Disclaimer: Harry Potter bukanlah milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, OOC, OC, Slash, Mpreg, Ginny Bashing, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, Drama

Pairing: HPDM, Past! HPGW, Oneside!BZDM


I'M SORRY BUT I LOVE YOU

By

Sky


Malfoy Cottage, Unknown Location

Sebuah kenangan itu akan terasa indah bila terus dikenang untuk selamanya, tidak pernah terlupakan ataupun dicampakkan begitu saja. Layaknya sebuah bulan yang bersinar di langit malam, dia tetap bersinar dan akan terus diingat oleh semua orang meskipun keindahannya sedikit redup bila disandingkan dengan bintang-bintang yang bersinar di sekelilingnya, bulan apa adanya dan tidak menjadi sesuatu yang lain. Namun ia akan selalu dikenang oleh orang lain.

Sama halnya dengan perasaan manusia, sebuah kenangan yang ada dalam diri manusia juga akan sulit untuk dilupakan, selalu diingat meskipun terkadang itu sangat menyakitkan atau bahkan bisa membunuh sang pemiliknya dengan perlahan-lahan, banyak orang yang mengecam mereka bisa menguburnya namun pada kenyataannya hal itu tidaklah hilang, sebab suatu saat perasaan akan terus muncul. Satu hal yang Draco pelajari dalam kehidupan di usianya yang masih belia ini adalah cinta merupakan sebuah hal yang mirip dengan kenangan, begitu sulit untuk dilupakan dan akan lebih menyakitkan bila dilupakan. Sejak kecil kedua orang tuanya telah berpesan kalau ia tidak boleh jatuh cinta dengan sembarang orang, sebab hasilnya akan menyakitkan bila orang yang ia cintai suatu saat akan mengkhianatinya. Namun Draco yang begitu naive tidak pernah mendengarkan kata-kata ayah dan ibunya, ia terus mencari cinta pada seseorang tanpa memikirkan apapun akibatnya, dan saat ia mulai menyadari kalau anggapannya salah ia pun sudah terlambat.

Remaja manis yang baru menginjak usia 18 tahun itu memejamkan kedua matanya, mencoba untuk menahan air mata yang mulai jatuh dari pelupuk matanya. Kata-kata dari Ginny Weasley terus terngiang-ngiang di telinganya, Draco masih bisa membayangkan bagaimana bahagianya gadis berambut merah itu ketika ia menunjukkan cincin pertunangan keluarga Potter yang Harry berikan padanya. Pada awalnya Draco tidak percaya mengenai semua itu, namun kenyataan berkata lain saat cincin yang dikenakan oleh Ginny adalah cincin dari keluarga Potter yang dulu pernah dikenakan oleh Lily Potter. Rasanya hati Draco begitu hancur.

"Aku sudah bilang berulang kali padamu, jangan pernah mengharapkan cinta dari Potter. Kau tidak mau mendengarku dan hasilnya seperti ini, Potter meninggalkanmu untuk seorang Weasley yang tidak ada gunanya!" ujar Blaise padanya, ia memberikan glare kepada temannya, namun tatapannya sedikit melembut saat ia melihat bagaimana kondisi temannya yang manis itu.

Draco Malfoy terlihat begitu manis layaknya seorang malaikat, bahkan penampilannya terlihat lebih bersinar saat ia hamil seperti saat ini. Makhluk sebaik Draco tidak pantas untuk disakiti oleh siapapun, bahkan bila mengingat siapa yang melakukan semua ini kepada Draco pasti membuat darah Blaise mendidih, ia ingin membunuh orang yang telah menyakiti temannya itu.

"Apa aku terlihat begitu bodoh karena mengharapkan Harry, Blaise?" tanya Draco dengan lembut, tangan kanannya membelai perutnya yang telah membesar itu dengan penuh kasih sayang sementara tatapannya begitu sayu. Dalam artian singkat, Draco terlihat seperti fallen angel yang butuh perlindungan dari setiap orang.

