Hai semua, lama tak berjumpa hehehe. saya kembali mengupdate fic ini.

Maaf karena saya masih belum bisa mengupdate fic yang lain. Mungkin di lain waktu saya akan mengupdate Tales of Tails Heroes

ok terima kasih atas orang-orang yang mau membaca fic ini dan saya sangat berterima kasih bagi anda semua yang mau meReview cerita ini

Terima kasih

Warning: Bakal ada beberapa Crossover yang akan saya masukan disini. Tapi karakter dari fandom lain akan masuk belakangan. bagi yang mau membaca dengan bahasa yang berat atau berwarna ya jangan harap menemukannya disini, saya akan memakai bahasa yang seringan mungkin agar kalian memahami arah cerita ini. Chara Death. not OP Naruto


Disclaimer: Masashi Kishimoto, Takahiro and Tashiro Tatsuya, Ikeda Akihisa, Bandai, Nasuverse

Piece of Peace

Genre:Advanture, Fantasy, Crime, Friendship, Seinen, Physiological

Rate:M

Storyline: Semi-AU

Main Chararacter:Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

Note:Just for Fun and let my imagination flow from my brain.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Kurama yang setengah berlari sambil memegang Katana yang disarungkan di pinggang kirinya.

"Tidak terlalu parah.. hanya memar di beberapa bagian." jawab pria berambut perak dengan nada meyakinkan. Satu mata hitamnya terus mengarah pada sosok bocah pirang yang tengah tertidur di hilir sungai penuh bebatuan.

Sejenak, mata sang gadis memandang wajah bocah itu yang tersiram oleh tetesan air hujan yang turun dari langit berwarna kelabu. Lalu, kedua mata merah itu bergerak ke kiri dan ke kanan, menatap setiap sisi lembah yang dilalui oleh aliran sungai. Layaknya seorang pemburu yang mencari buruannya yang kabur. "Dimana dia?"

"Dia?" pria berambut perak itu memandang Kurama dengan tatapan bertanya. "Maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh Kakashi-san. Kau tahu siapa yang aku cari!?" geram gadis itu. "Dimana bocah brengsek itu!?"

"Jika yang kau maksud adalah Sasuke, dia sudah pergi ketika aku sampai kemari…" ucap Kakashi yang mulai berdiri dari posisi jongkoknya "Kalau-pun dia ada disini, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti salah satu muridku."

Alis gadis itu tertekuk, melangkah maju, lalu menarik kerah rompi hijau yang dikenakan oleh Kakashi untuk mendekatkan wajah yang tertutup masker itu kepada wajahnya.

"Kau tahu apa yang dia lakukan?" bentak Kurama setengah berteriak. Tangan putih bagai susu dan lentik itu menunjuk ke arah dimana bocah yang masih tergeletak tidak berdaya. "Dia mencoba membunuh adikku! Kau pikir aku akan membiarkan bocah keparat itu begitu saja!? HAH!?"

Mata sendu Kakashi yang sempat teralih kepada bocah pirang itu kembali menatap mata lawan bicaranya yang bagai batu Ruby tersebut. Ia menghela nafas, "Kau pikir aku akan membiarkannya kalau saja dia ada disini?" ucap Kakashi dengan alis tertekuk, "Apa yang akan kau lakukan bila hal yang terjadi adalah sebaliknya?"

"Kalau itu aku…" mendadak Kurama terdiam, perlahan eratan telapak tangannya mulai mengendur dari kerah rompi itu. "Entahlah… aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada Naruto."

Kakashi kembali menghela nafasnya. Tangannya yang sedari tadi diam, kini bergerak memegang tangan Kurama. Perlahan ia tarik tangan gadis itu dari kerahnya dan melepaskan cengkramannya dengan lembut. Kedua orang itu kini saling menatap. Mencoba saling mengerti satu sama lain dari pandangan mereka masing-masing.

"Uhuk! Ehem..!" mendadak suara serak dan berat mengintrupsi kegiatan tersebut. Membuat perhatian mereka teralih pada suara pengganggu itu. Disana, seekor anjing kecil yang mengenakan kain biru seperti baju tengah memandangi mereka dengan tatapan aneh. "Maaf mengintrupsi kegiatan kalian berdua, hanya saja—"

"Kami tidak melakukan apa-apa.." potong Kurama dengan datar.

"Ada apa Pakkun? Ada hal penting yang kau harus katakan?" kali ini Kakashi langsung menyaut sang anjing. Jarang-jarang ia mau mendengar perkataan salah satu anjing ninjanya yang dapat berbicara ini.

Pakkun yang sempat bingung dengan reaksi tuannya yang—tumben—cepat tanggap itu langsung tersadar dan buru-buru berkata, "Ada empat orang yang sedang menuju kemari dari arah timur."

"Musuh atau—"

Kakashi langsung terdiam begitu orang-orang yang dimaksud anjingnya tiba dihadapannya. Dua orang berpakaian serba putih dengan topi mirip jamur dengan lambang plus berwarna merah disana langsung berlari ke arahnya. Bukannya menghadang, Kakashi bergerak menyamping, membiarkan orang-orang itu melewatinya. Sedangkan dua orang lagi yang menggunakan baju hitam lengan panjang dan rompi hijau yang seperti miliknya tengah berjalan menuju dirinya dengan tergesa-gesa.

"Dua Jounin?" tanya Kurama bingung. "Ada apa ini? Kenapa mereka baru sampai sekarang!? Apa yang dipikirkan nenek tua itu!?"

"Jaga ucapanmu, Uzumaki-san. Kau tidak berhak berkata seperti itu pada nama besar Hokage kelima." walau mendapat kata-kata tajam dari Kakashi, Kurama tidak bergeming dan terus menatap kedua Jounin itu dengan wajah jengkel. Kakashi hanya mendesah, entah kenapa kelakuan gadis disampingnya ini mengingatkannya pada seseorang yang dia kenal. Oh, bukan Naruto tentu saja, hanya orang lain yang lumayan dekat dengannya dulu.

Mengangkat bahunya, pria berambut perak itu segera fokus pada dua orang yang setingkat dengannya. "Jika dua pengawal khusus Hokage ada disini, berarti ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Bukan begitu?"

Jounin yang mengenakan Bandana biru dengan lambang desa Konoha yang bernama Izumo bergerak maju. "Ya, dan ini situasi darurat. Konoha telah diserang."

"APA!?" teriak Kakashi maupun Kurama secara bersamaan.

"Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus kembali sekarang juga!?" ucap rekannya yang satu lagi yang bernama Kotetsu.

"Tunggu—tapi, siapa yang menyerang Konoha? Apa saja yang dilakukan para Anbu itu!?"geram Kurama sembari mengepalkan tangannya erat. "Dasar pasukan gaji buta!"

