"Appa, Umma."
"Hm?" kor Jaejoong dan Yunho.
"Kalian sayang Min-ie?"
Yunho dan Jaejoong tersenyum kecil, "Tentu saja."
Changmin menggigit bibir bawahnya kuat.
"Kalian tak akan pernah tinggalin Min-ie kan?"
Yunho dan Jaejoong serentak memiringkan badan menatap Changmin yang menatap atap kamar dengan pandangan yang susah ditebak karena pencahayaan ruangan yang minim.
Jaejoong merapikan poni rambut Changmin, "Kenapa bertanya seperti itu 'hum? Tentu saja Umma tak akan meninggalkanmu."
Changmin menatap Yunho, "Appa?"
Yunho tersenyum kecil, "Appa tak mungkin tega meninggalkanmu."
Ingin rasanya Changmin menangis mendengar ucapan Yunho. Changmin menggenggam tangan kedua orang tuanya.
"Peluk Min-ie. Katakan kalian sayang Min-ie."
Yunho dan Jaejoong dengan lembut dan penuh kasih sayang melingkarkan lengan mereka ke tubuh Changmin.
"We Love you."
.
.
.
BLUE DAFFODIL
Han Rae
Mianhae...
Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.
Rate :: T
Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS
Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changmin as Supporting role
Dont Like Dont Read
Please press back button...
Flame Allowed* but with solution too...
Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...
Review Please...
.
Now Playing;
Heaven's Day – Changmin || November With Love - Yunho
.
.
.
Future Child
[Chapter 5]
.
.
.
Pagi yang cerah. Yah, setidaknya hanya kata itu yang bisa mendeskripsikan pagi ini. Burung-burung berkicau riang. Langit pagi yang cerah. Udara musim semi yang sejuk. Orang-orang dengan semangatnya bergelung dengan indahnya hari ini. Haah, indahnya pagi ini... tapi... sepertinya itu tidak berlaku untuk kedua orang yang masih terlelap di atas tempat tidur.
Jaejoong dan Changmin—nama kedua orang itu, masih asik bergelung dengan nyamannya tempat tidur dan tidak mempedulikan indahnya pagi ini, lain halnya dengan sang Appa yang baru saja kembali dari rumah untuk mengambil seragamnya.
Yunho menyerit menatap keadaan rumah Jaejoong yang masih sepi. Ia sudah kembali ke rumahnya lalu kembali lagi ke rumah Jaejoong tapi keadaan rumah ini masih saja sepi.
Yunho berjalan cepat ke arah kamar kedua orang tua Jaejoong. Ia menghela nafas berat melihat pemandangan kedua namja yang masih berenang di alam mimpi itu.
"Jae! Changmin! Bangun!" Yunho menarik paksa selimut yang dikenakan Jaejoong dan Changmin, namun kedua namja itu hanya mengerang lalu kembali melanjutkan tidur.
Yunho mendesis kesal, Ia memutar otak mencari cara untuk membangunkan kedua namja di hadapannya. Seringai terlukis di wajahnya ketika sebuah ide—jahil, terlintas di otaknya.
Yunho berdiri tepat di depan tempat tidur. Ia menatap wajah damai kedua namja di hadapannya lama sebelum Ia menarik nafas dalam dan berteriak...
"JAE! CHANGMIN! KEBAKARAAAN!"
SRAK!
Kedua namja berbeda umur itu bersamaan menegakkan tubuh sembari berteriak. Yunho hanya bisa tersentak kaget melihat pergerakan tiba-tiba kedua namja itu.
"BWOO!? UMMA! UMMA! EOTTOKE!?" Changmin panik.
"MOLLA! AH! MIN! EOTTOKE!?" Jaejoong juga panik.
"MIN KAN TANYA UMMA! KENAPA UMMA TANYA MIN BALIK!?"
"UMMA PANIK MIN!"
"MIN JUGA PANIK UMMA!"
"LALU GIMA—"
"BUAHAHAHAHA!" Yunho yang tak sanggup lagi menahan tawa kini tertawa keras sembari memegang perutnya. Jaejoong dan Changmin menatap Yunho bingung namun 30 detik kemudian pekikan nyaring terlempar dari mulut mereka—dan hal itu sontak membuat tawa Yunho semakin menjadi.
Jaejoong yang geram langsung menghampiri Yunho dan memukul tubuh Yunho kesal.
