Yunho tersenyum kecil sembari terdiam mengamati wajah Jaejoong. Tanpa sadar tangannya terangkat dan mengusap lembut pipi Jaejoong. Ekspresi wajah Jaejoong berubah lembut yang tanpa sadar menarik Yunho untuk mendekati wajah itu.

Namun ketika wajahnya semakin mendekati wajah Jaejoong, Yunho tertampar akan kenyataan, Yunho menghentikan pergerakan tubuhnya seketika. Ia segera menjauhi Jaejoong lalu menutup wajahnya dan menggeleng kuat.

"Tidak boleh. Cukup. Cukup. Cukup."

Yunho menurunkan tangannya dari wajahnya, memperlihatkan ekspresi menyakitkan pada saksi bisu di kamar ini.

"Aku harus menjauhinya."

.

.

.

BLUE DAFFODIL

Han Rae

Mianhae...

Warning :: Typo (s), YUNJAE Couple as Main Character, Shonen Ai, Pointless, Gaje.

Rate :: T (M For Ch.9)

Jung (U-Know) Yunho dan Kim (Jung) (Hero) Jaejoong milik GOD, Their Parents, DBSK, TVXQ, Tohoshinki, JYJ dan YJS

Park (Micky) Yoochun, Kim (Park) (Xiah) Junsu dan Shim (Jung) (Max) Changmin as Supporting role

Dont Like Dont Read

Please press back button...

Flame Allowed* but with solution too...

Jika kalian merasa ini adalah JUNK fic / Tidak pantas berada di Sub Screenplay, dengan lapang dada saya akan menghapusnya...

Review Please...

.

Now Playing;

Back Seat – JYJ || Kimi Ga Ireba – Junsu || Time Works Wonders - Tohoshinki

.

.

.

Future Child

[Chapter 9]

.

.

.

Jaejoong mengulat merenggangkan ototnya di atas tempat tidur. Jaejoong mengerjapkan matanya lalu mendudukan tubuhnya. Ia melihat sekeliling mencoba membaca situasi.

Di ruangan ini sangat tenang dan sejuk benar-benar nyaman untuk tidur tapi... tunggu! Ini kamar Yunho!?

Jaejoong mengerang pelan. Sejak kapan aku tertidur?!

Jaejoong mengacak rambutnya frustrasi, ia kembali menatap sekeliling. Di mana Yunho?

Jaejoong segera melompat dari tempat tidur dan berlari keluar mencari keberadaan Yunho. Jaejoong tersenyum lega ketika melihat Yunho tengah duduk di ruang tengah.

"Yak, Yun!"

Yunho mendongak menatap Jaejoong lalu mendengus pelan, "Sudah bangun?"

Jaejoong mengangguk lalu duduk di hadapan Yunho. Jaejoong memperhatikan Yunho yang tengah membaca berlembar-lembar kertas di pegangannya.

"Sedang apa?"

Yunho kembali menatap Jaejoong, Jaejoong sedikit terkejut ketika menemukan ekspresi wajah Yunho terlihat sangat kosong dan dingin.

"Sepertinya aku harus meninggalkanmu sementara, Jae."

"Apa maksudmu?"

Yunho menaruh kertas-kertas itu di atas meja, "Aku harus menangani sedikit urusan, mungkin aku akan jarang ada di rumah. Tapi tenang saja kamu masih bisa menginap di sini."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, entah mengapa ada perasaan tak rela di dadanya, "Lalu sekolahmu bagaimana?"

"Ah, mungkin aku akan izin beberapa hari."

Jaejoong mengangguk pelan. Yunho berdiri lalu menepuk pelan kepala Jaejoong, "Sana kembali ke kamarmu. Besok kau harus sekolah 'kan?"

Jaejoong menatap Yunho yang tersenyum ke arahnya. Sebuah senyuman kosong.

"Baiklah. Selamat tidur, Yun."

.

.

.

Jaejoong mengerang tertahan. Ia mendudukan dirinya lalu terdiam, mengumpulkan nyawa yang masih berceceran. Di waktu itu Jaejoong merasa sedikit aneh. Seperti ada yang kurang dari pagi ini.

"Ah..." Jaejoong mengacak pelan rambutnya. Ia baru ingat kalau kini Yunho pergi dan tak mungkin bisa membangunkannya. Jaejoong menghela nafas namun detik selanjutnya ia tersentak kaget dan buru-buru menatap jam.

Wajahnya memucat horor sebelum teriakannya mengejutkan seluruh penghuni rumah. Tanpa berpikir apapun Jaejoong langsung berlari ke kamar mandi dan dengan kecepatan super langsung keluar dengan pakaian seragamnya, setelah itu ia langsung mengambil tas sekolahnya tanpa peduli buku apa yang ada di dalam tas itu.

Ketika Jaejoong membuka pintu, Jaejoong tersentak kaget ketika menemukan beberapa Maid di depan pintunya. Namun Jaejoong tak bisa bertanya apapun, dia sudah sangat terlambat, jadi ia hanya tersenyum lebar dan langsung berlari keluar rumah Yunho.

Beruntung bagi Jaejoong jarak rumah Yunho dengan sekolah tidaklah terlalu jauh, jadi dengan berlari Jaejoong masih bisa mencapai sekolah—yah, walaupun secepat apapun ia berlari, ia tetap saja telat.

Jaejoong terdiam ketika melihat sosok Junsu di balik pagar besi sekolah. Junsu yang menyadari keberadaan Jaejoong langsung tersenyum lebar dan menyuruh Jaejoong masuk.

"Mianhe, aku harus tetap menuliskan namamu di bukuk—" ucapan Junsu terhenti ketika melihat Jaejoong tengah menatap ke arah lain seolah sedang mencari seseorang.

"Jae?"

Jaejoong tak merespons. Ia tetap menatap ke arah lain seolah sedang mencari seseorang.

Mencari seseorang, huh?

Junsu tersenyum kecil, "Kalau kau mencarinya, dia tidak masuk sekolah hari ini."

Mengerti akan siapa yang dimaksud oleh Junus membuat Jaejoong mendengus kesal, "Siapa juga yang mencarinya!"

Junus hanya bisa tertawa kecil ketika Jaejoong berlalu sembari mengumpat kesal.

.

.

.

Yoochun diam menyilangkan tangannya di samping Junsu yang memasang wajah khawatir, mereka berdua menatap lurus ke arah teman mereka yang tengah duduk menatap keluar dengan pandangan kosong bagaikan raga tanpa jiwa.

"Yoochun-ah, Jaejoong sedang ada masalah ya?" Junsu bertanya khawatir. Yoochun di sampingnya hanya bisa mengangkat pundak tak mengerti.

