What the—

Story by Datgurll

Infires by Eggnoid from Webtoon

.

.

.

Selamat membaca!

[Chapter 1]

.

.

.

"Mama?"

Taehyung yang sedang melamun langsung terkejut. Ah, dia hampir lupa kalau kehadiran makhluk aneh bernama Jungkook itu bukanlah sekedar mimpi atau halusinasi saja. Berkali-kali ia menampar pipinya sampai merah, tetap saja kenyataan yang ia dapatkan.

Taehyung menoleh. "Hm?"

Sebenarnya ia sudah lelah melarang Jungkook untuk tidak memanggilnya mama.

"Telur"

Satu kata yang terlontar dari mulut Jungkook membuat Taehyung menaikkan alisnya. "Hey, kau sudah bisa mengucapkan kata telur"

Jungkook tersenyum lebar, ia menunjuk sebuah buku dongeng yang di Taehyung berikan padanya. Buku dongeng itu milik Taehyung sewaktu ia kecil, masih tersimpan di gudang.

"Lucu sekali, aku merasa seolah-olah kau sedang mengucapkan darimana kau berasal" Taehyung mendengus. "Dasar anak ayam"

"Mama?"

Taehyung memutar bola mata. "Berhentilah memanggilku mama. Aku ini bukan mamamu, dan yang paling terpenting adalah aku ini laki-laki. Jadi kau—"

"Mama~"

Jungkook menunjukkan senyum lebarnya—duh, senyuman itu manis sekali.

Taehyung menghela nafasnya, begitu frustasi. "Baiklah, aku adalah mamamu" Balasnya ketus. "Tapi ada hal yang perlu kau ketahui, aku tidak memiliki anak yang berasal dari telur aneh"

Seumur hidup, baru kali ini seseorang memanggil Taehyung dengan sebutan mama. Padahal pemuda itu sempat berpikir akan menikah dengan wanita idamannya kemudian mempunyai anak, anak mereka itu yang nantinya akan memanggil Taehyung dengan sebutan papa.

Taehyung melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.

"Ah" Taehyung memandang Jungkook yang kembali sibuk dengan buku dongengnya. "Aku mau masak makan malam, apa kau mau makan sesuatu?" Tanyanya.

Kemudian suasana menjadi sunyi.

Shit. Taehyung hampir lupa kalau bertanya pada Jungkook merupakan kesalahan terbesar, ia buru-buru meninggalkan Jungkook yang sedang berpikir karena pertanyaannya. Bukannya apa-apa, tapi Taehyung trauma ketika dirinya melontarkan pertanyaan ke Jungkook, pasti Jungkook akan lama sekali memikirkan jawabannya.

Taehyung membuka lemari pendingin, mencari sesuatu yang bisa di masak. Astaga, dia lupa kalau seharusnya hari ini adalah hari dimana dirinya pergi ke supermarket untuk membeli persediaan bahan makanan.

Telur.

Taehyung langsung mengingat kata yang keluar dari mulut Jungkook, ia tersenyum lalu mengambil telur yang hanya tersisa tiga buah. Well, kehadiran Jungkook tidak terlalu berdampak buruk juga.

Pemuda itu memakai apron berwarna biru muda, dia meletakkan wajan di atas kompor kemudian menyalakannya. Saat menoleh, ia terkejut mendapati Jungkook sudah berada di sampingnya.

Kapan anak itu datang? Cepat sekali.

"Jungkook, jangan terlalu dekat atau kau akan terbakar!" Katanya memperingati.

Jungkook diam saja, tetap ada di samping Taehyung. Matanya membulat melihat telur yang baru di pecahkan oleh Taehyung, cairan putih dan kuning menyebar begitu saja di atas wajan.

"Geez—" Taehyung memutar bola mata. "—aku benar-benar seperti mengurus seorang bayi, bagaimana bisa ada pemuda seperti ini yang bahkan berbicara saja tidak bisa? Apa Tuhan sedang mempermainkan aku?"

"Mama—telur!" Pekik Jungkook girang.

Taehyung memilih untuk diam, membiarkan Jungkook merasa senang akan suatu hal yang menurutnya baru.

Oh iya.

"Jungkook, apa kau mau membantuku masak?" Tanyanya sambil menatap Jungkook. Pemuda itu tersenyum puas saat Jungkook mengangguk dengan begitu semangat. Rupanya Jungkook juga bisa di manfaatkan disaat-saat seperti ini.

.

.

"Jungkook! Berhenti memasukkan semua garam ke dalam wajan!"

Yeah, seharusnya Taehyung sudah tau dari awal kalau Jungkook itu seperti orang bodoh, tidak terlalu bisa melakukan segala hal dengan baik.

.

.

Setelah makan malam (ditambah Taehyung yang begitu menderita karena telur buatan mereka terasa begitu asin), keduanya memilih untuk duduk dan bersantai di ruang tengah. Jungkook terlihat sibuk dengan siaran televisi yang memperlihatkan animasi spongebob.

