Tanpa terasa Jaejoong melenguh tertahan. Mendengar lenguhan Jaejoong membuat Yunho semakin berani bertindak. Perlahan Yunho menidurkan Jaejoong dan menjadikan ciuman yang tengah berlangsung itu semakin panas. Pagutan lidah tak terelakan ketika Jaejoong mulai mengikuti permainan Yunho.
'Lebih. Lebih. Lebih. Aku menginginkan lebih.'
Yunho melepas pagutan panas itu dan menatap Jaejoong yang berada di bawahnya dengan manik mata yang menggelap termakan nafsu.
Jaejoong menatap Yunho sayu, wajahnya memerah, bibir merah mudanya yang sedikit membengkak terbuka mencoba mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Dengan lembut Yunho menyentuh surai emas Jaejoong membuat Jaejoong menutup matanya menikmati sentuhan Yunho.
"Jae..."
Mata doe itu kembali terbuka menatap Yunho.
Ia benar-benar menginginkannya menjadi miliknya seutuhnya.
"Aku rasa... Aku mencintaimu."
.
.
.
BLUE DAFFODIL
Han Rae
Mianhae...
Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.
Rate :: T
Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS
Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changmin as Supporting role
Dont Like Dont Read
Please press back button...
Flame Allowed* but with solution too...
Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...
Review Please...
.
Now Playing;
Pray – Tommy Heavenly || So So – JYJ || Mamacita – Super Junior
.
.
.
Future Child
[Chapter 8]
.
.
.
"Kami pulang~"
Jaejoong berjalan cepat ke arah kamarnya ketika pintu rumah ia buka. Ia tak memperdulikan tatapan bingung Changmin ke arahnya karena ia jauh berkali-kali lipat lebih bingung daripda Changmin.
Changmin yang heran langsung tersenyum lebar ketika melihat sosok Yunho di ambang pintu.
"APPA!"
Yunho yang sebelumnya terdiam menatap Jaejoong kini tersenyum lembut ke arah Changmin.
Changmin berlari ke arah Yunho lalu memeluk Yunho erat, sangat erat.
"Appa~ Minnie kira Appa bakal ninggalin Minnie."
Yunho menatap Changmin tak mengerti, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Changmin diam. Ia tak mungkin mengungkapkan alasannya pada Yunho. Tak mungkin.
Changmin menggeleng kuat, "Minnie sayang Appa~"
Yunho tersenyum kecil, "Appa juga sayang Minnie."
Changmin menggigit bibir bawahnya saat mendengar ucapan Yunho. Sungguh ia benar-benar tidak ingin Yunho pergi.
.
.
.
Yunho mencintaiku!? CINTA!?
Jaejoong benar-benar memasang muka horor sekarang.
Bagaimana bisa Yunho mencintaiku?
Jaejoong segera mengambil bantal dan berteriak di bantal itu.
Tidak mungkin! Tidak Mungkin!
Jaejoong berguling-guling di atas kasur dengan wajah yang ditutupi oleh bantal. Merasa nafasnya sudah sesak, Jaejoong segera melepaskan bantal itu dan menatap langit-langit kamar.
'Aku rasa... Aku mencintaimu.'
Blush!
"Aaakh..."
Jaejoong mengerang frustasi ketika wajah serius Yunho saat Yunho mengungkapkan perasaannya kembali terlukis di pikirannya.
Oke Jaejoong tenang!
Jaejoong mendudukan dirinya, "Tarik Nafas. Huff. Keluarkan. Fuuh."
Jaejoong menepuk-nepuk pipinya, "Oke Yunho tidak mungkin mencintaimu. Tidak Mungkin!" Jaejoong mencoba meyakinkan dirinya.
"Mungkin otaknya error! Ya pasti otaknya eror!" Jaejoong kini tiba-tiba tertawa, "Otaknya pasti eror sehabis men..."
Jaejoong menutup mulutnya ketika bayang-bayang itu kembali. Bayangan di mana Yunho menciumnya lembut lalu beralih ke kasar, bayangan di mana ia merasakan sensasi aneh yang mencanduinya dan bayangan di saat kedua manik kelam Yunho menatapnya. Hanya menatap dirinya.
Jaejoong mendesis ketika merasakan debaran jantungnya menggila, Ia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Aku benar-benar sudah gila."
.
.
.
Changmin mengunyah makanannya dalam kebingungan. Walau nafsu makannya sama sekali tidak berkurang ia tetap merasa heran melihat kedua orang tuanya.
Semenjak kemarin mereka berdua pulang, perilaku mereka sangat aneh. Oke mungkin Changmin terlihat polos, tapi dia bukanlah orang bodoh. Mereka berdua memang saling menyapa, saling bicara namun mereka tidak saling menatap muka, Yunho masih menatap Jaejoong tapi Jaejoong seloah tidak sudi menatap Yunho, bahkan ketika Changmin tak ada Jaejoong bertingkah seolah tak mengenal Yunho! Sebenarnya ada apa? Mengapa Umma dan Appanya bertindak seperti itu?
.
.
.
"Umma, Appa, Minnie berangkat kuliah dulu ya~" Changmin berucap cepat sembari mengambil semangkuk nasi goreng dari atas meja.
"Changmin-ah! Jangan ambil mangkuknyaaa!" Jaejoong memekik panik dari bilik dapur.
Changmin mengerucutkan bibirnya, "Tapi min lapar Umma!"
Jaejoong mendecak tak habis pikir, "Umma tahu kau lapar, tapi gak sampai satu mangkuk juga kau ambil!"
Changmin semakin memajukan bibirnya, kedua pipinya mengembung penuh dengan nasi goreng.
Jaejoong mengurut dahinya tak habis pikir, ia lalu kembali ke dapur dan kembali dengan kotak bekal tiga tingkat.
"Ini bekal untukmu. Kembalikan nasi gorengnya!"
Changmin tersenyum lebar, dengan penuh suka cita ia menerima kotak bekal dari Jaejoong sembari menyerahkan mangkuk nasi goreng pada Jaejoong.
"Kau bareng Kangin dan Leeteuk lagi, Min?"
Changmin menatap Yunho lalu mengangguk.
Pim! Pim!
Changmin tersenyum lebar mendengar bunyi klakson. Jaejoong dan Yunho mengikuti Changmin sampai pintu gerbang.
"Min berangkat dulu ya, Umma, Appa."
Changmin memeluk Yunho dan Jaejoong bergantian.
"Min sayang kalian!"
Yunho dan Jaejoong tersenyum memperhatikan Changmin yang penuh dengan antusiasme melambai ke arah mereka dari kaca mobil yang dibukanya.
Yunho menatap Jaejoong di sampingnya.
"Ja—"
Belum sempat Yunho mengucapkan nama Jaejoong, Jaejoong sudah berbalik memasuki rumah.
