"Apa tujuanmu?"

"Huh?"

Yoochun menarik nafas dalam, "Aku tahu kau masih bocah, namun... tak mungkin kau pergi ke masa ini tanpa alasan."

Changmin terdiam lalu tersenyum kecil—senyum kecil yang terlihat menyedihkan. Ia tahu kalau Yoochun pasti mencurigainya, walaupun dia seorang anak nakal, tapi otaknya sangat encer, terbukti saat Ia dewasa Ia menjadi seorang ilmuwan sukses.

"Jadi... Apa tujuanmu?"

Changmin menatap Yoochun masih dengan senyuman miris di wajahnya.

"Aku ingin..."

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T

Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milikGOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changmin as Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

All Alone - Jaejoong || W - JYJ

.

.

.

Future Child

[Chapter 4]

.

.

.

Changmin menunduk dalam, Ia memeras kantung keripik kentang di tangannya. Ia ragu dan takut untuk memberi tahu Yoochun.

Yoochun menatap Changmin khawatir. Dari melihat wajahnya saja Yoochun tahu kalau 'misi' yang sedang Changmin jalankan benar-benar berat.

Puk!

Changmin mendongak menatap Yoochun ketika Yoochun menepuk pundaknya pelan.

"Aku mengerti kalau ini berat, tapi katakan saja padaku. Mungkin, aku bisa membantumu."

Changmin menatap Yoochun dalam lalu tersenyum miris. Kebaikan Yoochun tak berubah, sama seperti masa depan, hanya Yoochun yang bisa mengerti Changmin dengan baik.

"Aku ingin agar aku tak terlahir di dunia."

Yoochun mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudmu? Bukannya kau bahagia terlahir di dunia?"

Changmin kembali menunduk. "Aku bahagia, sangat bahagia malah."

"Lalu kenapa?"

Changmin terdiam cukup lama sebelum Ia menatap ke kaca mobil, "Aku sudah memberatkan Umma. Sudah cukup Umma tersiksa akan masa lalunya, aku tak mau kehadiranku menjadi benalu bagi Umma di masa depan."

Yoochun menatap Changmin tak mengerti, "Tersiksa akan masa lalunya? Maksudmu apa?"

Changmin menghela nafas dalam, "Karena Appa."

"Maksudmu... Yunho?"

Changmin mengangguk.

"Memangnya ada apa dengan Yunho?"

"Aku tak tahu."

"Huh?"

Changmin menunduk lalu kembali menggeleng.

"Aku terus bertanya padamu tapi kau tak pernah mau menjawabnya. Saat aku bertanya pada Umma, Umma hanya akan diam dan beringsut pergi dan menangis di kamar. Aku tak mengerti apa yang terjadi."

Yoochun terdiam menatap Changmin.

"Kau berbohong padaku."

Changmin mendongak menatap Yoochun terkejut, "Aku tidak membohongimu!"

Yoochun menatap ke arah depan lalu menghidupkan mobilnya kembali, "Kau memang tidak berbohong soal reaksiku dan reaksi Jae saat kau tanyakan tentang hal itu, tapi kau berbohong kalau kau tidak mengerti."

"Aku memang tid—"

"Ya. Kau memang tidak mengerti, tapi, itu sebelum kau melakukan riset sendiri 'kan?"

Changmin membatu, ucapan Yoochun seratus persen benar. Tanpa di ketahui siapa 'pun Ia melakukan pencarian tentang masa lalu Umma-nya. Yoochun di masa depan saja tak mengetahuinya—mungkin, tapi kenapa bisa Yoochun di masa ini bisa mengetahuinya?

"B-bagaimana bisa kau tahu?"

Yoochun tersenyum kecil lalu melajukan mobilnya, "Aku tahu kau bukanlah orang bodoh yang mau melompati dimensi waktu tanpa data yang pasti. Yah, otak pintar Yunho pasti terwariskan padamu."

Changmin menatap Yoochun yang fokus menatap jalan di depannya.

"Kau tidak bertanya padaku alasan yang sebenarnya?"

Yoochun tersenyum, "Tidak perlu."

Changmin mengerutkan keningnya, "Huh?"

"Aku tahu ini hal yang berat. Aku tak bisa memaksamu untuk bicara padaku. Biarkan kau sendiri yang nanti bicara padaku. Tapi ingat!"

Yoochun melirik Changmin sekilas, "Jangan pernah kau merasa tak enak padaku! Bagaimanapun Umma-mu adalah temanku, jadi aku wajib membantunya."

Changmin tersenyum lalu terkekeh pelan, "Gomawo. Beruntung Junsu memiliki pendamping sepertimu."

Yoochun tertawa girang dengan wajah yang sedikit memerah, "Yeah. Sangat beruntung aku bisa memiliki namja sepertinya."

Yoochun menghentikan laju mobilnya ketika traffic lamp berwarna merah, Ia menatap Changmin penuh harap.

"Hey, katakan padaku apapun yang kau ketahui tentang Junsu!"

Changmin tersenyum lebar. Baik masa depan maupun masa lalu, Yoochun tetap sama—sama-sama excited tentang seorang namja bernama Kim Junsu.

