What the—
Story by Datgurll
Infires by Eggnoid from Webtoon
.
.
.
Selamat membaca!
Chapter 3
.
.
.
Panas
Hari ini cuacanya panas sekali.
Taehyung merebahkan dirinya di atas lantai, menyalakan pendingin ruangan dan kipas angin secara bersamaan—mungkin jika sang ibu ada disini, ia pasti sudah mengomel habis-habisan. Sekedar informasi, sifat bawel Kim Taehyung itu menurun dari sang ibu.
Pemuda itu memiringkan kepalanya ke kanan, menemukan Jungkook yang sedang membaca buku-buku bacaan miliknya. Buku-buku yang ia belikan memang belum sepenuhnya di baca oleh Jungkook, terkadang pemuda itu hanya tertarik untuk melihat gambarnya saja.
Kemudian Taehyung memiringkan kepalanya lagi ke kiri, menemukan telur milik Jungkook yang sengaja ia letakkan di ruang tamu (dengan alasan terlalu sempit jika di letakkan di kamarnya). Padahal, ruangan di rumahnya itu banyak sekali yang tidak terpakai.
Bosan.
Biasanya, Taehyung akan pergi main ke rumah Yoongi jika sudah tidak ada pekerjaan seperti ini. Pasti dia akan bermain dengan adik laki-laki Yoongi, dan berakhir dengan adik Yoongi yang menangis akibat kalah bermain game.
Tapi sekarang, mana bisa ia pergi seenaknya? Masa mau meninggalkan Jungkook sendirian? Bisa-bisa saat ia pulang, rumah satu-satunya itu berubah menjadi abu.
Monopoli? Bosan. Nonton televisi? Bosan. Ikut Jungkook membaca buku? Itu akan lebih membosankan lagi, menurutnya.
"Ah, aku bosan" Taehyung menguap lebar, menoleh lagi pada Jungkook. "Jungkook, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan? Aku bosan dan butuh sedikit hiburan!" Pintanya, dengan nada yang menyebalkan dan sedikit memaksa.
Jungkook menoleh. "Bosan?" Ia memasang raut wajah bingung.
"Lupakan saja" Taehyung mengalihkan pandangannya dari Jungkook. "Percuma menjelaskan sesuatu kepadamu, kau belum tentu memahaminya dengan cepat. Dasar anak ayam, entah aku harus menyebutmu polos atau bodoh, keduanya hanya berbeda tipis" Ocehnya.
Keduanya terdiam setelah itu. Taehyung yang memejamkan mata dan Jungkook yang terdiam, masih bingung dengan maksud dari kata bosan.
Ayolah, otak jenius Kim Taehyung tidak akan pernah kehabisan ide.
"Ah!" Taehyung memekik, ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk kemudian memandang Jungkook dengan tatapan berbinar-binar. "Jungkook! Mari kita pergi ke taman kota! Letaknya tidak terlalu jauh dari sini!"
Yeah, taman kota.
Tempat terakhir kali Taehyung bermain dengan sang kakak, setelah itu ia tidak pernah lagi pergi kesana (karena ia tidak mungkin mengajak Yoongi, Yoongi berkata kalau ia tidak pernah sudi menginjakkan kakinya di tempat kekanak-kanakan seperti itu).
"Taman kota?" Jungkook mengulang dengan tatapan bingung.
Taehyung mengangguk, buru-buru ia berlari menuju lantai atas, dimana kamar tidurnya berada. Tak lama kemudian ia kembali dengan beberapa pakaian di kedua tangannya.
"Karena ukuran tubuhmu sama dengan kakakku, maka hari ini aku akan meminjamkanmu semua pakaian kakakku!" Taehyung menjatuhkan baju-baju itu sembarangan ke atas lantai, memilih-milih pakaian mana yang akan di kenakan oleh Jungkook.
Baju pendek? Tidak. Kemeja? Itu bagus, tapi dia rasa tidak akan cocok jika digunakan disaat cuaca sedang panas-panasnya begini. Sweater? Tidak! Bisa-bisa Jungkook melepasnya begitu saja karena kepanasan. Jaket musim dingin? Yeah, Taehyung tidak sebodoh itu.
Oh, bagaimana kalau memperpadukan long coat dengan kemeja?
Ck, benar-benar bodoh, ia berkata kalau kemeja tidak cocok untuk cuaca panas, tapi ia malah menggabungkan long coat dengan kemeja. Ternyata julukan autis dari Yoongi untuknya benar-benar sangat cocok sekali.
Taehyung menendang semua pakaian baru milik kakaknya, mencoba menemukan long coat berwarna biru tua. Pemuda itu tersenyum ketika menemukannya, senyumnya bertambah lebar begitu mengetahui ukurannya sangat pas untuk tubuh Jungkook.