"Bisakah kau diam dan menjaga ucapanmu Uzumaki-san?" kata Kakashi yang terlihat mulai habis kesabarannya. "Sekali lagi aku ingatkan, kau tidak berhak berkata seperti itu terhadap instansi manapun di Konoha."

Kurama hanya berdecak kesal. Ia mulai membetulkan rompi konoha miliknya yang sedari tadi terbuka hingga dada menjadi tertutup sempurna. Kedua tangannya menyibak rambutnya kebelakang lalu ia mulai mengikat rambutnya berbentuk ekor kuda dengan tali yang dia ambil dari kantung ninjanya. Sejenak ia terdiam. Kemudian kepalanya bergerak untuk menangkap basah pandangan ketiga Jounin yang tengah menatapnya dengan pandangan yang dia sendiri tidak mengerti.

"Apa!?" sahutan Kurama yang cukup keras langsung menyadarkan ketiga pria itu dari entah apa yang ada di dalam kepala mereka.

Kakashi berdeham keras. "Apa kau sudah siap Kurama-san?" walau masih merasa malu karena kejadian tadi, Kakashi masih bisa mengendalikan suaranya agar tidak membuat Kurama bertambah curiga.

Walaupun tidak menjawab. Kurama mengencangkan ikatan pedangnya pada pinggangnya. Tangan kirinya yang sedari tadi memegang sarung pedangnya terangkat sedikit, menandakan ia siap untuk pergi kapan saja, sebelum suara lenguhan panjang terdengar dari balik punggungnya.

"Naruto?" Kurama buru-buru mendekat pada adiknya yang masih dalam perawatan para ninja medis. "Kau baik-baik saja?"

Mulut Naruto mulai terbuka. Hanya saja bukan jawaban yang keluar, melainkan, "Di..mana…Sa—Sasuke?"

Bocah bodoh. Pikir Kurama. Walau sudah delapan tahun bersama, ia masih tidak mengerti dengan jalan pikir adiknya. Kalau diingat-ingat, bocah pirang itu selalu mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya atau penduduk desa. Yang dia heran, tidak sepintas pun rasa benci atau keinginan membalas dendam pada hati anak ini. Malah hal yang terjadi justru sebaliknya. Bocah pirang ini selalu menolong siapa saja sampai lupa akan dirinya sendiri. Kurama teringat dengan pertarungan Naruto dengan bocah pasir dari desa Suna. Hendak menolong Sasuke malah justru dia sendiri yang terlibat masalah. Anehnya, Naruto berhasil mengalahkan Gaara yang waktu itu telah berubah menjadu sesosok monster rakun raksasa. Dan sejak saat itu, ia mulai melihat perubahan pada kehidupan Naruto. Ia mulai memiliki teman satu per satu. Bocah-bocah yang dulu membencinya dan meremehkannya mulai mendekat pada dirinya dan dari mata teman-temannya itu, Kurama yakin bahwa mereka tulus ingin berteman dengan Naruto.

Sayangnya, semua itu harus ditebus dengan keadaan seperti ini akibat perbuatan bocah bernama Uchiha Sasuke yang memutuskan bergabung dengan Orochimaru demi mengejar ambisinya membunuh kakaknya. Anehnya lagi, bisa-bisanya adiknya masih memikirkan bocah keparat itu. Astaga, jika Naruto sudah sembuh mungkin dia harus menasehatinya ulang.

Tubuh Naruto terangkat, ia mencoba untuk bangun dengan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya. Sebelum itu terjadi, Kurama menahan Naruto untuk tetap diam dan terlentang untuk beristirahat. "Sudahlah Naruto, kamu masih sakit. Diam di sini dan istirahatlah."

"Tapi Sasuke.." Naruto protes. Tapi dengan tatapan mata Kurama yang tajam cukup untuk membuat Naruto menuruti apa kata kakaknya.

"Apa kalian sudah selesai?" tanya Izumo yang melipat tangannya di dada dengan mengetuk-ketuk jari di lengannya. "Waktu kita sedikit."

Dengan anggukan, Kurama mulai berdiri, hendak pergi sebelum suara Naruto yang lemah terdengar di telinganya lagi. "Kau mau kemana Nee-chan?"

"Konoha diserang, kita harus bergerak sekarang!" sayangnya, bukan Kurama yang mengatakan itu. melainkan Jounin dengan muka diperban yang bernama Kotetsu. Akibat perbuatannya, seluruh orang yang ada di situ langsung memberikan tatapan aneh padanya seakan berkata 'Dasar idiot' atau 'Tutup mulutmu bego!'

Lima detik berlalu, dan di detik berikutnya terdengarlah suara cempreng nan khas di telinga mereka yang ada di sana.

"APAA?!"

(.*.*.*.)

(7 tahun kemudian)

Musim semi telah tiba, angin dingin yang biasa menusuk kulit perlahan mulai menjinak. Matahari yang biasanya malu-malu muncul sudah mulai percaya diri dengan sinarnya yang perlahan menghangatkan bumi. Semenanjung Road River yang di musim lalu masih tertutup balok-balok es tengah berganti dengan ikan-ikan Winged Salmon yang berdatangan hendak bertelur di aliran sungai Frontier.

Bagi Naruto, ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu. Berlimpahnya ikan di semenanjung sama dengan pesta pora. Ia bukan pecinta ikan sejujurnya, tapi untuk binatang laut satu ini, itu lain cerita. Dia sangat mencintai rasa gurih ikan salmon, apa lagi kalau dibuat menjadi Sushi. Emmm… membayangkannya saja sudah membuat air liyurnya menetes. Tunggu, sejak kapan Naruto jadi punya makan selera pada ikan salmon? Bukannya dia pecinta ramen sejati? Untuk pertanyaan itu salahkan Kurama. Bukan hanya ia memaksa—mengancam lebih tepatnya—untuk tidak memakan makanan yang terbuat dari terigu dan mecin itu. Ia sering sekali membuat makanan yang terbuat dari ikan dan sayuran, terutama Sushi. Katanya sih biar Naruto bisa jadi sehat, pintar dan tidak bego. Entah hal itu berhasil atau tidak.

Ia berlari menuruni bukit menuju semenanjung dengan pancingan dipunggung dan kotak perlengkapan memancing di tangan kiri. Ouh, kotaknya lumayan besar karena bersatu dengan tempat mengisi ikan hasil tangkapan. Sesekali ia tersandung oleh batu namun berhasil mendapatkan keseimbangannya. Sesampainya di tepian pantai dekat semenanjung, Naruto menaruh perlengkapannya ke pasir pantai. Ia mulai memakai topi memancing berwarna putih dan rompi oranye yang mulai ia kencangkan. Tidak lupa ia bersihkan sepatu boot anti airnya yang terlihat kotor dengan air laut.

"Oi, Naruto!" orang yang dipanggil mengernyit. Siapa pula yang mau mengganggu ritual tahunannya? Nyari mati sepertinya. Dengan ogah-ogahan Naruto memutar badannya dan harus diakui dia malas berurusan dengan orang menyebalkan satu ini.

