Yunho terdiam lama, tak bergerak, terbius oleh senyuman kecil di bibir merah Jaejoong. Desiran di dadanya semakin terasa, darahnya bergejolak cepat. Jaejoong yang sebenarnya memang jauh lebih menarik dan cantik.

"Yun? Ke—"

Kata-kata itu terhenti begitu saja ketika sebuah benda kenyal menyapa bibirnya. Mata doe Jaejoong membulat melihat wajah Yunho tepat di hadapannya dengan bibir Yunho di atas bibirnya. Mata yang sempat terpejam itu kembali terbuka, menatap langsung ke arah mata doe Jaejoong yang masih melebar.

Yunho tersenyum ketika Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Jaejoong, "Malam, Boo."

Satu detik, dua detik, tiga detik, pintu di hadapannya tertutup; Empat, lima, enam, Jaejoong masih diam tak percaya; Tujuh, delapan, akhirnya wajah putihnya merona merah—sangat merah; Sembilan, tubuhnya terhuyung jatuh terduduk di lantai. Jaejoong memegang wajahnya yang memerah. Detak jantungnya sangat keras terdengar, membuatnya takut Changmin bisa terbangun karenanya.

"Apa... apa yang barusan terjadi?" Suaranya bergetar, kilas balik saat Yunho menciumnya terbayang kembali di kepalanya. Mata doe itu kembali membelalak. Perlahan, dengan jari-jari yang bergetar, Jaejoong menyentuh bibirnya. Masih terasa kehangatan Yunho di sana. Jaejoong menatap ke arah pintu yang tertutup rapat di hadapannya dengan pandangan tak mengerti.

"Yunho... menciumku?"

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T

Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changmin as Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

Just Us Album - JYJ

.

.

.

Future Child

[Chapter 7]

.

.

.

"Umma!"

Jaejoong yang belum sepenuhnya tertidur itu kini kembali membuka matanya. Ia menatap wajah khawatir Changmin lalu mengerang pelan. Gara-gara kemarin, ia jadi tak bisa tidur! Kenapa tiba-tiba Yunho me—

Wajahnya kembali memerah ketika bayangan itu kembali mampir di kepalanya.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya lalu menggeleng kuat.

"Umma~"

"Ah? Eh? Ada apa Min?"

Changmin menggigit bibir bawahnya, "Appa ke mana?"

"Eh?"

Melihat wajah kosong Jaejoong membuat Changmin panik. Changmin memeras piamanya, "Appa gak ada... Appa ke mana Umma?"

Jaejoong panik ketika melihat Changmin mulai menangis di hadapannya.

"M-min?"

Air mata Changmin semakin deras, "Appa jangan tinggalin Minnie... Minnie sayang Appa, Min gak mau Appa pergi ninggalin Min lagi... Min gak mau lihat Umma nangis lagi... Hiks, Minnie janji gak bakal nakal... Hiks... Appaaaa..."

Tangisan Changmin pecah, tubuh Changmin bergetar hebat, Isakan dan teriakannya yang terus memanggil Yunho memenuhi kamar.

Jaejoong merasakan ngilu teramat sangat melihat Changmin menangis sampai seperti itu di hadapannya. Tak mengerti harus berbuat apa, Jaejoong menarik Changmin ke dalam pelukannya.

Tangisan Changmin belumlah reda, malah bisa dibilang semakin menjadi. Jaejoong memejamkan matanya, mengingat-ingat cara Ummanya menenangkannya ketika ia sedang panik.

Jaejoong tersenyum kecil, "Sst, uljimma baby."

Jaejoong menarik lembut kepala Changmin, membuat Jaejoong bisa dengan jelas melihat wajah Changmin yang dipenuhi oleh air mata. Lalu perlahan Jaejoong mempertemukan dahinya dengan dahi Changmin dan menggenggam tangan Changmin kuat.

"Dengarkan Umma. Appa baik-baik saja. Appa tak akan pergi. Appa sayang Minnie karena itu Appa gak bakal ninggalin Minnie."

Jaejoong kembali menatap mata Changmin lalu tersenyum, perlahan ia menghapus air mata dari wajah Changmin, "Umma janji akan pulang bersama Appa!"

"Janji?" Changmin mengarahkan jari kelingkingnya ke Jaejoong, Jaejoong mengangguk lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Changmin.

"Janji!"

.

.

.

"JUNG YUNHOOOOO!"