Sementara itu, Taehyung hanya bisa memandang punggung Jungkook sambil melamun, kedua tangannya memegang sebuah album keluarga yang sudah terlihat sangat usang.

Kim Taehyung hanyalah pemuda biasa yang hidup sebatang kara. Tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan besar. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, ia memutuskan untuk tetap di rumah ini daripada pulang ke kampung halamannya, Daegu.

Taehyung memiliki seorang kakak yang berbeda tiga tahun darinya. Kakak laki-laki yang selalu berjanji akan terus melindunginya sampai kapanpun, kalimat itu selalu menjadi obat penenang untuknya.

Tapi sekarang, kakaknya menghilang secara misterius. Tidak ada yang mengetahui keberadaannya.

Ia sudah mencari kemana-mana, namun hasilnya sia-sia. Padahal Taehyung selalu berharap kalau pintu rumahnya terbuka lebar, memperlihatkan sosok kakaknya yang berdiri sambil tersenyum padanya. Yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu dan menunggu, tanpa tau balasan apa yang akan dia dapat.

"Mama?"

Taehyung tersentak, ia menutup album keluarganya kemudian menoleh pada Jungkook. "Eoh? Sudah selesai menontonnya? Apa kau mengantuk?" Tanyanya.

Jungkook menggeleng. "Mama—lucu?"

Hell, rona kemerahan muncul di kedua pipi Taehyung secara tidak sengaja. Dasar televisi sialan, ia membuat Jungkook jadi tau kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan kepada Taehyung.

Well, setidaknya Taehyung merasa senang karena Jungkook belajar dengan sangat cepat.

"Pintar" Taehyung mengelus rambut Jungkook. "Tapi aku ini tampan, bukannya lucu. Kalau yang lucu itu dirimu, Jungkook" Katanya sambil tersenyum kecil.

Jungkook ikut tersenyum, merasa bahwa Taehyung sedang memujinya.

"Dan lagi, namaku Taehyung, Kim Taehyung lebih tepatnya. Kalau kau sudah banyak belajar, berhentilah memanggilku dengan sebutan mama, mengerti?"

"Mama~" Jungkook memajukan bibirnya, seperti tidak mau menuruti perintah Taehyung.

"Haish—" Taehyung menghela nafasnya. "Baiklah, kau boleh panggil aku mama sampai kapanpun! Kau puas itu? Harusnya kau berterima kasih karena menetas di rumahku, coba kau bayangkan kalau kau menetas di rumah preman? Aku yakin kau hanya bisa menangis sekarang" Ocehnya.

Jungkook tertawa, meskipun tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Taehyung, tapi melihat ekspresi Taehyung membuatnya ingin.

"Huh? Kenapa kau malah tertawa?" Taehyung menaikkan alisnya. "Heh, jangan-jangan kau tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan?! HAH! Dasar bayi ayam!"

Demi Tuhan, Taehyung akan kehilangan kesabarannya jika terus-terusan begini. Jungkook benar-benar seorang bayi yang terperangkap di dalam tubuh pemuda tampan—

Tunggu, apa Taehyung baru saja mengatakan kalau Jungkook itu tampan?

"Menyebalkan!" Taehyung mendengus kesal. "Ya! Berhenti tertawa seperti itu! Kau membuatku ingin memukul wajahmu dengan—"

Kalimat itu terhenti, Taehyung juga merasa kalau waktu tiba-tiba berhenti berjalan.

Jungkook memeluknya lagi, memeluknya dengan lebih erat, bahkan ia bisa merasakan deru nafas Jungkook yang menggelitik tengkuk serta telinganya. Ya ampun! Sejak kapan Jungkook jadi hot begini?

Kalau Jungkook seorang manusia normal, pasti dia sudah jadi model professional. Tubuhnya memang seperti model pria, bayangan Jungkook tidak mengenakan apapun masih tersimpan jelas di memori otak Taehyung.

Bahkan soal terong itu—ah, dia tidak mau mengingatnya.

"Jungkook?" Panggil Taehyung pelan.

Namun tidak ada jawaban. Taehyung mendengus, apa anak ini sengaja tidak membalas ucapannya? Jungkook itu terkadang lebih menyebalkan dari Yoongi.

"Jung—yak! Kenapa kau tidur!" Pekik Taehyung begitu berhasil menjauhkan tubuhnya dari Jungkook. Ia dapat melihat jelas kedua mata Jungkook yang terpejam, deru nafasnya juga mulai tenang.

Taehyung memanas seperti kepiting rebus. Kok ada ya makhluk aneh seperti Jungkook? Bisa hot dan cute disaat bersamaan?

Kalau begini terus, bisa-bisa Taehyung terkena diabetes karena terus-terusan melihat manisnya Jungkook yang sedang tertidur. Itu baru tidur, kalau Jungkook bangun, Taehyung bisa terkena darah tinggi dalam sekejap.