Hayate Hashiburi namanya, seorang pelaut berusia sekitar 40 tahunan. Rambut coklatnya disisir kebelakang dengan bagian rambut belakangnya di ikat ekor kuda. Bibirnya tersungging ke atas di balik kumisnya yang tebal. Jas krem-nya yang terlihat rombeng di bagian ekornya melambai terkena angin laut. Tidak lupa, di tangannya terdapat sebotol penuh Rum.

"YO! Pagi-pagi sudah bersemangat! Mencari ikan, huh?" tanya Hayate sembari meminum Rum-nya.

"Sudah tahu, nanya. Aku sedang sibuk!" kata Naruto dengan menggerakan tangannya seperti sedang mengusir.

"Hey, dasar bocah tidak sopan. Lihat siapa yang berbicara. Setidaknya berikan rasa hormatmu pada pak tua yang telah mengarungi samudra yang luas ini!"

Naruto mendengus, "Heh, mengarungi samudra katamu? Bukannya kerjaanmu cuman duduk di gubuk reot bersama anak buahmu sambil minum-minum tidak jelas?"

Walaupun yang dikatakan Naruto memang benar, tetap saja itu menyulut amarah seorang pria pemabuk. Tangannya yang bebas langsung menyambar kerah rompi Naruto dan mendekatkan wajah sang bocah ke depan wajahnya. "Dengar bocah, ada banyak hal yang perlu kau tahu di dunia ini. Cuman kau harus ingat dan pahami dua aturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun di dunia ini. Pertama, jangan coba-coba kau ejek kapal seseorang, karena itu sama saja mengejek ibumu sendiri. Kedua, jangan menyulut amarah orang mabuk kalau kau tidak mau gigimu patah, mengerti!?"

Dengan muka datar dan menahan nafas, Naruto mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Tentu saja itu menyulut api amarah Hayate bertambah besar. Ia mengangkat botol minumannya, hendak menghajar kepala Naruto dengan benda kaca tersebut. Sebelum ada hal yang tidak menyenangkan terjadi, Naruto memegang siku Hayate, ia menunduk lalu berputar dengan menarik lengan tersebut ke bawah hingga lawannya terpelanting ke pasir pantai dengan punggung terlebih dahulu.

Naruto berjongkok mendekati kepala lawannya yang masih terbatuk-batuk akibat rasa sesak di dadanya. "Mungkin aku harus menambah aturan baru ya. Ketiga jangan melawan musuh yang tidak bisa kau lawan. Tahulah tempatmu."

"Kau kuat seperti biasa, nak." kata Hayate yang mulai bangun dari posisinya. "Kau cocok menjadi pria laut. Kau tahu itu."

Berbicara tentang laut lagi, pikir Naruto. Ia bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini berlabuh. "Langsung saja keintinya, kau ingin membicarakan Griffon kan?"

"Tepat!" ucap Hayate senang. Ia mengambil botol Rum-nya dan baru menyadari kalau isinya sudah menghilang dari tempatnya. "Oh, Barnacle!"

"Jadi, kapalmu itu sudah masuk proses akhir, huh?"

"Aye!" Dengan bangga ia menunjuk sebuah kapal layar raksasa berwarna hitam ke coklatan. Beberapa balok kayu dan tangga terlihat memenuhi sisi dinding dan geladak kapal. "Hanya tinggal memperbaiki tiang kapal dan beres sudah. Griffon akan siap mengarungi lautan. Aku berutang budi padamu karena mau mendanai perbaikan kapal. Ah, bagaimana kalau kita minum-minum dulu?"

"Maaf, aku tidak suka minum." Naruto melepas rangkulan sang pelaut tua. Mau bagaimana lagi? Bau asin antara air laut dan keringat bercampur aduk pada pakaiannya yang sudah lusuh membuat panca indra penciuman sang pemuda pirang menjadi terganggu. "Sudah ya, ada yang mau aku kerj—"

"Hey! Nanti dulu!" mendadak, tangan Hayate kembali merangkul Naruto. "Lihat-lihat kapal barumu ada baiknya juga kan?"

Kapal baru? Sejak kapan dia mendapat kapal baru? Sepertinya pak tua ini sedang melantur. "Tunggu dulu! Apa maksudmu aku punya kapal? Seingatku aku hanya meminjamimu uang untuk membetulkan kapal bobrokmu, kan?"

"Diam bocah!" hardik Hayate dengan air liur yang bertebaran, "Jangan pernah kau menghina kapalku! Lagi pula, aku mau membuat penawaran untukmu? Bagaimana?"

"Aku mendengarkan."

"Begini, kau sudah tahu aku tidak punya uang untuk mengganti perbaikan kapalku," entah bagaimana tanpa sadar Naruto menganggukan kepala membenarkan kata-kata lawan bicaranya, bagaimana pun juga sangat sulit bagi pelaut tua macam Hayate bisa mengganti seluruh uang perbaikan kapal. Apa lagi Naruto menambahkan beberapa meriam generasi terbaru dan juga memasukan beberapa teknisi dan arsitek untuk membantu membuat kapal tampak kuat dan sedikit modern. "Karena itu, aku menawarimu jabatan sebagai wakil kapten, bagaimana?"

"Wakil kapten?" dahi Naruto tertekuk, "Aku membiayar seluruh perbaikan kapalmu dan kau hanya menawariku menjadi wakil kapten?! Lupakan!" Naruto mencoba melepaskan rangkulan Hayate. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya. Rangkulan tersebut malah semakin keras menjepit tubuhnya.

"Aku belum selesai bicara, Nak!" geram Hayate sembari berdeham. "Kau belum mendengar semuanya. Wakil kapten itu tugasnya sama seperti kapten. Kau berhak menyuruh semua kru kapalku. Membuat aturan seenakmu, diizinkan mengemudikan kapal, bahkan kau juga punya ruangan sendiri." Hayate membuat gerakan tangan seakan di sekitarnya adalah sebuah ruangan pribadi di kapal. Mendadak, ia berhenti. Menarik tangannya kembali untuk menekan hidung Naruto dengan telunjuk kanannya.. "Hanya satu yang kau tidak boleh lakukan, kau tidak berhak memerintahku di atas kapal. Kau mengerti?"

Dengan tangan di dagu, Naruto mencoba menimang-nimang tawaran tersebut. "Jadi maksudmu aku memiliki hak khusus di atas kapal.." Hayate menganguk, "Lalu, aku bisa memerintah siapa saja kecuali kau.." ia menggangguk lagi, kali ini dengan senyuman lebar hingga deretan gigi yang berwarna kuning terlihat jelas. "Dan itu artinya posisiku tidak lebih dari anak buahmu, begitu?"

