Jaejoong kecil tak mengerti mengapa ayahnya bersujud memohon di hadapan tiga orang bertubuh besar yang menyeramkan itu. Mata kecilnya menatap sang Umma yang hanya bisa menangis sembari memeluknya. Melihat sang Umma menangis, sontak membuat Jaejoong kecil menangis.

Mendengar tangisan Jaejoong ketiga orang itu menghampiri Jaejoong. Tangis Jaejoong kecil semakin keras terdengar ketika orang-orang itu menarik Jaejoong dari pelukan sang Umma.

Ayahnya tak tinggal diam, sekuat tenaga Ia menahan ketiga orang itu, namun tenaga sang ayah tak sebanding dengan tenaga ketiga orang itu, dengan sekali hentakan sang ayah berhasil di lempar oleh ketiga orang itu.

"Appa! Umma!" Jaejoong kecil menjerit memanggil kedua orang tuanya yang tertatih mengejarnya. Tangisan Jaejoong semakin menjadi ketika ketiga orang itu membentaknya.

"Berhenti!" Suara dingin itu membuat pergerakan ketiga orang itu terhenti.

Seseorang dengan setelan jas rapi berdiri di depan pagar rumah Jaejoong sembari menatap dingin ketiga orang itu. Ketiga orang itu berteriak keras menyuruh orang itu tidak ikut campur dalam urusan mereka, namun orang itu tak bergeming. Salah satu dari ketiga orang itu maju lalu mencengkeram kerah kemeja orang itu. Tatapan tajam orang itu semakin menjadi, tanpa takut Ia menepis tangan di kerah kemejanya, namun sebelum mereka sempat menghajarnya, orang itu berucap dingin.

"Jangan maju selangkah pun dari tempat kalian berdiri!"

Ketiga orang itu saling berpandangan lalu tertawa mengejek. Dengan kasar salah satu dari mereka melempar Jaejoong ke belakang, namun beruntung, ayahnya berhasil menangkap Jaejoong kecil yang gemetar ketakutan.

Keluarga Kim itu hanya bisa mematung tak percaya menatap pertarungan sengit 3 lawan 1. Namun tidak seperti perkiraan, pria berjas rapi itu dapat dengan mudah melawan ketiga orang itu, bahkan setelan rapinya sama sekali tidak tersentuh debu.

Pria berjas rapi itu menatap rendah ketiga orang yang tergeletak di dekat kakinya.

"S-siapa kau!?"

Pria berjas rapi itu tak mengindahkan perkataan salah satu dari mereka. Ia lebih memilih merogoh jasnya dan mengeluarkan selembar kertas dari sana. Ia sibuk menulis sesuatu di atas kertas itu sampai tak menyadari pergerakan salah satu dari ketiga orang itu.

Tuan Kim tersentak melihat pergerakannya, namun belum sempat Ia berteriak memperingatkan, pria berjas rapi itu sudah berhasil menendang dan menjatuhkan kembali orang itu. Pria itu menjatuhkan kertas di genggamannya tepat ke depan ketiga orang yang merintih kesakitan di dekat kakinya.

"Ambil cek itu dan pergilah sebelum saya menghabisi kalian."

Salah satu dari mereka mengambil kertas bernilai jutaan won di hadapan mereka lalu berlari sembari memaki pria berjas itu. Pria berjas itu menghela nafas lalu berbalik menatap kepala keluarga Kim. Kepala keluarga Kim tersentak kaget ketika menyadari siapa pria berjas rapi itu. Dengan tertatih Ia mendekati pria itu lalu memeluknya erat.

Jaejoong kecil terdiam tak mengerti di dalam pelukan sang Umma. Dengan mata doenya yang masih mengalirkan air mata Ia menatap seseorang di pelukan sang ayah.

Jaejoong kecil tak mengerti mengapa ayahnya menangis di hadapan orang itu. Mata kecilnya menatap sang Umma yang tengah menatapnya sembari tersenyum kecil. Tangisnya terhenti ketika sang Umma mencium pipinya dan membisikkan nyanyian lembut di telinganya. Jaejoong kecil kini tersenyum lebar sembari memeluk sang Umma seolah lupa akan segalanya. Mata kecilnya teralih dari sang Umma ketika merasakan tepukan lembut di kepalanya. Ia menatap dalam pria berjas rapi yang tengah tersenyum akrab padanya.

"Jaejoong-ie, kenalkan ini Choi Ahjusshi."

Jaejoong kecil memang tak mengerti akan apa yang terjadi hari itu, namun yang pasti, Jaejoong kecil sadar kalau pria yang kini mengusap kepalanya adalah seseorang yang harus selalu Ia hormati. Harus.

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T

Jung (U-Know) YunhodanKim (Jung) (Hero) Jaejoongmilik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJdanYJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changminas Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

Last Romeo – Infinite || Kiss B – Kim Jaejoong

.

.

.

Future Child

[Chapter6]

.

.

.

Tuan besar keluarga Choi dengan sang istri menyambut kedatangannya dengan hangat. Nyonya Choi memberikannya pelukan hangat saat Jaejoong tersenyum ke arahnya, sementara tuan Choi mengusap kepalanya.

Tak ada yang tahu bahwa dirinya dekat dengan keluarga konglomerat Choi yang menguasai hampir seluruh bidang bisnis di Korea. Keluarga Choi sangat disegani oleh seluruh petinggi Korea, bahkan dengan kekuasaannya Ia bisa saja mendepak presiden Korea dengan satu kali perintah. Suatu keberuntungan besar bagi keluarga Jaejoong yang bisa dekat dikarenakan kedua kepala keluarga berteman sangat baik semasa muda.

Keluarga Choi sudah menjadi keluarga keduanya semenjak tuan Choi menyelamatkan hidupnya dan keluarganya. Semenjak itu persahabatan ayahnya dan kepala keluarga Choi yang sempat terhenti kembali menyatu erat bagai magnet dengan besi. Kejayaan perusahaan ayahnya pun tak lepas dari campur tangan keluarga Choi, karena itu Jaejoong benar-benar menghormati keluarga Choi.

"Aku dengar ayah dan ibumu sedang pergi ya?"

Aku mengangguk mendengar pertanyaan Siwon. Ahjumma tiba-tiba menepuk tangannya, "Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menginap di sini?"

"Tapi besok aku ada janji, Ahjumma, Mian."

Aku menunduk sedih sampai merasakan usapan pelan di kepalaku. Aku mendongak menatap Siwon yang tengah tersenyum padaku.

"Jangan sedih seperti itu, tak apa Jae."

Aku mengangguk pelan lalu sekali lagi meminta maaf, nyonya Choi tersenyum lalu memelukku.

"Siwon, kamu antarkan Jaejoong pulang. Sudah malam."

Aku menatap tuan Choi cepat, "Tak usah. Aku bisa pulang sendiri."

"Tapi ini sudah malam, Jae."

Aku menatap Siwon, "Tak apa, aku ini kan namja."

"Ah... aku nyaris melupakan hal itu."

"HEEE~" aku menatap kesal Siwon lalu mengerucutkan bibir tak suka.

"Tapi kamu terlalu cantik untuk seorang namja, Jaejoongie~"

Aku menatap Ahjumma kesal, "Ahjumma~~"

Tawa keluarga Choi terdengar membuatku semakin kesal dibuatnya.

"Sudahlah. Sekarang cepat kamu antarkan Jaejoong pulang."

Aku menatap tuan Choi cepat, "Tapi..."