"YAK! BERHENTI TERTAWA! KAU KIRA INI LUCU APA!?"
"Hua—aw! Henti—khukhukhu Jae, kau harus lihat betapa lucunya muka ka—AW! Ya! Berhenti memukulku!"
"Appa jahat! Min-ie panik tau!" Changmin kini melampiaskan kekesalannya pada Yunho dengan memukuli tubuh Yunho dengan bantal.
"Aw! Aw! Yah! Itu kan salah kalian! Kenapa dari tadi ga bangun-bangun! hish! Hentikan memukulku! Lebih baik kalian cepat, aku akan membuat sarapan!" Yunho melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
Pergerakan tangan Changmin sontak berhenti ketika mendengar kata 'sarapan' terucap dari mulut Yunho. Mata Changmin berubah menjadi lebar dan senyuman lapar—eh salah maksudnya, senyuman ceria terlukis di wajah imutnya.
Yunho terkikik geli melihat reaksi Changmin, "Min mau sarapan 'eoh? Sana cepat mandi! Ajak Umma juga sekalian!"
Tanpa membiarkan Jaejoong bicara sedikit 'pun Changmin langsung menyeret Jaejoong ke dalam kamar mandi.
Yunho tertawa pelan ketika Ia mendengar pekikan protes Jaejoong sebelum pintu kamar mandi tertutup. Setelah menggeleng pelan Ia beranjak meninggalkan kamar.
Yunho terdiam sejenak ketika Ia sudah berada di dapur. Ini pertama kalinya Ia menyiapkan sarapan dan dia bingung harus menyiapkan apa. Kalau Ia tak membuat apapun bisa dipastikan Changmin akan marah besar.
"Roti. Ah, ya. Roti saja," Yunho bergumam sebari mendekati kantung roti. Yunho menatap selembar roti di tangannya bingung.
"Polos saja? Tidak enak! Hum..." Yunho menatap ke seluruh dapur mencari sesuatu yang enak untuk di tambahkan pada roti, senyum lebar tercetak ketika Ia berhasil menemukan stoples kecil selai.
Yunho mengoleskan selai itu pada roti dengan senyuman di wajahnya. Tak bisa dipungkiri, Ia sangat merindukan kegiatan pagi hari—sarapan ini, entah kapan terakhir kalinya Ia sarapan. Yunho sama sekali tak menyukai waktu sarapan karena kala itu Ia benar-benar merasakan dirinya sendiri, walaupun banyak sekali Butler dan Maid di rumahnya tetap saja Yunho merasa kosong dan kekosongannya itu benar-benar terasa ketika Ia harus duduk sendiri di meja makan mewahnya tanpa ada sosok kedua orang tuanya.
Yunho menghela nafas perlahan. Kembali mengingat hari-hari kelamnya di rumah membuat perasaannya tak enak.
Puk!
Yunho sedikit tersentak ketika merasakan tepukan di pundaknya. Yunho berbalik dan menatap Jaejoong yang menatapnya heran.
Jaejoong memiringkan kepalanya, "Ada apa? Kenapa kau bengong, Yun?"
"Ah? Tidak kok. Tidak ada apa-apa."
Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda—mengeringkan rambut pirangnya. Jaejoong menunjuk roti yang baru selesai Yunho olesi selai.
"Yun, bisakah lebih banyak? Kalau hanya segitu tak cukup untuk porsi Changmin."
Yunho mengangguk cepat lalu kembali mengolesi roti dengan selai. Selagi Yunho mengolesi roti, Jaejoong memasuki bilik dapur.
"Yun, mau teh atau susu?"
"Apa kau punya kopi Jae?" tanya Yunho tanpa menatap Jaejoong, namun karena Jaejoong tak menjawab, Yunho berbalik menatapnya heran.
"Kopi?" Jaejoong mengulangi perkataan Yunho tak percaya.
"Ne, wae?"
Jaejoong terdiam sejenak lalu tawanya meledak, "Kau seperti orang tua minum kopi di pagi hari!"
Yunho terdiam terpana menatap tawa Jaejoong. Matanya yang menyipit, senyum lebarnya... ya tuhan... dia sangat cantik.
"Yun, kopinya mau tambah susu gak?"
"B-boleh saja," Yunho mengumpat dalam hati ketika Ia selesai menjawab pertanyaan Jaejoong. Yunho tak mengerti kenapa Ia bisa merasakan perasaan aneh saat menatap Jaejoong tertawa!?