"Tepat!" pria tua itu menepuk pundak Naruto sembari tertawa terbahak-bahak. "Kau lumayan pintar bocah! Nah, bagaimana? Penawaran yang menarik bukan?"

"Aku menolak."

Satu kalimat tajam tersebut langsung menghilangkan senyuman dan tawa dari wajah Hayate yang sudah mulai keriput. Alisnya kembali tertekuk. "Apa maksudmu bocah!? Itu penawaran paling menguntungkan yang pernah ada! Anak buahku saja sampai rela untuk berenang di tengah samudra untuk memperoleh jabatan tersebut!"

Naruto mendesis, "Cih, kalau begitu sama saja itu jabatan yang rendah. Aku tidak mau disamakan dengan para anak buahmu itu. Yang aku inginkan adalah aku menjadi kapten kapal atau kau harus membayar hutangmu!"

Kata-kata yang keluar dari mulut Naruto segera membuat Hayate kaget setengah mati. Apa-apan ini? Bocah bau kencur sudah berani mengambil alih kapal? Apa lagi mengambil alih kapal seorang Hayate Hashiburi yang telah mengarungi tujuh samudra? Sepertinya bocah pirang perlu diberi pelajaran. Pikir Hayate. Tangan kanannya yang bebas bergerak ke sarung pistol yang ada di pinggang kanannya. Sayangnya sebelum ia meraihnya, sebuah moncong pistol sudah menempel tepat di dahinya yang tampak kehilangan rambut.

"Jangan coba-coba," ucap Naruto memperingatkan. "Kau tahu siapa yang kau lawan bukan?"

Pria tua itu menggeram. Tentu saja ia tahu mustahil melawan makhluk sialan yang ada depannya. Pemuda pirang ini pernah menghajar seluruh awak kapalnya yang berjumlah 25 orang sendirian. Tepatnya ketika pemuda itu bersama kakaknya sedang membangun rumah tepat di pinggir tebing semenanjung Road River. Rumah yang cukup besar dan sedikit mencolok karena desainnya yang tergolong mewah. Dua lantai yang lebar kesamping dengan atap berwarna hitam di sertai empat cerobong asap yang masing-masing dua di kedua sisi rumah tersebut. Rumah tersebut terbuat dari batu bata merah yang menjadi pondasi rumah dan di sisi kanan terdapat pagar pembatas yang di buat sebagai arena latihan.

Tentu saja hal itu menarik perhatian Hayate beserta anak buahnya untuk mencari tahu hingga sempat membentak—atau memeras—mereka karena membangun rumah di wilayah mereka. Sayangnya bukan itu yang menyebabkan mereka di hajar habis-habisan oleh Naruto. Melainkan karena tiga orang anak buahnya yang mencoba menggoda kakaknya. Yah, kalau di ingat jangan sampai kejadian itu terulang lagi.

"Sekarang aku harap kau mengerti dengan situasinya," kata Naruto yang terus menekan ujung pistolnya ke tempurung kepala Hayate. "Aku hanya memberimu dua opsi. Bayar hutangmu padaku atau kapalmu menjadi milikku. Kalau kau tidak setuju…" dengan senyum sinis Naruto melintangkan telunjuk kirinya pada lehernya. "Kau tahu apa yang terjadi bukan?"

Tak mempunyai banyak pilihan, Hayate menghela nafasnya. "Baiklah, kau yang jadi kaptennya."

"Bagus." ucap Naruto dengan menarik kembali pistol hitamnya. "Tenang saja, kau tetap menjadi kapten selama aku tidak berada di atas kapal."

"Aku tidak pernah mendengar ada dua kapten dalam satu kapal."

"Oh, sekarang kau sudah mendengarnya." ujar pemuda pirang itu sembari memasukan pistolnya ke dalam sarungnya yang ada di pinggang belakang. "Lagi pula, Griffon akan sangat membantu dalam misi-misiku selanjutnya."

Tentu, walau ia tidak tahu misi macam apa yang Naruto lakukan. Namun, dengan profesinya—yang Hayate tahu—sebagai Beast Hunter sudah jelas pasti misi yang berhubungan dengan Danger Beast. Tapi yang jadi masalah apa anak buahnya dan Griffon bisa menangani monster-monster itu? ia jadi khawatir.

Pria itu hendak memprotes. Namun, tidak ada suara yang terbuka dari mulutnya yang terbuka. Matanya tidak lagi fokus pada pemuda di depannya, melainkan kearah sosok lain yang mendekat dari belakang si pirang. Seorang wanita muda sekitar 20 tahunan tengah mendekat ke arah mereka. Rambut merah cerah tersibak oleh angin laut yang menerpa. Matanya yang merah menyala mengarah ke arah dua orang pria yang masih berdiri mematung.

"Naruto.." panggil wanita itu.

Mendengar dari suara dan nada bicara, Naruto langsung tahu siapa dia. "Ada apa Kura-nee?" ia berbalik untuk menemukan kakaknya yang tengah mengenakan Summer white dress dengan tangan terlipat di dada. "Pakaianmu tidak salah tuh? Sekarangkan masih musim semi?"

Kurama mengangkat sebelah alisnya. "Apapun yang aku pakai itu bukan urusanmu, lagi pu—"

"Halo, Nona Kurama!" potong Hayate sembari menyibak rambutnya kebelakang. Ia melangkah cepat menuju Kurama lalu membungkukan tubuhnya dengan satu tangan berada di depan perutnya secara horizontal. "Senang berjumpa denganmu hari ini. Adakah yang bisa aku bantu hari ini? Atau kau mau melihat kapal baru adikmu?"

"Tidak, terima kasih." balas Kurama tanpa senyuman sedikitpun. Naruto berbalik arah sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menahan keinginanya untuk tertawa terbahak-bahak melihat aksi bandot tua itu di acuhkan kakak perempuannya.

"Naruto." sang pemuda segera berbalik arah menanggapi panggilan kakaknya tanpa menghilangkan cengiran menahan tawanya. "Aku ada tugas untukmu."

Seketika itu juga cengiran itu menghilang. "Lagi!? Kau janji kalau hari ini aku bebas dari tugaskan?"

"Aku ada keperluan mendadak, Shisui memanggilku dan Tesla tidak suka menunggu. Kau temui dia hari ini ya."

"TUNGGU DULU!" teriak Naruto sebelum sang kakak berbalik arah. "Bagaimana dengan ikan-ikan itu? aku ingin menangkapnya hari ini!"

"Beli saja di pasar." Dengan wajah datar dan tidak acuh. Kurama berbalik arah meninggalkan Naruto bengong dengan mulut terbuka.

"TUNGGU DULU KURAMA NEE-CHAAAAN!"

(.*.*.*.)

