Hallo maaf atas keterlambatannya, hehe.
saya harap tidak ada yang marah atas kendala saya yang satu ini.
oh iya, sebagai Warning aja dalam FFN ini bakal ada karakter dari fandom lain yang saya crossover dan saya tegaskan bahwa cerita ini semi-AU yang notabene saya buat agar berbeda dengan cerita-cerita lainnya.
oh iya sebagai informasi, mengingat di nama-nama karakter di Akame ga kiru tidak punya nama belakang, saya menambahkan nama-nama mereka sesuai dengan imajinasi saya.
kalau begitu selamat membaca.
Informasi tambahan: Umur Karakter.
Naruto: 20 Tahun
Kurama: 25 Tahun
Sora: 20 Tahun
Shizuka: 20 Tahun
Konohamaru: 17 Tahun
Akame: 16 Tahun
Tatsumi 16 Tahun
Happy reading
Kedua bola mata berwarna safirnya itu terus menatap langit. Membiarkan imajinasinya terus bergerak dinamis terhadap awan-awan putih dan kelabu yang melayang-layang layaknya kapas yang terbawa oleh semilir angin musim panas. Daun pohon sakura yang menampak merah muda nan cantik, telah berubah menjadi hijau layaknya pohon-pohon normal lainnya.
Bocah itu masih termangu. Dia tidak tahu aktifitas apa yang ia harus lakukan hari ini. Apakah ia harus melakukan keusilan seperti biasa? Ah, sepertinya tidak mungkin. Cuaca terlalu panas hari ini, membuat sistem badannya memilih untuk bermalas-malasan ketimbang melakukan aktifitas yang memerlukan stamina.
Badannya mulai menggerakan ayunan yang sedari tadi ia duduki. Maju mundur dengan perlahan seirama dengan daun yang menari bersama sang angin. Tanpa sengaja, sebuah gambaran terlintas dibenaknya. Seorang anak kecil berumur lima tahun sedang bermain ayunan dengan ibunya dengan riang. Sang ibu mendorong ayunan itu dengan perlahan namun cukup membuat benda itu bergerak ke depan dan ke belakang dengan tempo yang sesuai. Gambaran anak itu perlahan berubah, rambut sang anak yang awalnya coklat muda, mulai berubah menjadi pirang landak. Garis-garis layaknya kumis kucing mulai muncul di kedua wajahnya. Ya, anak itu telah berubah menjadi cerminan dirinya. Seorang anak berambut pirang dengan mata seindah batu safir yang tengah menebarkan senyuman kebahagian bersama sang ibunda.
Sayangnya, itu bukanlah kenyataan. Itu hanyalah angan-angan akan harapan miliknya sedari dulu. Dia tidak tahu apa dan mengapa ia menginginkannya, tapi ia tahu rasa sakit itu. Rasa dimana orang lain dapat tersenyum namun ia tidak. Rasa kehampaan dan terasingkan… di bawah balutan selimut yang bernama…Kesepian..
Kepalanya menggeleng, mencoba menghilangkan segala pikiran jelek dari alam pikirannya. Ya, dia harus kuat. Uzumaki Naruto bukanlah bocah lemah dan cengeng. Ia harus kuat! Ha…rus…?
Apakah ia harus kuat menghadapi semua ini? dirinya mulai ragu. Selama tujuh tahun dirinya hidup, dia jarang sekali mendapat perlakuan layak dari masyarakat konoha. Pukulan, cacian dan hinaan sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Sekeras apapun ia berusaha agar dirinya dapat perlakuan layak, semuanya sia-sia. Mereka hanya sekedar memanfaatkan momen itu lalu menjatuhkan dirinya pada lubang hinaan.
Akhirnya, ia memutuskan untuk membuat keributan. Mencorat-coret tembok rumah orang bahkan patung hokage. Mungkin ini satu-satunya cara ia dapat membalas semua perlakuan itu dan mendapat kesenangan tersendiri di sana. Tapi, apakah dirinya senang? Ia bahkan harus menghadapi kemarahan Iruka-sensei dan Kakek Hokage sebagai balasan tindakan bodohnya, lalu berakhir mendapat hukuman yang membuat wajahnya cemberut.
"Huft, bodohnya diriku." ujarnya pada dirinya sendiri.
Satu gerakan ke depan. Ia melompat, menapak pada tanah lapangan Akademi yang mulai kering akibat terik matahari. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya lapangan kosong dengan debu yang terangkat ke udara. Wajar sih, toh hari ini memang pulang cepat karena seluruh guru sedang ada rapat yang diadakan secara mendadak oleh kakek Hokage.
Lalu, kok Naruto sendirian? Bukannya anak umur 7 tahun seperti dirinya biasa dijemput oleh orang tua?
Harusnya sih begitu…Seandainya saja ia memang punya orang tua…
Ya, Naruto adalah seorang yatim piatu sejak lahir. Tinggal di panti asuhan Namikaze selama empat tahun dan hidup mandiri begitu ia menginjak ulang tahunnya yang kelima. Mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana bisa bocah berumur lima tahun bisa hidup sendirian bahkan punya apartemen sendiri? Begini, bila ada seorang yang punya pengaruh luar biasa besar di suatu daerah dan orang itu meminta sesuatu pada warga sekitar, apakah warga akan mengabulkan permintaan tersebut? Kebanyakan kasus, para warga akan mengabulkan permintaan tersebut dan hal itu terjadi ketika Sarutobi Hiruzen, sang pemimpin desa Konoha yang dijuluki Hokage ketiga membantu Naruto mendapatkan apartemen barunya.
Naruto, memang dekat dengan sang Hokage.
Kelopak matanya mengedip. Menyadarkan dirinya dari lamunan akan masa lalu. Dasar, ia merasa seperti Shikamaru akhir-akhir ini. Suka bengong tidak jelas dan sering sekali menatap awan kalau tidak ada pekerjaan. "Huft.." desahnya tidak semangat.
Kakinya mulai bergerak. Melangkah santai menuju gerbang Akademi Ninja Konoha. Udara yang berbenturan dengan lidahnya yang tertekuk mulai mengeluarkan suara merdu dari lubang mulutnya. Suara nyaring yang mulai berubah naik-turun, menciptakan alunan nada yang persis dengan lagu yang sering ia dengar dari radio.
Tak sempat melewati gerbang, dirinya terdiam. Pandangannya tak lagi fokus pada jalanan yang ramai akan warga sekitar yang sedang menjalankan aktifitasnya, melainkan pada sesuatu tempat di ujung gerbang tepat di sudut yang dimana tempat itu terdapat tiga sosok bocah laki-laki yang sedang mengelilingi sesuatu. Tentu rasa ingin tahu mendadak muncul dari dalam dirinya, hingga tanpa sadar kakinya melangkah menuju tiga bocah itu.
"Heh, bocah aneh. Cepat berikan uangmu! Kami butuh uang nih!" dari suara salah satu bocah laki-laki itu, Naruto bisa asumsikan kalau mereka sedang memeras seseorang. Heran, hari gini masih saja ada tukang peras seperti mereka. Bukannya ada aturan kalau tindakan seperti itu bisa masuk ruang hukuman? Kok masih saja mereka berani?
"Hei!" panggilnya. Namun mereka tidak mengubris. Sepertinya suaranya terlalu kecil. "Heeii!" Kali ini anak gendut yang berada lurus di depannya menggeser badannya dan memalingkan kepalanya ke arah Naruto. Sedikit senyuman tampak pada wajahnya yang bulat. Naruto mengerutkan dahinya, ada apa gerangan ini. kedua mata safirnya mencoba menganalisa apa yang sedang terjadi dan ia terkejut ketika pandanganya mencapai celana bocah gempal itu yang dimana resleting-nya terbuka, menunjukkan barang pribadi sang bocah.
Tunggu!? Bila dia melakukan hal yang demikian.. jangan-jangan..!
Naruto langsung mengalihkan pandangannya dari sang bocah gempal menuju korban yang sedang dianiaya. Seorang anak dengan rambut biru pendek kehitaman tengah terduduk lemas di tanah. Cairan bening keluar dari matanya yang berwarna kelabu. Kimono putih cerah yang selaras dengan kulitnya mengalami sedikit perubahan warna menjadi ke kuning-kuningan dibeberapa bagian.
Sialan! Bocah-bocah ini..!
"HEEI! BAJINGAN KALIAN!" teriak Naruto dengan tinju menghantam sang bocah gempal.
"BOSS!" kedua teman si gempal segera menghampiri dirinya yang terjatuh ke tanah.
Naruto segera memasang badan di depan gadis itu. Ini memalukan. Tindakan anak-anak ini sungguh keterlaluan. "BERANINYA SAMA CEWEK! KALIAN BANCI YA! HAH!?"
Anak lelaki berbadan gemuk itu mulai bangkit dari tempatnya terjatuh. Cairan merah kehitaman perlahan mengalir dari kedua lubang hidungnya. Api amarah tersirat pada matanya yang berwarna coklat. Bocah itu meludah, mengeluarkan riak merah menjijikan yang membuat siapapun mengernyitkan dahi.
Naruto menelan ludah. Dirinya tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak hanya dihajar si badan gorilla. Kedua rekannya pasti ikut menghajarnya. Sialnya, jalan untuk kabur juga tidak ada. Semuanya tertutup oleh mereka. Kalaupun ada, ia harus memanjat pagar pembatas agar bisa kabur, tapi itu sama saja meninggalkan gadis yang ada di belakangnya. Cih ini terlalu sulit.
"Hei..!" tubuh Naruto menegang mendengar suara si gendut. "Berani sekali kau memukulku… siap mati ya, HAH!?"
Walau terintimidasi, Naruto tetap tersenyum sinis. "Heh, kau yang seharusnya mati, dasar babi banci! Beraninya lawan perempuan, Hah! Memalukan!" Naruto membuang ludah, menunjukan betapa jijiknya ia pada ketiga orang itu.
Merasa direndahkan, si gendut menggerakan kepalanya, memberikan semacam kode yang dibalas dengan anggukan dari temannya yang ada di kirinya. Bocah berbadan kurus itu maju, melayangkan pukulan. Reflek, Naruto bergerak menyamping, membiarkan tangan kanan itu melewati wajahnya. Dengan satu gerakan pasti, Naruto memegang tangan kanan bocah itu lalu mendorongnya hingga tangan serta tubuh sang bocah menghantam tembok dengan keras.
"GYAA!" senyum kemenangan tercipta pada wajah Naruto ketika suara teriakan itu terdengar di telinganya. "Bhu!" tidak lama, senyum itu menghilang. Berganti dengan wajah kesakitan. Tubuhnya terjatuh, memegang punggungnya yang terasa sakit akibat serangan diam-diam dari bocah berkacamata. Melihat kesempatan, bocah itu bergerak cepat, menendang wajah Naruto hingga tubuhnya terpelanting kebelakang.
"Uhuk! Uhuk!" kepalanya terasa pening disertai dengan cairan panas mulai mengalir dari kepala, hidung, dan mulutnya. Dia mengernyit, "Dasar licik kalian!"
"Heh, kau yang menyulut api, maka kau juga yang harus memadamkannya!" ucap bocah gendut itu dengan menendang perut Naruto hingga tubuh kecilnya terpental menabrak tembok pembatas.
"Uhuk! Huek!" kembali darah keluar dari mulutnya dengan intensitas lebih banyak dari sebelumnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perut hingga seluruh tubuhnya, membuat tubuhnya tak mampu mengikuti perintah otaknya untuk bergerak. Sial, ia terlalu meremehkan lawannya. Ia tidak sempat berpikir resiko yang akan ia hadapi hingga ia mendapat harga yang pantas dari tindakan cerobohnya.
Perlahan, Naruto dirinya melayang di udara. Ah, apakah dewa kematian sudah mencabut nyawanya? Tidak, bila nyawa sudah lepas dari tubuhnya seharusnya ia tidak lagi merasakan sakit. Tapi ia masih merasakan rasa nyeri yang berada di perutnya. Mata birunya yang sempat tertutup mulai terbuka, menemukan tangan kotor bocah gendut yang tengah menarik kerah bajunya hingga tubuh Naruto terangkat ke udara.
"Bersiaplah," tangan kanan bocah itu kembali terangkat. Tapi Naruto segera menendang perut besar tanpa pertahanan itu dengan kencang, otomatis tangan bocah itu melepaskan Naruto dan memegang perutnya yang nyeri.
"BOSS!"
Senyum kemenangan tercipta di wajah Naruto. "Haha, jangan remehkan diriku, Dattebayo!"
"CK! AWAS KAU!" ketiga bocah itu melaju secara bersamaan sedangkan Naruto menyiapkan kuda-kudannya. Menghentak tanah, Naruto melompat. Menerjang ketiga bocah itu dengan tangan kanan terkepal.
"ASTAGA, HINATA-SAMA! ADA APA INI!?" sontak, keempat bocah yang akan saling baku hantam menghentikan gerakannya. Keempat pasang mata itu beralih menatap asal suara itu. Tepat di ujung gerbang, seorang lelaki jangkung dengan rambut coklat spike berjalan ke arah mereka. Mata kelabunya tampak memburu.