. . .

BRAK!

"AKU PULAAANGGG!" teriakan melengking itu terdengar di seluruh penjuru rumah setelah bunyi pintu yang di buka—atau mungkin di dobrak.

Yunho yang tengah berada di ruang tamu sembari membaca buku berserta Jaejoong yang tengah berselonjor malas di lantai menatap pintu masuk. Senyum merekah di kedua wajah berbeda bentuk itu ketika melihat sang 'anak' telah kembali.

Changmin dengan senyuman yang belum luntur dari wajahnya, segera memeluk Yunho sekilas lalu memeluk Jaejoong manja. Entah mengapa Yunho merasa kesal melihat Changmin bergelayut manja di lengan Jaejoong.

"Ya! Ya! Berhenti cemburu pada Changmin, Jung!"

Yunho mendelik pada Yoochun, "Aku tak cemburu!"

"Whatever! Sekarang cepat bantu aku mengeluarkan barang-barang belanjaan Changmin! Dia membobol habis kartu kreditmu!"

Yunho mengambil enam plastik belanjaan di tangan Yoochun lalu mengerutkan dahi, "Alat mandi dan... kenapa banyak sekali makanan?"

Yoochun mengangguk lalu menunjuk mobilnya, "Kau tahu? Dia belanja makanan seperti kesetanan. Masih banyak kantung-kantung berisi makanan di mobil."

Setelah menaruh ke-enam plastik belanjaan Changmin, Yunho mengikuti Yoochun yang kembali ke mobil.

"Lalu pakaiannya?"

"Dia beli kok." Yoochun mengeluarkan delapan plastik belanjaan dan memberikannya pada Yunho. Delapan plastik yang dominan berisi makanan.

"Dia juga membelikan beberapa set untukmu." Yoochun kembali memasuki mobilnya lalu mengeluarkan sepuluh shopping bag berbagai warna.

"Tapi tetap saja..." Yoochun mengunci mobilnya lalu menatap Yunho horor, "perbandingan belanjaan makanan dengan pakaiannya sangat jauh!"

Yoochun mendesis kesal, "Kau harus tahu capeknya aku menemaninya belanja! Hish... sangaaaat menyebalkan. Lebih baik aku menemani yeoja belanja daripada harus menemaninya! Gak Umma gak anak sama saja nafsu belanjanya! Gila!"

Yunho tertawa geli mendengar gerutuan Yoochun. Entah mengapa Yunho merasa penasaran akan nafsu belanja Changmin.

Yoochun melirik Yunho lalu menyeringai, "Kapan-kapan coba kau ajak Jae belanja. Kau pasti akan tahu apa yang aku rasakan!"

Yunho hanya mengangkat bahunya tak peduli sembari menaruh plastik-plastik belanjaan itu di dapur.

"Oya, aku punya kabar baik untuk kalian." Yoochun yang baru saja bersandar pada sofa kembali menegakan badannya ketika Ia teringat sesuatu. Yunho yang baru kembali dari dapur duduk di samping Jaejoong.

"Kabar baik apa?" tanya Yunho penasaran.

"Anak kalian menang beasiswa."

Jaejoong dan Yunho mengerutkan dahi, "Beasiswa dari mana?"

"Tadi di mal, Changmin sempat menghilang dari pengawasanku."

"Hilang?" Yunho melotot garang pada Yoochun.

"Berhenti memelototiku Jung! Aku berhasil menemukannya kok!"

"Kau pasti ganjen pada yeoja kan? Sampai tidak memperhatikan Changmin," selidik Jaejoong sembari menyipitkan matanya.

"Aku tidak ganjen pada yeoja kok!" bantah Yoochun. Jaejoong masih menatap Yoochun tajam.

"Apa benar yang di katakan Yoochun, Changmin?" tanya Yunho.

Changmin yang sedang mengemut permen lolipop menggeleng, "Bohong. Min-ie pergi karena Min-ie bosan menunggu Yoochun selesai merayu SPG."

Yoochun menelan ludahnya sementara Yunho dan Jaejoong semakin menatapnya kesal.

"Akan aku adukan pada Junsu!"

Mata Yoochun membulat, "YAK! JANGAN! AISH! KENAPA JADI MEMBAHAS HAL INI!"

Yoochun mengacak rambutnya sementara Yunho dan Jaejoong hanya mendengus kesal.

"Baiklah. Sekarang coba kau jelaskan lagi."

Yoochun menghela nafas lemas, "Oke. Jadi, setelah berkeliling aku menemukannya sedang berdiri di tengah panggung sedang menerima beberapa piala, dan tak sengaja salah satu petinggi universitas melihat dia menang olimpiade yang kebetulan sedang di adakan di mal itu."

"Olimpiade?"

Yoochun mengangguk, "Olimpiade ilmu pengetahuan; Fiska, Matematika, dan bahasa Inggris. Dan kalian tahu, dia menang SEMUA kejuruan olimpiade dengan NILAI SEMPURNA! Hell! Otaknya sangat encer!"