"Tadi dia bilang belum mengantuk" Taehyung mendengus, ia melirik tubuh Jungkook yang sudah bersandar di atas sofa. "Terus bagaimana caranya aku mengangkatnya ke kamar? Badannya saja lebih besar dariku" Ujarnya bingung.

Tapi bukan Kim Taehyung namanya jika dia menyerah begitu saja. Otaknya yang terlalu jenius (sehingga Yoongi memanggilnya autis) memang tidak pernah kehabisan ide.

Hasilnya, ia menyeret tubuh Jungkook menuju kamar. Ck, bukankah itu jenius sekali?

.

.


.

.

Pagi harinya, Taehyung membuka matanya perlahan, menyadari sinar matahari yang mulai menerangi kamarnya.

Burung-burung berkicauan, seolah-olah mereka saling menyahut. Mentari juga bersinar dengan terang, menyemangati para manusia yang mulai melakukan aktivitas kesehariannya.

Pemuda itu meraba apapun yang ada di sekitarnya, mencoba untuk mencari keberadaan ponsel miliknya. Dia tersenyum begitu berhasil menyentuh sesuatu, benda yang sedikit lunak namun terasa keras disaat bersamaan.

Tunggu, sejak kapan ponselnya lunak?!

"HWAAAA!" Taehyung menjerit begitu mendapati tangannya sedang menyentuh dada bidang Jungkook, pantas saja rasanya aneh!

Sejak kapan Jungkook tidur tidak mengenakan pakaian?!

Jungkook terkejut dari tidurnya akibat mendengar teriakan Taehyung yang menggelegar, ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk kemudian langsung memeluk Taehyung.

"MAMA!" Teriaknya, bahkan matanya sudah berair.

"JANGAN PANGGIL AKU MAMA!" Balas Taehyung tak kalah keras. "Kenapa kau malah menangis?! Harusnya kan aku yang terkejut dan memarahimu! Kau, kau tidur tanpa mengenakan baju!" Omelnya galak.

"Mama~~"

Dan yang Jungkook lakukan hanyalah tetap menangis.

Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Oke, dia harus ekstra sabar menghadapi Jungkook, ia tidak lebih dari seorang anak kecil yang gampang sekali menangis.

"Sudah, sudah, maafkan aku ya? Jangan menangis" Taehyung membawa tangannya untuk mengelus punggung Jungkook. "Jangan menangis lagi, aku tadi hanya main-main saja"

Main-main apanya, bahkan seekor nyamuk yang terbang saja tau kalau Taehyung membentak dan membuat Jungkook menangis.

Jungkook melepaskan pelukannya, bulir-bulir air mata masih menggenang di kedua mata indahnya.

Kalau begini, Taehyung jadi tidak tega melihatnya. Dia merasa seperti habis memarahi seorang anak kecil yang tidak berdosa—walaupun kenyataannya yang dia marahi adalah seorang pemuda dewasa yang bahkan lebih gagah darinya.

"Hey—" Taehyung terkekeh. "Tidak perlu menangiskan? Jungkook itu sudah besar, tidak cocok lagi menangis seperti anak bayi. Apa kau mengerti itu?"

Jungkook terdiam sesaat, bibirnya bergerak perlahan, mencoba untuk mengucapkan sesuatu.

"Sudah—besar?"

"Ya!" Taehyung tersenyum senang. "Akhirnya kau semakin lancar berbicara! Huwaaa menggemaskan sekali! Aku seperti orang tua asli saja!"

Seperti tindakan kekerasan, Taehyung menarik-narik pipi Jungkook dengan cukup keras, membiarkan pipi itu memerah akibat perlakuannya. Sang pemilik pipi juga senang-senang saja, ia malah ikut tertawa dengan Taehyung.

Setelah puas dengan pipi Jungkook, Taehyung beranjak dari ranjang dan memakai sandal rumahnya. Dia menoleh ke arah Jungkook yang juga sedang menatapnya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tertidur tanpa mengenakan pakaian? Apa ruangan ini terlalu panas untukmu?" Tanyanya heran.

Padahal, Taehyung sudah memasang suhu ruangan hingga yang paling dingin.

Jungkook ikut beranjak dari ranjang, ia menghampiri Taehyung kemudian menutup mata pemuda itu dari belakang.

"Mama!" Pekiknya senang.

"Jungkook!" Taehyung menggenggam kedua telapak tangan Jungkook yang berada di depan matanya. "Kenapa kau menutup wajahku huh? Apa kau sedang—"

"TADAAA!" Jungkook langsung menyingkirkan telapak tangannya sendiri, tersenyum lebar sebisa mungkin.

Taehyung membuka matanya perlahan.