Tubuhnya berhenti bergerak begitu penglihatannya menangkap apa yang terjadi pada gadis kecil yang bernama Hinata. Raut marah tercipta pada wajahnya yang berwarna putih itu. Ia menengok pada keempat bocah itu, "SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADA HINATA-SAMA!?" teriaknya, "JAWAB!"
Ketiga bocah itu langsung menunjuk Naruto sebagai pelakunya. Sontak, Naruto kaget bukan main. "Apa!? Bukan ak—" tidak sempat membela diri, sebuah pukulan melayang pada badannya hingga tubuhnya benar-benar menabrak tembok hingga menimbulkan retakan disana. Darah kembali keluar dari mulutnya yang telah berwarna merah. Rasa sesak di dadanya membuat ia tidak bisa bergerak. Ia mengangkat kepalanya, memohon pertolongan dari gadis kecil itu. Tapi, gadis itu hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
Kembali, pukulan bertubi-tubi menghantam wajah, tubuh dan entah bagian mana saja yang telah dipukul. Terakhir, yang ia ingat adalah tubuhnya berguling di tanah dengan wajahnya yang menatap langit.
Lelaki jangkung itu segera menggendong gadis yang bernama Hinata dibalik punggungnya. Sebelum ia pergi, ia mendekati Naruto, menendang wajah bocah itu untuk terakhir kalinya dan meninggalkannya begitu saja. Ketiga bocah itu tersenyum, mendekati tubuh Naruto yang diam tak bergerak dan meludahinya sembari berkata, "Rasakan itu dasar siluman rubah sialan, CUIH!"
Dengan memberi tendangan terakhir, mereka pergi. Meninggalkan Naruto sendirian di sudut Akademi dengan tubuh penuh luka.
Sejak awal seharusnya ia tahu, dia sendirian di dunia ini. Tidak ada yang peduli padanya, para penghuni panti asuhan Namikaze, warga desa, ataupun gadis itu.. mereka tidak peduli. Mereka hanya senang melihatnya menderita. Lalu, kenapa ia harus hidup? Ia tidak dibutuhkan disini. Tapi, kenapa ia harus ada? Kenapa ia harus dilahirkan? Mengapa? MENGAPA!?
Perlahan, cairan bening mulai mengalir dari sudut matanya. Ia terlalu bingung dengan situasi ini. Dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Ia tidak tahu. Andai ia memiliki seorang ibu, ia ingin menangis dalam pelukannya, menceritakan semua yang terjadi. Tapi, ia tahu itu tidak mungkin. Kini yang bisa dirinya lakukan hanyalah menangis..menangis..dan menangis.. dalam kesendirian dan kehampaan.. tanpa seorangpun yang peduli akan keberadaannya.
"Jangan menangis, anak lelaki tidak boleh cengeng kan?" sebuah suara terdengar ditelinganya. Naruto merasakan suatu yang lembut mengusap tengah menempel pada kelopak matanya, menghapus setiap tetes air mata kesedihan yang jatuh menuju bumi.
Disana, sesosok gadis berambut merah tengah berjongkok mengusapkan sapu tangannya pada wajah Naruto. Mata yang bagai ruby itu menatap dirinya penuh kehangatan. Gadis itu tersenyum, menarik sapu tangannya dan menaruhnya pada saku celananya. Tangannya kembali bergerak, mengusapkan tangan yang putih dan halus pada rambut pirang Naruto dengan lembut. "Kamu tidaklah sendirian Naruto, aku disini untuk melindungimu."
Kalimat itu.. ya, kalimat itu yang ingin dengar selama ini. Kalimat yang ingin dia dengar dari orang lain untuk dirinya. Seseorang yang peduli akan dirinya.
Tanpa sadar, dirinya bergerak. Memeluk sang gadis tanpa rasa malu. Gejolak emosi yang tak bisa diredam akhirnya pecah dengan tangisan yang tidak bisa ia hentikan. Akhirnya ia bisa merasakan hangatnya rasa kasih sayang orang lain, dan rasa ia dipedulikan. Dibalik semua itu, akhirnya ia mengerti akan satu hal. Ia tidak ingin kehilangan orang ini, orang yang telah membalas pelukannya dengan lembut. Ya, sejak saat itu ia mengenal akan namanya cinta, dan dirinya sangat mencintai gadis itu. Gadis yang telah mengisi hatinya yang kosong akan rasa hangat dan kasih sayang, dan ia tidak ingin kehilangan gadis itu..sampai kapanpun.
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Takahiro and Tashiro Tatsuya, Ikeda Akihisa, Bandai, Nasuverse, Ubisoft
Piece of Peace
Genre:Advanture, Fantasy, Crime, Friendship, Seinen, Physiological
Rate:M
Storyline: Semi-AU
Main Chararacter:Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
Note:Just for Fun and let my imagination flow from my brain.
Malam itu angin berhembus dengan kencang, menghantarkan gelombang laut menghantam tebing di semenanjung Frontier dengan kerasnya. Suara angin yang kencang mengganggu pendengaran sosok wanita yang bernama Uzumaki Kurama yang sedang menghangatkan diri di depan perapian sembari meminum coklat panas. Sejenak, ia terdiam. Menaruh gelas pada meja kecil di samping kursinya dan bergerak menuju jendela yang ada di sebelah perapian.
Mendung, tidak ada tanda-tanda bulan akan menunjukkan sinarnya malam ini. Sepertinya akan ada badai. Huft, Hayate-san akan bekerja keras malam ini, gubuk reotnya kan sudah banyak dimakan rayap dan belum sempat dibetulkan. Ia jadi khawatir.
Tidak, bukan karena si pelaut tua bau itu yang ia khawatirkan, melainkan sang adik yang belum kembali dari misinya saat ini. Menurut perkiraannya, seharusnya sang adik sudah kembali sekitar satu jam yang lalu? Apakah Zank lawan yang berat hingga Naruto belum kembali saat ini? atau mungkin si tukang tebar pesona itu tengah menipu adiknya? Kalau sampai benar begitu, akan ia penggal si Tesla dengan pedangnya.
KRIEK
Terdengar suara pintu depan terbuka. Kurama berbalik, melihat siapa gerangan yang masuk ke dalam kediamannya. Dibalik sekat antara ruang keluarga dan lorong pintu masuk, seorang pria bertudung hitam tengah berjalan dengan tenangnya. Mata birunya menyala terang dibalik bayang-bayang hitam tudungnya yang terlihat sobekan di sudut tudung itu.
Kurama menekuk alisnya. "Lama sekali, dari mana saja kau?"
Pria yang bernama Naruto itu melepas tudungnya, melewati Kurama dan duduk pada kursi yang baru saja di duduki Kurama. Ia mendesah, "Ada tikus yang menghalangiku. Lumayan tapi terlalu mudah untuk dilucuti."
"Jika mudah, seharusnya kau sudah pulang dari tadi. Katakan dengan jujur."
"Kau pikir aku berbohong, nee-chan?" kata Naruto sembari mengambil gelas berisikan coklat panas yang berada sebelahnya. "Zank bukan apa-apa sejujurnya, dia cuman maniak arogan yang terlalu percaya diri akan kekuatannya." Kurama menaikan sebelah alisnya ketika Naruto mengecap coklat panas itu ke dalam mulutnya. "Yang aku anggap tikus adalah ada dua orang yang mengincar spectator sama seperti kita, yah walau mereka bukan tandinganku sih."
"Lalu, dimana barangnya?" tanya Kurama. Naruto meraih kantung jubahnya dan menarik sesuatu dari dalam sana. Sebuah benda berbentuk bola emas kecil dengan tali pengikat di sisi kanan dan kiri bola itu. Naruto melempar benda itu pada kakaknya yang sigap menangkapnya. "Dan, seperti apa 'tikus' pengganggu yang kamu maksud?"
"Seorang bocah laki-laki tak berpengalaman dan seorang gadis pembawa katana berbahaya." jelas Naruto yang kembali menghirup coklat panasnya.
Kurama menyentuhkan tangan kanannya pada dagunya, hendak berpikir akan ciri-ciri yang Naruto maksud. "Hm…Katana berbahaya? Seperti apa itu?" tanya wanita itu menyipitkan mata.
"Katanya sih itu Teigu yang sekali kau tersayat, maka kau tamat."
"Tamat ya…" sebuah senyuman terukir pada bibir merah mudanya. Ia menganggukan kepala, seperti tahu apa yang terjadi. "Biar aku tebak, gadis itu berambut hitam dan bermata merah?"
Naruto menangkat alisnya, melirik sang kakak dengan pandangan penasaran. "Darimana kau tahu, nee-chan?"
Kurama mendesah, "Yah, jika kau suka mondar-mandir di jalanan ibu kota atau kota-kota besar, pasti kau akan menemukan foto DPO-nya di dinding jalanan." Ia berjalan ke depan Naruto, menunduk dan mengambil gelas putih yang dari tadi dipegang Naruto. "Sepertinya, kamu sudah bertemu dengan anak buah dari Najenda de Arc, Naruto."
Alis Naruto tertekuk begitu mendengar nama itu. "Najenda de Arc? Apakah dia punya hubungan saudara dengan Jeanne?"
"Begitulah, Najenda adalah kakak dari Jeanne," kata Kurama yang ikut menyeruput coklat panas buatannya yang hampir habis diminum Naruto, "temanmu itu memang tidak suka menceritakan soal keluarganya terutama soal Najenda sendiri."
"Begitu.." Naruto menyenderkan tubuhnya, menatap kosong pada api yang menari-nari di dalam perapian, "Lalu darimana kau tahu tentang Najenda, onee-chan..? maksudku, dari nada bicaramu sepertinya kau sangat mengenalnya."
Kurama terdiam, ia menghela nafas lalu berjalan ke depan jendela di sebelah kanan perapian dan memandang keluar menuju lautan yang gelap. "Ia mantan rekanku." kata Kurama pelan. Sontak mata Naruto terbuka lebar.
"Mantan? dia seorang Assassins?"
"Ex-Assassins lebih tepatnya." jelas Kurama sambil membalikan badannya menatap Naruto. "Najenda menghianati kita setelah intervensi Ordo Mason pada Ordo kita. Aku tidak tahu apa motifnya namun ia bergabung dengan pasukan Great Empire dan memburu orang-orang dari Ordo kita dan Ordo Templar."
"Jadi, dua bocah yang menyerangku tadi adalah orang-orang dari Great Empire?"
Kurama menggeleng, "Kabar terakhir yang aku dengar, Najenda menghianati kekaisaran dan membelot pada pasukan Revolusi. Lalu setahun belakangan ini ia membuat Night Raid, semacam kelompok pengguna Teigu untuk membunuh para politisi korup atau oknum-oknum yang bermain dibalik pemerintahan yang rusak ini."
"Kedengarannya ia sedang membuat kelompok Assassins tidak resmi." ujar Naruto. "Apakah itu berarti ia kembali pada Ordo kita?"
"Tidak." jawab Kurama mantab. "Aku tidak tahu apa yang orang itu pikirkan, tapi Najenda telah melanggar tiga larangan utama Organisasi kita. Ia Mengekspos keberadaan organisasi kita, membunuh orang tidak bersalah ketika bekerja dengan Great Empire dan mengkhianati organisasi dengan membunuh saudara-saudara kita. Jika kau bertemu dengannya, kau harus membunuhnya..Naruto…"
Naruto termangu, memikirkan informasi yang baru saja ia dengar dari sang kakak. Najenda de Arc.. Kakak perempuan dari Jeanne de Arc, seorang Ex-Assassins yang membuat kelompok Assassins illegal bernama Night Raid, dan ia baru saja bertemu—menghajar lebih tepatnya—anak buah Najenda yaitu Akame dan Tatsumi. Ngomong-ngomong soal anak buah…
"Bagaimana dengan Night Raid? Apakah mereka tahu masalah ini? Maksudku, Apabila aku bertemu salah satu dari mereka dan mereka tidak tahu masalah ini, haruskah aku membunuhnya juga?"
"Itu aku serahkan padamu, Naruto." Kurama melangkah, menaruh gelasnya pada meja dan berdiri tepat di depan Naruto. Mengangkat tangan kanannya dan menaruhnya sembari mengusap lembut rambut pirang sang adik, "Kau seorang Assassins sekarang, kau harus berani membuat keputusan dan menerima konsekuensi setiap keputusanmu. Belajarlah bila kau melakukan kesalahan dan jangan besar kepala bila kau mendapat kebenaran. Ingatlah kredo kita, Tidak ada yang benar, dan semua diizinkan."
"Kau mengatakan hal itu berulang kali dan aku tetap tidak memahami arti dari kredo itu," Naruto memegang tangan halus sang Kakak yang masih berada di atas kepalanya, "Bila tidak ada yang benar, berarti tidak ada kebenaran dalam kehidupan ini? dan bila semua dizinkan, bukankah itu berarti segala aturan hanyalah omong kosong?"
Mata merah bagai ruby sang kakak menatap lembut mata biru safir milik si adik. Sebuah senyuman terbentuk pada bibir merah mudanya. "Hanya waktu yang akan menjawabnya, kau hanya perlu mengikutinya." Mengacak-ngacak rambut si pirang, Kurama menarik tangannya. Berjalan meninggalkan Naruto yang masih termangu memandang perapian.