"Entahlah. Ngomong-ngomong ke mana Yunho? Aku tak melihatnya beberapa hari ini."

"Yunho izin, dia ada urusan keluarga katanya."

Yoochun menatap Junsu dalam lalu menghela nafas pelan, "Sepertinya semua ini berhubungan dengan Yunho."

Junsu menatap Yoochun tak mengerti, "Huh? Apa maksudmu?"

Yoochun menatap Junsu lalu tersenyum kecil, "Kita tanya saja."

Sebelum Junsu bertanya, Yoochun sudah menggenggam tangan Junsu dan mengajaknya lebih dekat ke Jaejoong.

"Oi, Jae."

Jaejoong menatap Yoochun bosan, "Ya?"

"Ada masalah apa antara kau dan Yunho?"

"Yunho?" Jaejoong diam lalu menghela nafas, ia kembali menatap ke luar jendela, "Tidak ada apa-apa."

"Apa ada hubungannya dengan izinnya Yunho selama 3 hari ini?" Junsu bertanya khawatir. Jaejoong kembali menghela nafas, "Tidak."

Yoochun diam membaca ekspresi Jaejoong. Mengenal Jaejoong dari kecil membuat Yoochun sangat mudah membaca Jaejoong.

"Kau mengkhawatirkan dia?"

Jaejoong tersentak mendengar ucapan Yoochun. Yoochun menghela nafas, "Jangan hanya terkejut. Jawab aku."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, "Aku hanya kasihan padanya."

"Kasihan?"

"Hm. Aku merasa kalau dia kesepian."

Junsu tersenyum kecut mendengar ucapan Jaejoong, "Ne. Setiap kali aku datang berkunjung ke rumahnya aku selalu merasakan kesunyian yang menyesakkan di sana. Tapi Yunho tak pernah mau mengakuinya, ia pasti selalu beralasan kalau dia sudah biasa akan kesunyian itu. Aku dengar semenjak Yunho kecil, kedua orang tuanya tak pernah kembali dan kakaknya pun tinggal berpindah-pindah mengikuti kedua orang tuanya."

Jaejoong menatap Junsu terkejut, "Yunho punya kakak?"

Junsu mengangguk ragu, "Ne. Tapi aku tak pernah tau tentang kakaknya, Yunho tak pernah memberi tahu sedikit 'pun tentang kakaknya."

Jaejoong menangkupkan wajahnya, "Hah~ banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya."

"Ne~ kau mulai tertarik padanya ya~?" mendengar nada menggoda yang di lemparkan Yoochun membuat Jaejoong mendelik kesal.

"Tidak!"

"Ah~ mengaku saja~"

Jaejoong menendang tulang kering Yoochun kesal, Yoochun memekik kesakitan. Jaejoong mendengus, "Aku tidak tertarik padanya! Lagi pula untuk apa aku tertarik pada seseorang yang tidak suka padaku."

Di tengah rintihannya, Yoochun mendongak menatap Jaejoong tak mengerti, "Tidak suka padamu?"

Jaejoong mengangguk lalu menyilangkan tangannya, "Ne. Buktinya dia terus saja menghindariku."

"Menghindarimu?"

Jaejoong menghela nafas, "Semenjak ia menyelamatkanku dari kelompok Woo Bin dia jadi menghindariku."

Yoochun terdiam menatap Jaejoong yang terlihat sedih di matanya, Yoochun menghela nafas sembari menggaruk belakang kepalanya, "Mungkin semua itu karena ucapanku."

Jaejoong menatap Yoochun tak mengerti, "Apa maksudmu?"

Yoochun menatap ke arah lain sebelum menghela nafas, "Jadi..."

.

.

.

Jaejoong duduk diam melamun di ruang tengah keluarga Jung. Jaejoong menatap ke lampu kristal yang terpasang di langit-langit dengan pandangan menerawang. Teringat kembali pembicaraannya dengan Yoochun dan Junsu di sekolah.

.

"Jadi akulah yang menyuruhnya mengejarmu."

Jaejoong tersentak kaget, "HEEEE!?"

Yoochun menghela nafas, "Yah, aku khawatir padamu. Jadi saat kau pergi dari kelas aku langsung izin ke kamar mandi tapi itu hanya alasan, sebenarnya aku langsung pergi ke kelas Yunho."

Yoochun melirik Junsu yang mengalihkan muka dengan pout lucu di wajahnya. Yoochun tersenyum geli lalu kembali menatap Jaejoong, "Aku panggil Yunho keluar dan bertanya padanya apa yang dia lakukan sampai membuat kau seperti itu."

Jaejoong menunduk malu mengingat kembali alasannya, Yoochun menatap Jaejoong bingung, "Yah, walaupun Yunho tak mau menjawabnya dan sampai saat ini pun kau tak mau membicarakannya jadi aku anggap itu hal pribadi."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, "Langsung saja, memangnya apa yang kau ucapkan pada Yunho?"

Yoochun menggaruk kepalanya lalu mengetuk dahinya, "Kalau tidak salah, aku bilang kau ini seperti kucing, semakin terburu-buru Yunho mendekatimu semakin takut dirimu. Jadi intinya aku memintanya untuk berhati-hati dan pelan-pelan untuk mendekatimu."

Wajah Jaejoong memerah, "A-a-aku bukan kucing!"

Yoochun segera memukul kepala Jaejoong ketika mendengar ucapan Jaejoong, "Bukan itu intinya, Babo!"

"A... appppoooo..." Jaejoong meringis kesakitan sembari mengusap kepalanya berkali-kali. Yoochun menghela nafas sembari menyilangkan tangannya.

"Artinya dia benar-benar mencintaimu."

"Huh?"

Yoochun menatap Junsu yang langsung menatapnya tak mengerti. Yoochun tersenyum kecil, "Kau sangat berharga baginya, karena itu dia tak ingin jauh darimu. Walaupun artinya dia harus menahan hatinya."

Jaejoong terdiam memikirkan perkataan Yoochun. Perlahan wajahnya memerah malu. Perasaan bahagia yang aneh muncul di dalam dadanya.

"Tapi..." baik Jaejoong maupun Yoochun langsung menatap Junsu yang tengah menatap soulmate couple itu dengan pandangan ragu.

"Aku yakin Jaejoong yang telah mengisi hari-hari Yunho memiliki tempat khusus di hatinya. Yunho pasti menikmati segala keceriaan yang dibawa oleh Jaejoong. Tapi... ketika kini ia menyiksa dirinya dengan menjaga jarak dari Jaejoong... bukannya itu terasa menyakitkan?" Junsu berkata sembari menundukkan kepalanya.