"WHAT!? NILAI SEMPURNA!?" Jaejoong memekik kaget lalu menatap Changmin sebal—well, tak bisa dipungkiri dia iri akan kepintaran anaknya itu.

"Kepintaran Yunho jelas turun pada Changmin."

"Yeah. Untung dia tidak tertularmu," ejek Yunho sembari memeletkan lidahnya pada Jaejoong.

"Yak! Apa maksudmu!? Akh! Awas saja kalau dia sampai tertular mesummu!"

"YAK! BERAPA KALI AKU BILANG AKU TIDAK MESUM!"

"KAU MESUM!"

"KAU BAHKAN TAK PUNYA BUKTI!"

"ITU TERLIHAT DARI WAJAHMU TAU!"

"WAJA—"

"HYAAAAA! CUKUP! STOP IT!" Yoochun berteriak frustrasi sembari menutup telinganya. Ia mendelik ke arah Yunho dan Jaejoong.

"Tidak bosan apa kalian beradu mulut terus?"

Yunho dan Jaejoong saling berhadapan lalu tak lama kemudian memalingkan muka kesal. Yoochun menghela nafas berat sembari mengusap kasar wajahnya.

"Now... Daripada kalian bertengkar tak jelas seperti itu lebih baik kalian pikirkan untuk memasukan Changmin ke universitas Toho."

Yunho dan Jaejoong serentak menatap Yoochun dengan mata yang membulat sempurna.

"UNIVERSITAS TOHO!?"

Yoochun mengangguk sedangkan Yunho dan Jaejoong mengerang.

"ITU UNIV YANG KU INCAARR!" teriak Yunho gemas.

"AKU MENGINCAR JURUSAN SENINYAA!" kini Jaejoong memekik keras sembari mengguncangkan tubuh Changmin sedangkan Changmin hanya mengemut permennya tak peduli akan reaksi kedua orang tuanya.

Yoochun menghela nafas berat melihat prilaku satu 'keluarga' di hadapannya itu, tapi Ia tak bisa menyembunyikan senyum geli melihat ke bahagian yang menguar dari mereka.

Merasa menjadi 'obat nyamuk' dadakan, Yoochun akhirnya pamit pulang.

"Changmin, jangan lupa katakan apa yang ShunHwa-sshi katakan padamu pada orang tuamu," pesan Yoochun sebelum Ia pergi.

Yunho dan Jaejoong serentak menatap Changmin bingung.

"Siapa ShunHwa?" kor Yunho dan Jaejoong.

Changmin terdiam lalu tiba-tiba mengerucutkan bibirnya lucu.

"Nanti saja Min-ie ceritakan. Min-ie sekarang lapar. Min-ie mau makaaan~"

Yunho dan Jaejoong jaw drop lalu saling bertatapan dan tertawa kecil.

"Arraso. Tapi sebelum makan kamu mandi dulu, Min-ie. Aku siapkan makanan, kamu mandi dulu sama Yunho sana!" Jaejoong mendorong Changmin dan Yunho, namun tiba-tiba Changmin menatap Jaejoong heran.

"Kenapa Umma bilang 'Aku' sama Min-ie? Umma 'kan Umma Min-ie dan kenapa Umma panggil Appa 'Yunho'? Umma cukup panggil Appa 'Appa' 'kan?"

Jaejoong cengo, dia menatap Changmin bingung, otaknya tak bisa memproses ucapan Changmin yang—menurutnya—terlalu terbelit-belit. Yunho menatap wajah Jaejoong geli.

"Aish. Maksudnya saat di depannya kau panggil dirimu 'Umma' dan panggil aku 'Appa'," jelas Yunho sembari menggelengkan kepalanya.

"P-panggil kau Appa? Jangan berca—" ucapan Jaejoong terhenti ketika Ia merasakan tatapan memohon dari Changmin.

Changmin menatap Jaejoong dengan mata yang membesar dan sedikit berair. Bahkan blink-blink dapat dilihat di sekeliling wajah memohonnya itu. Entah mengapa Jaejoong heran kenapa anak evil seperti Changmin bisa mempunyai puppy eyes yang sangat menggemaskan.

Jaejoong mengerang pelan, "Aish! Arraso!"

Senyum lebar merekah di wajah Changmin.

"Sekarang Min-ie mandi dulu sama..." Jaejoong menatap Yunho kikuk, "...sama ukh... A-Appa. Umma akan memasak di dapur, oke?"

Changmin mengangguk cepat lalu menarik Yunho ke kamar kedua orang tua Jaejoong.

BLAM!

Bunyi tertutupnya pintu kamar kedua orang tua Jaejoong sontak membuat helaan nafas keluar dari mulut Jaejoong. Jaejoong mendudukan dirinya di kursi meja makan lemas. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu kembali menghela nafas. Ia membuka telapak tangannya lalu kembali menatap ke arah kamar kedua orang tuanya.

"Aish... aku ini kenapa 'sih?" gumam Jaejoong sembari mengibaskan tangannya di depan wajahnya yang memerah. Ia mendesis frustrasi.

