setidaknya Ino tepat waktu. Kalau ia terlambat memutuskan beberapa detik lagi, boneka itu pasti sudah tak terjangkau oleh pandangan. Namun jarak di antara mereka masih terpaut jauh. Ino harus mengerahkan kemampuan kaki dan konsentrasinya agar benda itu tidak hilang dari pandangan. Boneka itu mengambil jalur yang melewati banyak atap berdempet dan berderet. Ino tidak boleh buyar barang sedetik pun karena boneka itu bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan.
Lebih tepatnya, benda kayu itu bergerak terlalu luwes.
Alis Ino mengerut. Benda melompat-lompat yang ia kejar sekarang ini seharusnya termasuk senjata ninja yang disebut kugutsu. Berdasarkan penjelasan Kankurou, kugutsu bisa bergerak dengan menggunakan benang chakra. Itu artinya, pemiliknya pasti tidak jauh, sama seperti puppeteer yang menggerakkan marionette.
Ino tidak terlatih melihat benang chakra jadi ia tidak tahu apakah pemiliknya ada di dekat-dekat sini atau tidak. Tapi jika pemiliknya benar dekat, rasanya aneh sekali 'kan?
Hanya ahli yang bisa menggerakkan kugutsu hingga seluwes itu. Dan bila dia seahli itu, berarti tingkatannya jauh di atas Ino. Meski pengguna kugutsu katanya lemah dalam pertarungan langsung jarak dekat pun, satu kunoichi level chuunin seharusnya bakal mudah dibereskan 'kan? Kenapa tidak langsung menghadapi Ino saja?
Kemudian, ia terpikir sesuatu. Terlintas begitu mendadak hingga membuat konsentrasinya sedikit buyar. Ia nyaris tergelincir ketika kakinya menjejak di sebuah atap toko bertingkat dua.
"Kecuali ..." gumam Ino tanpa sadar, "kecuali kalau boneka itu memang ... bergerak sendiri ..."
Ino langsung menggeleng kuat-kuat, membantah kesimpulannya sendiri. "Tidak, tidak. Tidak mungkin ada benda mati bisa hidup ..."
Ia tercenung lagi, membuat konsentrasinya kembali buyar. Kata 'tidak mungkin' itu sendiri rasanya tidak pas. Seharian ini, segala yang terjadi di sekitar Ino adalah sesuatu yang tidak mungkin. Sesuatu yang sulit dipercaya. Absurd.
Berarti, mungkin boneka di depannya itu entah bagaimana memang hidup. Cukup hidup hingga bisa bergerak bebas meski tidak di dekat pemiliknya. Apa itu artinya, ada jutsu khusus yang bisa membuat benda mati bisa bergerak sendiri?
Kepala Ino langsung pening. Urusan analisa rumit seperti ini bukan bidangnya. Yang hobi belajar adalah Sakura, bukan dirinya. Ia menggeleng lagi. Ya sudahlah. Itu bisa dipikirkan nanti-nanti. Sekarang ini, fokus ke depan saja dulu. Targetnya cuma satu dan suasana sekitar hening, jadi mestinya ini bukan tugas yang terlalu sulit ...
Ng? Hening?
Ino menjejakkan kakiknya kuat-kuat di sebuah atap datar beton sebuah toko. Saat melompat tinggi, ia menoleh sedikit ke bawah agar ia bisa melihat lebih jelas. Dan apa yang ia lihat membuat alisnya kembali berkerut.
Tak ada satu orang pun yang berlalu lalang di bawah sana. Padahal ini masih tengah hari dan di sini adalah areal pertokoan. Ke mana perginya semua orang?
Ia lalu menoleh ke kanan ketika sudut matanya menangkap sekelebat bayangan hitam di kejauhan. Tepatnya, ada tiga kelebatan bayangan hitam, melompat-lompat di atap sama seperti dirinya. Ino sipitkan matanya untuk mempertajam penglihatan. Kelihatannya ketiganya adalah jounin. Dan di antara mereka pasti ada yang menyadari keberadaan Ino karena mendadak mereka berubah haluan. Yang tadinya bergerak lurus ke arah utara, kini berbelok ke arah barat. Persis ke arah Ino.