(_*_*_*_*_)
Setelah badai kencang yang bekecambuk semalaman suntuk, sang mentari akhirnya bangun mengusir selimut kelabu yang membawa tangisan istri dewa laut yang sedang mengamuk. Burung-burung bernyanyi riang menikmati hangatnya hari setelah melalui malam yang dingin. Mungkin ini adalah hari dimana seluruh makhluk dapat bergembira bersama sang alam. Sayangnya hal ini tidak berlaku bagi seorang Hayate Hashiburi. Gara-gara ia nekat tinggal di dalam gubuk reotnya ketimbang di dalam Griffon, penyakit flu pun datang menyerang.
Sialnya, ia tidak punya persediaan obat sama sekali. Bukannya dia lupa, tapi ia sudah setahun lebih tidak kembali ke kota. Hal itu diperkarai setelah Griffon luluh lantahkan karena ia dianggap sebagai bajak laut yang mengganggu perairan Great Empire. Walau ia sudah bersumpah kapalnya hanya kapal penjelajah tapi para Angkatan Laut sialan itu tidak mau percaya dan menjarah seluruh isi kapalnya beserta segala barang temuan dari hasil penjelajahannya. Mereka mengikat Hayate beserta para awak di tiang kapal dan para angkatan laut menembak kapalnya hancur begitu saja bersama mereka yang masih terikat pada tiang kapal.
Entah bagaimana, Hayate bersama sisa krunya terdampar pada semenanjung Road River. Yang ia ingat saat itu dia tenggelam dan begitu sadar ia sudah berada di atas pasir pantai bersama sisa rekan-rekannya yang berjumlah tujuh orang. Sejak saat itu, ia bersama krunya tidak lagi ingin berhubungan dengan Great Empire. Memilih mengasingkan diri di tempat yang belum terjamah Manusia dan mengadu nasib bersama sang alam hingga ajal menjemput mereka. Hingga suatu saat si bocah brengsek dan kakaknya yang cantik itu datang kedalam kehidupan mereka dan membangkitkan jalan hidup mereka seperti dulu lagi. Menjadi seorang pelaut yang menjelajah tujuh lautan dengan gagah berani.
Ngomong-ngomong soal bocah brengsek, sepertinya bocah itu punya persediaan obat di rumahnya. Lebih baik ia memintanya, sekalian cari perhatian pada sang kakak, hehehe. Kalau kata pelaut jaman dulu sih, sekali dayung satu, dua pulau terlampaui.
Dengan semangat membara, sang pelaut berjalan menaiki jalan setapak yang sudah dipersiapkan bila sang pemilik rumah ingin pergi ke pantai. Dengan nafas tersengal-sengal, akhirnya pria tua itu sampai pada rumah yang kelewat besar untuk orang sepertinya. Heran, kok bocah itu bisa membangun rumah sebenar ini sendirian? Darimana ia mendapat uang sebanyak ini hingga bisa membeli bahan bangunan? Lalu bagaimana ia membawa bahan bangunan itu kemari? Anehnya, ngapain juga ia pikirin? Bukannya dia kesini ingin meminta obat? Kok pikirannya mulai gak nyambung ya?
Menggelengkan kepala, ia mulai memfokuskan niatnya. Berjalan mengitari rumah itu dan berhenti tepat di pintu depan yang terbuat dari kayu pohon jati. Menarik nafas dalam-dalam, tangannya mulai mengetuk. Tiga kali ketukan, tidak ada jawaban. Tiga kali ketukan lagi, masih tidak ada gelagat akan dibukakan. Tiga kali ketukan lagi, pintu mulai terbuka secara perlahan.
Hayate terdiam sejenak. Otaknya mencoba memproses apa yang dilihat oleh indra penglihatannya. Mengedip, kelopak matanya mendadak melotot disertai dengan mulut yang terbuka lebar. Tepat di depannya, sesosok wanita berambut merah layaknya bidadari tengah berdiri sembari mengucek matanya yang seindah senja. Kulitnya yang putih terekspos begitu saja dibalik gaun malam yang tampang transparan. Kedua buah dadanya yang dilindungi oleh bra berwarna putih tampak maju menantang disertai celana G-string yang menambah keindahan bagian bawah tubuh sang bidadari.
Perlahan namun pasti, jantungnya memompa darah bersih lebih keras dari biasanya ke otaknya yang mulai konslet karena menerima sesosok bidadari yang muncul dipagi hari. Wajahnya yang dari awal merah karena demam, kini bertambah merah dengan darah keluar dari hidungnya yang mancung. Tanpa sadar, kakinya berjalan mundur tanpa menyadari ada undakan kecil di belakangnya hingga sang pelaut tua itu terpelanting kebelakang dengan kepala mendarat terlebih dahulu.
Sejenak pandangannya menjadi putih, lalu perlahan-lahan sebuah objek mulai terlihat dari indera penglihatannya. Sesosok manusia dengan sabit raksasa yang ia pikul dibahunya. Hayate pun tersenyum. Tangannya terentang ke arah manusia itu dengan air mata mengalir dari sudut matanya.
"Wahai dewa kematian!" teriaknya pada sosok itu, "Cabutlah nyawaku dengan sabitmu dan bawa aku ke surga bersama sang bidadari pagi yang para dewa kirim padaku! CABUTLAH NYAWAKU! AKU RELAAA!"
Dan Hayate pun pergi.. beristirahat dengan tenang dalam tidur panjangnya yang sementara.
Sosok pembawa sabit itu mengedipkan matanya. Melihat sosok Hayate yang tersenyum dengan tenang lalu beralih pada sabit yang sudah berubah menjadi sebuah kapak pemotong kayu yang sedang ia pikul di bahunya.
"Hayate-san kenapa Naruto?" tanya Kurama yang menyenderkan tubuhnya pada pinggiran pintu sambil melipat tangannya di dada.
Naruto menggeleng, "Entahlah, wajahnya tampak merah, sepertinya ia dem—" Naruto menghentikan kata-katanya begitu melihat sang kakak. Tanpa perlu berpikir panjang, Naruto langsung tahu penyebab utama si wakil kaptennya bisa pingsan disini. Pemuda pirang itu menghela nafas. "Nee-chan.. SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG JANGAN PAKAI PAKAIAN MACAM ITU KALAU KETEMU ORANG!"
"DAN AKU JUGA SUDAH BILANG PADAMU PAKAI PIAMA BIASA KALAU MAU TIDUR! JANGAN PAKAI PAKAIAN MEMALUKAN SEPERTI ITU!" teriak Naruto frustasi, "Astaga lihatkan apa yang terjadi kalau cara berpakaianmu seperti itu!?"
"Cih, suka-suka aku dong mau pakai baju apa! Tubuhku asetku, apapun yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu!" Naruto hanya menganga. Ia mulai mengacak-ngacak rambutnya karena pusing menghadapi sang kakak yang suka seenaknya sendiri.
"Oh..dewa...ini…sung..huh..ni…m..aaht…" mendengar kalimat-kalimat aneh itu, mata biru laut ataupun langit senja beralih pada sosok pria tua yang masih tertidur ditanah dengan mantel coklatnya yang tampak kotor. Matanya tertutup, tapi mulutnya terbuka dan tertutup layaknya ikan koi yang mencari udara di dalam air. Dasar tua bangka mesum, sepertinya ia sedang memimpikan suatu yang tidak-tidak.
"Jadi..kau mau membawa dia masuk atau bagaimana?" tanya Kurama, menaikan sebelah alisnya.
"Aku bukan orang idiot yang membawa masuk orang yang akan menyelakai kakakku," Naruto mulai mengangkat tubuh Hayate, mengalungkan lengannya orang tua itu pada bahunya lalu mengangkatnya hingga tubuh itu berada di balik punggugnya. Naruto mendesah, "yah, walau aku tahu sih, kau itu tidak bisa dilukai."
Kurama tertawa renyah, "Sister Complex."
"Dih, ogah banget." balas Naruto yang membawa Hayate menuju gudang jerami, meninggalkan sang kakak yang masih tertawa di belakangnya. Begitu sampai, ia menaruh sang pelaut tua pada tumpukan jerami dengan posisi terlentang. Keluar sebentar, Naruto kembali membawa sebuah handuk kecil yang sudah basah dan melemparnya pada muka Hayate. Tidak lupa ia melempar parasetamol ke dekat tubuh Hayate yang masih pingsan.
"Pria tua menyusahkan." hardik Naruto dengan tampang kesal. Ia mulai berjalan kembali, menuju pintu rumahnya. Membuka pintu jati yang tertutup, ia berhenti begitu ia mendengar suara dari belakang tubuhnya.
"Selamat pagi, Naruto-san." ucap seseorang yang tengah berdiri di depan beranda rumah. Naruto berbalik, menemukan tiga orang pengguna Hoodie Robe yang berdiri sembari menatapnya dengan tudung yang menutupi wajah mereka.
Naruto mengernyit, "Sora, Shizuka?" Naruto membuat senyuman pada wajahnya, menatap mereka bertiga dengan senang, "Akhirnya kalian memutuskan untuk menikah ya? Ok-ok kapan acaranya dan dimana? Perlu aku panggilkan penghulu? Ah, atau orang yang di tengah adalah saksi atas cinta abadi kalian? Hm.. oke, ayo kita raya—"
"JANGAN MAIN-MAIN KAU UZUMAKI SIALAN!" hardik seorang di antara mereka yang telah menarik tudungnya kebelakang, memperlihatkan rambut panjang yang di ekor kuda dengan mata bagai batu emerald yang menatap Naruto penuh amarah. "KAU MENIPUKU! DAN AKU INGIN MELURUSKAN SEMUANYA!"
"Menipu? Apanya yang menipu?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh Naruto-san." kali ini, sosok yang paling kanan dari arah Naruto membuka tudungnya, memperlihatkan pria berambut bob tail keabu-abuan yang juga menatap marah dirinya. "Kau menyuruh Nadeshiko-san bertarung denganku agar kau terhidar dari tanggung jawabmu!"
"Err.. itu.."
"AKU TIDAK INGIN MAIN-MAIN LAGI!" Shizuka melepaskan Hoodie Robe-nya, menyiapkan kuda-kuda untuk bertarung. "LAWAN AKU SEKARANG NARUTO! DAN, PENUHI TAKDIRMU!" dengan sekali hentakan kaki, gadis itu melompat, mengarahkan tinjunya pada wajah Naruto yang kaget bukan main.
"Woah-woah STOOP!" teriak Naruto panik, namun terlambat untuk menghentikan pukulan yang telah bersarang pada wajahnya hingga pria pirang itu terpental masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"UGAH!"jerit si pirang yang yang menabrak anak tangga yang menuju lantai dua. "Adududuh." Belum sempat ia mengumpat, kaki Shizuka sudah mengarah kepadanya. Sontak Naruto berguling ke kanan menghindari tendangan yang nyaris mengenai dirinya.
BUUM!
Seketika, tangga kayu yang beberapa detik yang lalu masih utuh, hancur begitu saja menerima sepakan Shizuka. Terbalak, Naruto segera berlari menuju pintu depan yang sayangnya Sora sudah berdiri tepat di depannya. Naruto berteriak, "Minggir Sora!"
Tanggapan dari Pria berambut pendek itu hanyalah senyum simpul. Tangannya kanannya mengacung ke depan, membentuk aliran cakra berwarna merah menjadi dinding penghalang antar dirinya dan Naruto. Walau dihalangi, pemuda pirang itu tidak kehabisan akal. Sebelum ia mencapai Sora, ia berbelok ke kiri menuju ruang keluarga dan melompat memecahkan kaca rumah.
"Kau tidak akan lolos, Uzumaki!" Shizuka segera berlari melewati Sora yang hanya menemukan Naruto sedang memanjat pohon dengan kedua kakinya. Mengetahui kalau Naruto berencana melarikan diri, Shizuka segera membuat segel tangan yang membuat kedua tangan dan kakinya mengeluarkan cahaya kebiruan. Gadis bersurai hitam itu melompat dengan kecepatan tinggi akibat cahaya biru dikakinya meledak begitu ia memulai lompatan.
"Nadeshiko Ryu: Tatsumaki no Ken!"
BRAK!
Patah, pohon Elm tempat Naruto berpijak patah begitu saja ketika tinjuan gadis bermata emerald bersarang pada batang pohon itu. Menyadari dirinya dalam bahaya, Naruto segera melompat dan berguling ditanah. Naruto berbalik, hanya untuk menemukan Shizuka melancarkan tinjuannya kembali.
"Kau tidak bisa lari lagi Uzumaki! KIRAIGAA!"
Naruto berdecih. Mencoba berlari pasti kena dan mencoba bertahan juga percuma saja, kekuatan Shizuka terlalu besar untuk ditahan. Kalau begitu terpaksa ia harus lawan. Menjulurkan tangannya ke bawah. Aliran Chakra kebiruan mulai keluar dari telapak tangannya. Dengan cepat, aliran Chakra yang berbentuk gumpalan menjadi meruncing layaknya pisau yang siap membelah apapun dihadapannya. Pemuda itu melompat, menghunuskan jurusnya pada gadis yang tersenyum senang akan perlawanan Naruto.
"RASAKAN INI UZUMAKI!"