Dak! Dak! Dak!
Yunho dan Jaejoong sontak menatap tangga ketika mendengar suara derap kaki yang memburu, tak lama sosok Changmin dengan senyum lebarnya terlihat.
"Sarapannya sudah?"
Yunho tersenyum lalu mengisyaratkan Changmin untuk duduk. Jaejoong membawa nampan berisi tiga gelas; dua gelas susu dan segelas kopi, ke meja makan lalu menaruh kopi di hadapan Yunho, segelas susu untuk Changmin dan segelas lagi untuknya.
"Min, hari ini Umma dan Appa kan sekolah, kamu tidak kenapa-napa sendirian di rumah?" Jaejoong bertanya sembari menaruh beberapa lembar roti di piring Changmin.
Changmin terdiam sejenak lalu mengangguk, "Gak papa Umma~ Min kan sudah 13 tahun!"
Yunho tersenyum lalu mengusap rambut Changmin, "Biar kamu gak bosan, Appa sudah bawakan sesuatu untukmu."
Changmin menatap Yunho dengan mata yang berbinar, "Jinja? Appa bawa apa?"
"Nanti habis selesai sarapan akan Appa kasih."
Changmin mengangguk semangat lalu kembali memakan sarapannya. Yunho menatap Changmin lembut tanpa menyadari pandangan Jaejoong padanya. Pandangan yang sulit untuk di jelaskan.
Yunho menatap Jaejoong yang baru saja selesai meminum susunya. Jaejoong berkedip bingung ketika melihat Yunho tertawa geli di hadapannya.
"Waeyo?" tanya Jaejoong tak mengerti. Yunho menggelengkan kepalanya, Ia tersenyum lalu mengusap bibir Jaejoong pelan. Jaejoong terkesiap, tanpa di komando warna merah menjalar indah di wajahnya.
Yunho yang sadar akan perbuatannya membuat wajah Jaejoong memerah sempurna, tak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Ada bekas susu di bibirmu," ucap Yunho lembut ketika Jaejoong menggigit bibir bawahnya gugup. Jaejoong mengangguk kaku lalu—berpura-pura, fokus pada sarapannya.
Yunho menelan tetes terakhir kopinya, Ia menatap Changmin dan Jaejoong bergantian.
"Min sudah selesai?" Changmin mengangguk cepat, sepertinya Ia tak sabar menerima barang dari Yunho, "Jae kau sudah selesai?" Jaejoong mengangguk walaupun pipinya bergembung karena sedang mengunyah.
Yunho berjalan ke ruang tamu di ikuti oleh Changmin sedangkan Jaejoong sibuk mengunyah sekaligus membereskan meja makan.
"Nah. Ini untukmu!"
Changmin menatap kagum benda pemberian Yunho, "Hua! Daebak! Ponsel dan PSP edisi kuno!"
"Ah, sebenarnya itu edisi terbaru saat ini Changmin." Yunho mengurut dahinya, Ia tahu Changmin tak ada maksud mengejeknya, tapi tetap saja kata-kata Changmin jleb banget untuknya.
Changmin menatap Yunho lalu tersenyum lebar dan memeluk Yunho erat, "Gomawo, Appa~ Min suka sama ponsel dan PSPnya."
Yunho tersenyum lalu menepuk-nepuk kepala Changmin.
"Nah. Jaejoong! Cepat! Nanti kita bisa terlambat!"
Jaejoong menuruni tangga secepat yang Ia bisa sembari menenteng tasnya. Jaejoong menatap Yunho kesal, "Tidak usah teriak juga aku dengar kali! Hie!"
Yunho memutar bola matanya tak peduli dan lebih memilih untuk mengenakan sepatunya, setelah selesai pandangan matanya kembali tertuju pada Changmin.
"Changmin, Appa pergi dulu ne!" Yunho memeluk Changmin erat yang tentu saja Changmin balas.
"Umma pergi ya!" kini giliran Jaejoong yang telah selesai mengenakan sepatu memeluk erat Changmin.
Yunho dan Jaejoong bergantian mengecup kepala Changmin. Changmin mengantarkan kedua orang tuanya sampai pagar rumah Jaejoong.
"Appa~ Umma~ hati-hati di jalan!"
. . . .