Yunho mengepalkan tangannya lalu menatap Jaejoong.
"Kenapa kau seperti ini?"
"Apa maksudmu?" Jaejoong berucap dingin tanpa menatap Yunho.
"Jangan pura-pura tak mengerti!"
Jaejoong mengambil tasnya, "Aku memang tak mengerti."
Jaejoong beranjak melewati Yunho, namun Yunho tak mengijinkan Jaejoong pergi, Yunho memegang pundak Jaejoong.
"Kenapa kau menghindariku? Menganggapku tak ada? Apa karena pengakuanku kemarin? Tapi Jae, itu perasaanku sebenarnya! Aku menci—"
Plak!
Jaejoong menepis tangan Yunho, "Berhentilah mengucapkan kata-kata menjijikkan itu, Jung."
Yunho membatu mendengar ucapan Jaejoong, Jaejoong mendecih, "Jika bukan karena Changmin, aku benar-benar sudah menghabisimu."
.
.
.
Yoochun menatap Jaejoong dari jauh dalam keheningan. Seluruh siswa tak berani mendekati Jaejoong karena aura tak bersahabat yang menguar dari dirinya.
Aura hitam yang cocok dengan kebencian, namun Yoochun tahu pasti kalau kini Jaejoong tidak merasakan benci. Dia sama sekali tidak merasakan kebencian.
"Jae..."
Jaejoong memijit pelipisnya, "Aku pulang duluan, Chun."
"Eh?"
Yoochun menatap Jaejoong tak mengerti. Jaejoong berdiri di tengah-tengah pelajaran. Ssaeng dan seluruh penghuni kelas menatapnya namun Jaejoong tak ambil pusing, ia tetap melangkah mendekati pintu kelas.
"Kim Jaejoong! Kembali ke mejamu!" Ssaeng membentaknya, Jaejoong yang telah membuka pintu menatap Ssaeng dengan ekor matanya, melihat manik mata Jaejoong yang menyiratkan ketidaksukaan membuat seluruh penghuni kelas memalingkan tatapan mata mereka dan Ssaeng menciut ketakutan.
"Jangan berani-berani memerintahku."
BRAK!
Keadaan kelas sontak menggelap. Ssaeng segera mencoba mengembalikan ke keadaan biasa, seolah kejadian tadi tak pernah terjadi.
Yoochun menatap pintu kelas yang tertutup dengan khawatir. Sial! Jae, sikapmu bisa membuat orang salah paham tahu!
Dalam hati Yoochun berdoa untuk keselamatan sahabat baiknya itu.
.
.
.
Jaejoong melompati pagar dengan mudahnya. Moodnya benar-benar hancur saat ini. Sudah pusing karena pengakuan Yunho kemarin, dan kini ditambah tak enak karena ucapannya pada Yunho tadi pagi.
Ya tuhan. Sungguh, Jaejoong sama sekali tidak bermaksud mengucapkan hal itu. Jaejoong hanya terlalu bingung akan perasaannya pada Yunho.
"Aaarg!" Jaejoong menggeram frustrasi. Saking kesalnya tanpa sadar Jaejoong menendang kaleng di hadapannya. Kaleng itu terlempar cukup tinggi sampai akhirnya terjatuh di salah satu gang kecil.
"Aw!"
Jaejoong mengerjap ketika mendengar suara rintihan dari gang kecil itu. Tak lama gerombolan namja seumuran dengannya muncul dengan wajah sangar dari gang kecil itu.
"Siapa yang berani melempar kaleng ini!?"
Seragam itu... Sekolah tetangga, Yawun High School, musuh abadi sekolah Dong Bang. Geng Hitam.
Ketua geng hitam—Woo Bin. Berandalan yang menjadi musuh bebuyutan Jaejoong, tersenyum mengejek ketika melihat Jaejoong.
"Oh... ternyata kau cecunguk dong bang." Woo Bin berucap meremehkan. Jaejoong benar-benar dalam mood jelek kali ini, ia sekarang tak bisa menahan emosinya. Jaejoong memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celananya, memasang pose angkuh khas Kim Jaejoong.
"Ah~ para sampah... Hi, lama tidak bertemu uh. Kalian belum kapok aku habisi?"
"Uh~ takut~." Woo Bin memasang mimik ketakutan namun detik selanjutnya ia tertawa mengejek.
"Kau tak sadar jumlah kami berkali-kali lebih banyak daripada kau? Sekarang saatnya kau bertekuk lutut pada kami."
Jaejoong mendecak, ia baru sadar kalau kini ia hanya sendirian. Tapi emosi yang tak stabil membuat Jaejoong tak ambil pusing akan hal itu. Jaejoong melempar tasnya dan melipat lengan bajunya. Ia memasang seringai meremehkannya.
"Sendiri pun aku bisa menghabisi kalian."
.
.
.
Yoochun tak bisa fokus dengan pelajarannya. Walaupun biasanya ia tak pernah fokus pada pelajaran, kini ia lebih tak fokus pada pelajarannya. Perutnya sakit saking khawatirnya ia pada sahabat baiknya itu. Ia punya firasat buruk dan hal itu benar-benar membuatnya tak tenang!
Aku harus berbuat sesuatu!
Yoochun mengangkat tangannya, "Ssaeng, ijin ke kamar mandi ya!"
Ssaeng menganggukkan kepalanya, melihat hal itu Yoochun langsung berlari keluar kelas namun alih-alih ke kamar mandi, Yoochun berlari ke kelas Yunho.
Ia tak bisa keluar sekolah dengan selamat. Tidak bisa, pengawas pasti mengejarnya habis-habisan.
Sampai di depan kelas Yunho, Yoochun menegak ludahnya.
Yang paling bisa mengelabui pengawas hanyalah siswa yang biasa dipercayai. Sang ketua OSIS, Jung Yunho.
Tok Tok.
Yoochun membuka pintu kelas Yunho, membuat seluruh penghuni kelas menatapnya, kecuali satu orang, Jung Yunho. Yunho menatap ke luar Jendela dengan tatapan kosong.
Sudah aku duga semua ini berkaitan dengannya.
Yoochun menatap Ssaeng yang mengajar di kelas Yunho. Ssaeng yeoja yang biasa ia goda. Yoochun memasang senyum mematikannya.
"Hi, Ssaeng. Masih cantik saja sih."
Ssaeng itu tertawa mendengar gombalan Yoochun, "Yoochun-ah. Berhentilah menggoda ibu seperti itu. Ada apa kau kemari?"
"Itu bukan godaan, Ssaeng memang masih cantik kok~" Ssaeng kembali tertawa geli, pipinya memerah, tak ada satupun yeoja yang mampu melawan pesona seorang Park Yoochun, bahkan yeoja-yeoja di kelas ini memekik tak terima mendengar gombalan yang Yoochun lemparkan pada Ssaeng, namun senyuman puas itu terhapus ketika menyadari tatapan tak suka dari mata tear drop yang berkaca-kaca.