Dan yang ia pertama kali lihat adalah—kamar tidurnya nyaris tidak berbentuk. Baju-baju miliknya berserakan, boneka-boneka kesayangannya yang sudah ia simpan dengan sangat baik bertebaran dan masih banyak lagi benda yang tidak berada di tempatnya.

Suasana hening dalam beberapa menit.

"Jungkook?" Taehyung menoleh dengan pandangan datar.

Jungkook menoleh juga, ia memasang senyum lebarnya, seperti tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

Sesaat kemudian, wajah Taehyung memerah seperti kepiting, kedua tangannya terkepal dengan sangat erat, urat-urat di lehernya sedikit menimbul.

Ini adalah pertama kalinya seseorang menghancurkan kamarnya, dan yang paling penting ini adalah pertama kalinya seseorang mengetahui bahwa Taehyung gemar mengumpulkan boneka (meskipun hanya Jungkook).

"Jungkook—" Taehyung menghela nafas kemudian tersenyum manis. "—KENAPA KAU MEMBUAT SEMUANYA BERANTAKAN HAH?!" Dalam sekali bentakan, semua burung yang tadi berkicauan langsung terbang entah kemana.

Dan lagi-lagi, seluruh tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya langsung terbangun. Dalam hati mereka berterima kasih karena Taehyung sangat membantu mereka untuk urusan bangun pagi.

.

.


.

.

Taehyung mendesah, untuk yang kesekian kalinya.

Setelah acara beres-beres kamar, ia memutuskan untuk mengajak Jungkook keluar rumah, dengan alasan kalau Jungkook juga harus melihat dunia luar agar tidak bosan terus-terusan memandang hal yang sama setiap harinya.

"Jungkook, tetap berjalan di belakangku dan jangan kemana-mana!" Peringatnya.

Jungkook mengangguk kecil, matanya berbinar-binar melihat semua yang ada di sekitarnya. Cuaca hari ini begitu cerah, tidak mendung namun tidak juga terlalu panas.

Karena Taehyung tidak pernah mengurus seorang manusia sebelumnya, ia memutuskan untuk mengikat pergelangan tangan Jungkook menggunakan tali, kemudian ia ikat sendiri ke pergelangan tangannya.

Kok rasanya Jungkook lebih mirip hewan peliharaan ya? Tapi, siapa yang perduli?

Hari ini kota terlihat ramai sekali, banyak pejalan kaki seperti siswa dan siswi sekolah, orang-orang biasa maupun turis asing yang terlihat di sepanjang jalan.

Taehyung tersenyum lebar, ia sudah lama tidak jalan-jalan seperti ini. Terakhir kali ia pergi dengan Yoongi, namun berakhir dengan Yoongi yang menyeret dirinya pulang hanya karena Taehyung tidak sengaja menumpahkan es krimnya ke seorang bapak-bapak galak.

"Mama!" Jungkook berjalan di sampingnya. "Itu?" Ia menunjuk sebuah mobil truk es krim yang kebetulan sedang berhenti.

Taehyung mengikuti kemana telunjuk Jungkook mengarah. "Ah, kau mau es krim? Baiklah, aku akan membelikannya untukmu. Kau mau menunggu disini atau ikut denganku?" Tanyanya.

Tapi yang ia dapatkan malah sosok Jungkook yang sedang tersenyum senang menatap sebuah layar besar di permukaan dinding sebuah mall, layar itu menampilkan iklan-iklan dari berbagai macam jenis produk.

"Baiklah, kau tunggu disini ya? Aku tidak akan lama" Taehyung membuka ikatan tali di pergelangan tangannya. "Tunggu aku disini dan jangan kemana-mana! Kau ingat itu?" Ujarnya penuh penekanan.

Jungkook sekilas mengangguk, entah mengerti atau tidak.

.

.

Sepuluh menit kemudian, Taehyung sampai di tempat yang mana dirinya menyuruh Jungkook menunggunya. Pemuda itu membawa dua buah es krim, rasa vanilla untuk Jungkook dan strawberry untuk dirinya.

"Jungkook—" Taehyung hampir kehilangan nafasnya. "Maafkan aku terlalu—"

Kosong. Taehyung tidak melihat sosok Jungkook dimanapun.

Jungkook menghilang.

"Jungkook?" Taehyung mulai panik, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah untuk mencari keberadaan Jungkook. Tapi hasilnya nihil, ia tak menemukan pemuda itu dimanapun.

Sempat terpikir oleh Taehyung bahwa ia harus bertanya kepada orang-orang yang berlalu-lalang. Tapi niat itu ia urungkan karena terlalu bingung menjelaskan bagaimana ciri-ciri Jungkook yang menurutnya aneh.

Namanya Jungkook, ia tinggi dan tampan, baru kemarin lahir dari sebuah telur besar.

Tidak mungkin, bukan? Bisa-bisa semua orang mengira kalau dia sudah tidak waras.