"UOOH!"
BLAAR!
Ledakan pun terjadi. Membuat mereka berdua terpental ke belakang. Sebelum mencapai tanah, keduanya berputar, menapakan kakinya terlebih dahulu ketimbang kepala mereka. Kedua pasang mata itu memandang lurus ke arah ledakan yang memisahkan mereka. Disana, sebuah dinding api tercipta. Menjilat-jilat udara kosong dan membakar setiap daun yang melintas.
Mendadak, rasa perih menjalar pada tangan kanannya. Disana, luka bakar merambat sepanjang punggung lengan bawahnya. Tapi, ada yang aneh. tangannya serasa lemas walau itu hanya luka bakar biasa. Jangan-jangan, ini..
Mata biru langit miliknya buru-buru melihat kembali dinding api yang memisahkan dirinya dan Shizuka. Mengamati sejenak api yang berwarna kuning keemasan itu, ia tahu jenis api macam apa yang berada di depannya kini.
Shakuton—Scorch Release. Gabungan elemen angin dan api. Kemampuan yang bisa menghanguskan apapun yang mendekati api itu dan menguapkan cairan apapun bahkan cairan darah sekalipun. Hal itu terbukti dengan tangan kanannya yang terasa lemas setelah terkena api itu yang berarti sebagian darah ditangannya tengah menguap, dan ia tahu siapa yang harus disalahkan.
Naruto menengokan kepalanya ke kiri. Melihat sosok Kurama yang mengenakan Summer Dress putih dan berdiri tepat di depan pintu masuk dengan tangan terlipat di dadanya. Matanya berkilat tajam walau ekspresinya cenderung datar. Naruto mengumpat, ia tahu akan mendapat masalah baru setelah ini.
Kurama mulai membuka mulut. "Bisa kita bicarakan di dalam rumah saja?"
"Tidak!" jawab Shizuka lantang, "Aku harus segera menyelesaikan masalah ini seka—" Shizuka tidak lagi melanjutkan kata-katanya karena Api yang berada di depannya mendadak membesar menghantarkan hawa panas yang bahkan Sora bisa rasakan walau dirinya berada dibelakang Kurama saat ini.
"Bisa kita bicarakan di dalam rumah saja?" Kurama mengulangi perkataannya. Kali ini ia mengeluarkan senyuman. Bukan senyuman lembut yang terkadang Naruto bisa lihat, namun sebuah senyum sinis penuh ancaman yang membuat siapapun yang melihat akan menelan ludah. "Mari." dengan begitu, ia berbalik. Tanpa melirik Sora sama sekali dan berjalan menuju ruang tamu yang berada di kiri setelah pintu masuk.
Naruto menghela nafasnya. Menggerakan kepalanya menyuruh Shizuka untuk masuk begitu api pemisah di antara mereka telah menghilang. Walau kesal, Shizuka tidak bisa berbuat banyak. Wanita berambut merah itu terlalu berbahaya. Cukup melihat matanya dan jurus yang ia keluarkan barusan sudah cukup membuktikan kalau wanita itu berada di level yang berbeda dengan dirinya.
Sembari berjalan, Naruto menatap sosok bertudung yang sedari tadi diam tanpa bergerak dari tempatnya. Naruto menggerakan kepalanya lagi menyuruh orang itu untuk ikut masuk. Menunduk, ia pun berjalan di depan Naruto.
Begitu sampai di dalam, Kurama telah duduk menunggu mereka di salah satu kursi dengan kaki dan tangan bersilang. Ia mempersilakan keempat orang itu untuk duduk pada kursi panjang yang sudah disediakan.
"Jadi, bisa aku tahu akar permasalahan kalian?" tanya Kurama dengan satu alis terangkat.
Naruto membuka mulutnya terlebih dahulu, namun dipotong oleh Shizuka yang keburu berbicara. "Orang ini telah menipuku!"
"Menipu? Apa maksudmu!"
"Naruto harus bertarung denganku untuk memenuhi perjanjian antara Jiraiya-sama dan guruku." kata Shizuka menjelaskan, "Bila ia menang melawanku, maka ia harus menikahiku karena itu adalah aturan dari clanku yang menyuruh siapapun pria yang bisa mengalahkan gadis di clanku harus menikahi gadis tersebut!" mata Kurama mendadak melebar dan Naruto menghela nafasnya. Tiba-tiba Shizuka menunjuk Naruto yang duduk di seberangnya bersama orang bertudung tadi. "Tapi orang ini malah menyuruhku bertarung melawan Sora terlebih dahulu dan setelah itu ia kabur dari tanggung jawab!"
"Stop!" kata Naruto sembari mengangkat tangannya. "Tadi kau bilang siapun pria yang mengalahkanmu wajib menikahimu kan?" Shizuka mengangguk sebagai jawaban. "Nah, pertanyaanku apakah Sora mengalahkanmu waktu kau bertarung dengannya?"
"Ia mengalahkanku, tapi—"
"Nah, berarti Sora lah yang menjadi calon suamimu, bukan aku! Dan masalah ini selesai!"
"Tidak bisa begitu Naruto-san!" Sora menggebrak meja yang menjadi pemisah di antara mereka. "Kau hanya bilang ia harus bertarung melawanku sebelum ia bertarung melawanmu! Dan begitu pertarungan selesai kau meninggalkan kami berdua dengan meninggalkan surat ini!"
Sora menaruh secarik kertas di atas meja tersebut yang langsung di ambil oleh Kurama. Wanita itu membukanya untuk melihat apa isi dari surat itu
Kepada Sora dan Shizuka
Dengan ini aku ucapkan semoga kalian dapat berbahagia selamanya, mempunyai anak yang banyak dan cantik-cantik.
Salam Naruto
PS: Undang aku ya pas resepsi pernikahan kalian. :3
Kurama menyipitkan mata, lalu matanya yang bagai ruby berpindah dari surat menuju sosok sang adik yang tengah memalingkan mukanya sembari bersiul-siul tidak jelas. Wanita bersurai merah itu menghebuskan nafasnya berat. Mau di lihat darimana pun, jelas Naruto melakukan penipuan dengan mengorbankan pria bernama Sora ini. Yah, walau ia mengerti adiknya tidak mau nikah muda, akan tetapi menumbalkan orang lain termasuk perbuatan yang tecela. Wah, berat deh kalau begini.
"Ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa ke sini?" tanya Naruto penasaran. "Bukannya mustahil datang kemari melewati lautan karena ketegangan antara aliansi Shinobi dan Great Empire?"
"Kami melewati gerbang Masyaf agar dapat datang kemari." jawab orang bertudung itu. Seketika seluruh perhatian langsung mengarah padanya.
"Maaf, tapi bukankah yang mengetahui itu hanya—"
"Sekarang kami adalah Assassins," kata Sora yang menunjukan pelindung tangan kiri berlambang segitiga perak dengan kedua sisi bawah yang melengkung, begitu juga dengan Shizuka yang menunjukan pelindung tangannya yang berwarna hitam. "walau level kami masih rendah, tapi dengan menjadi salah satu anggota organisasi kami bisa mengetahui keberadaanmu." tambahnya. Naruto mengangguk. Ia tidak menyangka sampai segininya mereka niat mencari dirinya.
"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Naruto pada sosok bertudung itu. Orang itu menunduk lalu berdiri. Bergerak menyamping untuk menghadapkan wajahnya pada Naruto.
Tangan orang itu bergerak, menggapai tepian tudungnya dan menariknya kebelakang. Memperlihatkan sosok remaja laki-laki berusia tujuhbelas tahun dengan rambut hitam yang mencuat ke atas serta matanya yang bagai batu onyx.
"Ko-konohamaru!?" tanya Naruto kaget bukan main, "Kenapa kau kemari!? Seharusnya kau berada di Negara api, bukan di sini!"
Konohamaru mengibaskan mantelnya, raut kesal telihat pada wajahnya. "Jangan remehkan aku Onii-chan! Aku kemari karena ingin membantu Negara kita melawan Great Empire!"
"Tapi, bukan di sini tempatnya. Tempat ini terlalu berbahaya un—"
"Kalian semua sama saja!" teriaknya sembari menendang meja kayu itu. "Meremehkanku karena aku adalah cucu Hokage ketiga! Aku tidak mau diperlakukan seperti itu!"
"Kami bukannya meremehkanmu." ucap Naruto dengan tenang. "Tapi memang kau adalah orang penting, tidak mungkin kam—"
"Persetan dengan orang penting! Aku hanya ingin membalas perbuatan mereka yang telah menghancurkan desa kita dengan tindakan nyata, titik!"
Mendengar alasan Konohamaru, Naruto mendesah. "Jadi, kau datang kemari hanya untuk balas dendam?"
"Kalau iya, memang kenapa!?" kata Konohamaru dengan nada menantang.
"Konohamaru-kun," panggil Kurama, "kau tahu kalau kita berada di garis belakang musuh? Tidak ada yang aman di sini. Setiap langkah yang kita lalui di sini seperti melangkah di padang yang penuh ranjau. Jika salah melangkah maka nyawamu yang menjadi taruhannya."
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, dan siap menerima segala resikonya. Karena itu," Mendadak Konohamaru berlutut ke arah Kurama, "aku mohon, jadikan aku muridmu dan latihlah aku sebagai Assassins juga!"
Semua yang ada di ruangan itu hanya terpana pada sosok Konohamaru yang merendahkan dirinya sembari memohon sedemikian rupa. Naruto sebenarnya tidak tega pada Konohamaru, tapi untuk keselamatan orang yang dia anggap sebagai adik itu, terpaksa ia.. "Maaf Konohamaru, tapi ka—"
"Baiklah, begini saja." Kurama segera berdiri, memandang Konohamaru yang masih berlutut tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun. "Apa kau pernah membunuh seseorang?"
Konohamaru terdiam sejenak, lalu membuat anggukan kecil. Kurama tersenyum, "Kalau begitu, angkat kepalamu Konohamaru." perintah Kurama sembari merentangkan satu tangannya. "Aku ingin kau membantu Naruto dalam misinya membunuh seorang konglomerat yang akan mendatangi sebuah pesta. Apa kau sanggup?"
"Tunggu dulu nee-chan!" Naruto segera berdiri menghadap Kurama, "Jangan gila! Konohamaru tidak harus terlibat dalam urusan i—"
"DIAM NARUTO!" teriak Kurama yang membuat Naruto diam seketika. "Aku yang berhak mengatur di sini, bukan kau! Ingat itu baik-baik!"
Kesal dengan perlakuan kakaknya, Naruto berbalik meninggalkan ruangan dan keluar dari rumah itu dengan membanting pintu. Kurama hanya mengangkat bahunya lalu kembali pada Konohamaru. "Jadi, apa kau sanggup?"
Konohamaru mengangguk sebagai jawaban. "Bagus. Nah," Kurama beralih dari Konohamaru kepada kedua orang yang masih duduk dalam keadaan diam di kanannya. "Aku harap masalah ini bisa kita selesaikan dilain waktu. Namun, maukah kalian ikut ambil bagian dalam misi ini?"
Dengan serentak keduanya mengangguk dan Kurama yakin keamanan Konohamaru ataupun keberhasilan misi ini telah terjamin.
(_*_*_*_*_)
Kegelapan. Mungkin banyak orang yang benci akan kata itu. Kata yang merepresentasikan hilangnya cahaya dari hadapan mata, sebuah lingkungan gelap yang membuat setiap orang takut karenanya. Membuat mereka buta akan arah dan tidak tahu mau kemana.
Sial! Brengsek!Keparat!
Sebelum ini mungkin Eliot adalah sosok paling berani menghadapi kegelapan. Ia merasa hal itu bukanlah suatu halangan dan justru harus dijadikan kawan. Kegelapan adalah teman yang menemaninya menjadi orang sukses seperti sekarang. Banyak harta, menjadi orang terhormat dan dikelilingi banyak wanita. Ya, karena kegelapanlah yang menemaninya selama ini…kegelapan hati.
Tapi, ia harus berpikir dua kali kini. Walaupun kegelapan itu tetap menemaninya saat ini, tetapi sang kegelapan tidaklah dapat berbuat banyak kali ini. Ia hanya menemani pria pirang yang lari dari ketakutannya sendiri.
Sial!Sial!SIAL!
Eliot masih ingat beberapa menit yang lalu ia masih tertawa di dalam kereta kudanya bersama tiga gadis muda yang mengelilingi dirinya. Bersenang-senang layaknya orang dewasa ditemani dengan minuman keras yang membuat rasa gembira di dalam dirinya semakin meledak-ledak. Tawa, desahan dan teriakan menemaninya dikala ia tengah kembali dari pesta antar pengusaha dan pejabat Negara, membuat ia tidak sadar bahwa kegelapan tengah mengincar dirinya.
Kejadian itu berlangsung cepat. Tawa dan teriakan gembira, terkalahkan dengan teriakan memilukan yang terdengar dari luar sana. Eliot terpaku melihat keempat penjaganya tewas begitu saja dengan kepala terpisah dari tubuhnya diluar sana. Meninggalkan dirinya beserta ketiga gadis muda itu dan seorang supir kuda didepan.