Edel, sebuah kota kecil yang terletak di arah tenggara dari ibu kota Great Empire. Daerah yang selalu ramai akan para petualang dan pedangang yang singgah untuk sekedar beristirahat atau mengisi perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan. Banyak orang yang melakukan perniagaan disini, tidak dipungkiri barang-barang yang mungkin sulit di dapat bisa saja ada di sini. Selain arus ekonomi yang tinggi, tempat ini juga menjadi pusat informasi bagi siapa saja yang membutuhkan. Tentu saja alasan dari semua ini karena pertemuan orang-orang asing yang cukup tinggi intensitasnya dan juga seringnya para informan dari pemerintahan singgah hanya untuk menyampaikan suatu kabar dari ibu kota.

Di alun-alun kota Edel, Naruto tengah berjalan dengan tudung mantelnya yang menutupi kepala. Ia tidak perlu khawatir dicurigai mengingat banyaknya orang yang mengenakan tudung untuk menahan panasnya sinar matahari. Tanpa sengaja matanya yang berwarna safir itu menangkap sosok anak kecil yang terduduk lemas di pinggir pancuran yang berada di tengah alun-alun. Pakaiannya yang kotor dan berlubang serta kulitnya terlihat bekas-bekas luka yang mengering membuatnya ia geram apa yang telah menimpa anak itu. Ia tahu pasti kalau itu adalah luka diseret oleh kuda, dan hukuman macam itu biasa terjadi apa bila seseorang tidak sanggup membayar pajak. Memang, arus ekonomi di Edel sangat tinggi, tapi hal itu juga merambat pada pajak yang tinggi. Belum lagi pemerasan dari oknum keamanan setempat yang menggunakan payung hukum untuk melakukan tindakan premanisme. Hal itu membuatnya muak.

Walau iba, Naruto tidak bisa berbuat banyak. Memberi uang pada anak itu bisa menarik perhatian para prajurit keamanan dan itu cukup berbahaya untuknya. Mencoba tidak perduli, ia menarik tudung hitamnya menutupi matanya. Berjalan menunduk meninggalkan sang bocah yang menahan rasa sakit ditubuhnya. Ia hanya bersumpah akan menghabisi sang perdana mentri keparat itu agar kejadian yang dialami bocah itu tak terulang lagi.

Memasuki jalan utama, ia berbelok ke kiri satu blok setelah keluar dari alun-alun kota. Berjalan lurus hingga ia berhenti di sebuah kios bertuliskan 'Blackbeard & Blackpearl'. Pemuda pirang itu termangu sejenak melihat papan nama itu. Menghela nafas, ia membuka pintu tempat itu bersamaan dengan bunyi lonceng yang biasa dipakai oleh pemilik kios bila ada pelanggan masuk.

Detik berikutnya, suara gelak tawa dan bunyi gelas bertemu mewarnai suasana yang berada di tempat itu. Sebuah ruangan yang di cat coklat gelap dengan meja dan kursi yang penuh dengan pengunjung yang sedang berinteraksi satu sama lain. Ada pria setengah sadar yang masih meminum cairan di gelasnya. Ada pula yang bercerita mengenai pengalamannya dengan keras hingga orang-orang mengerumuninya saking tertarik dengan cerita-cerita yang dibawakan oleh orang tersebut. Bahkan Naruto sedikit kaget melihat seorang gadis muda berambut pirang mengenakan jubah merah tanpa lengan tengah mendengarkan cerita sang petualang sembari menulis sesuatu pada kertasnya.

Tanpa melepaskan pandangan dari gadis itu Naruto beranjak menuju meja bar dan duduk pada salah satu kursi kosong yang dekat dengan bartender yang sedang bertugas.

"Mau pesan apa?" tanya sang Bartender dengan ramah.

"Vodka Hitam dari Kremlin." begitu Naruto menyebutkan kalimat itu. Mata hitam sang bartender langsung menajam pada Naruto. Ia memilin kumisnya sejenak, lalu beranjak kebelakang lemari minuman tampak ingin mengambil pesanan Naruto. Begitu keluar, bartender tersebut menyerahkan gelas berisi cairan hitam di dalamnya.

Naruto mengambil gelas itu. Tepat setelah ia memegang gelas miliknya, ia segera mengambil secarik kertas yang terselip di bawah benda bening itu. Ia menaruh gelasnya dan membuka dengan hati-hati untuk membaca sesuatu yang tertulis di dalam lipatan kertas itu.

Gunakan pintu samping.

Pemuda itu segera melipat kertasnya dan memasukannya ke dalam lengan mantelnya. Ia mulai meminum minumannya yang sejujurnya bukan Vodka, melainkan Root Beer yang berwarna sama dengan vodka hitam. Membayar minumannya, ia beranjak pergi dari tempat tersebut dan berbelok ke gang sempit di sebelah toko minuman itu untuk menemukan pintu kayu yang tampak terkunci.

Naruto mengetuk pintu tersebut. "Kremlin, empat tujuh satu tiga." Setelah itu, pintu itu terbuka.

"Naruto? Kenapa kau yang datang?" tanya lelaki yang tampak berumur 25 tahun ke atas. "Bukannya Uzumaki-san yang akan menemuiku?"

"Perubahan rencana. Kakakku tidak bisa datang." kata Naruto sembari masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia melihat pakaian lawan bicaranya yang tampak rapih dengan jas hitam menutupi kemeja putihnya dengan dasi kupu-kupu yang sama-sama hitamnya dengan celananya. Naruto terbahak. "Kau berencana mengajak kencan kakakku ya, Nikolai? hah! gagal total!"

"Ha ha. Yah mau bagaimana lagi." orang yang memiliki nama panjang Nikolai Tesla itu menutup sekaligus menguncinya dengan balok kayu. Ia berjalan ke dekat Naruto dan mempersilakannya duduk pada meja dan kursi kayu yang tersedia.

"Jadi, bagaimana dengan pesananku?" tanya Naruto membuka pembicaraan.

"Sudah selesai." Nikolai mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah benda yang ditutup oleh kain putih. "Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa mengoprasikan benda ini. Lagi pula, dari mana kau mendapat benda 'itu'?"

Naruto mengambil barangnya dan mulai membuka kain yang menutupi benda tersebut. "Morgana. Dia memberikan kristal elemen padaku sebagai barter dari barang yang dia cari." Tepat setelah kain itu terbuka. Sebuah pedang yang tengah disarungkan menampakan dirinya. Sebuah pedang dengan sebuah kristal putih yang memperantarai bilah dengan gagangnya. Naruto menarik pedang itu, memperlihatkan bilah perak bermata dua dengan panjang 58 senti dan lebar delapan sentimeter yang menjunjung ke atas. Naruto mengerutkan dahinya. "Bagaimana aku mengubah ke mode yang satu lagi?"

"Tarik ke bawah gundukan pada gagang dekat kristalmu." Naruto menuruti ucapan Nikolai. Perlahan ia menarik gundukan berwarna merah tersebut dan bunyi 'klik' terdengar ketika gundukan tersebut menyentuh bagian dasarnya.