Sekali lagi, Taehyung mengedarkan pandangannya, berharap bahwa dirinya di pertemukan dengan Jungkook. "Jungkook, kau dimana sih? Es krimnya sudah mau mencair nih!" Katanya panik.

Bagaimana kalau Jungkook nyasar? Kemudian di culik oleh para penculik jahat? Lalu Jungkook di jual ke luar negri dan di jadikan hewan peliharaan? Itu gawat sekali.

Belum lagi ia melangkah, Taehyung memusatkan pandangannya pada sekumpulan wanita-wanita yang ada di sebrang sana. Kebanyakan diantara mereka adalah siswi-siswi sekolah yang mempunyai seragam berbeda.

Taehyung menyipitkan matanya, berusaha melihat apa yang menjadi—

"JUNGKOOK!" Pekik Taehyung begitu menyadari bahwa Jungkook lah yang menjadi objek rebutan itu. Tanpa memperdulikan lampu yang masih merah, pemuda itu berlari menyebrangi jalan dengan secepat mungkin.

Tidak perduli saat beberapa pengemudi membunyikan klakson dan berteriak menghinanya.

Sesampainya disana, Taehyung langsung menyingkirkan semua siswi sekolah itu dan menemukan sosok Jungkook sedang memegang banyak sekali cokelat dan permen manis.

"Astaga—" Taehyung mengatur deru nafasnya sejenak. "Aku pikir kau benar-benar hilang dan di culik, Jungkook!" Katanya khawatir.

Jungkook terkejut karena kehadiran Taehyung, namun setelah itu ia tersenyum lebar, tangannya terjulur untuk memperlihatkan banyaknya cokelat dan permen yang ia dapat kepada Taehyung.

Melihat hal itu, para siswi disana langsung bereaksi heboh.

"Lucunyaa!"

"Jadi nama dia Jungkook?!"

"Boleh aku bawa dia pulang?"

"Menggemaskan! Dia juga tampan!"

"Tapi tunggu, siapa pemuda ini?"

Pertanyaan yang terlontar itu membuat seluruh siswi terdiam, mereka memandang sosok Taehyung dari atas hingga bawah, seperti sedang menilainya.

Taehyung tersenyum gugup. "Emm, aku ini adalah—"

"Kakaknya?" Seorang siswi nyeletuk. "Kalau kakaknya aku rasa tidak mungkin, wajah kalian tidak mirip dari sisi manapun, pemuda ini lebih tampan"

"Huh?"

Hello, Taehyung baru sadar kalau siswi-siswi jaman sekarang itu benar-benar kurang ajar. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Apa mereka belum pernah melihat pesona dari seorang Kim Taehyung?

Oke, stop. Taehyung mulai mengingat bagaimana masa lalunya di sekolah dulu.

"Aku—"

"Jangan berbohong, tolong" Potong seorang siswi lagi.

Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jika saja lawan bicaranya bukan seorang wanita, pasti mereka sudah menerima pukulan paling menyakitkan dari Taehyung. Taehyung itu dulu pernah mengikuti kegiatan tambahan bela diri (karate), tapi hanya bisa sampai sabuk kuning saja. Hm.

"Biarkan aku menjawab!" Taehyung mendengus. "Perlu kalian ketahui, kami ini adalah—"

"Mama~"

"—…Pasangan yang baru menikah beberapa bulan yang lalu"

Shit. Taehyung mengutuk dirinya sendiri karena sudah berbicara sembarangan. Salahkan Jungkook, tolong! Anak itu memanggilnya dengan sebutan mama di depan orang-orang, mereka tentu tidak akan percaya jika Taehyung berkata kalau hubungan mereka hanyalah sebatas sahabat.

Semua siswi disana melongo dan terkejut, tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut pemuda tampan bernama Jungkook itu. Taehyung berpikir kalau mereka semua terkejut karena mendengar hubungan mereka yang tidak wajar.

"Mama?"

"Apa dia baru saja memanggilku?!"

"Kau dengar itu?! Dia menyebut kata mama!"

"Astaga, lucu sekali! Bagaimana bisa ada pemuda selucu ini di dunia? Apa ada versi bonekanya?!"

Dan mereka mengabaikan kalimat yang keluar dari mulut Taehyung.

Taehyung meremas cone es krim dengan begitu erat, wajahnya merah bagai tomat. Dengan gerakan secepat kilat, ia menempelkan es krim strawberry yang di pegangnya kepada wajah salah satu siswi disana. Pemuda itu tersenyum puas ketika melihat es krim itu menghias wajah cantiknya.

Secepat kilat pula Taehyung menarik tangan Jungkook. "Makan itu!" Ketusnya sebelum benar-benar pergi dari sana.

Jungkook menatap wajah siswi itu, dengan polosnya ia tersenyum lebar kemudian berkata..

"Makan itu!"

.

.


.

.