Akh! Aku lupa ini juga kelas Junsu!
Yoochun menutup matanya erat, lalu kembali menatap mata Ssaeng.
"Ssaeng, maaf, Yunho di suruh ke ruang praktek IPA."
Ssaeng mengangguk lalu memanggil Yunho, namun Yunho tak menyadari panggilan itu sampai Junsu menyikut lengannya. Yunho tersentak dan langsung menatap Ssaengnya.
"Ne, Ssaeng?"
Ssaeng menyuruh Yunho mengikuti Yoochun. Yunho yang baru menyadari keberadaan Yoochun itu akhirnya mengangguk dan berjalan ke arah Yoochun.
Yoochun tersenyum ke arah Ssaeng, "Gomawo~." Setelah itu ia melambaikan tangannya dan melemparkan senyum tersirat pada Junsu namun Junsu tak mau menatap Yoochun dan malah yeoja-yeoja di kelas itu yang berteriak kegirangan.
Yoochun menghela nafas lalu berjalan keluar bersama Yunho.
Yoochun yang berjalan di belakang Yunho menatap punggung Yunho dengan tatapan kosong.
"Hey, Jung." Yoochun berucap tepat ketika Yunho berbelok ke ruang IPA.
Yunho menatap Yoochun, Yoochun menghela nafas panjang.
"Aku bohong. Kau sama sekali tidak diminta ke ruang IPA."
Yunho menyerit, "Lalu kenapa kau ke kelasku?"
Yoochun menatap keluar jendela lalu kembali menatap Yunho, "Kau ada masalah dengan Jaejoong 'kan?"
Yunho tak menjawab pertanyaan Yoochun, Ia malah menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong.
"Ternyata benar."
Yunho menatap Yoochun lelah, "Apa... apa dia membenciku?"
Yoochun menyilangkan tangannya, "Tidak, dia sama sekali tidak membencimu."
"Tapi dia bi—"
"Dia hanya bingung."
"Ha?"
Yoochun menghela nafas pelan, "Dia biasa seperti itu... semenjak dia kecil dia terbiasa seperti itu."
Yoochun tertawa, "Jika ia bingung dia selalu mengucapkan keterbalikan dari apa yang ia rasakan."
"Kebalikan?"
Yoochun tersenyum, "Dia seperti kucing... jika kau terlalu memaksakan untuk mendekatinya dia akan ketakutan. Perlahan saja... perasaanmu pasti tersampaikan padanya."
"Perlahan?"
Yoochun mengangguk, "Ne. Selebihnya kau pikirkan saja baik-baik."
Yunho terdiam mendengar ucapan Yoochun, dalam hati ia membetulkan ucapan Yoochun, kalau dipikir-pikir tindakannya memang terlalu terburu-buru.
Menciumnya tiba-tiba. Mengungkapkan perasaan tiba-tiba. Bahkan nyaris lepas kendali! Ya tuhan, apa yang selama ini aku lakukan terhadapnya!
"AKH!"
Yunho tersentak dari lamunannya, "Ada apa?"
Yoochun kembali teringat tujuan awalnya, ia bergerak gelisah di hadapan Yunho.
"Kenapa sampai lupa. Ya tuhan! Jung, kau harus membantuku!"
.
.
.
Baku hantam tak bisa di hindari. Emosi Jaejoong yang tak terkendali membuatnya tetap mengamuk walau ia sudah babak belur. Ia memang kuat tapi faktor kalah jumlah tetap membuatnya kewalahan.
Lebam jelas tercetak di wajah manisnya, darah segar keluar dari bibir merahnya yang sobek dan hidungnya yang patah. Penampilannya benar-benar sudah memperhatikan.
Tapi, walaupun ia sendiri, ia mampu menghabisi setengah dari geng hitam yang menghadangnya. Namun Jaejoong tetaplah manusia yang penuh keterbatasan. Energinya sudah termakan habis, nafasnya bahkan sudah terputus-putus saking lelahnya.
Jaejoong mengatur nafasnya yang terputus-putus, ia mencoba menatap ke depan namun pandangannya sudah buram. Ia benar-benar sudah sampai di batasnya.
"Sudah menyerah?" Woo Bin bertanya meremehkan. Jaejoong tertawa, "Tak akan pernah."
Woo Bin menggeram marah, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Jaejoong.
Mengumpulkan tenaganya ia berhasil memukul telak di wajah anak buah Woo Bin, namun yang menyerangnya bukan hanya satu orang, anak buah yang lain berhasil menjatuhkannya ke tanah.
BUGH!
"AGH!" Jaejoong merintih kesakitan ketika anak buah Woo Bin memukul punggungnya dengan stik baseball.
Woo Bin tersenyum bahagia melihat Jaejoong terjatuh tak berdaya.
"Kim Jaejoong..." Woo Bin menarik rambut pirang Jaejoong, memaksa Jaejoong menatapnya, "Akhirnya kau terjatuh juga di hadapanku."
Pandangan dan pendengaran Jaejoong sudah tak jelas, kesadarannya sudah di ambang batas. Namun melihat wajah mengejek Woo Bin, tanpa bisa menangkap ucapannya saja Jaejoong sudah tahu kalau dia mengejeknya.
Cuih.
Bola mata Woo Bin membelalak tak percaya ketika Jaejoong meludahinya.
"SIAL!"
Dengan kasar Woo Bin mempertemukan wajah Jaejoong dengan jalanan. Jaejoong merintih ketika Woo Bin menginjak kepalanya.
Woo Bin menatap geram Jaejoong, "Memang... jika belum membunuhmu aku tak akan puas." Woo Bin mengeluarkan sebuah pisau lipat dari seragamnya.
Jaejoong yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendapatkan fokus dirinya, dapat mendengar jelas ucapan Woo Bin. Namun tenaganya sudah terkuras habis, ia bahkan tak bisa menggerakkan satu jaripun.
Dalam ketidakberdayaannya di bawah kaki Woo Bin, Jaejoong menghakimi dirinya, kenapa ia sampai termakan emosi? kenapa ia tidak lari saja? Padahal dia tahu kalau dia kalah jumlah dari geng hitam.
Jaejoong menutup matanya pasrah, ia tak bisa berbuat apapun.
Yoochun maafkan temanmu ini. Junsu tolong jaga Yoochun untukku. Changmin maaf Umma meninggalkanmu. Yunho...
Woo Bin menatap Jaejoong penuh kemarahan,
"MATI KAU!"
Yunho... aku...
JLEB!
.
.
.
Tes... Tes...