Yoochun menghela nafas berat, "Benar juga."

Jaejoong terdiam menatap kedua sahabatnya. Perasaan bahagia di dadanya menghilang tak tersisa tergantikan oleh perasaan bersalah, kasihan dan tidak rela yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.

.

Jaejoong menghela nafas berat, perasaannya sangatlah sesak. Ia ingin bertemu Yunho. Ingin melihat wajahnya—wajah menyebalkannya bukan wajah kosongnya. Ia ingin merubah hari-hari Yunho. Jaejoong benar-benar merindukan senyuman di wajah Yunho.

Jaejoong mengerjap ketika menyadari apa yang ia baru saja pikiran. Ia... merindukan senyuman Yunho!? Tidak! Tidak! Itu tidak mungkiiiin!

Jaejoong menepuk-nepuk wajahnya yang memerah sembari menutup matanya erat-erat.

"Kau kenapa, Jae?"

Jaejoong mengerjap kaget lalu segera mendongak menatap Yunho-yang entah sejak kapan-berdiri di hadapannya.

"T-tidak ada apa-apa."

Yunho mengangguk lalu tersenyum, "Hm. Baiklah."

Jaejoong merasakan sakit ketika melihat senyum Yunho. Senyum yang terasa palsu.

"Yunho."

"Hm."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, bingung akan kata-kata yang menyangkut di dadanya. Jaejoong memejamkan matanya sejenak lalu menatap Yunho.

"Aku bosan."

Yunho diam lalu tertawa, "Kau pasti merasa tidak nyaman akan suasana rumah ini 'kan?"

Apa kau sendiri nyaman akan suasana rumahmu ini, Yun.

"Butuh waktu lama untuk membiasakan diri dengan suasana rumah ini." Lanjut Yunho sembari tersenyum.

Kau sendiri tak bisa membiasakan diri sampai saat ini 'kan.

Jaejoong sedikit terkejut ketika melihat sebuah senyuman sebetulnya di wajah Yunho, "Bagaimana kalau aku ajak kau ke tempat favoritku?"

Jaejoong mengangguk pelan. Tempat seperti apa yang mampu membuat senyuman Yunho kembali?

Yunho lalu berjalan ke luar di ikuti oleh Jaejoong yang diselimuti rasa penasaran.

.

.

.

Jaejoong tak bisa menutup mulutnya ketika ia keluar dari mobil. Di hadapannya terbentang luas pemandangan indah kota dengan warna-warni lampu. Kebisingan kota sama sekali tidak terdengar di tempat ini. Di bawah Jaejoong terdapat hamparan rumput hijau dan di hadapannya terdapat pohon besar dengan kursi panjang di bawahnya. Hawa di sekitar sini memang sangat dingin namun Jaejoong sudah terlanjur terbius oleh keindahan yang tersuguh di hadapannya.

"Indah bukan?"

Jaejoong menatap Yunho cepat lalu mengangguk dengan riangnya, "Sangat indah!"

Yunho tertawa pelan, "Baguslah. Ternyata tempat ini memang ampuh mengusir perasaan bosan ya!"

Jaejoong terdiam menatap Yunho yang menatap lurus ke depan. Pandangannya berubah kosong menerawang.

"Aku selalu ke sini jika perasaanku tak enak. Di sini aku bisa diam sembari menikmati keindahan malam dan sentuhan alam. Angin-angin yang berhembus seolah mengangkat pergi segala perasaan negatif di dalam diriku. Kadang..." Yunho melangkah maju, "...kadang jika aku merindukan mereka, aku akan melihat bintang dan berkhayal bahwa bintang itu adalah mereka, bintang itu menatapku dan mengawasiku, walau yah... aku rasa mereka juga tak mungkin mempedulikan aku, atau bahkan sudah lupa padaku." Yunho tertawa. Tawa yang menyayat diri Jaejoong perlahan.

"Selain tempat ini aku punya satu tempat lain. Kau tau di dekat sekolah ada apartemen? Biasanya aku naik ke lantai paling atas dan menikmati pemandangan kota di sana. Lain kali aku akan mengajakmu ke sana." Yunho berbalik dengan senyum di wajahnya. Senyuman yang membuat Jaejoong ingin menangis.

"Yunho... apa kau kesepian?"

Semilir angin menghempas kesunyian di antara mereka. Yunho tersenyum lalu menggeleng, "Tidak."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, "Jangan membohongiku!"

Yunho diam mendengar suara Jaejoong yang meninggi, ia menatap ke arah lain, "Kau hanya akan merasa terganggu dengan semuanya. Aku tidak ingin mengungkapkan hal lagi padamu. Aku tak ingin kau merasa jijik akan perkataanku lagi."

Bola mata Jaejoong melebar terkejut mendengar kata Yunho. Teringat kembali kata-kata yang pernah terlempar pada Yunho. Seketika seluruh tubuh Jaejoong terasa sakit dan ia merasa sesak akan perasaannya yang menekannya.

Yunho menatap Jaejoong lalu tersenyum kecil, "Ah sudahlah. Kau nikmati saja pemandangan di sini. Aku ke mobil dulu."

Melihat ekspresi sedih Yunho membuat Jaejoong merasa sakit teramat sangat. Ia tak ingin melihat ekspresi itu. Ia ingin mengubah ekspresi itu. Ia tak ingin melihat Yunho sakit lagi. Cukup.

Perlahan Yunho melewati Jaejoong yang masih membatu.

Aku tak ingin membuat Yunho sedih lagi.

Grep.

Yunho membatu ketika merasakan lengan melingkar di tubuhnya. Aroma khas Jaejoong tercium samar di indra penciumannya.

"J-Jaej—"

"Mian..."

"Eh?"

Jaejoong mengeratkan pelukannya. Ia semakin dalam menenggelamkan wajahnya di punggung Yunho.

"Mianhe, Yunho." Jaejoong menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.

"Jae..."

Jaejoong memejamkan matanya, "Maaf telah berkata seperti itu. Maaf. Aku... aku sama sekali tidak menganggap kata-katamu menjijikkan."

"A-aku hanya..." air mata yang ditahannya, langsung menetes ketika ia membuka kembali matanya, "...aku hanya terlalu bingung akan perasaanmu... aku bingung harus menjawab apa..."

Isakan keluar bebas dari mulut Jaejoong yang bergetar. Jaejoong mengeratkan pelukannya, menahan Yunho agar tidak berbalik menatapnya.

"Aku tak mengerti, Yun... aku... ukh, aku terlalu terkejut... dan... takut ketika mendengar pengungkapannya. Aku tak mengerti akan semua itu, karena itu aku... aku jadi meng...mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Maafkan aku."