"Nah, kau pakai ini dulu" Taehyung memungut kemeja putih yang terinjak oleh kakinya. "Setelah itu kau harus memakai ini, pasti penampilanmu akan jauh lebih tampan dari biasanya!"
Tampan, ya?
Jungkook hanya mengangguk, menurut, tanpa aba-aba langsung membuka kaos yang ia kenakan, di depan Taehyung.
"YA!" Taehyung buru-buru menahan Jungkook. "Jangan membukanya disini! Kau bisa membuat jantungku meledak tau! Aku akan ke dapur dulu, kau pakai ini oke?"
"Hu'um~" Jungkook mengangguk, menerima kemeja putih yang di berikan oleh Taehyung.
Setelah itu, Taehyung berbalik dan meninggalkan Jungkook menuju dapur. Taehyung menghela nafasnya panjang, sampai kapan ia harus merawat Jungkook? Sampai tua? Astaga, Taehyung benar-benar ingin agar Jungkook cepat-cepat dewasa (dia memang sudah dewasa).
Menunggu hampir sepuluh menit, Taehyung memutuskan untuk menghampiri Jungkook karena bosan tidak melakukan apa-apa di dapur, ia pergi ke dapur hanya karena tidak mau melihat tubuh Jungkook secara langsung. Ketika ia sampai diruang tengah, Taehyung melebarkan matanya, mulutnya menganga.
"Mama~" Jungkook memajukan bibirnya. "Bagaimana?" Rengeknya, menunjuk kancing-kancing kemeja yang belum terpasang dengan wajah frustasi.
Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Perlahan ia mendekat ke arah Jungkook, mencoba untuk tidak melirik apapun selain kancing kemeja Jungkook.
Demi Min Yoongi yang lebih galak dari guru fisikanya dulu, Jungkook terlihat berkali-kali lipat lebih hot dari yang biasanya, apalagi dengan kemeja yang belum terkancing dengan benar, memperlihatkan tubuhnya yang terbilang sangat sempurna (padahal ia sudah sengaja pergi ke dapur agar tidak melihat tubuh Jungkook).
"Perhatikan ini, lain kali kau harus melakukannya sendiri!" Taehyung membawa kedua tangannya untuk memasang kancing kemeja Jungkook, matanya bergerak gelisah, mencoba untuk tidak memperhatikan apapun.
Andai ada seorang wanita di antara mereka, pasti wanita itu mengira kalau mereka berdua adalah pasangan pengantin yang baru menikah beberapa bulan, terlihat sangat romantis dan membuat siapapun iri.
"Nih, sudah selesai" Taehyung memukul dada Jungkook pelan, memungut long coat yang tergeletak di lantai. "Kalau panas tinggal kau buka saja, oke? Tapi jangan meninggalkannya di sembarang tempat!" Ingatnya.
Jungkook mengangguk, membiarkan Taehyung memakaikan long coat itu ke tubuhnya. Rasanya agak panas memang, tapi Jungkook senang sekali jika Taehyung yang memakaikannya.
Selesai.
Taehyung tersenyum puas melihat karyanya, Jungkook memang berbakat sekali menjadi seorang model, tubuh serta wajahnya benar-benar mengalahkan model manapun (yang pernah ia lihat tentu saja).
"Kau tunggu di luar saja, ya? Aku akan berganti pakaian!" Taehyung buru-buru berlari lagi ke kamarnya, tidak perduli kalau ia bisa saja jatuh dan terluka akibat berlari-lari menaiki anak tangga seperti itu.
.
.
.
.
Dalam perjalanan, Taehyung tiada hentinya menarik Jungkook agar tetap berada disisinya, Jungkook benar-benar duplikat seorang anak kecil, tidak bisa diam di satu tempat dan selalu mengikuti apa yang menurutnya menarik.
Jangan sampai ia kehilangan Jungkook lagi, apalagi hari ini ramai, bisa-bisa ia kebingungan mencari Jungkook di tengah keramaian orang-orang.
"Jungkook, duduk yang tenang!" Taehyung memperingati. "Kau sudah tau kalau mencari tempat duduk itu susah! Jangan kemana-mana atau tempat dudukmu akan di ambil orang!"
Taehyung memilih bus sebagai kendaraan mereka, jarak halte dari rumahnya tidak jauh, jadi ia tenang-tenang saja. Selama perjalanan pula, semua orang tidak melepas pandangannya dari Jungkook, memandang anak ayam itu dengan tatapan kagum, suka atau apalah ia tidak mau tau.
"Mama~ Lapar~" Rengek Jungkook, memasang wajah merajuknya.
"Mwo? Lapar?" Taehyung mengulang. "Baru saja kau makan hampir tiga piring tadi pagi dan sekarang kau lapar? Astaga, benar-benar dalam masa pertumbuhan" Gumamnya.