"Tidak, Dray. Aku tidak keberatan kalau kau ingin bersama Potter, tapi aku tidak rela kalau orang seperti Potter berani-beraninya menyakitimu." Jawab Blaise, ia menatap ke luar jendela dan melihat pemandangan lautan luas yang tertimpa oleh sinar matahari. "Aku sudah memperingatkanmu saat Potter mulai mendekatimu, dia pasti akan meninggalkanmu demi Ginny Weasley. Dan dugaanku itu memang benar. Orang seperti Potter, tidak akan pernah mendekati seorang Slytherin seperti kita tanpa ada maksud tertentu."

Draco menundukkan kepalanya. Sebut saja ia bodoh karena mengharapkan Harry akan mencintainya dengan sepenuh hatinya. Harry adalah pahlawan dunia sihir, bagaimana mungkin ia bisa mencintai seorang putera dari pelayan musuh besarnya? Bahkan bermimpi pun pasti tidak, dan Draco pikir firasat temannya yang terlalu paranoid itu adalah salah dengan penilaiannya akan Harry yang mungkin saja mempermainkannya, nyatanya Draco sendirilah yang salah. Sejak dulu Harry selalu membenci Lucius Malfoy karena ayahnya membuat Harry dan keluarga Weasley menderita, apakah ini adalah balas dendam yang Harry lakukan kepada keluarga Malfoy? Meniduri putera Lucius sampai dia hamil sebelum mencampakkannya? Berbagai pertanyaan muncul di benak Draco, ia tidak ingin memikirkannya, namun tetap saja kenyataan pahit akan terus menghampirinya. Harry Potter telah meninggalkannya, bahkan mungkin ia mendekati Draco karena ia ingin balas dendam kepada Lucius yang dulu pernah menyakiti Weasley. Mimpi yang berlatarkan fantasi yang Draco bayangkan sebelumnya langsung pupus ketika menemui kenyataan yang pahit.

Remaja berparas rupawan itu menghela nafasnya, ia mengelus perutnya yang sudah terlihat sangat besar itu dengan penuh kasih sayang, seulas senyum lembut muncul di wajah manisnya saat ia merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya. Bayinya begitu aktif, seperti Harry yang begitu enerjik dan tidak mau diam dalam satu tempat yang sama. Meski sang ayah dari bayinya adalah Potter, Draco akan tetap menjaga bayi mereka dan memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada bayi ini.

Sebuah pertanyaan besar pun melanda pikiran remaja itu, ia tidak mungkin tinggal di tempat yang telah memberinya mimpi buruk seperti ini, hal seperti itu tidaklah sehat bagi bayinya serta dirinya. Ia butuh tempat yang baru, kala bisa jauh dari hinaan orang-orang terhadap dirinya, serta jauh dari Harry yang mungkin saja akan melaksanakan pernikahannya dengan Ginny Weasley pada waktu yang dekat ini.

"Blaise." Panggil Draco. saat ia mendapat perhatian dari temannya itu, Draco pun melanjutkan, "Kelihatannya aku harus pergi dari negara ini. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri dan membasarkan bayi ini, rasanya aku tidak mungkin melakukannya itu di Inggris dimana masih banyak orang yang tidak suka padaku."

"Kau ingin pergi dari sini?" Tanya Blaise. Kedua mata Hazelnya menatap obyek yang terus menghiasi mimpinya sejak dulu dan saat ini berada di hadapannya, ia pun akhirnya menghela nafas lega ketika ia melihat Draco menganggukkan kepalanya, memberinya sebuah jawaban positif yang dinilai sangat bijak itu. Demi dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya. "Aku mengerti. Aku akan memberi tahu Pansy mengenai ini, mungkin saja gadis itu setuju untuk pindah bersama, dan aku rasa Italia adalah tempat yang bagus untuk tinggal."

"Italia? Negara asalmu?"

Blaise tertawa singkat ketika mendengar pertanyaan kawannya itu, ia saja hampir lupa kalau dirinya bukanlah sepenuhnya orang Inggris seperti remaja manis yang ada di sampingnya itu. Meski ibunya adalah orang Inggris, tapi ayah kandung Blaise Zabini itu adalah penyihir berkebangsaan Italia.