Acara mereka selanjutnya ialah menuju toko buku. Dengan senang hati Taehyung membelikan banyak sekali buku-buku bacaan untuk Jungkook. Mulai dari cara bagaimana mengeja kata sampai buku-buku lainnya—yang sebenarnya untuk anak usia lima tahun.

"Telur lagi ya?" Taehyung memandang heran sosok Jungkook yang sedaritadi tidak melepas buku dongeng tentang anak ayam dari pelukannya.

Jungkook memperlihatkan cover buku itu pada Taehyung. "Jungkook berasal dari sini!"

Well. Taehyung tidak menyesal membawa Jungkook ke perpustakaan. Pemuda itu memang cepat sekali belajar dan memahami.

"Yeah" Taehyung tertawa kecil. "Kau memang berasal dari telur itu, bagaimana rasanya di dalam? Apa itu panas? Sesak? Sempit?"

Jungkook menggeleng dengan cepat dan itu membuat Taehyung menarik pipinya lagi dengan sedikit keras.

Suasana toko buku juga tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Hanya ada beberapa pengunjung yang kebanyakan adalah orang-orang dewasa. Taehyung berjongkok untuk menemukan buku-buku lainnya, buku yang sedikit lebih sulit kali ini.

Apa Jungkook juga perlu di ajari kata dan kalimat kasar?

Jungkook berdiri di hadapannya, tatapan matanya begitu tajam dan menusuk. Perlahan ia mendekatkan wajahnya kemudian berbisik. "You. Me. Bed. Now"

"Hueee—" Taehyung menepuk-nepuk pipinya. "Bagaimana bisa aku punya pikiran seperti itu? Aku seolah-olah akan melecehkan seorang anak kecil yang polos saja!" Rutuknya kesal.

Jungkook ikut berjongkok di sebelahnya, memandang Taehyung dengan tatapan bingung. "Mama?" Panggilnya pelan.

"Maaf ya" Taehyung meringis. "Kau jadi harus menunggu lama. Aku berjanji sepuluh menit lagi akan selesai, setelah itu kita belanja di supermarket, okay?"

Jungkook mengangguk, kembali memperhatikan buku dongeng yang di pegangnya.

Sepuluh menit telah berlalu. Setelah membayar semua buku yang di beli, tujuan terakhir mereka adalah menuju supermarket. Keduanya berjalan berdampingan selama perjalanan. Taehyung membawa semua kantong belanjaan buku-buku Jungkook sementara Jungkook sendiri membawa permen dan cokelat dari siswi-siswi tadi.

"Kalau mau makan ini jangan sekaligus ya?" Taehyung menunjuk cokelat dan permen itu menggunakan jari telunjuknya. "Itu akan membuat gigimu berlubang kemudian sakit" Jelasnya.

Bukannya ia tidak suka jika Jungkook menerima semua hadiah itu, tidak rugi juga untuk dirinya. Hanya saja, Taehyung pernah mengalami apa yang namanya sakit gigi—dan demi Tuhan, itu memang benar-benar menyiksa.

"Ini?" Jungkook menunjuk satu bungkus cokelat. "Ini?" Menunjuk satu bungkus permen. "Ini?" Dan yang terakhir menunjuk sebungkus lollipop besar.

"Hey, itu namanya banyak sekali tau!" Taehyung mendengus. "Makannya satu-satu, jadi gigimu tidak cepat rusak! Eh? Aku belum membelikanmu sikat gigi ya? Kalau begitu kita akan membelinya di supermarket!"

Jungkook mengangguk dan tersenyum, senyuman itu semakin lebar saat ia merasakan sesuatu yang basah mengenai permukaan kulit wajahnya. Pemuda itu menjulurkan lidahnya, membiarkan bulir-bulir air dari langit itu mendarat di lidahnya. Rasanya aneh, Jungkook tidak pernah merasakan air yang seperti ini sebelumnya.

Taehyung menoleh dengan tatapan aneh. "Hei, apa yang kau—"

Terlambat, hujan langsung turun dengan sangat deras sebelum Taehyung sempat menyelesaikan pertanyaannya.

"HWAA!" Taehyung memekik. "Jungkook! Hujan! Kita harus mencari tempat teduh!" Hebohnya sambil mengedarkan pandangan.

Hujan itu membuat pandangan Taehyung sedikit buram. Semua pejalan kaki yang ada di sekitar mereka juga langsung berhamburan, mencari tempat untuk berteduh.

Kenapa di hari cerah seperti ini harus hujan? Ck, Taehyung menyesal tidak selalu mengikuti saran Yoongi—membawa payung kemanapun kau pergi.

Sudahlah, tidak ada waktu untuk menyesal! Taehyung langsung berlari menuju sebuah halte yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tidak perduli sepatunya yang basah akibat menginjak kubangan air.

Sesampainya disana, Taehyung harus merasa sempit-sempitan akibat banyaknya orang yang berteduh.

"Jungkook, sini dekat—"

Oh, tidak. Taehyung melupakan Jungkook, dan kini pemuda itu tidak ada di sampingnya (lagi).

