Changmin menatap Yunho dan Jaejoong yang tengah tersenyum menatapnya.

"Ada apa?" Yunho bertanya penasaran.

"Apa kau kedinginan?" kini giliran Jaejoong yang bertanya.

Changmin terdiam lalu menggeleng cepat. Senyuman lebar terpasang di wajahnya ketika Ia menggenggam tangan Yunho dan Jaejoong.

"Umma," Changmin menatap Jaejoong yang menatapnya lembut, "Appa," Changmin sekarang menatap Yunho yang masih tersenyum lembut ke arahnya.

Changmin menatap tangan yang berada di dalam tangannya.

"Min-ie sayang kalian!"

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T

Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milikGOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Max) Changmin as Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

Haru Haru – Big Bang || Only One - JYJ

.

.

.

Future Child

[Chapter 3]

.

.

.

"DINGIIIINNN!" Namja manis kesayangan kita satu ini langsung berteriak keras ketika Ia berhasil membuka pintu rumah.

Yunho dan Changmin di belakangnya hanya bisa mendengus kesal mendengar teriakkan sang pemilik rumah.

"Jangan berteriak! Cepat tunjukan di mana kamar mandinya!" protes Yunho sembari menggiring Changmin yang gemetaran di sampingnya. Jaejoong nyengir tak berdosa lalu menggiring Yunho dan Changmin ke kamar mandi di kamar kedua orang tuanya.

"Kamar mandi ini cukup untuk kalian berdua. Pakailah. Baju kalian nanti aku taruh di kasur ne?"

Yunho dan Changmin hanya mengangguk patuh lalu memasuki kamar mandi. Jaejoong tersenyum kecil lalu mulai melangkahkan kakinya ke kamarnya untuk mandi dan menghangatkan tubuhnya.

Mungkin hanya 10 menit kemudian Jaejoong keluar dengan wajah yang tersenyum lebar. Ia mengusap rambut pirangnya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Ia keluar dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang mulus tanpa bercak. Tetes air dari rambutnya mengalir lembut dari dahi hingga dagunya. Bibir yang tadi membiru karena dingin kini kembali ke warna merah alami. Ah, pahatan tuhan yang sungguh menggoda *author mupeng /slaped*.

Jaejoong dengan sedikit bersiul mulai membuka lemari pakaiannya lalu mengenakan pakaiannya, karena cuaca yang cukup dingin Jaejoong memutuskan untuk menggunakan sweter berwarna krem dengan lengan panjang yang nyaris menenggelamkan tangannya ditemani dengan celana hitam sepanjang setengah betis.

Ia terdiam sejenak memperhatikan isi lemari pakaiannya untuk mencari pakaian yang cocok untuk Yunho dan Changmin namun Ia tak bisa menemukan pakaian yang cocok karena, walau berat Ia mengakuinya, tubuhnya memang mungil dan langsing seperti yeoja, jadi Ia tak mungkin memiliki pakaian yang pas untuk tubuh beruang Yunho dan tubuh tiang listrik Changmin.

"Sepertinya Appa punya baju yang besar," gumamnya sembari menutup lemari pakaiannya dan beranjak ke kamar kedua orang tuanya. Ia lalu membuka lemari pakaian orang tuanya. Senyuman lebar tercetak di wajah cantiknya ketika menemukan dua baju dan celana yang sepertinya cukup untuk Yunho dan Changmin. Dengan telaten Jaejoong merapikan kedua pasang baju itu di atas tempat tidur. Ia sedikit menyerit heran mendengar suara ribut dari kamar mandi kedua orang tuanya.

"Kau kalah besar dari punyaku!"

"Yak! Punyaku juga lebih besar dari punya Appa! Lihat nih!"

"Hyah~ Itumah kecil! Kau kurang perkasa Min!"

"His! Aku perkasa Appa!"

Mendengar pertengkaran tak jelas Yunho dan Changmin membuat Jaejoong menyerit bingung namun beberapa detik kemudian wajah putihnya memerah sempurna.

"YAK! KALIAN BERDUA JANGAN BICARA MESUM DI KAMAR MANDI KEDUA ORANG TUAKU!" teriak Jaejoong sebelum Ia berlari kencang keluar kamar.

Yunho dan Changmin yang tengah memamerkan otot lengannya terdiam mendengar teriakkan Jaejoong.