"Iya, kau bisa tinggal di salah satu Zabini Manor yang ada di sana, kurasa Roma dan kota di sekitarnya akan menjadi tempat yang bagus untuk tinggal dan membesarkan anak-anakmu nantinya," sahut Blaise lagi, tangan kanannya membelai perut besar Draco dan dirinya pun mau tidak mau tertawa kecil saat ia merasakan tendangan yang cukup kuat dari bayi yang ada di sana. "Merlin, putramu nanti akan jadi orang yang sangat kuat. Lihat saja tendangannya, kuat sekali!"

Tentu saja kuat, terlebih ayah dari bayi ini adalah Harry, batin Draco saat ia merasakan bayinya memberikan respon yang positif akan rencana yang Draco miliki dengan Blaise itu.

Draco memberikan senyuman manis kepada temannya itu, ia senang Blaise tidak menelantarkannya seperti yang Harry lakukan padanya meskipun ia telah berlaku tidak adil pada pemuda itu. Ia tahu kalau temannya tersebut memiliki perasaan yang lebih pada Draco, namun Draco tidak sampai hati untuk menerimanya sebab ia tahu kalau ada orang lain yang lebih baik untuk Blaise ketimbang dirinya. Draco sudah ternoda, dan terlebih lagi perasaannya masih mengatakan kalau ia mencintai Harry, ia tidak ingin membuat Blaise kecewa untuk menangguk perasaan sepihak yang tidak mungkin bisa berubah. Draco tidak ingin Blaise menjadi seorang pengganti, pemuda itu tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu. Blaise berhak mendapatkan orang yang seratus kali lipat lebih baik dari Draco.

Remaja manis berambut pirang platinum itu terkejut saat Blaise memeluk tubuh kecilnya dengan erat, namun tidak terlalu erat sampai membuat Draco tidak nyaman. Draco yang awalnya kaget hanya bisa diam, namun saat ia merasa pelukan itu adalah bukti kalau Blaise peduli padanya langsung membuat dirinya rileks dalam pelukan temannya tersebut.

"Aku tidak akan membiarkan Potter atau siapapun lagi untuk menyakitimu." Bisik Blaise di telinga Draco. "Kalau aku bertemu dengan si brengsek itu lagi, aku tidak akan segan untuk mengutuknya sampai dia bersujud minta ampun di hadapanmu."

"Terima kasih, Blaise. Itu sangat berarti bagi kami."

Dan pada malam yang sama, Draco Malfoy beserta kedua temannya Blaise Zabini dan Pansy Parkinson meninggalkan Inggris dan tidak terlihat lagi sejak saat itu, dan keesokan harinya berita mengenai kepindahan ketiga pewaris keluarga penyihir berdarah murni tertua itu tersebar di seluruh penjuru Inggris, namun mereka tidak tahu ke mana mereka pindah ataupun alasan yang melandasinya.


Grimmauld Place Number 12

Harry melemparkan Daily Prophet yang tadi ia baca secara singkat ke lantai, ia tidak ingin membaca sampah yang menyebarkan berita bohong seperti itu. Edisi Daily Prophet kali ini adalah membuat berita mengenai dirinya, namun ia juga menampilkan wajah pewaris dari keluarga Malfoy ke arah perapian, ia tidak ingin mendengar ataupun membaca berita bohong seperti itu. Ia sangat yakin kalau kekasih manisnya itu tidak lah meninggalkannya seperti yang berita rendahan yang ditulis oleh Rita Skeeter. Bagaimana mungkin Draco meninggalkannya kalau baru dua hari yang lalu Draco mengucapkan 'Aku bersedia' padanya ketika Harry melamar pemuda itu, bahkan jelas-jelas Draco sangan mencintainya? Ini semua tidak masuk akal, dan terlebih lagi Draco tengah hamil dengan anaknya. Harry mengepalkan kedua tangannya dengan erat, merasakan frustasi kembali menghampiri dirinya karena kebingungan yang sedari tadi ia rasakan.