Mendadak, gagang hitam pedang itu tertekuk 45 derajat ke bawah. Sebuah pelatuk mendadak muncul dari lengkungan gagang itu dan bilah perak pedang itu langsung memisah menjadi dua bagian dengan barrel pendek muncul di antara kedua bilah itu.

"Gunblade, gabungan antara pedang dan pistol. Butuh satu bulan aku merakit senjata anehmu. Dan yang terpenting, materialnya yang cukup unik dan keras. Aku sering bingung dari mana kau bisa menemukan bahan-bahan dasar Adamintium alloy?"

"Sudah aku bilang, Morgana yang memberikannya padaku." jelas Naruto yang kembali menyarungkan pedangnya kembali. "Dia memang penyihir yang memiliki koleksi aneh."

"Tak ada sihir di dunia ini Naruto. Semuanya pasti punya penjelasan logis yang berhubungan dengan Sains." Nikolai berkata demikian dengan segelas Champagne berada di bawah bibirnya. "Mau minum?"

Naruto menggeleng, "Aku tidak suka minum, dan orang-orang seperti kau yang kadang berpikiran sempit. Banyak hal aneh yang sering tidak bisa di jelaskan dengan Sains!"

"Contohnya?"

"Jelaskan dari mana asal kekuatan dari 'ras' ku dan jelaskan bagaimana caranya 'makhluk' itu bisa tertanam di dalam tubuhku?"

"Kekuatanmu ada hubungannya dengan sinar Gamma yang bereaksi di dalam tubuhmu. Gelombang yang reaksinya cukup kuat untuk mengubah sesuatu yang ada di sekitarmu. Itu sudah aku pelajari dari dulu." ujar Tesla sembari meminum minuman kerasnya. "Yang masih aku analisa adalah perubahan wujudmu menjadi makhluk itu, mengherankan tapi pasti ada penjelasan logis."

"Ngomong-ngomong, ada yang ingin aku tunjukan padamu. " lanjut Tesla sembari menambil sebuah alat berbentuk persegi panjang. Ia menekan layar yang sedari tadi hitam yang mendadak berubah menjadi warna putih dengan gambar sketsa disana. Naruto meraih benda itu ketika Tesla menyerahkannya. "Armor yang menyerupai Armored Teigu, bagaimana menurutmu.?"

Ketika Naruto melihat sketsa itu, alisnya tertekuk. Sebuah gambar yang terlihat seperti robot dengan dua beam saber yang berada di balik punggung serta sebuah Beam Rifle dan tameng yang dipegang di kedua tangannya. "General Uprising Noble Device Assist Machine—GUNDAM… ini lebih hebat dari E.D.G.E System buatan Edison!"

Mendadak Naruto menutup mulutnya, ia tahu nama itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk Nikolai dengar. "Maafkan aku."

"Tidak apa-apa, tapi setidaknya kau membuktikan kalau senjata yang aku buat lebih hebat dari Extraordinary Device Generated Electron miliknya. Kau tahu, Gundam ini hanya diproduksi khusus dan tidak diproduksi masal seperti yang 'orang itu' buat. Harus orang yang cocok yang bisa menggunakan armor ini." ujarnya bangga.

"Jadi, apakah Armor ini sudah siap?" tanya Naruto penasaran.

"Sekarang sedang masuk ketahap akhir. Aku sedang mencari cara bagaimana agar senjata ini bisa digunakan kapan saja dan dimana saja tanpa memancing perhatian orang seperti Armored Teigu." jelasnya dengan tangan memutar-mutar pinggiran gelas. "Ah iya, bicara tentang Teigu, Shisui mengirimmu tugas untuk merebut sebuah Teigu yang berada di ibukota."

"Mentor mengirimiku tugas?" Naruto memandang Nikolai heran. "Tumben."

"Harusnya ini misi untuk Kurama. Namun, karena ia tidak bisa datang, harus ada yang menggantikan." ujarnya sembari memasukan tangannya ke dalam jas hitamnya. Secarik kertas kuning dengan sebuah foto seseorang pria besar berambut pirang tulisan Wanted besar di atasnya. "Namanya Zank. Dia pengguna Teigu Spectator. Menurut para saudara kita di ibukota, setiap malam orang ini selalu membunuh siapa saja yang ia temui. Walau ada jam malam, tetap saja korban masih berjatuhan."

Naruto mengangguk. Bagaimana pun juga informasi dari Tesla tidak pernah salah karena ia termasuk dalam Ordo Assasins yang kini Naruto geluti juga. Namun ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. "Kenapa saudara kita tidak mengambil tindakan?"

Tesla hanya menghela nafas. "Dia pengguna Teigu Naruto. Spectator, All you seeing eye. Dia bisa melihat apa saja, bahkan dia bisa membaca pikiranmu, memanipulasi pengheliatanmu dan melihat gerakanmu selanjutnya."

"Mirip Sharingan, heh?" ujar Naruto sambil mengingat-ngingat mata merah yang memiliki tiga magatama milik—mantan—temannya dulu. "Kalau begitu, ini tugas yang bisa aku tangani sendiri." Ia mulai berdiri sembari meninggalkan sekantung uang sebagai bayaran atas kerja dari temannya itu.

"Orang itu bisa bertarung Naruto, ia biasa muncul antara sepuluh dan sebelas malam. Berhati-hatilah." Ia melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. "Dan jangan lupa menitipkan salamku pada Kurama. Aku berhutang nyawa padanya."

Naruto tersenyum. Ia mengangkat tangan kirinya dengan jempol terangkat ke atas dan menghilang di dalam cahaya kuning.

(.*.*.*.)

Ibukota Great Empire. Sebuah kota yang besar dibandingkan dengan kota lain yang ada di negara ini. Tembok raksasa melingkari kota itu demi menjaga keadaan kota dari serangan luar. Seperti kebanyakan kota besar, tepat di tengah kota, sebuah istana raksasa menjulang tinggi dimana pusat pemerintahan bergerak disana dan juga tempat kaisar tinggal.

Tempat ini selain menjadi tempat pemerintahan, juga menjadi pusat ekonomi negara. Rata-rata penduduknya bekerja di pemerintahan atau bekerja sebagai pedagang. Tapi banyak juga yang bekerja untuk orang lain dan tempat ini adalah lokasi yang tepat bila ingin cepat kayak arena arus uang yang keluar masuk begitu cepat. Maka dari itu banyak imigran yang datang ke ibukota untuk mengadu nasib mencari kemakmuran tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk daerah asal mereka yang sedang melarat akibat pajak yang terlalu tinggi.