"Makan~"
"Sabar, bus ini sesak sekali dan tempat tujuan kita masih sedikit jauh!"
"Makannnn~"
"Ishh! Berisik!" Taehyung mendengus kesal. "Diam saja! Nanti kita akan mampir di tempat langgananku! Okay?!" Omelnya penuh penekanan dan penegasan.
Jungkook memajukan bibirnya sejenak, pemuda itu mengedarkan pandangannya, raut wajahnya berubah heran ketika menyadari penumpang wanita disana tidak melepas pandangan darinya sedikitpun, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa semua orang memperhatikannya.
Taehyung menyadari hal itu, dengan wajah kesal ia merogoh saku celananya kemudian langsung menutupi wajah Jungkook menggunakan sapu tangannya, dalam hati ia bersorak gembira karena perempuan-perempuan itu tidak lagi bisa memperhatikan wajah tampan Jungkook.
Si pemilik wajah? Tambah kebingungan karena tiba-tiba pandangannya menjadi gelap gulita.
.
.
.
.
"Bagaimana? Enak?"
Jungkook mengangguk cepat, menghabiskan ramyun miliknya yang ke tiga. "Enak~" Katanya, menikmati kuah ramyun yang hangat melewati tenggorokannya.
Taehyung mengaduk-aduk kuah ramyun itu menggunakan sumpit, ia sudah selesai makan sejak lima belas menit yang lalu. "Nafsu makanmu besar sekali. Kalau begini caranya, jadwal belanjaku akan lebih sering dari bulan-bulan yang lalu" Ujarnya, memandang Jungkook dengan tatapan malas.
Untungnya, Taehyung masih punya uang simpanan yang cukup banyak, jadi ia tak perlu repot-repot memikirkan uangnya akan habis dalam waktu dekat. Warisan yang di tinggalkan keluarganya memang tidak bisa di bilang sedikit, semua tersimpan dengan baik di bank.
Bukan berarti Taehyung bisa bersantai, ia juga harus mencari pekerjaan karena uang yang ia miliki tak selamanya ada di tangannya.
"Selesai~" Jungkook tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi kelincinya. "Jungkook kenyang~" Tambahnya, mengelus perutnya sendiri.
"Tentu saja kau kenyang, kau menghabiskan tiga piring ramyun" Taehyung menggelengkan kepalanya. "Mungkin aku harus memberimu kentang rebus atau nasi agar cepat kenyang, kau bisa membuatku bangkrut kalau begini terus"
Setelah membayar semua makanan, Taehyung menarik tangan Jungkook agar segera pergi dari restoran itu. Mereka memang sengaja pergi ke restoran dulu saat baru sampai di tempat tujuan, itu lebih baik daripada Taehyung harus mendengar rengekan-rengekan menyebalkan dari Jungkook.
Keduanya berjalan berdampingan, ternyaa hari ini tidak terlalu ramai seperti hari sebelumnya, mungkin karena semua orang sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas mereka masing-masing.
Sesampainya di depan gerbang taman kota, Taehyung berhenti sejenak kemudian berbalik, ingin memandang Jungkook dengan tatapan serius.
"Jungkook, dengarkan aku!" Katanya, penuh penekanan. "Jangan main jauh-jauh, jangan tinggalkan aku dan jangan mengikuti apapun yang menurutmu menarik, meng—"
Terlambat, Jungkook sudah tidak berdiri di hadapannya.
Taehyung mengedarkan pandangannya, geram sekali ia rasanya, berbicara sendiri dan membuat semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. "Kemana anak itu? Baru saja mau aku—"
"Mama!" Jungkook berteriak, menunjuk-nunjuk balon gas yang di jual oleh pedagang balon. "Jungkook mau!" Tambahnya, tidak bisa menyembunyikan raut senangnya.
Perasaan geram serta emosi yang ada di benak Taehyung langsung menghilang, dia tertawa lebar mendapati wajah Jungkook yang berseri-seri hanya karena sebuah balon. Astaga, Jungkook terkadang memang menggemaskan.
Tanpa berkata apapun, Taehyung mendekati si penjual balon tersebut sambil merogoh saku celananya, mengambil beberapa lembar uang untuk membelikan Jungkook dua balon sekaligus.
"Terima kasih~" Ujar Taehyung pada si penjual, ia tersenyum lebar kemudian memberikan dua benang balon itu kepada Jungkook. "Kau dapat dua sekaligus dariku, pegang erat-erat dan jangan sampai terlepas, oke?"