"AAAH! Jaejoong! Kembalilah! Ayo tarik nafas... huuuf... keluarkan... fuuuuh. Tenangkan dirimu dan ayo memasak!" Jaejoong menenangkan dirinya sembari menepuk kedua pipinya sembari berjalan ke bilik dapur, Ia sempat melirik kembali ke arah kamar kedua orang tuanya sebelum Ia tenggelam ke dalam acara memasaknya.

. . .

Changmin benar-benar merasa sangat amat lapar setelah Ia keluar dari kamar mandi dan disambut aroma lezat masakan Jaejoong. Changmin hampir saja menerjang keluar tanpa mengenakan pakaian saking bernafsunya Ia untuk memakan masakan Jaejoong. Tapi, berhubung Appa kita satu ini tak mau adanya pertumpahan darah dari hidung(?) jika Changmin keluar dengan keadaan telanjang, oke, te-lan-jang, Ia segera menahan anaknya itu dan memberi wejangan pada Changmin kalau 'keluar dengan keadaan telanjang itu gak baik kecuali udah gede(?)'. Akhirnya, dengan air liur yang tiada hentinya menetes /di-slaped Changmin/ Changmin memakai pakaiannya.

Tak bisa dipungkiri kalau Yunho juga merasa sangat tergoda dengan aroma masakan Jaejoong, perutnya entah mengapa merasa sangat lapar. Mungkin Ia tertular kelaparan Changmin(?).

Tak perlu lama-lama, Yunho—yang di seret Changmin—berserta Changmin keluar dari kamar dan menuju dapur. Air liur Changmin semakin deras menetes melihat beberapa macam makanan tersaji di atas meja. Untung saja tadi Ia sempatkan untuk membeli bahan makanan untuk persediaan Jaejoong.

Berbeda dengan Changmin yang menatap bernafsu macam-macam makanan di atas meja, Yunho malah mengacuhkan makanan itu dan menatap ke bilik dapur, tepatnya Ia menatap ke arah seseorang yang tengah memunggunginya.

Yunho tak mengerti. Entah mengapa di pandangannya, Jaejoong yang tengah memasak dengan menggunakan celemek hijau terang terlihat sangat menyilaukan, sangat memukau, sangat indah. Tanpa sadar senyum kecil terlukis di wajahnya bersamaan dengan rasa hangat yang membuat jantungnya berdesir lembut.

"Ah? Kalian sudah selesai?"

Deg!

Yunho terperangah ketika melihat Jaejoong berbalik dengan senyum ceria di wajahnya, menatap Yunho langsung dengan mata hitam besarnya. Entah mata Yunho terhalang apa sampai tak menyadari kalau mata Jaejoong benar-benar indah. Rasanya, Ia tersedot masuk ke dalam manik hitam kelam itu.

Jaejoong menghilangkan senyumannya ketika merasakan pandangan seseorang padanya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yunho yang terdiam menatapnya. Wajah Jaejoong sontak menghangat. Detak jantung yang tadi sempat kembali normal kini kembali menggila hanya karena melihat Yunho dengan setelan kasualnya. Tak mau berlama-lama dengan pemandangan—yang menurut Jaejoong—gila itu, Jaejoong segera melangkahkan kakinya menuju meja makan.

Yunho terkesiap melihat pergerakan Jaejoong yang sontak membuat dirinya tertarik dari buaian manik hitam Jaejoong. Yunho menggelengkan kepalanya kuat, mencoba mengusir bayang-bayang wajah Jaejoong dari benaknya.

Jaejoong menaruh makanan yang baru selesai Ia masak ke atas meja lalu menatap Changmin dan tersenyum geli melihat raut muka kelaparan Changmin.

"Min-ie, kalau mau makan cepat cuci tangan sana! Ajak Appa juga ne?"

Changmin mengangguk antusias lalu menyeret Yunho yang masih menggelengkan kepala ke arah wastafel.

"Keringkan tanganmu, Changmin!" teriak Yunho ketika Changmin langsung saja cap-cus(?) tanpa mengeringkan tangannya.

Changmin lari di tempat sembari menatap Yunho dengan mempoutingkan bibirnya. Yunho menatap Changmin geli sembari mengeringkan tangan Changmin dengan serbet. Setelah kering Changmin kembali berlari ke meja makan dan duduk tenang dengan sendok dan garpu yang sudah di pegangnya. Changmin menatap Jaejoong dengan pandangan seperti binatang yang minta di beri makan.

Jaejoong tersenyum lalu memberikan sepiring nasi dengan porsi jumbo untuk Changmin. Changmin menerima piring itu dengan suka cita lalu mengambil lauk-lauk di hadapannya.

"Segini cukup Yun?"

Yun?

Yunho sontak melongo kaget mendengar kata 'Yun' yang terucap dari mulut Jaejoong. Nada suara suara Jaejoong saat mengucapkan 'Yun' benar-benar terdengar manis. Ah, tanpa terasa wajah Yunho menghangat.

"Yun? Gwaenchana?"

Yunho sontak tersadar dari alam lamunannya, Yunho tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan sembari menerima piring yang sudah Jaejoong isikan nasi. Jaejoong mengambil bagiannya lalu mengambil lauk di hadapannya.