"Appa tak terima penolakan, Jae." Dengan senyum di wajah tuan Choi berucap tenang. Jika tuan Choi sudah menyebut dirinya Appa berarti Ia sudah tak menerima apapun bentuk penolakan dariku.

Aku menghela nafas pelan, "Baiklah Appa."

Sehabis nyonya Choi memberikanku oleh-oleh aku langsung pulang diantarkan oleh Siwon. Sekali lagi petinggi keluarga Choi itu mengusap kepalaku membuatku tersenyum lebar saat berpamitan padanya. Nyonya Choi kembali memelukku lalu memberiku wejangan padaku, aku setia mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Sehabis pelukan singkat aku memasuk mobil Siwon.

"Hati-hati mengemudinya, Wonnie~"

Siwon hanya tersenyum lalu mengangguk sembari mengeluarkan mobil dari perkarangan rumah mewahnya. Mobil mewah itu berjalan tenang di tengah keramaian malam.

"Jae."

Aku menatap Siwon yang sibuk mengemudi, "Ne?"

Siwon menatapku sekilas sebelum kembali fokus dengan jalanan di hadapannya, "Tadi siang... mereka siapa?"

Aku terdiam sejenak lalu menatap ke arah lain. Mereka. Hampir saja aku melupakan mereka. Changmin dan Yunho. Entah bagaimana aku harus menjelaskan perkara mereka pada Siwon. Apakah aku harus menjelaskan pada Siwon bahwa Changmin adalah anakku dari masa depan dan Yunho adalah ayahnya, suamiku?

Siwon yang tak mendapat respons apapun dariku kembali memanggilku, sontak aku menatapnya lalu tersenyum kecil. Tidak, tidak, aku tidak bisa menjelaskan hal gila itu pada Siwon.

"Tadi aku sudah bilang kan... mereka bukan siapa-siapa."

Siwon terdiam sejenak lalu mengangguk. Aku menatap Siwon sejenak lalu tersenyum miris. Dia pasti sadar ada sesuatu yang janggal dari jawabanku, tapi... biarlah... untuk saat ini, Siwon tak perlu tahu tentang Changmin dan Yunho. Ya, tak perlu tahu.

Mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumahku. Aku keluar dari mobil dengan menenteng tas-tas berisikan oleh-oleh lalu menatap Siwon yang bersandar pada kemudi dari kaca mobil yang terbuka.

"Kau tidak takut tidur sendiri?"

Aku terdiam lalu menatap ke arah rumahku yang gelap gulita. Changmin pasti menginap di rumah Yunho. Bisa dibilang ini hari pertama aku tidur sendiri semenjak Appa dan Umma pergi. Aku kembali menatap Siwon lalu tertawa pelan.

"Aku sudah besar, Siwon-ah."

Siwon memutar bola matanya lalu tertawa, "Sudahlah. Cepat masuk sana!"

Aku tersenyum dan mengangguk, "Ne. Malam, Siwon-ah."

Siwon tersenyum lalu menutup kaca mobilnya perlahan sebelum melajukan kembali mobil itu. Aku menghela nafas ketika mobil itu tak terlihat lagi di pandanganku. Aku berbalik menatap rumahku.

Changmin pasti bersama Yunho, aku tak perlu mengkhawatirkannya, tapi... Yunho... bagaimana dengan dia? Dia yang tadi beradu dengan Siwon, apa yang sekarang sedang dipikirkannya? Harusnya aku berterima kasih karena dia sudah melindungi Changmin yang... tunggu... kenapa Changmin menangis?

Aku mengacak rambutku frustrasi selagi aku menutup pintu rumah. Sesuai dugaanku Changmin dan Yunho tak ada di rumah. Aku menghela nafas, entah mengapa rumah terasa sangat sepi tanpa kehadiran mereka, padahal mereka baru saja menginap di rumah ini, tapi rasanya mereka sudah berbulan-bulan ada di sini.
Aku melangkahkan kaki ke dapur, menaruh segala oleh-oleh itu di atas meja lalu mengambil segelas air putih. Aku menatap ke sekeliling rumah yang sunyi lalu menghela nafas, "Lebih baik aku tidur."

Aku melangkahkan kakiku ke atas, sebelum memasuki kamar ku tatap pintu kamar kedua orang tuaku yang tertutup rapat. Entah mengapa aku merasa ingin tertawa dengan perasaan aneh di dadaku. Aku menggelengkan kepala sembari memasuki kamar.

Aku langsung menidurkan tubuhku dan menatap atap-atap kamar.

Terbayang kembali wajah Yunho dan Changmin siang tadi. Wajah marah Yunho dan Changmin yang menangis. Kenapa? Kenapa Changmin menangis? Siwon tak mungkin menyakiti Changmin. Aku kenal Siwon dengan baik, dia sangat sayang dengan anak kecil, dia sangat royal pada siapapun. Tapi kenapa? Changminnie... kenapa kamu menangis?

Perlahan, aku tutup kelopak mataku yang berat, menyapa sang bunga tidur yang terus memanggilku.

.

.

.

"Jae! Jaejoong! Ireona! Palli!"

Aku bergumam tak jelas sembari mengucek mataku. Aku tatap sosok yang masih buram itu bingung.

"Yunho?"

"Aniyo! Aku bukan Yunho."

Aku menguap lalu mengedip-ngedipkan mataku, memperjelas rupa sosok di hadapanku, "Junsu?"

Sosok itu mengangguk sembari menarik tanganku, "Cepat Jae! Kalau kamu tidak cepat kamu bisa terlambat!"

Aku mendumal sembari menatap ke luar. Masih gelap. Aku tatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Duh, bahkan ayam saja masih tertidur di luar.

"Ya ampun, Su. Ini masih gelap. Masih jam lima."

Aku terus duduk di tempat tidur. Ogah beranjak dari sana. Junsu mempoutkan bibirnya lalu sekuat tenaga Ia menarikku dari tempat tidur.

"Mendandani seseorang itu butuh waktu Jae!"

Mendandani seseorang? Siapa?

Aku memiringkan kepalaku bingung, Junsu menghela nafas pelan, "Kamu lupa ya? Hari ini kamu harus pergi ke universitas Changmin kan?"

"Ah~" Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Aku benar-benar lupa akan hal itu. Aku kini mengikuti tarikan Junsu, sesekali menatap tempat tidur yang terus meneriaki namaku. Aku menghela nafas sebelum akhirnya memasuki kamar mandi.

"Su, bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?" Aku tatap Junsu dari kaca di hadapanku, Junsu yang tengah mengeringkan rambutku menatapku sembari tersenyum.

"Yoochun-ie, memberiku kunci rumah ini."

Aku mendengus, untuk jaga-jaga Yoochun memang memiliki kunci cadangan rumahku, tapi tak ku sangka Ia bisa segampang itu memberikannya pada Junsu. Menang-mentang dia suka dengan Junsu.

"Lalu Yoochun ke mana?"

"Yoochun ke rumah Yunho, dia yang bertugas memilihkan baju untuk mereka."

Aku tatap sosok wajahku yang terpantul di kaca dengan pandangan kosong. Pikiranku melayang ke Yunho dan Changmin.

Hah... Yunho.

.

.

.

Junsu menatap puas sosokku yang sudah Ia sihir demikian rupa. Senyum lebar tercetak di wajahnya yang chubby.

"Cantiknya~"

Ia mengepalkan kedua tangannya di bawah dagu sembari memekik kesenangan. Ku rasakan wajahku memerah mendengar ucapannya.

"J-jangan berbohong, Su!"