Yoochun yang tengah menggoda Junsu tersentak kaget mendengar teriakan Jaejoong lain dengan Junsu yang tetap diam dengan muka memerah di hadapan Yoochun.

Yoochun mendelik kesal ke arah Jaejoong yang baru saja membanting pintu kelas Junsu.

"Yak! Kenapa kau teriak-teriak? Ini masih pagi Babo!"

Jaejoong mendengus kesal, "Berisik kau Chun! Yang lain saja diam kenapa kau harus sewot!"

Yoochun memutar bola matanya mendengar ucapan Jaejoong. Jelas yang lain diam, siapa coba yang berani protes pada preman sekolah?

Jaejoong menatap ke seluruh kelas lalu menatap Junsu kesal ketika ia tidak menemukan Yunho di manapun.

"Su-ie!"

Junsu yang baru sadar akan kehadiran Jaejoong, mendongak lalu tersenyum kecil ke arah Jaejoong, "Ne?"

"Yunho di mana?"

"Ah? Yunho sedang ijin. Dia sakit."

Jaejoong menganguk cepat lalu segera berlari ke luar, "Makasih Su!" BRAK—lagi-lagi membanting pintu kelas.

Yoochun menghela nafas kesal lalu menatap Junsu, "Aku bertaruh Jaejoong akan kembali ke sini dengan membanting pintu kelasmu lagi."

Junsu memiringkan kepalanya, "Untuk apa ia kembali?"

Yoochun menghela nafas geli, "Lihat saja dia akan meneriakkan alasannya pad—"

DRAP DRAP DRAP BRAK!

"SU, RUMAH YUNHO DI MANA!?"

Yoochun melihat Junsu sembari tersenyum geli, "Tuh 'kan."

Junsu hanya bisa tertawa eukyangkyang.

.

.

.

Segala kemarahan dan nafsu untuk menjitak kepala Yunho langsung hilang ketika Jaejoong berada di depan rumah Yunho.

Kini Jaejoong berdiri di depan Pagar besi yang menjulang tinggi dengan tegarnya di hadapannya, dari balik pagar dengan jelas terlihat sebuah rumah, mansion atau istana—Jaejoong pun ragu menyebutnya apa—bergaya kental eropa dengan tiang-tiang marmer berwarna krem membuat kesan mahal kediaman itu semakin terasa. Di depan rumah itu terdapat beberapa penjaga yang lengkap dengan senapan laras panjang di tangannya dan anjing besar di sisinya. Saking terkejutnya melihat rumah Yunho, Jaejoong sampai tak bisa menutup mulutnya. Memang ini bukanlah pertama kali ia melihat rumah atau mansion besar, tapi ia tak menyangka kalau Jung Yunho memang benar-benar sangat kaya, mungkin saja kekayaannya setaraf dengan keluarga Choi.

Teringat kembali akan alasan awalnya Jaejoong menelan ludah memantapkan hati lalu perlahan menekan bel rumah Yunho.

Tak perlu menunggu lama pintu kediaman Jung itu terbuka, seorang Butler berjalan mendekati Jaejoong.

Jaejoong gelagapan.

"Ah siang! Saya Kim Jaejoong temannya Yunho. Saya ingin menjenguk Yunho."

Butler itu tak menjawab, ia malah diam menatap Jaejoong dari balik pagar membuat Jaejoong keringat dingin.

Tak lama senyum ramah terukir di wajah sang Butler.

"Buka gerbangnya." Butler itu menyuruh penjaga gerbang membukakan gerbang untuk Jaejoong.

Jaejoong tersenyum kecil lalu berjalan mendekati Butler itu. Butler itu mempersilakan Jaejoong berjalan memasuki kediaman Jung. Semakin dalam Jaejoong berjalan semakin kagum Jaejoong akan kemewahan kediaman Jung.

Butler itu membukakan pintu untuk Jaejoong dan lagi-lagi mulut Jaejoong terbuka saking terkejutnya ia melihat keadaan di dalam Kediaman Jung yang benar-benar sangat mengagumkan.

"Tak pernah sekalipun teman Tuan Muda menjenguknya."

Jaejoong kembali menatap sang Butler, "Tak pernah sekalipun? Bagaimana dengan Junsu?"

Butler itu sejenak terdiam menatap Jaejoong, "Anda kenal dengan Tuan Junsu?"

Jaejoong mengangguk, "Dia juga temanku."