Detik berikutnya, keretanya sudah terjungkir, melempar Eliot keluar dari dalam keretanya meninggalkan ketiga gadis itu yang masih terjebak disana. Rasa kesal berubah menjadi rasa takut begitu ia menemukan keempat sosok bertudung tengah menatapnya di balik topeng mereka.
Terror mendadak menyerang kalbunya. Ia tahu ia dalam bahaya, tapi bagaimana dengan ketiga mainannya? Ah persetan. Ia harus menyelamatkan dirinya dan berlari sejauh mungkin dari malaikat maut yang akan mengambil nyawanya kini.
Dan di sinilah ia sekarang. Berlari di antara gang-gang rumah yang gelap dan sunyi. Tanpa seorangpun yang menemani dirinya. Hanya kegelapan dan terror yang berada disampingnya kini.
TAP!
Suara langkah terdengar di belakangnya. Bedebah, mereka masih mengejarnya rupanya. Orang-orang sialan pantang menyerah. Sebenarnya mau apa mereka? apa yang salah akan dirinya. Kenapa? Apa? Ia terlalu bingung untuk—"Jalan keluar!"
Pria pirang itu berhasil menemukan celah menuju jalanan utama. Namun ia harus menutup kemungkinan itu ketika satu orang bertudung tengah memblokade jalannya. Terpaksa ia harus berbelok ke kanan dan menemukan jalan buntu disana. Habislah sudah.
TAP!
Suara langkah terdengar dari balik tubuhnya. Ia menengok hanya untuk menemukan sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga ia terpental menabrak tembok.
"Eliot Fan Forbes." ucap salah satu orang bertudung yang mengenakan topeng rubah putih yang menyeringai. "Salah satu pengusaha—mafia di kota Gestirn. Memonopoli pertambangan yang menjadi mata pencaharian warga lokal di sana dan membunuh siapapun yang mencoba melawanmu."
Eliot meludah, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan, dan aku hanya menjadi pengusaha, apa itu sal—"
"Itu menjadi masalah kau bajingan." kata si topeng rubah dengan mengangkat dan mencekik Eliot, "Aku dengar kau tidak memberi seperserpun uang pada warga disana dan membiarkan mereka mati kelaparan karena tempat mereka mencari penghasilan telah kau curi."
"Aku..mohon, a-aku..hanya..se…seorang …peng.." Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya begitu tubuhnya terlempar dan menghantam tembok yang ada di sampingnya. Ia tersengal. "Aku mohon, akan aku berikan apa saja padamu. Tapi tolong jangan bunuh aku!"
Si topeng rubah berjalan mendekat, berlutut dan mendekatkan wajahnya pada wajah Eliot. "Benarkah kau akan memberikanku apa saja?" Eliot mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu aku meminta nyawamu."
Mata coklat Eliot terbalak namun ia tidak bisa bereaksi begitu orang bertopeng rubah itu mencengram kerah bajunya dan membanting dirinya ke tanah. Ia bisa merasakan kaki orang itu menginjak lehernya, membuat ia sulit bernafas bahkan menelan ludah pun sulit.
"Konohamaru." Panggil pria bertopeng itu sembari menunjuk orang yang mengenakan topeng monyet putih. "Kemari." Sang monyet putih pun berjalan mendekat hanya untuk mendapatkan sebuah Kunai yang diberikan oleh rubah putih. "Ini tugasmu sekarang, terserah dengan cara apa tau bagian yang mana. Lakukan dengan cepat."
Sejenak, sang monyet putih itu melihat benda hitam itu pada tangan sang rubah. Mengambil dan menatap sejenak si pemberi. Mata hitamnya yang penuh keraguan itu tertangkap oleh mata biru sang rubah. Namun gerakan kepala itu telah mengisyaratkan sang monyet untuk melakukan tugasnya segera. Pasrah, sang monyet menunduk. Menatap Eliot dengan Kunai yang terangkat dengan bilah yang mengacu pada dada pria pirang itu.
Tangannya bergetar, dan keringat menetes dari balik topengnya. Jelas ada rasa takut pada hatinya yang masih bersih akan dosa. Tapi inilah yang harus ia hadapi, mencabut nyawa seseorang yang memang bersalah. Tanpa memberinya kesempatan untuk berubah, dan bertindak layaknya algojo dengan senjata yang terasah.
"KONOHAMARU!"
"UOOH!"
TRANK!
"Aku tidak bisa." ucap sang monyet menjatuhkan Kunainya. "Aku..aku.."
Eliot yang melihat kesempatan ini segera mengambil Kunai itu dan menancapkannya pada kaki sang rubah. Si rubah terjatuh dan Eliot segera menempatkan dirinya di atas. Mengangkat tinggi-tinggi benda hitam itu hingga pantulan sinar bulan menerangi senjata yang tadi nyaris mencabut nyawanya.
"HAHA! MATI KAU SIA—" teriakannya terhenti dan cairan merah menetes bagai air mancur dengan derasnya dari leher Eliot. Kepalanya yang pirang jatuh menggelinding ke tanah, meninggalkan tubuhnya yang terduduk kaku dengan tangan masih memegang Kunai.
"Kerja bagus, Nadeshiko." kata sang Rubah mendorong tubuh tanpa kepala yang sedari tadi ada di atasnya.
Tepat di depannya kini, sesosok orang bertopeng kucing tengah menarik sebuah benang hitam di antara jari-jarinya. Terlihat bercak darah menempel di sana. Di sampingnya, orang dengan topeng serigala putih segera maju mendekat pada sang rubah. Mencabut Kunai hitam dari kakinya dan mengalirkan chakra merah dari tangan kanannya yang dililit oleh perban putih.
Perlahan, luka tusukan itu mulai tertutup. Meninggalkan bercak merah membentuk garis disana.
Merasa rasa sakit telah pergi dari kakinya, si rubah berdiri. Memberikan kode berupa gerakan kepala untuk pergi dari tempat itu. Mereka mengangguk kecuali sang monyet putih. Walau begitu mereka tetap menghilang dari sana tanpa meninggalkan jejak apapun.
Sampai disalah satu atap yang datar. Mereka semua berhenti. Sang rubah membuka topengnya, memperlihatkan pemuda bermata biru langit dengan tanda lahir berupa tiga pasang garis yang mirip dengan kumis kucing di kedua pipinya. Ia berbalik, berjalan ke arah sang monyet yang masih menundukan kepalanya.
Pemuda yang bernama Naruto itu mendesah, "Konohamaru.." ia menggengam bahu sang monyet yang bernama Konohamaru, mencengkramnya pelan. "Kau lihat seperti apa pekerjaan ini kan? Dan kulihat kau masih belum siap, jadi lebih baik—"
"AKU HANYA TIDAK MAU MENGOTORI TANGANKU PADA ORANG BRENGSEK SEPERTI DIA!" teriak Konohamaru membela diri. "BILA IA ADALAH SEORANG PRAJU—"
"KONOHAMARU! DENGAR!" teriak Naruto mengguncangkan bahu orang yang ia anggap adiknya. "Pekerjaan ini terlalu berat untukmu, kau butuh keberanian yang kuat. Kau butuh alasan mengapa kau ada di sini, dan aku masih belum melihat itu sejak kau menginjakan kaki di rumahku."
"Seorang Assassins adalah orang yang menumpahkan darah pada tangannya. Mengotori hati dan jiwanya dengan mencabut nyawa orang lain yang bukan hak-nya dan memiliki alasan yang kuat mengapa ia melakukan hal itu. Bila kau tidak siap, maka bukan dirimu saja yang terancam bahaya, teman-temanmu pun juga terancam." Konohamaru hanya diam mendengarkan Naruto dengan kepala tertunduk. "Lihat bagaimana tadi orang itu hampir mengambil nyawaku karena kau tidak mencabut nyawanya. Itulah yang terjadi bila kita ragu-ragu akan tugas yang diberikan. Aku harap kau belajar dari kejadian ini."
Naruto melepas tangannya dari Konohamaru dan memasang topengnya kembali. Ia berbalik. "Mulai besok mereka berdua akan membawamu kembali ke aliansi Shinobi melalui gerbang Masyaf. Aku harap kau tidak keberatan dengan itu."
"Tapi akulah yang keberatan, Uzumaki!" teriak Shizuka dari balik topengnya. "Urusan kita belum selesai di sini!"
"Kita bisa membicarakannya setelah kau mengirim Konohamaru. Aku harap kali ini kita bisa membicarakannya secara kekeluargaan."
Shizuka hanya berdecih kesal. "Besumpahlah kau tidak akan kabur setelah ini, Uzumaki!"
"Ya,ya aku berjanji." ucap Naruto sembari mengibas-ngibaskan tangannya malas. "Nah bisakah kembali seka—"
BOOM!
"Apa itu?" tanya Sora di balik topeng serigalanya. Konohamaru, Naruto, maupun Shizuka mengalihkan matanya ke arah asal suara itu muncul. Tepat dari arah barat, kepulan asap putih menyeruak ke udara. Menandakan sesuatu yang ganjil terjadi di sana. "Sepertinya ada pertarungan di sana."
"Mau melihat?" tanya Naruto yang mendapat anggukan dari seluruh anggotanya.
Segera mereka beranjak dari tempat itu dan berhenti tepat di atap sebuah gedung dekat dengan kepulan asap.
"Ini.." Konohamaru tidak bisa berkata-kata. Di sana seekor anjing raksasa telah menggigit tubuh.. tidak, anjing itu tengah menggigit setengah tubuh seorang wanita bersurai ungu. Sedangkan bagian lainnya tergeletak begitu saja di tanah dengan darah mengalir deras.
"SHEELEEE!" teriak gadis berambut pink yang sedari tadi berdiri dengan tangan kiri memegang tangannya. Ia terduduk dengan lututnya. Air mata mengalir dari kedua matanya yang selaras dengan warna matanya. "Kau.. beraninya kau membunuh Sheele… AKAN AKU BUNUH KAU!" teriaknya pada gadis bersurai coklat yang kehilangan tangannya. "AKU BUNUH KAU!"
"Cepat! Mereka disini!" teriak seseorang yang diikuti oleh suara langkah kaki. Gadis pink itu berbalik dan mendapati gerobolan pasukan berzirah yang tengah berlari ke arahnya. Ia hendak mengangkat senjata yang berada ditangan kanannya, namun terhenti begitu saja ketika rasa sakit menyeruak dari tangan kanannya. Sial!
"NIGHT RAID! MATILAH KAU!" teriak salah seorang berzirah yang melompat dengan pedang terangkat. Gadis pink itu mengangkat tangan kirinya, melindungi dirinya yang akan mati sebentar lagi terkena pedang itu.
CRAASH!
Darah kembali keluar malam ini. Membasahi bumi yang murni dengan cairan kotor penuh dosa itu. Gadis pink itu terdiam cukup lama hingga ia menyadari tidak ada serangan yang kunjung datang. Ketika ia menurunkan tangannya, matanya menemukan sosok berjubah putih dengan Kunai hitam penuh bercak darah di tangan kanannya. Di kaki orang itu, sosok orang berzirah tadi telah jatuh dengan darah keluar dari lehernya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya orang itu tanpa membalikan badannya sama sekali. Gadis itu menggangguk tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. sosok itu menengokan kepalanya sedikit, memperlihatkan mata onyx-nya dibalik topeng yang menyerupai monyet putih. "Syukurlah."
"Night Raid!" teriak orang-orang itu sembari berlari menyerang mereka berdua. Namun dengan sigap, si monyet membuat gerakan pada tangannya dan menapakan tangan kanannya pada tanah hingga asap putih mendadak muncul disana.
Tepat ketika asap itu menghilang, sesosok manusia setengah kera muncul dengan tangan terlipat di dada. Wajah yang tampak bosan itu menatap satu persatu orang-orang di depannya dan melirik orang yang tengah memanggilnya lagi. "Jadi, masalah apa lagi yang kau lakukan, Konohamaru?"
"Seperti biasa, hanya membuat kegaduhan kecil." kata Konohamaru sembari menyeringai di balik topengnya. "Jadi maukah kau membantuku lagi, Prince of all Apes, Sun Wukong?"
Sun Wukong hanya memutar matanya bosan dan mengubah dirinya menjadi tongkat emas panjang yang segera ditangkap oleh Konohamaru. Memutar sejenak tongkatnya, Konohamaru menunduk, mempersiapkan kuda-kudanya untuk menyerang para orang-orang berzirah itu.
"Maju, kalian para bedebah sialan." tantang Konohamaru.
Merasa diremehkan, pasukan yang terdiri dari tujuh orang itu menyerbu. Menghunuskan pedang mereka pada Konohamaru. Reflek, Konohamaru bergerak menyamping, menghantamkan tongkatnya pada satu orang yang menyerangnya lalu menyeretnya hingga ia terlempar mengenai dua orang dibelakangnya. Senyuman tercipta pada wajah Konohamaru namun senyuman itu segera menghilang begitu sebuah pedang menyabet punggungnya.
Menahan sakit, Konohamaru berputar, menghantamkan kembali tongkatnya hingga musuhnya terpental menabrak tembok. Ia bergerak menyamping, membiarkan dua orang yang berada di sisi kanan dan kirinya bergerak menghunuskan pedang ke arahnya. Dengan gerakan yang cepat, kedua sisi tongkat itu memanjang. Menghantam dan mendorong dua orang itu dengan kencangnya hingga mereka terpental dengan darah keluar dari mulutnya.