"Umma, tolong pisahkan ikannya dari duri~" rengek Changmin sembari menunjuk ikan goreng saus tiram yang dimasak Jaejoong. Jaejoong mengangguk lalu mengambil ikan itu, dengan teliti Ia memisahkan duri-duri dari ikan itu dan menaruh ikan yang bebas dari duri ke piring Changmin.

Yunho menatap pergerakan tangan Jaejoong yang tengah memenuhi rengekan Changmin. Entah mengapa Ia juga ingin mendapatkan ikan tanpa duri dari Jaejoong. Bukannya Ia manja, dia biasa saja kalau memakan ikan dengan duri, Ia tak malas memisahkan duri dari ikan yang dimakannya, namun, hanya saja, entahlah, dia hanya ingin.

Yunho membuka mulutnya tapi kembali menutup mulutnya. Baru saja kata 'Kim' ingin terlempar dari mulutnya, namun entah mengapa Ia ragu memanggil Jaejoong dengan sebutan 'Kim'. Hey, Jaejoong saja sudah memanggilnya 'Yun' apakah salah kalau Yunho ingin memanggil Jaejoong dengan nama aslinya?

"J-Jae, aku juga mau ikannya dong." Sedikit tergagap saat mengucapkan 'Jae', Yunho memaki dirinya dalam hati. Kenapa hanya mengucapkan 'Jae' saja membuat lidahnya kelu?

Jaejoong mendongak menatap Yunho tak percaya. Apa tadi kupingnya salah mendengar. Yunho memanggilnya dengan namanya, 'Jae'? 'Jae'?!

"Jae! Aku juga mau ikannya~"

Jaejoong terperangah. 'Jae' lagi! Dia tak salah dengar! Ia segera menunduk mencoba kembali fokus dengan ikan di tangannya untuk menyembunyikan pipinya yang entah mengapa terasa hangat saat Ia mendengar namanya—benar-benar namanya, bukan marganya, terucap dari mulut Yunho. Ah, Jaejoong mengelak dia merasakan senang. Oke, Jaejoong-ah, kalau kau tidak senang kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu 'eoh?

"A-Arraso. Ini." Jaejoong menaruh ikan tanpa duri di piring Yunho tanpa menatap Yunho sedikit 'pun. Yunho menatap Jaejoong geli, terlihat jelas kalau Jaejoong sedang menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Umma! Tambah!"

Jaejoong yang ingin memasukan nasi ke mulutnya menatap Changmin tak percaya. Perasaan baru 10 menit yang lalu Jaejoong memberikan porsi jumbo ke anaknya itu, tapi sekarang sudah minta tambah? Ckck, nafsu makannya terwariskan dari siapa sih?

"Hey, Min, bisa kau jelaskan tentang ShunHwa?" tanya Yunho saat Jaejoong baru selesai menambahkan nasi ke piring Changmin.

"Hunghwa?" tanya Changmin dengan mulut penuh makanan. Jaejoong memukul tangan Changmin dengan sendok yang dipegangnya.

"Kunyah dulu!" ingat Jaejoong saat Changmin menatapnya kesal.

"Ung~," Changmin mengunyah cepat makanan di mulutnya, sehingga pipinya yang bergembung bergerak cepat dengan lucunya. Jaejoong terkikik geli melihat pergerakan pipi Changmin.

"Jadi," Changmin berhenti sejenak untuk minum, "ShunHwa-sshi adalah ahjusshi yang menawari Min kuliah di Universitas Toho."

Jaejoong dan Yunho mengangguk sembari menyuap makanan mereka.

"ShunHwa ahjusshi bilang untuk melegalkan beasiswa Min, Min harus menghadapnya bersama kedua orang Min. Katanya Shun—"

"BWOH!?"

"YAK! Jaejoong! Telan dulu baru teriak! Aish!"

Jaejoong hanya bisa nyengir mendengar dumelan Yunho yang terkena semburan makanan yang tengah Ia makan.

"Hish, kenapa kau teriak?"

Jaejoong menggigit sendok yang dipegangnya, "Changmin bilang dia harus menghadap ShunHwa dengan orang tuanya kan?"

Yunho mengangguk.

Jaejoong melirik Yunho lalu semakin menggigit sendok, "Orang tuanya itu kau dan aku kan, Yun?"

Yunho mengangguk lagi, Ia kini mulai kembali menikmati makanannya.

Jaejoong menunduk dalam, "...lalu apa kita akan muncul seperti ini?"

Yunho menyerit, "Apa maksudmu?"

Jaejoong menatap Yunho dengan mata besar hitamnya yang sedikit berair—yang tentu membuat Yunho mendadak merasa gugup. Jaejoong menggigit bibir bawahnya semakin kuat, "K-kau dan aku kan sama-sama namja..."

Yunho terdiam sejenak, "Ya, lalu kenapa?"

Manik hitam Jaejoong membulat sempurna, "YAK! APA MAKSUDMU!?"

Yunho menatap Jaejoong aneh, "Ya memang kenapa? Memang ada masalah dengan gender kita?"