Sang Butler tersenyum kecil, "Tuan Junsu bukanlah teman Tuan Muda."

Kedua alis Jaejoong menyatu tak suka mendengar ucapan Butler di hadapannya itu, "Apa maksud ucapan anda?"

"Tuan Junsu adalah penerus dari perusahaan besar Xiah Unity. Saya kira pertemanan mereka hanyalah berlandaskan keuntungan bisnis."

Kedua mata Jaejoong membulat tak percaya. Hanya berlandaskan keuntungan bisnis? Tidak mungkin! Yunho dan Junsu tidaklah selicik itu!

Jaejoong tersenyum mengejek, kilatan kemarahan jelas terlihat di matanya.

"Anda salah. Seharusnya anda yang sudah lama mengenal Yunho bisa mengerti hal ini dengan baik. Yunho dan Junsu adalah teman baik. Pertemanan mereka nyata dan benar-benar dilandaskan oleh keinginan hati!"

Butler itu terdiam mendengar ucapan Jaejoong. Jaejoong mendengus, "Di mana kamar Yunho?"

"Di atas di ujung sebelah kanan."

Jaejoong mengangguk, "Baiklah. Terima Kasih."

"Mari Saya antarkan."

Jaejoong menatap sang Butler dengan ekor matanya lalu menggeleng, "Tidak usah. Saya muak terhadap anda."

Dengan santainya Jaejoong melangkah meninggalkan sang Butler yang menatap punggung Jaejoong dengan pandangan dingin.

.

.

.

'Apa-apaan dia! seenaknya saja berfikir kalau persahabatan mereka hanya berlandaskan alasan bisnis! Mereka tak sehina itu tahu! Menyebalkan!'

Dalam hati Jaejoong misuh-misuh tak terima dengan langkah kaki yang sengaja ia hentakan melampiaskan kekesalan akhirnya Jaejoong sampai di depan kamar Yunho.

Jaejoong terdiam menatap pintu besar di hadapannya, 'Awas kau Jung Yunho! Berani-beraninya kau membuat Changmin menangis.'

"YUNH—"

Teriakannya berhenti begitu saja ketika melihat keadaan kamar Yunho yang sangat gelap, hanya dari cahaya yang masuk melalui sela-sela tirai dan lampu tidur yang menerangi ruangan ini.

Pandangan Jaejoong beralih ke tempat tidur. Perlahan Jaejoong mendekati tempat tidur itu.

"Yunho."

Yunho yang selama ini Jaejoong lihat sebagai namja menyebalkan, berisik dan sok kuat kini terbaring lemah di atas tempat tidurnya, tubuhnya tertutupi oleh selimut sampai leher. Nafas yang tak teratur terdengar menyesakkan.

Perlahan Jaejoong menempelkan tangannya di dahi Yunho. Ia tersentak ketika merasakan suhu badan Yunho.

"Omo! Tubuhmu sangat panas Yun."

Yunho perlahan membuka matanya dan menatap sayu ke arah Jaejoong yang menatapnya khawatir.

"J...Jaejoong? Kenapa ka—"

"Ssst! Ssst! Ssst!" Jaejoong menggelengkan kepalanya lalu merapikan bantal Yunho mencoba menyamankan tidur namja itu, "Tanyanya nanti saja ya!"

Jaejoong segera menaruh tasnya dengan asal. Ia segera keluar kamar dan berlari mencari dapur. Kurang lebih 30 menit akhirnya Jaejoong kembali ke kamar Yunho dengan troli berisi baskom dengan air hangat beserta lap, sepanci bubur dan peralatan makan juga air putih.

"Aish~ kenapa dapur di rumahmu sangat susah di cari sih!?"

Jaejoong mendorong troli itu ke samping tempat tidur Yunho.

Yunho menatap pergerakan Jaejoong dengan tatapan lemah.

"Remot Ac mana? Remotnya... ah! Itu dia!" Jaejoong segera menyalakan pendingin ruangan di ruangan ini.

"Ugh! Dingin..."

Jaejoong menatap Yunho sekilas lalu sedikit menurunkan suhunya. Jaejoong kembali ke Yunho lalu menarik satu selimut tambahan yang Yunho pakai, membuat Yunho mengerang protes.

"Jae~"

Jaejoong mendengus lalu duduk di samping Yunho, "Jangan terlalu banyak memakai selimut, hawa panasnya akan susah keluar dari tubuhmu."