"Enam jatuh, tinggal sisa satu tikus." ujar Konohamaru menatap seorang wanita yang berdiri dengan tangan bergetar memegang pedang. Namun mendadak wajah yang sedari tadi ketakutan itu menyeringai keji, dan itu tandanya..
"Awas!" teriak gadis pink itu, namun terlambat. Anjing raksasa yang tadi menggigit gadis yang bernama Sheele tengah melompat dan membuka mulutnya, memperlihatkan deretan gigi yang hendak ia tancapkan pada Konohamaru.
BOOM!
Sebuah pukulan telak menghantam tubuh anjing itu, membuat sang anjing yang hampir saja memakan Konohamaru terlempar menabrak deretan pohon hingga hancur. Tepat disana, sosok Shizuka yang masih mengenakan topeng kucing tengah mendarat setelah ia menghantamkan tinjunya pada anjing jadi-jadian itu.
"KONOHAMARU!" teriak Naruto yang muncul dengan membawa tubuh bagian atas gadis berambut ungu tadi. "APA KAU GILA! MENYERANG MEREKA TANPA BERPIKIR TERLEBIH DAHULU! APA YANG SEBENARNYA KAU PIKIRKAN!? MAU MATI YA HAH!?"
"AKU HANYA BERTINDAK APA YANG MENURUTKU BENAR! APA AKU SALAH!?"
"INI BUKAN URUSAN KITA KAU BODOH! KAU NYARIS TERBUNUH DENGAN TINDAKANMU YANG SEPERTI ORANG IDIOT ITU!"
"TAPI—"
"HAHAHA!" tawa gadis bersurai coklat yang terduduk di ujung taman dengan kedua tangan yang hilang. "Kalian pikir kalian bisa lolos dari seluruh perbuatan kalian! Hah! Kalian menyia-nyiakan kesempatan kalian untuk kabur dasar kalian Night Raid idiot!"
Naruto menatap gadis itu dan menyadari apa maksudnya. Tepat di sekeliling taman ini, pasukan berzirah tengah berkumpul dengan mengarahkan senapan ke arah mereka. Membuat celah mereka untuk kabur semakin kecil.
"Uhh.." suara lenguhan kecil keluar dari mulut gadis yang sedang dipegang Naruto. Mendadak, sebuah cengkraman terasa pada tangan kiri Naruto. Di sana, Gadis berambut pink tadi telah menggengamnya dengan erat. Air mata masih mengalir di kedua matanya.
"Tolong selamatkan Sheele, aku mohon." ucapnya parau. "Aku mohon.."
Naruto terdiam sejenak, ia melirik tubuh itu lalu melirik Sora yang tengah membawa tubuh bagian bawah sang gadis. Ia menghela nafas. Yah, mau diapakan lagi.
"Kagebunsih no Jutsu." dua buah Clone akan dirinya muncul begitu saja di depannya yang tentu saja membuat gadis itu ataupun seluruh pasukan yang ada di situ terkejut bukan main. Tapi Naruto bergerak cepat, salah satu Clone-nya bergerak mengambil bagian tubuh itu dan yang lain segera mendekat ke arah Konohamaru dan gadis itu. Naruto mendesah, "Akan aku lakukan semampuku."
Dengan begitu, salah satu Clone-nya membuat bom asap yang membutakan seluruh pasukan yang disana. Begitu asapnya hilang, mereka telah menghilang dari sana. Pergi dalam kekosongan yang membingungkan seluruh pasukan itu.
(_*_*_*_*_)
Kopi, susu dan jahe adalah minuman yang disukai oleh seorang Nikolai Tesla. Selain aromanya yang menghangatkan, rasa panas pada kerongkongannya ketika ia meminum cairan itu membuatnya dapat membuka matanya tanpa perlu kehilangan kesadarannya. Berbeda sekali dengan Wisky yang rasa panasnya sama namun membuatnya pikirannya entah kemana.
Menaruh gelas pada meja kerjanya, Tesla kembali meregangkan otot-ototnya sebelum ia kembali duduk dan menghadap layar computer, melanjutkan project G.U.N.D.A.M-nya yang telah memasuki tahap akhir.
DRAP! DRAP!DRAP!
Bunyi suara langkah kaki yang keras mengganggu konsentrasi pria bersurai hitam itu. Siapa yang malam-malam begini berlari begitu kencang di lorong laboratoriumnya? Tunggu, bagaimana mungkin ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah rahasianya ini? Adakah penyusup yang berhasil kemari? Tapi, mustahil. Tempat ini terlalu rahasia bahkan sulit ditemukan oleh orang dari organisasinya sendiri. Satu-satunya orang yang bisa ke sini dalam waktu singkat hanyalah..
Buru-buru, ia mengubah layar komputernya yang sedari tadi berwana biru dengan garis-garis putih berbentuk robot menjadi layar berwarna. Ia memperhatikan layarnya baik-baik. Meneliti satu per satu citra berwarna disana. Seluet hitam bergerak dengan cepat pada layarnya. Berpindah dari satu kotak gambar kegambar lainnya.
"Cih orang itu." Tesla segera mengetik sesuatu pada keyboard komputernya, mengetik tombol enter dan mendadak suara rentetan peluru terdengar dari lorong di depan pintu ruangannya.
DUAR!
"TESLAAA!" teriak sosok hitam itu setelah menghancurkan tembok ruang kerjanya. Orang yang dimaksud hanya melihat pria bertopeng rubah itu dengan wajah ketakutan. Ia yakin setelah ini orang itu akan menghajarnya habis-habisan karena keisengannya yang sedikit..berbahaya?
"BANTU AKU SIALAN!"
"Eh?!"
Orang itu kembali berlari, menghilang dari lubang yang dibuatnya sendiri. Terbengong-bengong atas kejadian barusan, Tesla menyadari sesuatu hal yang ganjil. Orang itu..ditangannya..tampak sedang memegang..tubuh.. TUNGGU DULU!? TUBUH!? TUBUH MANUSIA!? YANG BENAR SAJA!
Pria berkumis tebal itu buru-buru mengambil jas labnya, belari menyusuri lorong dan berhenti pada laboratorium-nya yang terbuka begitu saja. Ia berjalan perlahan, memasuki ruangan untuk melihat dua sosok berjubah hitam dengan topeng rubah yang sama persis tengah membaringkan sosok yang tadi tengah dalam gendongannya pada alat yang Tesla tahu sebagai Recovery Pot, sebuah alat yang dapat menyembuhkan segala luka bahkan dapat mengganti organ yang telah hilang sekalipun.
"TESLA! KENAPA KAU DIAM SAJA!? BANTU AKU!" teriak orang itu yang bernama Naruto sembari menekan tombol merah yang ada di luar Recovery Pot. Dengan cepat, sebuah kaca cekung menutup tempat tubuh itu dibaringkan, mengeluarkan uap putih yang menyelubungi tubuh itu.
Orang yang dimaksud masih berjalan dengan pelan tanpa sekalipun mengubris orang yang tengah meneriakinya dari tadi. Mata hitamnya terfokus pada sosok gadis bersurai ungu yang kini berbaring dengan mata tertutup. Ia masih tidak percaya dengan pemandangan di depannya, isi perut gadis itu kini terurai dengan darah segar masih mengalir disana. Bagian bawahnya yang terpotong dengan bagian atasnya juga sama saja, organ seperti hati dan usus tercecer begitu saja pada Recovery pot-nya.
BUK!
"TESLA!" kali ini Naruto benar-benar kesal hingga tanpa sadar ia memukul orang itu hingga ia terjatuh. Mengembalikan segala kesadarannya dari pemandangan yang ia lihat barusan. "DASAR BEGO! DIA SEKARAT! CEPAT LAKUKAN SESUATU DAN BANTU AKU!"
"Tapi..ini.."
"APA!? KAU INGIN BERKATA IA TIDAK BISA DISELAMATKAN!? JANGAN BERCANDA!" Naruto segera menarik kerah sang Tesla hingga kedua wajah mereka saling berhadapan. "KAU SERING BERKATA PADAKU KAU BISA MELAKUKAN APAPUN! SEKARANG BUKTIKAN PADAKU!"
Tesla hanya menghela nafas. Benar memang ia sering berkata seperti itu. Tapi melihat gadis itu, ia mulai ragu akan kemungkinan gadis itu akan selamat. Lagi pula mengapa Naruto begitu panik. Ah, benar juga, pemuda pirang ini selalu panik bila ia melakukan..
"Katakan Naruto," ucap Tesla sembari melepaskan tangan Naruto dari kerahnya. "Kesalahan apa lagi yang kau lakukan sampai gadis itu menerima petaka darimu?"
Naruto mendesah, "Aku tidak melakukan apa-apa, hanya sedang lewat dan melihat dia dalam keadaan seperti itu."
"Kau itu tidak pandai berbohong, Uzumaki. Katakan yang benar jika kau mau aku membantumu."
Sepertinya ia tidak punya alasan lain untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya, toh ia juga tidak salah di sini. Lalu kenapa ia berbohong tadi? Kebiasaan lama sepertinya. Maklum, seperti yang Tesla bilang, dulu Naruto sering sekali terlibat masalah hingga melibatkan orang lain dan kebiasaan buruknya keluar untuk mengelak bila ia akan di salahkan. Dasar idiot.
Setelah mendengarkan penjelasan panjang. Tesla akhirnya paham kenapa gadis itu bisa terluka separah itu. Ia mendengus, "Dasar Sister Complex"
"Huh?"
"Kalau tidak salah, orang yang memintamu menolong gadis ini adalah seorang gadis kecil bukan?" Tesla terkekeh. "Ya, ya, itu cukup membuktikan kalau kau mengidap sister—ataupun brother—complex karena kau selalu menolong setiap anak kecil yang kesusahan."
"Hei! Apa hubungannya itu!? Lagi pula kalau aku membiarkan dia mati, Konohamaru bisa mencapku orang jahat dan tidak berperasaan. Aku tidak mau memberinya contoh jelek terutama jika sudah berhubungan dengan nyawa orang ataupun diriku sendiri." ujar Naruto sembari melipat tangannya di depan dadanya dan menengokan kepalanya ke arah lain.
"Oh ya? Kalau begitu jelaskan padaku ketika aku memergokimu meminta Chelsea memanggilmu 'Oonii-chaaan~'?" ejek Tesla dengan nada dibuat-buat.
"Eh!? I-itu-itu, a-aku—"
"Ya,ya terserah apa katamu lah." Tesla mengibas-ngibaskan tangannya layaknya mengusir Naruto dari sana. "Sebaiknya kau bawa teman gadis ini kemari, mungkin dengan adanya dia disini, gadis ini bisa selamat?"
"Ah, kau benar juga." Naruto segera berbalik, menghilang dari hadapan Tesla. Meninggalkan cahaya kuning tempat ia menghilang dari pandangannya.
Tesla tersenyum,"Yah, kau tahu," ucapnya pada dirinya sendiri sembari menekan keyboard pada Recovery pot, "Kadang, sifat Sister Complex-mu itu pada orang yang berumur dibawahmu itu terlihat seperti lolicon tahu. " pria itu terkekeh sendiri dalam perkataannya, "Dasar Phedofil."
"Kau ini ngomong apa? Siapa yang Phedofil?"
"Eh?" mendadak pria itu tersadar kalau dirinya sedang tidak sendiri. Ia melirik kebelakang untuk menemukan clone Naruto yang menatapnya dengan tatapan bingung. "Bukan apa-apa. Hahaha!" ucap pria itu gugup. Hampir saja. Kalau bocah pirang itu sampai sadar ia ejek, bisa-bisa ia tidak akan bisa bertemu dengan kakaknya yang cantik itu. Cih, dasar sister complex.
(_*_*_*_*_)
"Ba-bagaimana keadaan Sheele?" tanya gadis itu panik begitu sosok Naruto—yang asli—muncul dengan cahaya kuning menyilaukan.
Naruto masih belum menjawab, ia melirik rekan-rekannya yang lain yang duduk sembari menggosok-gosokan tangannya untuk menciptakan panas di antara batu-batu besar yang Naruto tahu batu-batu macam itu hanya ada di pegunugan Utara, dekat dengan kerajaan Kremlin. Payah, sepertinya clone-nya terlalu asal berpindah tempat hingga tidak tahu tempat yang lebih baik seperti rumahnya misal.
"Hei! Jawab aku orang aneh!" teriak gadis pink itu yang tampak kesal.
"Jaga mulutmu, cebol!" balas Naruto tidak terima. "Aku sudah menolongmu, jadi tunjukan rasa hormatmu padaku!"
Mendadak, muka gadis itu memerah, dengan dahi mengkerut tanda amarah. "Ka-kau memanggilku apa!?"
"Kau tuli ya?" kali ini Konohamaru yang menjawab, "Nii-chan memanggilmu cebol, sudahlah terima saja kalau dirimu itu memang pen—"
DUAR!
"Eh!?" semua yang ada diam seketika. Mendadak sebuah lubang raksasa muncul pada tebing di atas tempat Konohamaru duduk. Buru-buru semua yang ada di situ mengalihkan perhatiannya pada gadis pink yang baru saja menembakan senapannya menggunakan tangan kirinya.