"Mesum? Siapa yang Umma maksud mesum Appa?" tanya Changmin tak mengerti. Sedangkan Yunho hanya tertawa keras saking gelinya dia.

Yunho tahu pasti kalau Jaejoong pasti mendengar perdebatannya dengan Changmin tapi Jaejoong menyalah artikan perdebatan yang sebenarnya sedang membicarakan otot lengan menjadi... kalian tahu apa yang Yunho pikirkan ne?

Changmin menatap Yunho tak mengerti, "Appa? Kenapa Appa tertawa?"

Yunho yang tengah menunduk sembari memegangi perutnya menggeleng lemah, Ia lalu mendongak menatap Changmin lalu mengacak rambut ke coklatan Changmin, "Kau tahu, ternyata Umma-mu sangat lucu."

.

.

.

"YAK! KIM!"
Jaejoong yang tengah mencicipi masakannya menyerit kesal mendengar teriakkan Yunho. Ia menghela nafas berat lalu langsung berbalik menatap Yunho dan Changmin yang tengah turun dari lantai dua.

"YAK! Kenapa kau teriak-teriak eoh!?" tanya Jaejoong kesal.

"Kau itu benar-benar marah padaku atau bagaimana!? Kenapa kau memberikan baju seperti ini pada ka—,"

"BUAHAHAHAHAHAHA!"

"YAK! JANGAN TERTAWA!"

Jaejoong berpegangan pada tembok saking gelinya dia. Ia tak bisa menahan tawanya bahkan Ia menitikan air mata saking gelinya Ia melihat tampilan Yunho dan Changmin. Sedangkan Yunho dan Changmin yang di jadikan objek tawa Jaejoong hanya mendengus kesal sembari mencoba memulihkan semburat merah yang muncul karena malu di wajah mereka.

Bagaimana Jaejoong tak geli, penampilan Yunho dan Changmin sangat aneh. Yunho dan Changmin yang mempunyai ukuran tubuh tak jauh beda terlihat lucu ketika menggunakan pakaian ayahnya yang sangat nge-pressss di tubuh mereka. Tubuh mereka tercetak jelas, bahkan baju—yang menurut Jaejoong, sudah sangat besar itu hanya mampu menutupi ¾ tubuh bagian atas mereka dan memperlihatkan pusar mereka secara bebas.

Jaejoong semakin terkikik geli melihat perut Yunho dan Changmin yang tak tertutupi baju.

"BERHENTI TERTAWA KIM/UMMA!" teriakkan tak terima di lontarkan Yunho dan Changmin bersamaan. Jaejoong menarik nafas dalam lalu menatap Yunho dan Changmin.

"Mianhae. Aku tak ada maksud mengerjai kalian sampai penampilan kalian... uph!" Jaejoong kembali terkikik, namun tak lama karena Yunho dan Changmin sudah mendeath glarenya, "Oke. Mian. Kalian tunggu di sini. Aku carikan baju lagi."

Jaejoong yang masih terkikik geli segera melangkahkan kakinya kembali ke kamar kedua orang tuanya untuk mencari baju yang-lebih-besar lagi. Ia sampai harus membongkar isi lemari untuk mencari baju dan beruntungnya dia karena bisa menemukan baju berwarna putih dan hitam yang lebih besar.

Dengan sedikit bersenandung Ia berjalan menuruni tangga. Ia memutar matanya jengah ketika melihat Yunho dan Changmin sudah menunggunya di meja makan.

"Ini bajunya."

Yunho dan Changmin segera mengambil baju itu dan mengganti baju yang mereka pakai dengan baju yang di bawakan Jaejoong. Jaejoong menatap tubuh topless Changmin biasa saja namun entah kenapa saat melihat tubuh bagian atas Yunho yang terbentuk sempurna membuat detak jantung Jaejoong lebih cepat dan wajah Jaejoong memanas.

Jaejoong menggelengkan kepalannya kuat lalu menepuk-nepuk wajahnya.

"Umma! Makaaaan!"

Jaejoong mendelik horor ke arah Changmin, "Yak! Tiga jam yang lalu kau baru makan Changmin!"

"Itukan tadi! Sekarang Min lapar Ummaaa!" Changmin mengetok-ngetok meja dengan sendok yang dipegangnya.

"Ne! Kim! Kau sedang memasak kan? Cepat keluarkan! Aku lapar!"