"Jangan lagi!" Taehyung menjatuhkan kantong belanjaannya dengan sengaja. "Kim Taehyung! Kau ini bodoh sekali! Kenapa otakmu tidak pernah bekerja dengan benar barang sehari saja?! AHHH aku bisa gilaa!" Teriaknya frustasi.

Setelah itu, Taehyung tersenyum kikuk kepada orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.

Taehyung memukul kepalanya dua kali. "Bodoh! Aku harus mencari Jungkook! Dia pasti kedinginan!" Ujarnya nekat.

Dengan keputusan yang sudah bulat, Taehyung berlari menerobos derasnya hujan. Pemuda itu tidak perduli dengan pakaiannya yang langsung terasa basah, butir-butir air hujan yang jatuh terasa seperti jarum yang menusuk kulit.

Saat ia kembali ke tempat tadi, Jungkook sudah tidak berada disana.

"Jungkook?!" Taehyung menyipitkan kedua matanya akibat terlalu banyak air hujan yang menerpa wajahnya. "Kau disini?! Kau bersembunyi dimana?!" Teriaknya.

Demi Tuhan, Taehyung berharap kalau Jungkook tidak akan menghilang lagi. Bagaimana kalau anak itu terpeleset kemudian terjatuh dan kepalanya terbentur? Atau bagaimana kalau ia tidak bisa melihat jalan kemudian tertabrak mobil?!

"Jungkook! Jungkook?! YAK! ANAK AYAM?! Cepat jawab aku!"

Kalau kata Yoongi, jika ada orang yang bilang bahwa Taehyung jenius—tolong ikat orang itu kemudian buang tubuhnya ke jurang, kau tidak akan menyesal melakukannya, sungguh.

Pakaian basah seluruhnya, Jungkook menghilang, sendirian—please, apa ini gak terlalu sinetron banget?

"Jungkook~ Kalau kau dengar aku maka jawablah!"

Kalau sudah begini, Taehyung ingin pingsan saja, kemudian terbangun dengan Jungkook yang sudah berada di sampingnya, memperlihatkan senyumnya yang terlihat begitu polos dan menyebalkan.

Taehyung berjongkok, lelah akibat terus berlari dan berteriak. "Jungkook" Panggilnya lirih, hanya berharap makhluk aneh yang berasal dari telur itu muncul di hadapannya—

"Mama?"

—sekarang juga.

Butir-butir air hujan tidak lagi terasa menusuk di tubuh Taehyung. Pemuda itu menatap sepasang kaki yang ada di depan matanya, perlahan ia mendongak dan menemukan sosok Jungkook sedang tersenyum lebar.

"Jungkook?" Panggilnya pelan, berpikir apakah dirinya sudah tidak sadarkan diri atau belum.

Jungkook selalu suka ketika Taehyung memanggil namanya.

"Payung!" Katanya sambil menunjukkan sebuah gagang payung yang berada di genggaman tangan kanannya.

Taehyung diam tak berkutik.

"Jungkook pergi untuk mencari payung—" Jungkook tampak berpikir keras untuk mengucapkan kalimatnya sendiri. "—agar mama tidak kehujanan" Lanjutnya lagi, tersenyum senang begitu mengetahui ia berhasil mengucapkan kalimat yang ia mau.

Mungkin kalau cerita ini adalah sebuah manga, maka yang kita lihat adalah sosok Taehyung berlumuran darah akibat mimisan mendadak.

Jungkook menarik tangan Taehyung agar segera berdiri. "Mama?"

"Kau—" Taehyung menggigit bibir bawahnya. "—membuatku begitu khawatir tau! Kenapa kau lakukan itu huh?! Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?!" Ocehnya, mirip seperti seorang ahjumma yang sedang memarahi anak kecil.

Kim Taehyung dengan sifat bawelnya akhirnya telah bangkit.

"Mama—"

"Tidak!" Taehyung membungkam mulut Jungkook menggunakan telapak tangannya. "Jangan bicara apapun! Aku kedinginan dan kita harus segera pulang! Lupakan soal belanja, aku akan melakukannya sendirian besok!"

Setelah itu, Taehyung menarik tangan Jungkook agar berjalan di belakangnya. Jungkook sendiri hanya diam, tangan kanannya masih setia menggenggam payung berwarna kuning lemon.

Jungkook terlalu lugu untuk menyadari betapa merahnya wajah Taehyung sekarang—bukan karena demam atau apa, namun karena perlakuan manis Jungkook yang terasa begitu spesial bagi Taehyung.

"Nanti kita ambil buku-buku itu di halte ya? Aku meninggalkannya disana" Ujar Taehyung tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.

"Hu'um~"

.

.

.

.