"Jangan pernah…kalian…memanggilku CEBOOOOLL!" kali ini gadis itu menembakan pistolnya secara membabi buta. Menghancurkan tebing-tebing keras menjadi bolongan layaknya lubang bekas galian.
"Hei! HEI! Tenangkan dirimu! Oi!" ucap Naruto panik. Namun gadis itu tidak mendengarkannya dan terus menembak secara asal ke arah Konohamaru yang masih menghindari tembakannya yang tidak tepat.
GRUDUK!GRUDUK!
Secara mendadak, tembakan dari gadis itu berhenti. Mereka yang ada di situ juga demikian. Diam sunyi begitu mendengar suara ganjil yang barusan mereka dengar.
"Oi, Apa kalian mendengar itu?" tanya Sora mencoba meyakinkan bahwa ia mendengar sesuatu.
"Ya, aku dengar tapi itu.." mendadak, tetesan salju turun dengan cepat dari atas kepala Shizuka. Sadar ada yang tidak beres, ia mendongkak kepalanya ke atas untuk melihat sebuah gundukan salju yang tengah bergerak ke arah mereka.
Menyadari apa itu, Naruto maupun clone-nya segera bergerak. Naruto yang menarik kerah si gadis pink dan memegang jubah putih milik Konohamaru segera menghilang dari sana, begitupun dengan clone-nya yang menabrak Sora maupun Shizuka secara bersamaan dan menghilang, meninggalkan gundukan salju yang nyaris saja menenggelamkan mereka.
BRAK!
"Adududuh!" pekik gadis pink itu ketika tubuhnya menghantam lantai yang keras nan dingin. Begitu ia membuka mata, keadaan berubah total. Yang awalnya daerah pegunungan bersalju berubah menjadi sebuah ruang laboratorium entah dimana. Ia mengerjap matanya, mencoba memastikan ini hanya ilusi semata.
Konohamaru yang sempat menabrak dinding kini terduduk sembari melepas topengnya, mengelus sejenak wajahnya akibat hantaman. "Cih, dasar gadis idiot, apa sih yang dia pikir—"
"Sheele?" ucap gadis itu begitu melihat temannya tengah berbaring pada Recovery pot tanpa bergerak sama sekali. "SHEELE!"
Gadis itu berlari, melepas senjatanya begitu saja untuk melihat temannya dari dekat. Air mata keluar begitu melihat secara utuh keadaan temannya yang mengenaskan. Walau begitu sebuah senyuman terukir di wajahnya begitu ia melihat wajah temannya yang tertidur dengan tenangnya. Seperti tidak ada beban sama sekali di sana.
"Hoho, jadi kau teman gadis ini ya?" tanya Tesla yang muncul dari balik pintu laboratorium-nya sembari memilin kumis tebalnya.
"Siapa kau? Om-om mesum ya, HAH!?"
"O-om-om mesum?" beo Tesla tidak percaya, "Aku ini orang yang merawat temanmu tahu!"
"Cih, wajahmu itu tidak bisa dipercaya! Katakan dengan jujur, kau apakan Sheele ketika aku tidak ada di sini, hah!?"
"Ck, k-kau!"
PUK!
"Sudahlah Tes," kata Naruto menepuk pundak Tesla, mencoba menenangkan. "Sepertinya emosi si 'kecil' ini sedang tidak stabil, bagaimana kalau kita bicarakan keselamatan gadis itu ditempat lain?"
Sebuah kedutan kembali tercipta pada dahi gadis itu, emosinya yang sedang naik bertambah naik ketika Naruto menyebutnya, "KECIL!? SIAPA YANG KAU PANGGIL KECIL, RUBAH SIALAN!?"
Naruto hanya menghela nafas, tidak mau berurusan dengan gadis merepotkan ini, ia mengalihkan perhatiannya pada Konohamaru. "Konohamaru, urus si 'kecil' ini ya?"
"Eh, aku!?' tanya Konohamaru menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus aku?"
"Ya mana aku tahu!?" jawab Naruto seenaknya. "Pokoknya kau urus ya!"
"Oi tung—"
BRAK!
Pintu dengan cepat tertutup. Meninggalkan Konohamaru dengan gadis yang ia anggap setan cebol ini. Astaga, ketika besok ia akan diusir dari sini, kenapa juga ia harus berurusan dengan masalah pelik macam ini? Oh, dewa.. mimpi macam apa daku kemarin malam.
"Hei, kau.."
DEG!
"Buatkan aku minum." perintah gadis itu.
"He?"
"Kau tuli ya? Aku bilang 'Buatkan-aku-minum'." perintah ulang gadis itu pada Konohamaru. "Aku haus tahu!"
Konohamaru diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Bisa-bisanya gadis itu main asal perintah, memangnya siapa dia? Majikannya? Cih, dia tidak tahu apa kalau Konohamaru itu adalah orang terhormat? Cucu Hokage ketiga yang sering di elu-elu kan sebagai dewa Shinobi? Sepertinya gadis ini harus diberi pelajaran.
BUK!
"Aduh!" pekik Konohamaru kaget ketika sebuah jitakan mendarat pada kepalanya. "Apa yang kau lakukan!?"
"Aku kan bilang aku minta minum? Cepat! Aku haus nih!"
"YA MANA AKU TAHU CARA MEMBUAT MINUM DI TEMPAT MACAM INI KAU CEBOOOOL!"
"KAU BILANG AKU APAA!?"
Dan terjadilah keributan di dalam ruangan laboratorium itu dengan teriakan-teriak keras dari dua bocah di bawah umur yang tidak tahu malu.
Dua orang dewasa yang berada di balik pintu itu hanya menghela nafas pasrah. Mau diapakan lagi? Konohamaru harus dikorbankan bila mereka ingin berdiskusi dengan tenang, mengingat gadis itu punya sifat yang menjengkelkan.
"Ngomong-ngomong," ucap Naruto membuka pembicaraan. "Apa gadis itu bisa diselamatkan?"
Sebagai jawaban, Tesla hanya menundukan kepala. Ia tidak tahu harus berkata apa pada orang yang ada di depannya ini.
"Jadi..?"
"Gadis itu kehilangan banyak darah. Sedangkan stok darah yang aku punya tidak ada yang cocok dengan jenis darahnya."
"Jadi masalahnya hanya darah? Kalau begitu aku bisa mencarinya dengan cepat." Tesla menggeleng sebagai jawaban atas perkataan Naruto.
"Percuma saja, secepat apapun kau mencari supply darah, butuh waktu bagiku untuk memproses darah itu agar tubuh gadis itu bisa menerimanya."
"Berapa lama prosesnya?" tanya Naruto.
"Satu hari." jawab Tesla sembari menghela nafas. "Dan, menurut prediksiku, gadis itu tidak akan bertahan lebih dari enam jam ke depan."
"Tidak adakah cara lain agar gadis itu tetap selamat, Tesla?" tanya Naruto khawatir.
"Aku sedang pikirkan, tapi untuk sementara.." ia menjentikan jarinya. Memanggil sebuah robot berbentuk bola raksasa yang seukuran setengah badan manusia. Sebuah cahaya plasma muncul dari mulutnya, membentuk sebuah keyboard plasma berwarna putih bercahaya. Tesla memencet beberapa huruf disana, membuat keyboard itu menghilang berganti dengan sebuah gambar berbentuk Danger Beast seperti T-Rex namun dengan mata kiri terpasang kamera dan tangan kanan membawa senapan.
Naruto mengernyit, "Apa ini?"
"Project Synthetic." jawab pria berkumis itu sembari melipat tangannya. "Mengubah makhluk organik murni menjadi makhluk mekanik. Aku sudah mencoba pada tikus, Danger Beast 'Rextor' dan 'Catblade', dan yah, hanya tikus yang mati, tapi Danger Beast semuanya berhasil."
"Jika tikus mati, berarti ada kemungkinan gagal. " Naruto memegang dagunya sembari berpikir, "Berapa persen kemungkinan berhasilnya."
"60 hingga 85 persen, itu tergantung dari kemampuan otaknya untuk bertahan selama proses." ujar Tesla sembari mengangkat bahu, "Aku harus memindahkan otaknya, dan biasanya tikus akan mati dalam proses ini karena darah yang diperlukan otaknya tidak cukup agar otaknya terus bekerja."
"Aku tidak ingin bertele-tele. Katakan, apa dia akan selamat atau tidak!?"
"Aku tidak bisa memastikannya. Itu tergantung otak dan keinginan gadis itu untuk bertahan hidup." Tesla hanya menghela nafas. "Jadi, kau mau menggunakan cara ini atau membiarkan gadis itu mati?"
"Tidak adakah cara lain?" tanya Naruto. Namun yang ia temukan hanyalah gelengan pria berambut hitam itu. Naruto mendesah. "Yah, baiklah kalau tidak ada cara lain."
"Sebelum itu, sebaiknya kau singkirkan gadis itu dari sini, aku yakin ia tidak mau melihat prosesnya."
"Yah, kau benar."
Setelah perbincangan berakhir, Naruto maupun Tesla segera membuka kembali pintu laboratorioumnya dan menemukan Konohamaru telah diikat menggunakan kabel-kabel tak terpakai oleh gadis itu. Konohamaru merengek, "Nii-chaan~, tolong aaakuu~."
"Makanya, jangan mengejeku cebol ya, hahaha!" gadis pink itu tertawa mengerikan di atas penderitaan Konohamaru yang entah mengapa tidak melawan perlakuan tak senonoh sang gadis.
Naruto hanya mendengus. Merasa Konohamaru terlalu payah untuk menangani masalah sepele seperti ini. Kapan-kapan ia harus mengajari Konohamaru untuk mengancam seseorang agar ia tidak ditindas seperti ini.
Naruto membuka mulut. "Oi, gadis pink."
"Apa!?" teriak gadis itu sembari berbalik pada Naruto. "Kau juga mau aku hajar seperti orang ini ya, hah!?"
"Hey, tenang dong. Oni-chan ingin mengajakmu berbicara." Ucap Naruto kelepasan.
Gadis itu melotot. "Oni-chan!? Memang kau ini kakakku apa!?"
"E-eh!?"
'Heh, mulai deh..' batin Tesla sembari memutar bola matanya malas.
"Eh, ma-maksudku, kita bisa membicarakan ini baik-baik kan?" ucap Naruto sembari merentangkan kedua tangannya ke depan. "Hehehe."
Sayangnya, sang gadis malah mengacungkan senapan anehnya pada Naruto yang membuat pemuda pirang itu gelagapan. "Hei!"
"Jangan mendekat kau lolicon!" kata-kata sang gadis membuat Naruto menganga tak percaya dan Tesla ingin tertawa, tentu saja mereka tidak menyangka kalau sang gadis bisa berpikir demikian "Kau mau melakukan tindakan cabul padaku kan!? Mengaku Saja!"
"Apa maksudmu? Apa buktimu aku akan mencabulimu, hah!?"
"Kau masih menggunakan topeng agar mukamu tidak terlihat ketika kau melakukan aksi pencabulan!" ujar gadis itu dengan senapannya terangkat lurus ke arah wajah Naruto, "He, kau pikir aku bisa dibodohi?"
Akhirnya, Naruto paham kenapa dari tadi ia dipanggil rubah ataupun orang aneh. Topengnya toh yang menjadi akar permasalahan ini. Huft, ia merasa dirinya terlalu bodoh. Sembari memutar bola matanya, Naruto melepas topeng rubahnya. Memperlihatkan mata berwarna biru lautnya beserta wajah berwarna Tan beserta tanda lahir berupa kumis kucing di kedua pipinya.
Naruto mendengus, "Bagaimana, aku gak terlihat seperti phedofil kan?"
Tesla maupun Konohamaru menganga tidak percaya. Dari kalimat yang Naruto buat, jelas-jelas menandakan kalau, 'Kau mengakui kau itu phedofil!?' batin kedua orang itu kaget bukan main. Sayangnya, orang yang dimaksud masih tidak sadar akan kesalahannya dan tersenyum layaknya orang tidak bersalah.
"Ka-kau..!" gadis itu menjatuhkan senapannya, membiarkan benda metal itu bersentuhan dengan lantai yang keras meninggalkan gema yang menyebar di ruangan tersebut. gadis itu melotot, "Onii-chan..?"
'HEEEE!?' teriak ketiga orang itu dalam batinnya masing-masing.
"Onii-chaan~!" secara tiba-tiba gadis itu melompat dan memeluk Naruto dengan erat tanpa menghiraukan pemuda bersurai pirang yang masih shock dan diam mematung tanpa membuat gerakan sedikitpun.
Mengerjapkan matanya, Naruto langsung sadar apa yang terjadi. "He-hei, apa ini? kenapa kau mendadak berubah begini?"
Gadis yang sedari tadi memeluknya mulai mengangkat kepalanya. Matanya berwarna merah muda berbinar layaknya anak kecil yang berhasil mendapatkan sesuatu. Menangkap wajah manis layaknya malaikat itu otomatis pipi Naruto merona merah. Ia tidak bisa mengelak lagi kali ini, ia benar-benar lemah pada anak kecil—terutama senyum mereka yang imut—dan kali ini ia berharap suatu saat ia tidak akan menjadi lolicon sungguhan.