Jungkook menerima itu dengan wajah senang, ia mengangguk-anggukan kepalanya cepat. "Terima kasih, mama! Jungkook akan memegangnya dengan erat!" Ucapnya, memandang kagum kedua balon itu.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan. Taehyung tersenyum melihat anak-anak kecil yang berlarian di sekitarnya, mengingatkannya akan masa kecilnya dulu, tepat saat dimana dirinya selalu bermain bersama dengan sang kakak.
Taman kota ini memang terlalu menyimpan banyak kenangan untuk Taehyung, ia bahkan masih mengingat jelas acara jalan-jalan mereka sekeluarga, terlalu sulit untuk di lupakan.
"Oh!" Jungkook memberhentikan langkahnya. "Mama! Itu~" Dia menunjuk beberapa mainan anak kecil; perosotan, ayunan, mangkok putar dan beberapa permainan lainnya.
"Kau mau bermain? Pergilah" Taehyung duduk di sebuah bangku yang letaknya tak jauh dari sana. "Aku akan menunggumu disini, tapi kau jangan main jauh-jauh ya?"
Jungkook mengangguk. "Tolong pegangi!" Ia memberikan dua benang balon tersebut pada Taehyung, setelah itu langsung berlari pada tujuannya, tidak perduli sepatunya yang langsung kotor akibat pasir.
Taehyung tersenyum, ia memandang sosok Jungkook yang menaiki tangga perosotan satu-persatu, bahkan beberapa anak kecil ikut bermain dengannya. Astaga, sebenarnya umur Jungkook itu berapa? Badan dan sifatnya berbeda terlalu jauh, ia terlihat seperti seorang ayah yang bermain dengan anak-anaknya.
Anak? Hah, Taehyung jadi mengingat mimpi itu kembali.
Apa benar Jungkook akan menjadi suaminya di masa depan? Seorang pemuda yang keluar dari telur, tidak bisa melakukan apapun, akan menjadi pemimpin keluarganya di masa depan? Taehyung meragukan hal itu.
Sebenarnya siapa yang mengirim telur aneh itu, dan apa tujuannya?
Pandangan Taehyung tidak lepas sedikitpun dari Jungkook, menatap pemuda yang kini beralih bermain ayunan, tertawa gembira ketika beberapa anak kecil mendorong ayunan itu hingga lebih tinggi lagi.
Senyuman Jungkook itu—dia tampan.
Taehyung tiba-tiba tersenyum tipis, setidaknya ia berterima kasih karena Jungkook hadir dalam kehidupannya, membuat dirinya tidak kesepian lagi. Hidupnya yang begitu-begitu saja langsung berubah semenjak kedatangan Jungkook, terasa lebih baik, ia rasa.
"Oh, jadi beginilah seorang flower boy setelah lulus dari sekolah, menjadi seorang baby sitter, eoh?"
Mendengar suara itu, Taehyung buru-buru mendongak, mendapati seseorang sudah berdiri di hadapannya, memberikannya senyum aneh. Seorang pemuda menggunakan kaos panjang berwarna putih yang di gulung sampai lengan, memakai jeans serta sneakers berwarna merah.
"Hum, kau siapa?" Reflek Taehyung bertanya.
"Astaga, kau tidak mengingatku?" Pemuda itu duduk di sebelah Taehyung, menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Kau lulus sekolah belum lama, kenapa sudah melupakanku secepat itu?" Ujarnya lagi.
Taehyung mengernyit, berusaha mengingat wajah pemuda di sampingnya. Dia memandang pemuda itu dari atas hingga bawah, apa benar ia mengenal orang ini?
Oh—
"Kau siapa?"
Pemuda itu memutar bola matanya. "Aku pikir kau mengingatku, Tae! Aku ini Park Jimin! Masa kau melupakan sahabatmu sendiri, sih? Kau jahat sekali!"
Taehyung menganga sejenak, berusaha mencari nama Park Jimin di memori otaknya.
"Ah—" Taehyung memekik. "—kau siapa? Aku benar-benar tidak mengingatmu" Lanjutnya, dengan nada serta raut wajah yang begitu datar.
Jimin menepuk jidatnya keras. "Yasudah, kalau begitu mengingatnya nanti saja. Sekarang, apa yang kau lakukan disini eoh? Membawa balon segala, apa kau sekarang menjadi baby sitter? Kenapa tidak bilang-bilang padaku?"
"Kenapa aku harus bilang padamu?" Taehyung berbalik bertanya. "Aku tidak mengingatmu, jadi bukankah tidak salah jika aku tidak memberitahumu apapun tentang kehidupan dan pekerjaanku?" Tanyanya lagi.
"Well, itu tidak masalah" Jimin mengangkat kedua bahunya. "Kau kesini dengan siapa? Keponakan? Tetangga atau kekasihmu?"
Taehyung mendelik. "Jangan karena kita dulu itu bersahabat, kau bisa seenaknya bertanya-tanya hal seperti ini padaku. Maaf saja, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu" Jawabnya, terlihat jengkel sekali.