Jaejoong mengacak rambutnya frustrasi, "Tentu saja masalah! His, apa pandangan orang-orang kalau tahu orang tua Changmin ternyata pasangan namja!"

"Min-ie gak masalah dengan itu 'kok, Umma."

Jaejoong menatap Changmin cepat lalu menggeleng, "Aniyo! Umma tak mau kau di ejek!"

"Ya kalau tak mau ketahuan, kau berarti harus menyamar sebagai yeoja," ujar Yunho santai.

Jaejoong mendelik tak suka pada Yunho, "Kenapa harus aku?"

"Lalu kau pikir siapa lagi? Aku? Coba saja kau bayangkan aku dengan pakaian yeoja."

Jaejoong terdiam. Di alam fantasinya, Ia mulai membayangkan Yunho dengan make-up tebal sedang tersenyum lebar dan menggunakan pakaian renda-renda yang terlihat saaaaanggaaaaat tak pantas dengan badan kekarnya. Persis banci jadi-jadian. Udah banci, jadi-jadian pula.

"Ukh. Membayangkannya saja sudah membuatku mual," lirih Jaejoong sembari menutup mulutnya.

Yunho mengangguk anggukan kepalanya, "Nah. Sekarang kau pasti mengerti kan kenapa harus kau yang menjadi yeoja, lagipula kau itu Umma Changmin dan aku Appanya."

Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal, "Ukh... kenapa harus aku..."

"Jika aku yang pura-pura jadi yeoja, kau mau Changmin dikatain punya Umma banci apa?"

Jaejoong menggeleng lalu menghela nafas berat, "Baiklah, aku yang akan jadi yeoja."

Yunho tersenyum lebar mendengar jawaban pasrah Jaejoong. "Min, kapan kamu diminta menghadap ShunHwa-sshi?"

"Huha~" Changmin menjawab dengan mulut penuh.

"Min-ie, tadi sudah Umma katakan untuk telan dulu makananmu kan?"

"Padahal tadi kau berteriak saat kau makan, Jae," ejek Yunho sembari terkekeh pelan, Jaejoong mendelik kesal ke arah Yunho lalu menyuap makanannya dengan kesal.

Changmin menelan habis suapan terakhirnya, "ShunHwa-sshi bilang sih Lusa, Appa."

"Lusa? Hari minggu ya. Oke, untung sekolah lagi libur saat itu."

Yunho yang selesai memakan makan malamnya segera berdiri, "Aku pulang dulu."

Jaejoong menatap ke arah jam. 20.38. Sudah malam, wajar kalau Yunho pamit pulang. Jaejoong segera berdiri lalu beranjak ke arah baju Yunho yang terjemur di pojok ruangan.

"Ini bajumu, hati-hati masih sedikit basah."

Yunho mengangguk sembari menerima bajunya dari Jaejoong.

"Min, app—Oh my... Min, waeyo?" Yunho panik seketika ketika melihat Changmin menatapnya dengan berlinangan air mata, Jaejoong ikut panik melihat Changmin seperti itu. Changmin menggigit bibir bawahnya lalu menunduk dalam. Yunho dan Jaejoong segera mendekatinya. Yunho memeluk Changmin sedangkan Jaejoong hanya bisa menatap khawatir Changmin.

"Min-ie, waeyo? Perutmu sakit?" tanya Jaejoong sembari mengelus kepala Changmin, Changmin menggeleng.

"Lalu kenapa kau menangis?" Yunho mengusap punggung Changmin lembut, namun entah mengapa Changmin yang ada di dalam rengkuhannya malah mulai mengeluarkan air matanya.

Yunho dan Jaejoong semakin panik di buatnya.

"Changmin waeyo? Ah, Yun, Changmin kenapa?" Jaejoong menatap Yunho panik. Yunho hanya bisa melempar tatapan 'Entahlah-aku-tak-tahu' pada Jaejoong.

"Sst, uljima, Min. Waeyo? Kamu tak ingin Appa pulang?" bisik Yunho pelan, Changmin terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. Yunho menghela nafas berat lalu menatap Jaejoong yang tengah menatapnya panik.

"Changmin tak ingin aku pulang."

Jaejoong tersenyum kecil lalu mengusap lengan Changmin lembut, "Kalau tak ingin Appa pulang 'kan tinggal bilang. Kenapa harus nangis sih?"

Changmin hanya bisa menatap Jaejoong memelas dari pelukan Yunho. Jaejoong terkikik geli lalu mencubit pipi Changmin. Yunho ikut tertawa ketika mendengar Changmin sedikit mengerang kesakitan.

"Sekarang sudah waktunya tidur! Min sama Appa tidur di kamar yang tadi ne?"

"Umma tidur di mana?"

"Tentu saja tidur di kamar Umma."

"Min-ie mau Umma tidur bareng Min-ie!"

"Eh?" Jaejoong menatap Yunho ragu lalu kembali menatap Changmin.

"Tapi kan ada Appa." Jaejoong menatap Changmin memelas.

"Min-ie mau tidur bareng Appa dan Umma!" ucap Changmin mutlak.