Pemuda tampan bermata emerald itu tidak bisa membayangkan kekasihnya yang tengah mengandung tujuh bulan itu meninggalkannya, pasti ada alasan yang masuk akal untuk menjelaskan semua ini padanya. Namun apa itu? Harry sendiri juga tidak tahu.

Sebuah ketukan kecil dari kaca jendelanya membuyarkan konsentrasi Harry dari lamunannya mengenai Draco, pemuda itu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju arah jendela. Ia membuka jendelanya untuk membiarkan seekor burung hantu masuk ke dalam rumahnya. Harry menatap burung itu dengan sedih karena lagi-lagi Harry menemukan Draco tidak membaca suratnya dan langsung mengembalikannya pada Harry, hal ini sudah berlangsung selama dua hari penuh semenjak pemuda itu pergi tanpa kabar dari hadapannya.

Selama dua hari ini Harry tidak bisa tidur dengan nyenyak, perasaannya yang gundah itu memaksa pemuda berambut hitam tersebut untuk terus terjaga. Pikiran jernih yang seharusnya muncul di sana pun langsung lenyap karena kekhawatirannya mengenai keberadaan Draco, dan dari apa yang Harry tahu kalau seorang penyihir yang tengah hamil itu tidak boleh melakukan sihir secara terus menerus bila mereka tidak ingin keadaan bayi yang tengah dikandung menjadi buruk. Harry khawatir, bahkan kekhawatirannya ini membuatnya tidak konsentrasi dalam melakukan pekerjaannya sebagai Head Auror. Harry tidak ingin melewati masa-masa dimana konsentrasinya serasa seperti kertas putih bersih ketika rapat Wizengamot berlangsung kemarin, konsentrasinya terlalu fokus pada keberadaan Draco, dan bahkan ia pun tidak peduli pada tatapan ganas yang Zabini berikan pada waktu lalu.

"Sebenarnya kau ada di mana, Dray? Aku khawatir padamu." Gumam Harry pada dirinya sendiri, pemuda itu membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang tertelungkup di meja. Rasanya Harry ingin berteriak, tapi semua rasa frustasinya itu terhambat karena ia merasa semua itu tidak berguna.

Harry mengacak rambut hitamnya yang berantakan untuk kesekian kalinya pada hari ini sebelum ia beranjak dari meja belajarnya untuk berjalan ke arah dapur. Kedua matanya menatap pemandangan musim gugur yang terlihat dari balik jendela yang terpasang di dapur, dari sana ia bisa melihat daun-daun pohon maple yang berwarna merah berguguran sementara matahari yang hangat bersinar di luar, membuat silhuet merah yang kemilau terasa sangat nyaman. Musim gugur merupakan musim yang sangat indah, ia masih mengingat bagaimana Draco pernah mengatakan kalau ia sangat menyukai musim gugur, lebih dari musim semi maupun jenis musim lainnya.

"Kau tahu, Harry, musim gugur adalah musim favoritku sepanjang tahun. Bahkan rasa sukaku pada musim gugur melebihi dengan kecintaanku pada Quidditch."

Harry menghela nafas berat, ingatan mengenai Draco ketika mereka menikmati musim gugur tahun lalu masih melekat padanya. Pada saat itu Draco memberitahunya kalau ia begitu menyukai musim gugur, Draco beranggapan kalau musim gugur adalah akhir dari masa lalu yang membayangi pikiran manusia, bisa dikatakan musim gugur adalah awal dari musim baru yang mengartikan kehidupan manusia akan dimulai sebentar lagi. Sebuah filososfi yang aneh, tapi saat itu Harry hanya tersenyum kecil mendengarnya.

Melihat pemandangn indah yang ada di luar jendela itu membuat Harry membayangkan ia dan keluargannya menikmati itu semua, dimana ia dan Draco duduk di bawah pohon berdua sambil berpelukan, sementara putra mereka bermain bersama Teddy di sana. Sebuah bayangan tentang keluarga ideal yang sempurna, namun semua itu harus hancur saat Draco pergi dari hadapan Harry begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata untuk Harry.