Junsu menggeleng, "Tidak! Kamu memang benar-benar cantik, Jae! Sungguh!"

Sesuai permintaan Junsu aku tidak menatap cermin semenjak Ia mendandaniku, kini aku yang penasaran setengah mati akan sosokku hanya bisa memainkan ujung wig coklatku, "Apa aku terlihat seperti banci?"

"Tidak Jae! Tidaaaak! Aduh, kamu tuh sangat cantik! Aku yakin Yunho akan terpesona saat melihatmu!"

Wajahku terasa semakin merah. Junsu terkikik mendengarnya.

"Coba Yun—"

Ting nong

Senyum di wajah Junsu melebar, "Pasti Yunho, Changmin dan Yoochun!"

Junsu menatapku sejenak lalu mengedipkan sebelah matanya, "Setelah aku keluar kamu boleh berkaca, Jae~"

Junsu segera berlari keluar kamar setelah mengucapkan itu. Memang benar aku penasaran akan sosokku tapi... aku takut melihat sosokku sendiri. Aduh, bagaimana kalau aku jelek? Bagaimana kalau Junsu hanya menghiburku dan ternyata wajahku kaya banci kaleng? Gyaaa!

Dengan memejamkan mata akhirnya aku berbalik menghadap kaca lalu perlahan membuka mataku kembali.

.

.

.

Junsu segera membuka pintu rumah Jaejoong. Ia tersenyum lebar menatap tiga orang namja di balik pintu.

"Bagaimana mereka, Su?"

Junsu menatap Yoochun lalu mengacungkan jempol padanya, "Keren!"

Yoochun tersenyum bangga. Junsu menatap Changmin cepat, "Kamu pasti anak Yunho dan Jaejoong kan?"

Changmin tersenyum lalu mengangguk, "Ne, Junsu Ahjumma, Changmin imnida."

Junsu mengerjap tak mengerti lalu memiringkan kepalanya, "Ahjumma?"

Changmin mengangguk, "Ne, karena di masa depan AhjUmma melahirkan seorang anak jadi aku tak bisa memanggil Ahjumma itu Ahjusshi."

Junsu mengerjap berkali-kali lalu menunjuk dirinya, "Aku? Melahirkan? Benarkah?"

Changmin mengangguk senang, "Ne~ anak Ahjumma sangat imut! Aku suka!"

Junsu mengerjap sekali lagi lalu tersenyum lebar, "Aku bisa melahirkan seorang anak yang imut? Ah, senangnya~"

Yoochun diam-diam tersenyum melihat ekspresi senang Junsu. Yunho menatap Yoochun sejenak lalu mendengus geli sembari menyenggolnya. Yoochun menatap Yunho kesal lalu melengos. Yunho terkikik.

"Su, di mana Ja—,"

"APA-APAAN INI!? JUNSUUUUUU!"

Junsu mengerjap ketika suara teriakkan frustrasi menggema di seluruh ruangan, "Eh?" Ia kini tertawa membayangkan wajah lucu Jaejoong sedangkan Yoochun, Yunho dan Changmin hanya bisa terdiam tak mengerti.

Mereka berempat dengan Junsu yang tersenyum lebar dan wajah bingung ketiga namja lainnya diam menunggu sang pemilik suara turun dari lantai dua. Derap langkah yang terburu-buru terdengar dengan dumalan tiada henti.

Akhirnya sang pemilik suara muncul dengan penampilan yang sangat mengejutkan!

Sosok Jaejoong yang sebenarnya sudah cantik kini bertambah berkali-kali lipat cantiknya. Rambut pirangnya kini terganti dengan rambut cokelat sepanjang pundak dengan bando berwarna putih yang mempercantik penampilan rambutnya. Wajah Jaejoong sendiri hanya sedikit di bubuhi make up, sedikit Foundation dan bedak yang tak beda jauh dengan warna kulit asli Jaejoong, sedikit blush on dengan warna merah muda yang sebenarnya menyatu dengan warna merah wajah Jaejoong yang malu, eye shadow berwarna putih natural, eyeliner dan bulu mata yang dilentikkan membuat mata Jaejoong semakin indah dilihat, bibirnya yang sudah merah menggoda itu kini dilapisi oleh lipstik dan lipgloss yang semakin membuat bibir itu semakin menggoda. Untuk pakaian Jaejoong sendiri kini mengenakan dress berlengan panjang berwarna pastel setengah lutut dan kaos kaki putih sepanjang lutut dan itu akan dipadu padankan dengan sepatu half knee boots berwarna cokelat muda dan tas tangan berwarna senada yang sudah Junsu siapkan.

Yunho dan Yoochun sampai tidak berkedip menatap penampilan Jaejoong.

"Junsu! Bisa kau jelaskan padaku apa maksud penampilanku ini hah!?"

Jaejoong mendekati Junsu lalu mengguncangkan tubuh Junsu, Junsu hanya tertawa, "Apa maksudmu, Jae? Kau terlihat cantik kok."

Wajah Jaejoong yang sangat merah membuat hiburan tersendiri bagi Yunho yang belum bisa sadar dari kecantikan yang menguar dari Jaejoong. Jaejoong merengek lalu memeluk Junsu, "Ini memalukaaaan!"

"Eh tidak kok? Bagaimana penampilan Jaejoong menurutmu, Yoochunie?"

Yoochun mengerjap mendengar pertanyaan Junsu lalu menyeringai, "Imut, tapi aku yakin kamu pasti lebih imut jika di dandani seperti itu, Su-ie."

Wajah Junsu sontak memerah mendengar jawaban Yoochun, Yoochun terkikik melihat perubahan warna wajah Junsu, Ia lalu menatap Yunho.

"Bagaimana menurutmu?"

Yunho diam menatap Jaejoong yang menunduk malu-malu di hadapannya. Jaejoong sendiri yang baru sadar penampilan Yunho yang sangat tampan dengan setelan semi formalnya semakin tak bisa menatap Yunho.

Senyum kecil terlukis di wajahnya, "Cantik kok."

Jaejoong yang terkejut sontak menatap Yunho, senyum di wajah Yunho terlihat sangat lembut saat menatap Jaejoong, "Semakin cantik saat aku melihat wajahmu."

Blush!

Jaejoong rasakan wajahnya semakin memerah, Ia kembali menunduk lalu memainkan dressnya. Yunho tertawa melihat gelagat Jaejoong.

"Appa, kita harus berangkat." Changmin yang ternyata selama ini sedang mengunyah makanan di samping Yunho akhirnya berbicara. Yunho menatap jam di lengannya lalu mengangguk.

"Baiklah. Ayo."

Jaejoong yang tengah memakai sepatunya dibantu oleh Junsu mengangguk, setelah memakai sepatunya Jaejoong segera menghampiri Yunho.

Yoochun menyeringai, "Kalian terlihat sangat cocok." Junsu di samping Yoochun mengangguk dengan semangat.

Jaejoong mendengus mendengarnya, Junsu dan Yoochun terkikik melihatnya. Akhirnya keluarga kecil di masa depan itu pergi.

.

.

.

Sejak 15 menit perjalanan Changmin sudah jatuh tidur di bangku belakang. Jaejoong yang masih risih dengan apa yang Ia kenakan berusaha setengah mati untuk duduk diam di dalam mobil. Sesekali Yunho menatapnya lalu tersenyum kecil namun senyumannya hilang ketika Ia teringat kejadian kemarin.

"Jae."

"Hm?"

Jaejoong tak menatap Yunho, Ia lebih memilih menatap ke luar jendela, melihat pejalan kaki yang mereka lewati dengan pandangan tak niat.