Jimin tertawa kecil. "Baiklah, maafkan aku"
Kemudian keduanya terdiam. Taehyung enggan berbicara apapun sementara Jimin menyandarkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya di sekitar penjuru taman.
Jimin sesekali melirik Taehyung, tidak ada yang berubah sama sekali dari sahabat lamanya itu, ia masih tetap menggemaskan seperti saat masa-masa sekolah. Si Flower Boy yang selalu di dekati oleh banyak wanita.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Jimin tersentak. "Aku hanya tidak percaya bisa bertemu denganmu disini. Tapi, aku kecewa juga, kau tidak mengingatku"
Taehyung mendengus. "Maaf, tapi aku butuh waktu untuk mengingat dirimu dengan jelas, dan tolong, jangan berikan aku tatapan seperti itu, kau membuatku risih sekali" Ujarnya.
Jimin ingin tertawa, namun hal itu tidak tersampaikan ketika seseorang berlari dan berhenti di hadapan Taehyung.
"Oh, Jungkook" Taehyung tersenyum kecil. "Sudah selesai bermainnya? Apa kau kepanasan?" Tanyanya, memperhatikan keringat yang mulai membasahi kening Jungkook.
"Iya, panas" Jungkook mengangguk cepat. "Benar-benar panas!"
Jimin menautkan alisnya, memperhatikan pemuda aneh itu dari atas hingga bawah. Kalau boleh jujur, penampilannya oke juga, seperti model yang sering ia lihat di majalah-majalah terbaru. Tapi, siapa pemuda ini? Kenapa ia mengenal Taehyung?
Taehyung memberikan kedua benang balon kepada Jungkook. "Bagaimana kalau kita beli es krim? Mungkin es krim akan membuat tubuhmu sedikit sejuk, ruangan disana juga lumayan dingin. Bagaimana?"
"Es krim!" Jungkook tertawa lebar. "Ayo~"
"Tunggu sebentar" Taehyung beranjak dari posisinya kemudian memandang Jimin. "Errr, aku harus pergi, aku harap kau memaafkanku karena aku tidak mengingatmu. Lain kali aku akan menghubungimu jika sudah mengingat siapa dirimu"
Jimin tersenyum tipis. "Bagaimana kau menghubungiku? Bahkan nomor ponsel saja tidak punya"
"Yeah, pokoknya kita mungkin akan bertemu lagi" Taehyung memutar bola matanya, begitu jengah. "Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa lagi!"
Setelah mengatakan itu, Taehyung buru-buru menarik Jungkook untuk segera pergi dari sana. Jimin memandang mereka berdua dengan tatapan aneh sekaligus penasaran, bertanya-tanya ada apa hubungan antara Taehyung dengan pemuda bernama Jungkook itu.
Well, Park Jimin tidak akan tinggal diam, ia akan mencari tau siapa Jungkook itu.
.
.
.
.
"Ssshhh—" Jungkook memejamkan matanya begitu merasa ngilu pada gigi kelincinya.
Taehyung memandangnya dengan tatapan aneh. "Jangan mengunyah es krimnya, Jungkook! Itu akan membuat gigimu ngilu, tidak baik juga untuk gigi dan gusimu!" Ujarnya memberitahu.
Tapi memang dasarnya Jungkook itu tidak mengerti, ia hanya mengangguk namun tetap melakukan hal yang sama—mengunyah es krim yang penuh dalam mulutnya.
"Huft" Taehyung menghembuskan nafasnya. "Kau ini keras kepala sekali, kenapa tidak mau mendengarkan omonganku eoh? Apa benar-benar mau sakit gigi? Rasanya tidak enak, Jungkook! Kau harus percaya itu!"
"Jungkook percaya" Hanya itu yang keluar dari bibir Jungkook.
"Terserah kau saja deh" Taehyung menggelengkan kepalanya. "Pokoknya ini es krim yang terakhir! Jangan minta tambah apalagi sampai pakai acara menangis, karena aku akan meninggalkanmu jika hal itu sampai terjadi! Mengerti?"
Oke, sekali lagi, Taehyung menyesal sekali membawa Jungkook ke tempat-tempat seperti ini. Nafsu makan Jungkook memang tidak bisa di ragukan, kalau tadi ia memesan ramyun sampai tiga mangkok, kini anak ayam itu memesan es krim vanilla sampai dua kali.
Kalau begini caranya, Taehyung bisa kehabisan uang dalam waktu satu atau tiga hari. Andai saja Yoongi tau, pasti sahabatnya itu langsung memaki-makinya, mengatakan kalau uang itu tidak mudah untuk di cari.