Jaejoong mendelik kesal ke arah Yunho, "YAK! SIAPA YANG MEMASAK UNTUKMU, JUNG!?"

"AAAA! Aku tak peduli! Cepat keluarkan makanannya!" sepertinya Yunho sudah ketularan sifat rakus Changmin.

"MAKAAAAAN!"

Jaejoong memekik kesal sembari menutup kedua telinganya mendengar teriakkan Changmin dan Yunho. Ah, sial, mereka mau membuat Jaejoong tuli seketika mendengar teriakan mereka, apa?

"ARRA! ARRA! DIAMLAH KALIAAAN!"

Ucapan Jaejoong disambut tepukan tangan bahagia oleh Yunho dan Changmin. Jaejoong mendengus kesal lalu berjalan dengan kaki yang di hentakan kesal ke dapur.

Yunho dan Changmin yang melihat Jaejoong keluar dari bilik dapur segera membalik piring mereka—yang tadi dalam keadaan tertutup. Jaejoong dengan telaten membagi masakannya ke piring Yunho dan Changmin.

"Nasi goreng?"

"Apa? Mau protes!?" ketus Jaejoong pada Yunho.

Yunho menatap Jaejoong lalu nyengir kuda, "Gak kok. Aku kira kau yang berwajah manis pandai memasak, ternyata tidak ya. Ah~ apa aku akan mati sehabis ma—AAWW!"

Jaejoong memukul kepala Yunho dengan sendok makan, "Dengar ya, beruang jelek! Aku ini pandai memasak! Cuma, aku belum belanja, jadi hanya bisa memasak nasi goreng saja! Dan AKU JAMIN masakanku enak dan kau pasti akan ketagihan!"

Yunho mengusap kepalanya sebari menatap Jaejoong kesal, sedangkan Jaejoong hanya melengos menatap Changmin.

"Umma~ porsiku tambah, dong," rengek Changmin sembari memasang puppy eyes.

"Mau seberapa? Segini cukup?" tanya Jaejoong sembari menaruh secentong nasi goreng ke piring Changmin. Changmin menatap piringnya lalu menggeleng. Ia meraih tempat nasi goreng yang di pegang Jaejoong, menaruh sebagian nasi goreng ke piring Jaejoong lalu sadisnya nasi goreng di piringnya Ia masukan ke baskom dan Ia memakan nasi goreng setengah baskom.

Jaejoong dan Yunho lagi-lagi hanya bisa menatap horor nafsu makan Changmin.

"Min, berapa kali kau makan sehari?" tanya Jaejoong penasaran sembari duduk di kursinya. Changmin yang tengah mengunyah makanan menatap Jaejoong lalu mengacungkan 7 jarinya.

"TUJUH!?"

Changmin mengangguk singkat menjawab pekikan tak percaya Yunho dan Jaejoong.

"Ah~ pasti karena masakanku enak kan? Kau jadi makan tujuh kali sehari?" Pede Jaejoong sembari mengangkat dagu.

"Aniya. Umma selalu memasak nasi goreng tiap harinya."

"BOHONG!" pekik Jaejoong tak percaya.

"Ah, kau ternyata tidak pandai memasak 'eoh?"

"AKU PANDAI MEMASAK JUNG! Ya! Pasti aku pernah memasakan daging untukmu kan?"

Changmin terdiam sejenak, "Pernah, tapi sangat jarang, Umma selalu bilang untuk berhemat."

Jaejoong terdiam sejenak lalu mendelik ke arah Yunho, "YAK! PASTI GARA-GARA KAU!"

Yunho menyerit bingung, "Apa maksudmu?"

"Kau pasti memberiku sedikiiiit uang bulanan kan? Sampai aku harus beririt ria seperti itu! Dasar beruang pelit!"

"Yak! Bukan salahku! Pasti itu karena kau terlalu boros!"

"Aku tidak pernah boros ya, Jung!"

"Dan aku tidak pelit, Kim!"

"Tidak! Kau pelit! Lihat, Changmin bilang aku harus berhemat uang, pasti karena kau jadi Appa yang tidak bertanggung jawab!"

"AKU PASTI BERTANGGUNG JAWAB!"

"TIIIIIDAAAAAAK! KAU P-E-L-I-T!"

"YAK!"