Gadis itu menghela napas lega. Setidaknya, sekarang ia tak lagi sendirian. Ia bisa meminta mereka bertiga membantunya mengejar si boneka di depan sana.
"Are?" Ino mengerjap. Di depan sana tak ada apa-apa. "Eeeehh?"
Ino mengedarkan pandangan dengan panik. Gawat. Ini gawat. Ini sih namanya sama saja dengan bertindak ceroboh.
Ia kembali menjejak kuat-kuat. Kali ini, karena dipicu adrenalin, lompatannya lebih tinggi dari biasanya. Kemudian, ia melihatnya. Hanya sekilas, kelebatan warna putih di antara tembok batu berwarna kecokelatan di bawah di sebelah kirinya. Tanpa pikir panjang, Ino langsung berbelok setelah menjejak.
Ino mendarat hampir mulus. Hampir. Karena terburu-buru, pijakannya meleset sedikit hingga ia tergelincir dari pinggir teritis atap sebuah toko bertingkat tiga. Setidaknya ia tidak disambut oleh kerasnya permukaan tanah. Dan setidaknya lagi, isi bak sampah terbuka yang ia jadi landasannya mendarat bukan sampah basah.
Ia bersyukur sekaligus mengumpat sambil berkutat menyingkirkan gumpalan serpihan panjang sampah kertas di sekujur tubuhnya. Hanya sedikit memar di sana-sini. Kertasnya ternyata lebih empuk karena lembab terkena hujan tapi bau apaknya bukan main. Entah sudah berapa lama toko percetakan di sampingnya ini membiarkan sampahnya menumpuk begitu saja.
Ino berguling keluar dari tumpukan kertas lembab itu dan melihat ke sekeliling gang.
Di depannya, sekitar tiga meter meter jauhnya, tergeletak sehelai carikan kain putih kotor dalam air kubangan. Dari situ, ada barisan jejak kaki kecil dan tetesan air yang tercetak menjauh dari kubangan. Benda kayu itu pasti belum begitu jauh karena tetesan airnya masih terlihat jelas.
Ino segera berlari menelusuri jejak. Ia semakin mempercepat langkah ketika telinganya menangkap bunyi samar dari bunyi 'klak-klek' kecil yang berasal dari belokan di kanan depan sana.
Ino berbelok tanpa melambatkan lajunya. Ia gunakan talang air persis di ujung tembok sebagai tumpuan untuk berbelok. Tubuhnya berputar mulus dan kaki kirinya berpijak mantap tanpa menyenggol apapun. Dan itu dia. Si boneka kayu berambut merah dengan buku hitam terikat di punggung. Masih bugar seperti monyet kecil, melompat-lompat lincah dari tembok ke tembok.
Ino tahu ia harus hati-hati, karena kalau tidak, bukan pembuntutan lagi namanya. Tapi ia juga tak mau kehilangan jejak lagi, jadi suara larinya sedikit lebih berisik daripada yang Ino harapkan. Cukup berisik hingga membuat si boneka menoleh ke belakang. Sekali lagi, mata kaca beradu pandang dengan mata sungguhan.
Mendadak si boneka bersalto mundur setelah menjejak di tembok sebelah kiri. Benda itu berputar tinggi di udara melewati kepala Ino lalu mendarat satu meter di belakangnya. Kepala Ino berayun mengamati lompatan yang seolah terjadi dalam gerak lambat itu. Kemudian, si boneka melaju persis ke arah muka Ino dengan kedua tangan terjulur ke depan.
Dahi Ino dihantam telak dengan telapak tangan kayu si boneka. Momentum benturannya membuat Ino tersentak ke belakang. Kemudian, si boneka menggunakan kepala si gadis sebagai pijakan untuk melenting tinggi ke udara.