"Mamaa~" Jungkook menjulurkan tangannya. "Aaakkk~"
"Eh?" Taehyung terkejut melihat sendok dengan es krim di atasnya, sudah ada di hadapannya. "Aku sedang tidak mood makan es krim, kau saja yang makan, Jungkook" Tolaknya halus, ia sedang jujur saat ini, kawan.
"Aaaak!" Jungkook tetap memaksa, menyodorkan sendok itu terus-menerus agar Taehyung mau memakannya.
"Baiklah—" Taehyung membuka mulutnya dan menerima es krim yang Jungkook sodorkan untuknya. "—dingin sekali, kau bisa terkena flu setelah ini, kemudian aku yang repot" Katanya, merasakan sensasi dingin dari es krim vanilla itu.
"Kenapa flu?" Jungkook bertanya, memasang wajah polosnya.
"Karena kau makan terlalu banyak es krim, tentu saja" Jawab Taehyung, buru-buru mengalihkan pandangannya dari tatapan Jungkook.
"Kenapa repot?"
"Karena kau akan membuatku kesusahan hanya untuk mengurus anak ayam sepertimu, padahal kau sudah dewasa"
"Kenapa—"
"Hey! Kenapa kau terus bertanya sih?!" Taehyung mendengus kesal. "Pokoknya kau tidak boleh sampai terkena flu! Apalagi demam! Diam dan jangan melontarkan semua pertanyaan yang menumpuk di dalam otakmu padaku! Aku bukan orang yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan!" Balasnya galak.
Seketika, seluruh pengunjung yang duduk di sekitar mereka langsung menoleh, berpikir kalau Taehyung jahat sekali karena sudah berani berbicara keras pada pemuda tampan seperti Jungkook (Terlihat seperti seorang kekasih yang sedang bertengkar).
Taehyung yang menyadari kalau mereka berdua menjadi pusat perhatian langsung pura-pura tersenyum manis pada Jungkook. "Ahhh, kau ini tampan sekali hari ini~ Ini es krim untukmu~ katakan aaaaa~~"
Jungkook? Kebingungan, menerima es krim yang Taehyung sodorkan padanya.
Setelah tidak lagi menjadi pusat perhatian, Taehyung meletakkan sendok es krim itu dengan tatapan sebal. Pemuda itu menopang dagunya menggunakan satu tangannya, memandang Jungkook yang juga sedang memandangnya dengan tatapan bingung.
"Coba kau katakan sesuatu, Jungkook" Pintanya.
Jungkook memiringkan kepalanya. "Mama?"
"Tidak, bukan mama" Taehyung memutar bola matanya. "Coba kau jawab ini, selain aku, siapa orang yang kau kenal? Sebelum kau muncul di hadapanku" Lanjutnya, memberikan tatapan penasaran.
Barangkali ia bisa mendapat informasi penting, mungkin juga Jungkook mempunyai kenalan lain selain dirinya, orang yang mengirimkan telur itu padanya mungkin?
Jungkook terdiam sejenak, memasang wajah berpikir. "Tae—"
"Eits, kau mau menyebut namaku ya?!" Taehyung memberikan tatapan tajam pada Jungkook. "Yasudah, lupakan saja! Kau memang benar-benar tidak tau apapun semenjak muncul di hadapanku. Maaf, Jungkook, aku hanya penasaran saja" Taehyung tersenyum tipis.
Jungkook memandang Taehyung lagi, dengan tatapan kebingungan. "Mama?"
"Iya, aku mamamu" Taehyung menampilkan deretan giginya. "Silahkan lanjutkan makan es krimnya, maaf aku menganggumu! Setelah ini kita akan pergi kemanapun yang kau mau, menarik bukan?" Tawarnya.
"Uhm?" Jungkook melebarkan matanya. "B-benar?"
Taehyung tidak bisa menahan tawanya, ia mengangguk. "Tentu saja, hari ini aku sedang berbalik hati padamu, Jungkook!"
Well, sebenarnya ia hanya sedang dalam keadaan badmood saja.
.
.
.
.
Setelah seharian melakukan perjalanan, Taehyung memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore. Mereka berjalan berdampingan di tengah keramaian pejalan kaki, tangan mereka bertautan erat agar tidak terpisah (Jungkook yang meminta dan Taehyung menyetujuinya).
Jungkook sibuk melihat apapun yang berada di sekitarnya, terlalu penasaran pada apa yang menurutnya menarik; lampu jalanan, lampu warna-warni di toko dan badut-badut yang menggemaskan.
Taehyung? Ia memilih untuk diam, mencoba untuk mengingat siapa sosok Park Jimin itu. Apa benar mereka pernah saling mengenal? Astaga, kemampuan mengingatnya memang lemah sekali, Taehyung juga sangat menyadari hal itu.