Yunho dan Jaejoong terus saja beradu argumen tak penting seolah mereka telah menjadi 'Appa dan Umma' Changmin. Changmin menatap dalam diam pertengkaran kedua orang tuanya. Ia tersenyum miris, Ia jadi tak nafsu makan, bukan karena pertengkaran Yunho dan Jaejoong, tapi karena masalah lain. Masalah masa depan yang akan mereka lalui.

"Hung, Min? Waeyo? Kok gak dimakan?" Changmin yang sempat menunduk, mendongak menatap Yunho dan Jaejoong yang tengah menatapnya heran. Changmin tersenyum lalu menggeleng pelan.

"Aku menunggu Appa dan Umma selesai bertengkar."

Yunho dan Jaejoong trenyuh sejenak lalu menatap Changmin menyesal.

"Mianhae. Kau pasti sedih melihat orang tuamu bertengkar ne? Mianhae. Kami..." Jaejoong menatap Yunho sejenak lalu menghela nafas, "kami akan coba untuk mengurangi pertengkaran kami."

Changmin tersenyum lembut merasakan usapan sayang Jaejoong pada kepalanya. Changmin menatap Yunho yang tengah tersenyum sembari mengusap pundaknya. Ia tersenyum kecil. Setidaknya, biarkan Ia bahagia dalam situasi ini.

"Tak apa. Ayo, sekarang kita makan!"

.

.

.

TING NONG TING NONG TING NONG!

Jaejoong yang tengah mencuci piring bekas makan mereka menoleh ke belakang lalu mendesis kesal.

"Pasti Yoochun! Dasar anak itu, berulang kali sudah ku katakan untuk ber-ke-pri-bel-an!" Jaejoong mendengus kesal.

"JUNG! BUKA PINTUNYA!" teriak Jaejoong dari dapur, Yunho yang tengah fokus dengan koran—yang sebenarnya sedari tadi mengacuhkan bunyi bel itu—mendengus kesal mendengar teriakkan Jaejoong.

TOK! TOK! TOK! TOK!

Yunho menghempaskan koran di tangannya kesal lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.

"Ad—YAK!" Yunho secepat kilat menahan tangan Yoochun yang hampir mengetuk(?) mukanya. Yoochun terdiam sejenak lalu menatap Yunho heran.

"Yunho?"

Yunho menatap Yoochun kesal lalu menjauhkan tangan Yoochun dari wajahnya.

"Nyaris saja kau memukul wajahku," gerutu Yunho kesal yang hanya di tanggapi dengan cengengesan. Tanpa di persilakan Ia memasuki rumah Jaejoong, Yunho hanya menatap Yoochun kesal lalu menutup pintu.

"Kenapa kau di sini?" tanya Yoochun sembari mendudukan dirinya di sofa.

"Tadi aku kehujanan jadi berteduh di sini," Yunho menjawab pelan sembari kembali membaca koran.

"Huh? Jae memangnya mau menerimamu di rumahnya? Bukannya kalian musuhan?" Yoochun menyerit heran sembari mengunyah kue yang selalu tersedia di ruang tamu.

"Dia yang menawarkan kok. Lagi pula ini terpaksa, karena keadaan Changmin yang sudah sangat kedinginan saat itu."

Yoochun menatap Yunho tak mengerti, "Changmin? Siapa dia?"

Yunho terdiam sejenak lalu menghela nafas berat. Ia melipat korannya dengan rapi lalu menatap Yoochun serius.

"Dia anak kandung kami."

"Oh anak," Yoochun menatap Yunho tak niat sembari mengunyah kue. Yunho menyerit bingung. Apa Yoochun tida—

"ANAK!?"

—k kaget. Hh, lola.

Oh, Jung Yunho bersyukurlah pada refleks tubuhmu yang bagus, kau jadi terhindar dari muncratan kue yang tengah dimakan Yoochun. Iyack.

Yunho menatap Yoochun jijik sedangkan Yoochun masih menatap Yunho tak percaya.

"Hell! Anak!? Kalian sudah berhubungan? LIAR! Huuuooo~ Hey, man! Gimana rasa tu—"

"Hentikan otak mesummu, Park Yoochun," geram Yunho kesal sedangkan Yoochun menanggapinya tak peduli.

"Oh c'mon Jung! Without sex you can't have kids."

Yunho mengusap wajahnya frustrasi, tak ada gunanya berurusan dengan otak mesum Yoochun.

"Yeah! I know! Tapi Changmin itu berbeda!"

"What?"