Pemuda bermata emerald itu menyipitkan matanya, ia yakin kalau ada sesuatu yang ia lewatkan di sini. Draco tidak mungkin pergi begitu saja seperti seorang pengecut tanpa kabar, kekasihnya itu pasti punya alasan yang sangat kuat, namun alasan yang dimaksud masih menjadi teka-teki untuk Harry.

Harry mengambil sebotol fireswhisky dan sebuah gelas dari dalam kabinet dapurnya, dengan cepat ia pun menuangkan firewhisky tersebut dan menengguknya dalam sekali teguk. Rasa panas yang disebabkan oleh minumannya itu Harry hiraukan, pikirannya masih berputar keras untuk mencari tahu alasan kekasihnya itu pergi tanpa pamit.

"Damn it, ini semua tidak berguna!" teriak Harry dengan suara dan raut wajah penuh kefrustasian. Pemuda yang dijuluki sebagai pahlawan dunia sihir itu membanting botol firewhisky yang ia pegang jauh-jauh dari hadapannya, membuatnya terbanting ke dinding. Bunyi botol yang pecah pun terdengar cukup kencang dalam ruangan itu, namun semuanya Harry hiraukan.

Konsentrasi Harry buyar saat ia mendengar perapian di Grimmauld Place nomor 12 tiba-tiba menyala, mengindikasikan bahwa akan ada orang yang mengunjungi Harry lewat perapian Floo. Dan satu menit kemudian Harry pun melihat dua orang sosok yang sangat ia kenal masuk ke dalam rumahnya. Luna Lovegood dan Neville Longbottom, dua orang sahabat Harry selain Ron dan Hermione.

"Hello, Harry. Bagaimana kabarmu saat ini?" Tanya Neville dengan senyum kecil di wajahnya. Wajah Neville yang tampan itu kelihatan berseri-seri meski tatapan matanya menujukkan kekhawatiran yang ia rasakan untuk Harry, bahkan senyum yang muncul di bibirnya itu terasa sangat dipaksakan.

Harry menyipitkan matanya, senyuman yang Neville berikan itu tidak tersirat dalam matanya, seperti ada sesuatu yang dipaksakan dan disembunyikan. "Tidak terlalu baik, tapi aku senang kalian berdua mampir ke tempatku," kata Harry dengan jujur.

Ia merasa sangat lega begitu mengetahui kalau tamunya saat ini bukanlah Ron maupun Hermione, ia tidak sanggup untuk menerima kedua temannya saat ini. Semenjak Harry menjalin hubungan dengan Draco, hubungannya dengan kedua teman baiknya itu tidaklah berjalan mulus seperti apa yang terjadi di masa lalu. Keduanya menentang hubungannya dengan Draco, mereka beranggapan kalau Harry telah diracuni menggunakan mantra cinta sehingga ia pun menjadi tergila-gila pada Draco yang seorang Malfoy itu. Menurut Ron dan Hermione juga, harusnya Harry itu bersama Ginny dan menikahinya, membuat tiga orang anak yang memiliki darah Weasley dan Potter. Mungkin karena sikap Ron dan Hermione yang Harry rasa terlalu berlebihan, ia pun sedikit mengurangi bertemu dengan mereka, bahkan sekarang ini Harry lebih dekat dengan Luna dan Nevilla ketimbang dengan dua dari Trio Gryffindor semasa di Hogwarts.

Luna yang memiliki tatapan begitu jauh yang mengisyaratkan kalau ia taju akan sesuatu itu tersenyum kecil seperti biasanya, sementara Neville yang sedikit merasa canggung itu hanya memberikan anggukan singkat kepada Harry dengan penuh pengertian.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Harry yang penasaran dengan kedatangan mereka berdua.

"Ah, seperti biasa Harry. Kami hanya ingin berkunjung ke tempatmu, melihat bagaimana keadaanmu, dan bertegur sapa antar sesama teman lama," balas Luna dengan nada renyah, namun di balik nadanya yang ramah itu Harry bisa merasakan kalau ada yang tengah disembunyikan oleh Luna.