Perlahan Jaejoong membuka matanya ketika dia tak merasakan sedikitpun kesakitan setelah beberapa detik Woo Bin berteriak. Seharusnya ia merasa kesakitan ketika Woo Bin menusuknya ya kan?
Tetesan darah berwarna merah pekat jatuh tepat di hadapannya ketika Jaejoong membuka mata. Tetesan darah yang jatuh di tempat yang seharusnya.
Jaejoong mendongak dan terkejut setengah mati ketika melihat sosok yang sangat tidak ia harapkan datang berdiri melindunginya dengan tangan penuh darah karena menahan pisau Woo Bin.
"Y-Yunho?"
Yunho menatap Jaejoong sekilas lalu kembali menatap Woo Bin, tanpa aba-aba Yunho langsung menendang Woo Bin sampai Woo Bin terpental ke tembok.
Yunho membuang pisau yang berlumuran darah lalu mendecak, "Kalian benar-benar pengecut bermain keroyokan seperti ini."
Woo Bin merintih, "Apa kau bilang!? Jangan jadi pahlawan kesiangan, sialan! Serang dia!"
Yunho mengepalkan tangan yang berlumuran darah lalu menyeringai, "Akan ku balas kalian!"
Jaejoong terpaku tak percaya melihat pertarungan di hadapannya. Yunho dengan tangan yang terluka cukup parah berusaha menghabisi anak buah Woo Bin.
Kenapa...
Jaejoong menatap pisau yang berlumuran darah tak jauh di hadapannya.
Kenapa Yunho datang ke sini?
"UGH!" Yunho terkena serangan salah satu anak buah Woo Bin, Yunho menatap Jaejoong lalu tersenyum kecil, "Tunggu sebentar lagi ya? Aku pasti akan menghabisi mereka lalu membawamu ke dokter."
Jaejoong menatap Yunho yang kembali menyerang geng hitam dalam diam.
Kenapa Yunho menyelamatkan aku? Padahal aku sudah...
Anak buah Woo Bin telah berhasil di jatuhkan oleh Yunho, kini tersisa Woo Bin yang sudah terpojok oleh Yunho.
"Sebenarnya siapa kau!? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, untuk apa kau menolong namja menjijikkan itu!?" Woo Bin bertanya murka.
Yunho mendecih, "Pengecut sepertimu tak perlu tahu siapa aku... dan jangan pernah menyebut Jaejoong seperti itu! Dia orang berharga untukku!"
BUGH!
Yunho memukul Woo Bin sangat keras untuk melampiaskan segala kemarahan di dalam dirinya. Woo Bin jatuh tak sadarkan diri di hadapan Yunho.
Yunho segera berbalik ke arah Jaejoong yang menatapnya tak percaya.
"Jae! Kau tidak apa-apa?" Yunho membantu Jaejoong untuk duduk. Jaejoong menatap Yunho dalam. Jaejoong menatap tangan Yunho yang penuh darah. Luka yang didapatinya karena menolong Jaejoong.
"Kenapa..." Cairan bening itu perlahan keluar dari mata doenya. Membasahi luka di wajahnya, perih tapi Jaejoong yakin luka di tangan Yunho jauh lebih menyakitkan.
"Jaej—" Yunho terdiam panik tak mengerti harus berbuat apa ketika melihat Jaejoong menangis.
"Jae... kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?" Mendengar ucapan Yunho, membuat Jaejoong mendelik ke arah Yunho.
"BODOH! AKU MEMBENCIMU! BENCI! BENCI!" Jaejoong berteriak kesal membuat Yunho menunduk lemas. Mendengar seseorang yang ia cintai ternyata membencinya itu sangat menyakitkan.
BRET!
Yunho mendongak menatap Jaejoong yang tengah merobek seragamnya. Robekan seragam itu lalu Jaejoong lilitkan pada luka di tangan Yunho.
"Ja—"
"Kenapa kau sangat bodoh Yun... Kenapa?" Tangisan Jaejoong semakin menjadi, Jaejoong menggenggam lembut tangan Yunho dengan kedua tangannya yang bergetar.
"Kenapa kau membantuku? Kenapa kau menolongku? Kenapa? kenapa?" Jaejoong mendekatkan wajahnya pada tangan Yunho yang terluka karenanya.
"Kenapa kau masih sempat bertanya keadaanku sementara tanganmu ini terluka lebih parah daripada aku? Kenapa Yun... kenapa?"
Yunho terdiam membisu mendengar rentetan pertanyaan Jaejoong. Air mata dan hembusan nafas Jaejoong terasa di permukaan kulit tangan yang perlahan mengebas dan kaku.
"Semua itu karena..." dengan tangannya yang bebas Yunho menyentuh wajah Jaejoong. Jaejoong mendongak menatap Yunho dengan wajah penuh air mata. Kemarahan Yunho kembali muncul ketika melihat banyaknya luka di wajah Jaejoong. Yunho mengusap lembut air mata Jaejoong, "...karena kau adalah orang yang sangat berharga bagiku, Jae. Aku tak ingin orang yang berharga bagiku terluka."
Tangisan Jaejoong semakin menjadi ketika mendengar ucapan Yunho.
Yunho masih menganggapnya orang berharga padahal tadi pagi ia sudah mengucapkan kalimat yang melukai dirinya.
"Maaf. Maaf. Maaf."
Yunhi tersenyum kecil, "Aku memaafkanmu jika kau tidak menjauhiku."
Jaejoong menatap Yunho sedih. Yunho tersenyum kecut.
"Karena saat kau menjauhiku, itu lebih menyakitkan daripada luka ini."
Jaejoong mencoba menghapus air matanya, Yunho tersenyum.
"Maukah kau berjanji untuk tidak menjauhiku?"
Jaejoong mengangguk lemah "Janji..."
.
.
.
Sehabis pertarungan itu Jaejoong mendapat banyak luka di seluruh tubuhnya dan sesuai pemikiran Jaejoong, luka yang diterima Yunho di tangan Kanannya jauh lebih parah dari yang Jaejoong dapatkan, lukanya cukup dalam dan Yunho perlu mendapatkan beberapa jaitan untuk menutup lukanya.
Yunho masih sering menghabiskan waktunya di rumah Jaejoong. Bermain bersama Changmin sekaligus merawat Jaejoong walau adanya malah Jaejoong yang merawat Yunho. Sesuai Janjinya Jaejoong tak lagi menghindari Yunho tapi... kenapa rasanya kini Yunho yang menghindarinya?
Yunho tak lagi menginap di rumah Jaejoong, saat larut malam setelah Changmin tertidur Yunho pulang ke rumahnya dan dini hari sebelum Changmin bangun Yunho akan kembali. Di sekolah Yunho memang masih menyapanya namun ketika Dia, Junsu, Yoochun dan Yunho berkumpul, Yunho tak bisa lama-lama, pasti selalu saja ada alasan untuk pergi, entah ada urusan OSIS lah, permintaan guru lah. Saat di rumah pun Yunho tak lagi banyak bicara pada Jaejoong, Yunho malah jauh lebih sering bermain dengan Changmin.