Mata Ino melebar dan makin melebar ketika hanya bisa mengawasi benda kayu itu menghilang dari pandangannya. Tangan kanannya mengulur ke depan, menggapai sia-sia. Ino jatuh ke belakang dengan punggung menghantam tanah.
BRAK!
"Ng?"
Suaranya keras, jauh lebih keras daripada suara jatuh Ino dan terdengar tiga detik kemudian. Kedengarannya tak begitu jauh dari tempat Ino terbaring. Dengan punggung berdenyut nyeri, gadis itu berguling ke kanan dan bangkit perlahan. Ia melangkah sehening mungkin menuju perempatan gang bernuansa suram di depannya.
Ino berhenti sejenak ketika telinganya menangkap gumaman suara samar orang yang sedang berbicara dari balik gang di sebelah kanan ini. Setelah ragu sesaat, Ino mendekat ke sana. Ia mengintip dari pinggir tembok bata jamuran dengan hati-hati.
Ada yang terbaring di antara peti-peti kayu yang berserakan. Bunyi berisik barusan pastilah berasal dari peti-peti yang terguling itu. Tapi yang membuat hati Ino mencelos adalah orang yang kini bangkit perlahan sambil mengangkat sesuatu.
Ino langsung mundur selangkah dan menahan napas. Ia sampai hampir lupa dengan nyeri di punggungnya. Yang berdiri di sana bukan orang asing. Ini kali ketiga Ino bertemu dengannya.
Sekali lagi, Ino hanya berjarak sepelemparan batu dengan Sasori si Pasir Merah.
Jantung Ino berdegup kencang. Ia menempel rata dengan tembok, tak berani bergerak dan tak tahu harus berbuat apa. Ia ninja medis, bukan mata-mata. Dulu pelatihan mata-mata memang pernah diajarkan tapi baru sebatas teori dan praktek simulasi, bukan yang sungguhan.
Ino meringis. Kalau sakura, apa yang akan ia lakukan di saat seperti ini ya? Sakura juga bukan mata-mata, tapi dia pasti bisa memikirkan sesuatu ...
"Hei kau!"
Jantung Ino hampir melompat keluar. Refleks, ia lalu menoleh ke atas, ke arah si pemanggil. Mulutnya terbuka ketika melihat ketiga orang jounin mendarat sekitar dua meter dari tempat Ino berdiri. Mereka adalah tiga jounin yang tadi Ino lihat sebelumnya. Dan mereka tidak sedang santai. Jounin yang paling belakang diam-diam menyiapkan kunai di belakang punggung, siap dilemparkan.
Salah satunya membuka suara. "Apa yang kau lakukan di sini? Semuanya sudah mengungsi. Kami melihatmu tadi..."
"Lekas! Di sana!" potong Ino dengan suara ditahan. Ia maju beberapa langkah dan menunjuk, "Sasori si Pasir Merah! Dia ke sana! "
"Eh?"
"Sasori! Yang membuat aula gedung Hokage hancur," ulang Ino. " Dia ke sana! Apa kalian lihat buntalan kain putih melompat-lompat yang tadi kukejar? Itu kugutsunya! Kugutsu rambut merah yang bikin ANBU kita kewalahan."
Ketiganya saling melirik. Info lengkap tentang kekacauan di aula hanya disebar di antara shinobi setingkat jounin dan kelas di atasnya. Kalau chuunin seperti Ino sampai tahu Sasori si Pasir Merah dan kugutsunya, berarti gadis itu memang dari sana.
Jounin yang berbicara tadi mengangguk pada kedua rekannya. Ia kemudian menatap Ino. "Kembalilah. Laporkan pada Tsunade-sama."
Ino mengawasi lekat-lekat hingga mereka bertiga melesat ke arah yang ia tunjuk. Ia baru sempat menghela napas lega setelah mereka hilang dari pandangan.
Bertepatan dengan itu, mendadak punggungnya ditarik keras ke belakang. Lebih tepatnya, Ino merasa dirinya tiba-tiba terhempas ke belakang begitu saja. Ia hanya sempat sekilas melihat sesuatu yang seperti tali-tali berwarna kebiruan melayang di dekatnya sebelum ia mendarat dengan punggungnya.