"Nii-chan lupa sama aku?" tanya gadis itu yang mengubah nadanya suara dan sikapnya 180 derajat dari sikapnya yang tadi. "Ini aku, orang yang kau tolong ketika aku diganggu preman jalanan."
Naruto mengerutkan keningnya, "Yang mana ya?" tanya pemuda itu bingung mengingat ia sering sekali menolong anak kecil, sampai-sampai ia tidak begitu ingat dengan setiap kejadian yang ia alami.
"Lupa ya? Begini saja." Gadis itu mencopot kedua ikatan rambutnya, membiarkan rambut merah jambunya terurai begitu saja dan mengacak rambut itu sejenak hingga terlihat rambutnya yang lurus menjadi acak-acakan. Gadis itu tersenyum, "Nah, bagaimana?"
"Hmm.." Naruto menyipitkan matanya, mengingat-ingat penampilan sang gadis yang tampak familiar di kepalanya. Mendadak, sebuah ingatan terlintas di kepalanya. "Kau.. jangan-jangan gadis yang aku tolong di kota Felixim, dua tahun yang lalu?"
Gadis itu menggangguk, "Tepat!"
"APA YANG KAU PIKIRKAN!?" teriak Naruto mendadak hingga gadis itu menutup telinganya. "BERGABUNG DENGAN NIGHT RAID!? KAU GILA YA!?"
"Ta-tapi nii-chan bilang aku harus mengubah nasib diriku sendiri kalau aku ingin mengubah nasib orang-orang yang sama sepertiku?" ujar gadis itu dengan mata berkaca-kaca ingin menangis. "Karena itu aku ikut berjuang dengan pasukan Revolusi dan Night Raid. A-aku juga ingin terlihat keren seperti nii-chan ketika memukul para brandalan itu."
Naruto menepuk jidatnya. Tidak disangka gadis kecil waktu itu bisa salah mempersepsikan maksudnya. Padahal niatnya ia berharap gadis itu bisa menjadi orang yang terkenal dikotanya dengan selalu berbuat kebaikan hingga nantinya orang-orang di kota Felixim akan mengakui keberadaanya dan ia menjadi orang penting di sana.
Naruto mendesah, "Lalu apa yang kau lakukan tadi sampai-sampai temanmu ini," Naruto menunjuk gadis yang tertidur pada Recovery pot, "bisa terluka separah ini?"
"Kami dihalangi oleh orang bernama Seryuu Ubiquitous setelah kami melakukan pembunuhan, dan Teigu-nya—anjing raksasa yang dibawanya menggigit Sheele ketika ia ditembak oleh gadis brengsek itu."
"Jadi pelajaran apa yang kau dapat?" tanya Naruto sembari menatap gadis yang masih memeluknya itu.
"Akan aku bunuh.." Naruto menaikan sebelah alisnya, "Akan aku bunuh orang itu dan akan aku ledakan kepalanya dengan Pumpkin milikku!"
Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mendengus, ia lepaskan pelukan gadis itu dengan mendorongnya pelan dipundak. Naruto mendengus, "Berapa umurmu sekarang?"
"Lima belas, kenapa?"
"Namamu?"
"Mine.. Mine de Felixim"
"Mine, dengarkan aku." Naruto menambah erat genggaman erat pada pundak Mine, "Dendam tidak akan menyelesaikan masalah, dan akan membawamu pada masalah baru yang akan menyeretmu pada dendam lainnya. Kau akan hidup dalam riliku kebencian yang kau buat sendiri, dan mengorbankan banyak orang yang tidak ada hubungannya dengan masalahmu."
"Hidup tanpa dendam adalah anugrah. Namun, tidak menuntup kemungkinan kau akan bertemu dengan bibit-bibit dendam lainnya. Karena itu aku harap kau tidak menumbuhkan bibit itu pada hatimu, karena dendam hanya membawamu pada muara yang kita sebut 'penyesalan'."
Gadis itu mengerjapkan matanya, membuka mulutnya namun jari telunjuk Naruto menyentuh bibir pink-nya terlebih dahulu. Naruto tersenyum. "Aku harap kau mengerti Mine, karena aku telah melihat orang yang persis sepertimu dan kini ia diliputi rasa penyesalan yang dalam, dan aku ingin kau tidak mengikuti jejaknya. Oke?"
Melihat senyuman Naruto, Mine menggangguk. Membiarkan tangan Naruto mengelus lembut dan merapihkan rambutnya yang berantakan dengan tangannya. "Nah, sekarang kita mengobati tanganmu dulu ya? dan, Hoi, Konohamaru!" panggil Naruto pada pemuda berambut coklat yang baru saja bebas dari kabel-kabel yang melilitnya. "Bawa gadis ini keruangan pengobatan. Cepat!"
"HEE!? KENAPA AKU LAGIII!"
(_*_*_*_*_)
Bulan masih menunjukan keindahannya, menerangi angkasa yang gelap dengan sinarnya yang menenangkan setiap makhluk yang melihatnya. Mengusir rasa kekhawatiran dan takut akan kegelapan yang memakan setiap sudut bumi yang kehilangan kehangatan sang mentari yang masih tertidur jauh di timur sana.
Najenda masih berdiri menatap langit di balik lubang jendela yang ia biarkan terbuka untuk menikmati indahnya angkasa raya yang diselimuti oleh gemerlap bintang yang seakan menari untuk menghibur setiap penduduk bumi yang terjaga pada malam itu.
Wanita berambut putih itu menghela nafas, berbalik dan berjalan menuju kursi singgasana-nya sembari menempatkan cerutu pada mulutnya yang sedari tadi ia pegang ketika menatap lautan bintang. Menghisap, ia keluarkan asap cerutu itu dari hidungnya sembari ia duduk pada kursi bercat emas dengan bantalan berwarna merah.
Leone yang masih menyenderkan tubuhnya pada tembok mendadak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Mengaktifkan Teigu miliknya yang membuat gadis bersurai pirang itu berubah menjadi humanoid seperti singa bertubuh manusia. Rambutnya yang pendek memanjang seketika dengan telinga kucing muncul di kedua sisi kepalanya. Telapak tangannya yang lentik berubah layaknya tangan monster berbulu dengan cakar hitam yang memanjang, siap menusuk siapapun yang menghadang.
Najenda menyipitkan matanya, "Mau kemana, Leone?"
"Mencari Mine dan Sheele.. aku merasa firasat buruk."
"Apakah aku memberimu perintah mencari mereka?"
"Tidak tapi.."
"Kalau begitu tetaplah di sini dan tunggu perintah dariku." ucap Najenda tegas. Leone hanya berdecih, bergerak menyamping dan duduk pada kursi terdekat.
Tatsumi yang dari tadi diam kini melangkah maju mendekati Najenda, mulutnya terbuka. "Apa kita tidak mencari mereka Boss? Ini sudah lewat dari waktu yang ditentukan, kemungkinan terjadi sesuai pada mereka."
"Aku tahu Tatsumi." jawab Najenda sembari menghisap cerutunya kembali. "Hanya saja, kita harus berkepala dingin dan berpikir jernih. Kita tidak bisa bertindak sembarangan dengan asal mencari mereka dan mendapati diri kita kalau sudah terjebak oleh perangkap musuh."
"Lalu, apa kita hanya diam saja?" tanya pria berzirah hijau yang kini berdiri tepat dibelakang Tatsumi.
"Kita tunggu hingga pagi. Jika mereka tidak muncul, baru kita—"
"MINE!" jeritan Akame membuat semua orang mengangkat kepalanya, menatap gadis bersurai hitam itu lalu mengarahkan pandangannya pada arah pandangan Akame. Tepat di depan pintu masuk, sosok gadis bernuansa merah jambut telah berdiri dengan tangan kanan diperban. Berjalan dengan pelan memasuki aula tempat mereka biasa berkumpul.
Semua orang yang ada di situ segera berlari menuju dirinya. Leone dan Akame segera memeluknya sementara para lelaki hanya tersenyum senang dengan kehadiran gadis itu. Begitu pelukan teman-temannya telah lepas dari dirinya, gadis itu berjalan menuju Najenda yang tengah menunggunya tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari Mine.
Senyuman terukir pada wajah Najenda, "Jadi, bagaimana dengan misinya?"
"Sukses Boss!" jawab Mine dengan mengacungkan jempol kirinya.
Wanita berwarna ungu itu mengangguk, "Lalu, dimana Sheele?"
Sadar, teman-temannya buru-buru menengokan kepala mereka. Mencari sosok gadis berambut ungu yang tidak ada dimana pun. "Benar, dimana Sheele?" tanya Lubbock kebingungan.
"Dia terluka, Boss."
"Terluka? Maksudmu?"
"Ia terluka ketika kami bertarung melawan salah satu polisi Great Empire, " jelas Mine. "Tapi tenang saja, ia sudah dirawat oleh orang baik kok. Sebentar lagi ia juga sembuh."
"Orang baik? Bukankah sudah aku bilang kita tidak boleh mempercayai siapapun kecuali orang-orang dari pasukan Revolusi?"
Mine menggeleng sebagai jawaban, "Ini beda, kalian tahukan ceritaku tentang orang yang menyelamatkanku dari preman yang memukuliku? Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja dan ia menolong Sheele sekarang." Ujarnya dengan senyuman bahagia yang Tatsumi sendiri tidak pernah liat selama ini. Jujur saja, gadis itu sering sekali tersenyum namun semuanya hanya senyuman mengejek maupun merendahkan. Tidak pernah sekalipun ia melihat senyuman seperti ini.
Bulat tertawa ramah, senang dengan melihat senyuman Mine yang kali ini berisikan kebahagiaan, "Hoo, jadi seperti apa orang itu?"
Mine berbalik, menghadap bulat dengan wajah terlihat semangat. "Ia tinggi, berambut pirang, dan bermata biru!" Jelasnya dengan semangat, "Oh ya, dia juga punya garis seperti kumis kucing dipipinya. Kyaa! Aku ingin sekali mencubit wajahnya!"
Lubbock menganga tidak percaya melihat tingkah Mine yang entah kenapa sangat aneh hari ini, Sementara Bulat dan Leone hanya tertawa senang sebagai tanggapan. Mereka berpikir akhirnya gadis yang berkelakuan menyebalkan itu bisa bertingkah imut layaknya gadis kebanyakan.
Hanya saja, di antara kegembiraan itu, Akame, Najenda dan Tatsumi malah membisu. Mereka sadar siapa orang yang di maksud Mine. Ingin membuktikan bahwa pikirannya salah, Tatsumi membuka mulut. "Mine.."
"Apa!? Kau mau mengejekku ya, hah!?"
Walau entah mengapa Mine masih bersikap kasar pada, ia harus memastikan kalau orang yang dimaksud bukanlah orang itu, "Mine..ka-kalau boleh tahu, siapa nama orang yang kamu maksud itu."
Gadis itu mengerjap, lalu wajah yang tadi kesal kembali tersenyum. "Oh iya, aku lupa memberitahu, namanya...umm… namanya…U..Uu"
"Uzumaki Naruto, jangan lupa ya." mendadak semua orang yang ada di situ berbalik. Menangkap tiga sosok berjubah yang tengah berdiri tepat di depan pintu masuk dengan tudung menutup kepala mereka. Pemuda yang berada di tengah tersenyum sinis kepada mereka semua. "Salam kenal, ya."
"Ka-kau…!"
SRAANK
Mendadak Akame maupun Tatsumi bergerak maju ke depan teman-temannya mengeluarkan pedang mereka masing-masing. Sementara Najenda berdiri mematung dengan mata terbuka lebar.
"Assasins.."
Naruto melangkah maju, mengeluarkan Gunblade dari sarungnya yang ia taruh secara horizontal di balik pinggangnya, mengarahkan bilahnya pada Najenda yang berdiri di ujung ruangan. "Akhirnya kita bertemu, Najenda de Arc. Aku harap kau sudah menyiapkan… pemakamanmu."
TBC
Maaf bagi yang berharap Naruto bagian dari Night Raid, bahwa saya tidak memasukan Naruto pada grup tersebut. Yup, Naruto punya grup sendiri yang dipimpin oleh Uchiha Shisui.
Bagi yang bingung sama ceritanya, yah wajar sih soalnya saya mengambil jalur luar ketimbang melibatkan Naruto secara langsung dengan Nightraid. Toh saya memang ingin membuat cerita yang berbeda.
Ah iya, bagi yang tidak tahu siapa itu Nikolai Tesla, ia adalah fisikawan jenius yang kepintarannya mengalahkan seorang Thomas Alfa Edison. Lebih lengkapnya cari aja di google.
Mengapa saya masukan Tesla disini? sebenarnya saya sangat menghormati kejeniusan orang ini. sayangnya karena beberapa hal dia mengalami nasib tragis sehingga kejeniusannya tidak terdengar seperti kejeniusan seorang Edison, karena itu saya masukan doi ke dalam cerita saya.
Sehabis ini saya akan mengerjakan Tales of Tails Heroes.
dan bila ada kata-kata yang ingin disampaikan, tulis saja di review ya.
Sayonara!