"Yun."
Yunho yang tengah membaca koran itu mendongak lalu tersenyum, "Ne?"
Jaejoong menatap dalam Yunho, "Tidak. Bukan apa-apa."
"Ok. Baiklah."
Aneh. Aneh. Aneeeeh! Ini sangat aneh!
Biasanya, Yunho yang biasanya, pasti akan bertanya lebih lanjut dengan wajah menyebalkannya. Tapi kenapa kini Yunho bersikap cuek dan berwajah tenang seperti itu? Seolah-olah dia tidak peduli padaku!
Eh... tunggu...
Kenapa aku harus ambil pusing tentang Yunho memedulikanku atau tidak? Bukannya bagus ya kalau Yunho tidak peduli padaku? Dia jadi tidak merepotkanku 'kan?
Jaejoong menatap Yunho, 'Tapi...' Jaejoong mengepalkan tangannya, tanpa ia sadari manik matanya menyiratkan perasaan yang tak ia sadari keberadaannya, '...kenapa terasa sangat tidak nyaman ketika dia tidak peduli padaku seperti ini?'
.
.
.
"Umma! Appa!"
Changmin tersenyum lebar sembari berlari ke tempat di mana Yunho dan Jaejoong berada. Baik Yunho maupun Jaejoong tersenyum menyambut kedatangan Changmin. Changmin duduk di antar kedua orang tuanya lalu menunjukkan kertas yang dibawanya pada Yunho dan Jaejoong. Jaejoong dan Yunho membaca isi kertas itu dengan penasaran.
"Olimpiade keilmuan? Ya, tuhan... jangan bilang kalau..." Jaejoong menatap Changmin tak percaya. Changmin tersenyum lebar lalu mengangguk, "Neee~ Changmin terpilih untuk mengikuti olimpiade tahun ini, Umma!"
Jaejoong balas tersenyum lebar lalu memeluk erat Changmin, "Wah! Pinternya anak Umma ini!"
Lain dengan Jaejoong yang langsung saja bahagia setelah membaca baris pertama yang tertulis di kertas, Yunho membaca seisi kertas terlebih dahulu sebelum membuka mulutnya.
"Jadi kau harus menjalani perkemahan untuk mengasah kemampuanmu?"
Jaejoong yang tengah memeluk Changmin menatap Yunho tak mengerti, "Eh? Apa?"
Yunho menghela nafas, "Nih! Baca dulu sampai habis."
Yunho menyerahkan kertas yang dipegangnya ke Jaejoong lalu menatap Changmin yang menatapnya memohon ijin.
"Eeeeh~ Changminnie harus menginap satu minggu penuh!?" Jaejoong yang telah membaca seisi kertas berkomentar terkejut. Yunho menatap ekspresi Jaejoong, beralih ke Changmin lalu menghela nafas.
"Minnie boleh pergi kan, Appa? Boleh ya? Boleh? Eeteukie hyung dan Kangin hyung juga ikut kok Appa. Please ijinin Minnie ikut ya?"
"Appa akan ikut apapun jawaban Ummamu. Tanya Umma sana!"
Changmin segera beralih pada Jaejoong dengan puppy eye yang tak mungkin bisa Jaejoong lawan. Jaejoong menghela nafas lalu tersenyum kecil, "Umma memang tak bisa melawan tatapanmu itu. Baiklah, Umma mengijinkanmu pergi."
Changmin tersenyum lebar lalu beralih pada Yunho, Yunho tersenyum, "Kalau begitu Appa juga mengijinkanmu."
Changmin berteriak senang lalu memeluk erat kedua orang tuanya yang dengan senang hati membalas pelukan itu dengan pelukan yang sama eratnya.
"Sekarang isi biodatamu di kertas ini dan kembali ke Appa jika sudah selesai, ne?" Yunho memberikan kertas itu kembali pada Changmin. Changmin mengangguk ceria lalu langsung melesat pergi kembali ke lantai atas.
Jaejoong tersenyum kecil namun senyumannya hilang seketika ketika ia menyadari sesuatu.
Jika Changmin pergi maka Jaejoong akan tinggal berdua saja dengan Yunho 'kan? Berdua!? Bagaimana jika kejadian itu terulang lagi? Jaejoong belum siap menerimanya, jantungnya saja masih suka berdetak cepat ketika mengingatnya apalagi jika merasakannya kembali.
Wajah Jaejoong memucat pasi, takut-takut Jaejoong menatap Yunho namun ketika menyadari Yunho tengah menatapnya dengan wajah serius Jaejoong jadi takut atau malah gugup? Jaejoong pun tak mengerti apa yang tengah ia rasakan, yang pasti ia merasa sangat tidak nyaman dengan jantungnya yang berdetak cepat membuatnya sesak dan ditambah wajahnya yang memanas tiba-tiba.
"Jae..."
Jaejoong segera menutup matanya takut ketika melihat tangan Yunho terangkat ke arahnya. Namun perlahan Jaejoong membuka matanya ketika ia hanya merasakan tepukan dan usapan lembut di kepalanya.
"Y-Yunho?"
Yunho tersenyum kecil, "Tenang saja," Yunho menurunkan tangannya dari kepala Jaejoong, "saat Changmin pergi aku tak akan ada di sini."
Aku terdiam mendengar ucapan Yunho. Yunho tersenyum namun matanya tidak. Sebenarnya ada apa?
"Yu—"
"APPAAA~~~"
Changmin berteriak dari kejauhan. Changmin duduk kembali di antara Jaejoong dan Yunho.
Jaejoong terdiam mengamati Changmin dan Yunho. Yunho kini tersenyum lembut dengan mata yang juga tersenyum namun kenapa matanya tadi seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Yunho... sebenarnya ada apa?
.
.
.
Walaupun hari ini adalah hari libur, Yunho tetap datang seperti biasanya. Yunho datang sangat pagi sebelum Changmin terbangun. Dengan Kunci cadangan yang Jaejoong berikan padanya ia tak perlu mengganggu tidur Jaejoong ataupun menunggu sampai Jaejoong bangun dan membukakan pintu untuknya. Yunho sendiri tak mau membayangkan harus menunggu berapa lama di depan pintu sampai Jaejoong membuka pintu.
Yunho menguap kecil di depan pintu rumah Jaejoong. Perlahan ia membuka pintu rumah Jaejoong.
"Pa—" ucapan salam tak jadi keluar dari mulutnya ketika melihat keadaan rumah Jaejoong.