Isakan Jaejoong dapat terdengar jelas di kesunyian malam. Yunho memaksa berbalik menatap Jaejoong. Jaejoong segera menunduk ketika pelukannya terlepas dari Yunho.

"Jae..."

Jaejoong mengepalkan tangannya, "Melihatmu sedih seperti itu membuat perasaanku tak nyaman Yun. Aku tak mengerti mengapa. Sesak... dadaku sangat sesak ketika melihatmu seperti ini, walaupun kau mengesalkan tapi wajah mengesalkanmu itu jauh... jauh lebih baik daripada wajahmu sekarang... maafkan aku..."

Yunho menggeleng lalu menangkupkan wajah Jaejoong di kedua tangannya, mendorongnya ke atas dengan lembut agar Yunho bisa melihat wajah Jaejoong. Wajah Jaejoong memerah karena perasaannya, air mata membasahi pipi dan tangan Yunho, bibirnya yang merah ia gigit agar tidak mengeluarkan isakan. Yunho menatap intens Jaejoong. Jujur saja melihat wajah Jaejoong yang seperti ini membuat perasaan Yunho membuncah.

Tanpa sadar Yunho sudah mempersempit jarak antara wajahnya dengan wajah Jaejoong. Merasakan pergerakan Yunho membuat Jaejoong tersentak pelan, namun alih-alih menjauh, Jaejoong perlahan menutup matanya, bersiap menerima sentuhan Yunho.

Namun selang beberapa detik, Jaejoong tak merasakan apapun, perlahan Jaejoong membuka matanya untuk menemukan wajah pucat Yunho.

"Y-Yun—"

Yunho segera bergerak cepat untuk menjauhi Jaejoong. Yunho mengerang di balik telapak tangan yang menutupi wajahnya.

"Maaf Jae. Maaf."

Jaejoong mulai merasa panik, "Apa maksudmu? Kenapa kau meminta maaf padaku?"

Yunho semakin mundur dari Jaejoong, "Padahal aku sudah bilang kalau aku tak akan menyentuhmu lagi. Maaf sepertinya aku kurang keras mencoba menghilangkan perasaanku padamu."

Yunho menatap Jaejoong perih, "Aku mohon jangan menjauhiku lagi."

"Yun a—"

"Beri aku waktu! Sebentar saja. Kumohon, sebentar saja. Perasaanku padamu pasti akan hilang. Jadi aku mohon jangan pergi."

Yunho memberikan senyumannya yang benar-benar membuat Jaejoong sesak. Yunho tak menunggu respons Jaejoong, Yunho langsung kembali berbalik menuju mobil.

Jaejoong membatu menatap punggung Yunho. Tubuhnya mati rasa. Rasanya sangat sesak dan menyakitkan. Jaejoong menggeretakkan giginya murka.

Yunho mempercepat langkahnya menuju mobil. Hatinya hancur, ia merasa benar-benar kesakitan. Ia sadar kata-katanya pada Jaejoong tadi hanyalah sebuah kebohongan. Mana mungkin ia bisa menghilangkan perasaannya pada Jaejoong. itu mustahil!

Yunho membuka pintu mobil sembari menggigit bibir bawahnya menahan teriakan frustrasi yang bisa kapan saja keluar dari mulutnya namun pintu yang ia buka kembali tertutup ketika ia merasakan dorongan kuat dari belakangnya.

"Ap—" kata-katanya tak bisa ia ucapkan ketika tubuhnya dipaksa berbalik. Jaejoong.

Yunho terkejut menatap Jaejoong yang terlihat sama sakitnya dengannya. Jaejoong terlihat sangat kesakitan. Kenapa?

Namun Jaejoong tak lagi peduli. Jaejoong segera maju dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Yunho. Memagutnya lembut. Merasakan kembali sensasi yang membuat hatinya meledak.

Mata Yunho membulat tak percaya. Lama ia menyadari keadaan sebelum membalas lumatan Jaejoong.

Jaejoong menjadi pihak yang memutuskan lumatan itu. Terengah pelan, Jaejoong menatap dalam Yunho.

"Siapa yang mengizinkanmu menghapusnya?"

"Huh?"

Jaejoong mendongak, mencengkeram kuat kerah Yunho, "Aku tak mengizinkanmu menghapus perasaanmu padaku!"

Yunho mengerjap tak mengerti membuat Jaejoong benar-benar dongkol akan ekspresinya. Jaejoong memukul dada Yunho, membuat Yunho merintih.

"Kenapa kau me—"

"Jangan bertindak seenaknya! Kau pikir kau bisa menghilangkan perasaanmu setelah membuatku gila karena mu?"

"Eh?"

"Kau puas? Sekarang kau tak bisa lagi hilang dari pikiranku. Aku menginginkanmu menjadi milikku. Hanya milikku. Sekali lagi aku katakan padamu Jung, jangan berani mencoba menghilangkan perasaanmu jika kau tak ingin kau babak belur olehku!"

Yunho mengerjap mendengar ucapan Jaejoong. perlahan senyum lebar terlukis di wajahnya ketika letupan lembut di dadanya mulai terasa.

melihat perubahan ekspresi Yunho membuat wajah Jaejoong memerah, ia baru sadar kalau kata-kata yang tadi ia ucapkan sangat menggelikan—baginya.

Namun belum sempat bagi Jaejoong untuk menjauh dari Yunho, pinggangnya sudah tertarik oleh lengan kuat Yunho. Yunho memeluk Jaejoong kuat.

"Y-Yunho?!"

Yunho tertawa senang, "Tak akan! Aku tak akan membuang perasaan ini. Walaupun kau menangis, memohon ataupun membenciku sekalipun, aku tak akan membuang perasaanku padamu!"

Yunho menatap Jaejoong dengan senyuman bahagia, "Aku berjanji padamu."

Jaejoong terdiam sejenak sebelum tersenyum lembut, "Aku pegang janjimu."

Yunho benar-benar bahagia mendengar ucapan Jaejoong. rasanya ia ingin meloncat dan berlari sembari berteriak layaknya orang gila.

Yunho menatap Jaejoong dalam. Mengutarakan perasaannya lewat pandangannya.

Entah siapa yang lebih dulu memulainya, kini mereka sudah berpagut mesra. Yunho mendorong kepala Jaejoong, memperdalam ciumannya ketika mendengar lenguhan dari Jaejoong. Jaejoong sendiri sudah lepas kendali, ia benar-benar sudah terbuai.