Dan soal Flower Boy, ia memang tidak bisa mengelaknya. Sewaktu masa sekolah, Taehyung memang menjadi salah satu siswa dengan julukan tersebut, senang di dekati oleh banyak siswa, perempuan maupun laki-laki. Alasannya? Karena Taehyung itu murah senyum dan gampang sekali akrab dengan orang lain, ia juga sering membantu teman-temannya yang kesusahan.
Tidak percaya? Silahkan tanyakan ke Yoongi, pemuda itu sampai mengeluh akibat terus-terusan berada di kelas yang sama dengan Taehyung setiap kenaikan kelas. Untungnya, mereka tidak sebangku, Yoongi menolak mentah-mentah untuk duduk dengan Taehyung saat wali kelas mereka mengadakan tempat duduk bergiliran. Katanya, setiap jam istirahat Taehyung sering di dekati oleh banyak siswa dan itu sungguh berisik sekali.
Park Jimin, ya? Kenapa Taehyung sulit sekali untuk mengingatnya?
"Mama~"
Taehyung tersentak, ia menoleh dan menemukan mereka sudah ada di tempat penyebrangan jalan, bersama orang-orang yang ingin menyebrang juga. "Eoh? Ada apa? Apa kau kebelet pipis?" Tanyanya, heran.
Jungkook menggeleng, menunjuk lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah, artinya bahwa para pejalan kaki belum boleh menyebrang jalan. Namun justru dua benang balon yang di pegang Jungkook tidak sengaja terlepas akibat perubahan tangannya karena reflek.
"HUH?!" Jungkook terkejut, memandang ke dua balon miliknya yang mulai terbang menjauhinya. "Mama! Balon!" Pekiknya, rasa panik langsung memenuhi pikiran pemuda tampan itu.
Taehyung menghembuskan nafasnya. "Kan sudah aku bilang kau harus pegang itu erat-erat! Sudah, biarkan saja! Kapan-kapan kita akan beli yang—"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Taehyung mendapati Jungkook berlari dengan nekat melewati garis putih zebra cross. Kedua mata itu membulat dengan sempurna, lampu masih menunjukkan warna merah dan semua orang mulai berteriak panik.
NO! Taehyung bisa melihat jelas sebuah mobil yang melaju kencang ke arah Jungkook, bahkan mobil itu sudah membunyikan klaksonnya berulang kali!
"Orang itu akan tertabrak!"
"Siapa saja! Tolong selamatkan dia!"
"Astaga! Apa yang ia lakukan?!"
Dan masih banyak teriakan panik dari orang-orang.
"Dasar idiot!" Taehyung tidak perduli lagi, ia berlari menuju ke arah Jungkook yang sedang melompat untuk menggapai benang balon miliknya (belum terlalu tinggi). Pemuda itu memejamkan matanya, mencoba menulikan suara-suara orang yang berteriak panik kepadanya.
Seperti gerakan slow motion, Taehyung menjulurkan tangannya untuk mendorong punggung Jungkook, mendorongnya sejauh mungkin agar tidak tertabrak oleh mobil yang melaju ke arahnya.
BRUK!
Keadaan hening, para pejalan kaki memilih untuk menutup mulut mereka walau lampu sudah berubah menjadi warna hijau. Mobil yang melaju dengan cepat tadi juga berhenti, mengucapkan maaf berkali-kali dengan wajah penuh penyesalan.
"Mama?"
Kim Taehyung, membuka kedua matanya perlahan, mencoba berpikir apa dirinya sudah berada di surge atau belum dan berpikir apa Jungkook baik-baik saja atau justru—
PLAK
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Jungkook dalam hitungan detik.
"K-KAU!" Taehyung menggigit bibir bawahnya dengan keras, menyebabkan bibir itu terluka dan mengeluarkan darah segar. "KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! BISAKAH KAU BERPIKIR DENGAN BENAR UNTUK SEHARI SAJA?! JANGAN KARENA KAU BODOH JADI KAU BERPIKIR KALAU AKU BISA SELALU MELINDUNGIMU!"
Mendengar teriakan Taehyung, tidak ada yang berani mendekati mereka, apalagi sampai berbicara. Semua mobil yang berhenti tidak melakukan protes apapun.
Demi Tuhan, keadaan macam apa yang seperti ini?!
"Mama?" Jungkook menyentuh pipinya yang terasa sakit, kedua matanya memandang sosok Taehyung yang berada di hadapannya, memandang bulir-bulir air mata yang mulai mengalir dari kedua mata cantiknya. "Jungkook—bodoh?"
Taehyung terus menggigit bibir bawahnya, menghapus air matanya secara kasar. Apa yang telah ia lakukan? Mengapa ia membentak Jungkook? Seharusnya ia tak melakukan itu, Jungkook tidak bersalah sepenuhnya. Jungkook hanyalah pemuda polos dan lugu, keluar dari dalam telur aneh dan perlu banyak belajar.