Ya, bagi mereka yang beruntung mungkin akan memperoleh kemakmuran yang besar di sini. Sayangnya, banyak dari para imigran itu mendapat hasil yang justru kebalikan dari apa yang mereka inginkan. Menurut kabar yang Naruto dengar, rata-rata para imigran berakhir menjadi budak para kaum kapitalis bahkan terkadang sering ditemukan mayat dengan keadaan telanjang pembuangan sampah di pinggir ibukota. Bukan hal baru memang bahwa ada sedikit kelainan jiwa bagi para kalangan atas yang gemar menyiksa orang. Hal ini disebabkan dengan hukum yang tajam ke bawah, tumpul ke atas diakibatkan karena pemerintahan yang korup dan gemar meneror rakyatnya. Bahkan surat kabar sudah tidak bisa dipercaya lantaran propaganda yang di lakukan pemerintahan untuk membodohi rakyatnya. Surat kabar yang berani menentang pemerintah biasanya berakhir dengan anggotanya dieksekusi di tempat.

Naruto menghela nafasnya, muak menerima fakta bahwa ia harus bekerja di lingkungan yang sudah rusak. Dia tahu siapa yang harus disalahkan untuk ini. Sialnya, orang yang patut disalahkan sekarang berada di bawah pengawasan ketat oleh tentara kekaisaran karena ia sekarang berada di dalam istana itu. Mustahil baginya untuk menembus pertahanan istana. Kalau pun bisa, ia akan langsung di sergap dan para tentara istana bukan musuh yang bisa di anggap remeh. Di tambah mereka mempunyai dua jendral mengerikan yang bermukim di sana, itu menambah persentase membunuh 'orang itu' semakin bertambah kecil.

Pemuda berambut pirang itu kembali menghela nafasnya lagi mencoba menenangkan diri. Tepat dari atas menara di selatan ibukota, mata biru langit miliknya memandang keindahan ibu kota yang tengah diselimuti oleh bintang-bintang di langit. Cahaya-cahaya lampu dari setiap gedung sedikit demi sedikit berubah menjadi gelap, tanda sang pemilik akan pergi ke alam mimpi. Kini hanya lampu-lampu jalan yang masih menerangi jalan-jalan utama di kota ini.

Angin malam mulai menerpa, membuat mantel hitam menari bersama sang angin. Pemuda itu menutup matanya. Mencoba merasakan hawa dingin yang menyelimuti kulit tubuhnya bersama dengan kesunyian malam yang makin lama makin mencekam.

TRANK!

Dan suara besi bertemu terdengar di telinganya. Tentu untuk malam yang selarut ini, cukup aneh jika suara itu bisa terdengar sampai di tempat ia berdiri. Kalau memang intuisinya benar, kemungkinan itu adalah..

"Arah jam sebelas." bisik Naruto. Dengan satu lompatan ia melompat dari atas menara. Ia menghilang dalam balutan sinar kuning dan muncul di salah satu atap gedung-gedung itu. Dengan cekatan, ia melompati gedung-gedung yang rata-rata berlantai tiga hingga empat. Bergerak cepat hingga ia berhenti di salah satu gedung dimana ia melihat seorang pria besar tengah bertarung dengan remaja laki-laki.

Remaja itu bergerak cepat. Menebas musuhnya dengan cekatan, namun setiap serangannya tidak ada yang bisa mengenai targetnya. Di saat pemuda itu lengah, sang pria besar menggoreskan salah satu bilah pedangnya pada lengan pemuda itu.

"Argh!"

"Aku senang-senang! Aku sangat suka mendengar jeritan kesakitan orang! Hahahaha." Pria itu tertawa dengan senyum mengerikan menghiasi wajahnya. "Sepertinya aku melukaimu terlalu banyak, sekarang memohonlah padaku, agar kau bisa pergi dari sini untuk melihat teman-temanmu!"

Remaja laki-laki berambut coklat itu mendesis, "Kau pasti bercanda..!"

"Hm?"

Ia mengangkat kepalanya sembari berteriak, "KAU MENGHARAPKANKU BERLUTUT DAN MEMOHON PADA TIKUS YANG HANYA BISA MEMOTONG KEPALA ORANG, HAH!? HAL ITU TIDAK AKAN MUNGKIN TERJADI!"

Pria itu berdiri kaku. Tampaknya ia shock akibat ucapan pemuda itu. Melihat kesempatan, sang pemuda mengarahkan pedangnya ke arah sang pria besar. Dengan posisinya seperti itu, ia tahu kalau si remaja berambut coklat itu mempertaruhkan segalanya pada satu serangan.

Dan musuhnya menyadari hal tersebut. "Oh, kau cukup berani ya? Sepertinya kau ingin mempercepat kematianmu dengan menyerang langsung si ahli pemenggal kepala ini? Baiklah jika itu maumu, mari kita mulai."

Dengan satu hentakan, pemuda itu meluncur dengan cepat. Menyabet pedangnya keras mengarah ke wajah pria besar. Pria itu segera mengelak kepalanya ke kiri, sayangnya karena reaksi yang kurang cepat, sebuah goresan kecil muncul pada pipi kanannya. Sementara pemuda itu terlempar ke belakang, dengan luka goresan melintang di sepanjang punggungnya. Darah mengalir deras dari balik punggunya.

"Kau!" geram pria itu yang Naruto yakin bernama Zank.

"Heh, kau menyebut dirimu sebagai ahli pemenggal kepala?" pemuda itu berbalik dengan senyum sinis menghiasi wajahnya, "Kau gagal membunuhku, dan berati itu membuktikan kalau kau hanyalah sampah yang layak aku tertawakan."

"KAUU!" Zank menerja pemuda itu dengan kedua bilahnya mengarah pada musuhnya. "KUBUNUH KAU!"

Sebelum itu terjadi, Naruto melempar kunai hitam bercabang tiga miliknya. Meluncur dengan cepat sebelum benda itu bertabrakan dengan benda lain yang sama-sama meluncur tepat di depan Zank.

TRANK!

Kedua benda itu bertemu, menciptakan suara nyaring yang membuat siapa saja terkejut. Naruto memanfaatkan momen keterkejutan ini untuk muncul tepat di depan Zank dan menebas wajahnya dengan Kunainya yang masih melayang di udara.

"UAARGH!"

Sebuah seringai muncul di wajah Naruto, "Aku dengar kau orang yang bisa membaca gerakan musuh, tapi kalau serangan mendadak seperti tadi kau masih buta ya?"

"SIAPA KAU!"

Naruto tidak mengubris teriakan Zank. Kini, ia lebih fokus pada pedang hitam yang tengah di arahkan pada dirinya. Katana hitam dengan ganggang merah yang tengah di pegang oleh gadis bermata merah yang menatap dirinya tajam. "Siapa kau?" tanya gadis itu datar.

"Kau bisa menurunkan senjatamu sebelum aku menjawab pertanyaanmu." Naruto meyakinkan. "Atau akan ada yang terluka di sini."

Tidak mengubris perkataan Naruto, gadis bermata merah itu mengunuskan pedangnya. Dengan sigap Naruto menepis bilah itu dengan Kunai miliknya. Bergerak maju dan melayangkan tendangan tepat di perut Gadis itu.