"Jungkook, kau dapat darimana payung ini? Rasanya aku tidak memiliki payung dengan warna seperti ini"

Taehyung memandang penuh heran sosok Jungkook yang sedang berkutat dengan buku-buku bacaannya. Buku-buku penuh gambar itu berserakan di lantai, di ruang tengah rumah mereka.

Jungkook membuka halaman selanjutnya pada buku yang ia baca. Dia mendongak untuk melihat wajah Taehyung.

"Roti!"

"Hah?" Taehyung mengernyit. "Roti? Maksudnya apa?"

Jungkook tidak menjawab, kembali sibuk dengan huruf-huruf abjad yang tertera di bukunya.

Ah, masa bodo. Taehyung mengangkat kedua bahunya tidak perduli, memilih untuk duduk dan menyalakan televisi, nanti juga Jungkook akan menceritakannya sendiri tanpa harus di paksa, benarkan?

.

.

[Bagian yang hilang]

"Mama—"

Jungkook terdiam melihat sosok Taehyung yang berlari meninggalkannya. Hujan turun dengan deras dan pemuda itu tak berpengalaman soal ini.

Dia memandang beberapa orang yang berjalan di sekitarnya, mereka membuka sebuah benda dengan gagang aneh, kemudian benda itu melebar di atas kepala mereka, membuatnya tidak kebasahan lagi.

"Uhm?" Jungkook mengerti, ia langsung mencari keberadaan benda ajaib itu.

Gotcha! Jungkook tersenyum saat melihat sebuah toko di sudut sana, ada berbagai macam roti dengan wangi yang khas serta lezat.

Jungkook berdiri di depan toko, tidak perduli dengan bajunya yang sudah setengah basah. Kehadirannya membuat pemilik toko itu tertarik untuk keluar.

"Apa yang kau cari, nak?"

"Uhmm—" Jungkook tidak tau bagaimana mengatakannya. "I-itu?" Katanya sambil menunjuk sebuah payung berwarna kuning, terletak di dekat pintu kayu toko tersebut.

Pemilik toko tertawa kecil. "Payung maksudmu? Tapi ini tidak di jual, dear"

Jungkook memajukan bibirnya, merasa bahwa orang itu sungguh jahat karena tak mau memberikan benda ajaib itu kepadanya.

Melihatnya, sang pemilik toko langsung tersenyum hangat. "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku akan berikan ini untukmu, pakailah dan segera pulang! Bajumu sudah hampir basah, kau bisa sakit" Ujarnya, memberikan payung itu kepada Jungkook.

Menerima payung itu, Jungkook langsung tersenyum lebar, ia memberikan semua cokelat serta permen yang ada di tangannya kepada sang pemilik toko.

"Oh? Apa ini untukku?" Tanyanya terkejut. "Astaga, kau baik sekali. Terima kasih, akan aku campurkan dengan resep baruku"

Jungkook tersenyum, bukan karena pemilik toko itu, melainkan karena akhirnya dia mendapatkan benda ajaib yang di inginkannya.

Dengan langkah semangat, Jungkook membuka payung itu kemudian berjalan dengan senang menuju tempat dimana ia dan Taehyung berpisah tadi.

"Mama!"


Bersambung


A/N : Woah, apa-apaan ini? Maafkan aku yang terlalu lama update. Seharusnya dari kemarin sudah di update, tapi aku malah sakit berkepanjangan -_- Okay, jadi aku mau minta maaf kalau ternyata ceritanya mengecewakan -_- maklum, masih amatiran, dulu aku vakum dari nulis fanfic sekitar tahun 2014, baru mulai lagi bulan Juli tahun lalu xD

Aku mau berterima kasih sama kalian yang sudah review, jadi terharu, serius deh :')

Jell-ssi | TaeKai | Ansleon | utsukushii02 | bbihunminkook | Xxzmn | Nila Zahrotul639 | anoncikiciw | Vookie | Clou3elf | BbuingHeaven | Cakue-chan | HyeraSung | armyvhs0202 | arisafukushima564 | Guest | cutebei | Sugahoney | Yeka

dan terima kasih juga buat yang favorite/follow cerita ini /wink/

Ada yang bilang 'gak bisa ya Jungkook di jadiin uke?' Okay dear, masalah utamanya disini aku adalah penggemar bottom!tae, karena dia terlalu imut kalau menurutku. So, yeah, aku ini #TeamTaehyungBottom :'D

Tolong, yang gemes sama Jungkook silahkan tungguin telur-telur di kulkas kalian menetas, barangkali isinya Jungkook /smirk/. Pokoknya cerita Eggnoid itu bener-bener top deh /lah ini apa hubungannya/.

Sekali lagi makasih banyak buat yang sudah review, maaf lho aku ga bales reviewnya, tapi aku selalu baca komentar kalian kok setiap waktu :") Yang tertarik untuk berteman silahkan add line aku (anismaysarah), kalau mau.

Kalau gitu sampai jumpa di chapter selanjutnya! Salam #TeamTerongJungkook *lol