Yunho menyandarkan tubuhnya ke sofa sembari menghela nafas berat, "Changmin. Dia—menurut pengakuannya, dia anak kami yang datang dari masa depan."

"Masa depan?" Yoochun menyerit bingung, "it's just like fiction story. Lalu kalian percaya begitu saja?"

"Awalnya tidak. Tapi entahlah, semua barang-barang di bawanya membuatku dan Jaejoong percaya padanya."

"Aku tak percaya. Bisa saja dia hanya orang yang... well, crazy."

Yunho yang mendengar Changmin di bilang gila oleh Yoochun tiba-tiba tersulut emosinya.

"Yak! Dia tidak gila!"

Yoochun yang hampir memasukan kue ke dalam mulutnya, menyerit heran mendengar bentakan Yunho.

"Kenapa kau marah? Memangnya kau mengenal dia sebelumnya?"

Yunho tersentak lalu terdiam, Ia kembali menghela nafas berat, "Aku tak tahu. Entah mengapa aku merasa sangat dekat dengannya. Buktinya kemarin kami mati-matian mencari dirinya."

Yoochun menatap Yunho sembari mengunyah makanannya, "Mungkin hanya kebetulan. Aku tetap tak percaya pada Changmin."

"Yah, ak—"

"APPAA~"

Yunho dan Yoochun sontak menatap ke arah Changmin yang baru keluar dari kamar mandi. Changmin terdiam sejenak menatap Yoochun lalu memekik kaget.

"OMO! Park ahjusshi!"

"YAK! AKU MASIH MUDA!"

Yunho tertawa keras sedangkan Yoochun menatap Changmin dongkol, Changmin terkekeh pelan.

"Mianhae, aku lupa kalau di masa ini umurmu baru 17 tahun." Changmin menggaruk kepalanya yang tak gatal kikuk. Sedangkan Yoochun mendengus kesal.

"Sudahlah lupakan."

Changmin mendudukan tubuhnya di samping Yunho lalu menatap Yoochun dalam, Yoochun jelas risih di lihat seperti itu.

"Ada apa?"

Changmin menggeleng pelan, "Aniyo. Aku hanya berpikir wajah ahjus—."

"Oh, kumohon! AKU MASIH MUDA! Jangan panggil ahjusshi! Just call me Yoochun!"

Changmin menganggukkan kepalanya mengerti. "Oke. Yoochun. Aku hanya heran, ternyata wajah ahjusshi tak jauh beda saat ahjusshi berumur 30 tahun dengan sekarang."

"Ah~ aku ternyata awet muda." Yoochun tertawa girang.

"Ani. Malah sebaliknya. Muka ahjus—ah, maksudku, Yoochun terlihat tua untuk anak berumur 17 tahun."

Tawa Yunho kembali meledak sedangkan Yoochun menatap Changmin dengan tatapan yang seolah bernafsu untuk menguliti Changmin detik itu juga.

"AKU TAK PERCAYA! KAU PASTI GILA! KAU PENIPU! KAU TAK MUNGKIN BERASAL DARI MASA DEPAN!"
"Aku bukan penipu! Aku tidak gila! Dan aku benar-benar berasal dari masa depan!" sanggah Changmin tak terima.

"Kau tak punya bukti!"

"ANI! AKU PUNYA!"

Yoochun mendecih, "Tunjukan sekarang!"

Changmin segera meraih tasnya yang ada di dekat sofa lalu mengeluarkan sebuah album kecil, Ia membalik album tersebut lalu mengambil salah satu foto dari album itu.

Changmin memberikan foto itu pada Yoochun. Yoochun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat foto itu.

Foto tersebut memperlihatkan dua orang namja yang tengah berpose 'peace' sembari berangkulan di depan sebuah rumah—yang sedikit berarsitektur aneh. Satu namja yang muda jelas adalah Changmin sedangkan seorang namja di sampingnya mirip sekali dengan Yoochun. Dahi lebar, mata sedikit sipit, senyum playboynya hanya style rambutnya yang berbeda namun Yoochun yakin kalau itu benar-benar sangat mirip dengannya.

"Ini aku?"

Changmin mengangguk cepat. "Itu saat umurmu 28 tahun."

"Ah~ aku tetap keren!"

Changmin dan Yunho memutar bola mata mereka risih mendengar ke-narsisan Yoochun.

"Tapi aku tak percaya hanya dengan satu bukti saja," Yoochun berucap datar sembari mengembalikan foto itu pada Changmin.