Ketika ia berusaha bangkit dengan bertumpu pada kedua sikunya, sebuah kunai yang berkilat kejam menempel tepat di bawah dagunya dari arah kiri belakang.
"Kalau kau berteriak atau bergerak, aku tak akan segan," ancam orang di belakang Ino. Suaranya terdengar tenang tapi nadanya mematikan.
Ia serius. Sasori serius. Sebagai jawaban, Ino hanya menelan ludah.
"Kenapa kau bohong?" Pertanyaan Sasori membuat kepala Ino sedikit mengedik, namun gadis itu tak bersuara.
Sasori menunggu dua detik sebelum mengganti pertanyaan. "Kenapa kau beri informasi palsu pada mereka? Aku ada di sini, kau tahu betul. Kau ada di balik tembok sebelum mereka datang."
Jadi dia sudah tahu. Satu lagi yang masuk dalam daftar pertanyaan Ino. Kenapa Sasori tak bertindak apapun kalau tahu Ino ada dekat sini?
"Ka-kalau begitu," cicit Ino ketika dinginnya kunai dirasa semakin menempel di kulitnya, "kenapa kau ... kenapa tadi bonekamu menolongku?" Ino mengganti pertanyaannya di tengah jalan.
Sasori langsung melirik ke samping kanannya, ke peti lapuk yang paling ujung. Tepatnya, arah pandangannya ditujukan pada apa yang ada di baliknya.
Apa ini ada hubungannya dengan kemunculan mendadak si rambut merah dari atas barusan? Tapi Sasori tak bisa menanyainya dalam waktu dekat ini. Si rambut merah sedang tidur. Ia pasti tertidur ketika masih di atas sana, membuat Sasori harus melempar diri dan menabrak peti demi menangkap si rambut merah.
"Itu bukan jawaban," kata Sasori kemudian, kembali pada Ino.
Ino nekat. "Kau juga tidak menjawabku."
Tepi kunai yang tajam menggores kulit Ino sedikit. Satu garis merah menetes pelan dari tepi kunai.
Ino menarik napas tertahan. Seiring dengan rasa takut terhadap ajal yang dirasa semakin dekat, sudut-sudut mata Ino yang terpejam mulai basah.
Lalu satu dengusan terdengar. Dengusan kecil di dekat telinga kiri Ino, dengan tawa samar terselip di dalamnya.
"Heh, ternyata memang sama," gumam Sasori.
Ino mengerjap. Sama?
"Tapi tetap saja," Suara Sasori kembali dengan nada mematikan. "Kau tak bisa kubiarkan."
Sasori menarik kunai dengan satu gerakan cepat. Ia memutar kunainya hingga terbalik dan mengarahkan bagian pangkalnya yang melingkar ke arah tengkuk Ino.
"Selamat tinggal." Tangan Sasori bergerak cepat.
Pangkal kunai baru akan mengenai sasarannya ketika satu bayangan gelap melesat ke arahnya dari belakang, menerjang Sasori dan menabrakkannya ke tembok.
Bunyi derak mengerikan itu terdengar memekakkan telinga. Mata Ino melebar ketika melihat kedua sosok di sana. Yang satu Sasori, dan yang satunya ...
"Itachi-san!" Ino berseru kaget.
"Jelaskan nanti kenapa kau ada di sini, Ino, " kata Itachi setelah melirik Ino sekilas. Intonasi suaranya datar seperti biasanya, tanpa nada menuduh atau mempertanyakan. Tapi justru itu yang mengingatkan Ino dengan rasa bersalahnya.
"A-aku..."
"Jadi itu namamu eh? Itachi si ANBU, anjing Konoha," kata Sasori dengan nada meremehkan, sama sekali tak kedengaran seperti suara orang yang baru saja kena hajar tembok. Ia melirik Itachi dengan sebelah mata. "Ternyata intel Konoha tak ada apa-apanya. Gampang dikecoh."