"Kemarin..." Yunho diam, berpikir haruskah Ia membicarakannya atau tidak. Jaejoong yang mendengar kata kemarin sontak merasa tak enak.

Kesunyian yang canggung terasa di antara mereka. Yunho yang sibuk dengan pikirannya dan Jaejoong yang berkali-kali menatap takut Yunho.

"Maafkan aku." Akhirnya Jaejoong bersuara, Yunho menatap Jaejoong dari ekor matanya. Jaejoong menggigit bibir bawahnya.

"Harusnya aku tidak meneriakimu... aku harusnya berterima kasih karena kamu melindungi Changmin. Tapi aku yakin Siwon bukanlah orang jahat."

Yunho yang mendengar nama Siwon menjadi kesal, Ia kini menahan diri dan mencoba menormalkan ekspresinya agar kembali tenang.

"Semenjak kau pergi bersamanya Changmin terus menangis."

Jaejoong semakin merasa bersalah mendengar suara Yunho yang dingin. Yunho menghela nafas melihat Jaejoong yang menunduk dalam. Perlahan Ia memasuki perkarangan universitas.

"Changmin terus bertanya tentangmu padaku. Tapi aku tak bisa menjawab apapun. Dia terus menangis sampai akhirnya tertidur. Dia terlihat sangat ketakutan."

Jaejoong menatap Changmin yang masih tertidur di bangku belakang dengan pandangan tak enak, "Maafkan aku."

Yunho yang telah memarkirkan mobilnya ikut menatap Changmin, "Tapi sepertinya dia sudah baik-baik saja sekarang."

Jaejoong menatap Yunho penuh rasa bersalah, "Maafkan aku Yun."

Yunho terdiam sejenak, menghela nafas pelan lalu mengangguk, "Jangan ungkit-ungkit hal ini lagi. Ia bisa saja sedih jika mendengarnya lagi."

Jaejoong tersenyum kecil menatap wajah polos Changmin, "Tidak akan."

.

.

.

Setiap langkah mereka mengundang banyak perhatian. Yunho yang tampan, Jaejoong yang cantik dan Changmin yang lucu. Mereka terlihat sempurna ketika berjalan bersama. Tangan kiri Yunho memegang tali tas tangan Jaejoong sementara tangan kanannya dipegang oleh Jaejoong, sedangkan tangan kiri Jaejoong memegang lengan Yunho sementara tangan kanannya memegang tangan Changmin, Changmin sendiri membiarkan tangan kirinya dipegang oleh sang Umma dan tangan kanannya terisi dengan pamflet universitas.

Jaejoong yang sibuk mengobrol ceria dengan Changmin sementara Yunho memasang wajah dewasanya. Mereka benar-benar menjadi pusat perhatian, tapi walaupun begitu keluarga kecil itu sama sekali tak menyadarinya, mereka terlalu sibuk dengan kehangatan keluarga di antara mereka.

Akhirnya mereka bertiga sampai di ruangan yang di tuju, Jaejoong berusaha keras untuk tidak gugup sementara Changmin dan Yunho terlihat biasa saja.

Perbincangan berjalan dengan lancar kurang lebih 15 menit, dua orang memasuki ruangan tersebut. Dua orang mahasiswa berwajah kontras, yang satu terlihat sangat manis sedangkan satu lagi terlihat keras.

"Perkenalkan ini Leeteuk dan Kangin. Mereka adalah kakak kelasmu, Changmin-sshi."

Changmin mengangguk menatap mereka. Mereka berdua tersenyum lebar menatap Changmin.

"Mari kami kenalkan kamu dengan universitas ini." Leeteuk berucap lembut sembari tersenyum, Changmin menatap Yunho dan Jaejoong meminta ijin, Yunho menatap Jaejoong sejenak lalu mengangguk mengijinkannya.

"Nanti kalau sudah selesai telepon Appa."

Changmin mengangguk mendengar ucapan Yunho, tak lama Ia dengan dua mahasiswa itu menghilang dari ruangan itu.

"Kalian pasangan muda ya?"

Jaejoong menatap SungHwa tak mengerti. "Memangnya kenapa?"

"Kalian terlihat masih sangat muda."

Yunho tersenyum meremehkan ketika menyadari pandangan SungHwa hanya tertuju pada istr—Jaejoong.

"Kami memang masih sangat muda. Jauh lebih muda daripada yang anda bayangkan." Yunho menjawab dengan nada dingin namun dengan senyuman di wajah.

"Oh? Benarkah?" SungHwa yang tak menyadari nada bicara Yunho terus saja menatap Jaejoong. Jaejoong hanya diam saja karena Ia terus menatap Yunho dan Ia tak menyadari pandangan SungHwa padanya.

Yunho yang menyadari bahwa SungHwa masih terus menatap Jaejoong kini mengerutkan dahi, senyum palsu di wajahnya luntur.

"Ya. Benar, dan satu hal yang harus anda ingat," Yunho menggenggam sebelah tangan Jaejoong membuat SungHwa akhirnya menyadari tatapan tajam Yunho ke arahnya, "berhenti memandanginya. Dia milikku."

Wajah Jaejoong sontak memerah mendengar ucapan Yunho, sedangkan SungHwa memucat dan berdehem canggung. Yunho menutup matanya sejenak lalu kembali menampilkan senyum palsunya, "Bolehkah kami pamit, SungHwa-sshi?"

SungHwa mengangguk, "Y-Ya. Silahkan."

.

.

.

Jaejoong terus menatap wajah merengut Yunho. Yunho yang akhirnya merasa sedikit lega karena bisa keluar dari ruangan itu kini harus kembali merasa kesal dengan pandangan seluruh mahasiswa pada Jaejoong.

Yunho akhirnya berhenti lalu menatap Jaejoong. Jaejoong tersentak dan terdiam menunggu Yunho mengucapkan sesuatu. Yunho yang disuguhi wajah diam Jaejoong hanya bisa menghela nafas panjang.

"Jae, apakah kau sadar kalau sedari tadi kamu di lihati oleh para mahasiswa?"

"Eh?" Jaejoong akhirnya menatap ke sekelilingnya dan sesuai perkataan Yunho, memang banyak—bahkan bisa dibilang seluruh mahasiswa menatapnya. Wajah Jaejoong kini memucat, Ia menatap Yunho takut.

"A-apa aku terlihat aneh, Yun? Apa mereka menyadari kalau aku laki-laki?"

Dengan mata besar berkaca-kaca dan kedua tangan yang mengepal di depan dada? Apa mereka menyadarinya? Pertanyaan bodoh! Tentu saja mereka tidak menyadarinya Jae.

Yunho menghela nafas berat lalu menggenggam tangan Jaejoong. Membuat wajah sang empu tangan memerah.

Jaejoong mendongak menatap Yunho tak mengerti, "Yun?"

"Diamlah. Aku mencoba membuat mereka tak menatapmu."

Jaejoong terdiam lalu menatap tangannya yang di genggam oleh Yunho. Entah mengapa Jaejoong merasa sedikit tidak rela mengetahui kalau Yunho menggenggam tangannya hanya untuk menghentikan pandangan pada Jaejoong, tidak lebih.

Jaejoong menghela nafas lalu menatap ke sekelilingnya. Memang benar banyak sekali mahasiswa yang menatapnya namun banyak juga mahasiswi yang menatap mereka, dan Jaejoong yakin, mahasiswi itu menatap Yunho bukan dirinya.