Changmin menghela nafas berat lalu kembali membuka album kecil di tangannya, Ia menaruh foto itu pada tempatnya semula dan mengambil satu foto lagi dari album.

Changmin menatap foto yang baru Ia keluarkan sembari memasang seringai di wajahnya.

"Kau pasti senang melihat foto ini."

Changmin memberikan foto itu pada Yoochun yang menyerit bingung mendengar ucapan Changmin.

"Apa maksud..." Yoochun melotot sempurna melihat foto di tangannya, "OH MY GOD!"

Changmin menyeringai puas melihat reaksi Yoochun seperti yang Ia perkirakan.

Dalam foto itu terlihat 3 orang; dua namja dan satu yeoja. Satu namja jelas adalah Yoochun yang tengah tersenyum lembut—dan itu tak membuat Yoochun kaget, yang membuatnya kaget—atau mungkin terkagum itu adalah sosok namja lain yang sedang Ia rangkul pinggangnya. Sosok namja bermata khas dan berpipi chubby yang tengah tersenyum lebar menatap ke depan.

Yoochun menatap Changmin minta penjelasan sembari menunjuk namja berpipi chubby itu.

"Oh God! Katakan padaku, apa ini Junsu?"

Changmin tersenyum lebar lalu mengangguk, "Dia istrimu, Park Junsu."

Yoochun berteriak bahagia, "Istriku? OMG! JUNSU JADI ISTRIKU!"

Changmin hanya terkekeh melihat reaksi Yoochun. Jaejoong yang baru saja berada di ruang tamu sehabis mencuci piring, menatap Yoochun bingung.

"Ada apa?" tanyanya bingung. Yoochun menatap Jaejoong berbinar.

"Jae! Dengar! Anak ini benar-benar dari masa depan! Kau tahu, dia bilang Junsu akan menjadi istriku! Menjadi milikku!"

Jaejoong melirik foto yang di pegang Yoochun lalu tersenyum, "Baguslah, tapi... siapa anak ini?"

Yoochun yang tengah tersenyum lebar segera menatap kembali foto yang dipegangnya. Terlalu fokus pada namja yang tengah di rangkulnya—Junsu, Ia jadi tidak menyadari kalau ada seorang yeoja kecil di dalam gendongan Junsu. Anak kecil yang memiliki jidat lebar seperti Yoochun namun memiliki pipi chubby dan bentuk mulut seperti Junsu.

"Eng, Min, anak ini, siapa?"

Changmin menghentikan kegiatan mengunyahnya sejenak, "Dia Chunhwa. Park Chunhwa. Anakmu dan Junsu."

"ANAK!?" baik Jaejoong, Yoochun maupun Yunho berteriak tak percaya mendengar ucapan Changmin.

Yunho dan Jaejoong berebutan melihat foto di tangan Yoochun yang masih belum sadar dari kekagetannya.

"Tunggu. Anak ini sangat sempurna. Ah, tidak maksudku, fisiknya sangat mirip dengan Yoochun dan Junsu, bagaimana bisa Yoochun dan Junsu mendapatkan anak angkat se—,"

Changmin menggeleng pelan membuat Jaejoong menghentikan ucapannya dan menatap Changmin heran.

"Tidak. Dia lahir dari rahim Junsu sendiri."

"WHAT?!" Yunho berteriak keras sedangkan Jaejoong melongo kaget.

"Kenapa kalian kaget? Aku juga lahir dari rahim Umma kok."

"RAHIMKU!?" kini gantian Jaejoong yang berteriak keras sedangkan Yunho gantian melongo kaget.

"Tunggu!" Yoochun menggeser Yunho dan Jaejoong dari hadapannya lalu menatap Changmin tak mengerti.

"Rahim katamu? Bagaimana bisa, Junsu kan laki-laki, sama juga seperti Jaejoong."

"Uh. Bagaimana aku menjelaskan pada kalian. Aung, oke, aku juga pernah bertanya hal ini padamu, Yoochun," Yoochun menunjuk dirinya tak mengerti, "dirimu di masa depan," Yoochun menganggukkan kepalanya mengerti, "kau berkata padaku kalau istrimu," Yoochun mesem-mesem tak jelas mendengar kata 'istrimu', "dan Umma diberkahi kelebihan. Kelebihan memiliki rahim di tubuh mereka."