Tekanan lengan Itachi di tengkuk Sasori menguat, membuat kepala Sasori makin terdorong ke tembok. Mata dengan mangekyo sharingan yang aktif itu lalu menyipit. "Apa maksudmu?"
Kepala Sasori yang terhimpit membuatnya tak bisa banyak bergerak. "Heh," katanya dengan mata yang mendadak melebar, "maksudku, INI!"
Dari sudut mata, Itachi melihat tangan kiri Sasori bergerak, namun serangan yang sesungguhnya muncul dari arah belakang.
Si pemuda ANBU mengelak dengan mudah dari kunai yang dilempar. Serangan sepele seperti itu tak ada artinya bagi dirinya. Namun Itachi urung melakukan serangan balasan setelah melihat si pelempar kunai. Ia bahkan membiarkan saat ditodong kunai tepat di lehernya.
Di belakangnya, Ino memegang kunai sambil gemetaran, tak mengerti kenapa badannya bisa bergerak di luar kehendak dan menyerang Itachi.
"Trik kotor," kata Itachi pada Sasori, masih sama dengan nada datarnya yang biasa. Tapi matanya berkilat berbahaya. "Membuat temanku menjadi lawan."
"Adil hanya untuk shinobi pengecut," kata Sasori sinis. "Di hadapan musuh, tak ada larangan untuk cara apapun."
"Memang," kata Itachi mengiyakan. "Tapi kalau kau kira bisa lolos dengan ini, kau salah."
Setelah berkata begitu, tiba-tiba tubuh Itachi lumer seperti lilin yang kena panas. Tak hanya itu, bangunan dan segala sesuatu di sekitar Sasori juga ikut lumer, melumuri sebagian badan Sasori. Lilin yang lumer itu lalu mengeras, mengunci Sasori di tempat. Ia hanya bisa membelalak ketika satu sosok lumer lilin mewujud di depannya. Satu sosok lagi muncul di sebelah kirinya. Lalu satu lagi, dan satu lagi.
"Genjutsu!" kata Sasori gusar. "Sejak kapan...?"
Mendadak Sasori teringat dengan kilasan warna merah sepersekian detik sebelum menabrak tembok. "Saat serangan pertama? Huh, ternyata kau sama saja. Bahkan melebihiku."
Sosok lilin berwujud Itachi yang pertama muncul membuka mulut. "Di depan musuh, tak perlu pilih-pilih cara 'kan? "
Sasori memejamkan mata selama beberapa saat sebelum menggeleng. Usahanya melepaskan jurus musuh tak berhasil. "Dan kutebak, ini bukan genjutsu biasa."
Sosok lilin ketiga merespon, "Mungkin."
"Hee, menarik! Jurus pupil yang menarik." Ada sedikit binar di mata Sasori. Ia menatap sosok lilin di depannya lekat-lekat. Sesudahnya ia menggeleng. "Bakal jadi tambahan yang bagus untuk koleksiku, sebenarnya. Tapi sayang. Aku yang sekarang tak mungkin bisa."
"Kau yang sekarang?" Itachi langsung tertarik meski tak tampak pada raut wajah sosok lilinnya.
"Cari tahu saja sendiri." Sudut mulut Sasori sedikit terangkat. "Itu pun kalau kau bisa."
Setelah berkata begitu, sosok lilin Itachi bertambah. Mewujud serentak di sekelilng Sasori. "Kebetulan sekali," kata sosok-sosok itu bergantian, sambung-menyambung satu sama lain. "Tak pernah ada yang bisa lolos dari pertanyaanku di sini. Sekalian. Aku juga ingin tahu mengenai kejadian di hari itu."
Alis Sasori sedikit berkerut. Hari itu?
Suara Itachi menjadi terpusat pada satu sosok lilin yang berdiri tepat di hadapan Sasori. Tak seperti yang biasa, suaranya kini kelam dan dipenuhi dengan kegetiran. Dan selama sesaat, Sasori bisa merasakan kebencian yang menusuk bulu roma.
"Hari kejatuhan klan Uchiha," kata sosok itu.
.
.
.