Pagi hari ini mungkin adalah pagi hari paling mengejutkan bagi Dong bang High school. Seluruh murid menatap tak percaya pemandangan di depan gerbang, bahkan beberapa murid menganga dan menggosok kedua matanya saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, kedua biang keramaian Dong bang High school yang setiap hari—tanpa terkecuali, selalu bertengkar dan meributkan sesuatu—yang menurut murid-murid adalah suatu hal yang tak penting untuk diributkan, kini datang tepat waktu—mungkin untuk sang ketua OSIS datang tepat waktu itu biasa tapi untuk sang preman cantik yang selalu datang nyaris terlambat atau bahkan terlambat, datang tepat waktu adalah sebuah kemajuan peeessaaaat yang sangat mengejutkan, mereka berdua datang bersamaan tanpa adu mulut dan yang paling mengejutkan adalah mereka berbicara dengan riang dan sesekali tertawa! OMO! Dunia sebentar lagi hancur! /lebeh~ #kicked
Kim Junsu selaku wakil dari sang ketua Osis hanya bisa mengerjapkan mata tak percaya dan menganga di samping Park Yoochun yang hanya tersenyum geli melihat sang ketua Osis dan teman terbaiknya memasuki gerbang.
"Sudah aku duga mereka akan berangkat bersama, ckckck."
Junsu mengerjap menatap Yoochun dengan memiringkan kepalanya.
"Kamu sudah menduganya?"
Yoochun tersenyum, "Yup. Wajarlah tadi malam Yunho menginap di rumah Jaejoong."
Bola mata Junsu membesar dengan lucunya, suara 'eeeeh' keluar dari mulutnya yang terbuka. Melihat reaksi terkejut Junsu yang lucu membuat Yoochun terkikik.
"Kenapa bisa Yunho menginap di rumah Jaejoong? Bukannya mereka musuhan ya?"
"Itu dulu. Aku pikir mereka sudah tidak mungkin bermusuhan satu sama lain," ucap Yoochun sembari menatap ke arah Jaejoong yang melambaikan tangannya ke arah Yoochun.
Junsu menatap Yunho dan Jaejoong yang kini telah berada di hadapannya. Yunho yang menyadari pandangan Junsu hanya ke arahnya menatap Junsu heran namun belum sempat Yunho ataupun Junsu berucap dering bel terdengar di seluruh penjuru sekolah.
Yunho menghela nafas lalu menarik Junsu, "Yoochun, makan siang ketemu di tempat kemarin, ajak Jaejoong juga. Sekarang kalian cepat masuk ke kelas!" ucap Yunho sembari menarik Junsu ke arah gerbang. Yoochun mengangguk singkat lalu menggiring Jaejoong memasuki kelas.
Lain halnya dengan Yunho dan Junsu yang sehabis melaksanakan tugas mereka sebagai anggota Osis dan penegak kedisiplinan langsung ke kelas dan menerima pelajaran dengan baik, Jaejoong malah terus menguap dan bahkan tertidur di sepanjang pelajaran, tak jauh beda dengan Yoochun yang malah asik browsing di ponselnya selama jam pelajaran.
Saat bel istirahat berdering, Yoochun menatap sang sahabat yang masih berkelana di dunia mimpi. Yoochun menghela nafas lalu berdiri di samping meja Jaejoong Ia sedikit menunduk untuk memastikan apa Jaejoong benar-benar tidur apa sudah mati/kicked.
Ide usil terlintas di otaknya. Dengan seringai di wajahnya Ia mengangkat tangannya dan dalam hitungan 1... 2...
BAM!
Yoochun menggebrak meja Jaejoong. Pekikan nyaring terdengar setelahnya ditemani tawa Yoochun yang meledak tidak karuan.
Jaejoong yang mendadak terbangun langsung menendang tulang kering Yoochun kesal.
"YAK! KAU MAU MEMBUATKU JANTUNGAN APA!?"
Yoochun yang masih merintih hanya bisa nyengir sembari mengusap kakinya yang ngilu. Jaejoong mendengus kesal lalu menguap lebar.
"Kau terlihat lelah banget, kenapa? Ah... jangan-jangan kau lelah karena melayani Yunho semalaman ya?"
Jaejoong menghela nafas, "Yah, bisa dibilang, dia minta tambah jatahnya terus..."
"Minta tambah jatah? Waah~"
Jaejoong terdiam, Ia merasa janggal dengan nada suara Yoochun dan pandangan Yoochun ke arahnya. Satu atau dua detik kemudian semburat merah menghiasi wajah Jaejoong lalu sekali lagi Jaejoong menendang tulang kering Yoochun.