Lenguhan demi lenguhan terlepas dari mulut Jaejoong. Lenguhan itu benar-benar membuat Yunho gelap mata. Tangan Yunho mulai bergerak menyusuri seluruh tubuh Jaejoong. Membelainya perlahan, memberikan sensasi aneh yang membuat Jaejoong menggelinjang meminta lebih. Yunho menghisap aroma di leher Jaejoong lalu mengecupnya dan memberikan kiss mark di sana membuat Jaejoong tersentak ketika merasakan gigitan Yunho dan tanpa sadar mendesah kuat.

Jaejoong langsung menutup mulut dengan tangannya, malu akan desahannya. Yunho menatap Jaejoong lembut, perlahan ia menggantikan posisi tangan Jaejoong dengan bibirnya.

Tangan Yunho bergerak memasuki baju Jaejoong. mengusap lembut pinggang dan punggung mulus Jaejoong.

Jaejoong melenguh tertahan akan sentuhan Yunho dan lenguhan itu semakin menjadi ketika tangan Yunho menemukan nipplenya yang mengeras.

"Akh! Yu-uhm~" Jaejoong melenguh nikmat dibalik pagutan yang semakin menuntut lebih.

Dengan lihainya Yunho berhasil membuat Jaejoong terbakar dan lemas hanya dengan sentuhannya di dadanya. Nafas Jaejoong sudah tak beraturan, desahan penuh kenikmatan terdengar tanpa henti di kesunyian malam.

Yunho menginginkan lebih. Ia ingin Jaejoong sepenuhnya.

Jaejoong tersentak ketika merasakan tangan Yunho mencoba membuka celananya. Jaejoong menahan tangan Yunho, membuat Yunho menatap Jaejoong memohon.

"Jae..." Manik Yunho sudah sangat gelap termakan oleh nafsu yang memuncak.

Jaejoong menggeleng lemah, dadanya yang naik turun seirama dengan nafas yang terengah, terekspos dari bajunya yang terbuka.

"Aku tak bisa lagi menghentikannya. Aku menginginkanmu, Jae." Yunho berbisik pelan, suaranya sangat berat dan terdengar sangat menggoda bagi Jaejoong.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Ia juga sama, ia tak bisa mundur dari sini. Nafsunya sudah memuncak, dia sudah mengeras, dan lagi ia juga menginginkan Yunho. Menginginkan Yunho memasuki dirinya. Merasakan Yunho menjadi satu dengannya.

Membayangkannya membuat Jaejoong semakin tak tahan. Jaejoong memeras baju Yunho, "Belakang..."

"Apa?"

Jaejoong mendongak lalu mencium Yunho, "Bangku belakang. Kumohon cepat, Yun."

Sadar akan apa yang dimaksud oleh Jaejoong. Yunho langsung kembali memagut bibir Jaejoong dan menggiring Jaejoong ke bangku belakang mobilnya.

Yunho langsung menindih Jaejoong ketika mereka sudah berada di bangku belakang. Mereka berdua mendesah hebat ketika bagian tubuh mereka yang mengeras menyentuh satu sama lain.

Tak bisa lagi sabar, Yunho langsung melucuti baju Jaejoong dan kali ini Jaejoong tak menolak dan membiarkan dirinya mengikuti alur yang dibuat oleh Yunho.

Yunho sejenak terdiam melihat pahatan indah di hadapannya. Yunho kembali mensejajarkan wajahnya dengan Jaejoong. Mencium seluruh wajah Jaejoong sebelum tenggelam dalam ciuman panas penuh nafsu.

Tangan Yunho mulai berani menyentuh milik Jaejoong yang mengeras, memijatnya lembut dengan alur yang benar-benar membuat Jaejoong frustrasi.

Kadang cepat, kadang lambat.

"Argh! Yuhn... eng-ah! Akh.. kumohon... lebih cepat... kumohon..." Jaejoong mencium Yunho frustrasi, memohon Yunho memberikan apa yang dimintanya. Tersenyum kecil dibalik lumatan, Yunho mengabulkan permohonan Jaejoong yang langsung di sambut dengan lenguhan keras Jaejoong.

"Ah! Ah! Ah! Yun... a... akh!"

Desahan Jaejoong terus terdengar tanpa henti. Tidak membiarkan satu tangannya bebas, Yunho kembali bermain dengan nipple Jaejoong yang membuat Jaejoong nyaris gila akan sensasi yang ia rasakan di kedua tempat yang disentuh oleh Yunho.

"Yungh... ah... Yun..."

Menyadari kalau Jaejoong hampir mencapai puncaknya membuat Yunho tersenyum.

Yunho memagut kembali bibir yang benar-benar menggoda itu.

"Umph! AKH! YUNHOOO!"

Jaejoong meneriakkan nama Yunho ketika ia keluar. Jaejoong terengah hebat, dadanya naik turun, matanya sayu dan bibirnya semakin memerah akan permainan Yunho. Yunho terdiam menatap sperma yang menyelimuti nyaris seluruh tangannya.

Jaejoong merasa bersalah telah mengotori tangan Yunho, namun belum sempat permohonan maaf terucap, mata doe Jaejoong sudah melebar ketika melihat Yunho menjilat sperma yang ada di tangannya.

"Y-Y-YUNHO!"

Yunho yang tengah menjilati tangannya menatap Jaejoong heran.

"Kenapa?"

Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Wajahnya benar-benar merah. Oh FUCK!

Jaejoong mengerang tertahan sembari menutup wajahnya. FUCK FUCK FUCK! Yunho terlihat sangat seksi ketika ia menjilati tangannya. Oh GOD!

"Jae?"

Jaejoong menyingkirkan tangannya lalu menarik kepala Yunho dan memagut lapar bibir Yunho.

"Jangan menggodaku, bodoh!"

Mengerti akan apa yang dimaksud oleh Jaejoong membuat Yunho tak mampu menyembunyikan seringainya.

"Menggodamu? Ah~ maksudmu kau tergoda ketika aku seperti ini?" Yunho kembali menjilat jarinya membuat Jaejoong mengerang frustrasi. Yunho tersenyum kecil lalu mengarahkan jarinya ke Jaejoong.

"Mau mencobanya?"

Jaejoong terdiam menatap jari-jari yang ada di hadapannya, perlahan tangannya terangkat menyentuh tangan Yunho lalu mengikuti apa yang dikatakan oleh Yunho.

Jaejoong bukan hanya menjilati jari Yunho tapi mengulumnya dengan sensual dan hal itu sukses membuat Yunho tak tahan.

Yunho menggantikan posisi tangannya dengan mulutnya, mengecap lagi manisnya mulut Jaejoong.

"Jae..." suara Yunho sangat berat ketika Yunho mengusap rambutnya. Jaejoong mengerti lalu mengangguk pelan.