Jaejoong menatap Yunho. Harus Jaejoong akui kepopuleran Yunho memang nomor satu di kalangan yeoja di sekolahnya tapi karena dandanan dewasa yang di kenakan olehnya sekarang membuat Ia terlihat berkali-kali lebih mempesona dan menyihir mahasiswi-mahasiswi di sini. Hish, Jaejoong tidak rela jika Yunho populer seperti ini. Ya! Kalian tidak lihat ada aku di sampingnya!?

Jaejoong merengut lalu segera memeluk sebelah tangan Yunho, membuat pekikan kecewa terlontar dari mahasiswi-mahasiswi yang tengah menatap Yunho. Jaejoong menyeringai senang. Yunho menatap Jaejoong tak mengerti.

"Ada apa Jae?"

Jaejoong mendongak menatap Yunho lalu merengut, "Hanya menolongmu dari pandangan mahasiswi-mahasiswi itu."

Duh, sadarkah Jaejoong kalau wajah merengutnya membuat detak jantung seorang Jung Yunho menyepat berkali-kali lipat?

Yunho menarik nafas mencoba menormalkan detak jantungnya lalu menatap sekelilingnya. Ah... memang benar banyak yeoja yang menatapnya, tapi... kenapa Jaejoong tak mau yeoja-yeoja itu menatap Yunho?

"Memangnya kenapa?"

Jaejoong yang tengah menyeringai senang langsung menatap Yunho tak mengerti, "Apanya yang kenapa?"

"Memangnya kenapa kalau aku di pandang oleh mereka?"

Jaejoong terdiam, Ia tak bisa menjawab pertanyaan Yunho. Memang benar... kenapa Ia harus melindungi Yunho dari tatapan mahasiswi-mahasiswi itu? Yunho melindunginya dari pandangan mahasiswa karena takut penyamarannya terbongkar tapi Jaejoong? Kenapa Ia harus melindungi Yunho?

Yunho tersenyum lebar melihat wajah bingung Jaejoong, "Apa kamu cemburu?"

Jaejoong sontak menatap Yunho terkejut. Cemburu? Apa benar Ia cemburu? Cemburu pada siapa? Yunho atau malah yeoja itu?

Jaejoong memekik pelan. Terlalu banyak tanda tanya di kepalanya dan Ia sangat pusing dibuatnya. Yunho mengerjap lalu tertawa pelan.

"Kenapa, Jae?"

Jaejoong mendengus lalu melepaskan pelukannya di tangan Yunho, "Entahlah!"

Yunho semakin tertawa melihat wajah kesal Jaejoong sampai akhirnya Jaejoong yang kesal karena ditertawakan oleh Yunho meninju lengan Yunho kuat.

"AW!"

Mendengar rintihan Yunho membuat Jaejoong mendengus lega, Ia langsung menyilangkan tangan dan berjalan meninggalkan Yunho yang mengaduh kesakitan di belakangnya.

Yunho meringis lalu tersenyum geli, walaupun kini Ia mengenakan sosok yang cantik jelita di dalamnya tetaplah seorang Kim Jaejoong sang berandalan sekolah. Yunho terdiam menatap Jaejoong dalam balutan yeoja, entah mengapa Yunho sama sekali tak tertarik dengan penampilan Jaejoong saat ini, menurutnya Jaejoong yang biasanya itu terlihat lebih menarik daripada ini.

Jaejoong yang heran mengapa Yunho tak juga menyusulnya berhenti berjalan dan berbalik, Ia menyerit tak mengerti mengapa Yunho malah diam seperti orang bodoh di tengah jalan. Ia lalu berjalan cepat ke arah Yunho.

"Ya!"

Yunho mengerjap, sejak kapan Jaejoong sudah ada di hadapannya? Jaejoong menghela nafas berat melihat wajah bodoh Yunho.

"Kenapa kau bengong 'huh?"

Yunho diam lalu tersenyum, "Tidak. O,ya Jae, gimana kalau kita ke tempat festival?"

"Festival?"

Yunho mengangguk, "Iya. Hari ini universitas sedang mengadakan festival tahunan. Kau mau ke sana?"

Jaejoong diam sejenak, "Ada apa saja di sana?"

Yunho memutar bola matanya, "Sudah, jangan banyak tanya. Ayo!"

Yunho langsung saja menarik Jaejoong pergi, Jaejoong yang di tarik sontak memekik tak terima namun Yunho tak peduli Ia tetap saja memaksa Jaejoong pergi ke festival.

Saat melewati gerbang festival entah bagaimana seluruh pandangan terlempar pada mereka berdua. Jaejoong sontak merasa panik sedangkan Yunho merasa jengkel pada tatapan yang mengarah pada Jaejoong.

Yunho menatap Jaejoong, "Tenang. Tak akan ketahuan." Yunho lalu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jaejoong. Yunho terkesiap akan kerampingan pinggang Jaejoong.

Jaejoong yang terlalu panik hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Yunho yang menggiringnya masuk ke dalam festival. Jaejoong yang perlahan bisa mengatasi kepanikannya kini mulai menikmati suasana festival, Ia bahkan meminta berbagai makanan pada Yunho yang—akhirnya setelah adu mulut panjang, membelikannya untuk Jaejoong.

Yunho mendengus menatap Jaejoong yang tengah memakan gula kapas dengan senangnya, namun Ia tersenyum ketika melihat senyum puas Jaejoong.

"Tuan~ Nyonya~"

Yunho dan Jaejoong sontak menatap seorang namja yang tengah tersenyum lebar menatap mereka.

"Bersediakah tuan dan nyonya menikmati wahana kami?"

Yunho dan Jaejoong saling berpandangan namun belum sempat mereka menjawab apapun namja itu sudah menarik mereka ke depan wahana yang tengah Ia promosikan.

Yunho diam sementara Jaejoong melongo dengan wajah pucat melihat wahana di hadapan mereka. Di hadapan mereka terdapat dua pintu yang di tutupi oleh rumbai-rumbai kertas panjang berwarna hijau tua, di dekat pintu itu terdapat dua boneka besar yang di bentuk sedemikian rupa menyerupai vampir dan mumi, di atas kedua pintu itu terdapat papan besar bertuliskan 'Couple Horror Maze!'.

Jaejoong memaki dalam hati, Ia tidak masalah jika di hadapannya hanyalah sebuah Couple Maze tapi masalahnya di kata 'Horror'nya itu! Aduh! Bisa gawat jika Yunho tahu kalau Ia takut, mau dibawa ke mana kebanggaannya sebagai preman sekolah 'hah!?

Tanpa Jaejoong sadari Yunho kini tengah memperhatikan dirinya yang tengah memaki dengan wajah pucat. Perlahan terlukis senyuman mengejek di wajahnya, "Kau... takut?"

Jaejoong sontak menatap Yunho lalu tertawa kaku, "H-Ha? Takut? Tidak mungkin!"

Senyuman di wajah Yunho semakin lebar, "Benarkah?"

"BENAR!"

Yunho pura-pura memasang wajah tak puas, "Sayang, padahal aku baru saja ingin menarikmu pergi."

Jaejoong melongo, Yunho menatap Jaejoong sembari tersenyum di dalam hati, "Tapi sepertinya kau tak takut. Ya, sudah. Kau tunggu sini, aku beli tiketnya dulu."

Jaejoong menatap kepergian Yunho dengan rasa menyesal. Siaaaallll!

Sedangkan Yunho hanya bisa menahan tawanya ketika melihat wajah pucat pasi Jaejoong. Sepertinya asik juga mendengar teriakkan sang preman sekolah.