"Ya Tuhan. Ada apa ini!?" Yunho berjalan tak percaya di antara puing-puing atap yang jatuh mengotori lantai. Ada apa sebenarnya? Mengapa langit-langitnya pada berjatuhan? Apa angin puyuh bertamu kemarin? Bagaimana bisa Ja—
Mata Yunho membulat. JAEJOONG CHANGMIIN!
Yunho segera berlari ke lantai atas khawatir akan keadaan Jaejoong dan Changmin. Tiada hentinya ia berdoa di setiap langkahnya.
BRAK!
Yunho membuka pintu kamar tanpa perasaan, dadanya naik turun senada dengan nafasnya yang tak terkendali. Ia mendesis kesal ketika melihat kedua sosok yang dikhawatirkannya sedang tidur dengan nyenyaknya di atas tempat tidur dengan saling memeluk satu sama lain.
Mereka berdua benar-benar kebo. Yunho geleng-geleng kepala.
Karena kemungkinan yang terburuk tetap ada Yunho segera membangunkan Jaejoong dan Changmin. Ogah-ogahan mereka berdua beranjak dari kamar mereka. Dengan mata yang hanya setengah terbuka mereka mengikuti langkah Yunho yang menarik mereka. Jaejoong membuka dan menutup matanya bergantian sedangkan Changmin bersiap kembali tertidur dengan bantal di pelukannya.
Yunho meninggalkan Jaejoong yang setengah terbangun di ruang makan dan beranjak menidurkan Changmin di ruang tamu. Setelah itu Yunho kembali ke ruang makan untuk menemukan Jaejoong yang tertidur dengan bersandaran tangga.
Yunho menghela nafas lalu kembali membangunkan Jaejoong. Jaejoong mengerang protes.
"Yun masih pagi tau." Bibirnya mengerucut, alisnya menyatu dengan mata yang tertutup rapat. Ekspresi protes Jaejoong.
Yunho tetap mencoba membangunkan Jaejoong, "Aku tau ini masih pagi tapi kau harus bangun! Jae! Jae! Jae!"
"Aiiiiish! Arra! Arra! Aku bangun!" Jaejoong menegakkan tubuhnya, alisnya semakin mengerut dan bibirnya semakin maju mengerucut namun perlahan matanya terbuka, tertutup, terbuka, tertutup sampai akhirnya matanya terbuka selebar-lebarnya bersamaan dengan teriakkan terkejut yang keluar dari mulutnya.
"APA YANG TERJADI DI SINI!?" teriakan Jaejoong menggema di pagi hari. Yunho menghela nafas.
"Entahlah saat aku datang keadaannya sudah seperti ini. Memangnya tadi malam kau tak merasakan apapun?"
Jaejoong yang pucat pasi menggeleng pelan. Yunho menghela nafas.
"Untung saja kalian berdua selamat di atas. Kalau sampai rubuh gimana?"
Wajah Jaejoong semakin pucat, "Aku... aku tak ingin membayangkannya."
Sekali lagi Yunho menghela nafas, "Hari ini hari ke berangkatan Changmin 'kan?"
Jaejoong mengangguk pelan, "Syukurlah. Apa kau sudah menyiapkan keperluannya?"
Jaejoong mengangguk tapi ia segera menggeleng, "Bekal... belum aku si..." Jaejoong tak bisa melanjutkan ucapannya ketika ia melihat keadaan dapur tercintanya. Hiks, rasanya Jaejoong ingin menangis.
"Bekal kita beli di luar saja. Di mana kau menyimpan peralatan Changmin, Jae?"
"Kamar."
Yunho menatap ke lantai atas lalu mengangguk, "Kau mau nitip pakaian ganti, Jae?"
Jaejoong menatap Yunho tak mengerti, "Pakaian ganti? Untuk apa?"
"Mengungsi. Kau tidak bisa tinggal di rumah dalam keadaan seperti ini kan?"
Jaejoong yang baru mengerti menganggukkan kepalanya.
"Oke, kau mau titip atau ambil sendiri?"
"Ti—"
Tunggu, jika aku meminta tolong pada Yunho, Yunho bisa melihat pakaian dalamku, dong?
"Tidak. Aku sendiri saja."
Yunho mengangguk lalu segera naik ke atas diikuti oleh Jaejong. Yunho masuk ke dalam kamar orang tua Jaejoong untuk mengambil perlengkapan Changmin sementara Jaejoong pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.
Jaejoong memasukan semuanya ke dalam beberapa tas yang ia siapkan. Jaejoong terdiam ketika ia membuka laci tempat ia menaruh pakaian dalamnya.
Tunggu... kenapa aku harus malu jika Yunho melihat pakaian dalamku? Aku juga laki-laki sama sepertinya kan?
Jaejoong mendesis tak habis pikir sembari menggelengkan kepalanya. Ia segera melanjutkan kegiatannya.
Kau aneh Kim Jaejoong.
.
.
.
Changmin telah pergi beberapa menit yang lalu bersama kedua kakak kelasnya yang biasa menjemputnya. Jaejoong terdiam memakan sarapan paginya dengan memikirkan keadaan rumahnya. Yunho yang telah menghabiskan sarapan paginya menatap bingung Jaejoong yang tengah memakan sarapannya tanpa nafsu.
"Kau sedang memikirkan rumahmu?" Tebak Yunho tepat sasaran, Jaejoong menghela nafas, "Ne."
Yunho meminum kopinya, "Aku telah menyuruh tukang bangunan untuk mengecek keadaan rumahmu."
Jaejoong mendongak terkejut, "Kapan?"
"Tadi saat kau sibuk menenangkan Changmin."
Jaejoong terdiam sejenak lalu mengangguk mengerti, "Lalu bagaimana?"
Yunho mengecek ponselnya lalu kembali menatap Jaejoong, "Untungnya hanya ada sedikit kerusakan di atap-atap rumahmu. Fondasi rumah tidak terganggu jadi tidak terlalu makan waktu banyak untuk membetulkan rumahmu."
Jaejoong menghela nafas lega, "Berapa lama?"
"1 minggu."
Jaejoong kembali mengerut, "1 minggu itu lama, babo!"
Jaejoong mengerang tertahan, "Di mana aku harus tinggal?"
"Bagaimana kalau sementara kau tinggal di rumahku?"
Jaejoong tersentak kaget mendengar ucapan Yunho. wajahnya memucat pasi. Melihat raut wajah Jaejoong membuat Yunho segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi padamu..." Yunho mengalihkan matanya dari mata Jaejoong yang menatapnya.
"Di rumah sangat banyak kamar kosong, kau boleh menempatinya untuk satu minggu."
.
.
.
Semenjak dari tempat makan Yunho tak mengucapkan satu kata 'pun. Ia diam sibuk dengan pikirannya, saat Jaejoong bertanya ia malah balik bertanya.
"Ayo masuk."