Jaejoong terdiam, tanpa sadar Ia mengusap perut ratanya dan tanpa mengetahui kalau Yunho menatapnya dengan pandangan yang sukar di tebak. Yoochun terdiam memproses ucapan Changmin. Benar kata Yunho, walaupun logika tak bisa membenarkan namun segala bukti yang Changmin tunjukan benar-benar mengungkapkan kalau Changmin benar-benar berasal dari masa depan.

"Apa kau benar-benar berasal dari masa depan?"

Changmin mengangguk yakin menjawab pertanyaan Yoochun. Yoochun sejenak menatap dalam Changmin, Ia lalu menatap Yunho dan Jaejoong.

"Hey, Jung, Jae, bisakah aku bawa anak ini keluar?"

Yunho dan Jaejoong menyerit bingung, "Untuk apa?" tanya Yunho.

Yoochun menggeleng lalu menunjuk Changmin dengan ibu jarinya, "Ani, aku hanya risih melihat style bajunya."

Jaejoong dan Yunho menatap Changmin yang kini sudah kembali memakai baju alumuniumnya lalu mengangguk berjamaah.

"Baiklah. Eng, tunggu sebentar."

Yunho beranjak ke arah celana jeansnya yang sedang di jemur di sudut ruangan, Ia merogoh salah satu kantong jeansnya dan mengambil dompetnya. Ia kembali ke ruang tamu. Setelah itu Ia mengambil satu kartu kreditnya.

"Gunakan kartu ini untuk membeli barang-barang Changmin."

Jaejoong segera menahan tangan Yunho yang ingin memberikan kartu itu pada Yoochun. Yunho menatap Jaejoong tak mengerti.

"Tunggu. Kenapa kau yang membayar barang-barang Changmin? Aku juga ingin membayarnya, bagaimanapun juga Changmin 'kan anakku!" Jaejoong berucap tak terima, bagaimanapun Ia merasa tak enak melihat Yunho menggunakan uangnya walaupun itu untuk Changmin.

Yunho tersenyum lalu perlahan menggenggam tangan Jaejoong yang menahan tangannya. Jaejoong menatap tangannya yang terasa hangat lalu menatap Yunho yang menatapnya.

"Kau merasa tak enak 'eoh? Kau lupa kalau aku juga orang tua Changmin? Dan aku Appa sedangkan kau Umma, jadi aku lebih bertanggung jawab pada Changmin." Jaejoong menunduk menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa memerah. Yunho mengacak surai pirang Jaejoong, Yunho sedikit tersentak saat merasakan lembutnya rambut Jaejoong.

Yunho segera menatap dan memberikan kartu kreditnya pada Yoochun untuk mencegah dirinya semakin tenggelam pada kelembutan rambut Jaejoong.

Yoochun entah kenapa tak peduli dengan kekikukan Yunho dan Jaejoong di hadapannya, Ia lebih fokus memperhatikan Changmin.

"Baiklah. Kami pergi dulu." Yoochun beranjak terlebih dahulu.

"Appa, Umma, Min pergi dulu ya!" pamit Changmin, Jaejoong mendongak menatap Changmin lalu tersenyum kecil, "Hati-hati di jalan, ne!"

Changmin menjawab dengan gumaman pasti sebelum Ia menutup pintu rumah Jaejoong. Changmin lalu menghampiri Yoochun yang tengah menunggunya sembari bersandar pada mobil hitamnya yang terparkir di depan rumah Jaejoong.

Yoochun dan Changmin perlahan meninggalkan rumah Jaejoong. Mereka berdua tidak berucap sepatah katapun di dalam mobil, hanya suara kunyahan Changmin yang tengah sibuk memakan keripik kentang dan lantunan lagu DBSK yang terputar dari music player di mobil ini.

Changmin menyerit heran ketika tiba-tiba Yoochun menepikan mobilnya dan mematikan music playernya.

"Apa sudah sampai?"

Yoochun menggeleng.

"Lalu kenapa berhenti?"

Yoochun sejenak terdiam lalu menatap Changmin serius.

"Apa tujuanmu?"

"Huh?"

Yoochun menarik nafas dalam, "Aku tahu kau masih bocah, namun... tak mungkin kau pergi ke masa ini tanpa alasan."