Jaejoong memeras lap basah lalu menaruhnya dengan lembut ke dahi Yunho, "Kau ini bagaimana sih bisa sampai demam tinggi seperti ini?"

Yunho hanya bergumam tak jelas menjawab pertanyaan Jaejoong. Jaejoong menghela nafas lalu menuangkan bubur ke dalam mangkuk.

"Duduk dulu Yun. Makan terus minum obat."

Yunho membuka matanya sedikit lalu menghela nafas berat. Dengan bantuan Jaejoong ia mendudukan dirinya bersandaran bantal.

Dengan telaten Jaejoong menyuapi Yunho walaupun Yunho ogah-ogahan memakan bubur yang diberikan oleh Jaejoong. Segalanya terasa pahit di lidah Yunho.

Jaejoong memberikan obat ke tangan Yunho lalu menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Yunho.

Yunho kembali menidurkan tubuhnya setelah ia menelan obat yang diberikan oleh Jaejoong dan Jaejoong kembali memasangkan lap basah ke dahi Yunho.

Perlahan nafas memburu Yunho menjadi teratur membuat Jaejoong menghela nafas lega.

Dengan lembut Jaejoong mengusap surai hitam Yunho. Menatap lembut wajah tenang Yunho yang tertidur.

"Tidurlah Yun. Sore nanti aku harus pulang bersamamu. Changmin menunggu kita."

.

.

.

Perlahan Yunho membuka matanya. Tubuhnya masih lemas, kepalanya masih pusing tapi semua itu lebih baik daripada yang tadi ia rasakan.

Perlahan ia mendudukan tubuhnya dan menatap ke sekelilingnya. Tak ada siapa 'pun. Ia menghela nafas berat. Mengapa ia selalu saja sendiri.

"Ah! Akhirnya kau bangun juga!"

Yunho yang mendengar suara yang tak lagi asing baginya, tersentak kaget dan menatap cepat ke arah kamar mandinya. Jaejoong berada di sana, tersenyum lega menatapnya.

"Jae?"

Jaejoong mendekat ke arah Yunho lalu segera menempelkan dahinya di dahi Yunho. Jaejoong tersenyum, membuat jantung Yunho berdetak cepat melihat senyuman itu dalam jarak dekat.

"Syukurlah. Demammu sudah turun."

Yunho menatap Jaejoong tak mengerti, "Kenapa kau di sini?"

Jaejoong mendengus mendengar pertanyaan Yunho, "Aku kemari untuk mencarimu. Aku dari pagi di sini. Tapi saat aku masuk ke kamarmu ternyata kau benar-benar sakit seperti yang dikatakan Junsu padaku. Parahnya lagi, demammu sangat tinggi, huf~ untung saja aku datang. Coba kalau tidak? Kau bisa-bisa mati tadi."

Yunho terdiam mendengar ucapan Jaejoong. Mendadak terbayang kelembutan seseorang yang tadi ia rasakan ketika ia tertidur.

'Tunggu... jadi kelembutan itu berasal dari Jaejoong?'

Yunho menatap troli di samping tempat tidurnya lalu menatap lap basah di pangkuannya. 'Semua ini...'

Jaejoong mengambil lap basah dari pangkuan Yunho dan baskom dari troli lalu kembali ke kamar mandi.

'Jaejoong yang merawatku?'

Jaejoong keluar dari kamar mandi dengan baskom yang terisi air dan sebuah handuk di pundaknya. Jaejoong duduk di samping Yunho, dan mengerutkan dahi ketika melihat Yunho terus menatapnya dengan pandangan aneh.

"Ada apa? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?"

Yunho tak merespon ucapan Jaejoong. Ia sibuk dengan pikirannya dan sibuk menatap Jaejoong yang tanpa sadar membuat Jaejoong risih sendiri.

"Yak, Yun!"

Yunho tersentak keluar dari pikirannya, "Ah? Ye?"

Jaejoong mengurut dahinya, lalu beralih ke lap yang terendam di baskom.

"Buka bajumu. Bajumu basah dengan keringat," ucap Jaejoong sembari memeras lap basah tersebut.

Yunho menatap piamanya lalu mengangguk, perlahan ia melepas satu persatu kancing piamanya sampai akhirnya piamanya terlepas dari badannya.

Walaupun Jaejoong sudah pernah melihat tubuh Yunho sebelumnya, Jaejoong tetap saja merasa malu melihat abs Yunho. Ah, sedih rasanya mengakui ini tapi jika dibandingkan oleh Yunho, tubuh Jaejoong bukanlah apa-apa.