Jaejoong menatap Yunho minta pertolongan. Yunho menghela nafas pelan, "Min, nanti kalau kita tidur bertiga kamu jadi kesempitan lho."

Changmin menggeleng kuat, "Min-ie ga peduli! Min-ie mau tidur sama Appa sama Umma!"

Yunho dan Jaejoong saling berpandangan lalu menghela nafas berat. Tak ada gunanya melawan ucapan Changmin. Mungkin, Changmin mewarisi sikap egois Jaejoong.

Jaejoong tersenyum kecil lalu mengusap kepala Changmin, "Arraso. Umma tidur bareng Changmin dan Appa. Sekarang Min-ie ke kamar lalu ganti baju ne? Min-ie beli piama tidak?"

"Min-ie beli kok! Ah!" Changmin segera melepaskan diri dari pelukan Yunho lalu berlari ke arah ruang tamu untuk mengambil satu shopping bag dan kembali lagi ke ruang makan.

"Min-ie juga beli buat Appa dan Umma." Changmin memberikan piama warna merah muda pada Jaejoong dan warna hijau untuk Yunho.

Jaejoong dan Yunho menatap piama yang diberikan oleh Changmin.

"P-pasangan?" Jaejoong mencicit pelan dengan wajah yang sedikit memerah. Malu rasanya membayangkan Ia mengenakan piama pasangan dengan Yunho.

Changmin mengangguk riang, "Yup! Umma Pink, Appa hijau dan Min biru!"

Jaejoong menatap lega piama Changmin yang juga berpasangan dengan miliknya dan Yunho. Setidaknya, Ia tidak hanya berpasangan dengan Yunho.

"Arraso. Sekarang kamu siap-siap buat tidur sana. Jangan lupa buat gosok gigi ne?" Changmin mengangguk riang lalu kembali berlari ke ruang tamu untuk mengambil peralatan mandi.

"Yun, tolong Changmin ne! Aku mandi dulu." Tanpa menunggu Changmin kembali Jaejoong segera melesat ke kamarnya. Yunho tersenyum tanpa sadar saat Ia menatap kepergian Jaejoong.

"Appa kenapa senyum-senyum gitu? Umma ke mana?"

Yunho menatap Changmin lalu mengacak rambut Changmin, "Tidak. Umma mandi dulu. Kka, sekarang ayo kita siap-siap buat tidur!"

Changmin tersenyum lebar lalu menarik Yunho ke kamar kedua orang tua Jaejoong.

. . .

Changmin segera melemparkan dirinya ke atas kasur saat Ia baru keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum lebar lalu berguling di atas kasur.

"Yak! Jangan begitu, nanti berantakan Min!"

Changmin segera berhenti berguling lalu tertawa ketika mendengar Yunho menegurnya.

"Kenapa tertawa?"

Changmin tersenyum lebar, "Min-ie senang! Ini kali pertamanya Appa menegur Min-ie!"

Yunho menyrit, "Pertama kali? Tak mungkin. Kamu kan nakal, pasti sering Appa tegur."

Changmin terdiam lalu menggeleng. Wajah cerianya lenyap seketika berubah menjadi wajah murung, "Tidak. Ini memang kali pertama Appa menegur Min-ie."

Changmin segera saja menyelimuti dirinya dan memunggungi Yunho. Yunho terdiam lalu menghampiri Changmin yang tengah menunduk.

"Kenapa murung, eum? Apa Appa salah bicara?"

Changmin menggeleng pelan, Ia menggigit bibir bawahnya mencegah air mata yang memaksa keluar.

Yunho mengusap sayang rambut Changmin, "Hey, Min, kenapa kamu tak mau Appa pulang? Kita kan bisa ketemu besok."

Changmin menutup matanya kuat, tak mungkin Ia ucapkan apa yang sebenarnya menjadi alasannya mencegah Yunho pergi.

"Min-ie hanya tak ingin Appa pulang."

Yunho tak bicara Ia hanya menatap Changmin dalam sembari mengelus rambut Changmin.

Ckrek.

Yunho dan Changmin sontak menatap ke arah pintu kamar. Changmin tersenyum lebar sedangkan Yunho mendadak merasa gugup.

Jaejoong masuk dengan memeluk bantal. Jaejoong menatap Yunho dan Changmin malu. Walaupun Ia tak hanya memakai piama pasangan dengan Yunho tapi tetap saja Yunho berpasangan dengannya dan Ia malu, yeah, Jaejoong malu berat.

"Bantal kesayangan Umma~"

Jaejoong mengerjap pelan lalu tertawa, "Min-ie ternyata tau."

Changmin mendudukan dirinya saat Jaejoong duduk di samping kirinya.

"Tentu! Tanpa bantal itu Umma tak bisa tidur."

Yunho terpaku. Matanya bahkan tak berkedip saat melihat Jaejoong yang kini sedang bercanda dengan Changmin. Jaejoong terlihat sangat cantik sekaligus manis dalam balutan piama merah mudanya, di tambah surai pirang Jaejoong yang panjangnya nyaris menyentuh pundak membuat rupanya semakin sempurna, mata doe-nya yang menyipit ketika senyum lebar tercetak indah di wajahnya, semua itu membuat seorang Jung Yunho tersihir seketika. Ah, cupid cinta berhasil memanah hati Yunho ternyata kekeke.