"AKAME!" teriak remaja laki-laki itu. Walau sempat terguling, Akame berhasil berdiri dan kembali meluncurkan katananya pada Naruto.

Walau sedang fokus pada Akame, Naruto menyadari kalau Zank juga bergerak ke arahnya. Tentu ini bukan posisi yang menguntungkan. Dengan cepat ia melompat ke belakang dan menghilang, lalu muncul kembali tepat beberapa meter di belakang Zank.

Zank langsung tahu apa rencana Naruto. Dengan cepat, ia menahan tebasan pedang Akame yang mengarah pada dirinya lalu melompat mundur untuk menemukan Naruto telah mengarahkan moncong Gunblade ke arahnya. Detik berikutnya suara letusan senjata terdengar dan saat yang bersamaan bahu kanan Zank tertembus peluru dari senjata Naruto.

"Ap—!" ia menyadari kalau yang tertembus bukan hanya bahunya, bilah pedangnya juga ikut tertembus dengan bukti sebuah lubang lingkaran muncul di punggung bilahnya

"Peluru itu bukan peluru biasa, itu projektil angin yang aku padatkan dan aku tajamkan agar bisa menembus baja sekalipun." jelas Naruto dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Tembakan berikutnya tidak akan meleset dari jantungmu."

Kondisi ini terlalu mendesak bagi Zank. Spectatornya sendiri memprediksikan bahwa serangan berikutnya akan membunuhnya. Dalam keadaan itu, ia melihat memuda yang ia lawan tadi berada di bawahnya. Ia langsung bertindak cepat dengan menarik pemuda itu dalam pelukannya dan mengarahkan bilah pisaunya pada leher pemuda itu.

"TATSUMI!" teriak Akame. Naruto mengernyit mengetahui rencana licik Zank.

"Hahaha! Turunkan senjata kalian atau anak ini mati!" ia menambah cekramannya lebih kencang. "Ah, tunggu dulu. Bagaimana kalau kalian tunjukan permainan menarik padaku? Akame! Bunuh orang itu. Bukankah Murasame biasa membunuh hanya dengan goresan kecil?"

Goresan kecil!? Jangan-jangan itu..

"Tepat Uzumaki Naruto, itu adalah Teigu. Pedang Murasame yang legendaris yang bisa membunuh siapa saja hanya dengan satu goresan. Hahahaha!"

Naruto mengernyitkan dahinya. "Kau tahu namaku?"

"Spectator bisa membaca pikiran lawan, Hah! mencari tahu identitasmu bukan hal sulit bagiku. Dan ah.. tidak aku sangka kau berasal dari sana," Zank mulai tertawa mengerikan yang Naruto tidak tahu apa dasarnya. " Tidak aku sangka ternyata kau seorang CORA!"

Naruto terkejut dengan kata-kata itu. Ia lupa memperhitungkan kalau identitas aslinya akan langsung bisa langsung ketahuan dengan alat sialan itu.

"Cora? Bukankah itu hanya mitos saja?" tanya Tatsumi yang terlihat bingung dengan situasi ini.

Zank mengangkat kepala Tatsumi agar lebih dekat dengan wajahnya. "Kau lupa ya kalau mitos adalah cerita nyata yang termakan oleh jaman sehingga hanya dipercayai sebagai takhayul? Dan faktanya, spectator tidak pernah salah dalam mencari informasi personal orang lain."

"Cora," ucap Zank. "Adalah Makhluk setengah Alpha atau yang kita sebut sebagai Siluman yang berwujud layaknya Terra yaitu kita para manusia. Mereka memiliki kemampuan mengendalikan elemen alam sebagai senjata bertarung. Tapi mereka tamak dan memperbudak kita untuk kesenangan mereka sendiri. Hah, kau makhluk menjijikan! Ayo Akame, bunuh makhluk ini! Atau kepala Tatsumi sebagai bayaran kalau kau menentangku!"

Naruto terdiam. Tidak dia sangka Zank mengetahui hingga sejauh itu. Pemilik mata biru safir itu mengalihkan perhatiannya dari Zank kepada Akame. Walau terlihat tanpa emosi, Naruto bisa tahu kalau gadis itu juga dalam kebingungan. Naruto menghembuskan nafasnya. "Namamu Akame kan?"

Gadis itu tidak menjawab. Pedang hitamnya terangkat hendak menyerang kembali Naruto.

Sebelum itu terjadi, Naruto segera angkat bicara. "Aku punya rencana untuk menyelamatkan Tatsumi." Dan itu sukses membuat langkah Akame terhenti sejenak.

Mata merah Akame terlihat penasaran. "Kau bisa menyelamatkan Tatsumi?"

Naruto mengangguk. "Tentu, tapi sisanya tinggal bagaimana kau berimpovisasi."

Zank segera tahu apa yang ingin Naruto lakukan. Segera ia mengangkat bilahnya untuk memenggal Tatsumi. Namun, Naruto sudah muncul di depannya dengan melayangkan tinjuannya pada wajah Zank. Pria itu terpental kebelakang, meninggalkan Tatsumi yang terjatuh di tanah. Melihat kesempatan ini, mendadak Naruto menghilang dan muncul tepat di balik punggung Zank yang melayang di udara. Sebuah bola biru padat tercipta pada tangan kanan Naruto dan di saat Zank mendekat, bola itu menyentuh punggung lawannya.

"RASENGAN!"

Segera bola kecil seukuran tangan itu membesar menjadi seukuran tubuh Zank. Bola itu terus berputar dengan kecepatan tinggi hingga memaksa tubuh Zank untuk ikut berputar bersamanya. Dengan ledakan yang keras, tubuh Zank langsung terpental menjauh dari Naruto menuju Akame yang berdiri dengan pedang di tangan. Tanpa menghilangkan kesempatan, Murasame terayun kencang. Memisahkan kepala Zank dari tubuhnya.

Tatsumi yang sedari tadi menonton hanya bisa takjub dengan kerja sama Naruto dengan Akame yang sangat halus. Ia sendiri belum tentu bisa melakukan hal itu bersama teman gadisnya itu.

Menyarungkan pedangnya di balik punggung. Naruto bergerak menuju kepala Zank yang berputar di tanah. Mendadak ia berhenti, sebuah bilah hitam melintang tepat di samping lehernya dan ia tahu siapa pemilik pedang tersebut.

"Apa maumu?" tanya Naruto pada gadis bermata merah itu.

"Akulah yang seharusnya bertanya seperti itu. Siapa kau sebenarnya?"

TBC


Sebagai tambahan. Sosok Kurama mirip seperti Ignis di Jingai makyou

Yap, mungkin sekian. Jika ada yang ingin kalian sampaikan setelah membaca cerita ini, mohon isi di kolom Review ya!