"Lakukanlah."

Yunho mengangguk lalu mencium Jaejoong. Selagi Jaejoong hanyut dalam pagutannya, Yunho bergerak ke bawah.

Bola mata Jaejoong membulat terkejut ketika satu jari Yunho masuk ke dalamnya.

"Y-Y-Y-Yun...euhm..."

Yunho menutup matanya ketika merasakan Jaejoong menghimpit jarinya. Memaju dan memundurkan jarinya membiasakan Jaejoong dengan sensasi yang baru ia rasakan.

Yunho menggigit bibir bawahnya lalu memasukan jari keduanya, membuat Jaejoong berteriak dan mendesah di waktu bersamaan.

Yunho tak berniat mencari titip prostat Jaejoong, ia hanya ingin melonggarkan Jaejoong dan cepat-cepat mengganti jari-jarinya dengan miliknya. Yunho dengan perlahan melonggarkan Jaejoong, ia tak ingin melukai Jaejoong—sangat tidak ingin melukainya, karena itu ia harus meyakinkan kalau Jaejoong sudah cukup untuk ia masuki.

"Yunho..."

Yunho kembali menatap Jaejoong ketika Jaejoong menahan tangannya.

"Cepat lakukan."

Yunho menggeleng pelan lalu kembali melakukan pelonggaran, "Tidak... aku belum yakin kau siap Jae. aku tak ingin melukaimu, aku ing—"

Jaejoong menangkupkan wajah Yunho dengan kedua tangannya, memaksa Yunho untuk kembali menatapnya.

"Jangan membuatku menunggu. Aku menginginkanmu." Tak ada keraguan di setiap kata yang diucapkan oleh Jaejoong, namun Yunho tetap takut, ia takut jika ia melukai Jaejoong.

"Ta—"

"Aku mencintaimu." Yunho kembali menatap Jaejoong. Jaejoong tersenyum lalu mengusap wajah Yunho penuh kasih sayang, "sekalipun kau menyakitiku, aku tak akan marah. Aku mencintaimu dan aku menginginkanmu."

Semua rasa keraguan di dadanya hilang begitu saja ketika mendengar ucapan Jaejoong. Yunho tersenyum lalu mencium Jaejoong.

"Aku benar-benar mencintaimu, Jae." Yunho berucap pelan ketika ia mulai memasuki Jaejoong.

Sakit! Sakit! Sakit! Ya tuhan ini sangat menyakitkan!

"Jae... haruskah aku hentikan?" Yunho kembali merasa ragu ketika melihat raut kesakitan Jaejoong.

Jaejoong menggeleng kuat, "Tidak! Kumohon jangan berhenti!"

"Tapi kau..."

"Tidak! Aku baik-baik saja! Lanjutkan!"

Yunho menutup matanya kuat lalu mencium Jaejoong, "Kau boleh mencakar dan menggigit punggungku. Kumohon biarkan aku merasakan kesakitanmu juga."

mendengar ucapan Yunho, Jaejoong merasakan air matanya mengalir perlahan, Yunho langsung merasa bersalah akan air mata Jaejoong.

"Kau menangis. Apa ini karena ku? Apa aku harus berhen—"

Jaejoong menahan kata-kata Yunho dengan bibirnya. Jaejoong memagut bibir Yunho penuh perasaan.

"Aku menangis karena aku bahagia," Jaejoong memeluk Yunho, membiarkan Yunho merasakan detak jantungnya, "aku sangat beruntung mendapatkanmu," Jaejoong kembali menatap Yunho dengan senyuman bahagia, "Aku inginkan kau seutuhnya, aku ingin memberikan diriku seutuhnya padamu. Yunho, kumohon terima aku."

Yunho merasakan gemuruh hangat di dadanya, Yunho memeluk Jaejoong erat lalu kembali mencoba memasuki Jaejoong. Sesuai perkataan Yunho, Jaejoong menggigit dan mencakar punggung Yunho melampiaskan kesakitan yang ia rasakan.

"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu."

Yunho mengusap rambut Jaejoong, melihat jelas raut kesakitan dan air mata Jaejoong. Yunho kembali mencium Jaejoong, "Aku benar-benar mencintaimu."

Jaejoong mendesah kuat ketika Yunho seluruhnya sudah memasuki dirinya. Yunho diam sembari memeluk Jaejoong erat, menunggu Jaejoong terbiasa akan dirinya dan menyuruhnya untuk bergerak.

"Yun..."

Yunho menatap Jaejoong yang tersenyum lembut ke arahnya, "Bergeraklah." Yunho mengangguk lalu mencium Jaejoong.

Ia mulai bergerak mengikuti ucapan Jaejoong. Awalnya Jaejoong merasakan kesakitan namun ketika Yunho menyentuh titik prostatnya Jaejoong menjadi gila. Rasa kesakitan dan kenikmatan yang bercampur menjadi satu benar-benar membuatnya gila.

"Fuck!" Jaejoong meremas apapun yang ada di dekatnya, tubuhnya melengkung menerima tiap gerakan Yunho yang membuatnya gila. Gerakan Yunho sangat cepat dan selalu berhasil menyentuh titik kenikmatan Jaejoong yang membuat Jaejoong tak bisa menghentikan desahannya.

"Fuck me! God Yun! Akh... harder! Faster! FUCK!" Jaejoong menjerit menahan kenikmatan yang benar-benar sukses Yunho berikan padanya. Yunho sendiri tak bisa menahan dirinya, kenikmatan dari tubuh Jaejoong benar-benar membuatnya lupa diri.

Desahan, erangan, kata cinta dan suara cipakan terdengar menyatu di dalam mobil yang bergoyang hebat dari luar. Tak ada hentinya sepasang manusia yang di mabuk cinta itu saling menikmati satu sama lain. Tiada hentinya sampai kesadaran mereka yang mengambil alih.

"Argh! YUNHOO!" Yunho mengeratkan pelukannya pada Jaejoong ketika ia menyemburkan kembali spermanya ke dalam tubuh Jaejoong. Jaejoong pula entah sudah kali ke berapa mengotori tubuh keduanya dengan spermanya.

Suara nafas yang terengah terdengar jelas di telinga keduanya. Yunho menatap Jaejoong yang tengah menutup mata kelelahan. Yunho tersenyum lalu mengecup kembali bibir yang akan selalu mencanduinya.

"Aku mencintaimu, Jae."

Jaejoong tersenyum lalu memeluk erat Yunho yang dengan senang hati membalas pelukannya, "Aku juga mencintaimu, Yun." bisik Jaejoong di telinga Yunho.

Yunho tersenyum di lekukan leher Jaejoong, "Aku mencintaimu."