Dalam gelapnya kamar Yunho samar-samar melihat semburat merah Jaejoong dan hal itu mau tak mau membuatnya tersenyum kecil.

Perlahan Jaejoong mengusap tubuh Yunho, untuk menormalkan wajahnya, Jaejoong memilih mengusap punggung Yunho terlebih dahulu.

Melihat punggung Yunho membuat perasaan 'Ingin bersandar di sana' muncul di hati Jaejoong, sadar akan gilanya perasaan itu membuat Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Akhirnya tiba saat Jaejoong harus mengusap tubuh bagian depan Yunho. Jaejoong menggigit bibirnya. Dengan ragu-ragu Jaejoong mengusap tubuh Yunho.

"Jae..."

"H-Hm?" Jaejoong bergumam kikuk.

"Kau yang tadi mengompresku dan memasakan bubur untukku?"

Jaejoong mengangguk pelan, "Ya."

"Kenapa?"

Jaejoong menatap Yunho tak mengerti, "Apa maksudmu?"

"Kenapa kau merawatku?"

"Memangnya harus ada alasannya ya?"

"Eh?"

"Aku merawatmu karena aku ingin. Tak ada alasan lain. Lagipula..." Jaejoong tersenyum, "Kau adalah Appa yang sangat Changmin sayangi."

Mendengar nama Changmin membuat Yunho tersenyum.

''Memangnya harus ada alasannya ya?' Kenapa dia jadi berbalik bertanya padaku? Lagipula pertanyaan macam apa itu?'

Walaupun jawaban Jaejoong hanya seperti itu, tapi entah mengapa itu sangat membuat Yunho puas.

Grep!

Mata Jaejoong membulat terkejut ketika Yunho tiba-tiba saja memeluknya. Wajah Jaejoong memerah sempurna ketika merasakan kulit dada Yunho menyentuh wajahnya, aroma keringat Yunho yang entah bagaimana ceritanya bisa membuatnya tenang tercium jelas di hidungnya.

"Y-Y-Y-Yunho?" Jaejoong mencicit dalam pelukan Yunho.

"Terima Kasih."

"H-he?"

Yunho mengeratkan pelukannya membuat Jaejoong semakin memerah di dalam pelukan Yunho.

"Kau tahu Jae... aku tak pernah di rawat seperti itu..."

Jaejoong terdiam sejenak, "Apa maksudmu?"

Yunho mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Jaejoong. Menghirup aroma lembut yang menguar dari rambut pirang Jaejoong.

"Sejak kecil kedua orang tuaku sangatlah sibuk. Mereka berdua sangat jarang ada di rumah. Setiap kali aku sakit seperti ini hanya para Maid dan Butler yang merawatku. Tapi para Maid dan Butler hanya bergerak ketika aku menyuruh mereka, aku tak pernah merasakan kelembutan seperti apa yang aku rasakan ketika kau merawatku."

Yunho melepas pelukannya lalu menatap Jaejoong, "Terima Kasih, Jae. Terima Kasih."

Jaejoong mengangguk kikuk, "Sama-sama."

Jaejoong yang sedang kikuk benar-benar terlihat lucu di mata Yunho. Mata doenya yang tak berani menatap Yunho. Bibir merah mudanya yang digigit.

Bibir... Bibir merah muda yang kemarin dicicipinya. Bibir yang diam-diam mencanduinya.

Yunho menatap penuh bibir itu.

Sekali lagi... ingin merasakannya.

Seakan benar-benar tak mempunyai kontrol diri lagi, Yunho menyentuh bibir itu, merasakan benda kenyal itu tersentuh oleh kulitnya. Jaejoong tersentak ketika merasakan jari Yunho di bibirnya, namun belum sempat Jaejoong berucap ataupun menghindar, Yunho sudah memajukan tubuhnya dan menyapa bibirnya dengan bibir hati Yunho.

Jaejoong mencoba untuk melepaskan ciuman itu namun tubuhnya tak berdaya di bawah sentuhan Yunho.

Memagutnya lembut namun memaksa.

Untuk pasokan udara Yunho melepas pagutannya namun ia tak memberi kesempatan untuk Jaejoong menarik banyak nafas karena ketika bibir merah muda itu terbuka, Yunho langsung mengeksplor penuh mulut Jaejoong dengan lidahnya.