Dan kini mereka berdua berdiri di depan pintu yang berlainan. Yunho menatap Jaejoong yang pucat pasi sembari tersenyum tanpa dosa dan perlahan mereka berdua memasuki wahana itu.

Sial! Kenapa tempat ini gelap sekali!? Jaejoong mengumpat dalam hati.

Jaejoong terus menggigit bibir bawahnya sembari melangkahkan kaki takut-takut ke dalam. Sesuai judul wahana ini, Jaejoong memang harus menemukan jalan keluar dari dinding-dinding berliku namun Ia tak bisa keluar jika belum menemukan Yunho dan sialnya lagi Ia harus melawan rasa takutnya pada hantu. Hantu adalah satu hal yang sangat Ia benci setelah kecoa. Aduh...

" .Yunho." Jaejoong terus berkomat-kamit sembari berjalan cepat dan menatap lurus ke depan. Ia sangat takut untuk menatap ke arah lain.

Srek!

Terdengar suara gemerusuk di sampingnya membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Ia baru saja ingin lari tapi tiba-tiba Ia teringat... bagaimana kalau itu Yunho? Lalu tanpa pikir dua kali, Jaejoong langsung berbalik.

"Yu—,"

Mata doe itu membelalak menatap sesosok orang dengan wajah hancur di hadapannya sedang menatapnya langsung dengan mata yang nyaris keluar dari tempat seharusnya.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Tanpa menunggu satu detik 'pun Jaejoong langsung berlari, namun selolah tanpa kasihan pada Jaejoong yang sudah ketakutan setengah mati, tiap kali berbelok selalu ada sosok menyeramkan yang menakutinya. Tuhaaan! Jae takuuuuut!

Nafasnya sudah terengah efek berlari dengan ketakutan yang teramat sangat. Jaejoong berjalan terengah, dalam hati Ia terus berdoa agar tidak bertemu sosok menyeramkan lagi. Ia sudah tak kuat untuk berlari.

Ia duduk bersandar. Ia bahkan sudah tak kuat untuk berjalan. Ia mendongak menatap langit-langit rendah di atasnya. Ia menarik nafas, menstabilkan nafasnya. Semakin cepat menemukan Yunho, semakin cepat pula Ia keluar dari tempat ini. Oke, Ia harus cepat-cepat menemukan Yunho dan keluar dari tempat ini.

Jaejoong perlahan berdiri dan berjalan melewati beberapa belokan, beruntung baginya karena tidak menemukan satupun sosok menyeramkan, aneh memang tapi Jaejoong lebih memilih ini adalah suatu keberuntungan untuknya.

Jaejoong lagi-lagi menemukan jalan buntu. Jaejoong menghela nafas panjang, Ia langsung berbalik namun Ia tak bisa bergerak ketika melihat seseorang di belakangnya.

Seseorang yang mengenakan topeng putih yang ternoda darah yang tengah memegang sebuah belati tajam penuh darah. Nafas berat orang itu terdengar menyeramkan di tengah keheningan. Dari balik topeng itu terasa pandangan tajam yang terarah pada Jaejoong.

"Mati... mati..."

Jaejoong menggigil mendengar suara berat orang di hadapannya. Dari seluruh makhluk menyeramkan yang Ia lihat tadi inilah yang paling seram. Saking takutnya Ia, Jaejoong bahkan tak bisa berteriak.

Orang itu maju selangkah, Jaejoong mundur dua langkah, begitu seterusnya sampai Jaejoong tersentak ketika punggungnya menyentuh dinding. Jaejoong semakin pucat menatap penuh kengerian orang di hadapannya. Orang itu terus melangkah, berjalan terseok ke arah Jaejoong. Jaejoong berjongkok dan menyembunyikan kepalanya, tak berani lagi menatap sosok di hadapannya. Tubuhnya semakin bergetar ketika mendengar langkah terseok orang tersebut. Ia tak kuat lagi! Ia takut! Tuhan!

"YUNHOOOO!"

Akhirnya dengan sekuat tenaga yang Ia punya Ia berteriak. Sosok di hadapannya tersentak lalu balas berteriak membuat Jaejoong akhirnya berteriak ketakutan dan menangis.

Tuhan! Aku janji akan jujur tentang apapun pada Yunho! Aku mohon jangan hukum aku seperti ini... aku takut, takut...

Jaejoong semakin mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri ketika mendengar debuman pelan. Ia tak mengerti dan tak berniat untuk mencari tahu juga. Ia sudah sangat ketakutan.

Ketika merasakan tangan di pundaknya, tubuhnya tersentak, Ia semakin deras menangis.

"Jae? Hei, Jae."

Jaejoong perlahan mendongak ketika mendengar suara yang Ia kenali, Jaejoong kini menatap Yunho yang tengah menatapnya khawatir. Nafas Yunho yang terengah menyentuh pipinya yang basah oleh air mata. Air mata Jaejoong mengalir tambah deras melihat Yunho di hadapannya lalu Ia langsung memeluk Yunho dan menangis sekejar mungkin di pundak Yunho.

"Yunho... Yunho..."

Yunho mengusap pundak Jaejoong dengan lembut, "Ssst. Sudah tenahlah. Aku disini."

Jaejoong menggeleng lemah, cengkeramannya pada baju Yunho masih sangat kuat, "Aku takut... takut..."

Yunho kini mengangguk pelan sembari membalas pelukan Jaejoong, membiarkan Jaejoong menangis sampai Ia lega.

Kurang lebih sekitar 5 menit kemudian Jaejoong melepas pelukannya, namun Ia belum berhenti menangis. Yunho masih setia di hadapannya dan kini menggenggam lembut kedua tangan Jaejoong.

Jaejoong menunduk, "Maaf. A-aku tak jujur padamu. Aku sebenarnya takut, sangat takut dengan permainan seperti ini."

Yunho tersenyum, "Aku tahu."

Jaejoong mendongak menatap Yunho tak mengerti, Yunho tertawa kaku lalu menggaruk belakang kepalanya.

"Dari ekspresimu saat di depan tadi, aku tahu kalau kau tak berani tapi, aku ingin mengerjaimu."

Ekspresi wajah Jaejoong mengeras, sekuat tenaga Jaejoong mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Yunho namun Yunho tak melepaskannya. Jaejoong mendesis, Ia menggigit bibir bawahnya kuat.

"Lepas..." Suaranya pelan dan bergetar namun Yunho bisa merasakan amarah dari sana. Yunho menggeleng sembari mengeratkan genggamannya.

"Tidak."

Jaejoong mengibaskan tangannya, sekali lagi mencoba melepaskan tangannya namun genggaman Yunho sangatlah kuat dan tenaganya pun perlahan terambil alih dengan air mata yang kembali mengalir.

"Jae..."

Jaejoong menggeleng, menolak mendengar apapun penjelasan dari Yunho. Jaejoong tertawa pelan, "Puas? Puas kau mengerjaiku seperti ini? Kau pasti bahagia melihatku seperti ini kan? SENANG KAU SEKARANG!?"

Yunho diam menatap mata doe yang berkilat marah ke arahnya. Yunho menggeleng lalu menarik Jaejoong kembali ke pelukannya. Jaejoong meronta dan memaki Yunho dalam pelukannya, memukul badan Yunho sekuat yang Ia bisa namun pukulan itu terhenti ketika Ia memeras baju Yunho kuat ketika air matanya menjadi semakin deras, tubuhnya bergetar. Jaejoong merasakan perasaan kesal, marah, malu dan kecewa bercampur baur dalam dirinya. Ia kesal dan marah mengetahui Yunho menjebaknya, Ia malu ketika Yunho melihatnya menangis dan Ia kecewa ketika menyadari kalau Yunho yang sedari awal sudah mengetahui kelemahannya tetap mendorongnya masuk ke dalamnya.