Yunho tak mempedulikan sapaan dari Butler menyebalkan yang menyambut Jaejoong kemarin.
Jaejoong masuk mengekori Yunho, ia memeluk tas kecilnya sementara 2 tas besar lain yang ia bawa sudah terlebih dulu direbut oleh Yunho.
Jaejoong terdiam menatap punggung Yunho di depannya. Kenapa tiba-tiba saja Yunho diam? Apa dia melakukan hal yang salah?
Yunho membuka pintu kamar lalu menaruh kedua tas Jaejoong di atas tempat tidur. Yunho segera mendekati Jaejoong yang terdiam menatapnya dalam diam di ambang pintu.
"Ini kamarmu dan ini kuncinya." Jaejoong menerima kunci kamar yang diberikan Yunho lalu mendongak menatap Yunho.
"Apa kau marah padaku?"
Yunho mengerit, "Tidak."
"Lalu kenapa kau diam saja dari tadi?"
Yunho terdiam lalu tertawa kaku, "Ah itu? tidak apa-apa. Aku ke kamarku dulu. Kalau ada apa-apa kau bisa ke kamarku."
Yunho segera pergi meninggalkan Jaejoong tanpa membiarkan Jaejoong mengucapkan sepatah kata 'pun. Jaejoong melihat ke pergian Yunho penuh tanda tanya. Jaejoong mengunci kembali pintu kamar lalu menidurkan tubuhnya di atas kasur. Jaejoong menatap ke langit-langit kamar.
Sebenarnya apa salahku? Kenapa tiba-tiba Yunho bersikap aneh padaku?
.
.
.
Tok tok tok!
Jaejoong menggeliat tak nyaman di atas tempat tidur ketika mendengar suara ketukan dari pintu. Jaejoong mengerang pelan lalu membalik badannya dan menutup kepalanya dengan bantal mencoba kembali tidur.
Tok! Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu semakin keras terdengar, Jaejoong mendesis kesal lalu mendudukan dirinya.
"BERISIK!" Jaejoong berteriak kesal sembari mengacak rambutnya. Jaejoong mengerjapkan matanya mencoba mengusir kantuk yang menggantung di kelopak mata.
Ketukan di pintu sudah berhenti, Jaejoong menghela nafas lalu kembali menidurkan dirinya.
Satu, dua, tig—mata doe itu terbuka cepat ketika sadar akan situasinya. Jaejoong segera melompat dari tempat tidur lalu berlari dan membuka pintu kamar dengan cepatnya.
Yunho berdiri tepat di depan pintu sembari menyilangkan tangannya. Kedua alisnya bertaut kesal, "Ah~ akhirnya kau membuka pintu ini. Aku kira kau akan selamanya berada di dalam."
Jaejoong mendengus kesal, niatan untuk meminta maaf hilang begitu saja melihat tingkah menyebalkan Yunho. Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal, "Ada apa?" tanyanya ketus.
"Makan malam."
Jaejoong terdiam sejenak lalu menengok ke belakang. Dari jendela yang tertutup rapat langit hitam terlihat jelas di mata doe Jaejoong. Jaejoong menggaruk belakang kepalanya, tanpa sadar ia tertidur tadi.
Jaejoong kembali menatap Yunho, "Aku mau cuci muka dulu."
Yunho mengangguk, "Baiklah. Aku ke ruang makan duluan. Cepatlah, waktu makan tak akan terulang."
Mendengar ucapan Yunho, Jaejoong segera menutup pintu kamar dan berlari ke kamar mandi. Setelah itu Jaejoong segera keluar kamar dan berjalan cepat ke ruang makan—yang pernah ia masuki ketika ia mencari dapur saat menjenguk Yunho.
Jaejoong terdiam ketika ia melihat keadaan ruang makan yang ia masuki. Di ruangan yang sangat besar itu hanya ada Yunho yang tengah memakan makanannya dalam diam. Hanya terdengar dentingan halus alat makan yang Yunho gunakan. Jaejoong terdiam mengamati wajah Yunho, wajah yang kini terlihat sangat asing bagi Jaejoong, karena ketika Yunho makan bersamanya dan Changmin, Yunho selalu terlihat bahagia, ceria dan-yah kadang-menyebalkan tapi kini Yunho terlihat kesepian.
"Jaejoong?"
Jaejoong tersentak ketika mendengar Yunho memanggilnya. Jaejoong yang tadi mengintip dari pintu yang dibukanya kini memasukan seluruh tubuhnya ke ruang makan.
Jaejoong menatap makanan yang tertata jauh di seberang Yunho makan. Jaejoong menatap makanan tersebut lalu menatap Yunho.
"Ada apa?" Yunho kembali bertanya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Jaejoong menggeleng lalu duduk di hadapan makanannya. Jaejoong mulai memakan makanannya, sedikit menatap Yunho yang memakan makanannya dalam diam jauh di seberangnya.
Makanan yang tersaji di hadapannya sangatlah lezat, tapi dengan situasi ini Jaejoong sama sekali tidak bisa menikmati rasa makanannya. Rasanya hatinya terlalu berat untuk merasakan cita rasa makanannya. Jaejoong menatap Yunho yang kebetulan tengah menatapnya.
"Ada apa lagi? Kenapa kau terus menatapku?" Yunho bertanya heran namun Jaejoong terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga ia tak menyadari pertanyaan Yunho dan terus menatap Yunho.
Apa... setiap hari Yunho merasakan situasi seperti ini?
.
.
.
Setelah makan Yunho langsung pergi meninggalkan Jaejoong di ruang makan. Jaejoong menatap ke pergian Yunho dalam diam. Saat pintu di belakangnya tertutup Jaejoong menghela nafas berat. Dadanya terasa sesak entah karena apa.
Tanpa nafsu Jaejoong kembali memakan makanannya. Tiba-tiba pintu samping(dalam ruangan ini terdapat dua pintu, pintu utama dan pintu samping) terbuka, seorang Maid masuk dengan troli besi di tangannya. Melihat keberadaan Jaejoong di ruangan itu membuat Maid itu terkejut dan segera meminta maaf karena telah mengganggu, namun sebelum Maid itu pergi, Jaejoong segera memanggilnya. Takut-takut Maid itu menjawab panggilan Jaejoong.
"Kenapa kau takut seperti itu?" Jaejoong bertanya heran pada Maid yang menunduk tak berani menatapnya.
"S-saya hanya takut dipecat karena saya telah mengganggu waktu makan anda."
Jaejoong terdiam lalu mendengus, "Kau tak usah takut, saya hanya tamu di sini."
Maid itu tak bergerak sedikit 'pun setelah mendengar ucapan Jaejoong, sepertinya Maid itu tetap takut walau Jaejoong sudah mengatakan kalau ia hanya tamu di rumah ini.