"Yang dikatakan oleh Luna itu benar, kami baru saja mendengar kabar mengenai..." Neville tidak melanjutkan perkataannya karena glare intensif yang Harry berikan padanya, hal itu membuatnya gugup dan berkeringat dingin seperti murid tahun pertama yang akan diseleksi dengan ujian yang sangat rumit. Bagaimana tidak ia berpikiran demikian? Harry Potter adalah penyihir terkuat sepanjang masa setelah Dumbledore dan Voldemort, ditambah lagi ia bisa mengalahkan Voldemort di usia 17 tahun semakin menambah keyakinan kalau Harry memang sangat kuat, bahkan Neville mampu bersumpah kalau tatapan ganas yang Harry berikan tadi diselingi oleh sihir yang membuatnya merinding.

"Maksud dari Neville adalah kami ingin tahu bagaimana keadaanmu setelah Draco pergi, Harry." kata Luna, ia memegang tangan Neville untuk memberinnya dorongan moral.

Merasa seperti orang bodoh karena telah memberikan glare yang sangat kejam pada Neville, Harry menghela nafasnya sebelum mengangguk kecil. Ia meletakkan gelas yang ia pegang kembali ke atas meja sebelum menyentuh wajahnya dengan perasaan begitu lelah. Ia tahu kalau mereka berdua merasa khawatir padanya, namun Harry tidak ingin melihat tatapan penuh kasihan yang ditunjukkan padanya.

"Maafkan aku, Nev." Kata Harry pada akhirnya.

"Tidak apa-apa, Harry, aku tahu kalau kau sedang mengalami saat-saat yang sulit karena Draco menghilang." Ujar Neville dengan senyum kecil di wajah tampannya.

Harry mencoba untuk tersenyum, tetapi yang bisa ia berikan hanyalah sebuah senyuman hampa tanpa ada emosi apapun di dalamnya, hal ini tentu membuat Luna dan Neville berpandangan untuk beberapa saat lamanya. Ia merasa hatinya hilang bersama Draco, betapa Harry merindukan kekasihnya itu dan bayinya.

"Apa kau sudah tahu ke mana Draco pergi? Mungkin kami bisa membantu." Kata Neville.

"Terima kasih, tapi aku tidak tahu di mana ia berada sekarang ini. Semua surat yang aku kirimkan padanya langsung dikembalikan padaku tanpa dibuka, kelihatannya Draco tidak ingin aku mengetahui di mana ia bersembunyi." Jawab Harry, nada penuh akan keputusasaan mulai terdengar di sana.

"Mengapa ia harus bersembunyi padamu? Semuanya tidak masuk akal."

"Itulah yang ingin aku ketahui, Nev. Rasanya ini tidak seperti Draco yang pergi tanpa bilang sebelumnya padaku, bahkan saat kami bertengkar dan ia pergi ke suatu tempat pasti dia akan bilang padaku, paling tidak ia akan memakiku." Ujar Harry dengan nanda sayu, "Aku sangat khawatir padanya, terlebih lagi dia tengah hamil dan keadaan tubuhnya juga tidak baik."

Luna yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara, "Aku juga khawatir pada Draco, tubuh Draco sangat lemah bahkan untuk ukuran seorang penyihir. Dan bisa membawa seorang bayi dalam tubuhnya sampai saat ini adalah keajaiban yang sangat besar, aku khawatir akan kondisinya sekarang ini."

Harry memberikan senyuman kecil pada ucapan Luna, ia senang temannya itu memiliki kekhawatiran yang sama dengan dirinya.

"Mungkin info dari Pansy yang aku terima bisa membantumu untuk menyelesaikan masalah ini. Dari sini mungkin kau akan tahu alasan Draco pergi, Harry." Kata Luna dengan senyum misteriusnya.

Baik Harry dan Neville langsung menengok ke arah Luna, tidak pernah dalam mimpi buruk mereka berdua kalau Luna Lovegood ternyata berteman dengan Pansy Parkinson. Membayangkan itu saja sudah bisa membuat mereka berdua merinding hebat.