"Puas kau... puas kau melihatku menangis seperti ini... ketakutan seperti ini... kau puas kan?"

Yunho lagi-lagi diam, Ia lebih memilih untuk menguatkan pelukannya pada tubuh Jaejoong yang bergetar daripada menjawab pertanyaan Jaejoong. Tak mendapatkan jawaban dari Yunho membuat amarah Jaejoong memuncak.

"JAWAB AKU BO—"

"MAAF!"

Ucapan Jaejoong terputus oleh teriakan Yunho. Jaejoong mengeratkan cengkeramannya di baju Yunho.

"Aku minta maaf. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Aku tak menyangka reaksimu sampai seperti ini. Aku tahu tindakanku ini berlebihan, karena itu maaf, Jae, maaf."

Jaejoong terdiam sejenak lalu tertawa mengejek, "Kau pikir dengan minta maaf semua selesai?"

Yunho melepas pelukannya lalu menatap Jaejoong tepat ke mata doenya, Ia menggeleng, "Tidak. Aku tahu pasti kau tak mungkin memaafkanku hanya dengan sebuah permintaan maaf. Aku terima apapun pembalasanmu! Kau pukul aku pun aku tak marah! Aku memang pa—UKH!"

Yunho merintih sembari memegang perutnya yang baru saja mendapat pukulan keras dari Jaejoong. Jaejoong terdiam di depan Yunho dengan wajah kesal, "Dengan itu aku maafkan kesalahanmu."

Jaejoong langsung berdiri, berjalan meninggalkan Yunho yang masih merintih kesakitan. Wajah cantik tidak menjamin kekuatannya, walaupun seperti itu Jaejoong tetaplah seorang berandalan.

Jaejoong yang baru sadar kalau Ia masih di dalam maze dan Ia tak tahu jalan keluar ditambah lagi Ia tak kuat jika bertemu sosok-sosok menyeramkan, langsung diam membatu. Malu-malu Ia berbalik menatap Yunho yang menatapnya dengan wajah kesakitan. Sedikit terbesit rasa menyesal karena telah memukul Yunho seperti tadi tapi Jaejoong sangatlah kesal tadi dan semua itu sebanding dengan rasa takutnya.

"Ya! Kenapa diam? Ayo keluar"—aku takut jalan sendirian, bodoh.

Yunho tersenyum kecil seolah tahu apa makna sebenarnya dari ucapan ketus Jaejoong, Ia lalu berjalan cepat ke samping Jaejoong.

"Pukulanmu sangat sakit." Yunho mengusap perutnya sembari merintih, namun Jaejoong tak menatapnya sedikitpun, Jaejoong mendengus, "Kau sendiri yang menginjinkanku kan? Jangan mengeluh!"

Yunho terkekeh mendengar ucapan ketus Jaejoong, namun tawanya terhenti ketika tubuh Jaejoong tersentak saat mendengar teriakan keras dari kejauhan. Yunho tersenyum lalu segera menutup mata Jaejoong dengan kedua tangannya.

"YA!"

Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang meronta, Ia lalu merendahkan kepalanya, memposisikan mulutnya tepat di samping telinga Jaejoong.

"Diamlah."

Jaejoong tersentak kaget ketika merasakan nafas hangat di telinganya, sadar kalau nafas itu berasar dari Yunho membuat wajahnya memerah dan beruntung untuknya, keadaan ruangan yang remang-remang membuat semburat merahnya tak terlihat.

"Kenapa kau menutup mataku? Lepaskan!"

"Aku melakukan ini agar kau tidak bisa melihat orang-orang menyeramkan itu."

Jaejoong terdiam, perasaan hangat perlahan menyergap dirinya, "M-malah dalam posisi ini bersamamu jauh lebih menyeramkan."

Yunho tahu kalau kata-kata yang terucap dari mulut Jaejoong adalah sebuah kebohongan karena itu Ia hanya tersenyum.

"Ah, ada yang lewat."

Mendengar ucapan Yunho membuat tubuh Jaejoong merinding ketakutan, Jaejoong memundurkan dirinya, merapatkan diri ke tubuh Yunho. Yunho terkekeh. Mendengar tawa Yunho membuat Jaejoong melepaskan tangan Yunho dari matanya secara paksa dan langsung berbalik menatap Yunho langsung.

"Kau bohong lagi ya!?"

Yunho panik melihat mata doe itu mengarah langsung padanya, "Tidak aku ti—"

Belum sempat Yunho menyelesaikan ucapannya, Jaejoong sudah berbalik kembali menatap ke depan yang berati menatap langsung ke arah seseorang dengan wajah hancur di depan mereka.

"GYAAAA!"

Jaejoong berteriak ketakutan, secepat mungkin Ia kembali berbalik dan memeluk Yunho erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yunho. Yunho menghela nafas berat.

"Pergilah."

Yunho berkata pelan pada sosok di hadapannya yang pergi sesuai perkataan Yunho. Yunho menatap Jaejoong yang gemetar sembari memeluk Yunho erat. Yunho tersenyum, merasakan kehangatan tubuh Jaejoong.

"Sudah. Dia sudah pergi."

Jaejoong mencoba menatap ke belakang—yang tentu saja mustahil dengan posisinya sekarang, Ia lalu mendongak menatap Yunho, "Sungguh?"

Yunho mengangguk, melihat anggukan Yunho, perlahan Jaejoong melepaskan pelukannya dari Yunho.

"Aku tak akan lagi berbohong padamu, Jae." Jaejoong kembali menatap Yunho, Yunho tersenyum perih, "Aku tak mau lagi merasakan pukulanmu."

Jaejoong mendengus kesal, "Itu kan salahmu sendiri!"

Yunho menganggukkan kepalanya sembari mengeluarkan selembar sapu tangan dari kantung celananya.

"Karena pukulanmu sangatlah menyakitkan.." Yunho mengikatkan sapu tangan itu pada kepala Jaejoong, menutup mata namja cantik itu, "..aku jadi tak mau merasakannya lagi.." Yunho kini merapikan poni rambut Jaejoong yang sedikit berantakan, "..karena itu kau harus mempercayaiku.." dan kini Yunho menggenggam tangan Jaejoong membuat namja cantik itu lagi-lagi bersemu merah di balik kegelapan, "..aku akan melindungimu."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman yang memaksa menghiasi wajahnya. walau dalam kegelapan Yunho dapat melihat jelas ekspresi lucu Jaejoong, karena itu Ia tak bisa menyembunyikan senyumannya.

Sesuai perkataannya tadi, Yunho selalu melindungi Jaejoong dari orang-orang yang berniat menakuti mereka dan Jaejoong yang percaya akan ucapan Yunho kini bisa berjalan tenang di samping Yunho, Ia sangat berterima kasih pada sapu tangan yang menutupi matanya dan... genggaman Yunho yang membuatnya merasa aman.

Yunho menghela nafas berat, entah mengapa Ia merasa tak rela jika keluar dari sana. Ia merasa senang jika Jaejoong bersandar padanya.

"Sudah?"

Gumaman Jaejoong membuat Yunho tersadar dari lamunan sesaatnya, Ia menatap Jaejoong lalu tersenyum dan melepaskan ikatan yang menutupi mata Jaejoong.