Merasakan benda aneh dalam mulutnya membuat Jaejoong merasa sensasi aneh. Sensasi yang entah mengapa membuat tubuhnya panas dan menginginkan lebih. Rasa salivanya yang bercampur dengan Yunho menciptakan rasa aneh dalam mulutnya. Ditambah nafas hangat Yunho dan sentuhan Yunho benar-benar membuat Jaejoong tak berdaya dengan sensasi yang Yunho berikan padanya.

Tanpa terasa Jaejoong melenguh tertahan. Mendengar lenguhan Jaejoong membuat Yunho semakin berani bertindak. Perlahan Yunho menidurkan Jaejoong dan menjadikan ciuman yang tengah berlangsung itu semakin panas. Pagutan lidah tak terelakan ketika Jaejoong mulai mengikuti permainan Yunho.

'Lebih. Lebih. Lebih. Aku menginginkan lebih.'

Yunho melepas pagutan panas itu dan menatap Jaejoong yang berada di bawahnya dengan manik mata yang menggelap termakan nafsu.

Jaejoong menatap Yunho sayu, wajahnya memerah, bibir merah mudanya yang sedikit membengkak terbuka mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

Dengan lembut Yunho menyentuh surai emas Jaejoong membuat Jaejoong menutup matanya menikmati sentuhan Yunho.

"Jae..."

Mata doe itu kembali terbuka menatap Yunho.

Ia benar-benar menginginkannya menjadi miliknya seutuhnya.

"Aku rasa... Aku mencintaimu."

.

.

.

TBC

.

.

.

THEEEEDAAAAAK! /dateng-dateng histeris/ #slap

ABALNYAA! TTATT

/tarik nafas, buang, tarik, buang/ Oke... HUANG MAAFKAN SAYAAA! /histeris kembali/

Mian saya datang dengan FF yang abal! Mian saya update lama! Mianhaeee! TTATT

Kemarin gara-gara virus kurang ajar gak tau diri FF saya hilang dan sekarang laptop saya rusak jadi saya susah ngelanjutin nulis FF ini TAT), ini juga saya nulis dengan bantuan my beloved handphone-ie dan saya edit mati-matian di FFn dan di laptop yang-dengan susah payah-saya pinjem dari adek saya. Hh. Tapi semua ini demi readel-deul yang saya cintai :)

Ternyata banyak yang mengomentari tentang penggunaan kata 'kamu' yang saya gunakan chapter kemarin. Mian, saya pikir kata 'kamu' lebih cocok daripada kata 'kau' tapi karena banyaknya yang merasa ga sreg akan kata 'kamu' saya akan mengubahnya kembali menjadi 'kau'. Gomawo atas sarannya~ :D

Dari surat cinta kalian ternyata... wah... reader pada mesum ya~ kekeke gak papa kok saya juga sama mesumnya /slap. Uhum, karena kemarin puasa, saya jadi libur sebulan (kan gak mungkin saya nulis NC pas puasa kan ya?) dan sekarang saya melatih otak mesum saya dengan adegan kisu di atas. Masih gak hot ya? Maaf saya masih belum lancar menuangkan segala fantasi rate M saya ke dalam tulisan -.-"

Untuk adegan (real) NC mungkin akan saya masukin ke chapter depan atau chapter depannya lagi. Tapi itu sesuai kalau reader masih mau adegan NC itu, kalau tak ada lagi yang mau saya akan skip 'Making of Changmin'-nya. Jadi yang mau adegan NC jangan lupa kirim surat cinta(review) kalian ya~ ^^

O, iya. Mohon maaf lahir dan batin ya Reader. Maafkan saya yang update lama ini... /bersimpuh/

Jeongmal Gomawo buat para reader yang menyempatkan diri untuk mengirimi saya surat cinta dan Saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :') /peluk

Last, saya gak bakal janji saya updatenya cepat, karena laptop tercinta saya rusak, dan gak tau kapan lagi saya bisa minjem laptop adek coretpelitcoret tercinta saya. Mohon pengertiannya reader-deul. /sujud/

Tapi karena sebulan ini saya libur, saya akan usahain buat update ASAP, tapi semua itu tergantung surat cinta(review) reader-deul...

Reader-deul jaebaaaal~~ alirkan cinta kalian pada saya agar saya lebih semangat melanjutkan FF ini~

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Dance Back Seat bareng Chunnie*