.

.

.

DEG!

Changmin tersentak ketika merasakan detakan jantungnya. Changmin menyerit bingung lalu menyentuh dadanya.

"Ada apa, Changmin?"

Changmin menatap Leeteuk yang tengah menatapnya bingung. Changmin menatap makanannya lalu menggeleng pelan.

"Aku tak apa-apa, Hyung."

Leeteuk mengerutkan dahinya, "Kau yakin? Kau terdiam cukup lama dan tak menyentuh makananmu, lho."

Changmin terdiam sejenak lalu tersenyum kecil, "Tak apa-apa kok, Hyung!"

Semoga saja ini hanya perasaanku.

.

.

.

Jaejoong mengerjapkan matanya. Mengerang pelan ketika merasakan pegal di seluruh tubuhnya.

Jaejoong mengusap rambutnya, mulutnya mengerucut, mata sayunya menatap ke sekelilingnya bingung. Tempat ini... kamar Yunho 'kan?

"Kenapa aku ada di si—"

Pertanyaannya terputus begitu saja ketika Jaejoong ingat apa yang ia lakukan tadi malam. Mengingat kembali kegiatan panasnya dengan Yunho. Wajah putihnya memerah sempurna. Jaejoong menggigit bibir bawahnya.

Ya tuhan! Ya tuhan! Ya tuhaaaaan!

Jaejoong sangat malu sekarang!

Bagaimana dia harus berekspresi ketika bertemu Yunho nanti!? Tadi malam... sungguh sangat... ugh... ARRGH! SANGAT MEMALUKAN!

Haruskah ia bersikap biasa saja? Uh... itu tidak mungkin. Tersenyum? Ah, ia bahkan tak sanggup mengarahkan wajahnya ke arah Yunho! Oke! Lebih baik dia tidur saja!

"Ya! Lebih baik aku ti—"

"Ah, kau sudah bangun rupanya."

KREK!

Entah mengapa tubuh Jaejoong mengeras layaknya batu ketika mendengar suara Yunho. Tanpa perlu menengok, Jaejoong tahu Yunho ada di sampingnya.

"Apa tubuhmu sakit?"

OUH! PERTANYAAN MACAM APA ITUUU!?

Jaejoong menatap ke arah lain, "A.. eum... l-lumayan..."

Suara renyah tawa Yunho membuat wajah Jaejoong semakin memerah. Ya tuhan, rasanya Jaejoong ingin menggali lubang dan menguburkan dirinya sekarang.

"Mianhe, apa aku terlalu kasar padamu?"

Sial! Sial! Siaaaaal! Adakah jurang di sekitar sini?! Jaejoong ingin segera mati rasanya!

Bagaimana aku tahu kau kasar apa tidak!? Ini pengalaman pertamaku! Dan aku tak pernah merasakan yang lain selain rasa yang kau berikan padaku! Dasar bodoh!

Tak mendapatkan respons apapun dari Jaejoong membuat Yunho tak enak, "Mianhe, tadi malam aku tidak bisa mengontrol diriku. Kau tahu, aku sangat bahagia mengetahui kalau kau juga mencintaiku."

Jaejoong yang terkejut mendengar ucapan Yunho dan tanpa sadar langsung menatap Yunho, "Kau... bahagia?"

Yunho tersenyum melihat Jaejoong akhirnya menatapnya, "Tentu saja aku bahagia."

Perasaan hangat tanpa diduga langsung mengelilingi Jaejoong, menghilangkan segala perasaan tak enak di hati Jaejoong. Senyuman bahagia terlukis di wajah Jaejoong ketika Jaejoong merasa lega entah karena apa.

Pandangan Yunho melembut ketika melihat senyuman di wajah Jaejoong, "Ah, aku lupa sesuatu."

Jaejoong mengerjap bingung, "Lupa apa?"

Yunho tersenyum kecil, "Aku lupa..." Yunho mendekatkan dirinya pada Jaejoong dan mengecup bibir Jaejoong, "...menciummu."

Wajah Jaejoong sontak memerah mendapatkan serangan mendadak dari Yunho. Jaejoong langsung mendorong Yunho menjauh dengan sekuat tenaga membuat Yunho terjatuh dan menatap Jaejoong heran. Tangannya menutup mulutnya dengan ekspresi yang sangat malu di wajahnya yang memerah.

"A, a, apa yang kau lakukan!?" suaranya bergetar malu.

"Menciummu."Berniat menggoda Jaejoong, Yunho berucap dengan nada datar walaupun sebenarnya dalam hati Yunho menahan geli melihat ekspresi Jaejoong.

Mendengar nada suara Yunho yang datar membuat Jaejoong gemas dan membuat Jaejoong melemparkan bantal ke wajah Yunho, "Aku tahu! Tapi kenapa kau me, me, menci, ci, ci, ciumku!"

Yunho menggigit bibirnya menahan tawa mendengar ucapan Jaejoong yang terbata. Jaejoong kini menyembunyikan wajahnya yang sangat lucu itu di balik bantal. Yunho tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jaejoong yang tersembunyi di balik bantal.

"Karena aku mencintaimu."

Terkejut mendengar ucapan Yunho membuat Jaejoong menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Wajah Jaejoong semakin memerah ketika melihat wajah Yunho yang sangat dekat dengannya dan dengan sangat cepat Jaejoong kembali menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.

Yunho tersenyum kecil dengan pandangan mata yang melembut.

"Hey, Jae..." Yunho perlahan memegang tangan Jaejoong dan menurunkan bantal yang menutupi wajah Jaejoong, "...jawab pertanyaanku..." Yunho menatap penuh cinta Jaejoong yang kini tengah menunduk dan malu-malu menatapnya, "...apa kau mencintaiku?"

Jaejoong diam. Pandangan Yunho yang terarah padanya membuat jantungnya berdetak sangat cepat.

"A,aku mencintaimu," berbisik pelan Jaejoong menjawab tanpa berani menatap Yunho.

Yunho menyentuh pipi Jaejoong dan membelainya lembut, "Lihat aku dan katakanlah."

Jaejoong menutup matanya, perlahan Jaejoong menatap balik Yunho dan menyandarkan wajahnya pada telapak tangan Yunho yang terasa sangat nyaman, "aku mencintaimu," Jaejoong menyentuh tangan Yunho yang berada di pipinya sembari menatap Yunho, "aku sangat mencintaimu, Yun."

Yunho tersenyum bahagia, "Senang mendengarnya."

Yunho kembali mempertemukan bibirnya dengan bibir Jaejoong. Menyalurkan cintanya pada Jaejoong dengan sentuhan lembut yang memabukkan. Jaejoong menutup mata, menerima segala perasaan Yunho dengan jantung yang berdesir lembut dalam dada.