"Yun? Kenapa bengong?"

Yunho tersentak ketika Changmin menepukkan kedua tangannya tepat di hadapan wajah Yunho.

"Ah tidak. Sudahlah, ayo tidur." Yunho yang mati kutu memilih langsung mematikan lampu tidur dan menidurkan tubuhnya. Jaejoong dan Changmin saling berpandangan lalu mengangkat bahu, malas berpikir, mereka memutuskan untuk mengikuti Yunho—menidurkan diri.

Mereka bertiga tidak tertidur, mereka malah terdiam sembari menatap atap kamar. Changmin melirik Jaejoong di sebelah kirinya dan Yunho di sebelah kanannya.

"Appa, Umma."

"Hm?" kor Jaejoong dan Yunho.

"Kalian sayang Min-ie?"

Yunho dan Jaejoong tersenyum kecil, "Tentu saja."

Changmin menggigit bibir bawahnya kuat.

"Kalian tak akan pernah tinggalin Min-ie kan?"

Yunho dan Jaejoong serentak memiringkan badan menatap Changmin yang menatap atap kamar dengan pandangan yang susah ditebak karena pencahayaan ruangan yang minim.

Jaejoong merapikan poni rambut Changmin, "Kenapa bertanya seperti itu 'hum? Tentu saja Umma tak akan meninggalkanmu."

Changmin menatap Yunho, "Appa?"

Yunho tersenyum kecil, "Appa tak mungkin tega meninggalkanmu."

Ingin rasanya Changmin menangis mendengar ucapan Yunho. Changmin menggenggam tangan kedua orang tuanya.

"Peluk Min-ie. Katakan kalian sayang Min-ie."

Yunho dan Jaejoong dengan lembut dan penuh kasih sayang melingkarkan lengan mereka ke tubuh Changmin.

"We Love you."

.

.

.

TBC or Delete

.

.

.

HUAAAA! *brb kabur*

Mianhae, saya menggantung 'alasan Changmin' lagi TAT.

Mianhae, Chapter ini masih sama abalnya kaya Chapter-chapter sebelumnya D':

Mianhae saya lagi buru-buru jadi gak bisa nge-beta chapter ini, saya masih ada PR MTK yang harus di salin ke buku. :(

Ah! Terima kasih banyak atas Surat cinta(Red: Review) kalian~ #kecupmanja, mianhae saya gak bisa update cepat ne, saya gak punya waktu /sok sibuk ceritanya/ #kicked, sebagai permintaan maaf saya, chapter ini saya panjangin :D

Rata-rata penasaran sama rahasia Changmin ya, mianhae, untuk kepentingan cerita saya gak bisa ngasih tau misi Changmin sekarang, tapi di Chap ini saya sudah selipin beberapa Hint tentang alasan Changmin pergi dari masa depan, ada yang sadar tidak Hint apa aja yang ada? :3

Untuk Galang weshard Leeray-san~ film Back To The Future apa benar mirip FF ini? Kalo mirip saya minta maaf, itu ke-tidak sengajaan, karena, jujur saya belom pernah nonton film Back To The Future #nyengir, lalu adegan teriak-teriakkan yang banyak itu untuk mempercerah(?) FF ini, tanpa adegan teriak-teriakan itu bagaikan sayur tanpa garem, kurang sreg aja kalau ga ada adegan teriak-teriakkan itu, tapi saya jamin adegan itu akan perlahan berkurang saat feel FF ini mulai serius :)

Ah, saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, fav, follow, alret, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :')

Balasan Surat cinta yang tak tertuliskan untuk ::

hana sukie || Dennis Park || RaniWook of RanDah || z-know || anastasya regiana || Juuunchan || AyuClouds69 || KJhwang || iru iru g ||merry jung || YJM || pumpkinsparkyumin || I was a Dreamer || yoon HyunWoon || shen || TriaU-KnowHero || kime simiyuki ||PhantoMiRotiC || futari chan || Shin ririn || Na BearBooJae || zhe || Aje Willow || Jirania || kitybear ||Princess yunjae || Achan || alint2709 || toki4102 || Galang weshard Leeray || dhian930715ELF || nickeYJcassie || aoi ao || Channie || ichigo song || Kang Shin Ah || Gyujiji || Kyuhyuk07 || Dipa Woon || haru-chan || Vic89 || RedsXiah || joongmax || Lilin Sarang Kyumin || Hana - Kara || YunHolic || YeChun || ifa. || Chris1004 || desta kuchiki no login || Lady Ze || meotmeot || jongwookie || JungJaema || Nony ||Cho Sungkyu || jae sekundes || diya1013 || tukang baca || manize83 || sibum's child || || nunoel31 || Yjboo || Guest || And all reader

And...

Untuk membangkitkan semangat saya untuk update cepet atau nulis lanjutan FF ini, saya butuh review~

Singkatnya: Makin banyak review, kemungkinan saya update cepet makin ada. /kicked

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Evil eyes bareng Changmin*