00o00
Baru lewat beberapa saat setelah kemunculan mendadak Itachi. Baru beberapa saat pula saat derak mengerikan itu terdengar. Dari posisinya yang masih terduduk, Ino menatap kedua pemuda yang ada di depannya dengan gelisah.
Ino tahu Sasori sedang dalam pengaruh mangekyosharingan. Ia pernah dengar tentang itu dari beberapa jounin di gedung Hokage. Katanya, tak ada yang pernah lolos dari jurus pupil andalan Itachi itu.
Jadi seharusnya Ino merasa lega. Apalagi musuh kali ini bukan shinobi biasa.
Tapi ...
... benarkah dia orang yang seberbahaya itu? Ino masih ingat wajah lega Sasori setelah ia selesai memperbaiki bonekanya. Dan sebenarnya, ada berapa banyak sih shinobi buronan tingkat S yang memaksa minta obeng di toko bunga?
Lalu Ino teringat. Musuh lebih lihai, kata Tsunade. Shinobi yang terlatih sebagai mata-mata bahkan dapat terlihat tulus dengan meyakinkan. Apa waktu itu Sasori hanya pura-pura? Pura-pura senang seperti anak kecil yang baru dapat mainan demi menyembunyikan jati diri? Supaya tidak terlihat seperti pembunuh berbahaya dengan senjata mematikan?
Ino menyentuh lehernya yang luka.
Tapi kalau begitu, kenapa Sasori malah membiarkannya hidup?
Trrrrk! Trekk-klak-klak-klek-
Suara mekanis beruntun yang tiba-tiba terdengar itu membuat Ino mengangkat kepala. Asalnya dari satu sosok setinggi tiga puluh sentimeter yang berdiri di belakang Itachi.
Kali ini boneka yang berkimono merah. Namun ada yang berbeda dari boneka kayu milik Sasori itu. Benda itu tak terlihat lagi seperti sebuah boneka tradisional elegan. Ada aura kebuasan yang menguar di sekitarnya. Membuat udara di sekitar tercekat.
Mendadak saja, benda itu melompat ke arah Itachi dengan cakar terjulur ke depan. Rahang mekanisnya terbuka, mendesiskan suara roda gigi seperti semburan sumpah serapah.
"Awas!"
Bersamaan dengan teriakan Ino, Itachi menarik kepalanya ke belakang, membuat si boneka menembus udara kosong. Si boneka lalu menabrak peti hingga hancur. Sedetik kemudian, boneka itu melesat keluar, kembali menyerang Itachi dengan cakarnya.
Itachi menarik kunai dengan bom kertas, namun interupsi dari sisi kanannya memaksanya menahan serangan balasan. Pemuda itu menangkis ketika sebuah kunai dilemparkan tepat ke mata kanannya. Ia lalu mundur hingga punggungnya menyentuh tembok.
"Sudah kubilang 'kan?" kata Sasori tenang. Ia maju selangkah sambil mengepalkan tangan kanannya. "Kau tak mungkin bisa."
Alis Itachi berkerut gusar. Seharusnya, hanya bunshin yang tak mempan dengan mangekyou.
"Padahal kau bukan bunshin."
"Tebak lagi." Sasori membuka kepalan tangannya yang terbalut sarung hitam. Senyum tipisnya terkembang. Fungsi geraknya sudah kembali normal.
Itachi masih berkerut.
Dan seharusnya, tak ada yang bisa berdiri seolah tak terjadi apa-apa setelah menabrak tembok hingga membuat sebagian batanya rontok.
"Kau ini sebenarnya apa?"
"Hanya seniman jalanan," kata Sasori sambil menyabetkan sebelah tangan.
Seketika, tiga buah peti kayu terbang ke arah Itachi. Pemuda itu melompat tinggi, membuat ketiga peti hancur setelah beradu dengan tembok. Ia mendarat di tembok lalu berlutut menggunakan chakra sehingga ia berada dalam posisi tegak lurus dengan tembok. "Benar-benar tak pilih cara ya."