"Aku tidak tahu kalau kau berteman dengan Pansy Parkinson." Ujar Neville.

Sebuah seringai tipis muncul di bibir Luna, membuat Neville merinding lagi. "Ada banyak hal yang tidak kalian ketahui tentangku." Jawab Luna dengan efek yang mendramatisir.

Mencoba untuk menghilangkan fakta kalau kedua wanita yang sama-sama anehnya itu berteman, Harry akhirnya bertanya, "Apa yang Parkinson katakan mengenai semua ini, Luna? Apakah ia tahu mengapa Draco pergi dari Inggris dengan tiba-tiba seperti ini?"

Luna menganggukkan kepalanya, "Pansy mengatakan padaku kalau semua ini adalah salahmu, Harry."

"Apa maksudmu?" tanya Harry, ia tidak mengerti akan maksud Parkinson yang menyalahkan dirinya.

"Harry, aku ingin bertanya padamu dulu. Apa kau memberikan cincin ibumu kepada Ginny?"

"Aku tidak mengerti, apa hubungannya cincin milik ibuku dengan Draco yang pergi?"

"Jawab saja, Harry."

Harry menatap Luna dengan mata tajam, "Tidak, aku tidak pernah memberikan cincin pada... Tunggu!" Harry mulai mengerti akan maksud Luna, "Aku tidak pernah memberikan apapun yang berbentuk cincin pada Ginny, tapi Draco….. jadi Draco pergi karena kesalahpahaman kalau aku melamar Ginny dengan cincin ibuku? Itu tidak akan pernah terjadi." Kedua mata hijau emerald itu membuka lebar saat ia mulai mengerti duduk permasalahannya

Melihat Harry yang histeris membuat Neville bersimpati pada temannya, "Bukan hanya salah paham saja, Harry, tapi pemberitaan di Daily Prophet dan fakta kalau Ginny mengenakan cincin ibumu adalah buktinya." Kata Neville, ia menyodorkan sebuah koran pada Harry.

"Dan tidak hanya di sana saja, Ginny juga pergi menemui Draco dan memintanya untuk tidak menemuimu sebab kalian akan 'menikah' seminggu lagu." Tambah Luna, ia mengambil nafas panjang. "Terlebih lagi Ginny juga mengatakan kalau kau hanya bermain-main dengan Draco dan bayi yang ada di dalam kandungan Draco adalah anak haram, dari apa yang aku dengar Ginny mengancam kalau ia akan membunuh bayi yang ada dalam kandungan Draco kalau Draco masih berani menampakkan wajahnya di hadapanmu."

Mendengar itu membuat darah Harry mendidih, ia tahu kalau Ginny begitu terobsesi dengannya dan meminta Harry untuk menikahinya. Namun tidak pernah dalam mimpi buruknya ia membayangkan kalau mantan kekasihnya itu akan melakukan cara yang licik seperti itu untuk memisihkan dirinya dengan Draco, dan pertanyaan besarnya adalah bagaimana mungkin Ginny bisa memakai cincin milik ibunya ketika ia tidak pernah memberikan benda itu pada wanita jalang itu? Harry memberikan glare pada gambar Ginny yang memamerkan cincin 'pertunangan' mereka pada Daily Prophet, tidak heran kalau Draco langsung pergi meninggalkannya.

Draco pasti berpikiran kalau Harry mengkhianatinya, dan dengan perasaan yang sangat rapuh seperti Draco pasti dia merasa sangat sakit. Kondisi Draco yang tengah hamil sudah sangat mengkhawatirkan, ditambah pula dengan perlakuan Ginny padanya. Harry meremas koran Daily Prophet yang ada di tangannya sampai lumat, sihirnya berubah menjadi liar sementara kedua matanya terasa sangat tajam.

Kalau saja terjadi apa-apa dengan Draco atau bayi mereka berdua, Harry tidak akan memaafkan Ginny. Ia akan membuat perhitungan dengan wanita jalang itu!


AN: Rewrite dan Repost dari chapter 1. Terima kasih sudah mampir dan membaca

Author: Sky