.

.

.

"Jae, aku harus pergi."

Jaejoong tersentak dan langsung menatap Yunho tanpa pergi dari dalam pelukan Yunho, "Pergi? Kemana?"

Yunho merapikan rambut pirang Jaejoong, "Kau ingat aku pernah izin beberapa hari dan tidak pulang ke rumah?" Jaejoong mengangguk pelan, "Nah, sebenarnya urusanku belum sepenuhnya selesai, karena itu aku harus pergi dan menyelesainya."

Wajah Jaejoong berubah sedih, "Apa kau akan menginap lagi di sana?"

Yunho tersenyum lalu kembali memeluk Jaejoong dengan erat, "Tidak. Aku tidak mau menginap, aku ingin menghabiskan malam hariku denganmu."

Jaejoong membalas pelukan Yunho, "Janji?"

Yunho menghirup aroma rambut Jaejoong lalu mengecup kepala Jaejoong dengan lembut, Yunho lalu menatap lurus ke mata Jaejoong, "Aku janji."

Jaejoong tersenyum kecil, "Baiklah."

Yunho tersenyum lalu mengecup Jaejoong, "Baiklah. Aku pergi dulu."

Jaejoong mengikuti langkah Yunho keluar dari rumah. Yunho tersenyum kecil merasakan genggaman kuat Jaejoong di tangannya, "Jae."

Jaejoong menatap Yunho lalu menghela nafas, "Baiklah. Baiklah. Silakan pergi."

Yunho kembali mencium kepala Jaejoong, "Aku pergi ya?"

"Ne."

Yunho berjalan menuju mobilnya yang terpakir tak jauh dari pintu masuk rumahnya, sebelum memasuki mobil, Yunho menatap Jaejoong yang tengah menatapnya.

"Kenapa?" Jaejoong bertanya heran, tak mengerti arti pandangan Yunho.

Yunho menggeleng dan tersenyum, "Aku mencintaimu."

Sebuah senyum manis terbentuk sempurna di wajah Jaejoong yang memerah, "Aku juga mencintaimu."

Jaejoong melambaikan tangannya pada Yunho yang mulai meninggalkan rumah. Setelah mobil yang dikendarai Yunho tak lagi terlihat, Jaejoong berbalik memasuki rumah.

Senyuman masih terlukis di wajahnya yang manis. Luapan rasa bahagia berkumpul di dalam dirinya yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum seperti orang gila. Ah, cinta memang sangat indah.

Kreak...

Jaejoong terkejut ketika mendengar suara pintu terbuka. Jaejoong berbalik dan terdiam kaku menatap sosok wanita yang tengah menatapnya bingung.

"Siapa kau?"

Jaejoong kebingungan menjawab pertanyaan yang terlempar dari bibir penuh wanita itu. Haruskah ia menjawab bahwa ia adalah pacar Yunho?

"Aku pa—ah tidak, aku teman Yunho."

Wanita itu mengangguk mengerti lalu menarik koper yang di bawanya memasuki rumah, pintu besar di belakang wanita itu tertutup tak lama setelah wanita itu memasuki rumah.

Wanita itu merapikan rambut hitamnya yang tergerai sangat indah di kepalanya, mata hitam kelam yang memiliki sorot tajam namun sangat indah itu menatap lurus ke arah Jaejoong, bibir penuh yang terhias lipstick warna merah yang kontras dengan kulitnya yang putih itu melengkung membentuk sebuah senyuman sempurna.

"Aku tak tahu Yunho punya teman."

Nada suara wanita itu sangat halus dan lembut namun entah mengapa membuat Jaejoong merasa takut.

"Kenapa kau ada di sini? Ke mana Yunho?"

"Aku menginap beberapa hari karena rumahku harus direnovasi. Yunho baru saja pergi."

"Dia pasti sibuk dengan pekerjaannya. Dasar, berkali-kali aku peringatkan untuk fokus belajar saja." Wanita itu menghela nafas pelan.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya dan mengamati wanita itu, rasa penasaran yang mencekiknya membuatnya tak bisa menahan pertanyaan, "Siapa anda?" keluar dari mulutnya.

Wanita itu langsung menutup mulutnya dan tertawa pelan, "Maaf, aku lupa memperkenalkan diri."

Wanita itu membungkuk lalu kembali menatap Jaejoong dengan mata menyipit dan senyuman yang membuat wajah wanita itu terlihat sangat sempurna.

"Perkenalkan, saya Aoi. Tunangan Yunho."

.

.

.

TBC

.

.

.

GYAAAAAAAAAAAAHHHHHHH! /teriak histeris

Maafkan sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaa /sujud /tengkurap

Hiks, maafkan saya yang lama (banget) updatenya. Maaf ini chap abal banget. NCnya gak hot, gak bagus, gak gereget TTATT) saya gak pinter bikin NC /pundung. Saya gak nyangka hidup perkuliahan itu sangat melelahkan, sibuk dan menyeramkan. Saya sampai keteteran dengan tugas yang menumpuknya gak ada kata berkurang TAT)

Sesuai surat cinta yang kalian kirimkan pada saya, saya memasukan adegan NC. Buat reader yang menjawab lagu BACK SEAT, selamat jawaban anda benar! Lagu hot, sexy, dan wow itu yang menjadi inspirasi saya untuk bagian NC XD. Tapi entah mengapa saya merasa membawa reader ke surga lalu dengan seenak udel melemparkan reader ke neraka di chap ini :'D /dihajar masa.

Akhirnya setelah beberapa lama (setahun 'kah?) FF abal ini masuk ke dalam inti konflik. Yesh~ bentar lagi tamat~ :'D

Chapter depan akan terisi oleh penghianatan, kesedihan, salah sangka, air mata dan akankah ada kematian? Dan masa depan (masa Changmin) akan terkuak 1 atau 2 chapter ke depan! Adakah yang penasaran? :'3

Jeongmal Gomawo buat para reader yang menyempatkan diri untuk mengirimi saya surat cinta dan Saya ucapkan terima kasih banyaaaaaak untuk review, like, fav, follow, Reader-deul, gomawo ne. saya bahagia FF abal saya ini mendapat reaksi positif :') /peluk

Last, saya gak bakal janji saya updatenya cepat, soalnya well, kuliah saya penuh dengan dosen gak punya hati TTATT)/ tapi saya tetap butuh surat cinta kalian untuk membuat saya percaya kalo FF abal ini masih ada yang menunggu TTvTT)/

Well, YJS and Reader-deul mind to review? *Sexy pose with half-naked Changmin /plakplakplak*