"HENTIKAN PIKIRAN MESUMMU ITU!"
Yoochun meringis, "Memangnya apa yang aku pikirkan?"
"K-kau pasti berpikir tentang 'itu'!" Jaejoong memekik kesal.
"Itu apa!?" Yoochun menatap Jaejoong dengan muka tak berdosa padahal Ia sangat senang karena umpannya berhasil.
"ITU LHO!"
"Yak! itu apa!?"
"JANGAN PURA-PURA GA TAU!"
"Aku emang gak tau apa yang kamu maksud!"
Jaejoong mendesis kesal, saking jengkelnya, Jaejoong menempeleng kepala Yoochun, "Berhenti menjebakku!"
Yoochun yang tahu sahabatnya satu itu sudah menyerah, tertawa girang, "Ah~ ternyata wajah cantikmu tidak menjamin kalau dirimu itu tidak mesum ya~"
"YAK! AKU TIDAK MESUM!"
Yoochun mengangguk-anggukkan kepalanya sembari melempar senyum geli ke arah Jaejoong, "Iya, iya, anggap saja aku mempercayaimu."
"INI REAL!"
"Iya, Iya."
"PARK YOOCHUN!"
Jaejoong melempar death glarenya pada Yoochun, namun Yoochun tetap saja melempar pandangan geli ke arah Jaejoong. Jaejoong yang benar sudah malu berat di goda Yoochun langsung saja memiting leher Yoochun.
"Aw! Yak! Uhuk! Kau berniat membunuhku!?" Yoochun memprotes sembari memukul-mukul lengan Jaejoong yang memiting lehernya. Jaejoong tertawa mengejek, "Siapa suruh kau menggodaku!"
"Tapi itu kan kenyata—AAW! BABO! SAKIT TAU!" Yoochun terus meronta di dalam pitingan yang sengaja Jaejoong kuatkan.
"Nyata dari mananya?! Jangan ngawur!"
"Siapa yang ngawur coba?! Cepat lepas!"
"Tak mau sebelum kau bilang kalau aku TIDAK mesum!"
"Tapi kau memang mesum!"
"MESUMAN JUGA KAMU DARIPADA AKU!"
"BWO!? Aku Cuma sedikit mesum ya!"
"SEDIKIT DAR—,"
"Haish! YAAH! Kami tunggu dari tadi ternyata kalian malah asik main!"
Soulmate couple itu serentak menatap ke arah pintu masuk. Sang ketua Osis terlihat menyilangkan tangan dengan wakilnya di ambang pintu.
"Main? Kau buta Jung? Jelas-jelas aku sedang di siksa seperti ini!" protes Yoochun sembari menunjuk-nunjuk lengan Jaejoong di lehernya. Jaejoong mendengus lalu melepas pitingannya. Yoochun melempar death glare ke arah Jaejoong yang memalingkan wajahnya kesal.
Yunho mendengus sedangkan Junsu tertawa eukyangkyang melihat tingkah laku Yoochun dan Jaejoong.
"Sudahlah, istirahat hanya sebentar lebih baik cepat kita bicarakan tentang Changmin," Yunho berucap pelan sembari berjalan ke arah Jaejoong dan duduk di bangku di depan Jaejoong.
"Changmin? Siapa dia?" tanya Junsu sembari mendudukan dirinya di meja di samping Yunho.
"Dia anak mereka." Yoochun menjawab sembari menyamankan posisi duduknya di meja Jaejoong. Junsu mengerjap, "Mereka siapa?"
Yoochun menunjuk Yunho dan Jaejoong bergantian. Junsu menatap Yunho dan Jaejoong bergantian. Sejenak berlalu dengan keheningan sebelum pekikan kaget khas lumba-lumba terdengar.
"S-s-s-sejak kapan?"
"Kapan apanya?" kor Yunho dan Jaejoong bingung.
"Sejak kapan kalian punya anak?"
Yunho dan Jaejoong saling berpandangan, "Kemarin," jawab mereka serempak. Junsu menganga tak percaya.
"Tapi? Kenapa bisa?"
Yunho dan Jaejoong menatap Junsu bingung.
"Aish... gimana cara jelasinnya?" tanya Jaejoong pada Yunho, namun Yunho hanya mengangkat pundak tak mengerti. Jaejoong menghela nafas lalu melemparkan tatapan memohon pada Yoochun.