Jaejoong mengerjapkan matanya, membiasakan dengan cahaya yang menyapanya dan itu terlihat lucu di mata Yunho. Ah, tidak, sebenarnya setiap tindakan Jaejoong terlihat lucu di matanya.

.

.

.

"Umma! Appa!"

Changmin melambaikan tangan dari kejauhan. Yunho dan Jaejoong balas melambaikan tangan. Sesampainya di hadapan kedua orang tuanya, Changmin langsung memeluk Jaejoong erat. Membuat Yunho merasa iri. Aku juga ingin memeluk Jaejo—tunggu! Apa yang ku pikirkan!?

Yunho yang merasa pikirannya sedikit ngawur segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu dari kepalanya.

"Yun? Ada apa?"

Yunho tersentak ketika menyadari Jaejoong dan Changmin tengah menatapnya bingung. Yunho memaksakan diri untuk tersenyum lalu menggeleng.

"Tidak. Tidak ada apa-apa. O, ya, apa kalian ingin makan?"

"MAU!" Changmin sontak mengangkat tangan dan menjawab penuh semangat. Yunho tertawa lalu mengusap kepala Changmin gemas.

"Kita makan di restoran keluarga saja, Yun. Di sana menunya banyak." Jaejoong menyarankan sembari memeluk Changmin senang, entah kenapa saat berada di sekitar Changmin moodnya langsung berubah baik.

Yunho tersenyum melihat kedekatan istr—Jaejoong dengan Changmin, perasaan hangat menyelimuti hatinya, membuatnya merasa nyaman.

"Baiklah. Ayo."

Changmin berjalan riang di tengah orang tuanya, tangan kanannya menggenggam tangan Yunho sementara tangan kirinya menggenggam tangan Jaejoong, yang sekali lagi membuat banyak pihak iri pada kesempurnaan keluarga kecil itu.

.

.

.

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana milik keluarga Kim. Suasana di sekitar rumah itu sudah sangat sepi karena jam hampir menunjukkan tengah malam. Sang anak bungsu dari keluarga Kim turun dari mobil mewah itu di ikuti dengan seorang namja bermarga Jung yang membantunya mengeluarkan anak mereka yang terlelap di jok belakang.

Jaejoong membukakan pintu untuk Yunho dan Changmin. Yunho langsung berjalan ke kamar kedua orang tua Jaejoong dan menidurkan Changmin di sana. Setelah itu Jaejoong langsung pergi ke kamarnya untuk melepas segala benda-benda yang melekat di tubuhnya sementara Yunho turun ke dapur untuk melepas dahaganya.

Akhirnya setelah 15 menit menunggu, Jaejoong turun dengan pakaian santai dan rambut pirang yang masih sedikit basah, wajahnya kini telah bersih dari make up. Melihat Jaejoong dalam penampilan seperti itu membuat Yunho merasa lelah akan jantungnya yang berdetak terlalu cepat.

Yunho langsung mematikan televisi yang tadi di tontonnya dan berdiri, jas yang tadi Ia pakai kini Ia pegang sementara lengan kemejanya Ia lipat sebatas siku dengan dua kancing teratas yang Ia biarkan terbuka. Melihat tampilan Yunho yang berantakan namun terkesan keren itu membuat Jaejoong sesak, jantungnya terlalu banyak berkerja.

"Aku langsung pulang saja, Jae."

Jaejoong menautkan alisnya bingung, "Kamu tidak menginap?"

Yunho menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku harus mengembalikan mobil itu ke rumah."

Jaejoong mengangguk lalu mengikuti langkah Yunho, "Tapi Changmin gimana?"

Yunho terdiam saat Ia memakai sepatunya, "Hum... baiklah, besok bahkan sebelum kalian terbangun, aku sudah ada di sini."

Jaejoong terdiam lalu pergi mengambil kunci cadangan dan memberikan kunci itu pada Yunho, "Peganglah. Ini kunci cadangan rumah ini."

"Kamu benar-benar memberikannya untukku?"

"Ya. Memang kenapa?"

"Kamu tidak takut? Aku bisa saja masuk diam-diam ke rumahmu dan mencuri barang-barang di sini."

Jaejoong tersenyum, "Kalau itu terjadi aku akan memukulmu lagi."

Yunho bergidik, "Tidak. Aku tidak mau lagi merasakan pukulanmu."

Jaejoong tertawa mendengar perkataan Yunho, Yunho tersenyum kecil, "Oke. Aku pulang dulu."

Jaejoong mengangguk dan tersenyum kecil, "Hati-hati."

Yunho terdiam lama, tak bergerak, terbius oleh senyuman kecil di bibir merah Jaejoong. Desiran di dadanya semakin terasa, darahnya bergejolak cepat. Jaejoong yang sebenarnya memang jauh lebih menarik dan cantik.

"Yun? Ke—"

Kata-kata itu terhenti begitu saja ketika sebuah benda kenyal menyapa bibirnya. Mata doe Jaejoong membulat melihat wajah Yunho tepat di hadapannya dengan bibir Yunho di atas bibirnya. Mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka, menatap langsung ke arah mata doe Jaejoong yang masih melebar.

Yunho tersenyum ketika Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Jaejoong, "Malam, Boo."

Satu detik, dua detik, tiga detik, pintu di hadapannya tertutup; Empat, lima, enam, Jaejoong masih diam tak percaya; Tujuh, delapan, akhirnya wajah putihnya merona merah—sangat merah; Sembilan, tubuhnya terhuyung jatuh terduduk di lantai. Jaejoong memegang wajahnya yang memerah. Detak jantungnya sangat keras terdengar, membuatnya takut Changmin bisa terbangun karenanya.

"Apa... apa yang barusan terjadi?" Suaranya bergetar, kilas balik saat Yunho menciumnya terbayang kembali di kepalanya. Mata doe itu kembali membelalak. Perlahan, dengan jari-jari yang bergetar, Jaejoong menyentuh bibirnya. Masih terasa kehangatan Yunho di sana. Jaejoong menatap ke arah pintu yang tertutup rapat di hadapannya dengan pandangan tak mengerti.

"Yunho... menciumku?"

.

.

.

TBC

.

.

.

UAPA INI!?

GYAAA!? /histeris/kick

Oke, mian saya datang lagi dengan chapter yang sama abalnya dengan yang kemarin :(

Mian saya lama update, kemarin-kemarin saya sibuk dengan urusan UN tapi sekarang Alhamdulillah udah selesai dan saya Lulus dengan rata-rata 9,05 terima kasih banyak atas doa kalian~ TvT) /sujud

Uhum, sekarang mulai masuk ke sisi romantis di mana bibit-bibit cinta semakin menjadi /tebar bunga/

O,ya saya mau tanya, untuk adegan making Changmin(?) haruskah saya jelaskan—secara tidak langsung itu akan membuat FF ini jadi rate M, atau hanya sekilas—tak terlihat dan tak terlalu di jelaskan? Please jawab di review ya~

Terima kasih atas surat cinta kalian~~~ omo! Saya gak menyangka sudah menginjak 300+, saya terharu TTvTT) /kecup

Jeongmal Gomawo buat para reader yang menyempatkan diri untuk mengirimi saya surat cinta dan Saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :') /peluk

Last, saya gak bakal janji saya updatenya cepat, karena akhir-akhir ini saya sering kena WB /OTL/. Tapi please, jaebal~ Saya perlu Review anda untuk membangkitkan semangat saya untuk update cepet atau nulis lanjutan FF ini, saya butuh review~ TTxTT

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Ducky pose(?) bareng Suie*