"Seniman sejati tidak hanya tergantung pada satu alat." Sasori kini menarik kedua tangan bersamaan, membuat lima buah peti menyerang Itachi yang berada enam meter di atas sana.
Namun kali ini Itachi sigap. Kedua tangannya membentuk segel dengan lincah.
Goukakyu no jutsu!
Sebuah bola api berukuran besar tercipta dari hembusan chakra melalui mulut Itachi. Ledakan besar pun tak terelakkan. Kelima peti hancur, batu-batu bata beterbangan ke mana-mana. Bahkan Ino yang berada dalam jarak aman pun terkena sedikit imbas lemparan puingnya. Gadis itu menyilangkan lengan demi melindungi kepalanya. Ia lalu berlari menyingkir menuju persimpangan gang.
Itachi melihat itu sehingga ia melompat turun. Serangan jarak jauh lebih dari ini tak akan efektif di tempat selebar tiga meter seperti ini. Hanya akan membuat tembok hancur dan berpotensi membuka celah kabur untuk musuh.
"Ganti taktik eh?"
"Mungkin." Itachi langsung melesat setelah menarik senjata dari punggung.
Kunai dilempar, yang dielakkan Sasori hanya dengan sedikit menelengkan kepala. Sedetik kemudian, tantou menebas ke arah lengan kanannya. Telunjuk kiri Sasori bergerak, satu potong papan melesat menjadi tameng dari serangan.
Dua serangan pertama dihindari dengan mudah oleh Sasori. Lalu tiga dan empat. Namun ketika serangan kelima diarahkan tepat ke kaki kanan Sasori, tangan kiri Itachi bergerak. Seutas benang kawat tipis membelah udara, menimbulkan bunyi halus. Sasori sempat menyadari di saat terakhir, tetapi tak sempat menghindari serangan dari kunai dengan bom kertas yang terikat di ujung benang. Daya ledaknya membuat Sasori terlempar ke depan.
Sasori jatuh tersungkur ke tanah. Sambungan rapuh dalam dirinya meregang, membuat segalanya menjadi buram selama sesaat. Ketika sambungannya kembali, punggung telapak tangan kanannya yang terjulur ke depan sudah ditembus oleh sebuah tantou.
"...!"
"Diamlah sebentar di sini."
"Kenapa tidak membunuhku?"
Itachi menunduk menatap Sasori yang tersungkur di kakinya. Ia terdiam sebentar sebelum menjawab, "Hanya kalau terpaksa."
"Heh, interogasi?" Sasori mendelik pada Itachi yang menjulang di depannya. Sudut-sudut mulutnya lalu terangkat. "Sudah kubilang kan? Coba saja kalau bisa!"
Tangan kirinya bergerak, benang-benang chakra terbentuk. Namun sebelum sempat tersambung pada apapun yang ada di dekat sana, Itachi berputar lalu menahan tangan kiri Sasori dengan lututnya. Ketika kepala Sasori baru beranjak sedikit, tangan Itachi bergerak, menghantam kepala Sasori kembali ke tanah.
Dan pada saat itu, kedua lengan Ino sudah terangkat membentuk segel.
"Itachi-san, maaf!"
Itachi menoleh ke belakang.
"Shintenshin no jutsu!"
TBC
Halo, halo! Lumayan peningkatan, update sebulan kemudian :D Tapi mau ngaku nih. Sebenernya chapter ini dan chapter sebelumnya adalah satu chapter yang panjang. Setelah nimbang-nimbang, akhirnya saya pecah jadi 2 biar nggak kepanjangan. Selang sebulan karena saya lagi ngerjain yang lain ;)
Seperti biasa, ucapan makasih pertama kali saya ucapkan pada reviewer di chapter sebelumnya :
Matryoshka04, guest 1, guest 2, INOcent Cassiopeia
Makasih juga buat para silent reader ;)
Akhir kata, happy readin'
Puppeteer : orang yang mengendalikan objek tak bergerak. Misalnya, boneka.
Marionette : boneka dengan tali yang diikat di beberapa bagian anggota gerak.