"Kenapa jadi harus aku yang menjelaskannya?" sangsi Yoochun kesal. Jaejoong mendelik lalu mendengus kesal, Ia mendekat pada Yoochun dan membisikkan, "Jelaskan pada Junsu atau aku bocorkan kalau kau merayu SPG pada Junsu."
Bola mata Yoochun membulat lalu mendelik kesal ke arah Jaejoong, "YAH!"
Jaejoong hanya menyilangkan tangan di depan dada lalu mendengus, "Tak mau? Oke. Junsu, kau tahu, kem—"
"OK! OK! STOP IT!" Yoochun secepat kilat menutup mulut Jaejoong. Jaejoong mendelik lalu menggigit tangan Yoochun. Yoochun mengerang lalu balas mendelik ke arah Jaejoong yang mendengus kesal.
"Jadi..." Yoochun berdehem pelan lalu menatap Junsu, "...apa kamu percaya dengan kejadian melompat waktu, Junsu-ie?"
"Eng... aku pernah beberapa kali membaca manhwa tentang pelompat waktu tapi apa hubungannya dengan anak mereka?"
Yoochun menarik nafas dalam, "Anak mereka, Changmin namanya, datang dari masa depan untuk menemui Yunho dan Jaejoong."
Junsu terdiam, satu atau dua detik kemudian matanya membulat tak percaya, "Anak mereka melompati waktu!?"
Yoochun, Jaejoong dan Yunho mengangguk berbarengan. Junsu menganga, wajahnya jelas menyiratkan keterkejutan teramat sangat.
"Junsu, walau ini gila tapi ini be—"
"DAAAEEBAAAAKKK!"
Jaejoong menutup tak bisa menutup mulutnya yang terbuka ketika teriakkan heboh Junsu memotong ucapannya. Junsu memegang kedua tangan Jaejoong lalu menatap Jaejoong semangat.
"Jaejoong-ah! Kumohon! Pertemukan aku dengan Changmin!"
Jaejoong mengerjap terkejut lalu mengangguk, "Boleh saja sih."
Junsu memekik riang lalu memeluk Jaejoong erat, berkali-kali Ia mengucapkan terima kasih. Saat pelukan Junsu terlepas dari tubuhnya Jaejoong segera melempar pandangan bertanya pada Yunho.
"Apa?"
Jaejoong menunjuk Junsu, "Kenapa dia seperti itu?"
Yunho menatap Junsu lalu menghela nafas, "Junsu suka hal yang aneh, karena itu dia antusias seperti itu."
Jaejoong kembali menatap Junsu yang sedang bercerita dengan hebohnya dengan Yoochun lalu kembali menatap Yunho.
"O,ya Yun."
Entah mengapa Yunho tak bisa berhenti untuk tersenyum kecil ketika mendengar namanya diucapkan oleh Jaejoong. Yunho menatap Jaejoong sembari bergumam tak jelas.
"Besok bagaimana?"
"Ah! Untung kamu ingatkan. Junsu!"
"Ne?"
Yunho tersenyum kecil, "Aku butuh bantuanmu."
.
.
.
Changmin diam tak bergerak fokus dengan game yang tengah Ia mainkan. Di sekitarnya terdapat bungkus-bungkus kosong makanan kecil. Sudah 8 jam Changmin seperti itu namun Ia tak ada matan untuk pindah ataupun bergerak sama sekali.
Ting Nong! Ting Nong!
Changmin tersentak ketika mendengar suara bel. Senyum merekah di bibirnya. Akhirnya Appa dan Umma pulang!
Secepat mungkin Changmin membuka pintu namun teriakan yang harusnya Ia keluarkan tersangkut di tenggorokannya ketika melihat siapa di balik pintu itu.
Bukan Appa ataupun Ummanya tapi seseorang pemuda tinggi berwajah kekar berwajah tampan yang sangat Changmin benci.
"Si-Siwon-sshi?"
Pemuda itu tersenyum, "Kamu siapa?"
Wajah Changmin memucat, walau dialah yang memberi petunjuk Changmin namun tetap saja Changmin tak bisa menghilangkan kebencian terhadap pemuda di depannya ini.
Changmin mencoba menutup pintu namun pemuda itu menahannya.
"PERGI!" Changmin berteriak namun pemuda itu tak melepaskan pintu yang di tahannya.