Memutuskan untuk tidak mempedulikannya, Jaejoong kembali memakan makanannya walau tanpa niat.
"Hey, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" Jaejoong kembali menatap Maid yang tersentak kaget mendengar suara Jaejoong.
"Y-ya tuan?"
Jaejoong memangku wajahnya, "Apa setiap hari memang seperti ini?"
"Maaf tuan, saya tak mengerti pertanyaan anda." Maid itu menjawab ragu.
"Apa setiap kali Yunho makan ia selalu berada dalam situasi ini? Sendirian dalam ruangan ini?"
Maid itu mengangguk pelan, "Kami tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di ruangan yang sama dengan tuan muda kecuali saat tuan muda memerlukan kami."
Jaejoong merasa beban di hatinya semakin berat, "Di manapun tanpa ada pengecualian?"
"Ya tuan."
Jaejoong terdiam mendengar jawaban Maid itu. Jaejoong merasakan sesak itu semakin menggerogoti bagian dalam tubuhnya. Jaejoong menatap ke tempat duduk yang tadi Yunho duduki.
Yunho...
.
.
.
Tok tok tok
Jaejoong terdiam menunggu respons Yunho di depan pintu.
"Masuk saja."
Mendengar suara Yunho dari dalam kamar membuat Jaejoong tersenyum kecil, perlahan ia membuka pintu dan berekspresi seolah tidak ada rasa sesak di dadanya.
Yunho yang tengah berkutat di meja belajarnya menatap Jaejoong bingung, "Ada apa, jae?"
Jaejoong mengerucutkan bibirnya lucu, "Aku bosan."
Yunho menghela nafas, "Masuklah."
Jaejoong menutup kembali pintu kamar Yunho dan berjalan ke arah jendela kamar Yunho, "Apa kau punya hal menyenangkan di rumah ini? Rumah ini sangat membosankan," Jaejoong berucap pelan sembari menatap ke luar.
Yunho mengangguk pelan, "Memang membosankan."
"Huh? Kau bilang apa tadi?"
Yunho menggeleng pelan, "Tidak. Kau bisa nonton dvdku."
"Dvd?"
Yunho menunjuk lemari di bawah LED TVnya dengan pena yang tengah ia gunakan, "Di bawah TV, di dalam lemari, ada banyak dvd. Kau tonton itu saja."
Jaejoong segera membuka lemari yang di tunjuk oleh Yunho, bergumam takjub sembari memilih salah satu DVD milik Yunho di antara deretan DVD koleksi Yunho.
Setelah menemukan yang di inginkan Jaejoong segera memainkan DVD itu dan berjalan mundur dan duduk di atas tempat tidur Yunho.
Yunho fokus dengan apa yang ia kerjakan tanpa terganggu sedikit 'pun oleh suara TV, namun selang beberapa puluh menit, Yunho tersentak kaget ketika mendengar high pitch teriakan Jaejoong.
Yunho segera berbalik menatap Jaejoong. Ia menghela nafas lalu tersenyum geli melihat Jaejoong tengah menyembunyikan setengah wajahnya di bantal yang tengah ia peluk dengan erat.
"Kau takut 'eoh?"
Mendengar suara mengejek Yunho, membuat Jaejoong beralih ke arah Yunho. Wajah Jaejoong memerah lalu mendengus kesal sembari kembali beralih ke TV, "Berisik!"
Yunho terkekeh pelan, "Jangan teriak terlalu keras." Pesan Yunho sebelum kembali berkutat dengan pelajarannya.
.
.
.
Yunho merenggangkan ototnya ketika ia merasa cukup dengan apa yang di kerjakannya. Ia mengerjap ketika menyadari betapa sepinya keadaan kamarnya. Yunho berbalik menatap Jaejoong yang ternyata telah tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
LED TVnya telah menampilkan gambar pembuka DVD. Entah berapa lama DVD itu telah habis terputar.
Yunho menghela nafas lalu bangkit dari duduknya. Yunho mematikan DVDnya lalu menatap Jaejoong yang tengah tertidur pulas. Yunho mendekati Jaejoong lalu kembali menghela nafas.
"Dasar..."
Yunho menurunkan suhu udara di ruangan ini agar membuatnya lebih nyaman. Yunho lalu mengambil selimut dan menyelimuti Jaejoong. Jaejoong menggeliat pelan membuat Yunho tersentak kaget namun Jaejoong hanya bergumam lucu sembari menyamankan posisinya.
Yunho tersenyum kecil sembari terdiam mengamati wajah Jaejoong. Tanpa sadar tangannya terangkat dan mengusap lembut pipi Jaejoong. Ekspresi wajah Jaejoong berubah lembut yang tanpa sadar menarik Yunho untuk mendekati wajah itu.
Namun ketika wajahnya semakin mendekati wajah Jaejoong, Yunho tertampar akan kenyataan, Yunho menghentikan pergerakan tubuhnya seketika. Ia segera menjauhi Jaejoong lalu menutup wajahnya dan menggeleng kuat.
"Tidak boleh. Cukup. Cukup. Cukup."
Yunho menurunkan tangannya dari wajahnya, memperlihatkan ekspresi menyakitkan pada saksi bisu di kamar ini.
"Aku harus menjauhinya."
.
.
.
TBC
.
.
.
UAPA INIIIIII!? /Heboh
Abalnya parrraaaah /nangis
Hiksu, maafkan saya yang datang dengan chapter abal saya, hiksu. TTATT
Dikarenakan esok saya mulai melaksanakan kewajiban bagi mahasiswa baru, saya putusin buat update FF ini sekarang. Fast beta, jadi mian kalo ada topo yang bertebaran D:
Sekarang adalah PENENTUAN! Adegan Making of Changmin a.k.a NC seharusnya akan di masukan di chapter depan. Nah, karena itu review kalian yang akan menentukan adanya NC atau Tidak.
Yang SETUJU dan yang TIDAK SETUJU akan adegan NC, saya mohon tuliskan di surat cinta(review) kalian ya. Jika sedikit yang setuju atau banyak yang tidak setuju akan adanya NC, saya akan hapuskan adegan NC di chapter depan. Dan well, untuk adegan NC saya akan menjadikan salah satu dari lagu JYJ untuk inspirasinya~ hayo, lagu yang mana ya~ -w-
Jeongmal Gomawo buat para reader yang menyempatkan diri untuk mengirimi saya surat cinta dan Saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :') /peluk
Last, saya gak bakal janji saya updatenya cepat, karena laptop rusak, my beloved ponsel lemotnya minta dibanting dan saya mulai ospek dan segala keribetan mahasiswa baru, haaah, tapi saya akan saaaangaaat bersemangat jika banyak dukungan dan surat cinta dari reader sekalian. So~ jaebaaaal salurkan cinta kalian ne~ TvT)/
Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Cute pose with Jaejoongie*