Changmin terdiam lalu tersenyum kecil—senyum kecil yang terlihat menyedihkan. Ia tahu kalau Yoochun pasti mencurigainya, walaupun dia seorang anak nakal, tapi otaknya sangat encer, terbukti saat Ia dewasa Ia menjadi seorang ilmuwan sukses.

"Jadi... Apa tujuanmu?"

Changmin menatap Yoochun masih dengan senyuman miris di wajahnya.

"Aku ingin..."

.

.

.

TBC or Delete

.

.

.

HYAH! INI APAA!? *histeris*

Mianhae, saya kembali membawa FF—yang lagi-lagi, masih—abal ini. :(

Mianhae saya update lama, mianhae Chapter ini lebih pendek, saya sibuk dengan PKL dan tugas-tugas sekolah yang menggerogoti saya TAT

Saya minta maaf karena saya gak bisa mengirimkan Surat Cinta(Red: balasan review) pada kalian, karena saya lagi download T concert –DBSK koneksi saya jadi lemot + saya lagi nyuri-nyuri waktu -.-v

Saya sangat senang karena respons positif kalian *hug satu-satu. Ah~ pada penasaran alasan Changmin datang ya? Tenang saja bentar lagi ke ungkap kok~ saya gak mau buat banyak chapter kok, saya tersiksa dengan FF chapter-an sih DX

Yoosu? Ah! *Shipper mode on* SAYA JUGA INGIIIN! Apalagi kemarin saya baru geliat sexy dance YooSuMin di acara yang ga saya tahu! OMG! Aah! Tapi sialnya saya susah nyaris timing yang pas buat masukin Yoosu momentnya TTATT

Um, buat yang bertanya-tanya tentang bajunya Changmin, tahun Changmin dateng dan style Yoochun. Baju Changmin itu... Aung... kaya baju astronot cuma ga pake akuarium ikan di kepala(?) plus lebih trendi lagi, yah... 10/12 dari baju Changmin pas MV Android—Cuma banyakin lagi kelap-kelip alumunium ~ XDD, Changmin dateng dari 17 tahun yang akan datang, jadi... kalo setting ambil tahun 2013 maka Changmin dateng tahun 2013+17=2030 gitu ._.

Yoochun gak terlalu berandal kok~ cuma pake anting dan baju di keluarin aja. Beda sama Jaejoong yang dipirang rambutnya, ditindik kupingnya, pake baju berantakan, sering bolos, Bener-bener berandal deh.

Ung, iru iru g-san bertanya tentang urutan nama ya, um, itu semata-mata karena saya lebih enak manggil Jaejoong dengan Umma Jae bukan Jae Umma, sedangkan Yunho, saya lebih sreg manggil dia Appa Yun, mianhae, tapi lain kali saya coba memperbaikinya~

Iasshine-san juga mengingatkan saya tentang penggunaan marga, gomen, saya terbiasa selalu merubah nama marga—dalam setiap FF saya—kalau tokoh saya sudah menikah. Mianhae saya memang tidak mengerti dengan urutan dan aturan penggunaan marga. Tapi karena sudah kepalang basah saya tak bisa mengubah marga dalam FF ini. Mohon pengertiannya ya reader-deul TxT

Ah, saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :')

Surat cinta yang tak tertuliskan untuk ::

ChoiMinhoANAE || Achan || Hana - Kara || RaniWookofRandah || aoi ao || pumpkinsparkyumin || Lady Ze || Dipa Woon || Taeripark ||kim eun neul || park hyojoon ||juuunchan || merry jung || Gyujiji || ifa. || jema agassi || JungJaema || KJhwang || KJhwang || diya1013 || zhe || Kyuhyuk07 || Chris1004 || toki4102 || ajid yunjae || PhantoMiRotiC || bumkeyk || hyukkie-chan || Princess yunjae || YeChun || iru iru g || BambiJung || mrshelmet || Guest || Pipinkyuu || Nony || Yjboo || manize83 || nunoel31 || yzj84 || Himawari Ezuki || jongwookie || jung neul neul || haru-chan || Kim Selena || futari chan || iasshine || Edelweis || Vic89 || danactebh || dhiniekim || ImekaJung || abilhikmah || KimYcha Kyuu|| And all reader

Dan selalu...

Untuk membangkitkan semangat saya untuk update cepet atau nulis lanjutan FF ini, saya butuh review~

Singkatnya: Makin banyak review, kemungkinan saya update cepet makin ada. /kicked

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Ducky(?) eyes bareng Junsu*