"Kau siapa? Kenapa ada di rumah Jaejoong? Ke mana Jaejoong?"
Mendengar nama Ummanya disebut membuat Changmin semakin marah, "JANGAN TEMUI UMMA! PERGI DARI KEHIDUPAN UMMA!"
"KAU SI—"
"YA!" ucapan pemuda itu terhenti ketika seseorang menarik pemuda itu ke belakang. Changmin menatap sang Appa takut, entah sejak kapan air mata sudah mengalir membasahi wajah Changmin.
Yunho nyaris menghajar pemuda itu kalau saja Jaejoong tidak berteriak dari pagar.
"BERHENTI JUNG YUNHO!"
Yunho menatap marah Jaejoong, "Apa maksudmu!? Orang ini sudah membuat Changmin menangis!"
Jaejoong menatap Changmin merasa bersalah lalu membantu pemuda itu berdiri. Yunho menatap pergerakan Jaejoong tak mengerti sedangkan Changmin semakin membenci orang itu.
Jaejoong menggeleng lalu menggenggam tangan orang itu, "Jangan... dia adalah orang yang sangat penting bagiku."
Yunho menatap geram Jaejoong, "Oh? Orang penting bagimu? Ya! Ajarkan dia agar tidak menyakiti anak kecil!"
Jaejoong balas menatap Yunho geram, "Dia pasti tidak akan menyakiti anak kecil!"
Yunho mendengus meremehkan, "Lalu bisakah kau jelaskan kepadaku kenapa Changmin menangis!?"
Jaejoong menatap Changmin yang masih menangis di balik pintu, Changmin tak ingin menatap Jaejoong karena Jaejoong melindungi orang yang sangat Changmin benci.
"Tak bisa menjelaskannya 'huh?!"
Jaejoong yang tak suka di pojokkan menatap geram Yunho, "Sudahlah! KAU MENYEBALKAN JUNG!"
Jaejoong menarik Siwon pergi dari sana tanpa mempedulikan Yunho yang meneriakinya dari belakang. Tanpa disadari kedua orang tuanya Changmin menatap dalam mereka, tangisnya semakin menjadi membuat tubuhnya bergetar.
Kenapa... kenapa dia harus datang? Kenapa?
.
.
.
Jaejoong terdiam di dalam mobil Siwon yang melaju. Rasa sesak menyiksa dadanya. Bagaimana keadaan Changmin sekarang?
"Jaejoong."
Jaejoong tersentak dan langsung menatap Siwon, "Ya?"
Siwon menatap Jaejoong dalam, "Mereka siapa?"
Jaejoong terdiam tak ingin menjawab pertanyaan Siwon namun Jaejoong tak mungkin tidak menjawab pertanyaan Siwon. Jaejoong tak bisa. Jaejoong menggigit bibir bawahnya.
"Siapa?"
Jaejoong menatap Siwon lalu tersenyum kecil, "Mereka... bukan siapa-siapa."
.
.
.
TBC or Delete
.
.
.
Oke, APA INI!?
*guling guling guling*
Bukannya datang dengan FF yang bagus saya malah datang membawa FF—yang lagi lagi dan lagi, sama abalnya :'(
Mianhae, saya lama update karena kesibukan dunia real saya. Maklum saya sudah kelas 3 dan Yah sibuk ngurusin sana-sini, tugas sana-sini, etc dsb. -.-
Karena sebentar lagi UN saya memutuskan untuk meng-update FF ini sekarang mumpung ada waktu, ada ide dan saya kasian sama reader yang nunggu FF ini /kaya ada yang nunggu aja OTL/. Mianhae Chap ini pendek TAPI~ sekarang sudah menginjak pembukaan konflik! Hore! XD
Mian gak bisa ngirim balasan Surat Cinta karena saya harus kembali mengerjakan tumpukan latihan soal dari sekolah (Ini saya nyuri waktu dari eomma)
Jeongmal Gomawo buat para reader yang menyempatkan diri untuk mengirimi saya surat cinta dan Saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :') /menitikkan air mata/Kecup/peluk
Last, saya gak bakal janji saya updatenya cepat, karena kemungkinan besar saya bakal lama update FF ini. Tapi please, jaebal~ Saya perlu Review anda untuk membangkitkan semangat saya untuk update cepet atau nulis lanjutan FF ini, saya butuh review~ TTxTT
Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Dance SuriSuri bareng Minnie*