Ini salahnya, salahnya karena tidak bisa menjaga Jungkook dengan benar. Sekarang, apa ia masih pantas di panggil mama oleh Jungkook? Bahkan dia sudah menampar Jungkook dengan keras, sampai berbekas merah begitu.
"Tidak—" Taehyung memeluk tubuh Jungkook dengan erat. "Kau tidak bodoh, kau tidak bodoh. Maafkan aku, Jungkook! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku benar-benar minta maaf!" Ujarnya penuh penyesalan, menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook.
Jungkook menatap bingung pada semua orang yang memperhatikan mereka, kemudian ia menatap rambut Taehyung, mengajak pemuda itu untuk segera berdiri (karena ia merasa kalau tindakannya duduk di tempat itu adalah kesalahan).
"Mama?" Jungkook melepaskan pelukan Taehyung. "Kenapa menangis?"
"Aku khawatir padamu, idiot!" Taehyung memajukan bibirnya, terisak-isak. "Jangan lakukan itu lagi ya? Aku akan membelikanmu banyak balon asal kau tidak membuatku takut dan panik seperti tadi!" Ujarnya.
Jungkook tertawa kecil. "Jungkook mengerti~"
.
.
Mendengar itu, Taehyung ikut tersenyum, mengenggam tangan Jungkook erat kemudian buru-buru meninggalkan tempat itu. "Maafkan aku ya, Jungkook? Pasti tamparan itu sakit sekali, aku akan mengompresnya di rumah nanti!"
"Umm, ini sakit sekali~"
"Maka dari itu aku minta maaf. Aku jadi malu menangis di tempat umum seperti tadi, bibirku juga perih sekali! ini semua gara-gara kau! Anak ayam! Kau harus minta maaf padaku saat sampai ke rumah! Pokoknya kau yang salah!"
Yeah, begitulah pada akhirnya. Mereka berdua meninggalkan para pejalanan kaki dan pengendara mobil dengan begitu mudahnya, tanpa mengucapkan maaf atau apapun. Mereka semua yang menonton merasa seperti habis menonton sebuah drama asia.
.
.
.
.
[Bagian yang hilang; mandi bersama]
Taehyung mendengus malas, menatap Jungkook yang sedang bermain bebek-bebek mainan di dalam bathup. "Mau sampai kapan berendam disitu? Kau hampir menghabiskan sampo kesayanganku! Harganya tidak murah kalau kau mau tau!" Omelnya, mengingat kalau Jungkook menghabiskan setengah samponya yang masih penuh alias baru beli.
"Wangi~" Jungkook terkekeh, menunjukkan bebek-bebek kecil itu pada Taehyung.
"Memang wangi, kok!" Taehyung membalasnya dengan tatapan enggan. Ia sudah selesai mandi sejak tadi, bahkan sudah berpakaian. Tapi karena Jungkook tidak berani di tinggal sendirian, akhirnya mau tidak mau Taehyung harus menemani anak ayam itu.
Tenang saja, Jungkook mandi menggunakan celana pendek kok! Jadi sudah aman, Taehyung rasa.
Taehyung menghela nafasnya. "Sudah yuk? Kau bisa sakit kalau terlalu lama berendam dalam air!" Katanya, berjalan mendekat ke arah Jungkook untuk membuka penutup saluran air, membiarkan air itu berkurang agar Jungkook segera keluar dari sana.
"Tidak!" Jungkook memajukan bibirnya. "Tidak mau!"
"Apanya yang tidak mau?!" Taehyung mengembungkan pipinya kesal. "Menurut padaku sehari saja, Jungkook! Aku lelah menunggumu mandi! Terlalu—"
"TADAAAA~"
Dalam hitungan detik, Jungkook menarik tangan Taehyung secara tiba-tiba, membuat keseimbangan pemuda bergolongan darah AB itu goyah kemudian berakhir dengan terjatuh ke dalam bathup bersama dengan Jungkook.
Akibatnya, pakaian Taehyung yang sudah kering menjadi basah semua, terlebih lagi—DIA BERADA DI DALAM BATHUP YANG SAMA DENGAN JUNGKOOK! DAN DIA DUDUK DI ATAS PAHA JUNGKOOK! OH MY GOD!
"ANAK AYAAAMMMM!" Taehyung berteriak. "KAU MEMBUAT BAJUKU—"
"Ini baru namanya mandi bersama~~" Jungkook memotong kalimatnya, pemuda itu tersenyum lebar sambil mengguyur Taehyung menggunakan sebuah ember kecil yang ia gunakan untuk bermain bersama dengan bebek-bebek itu.
Taehyung bungkam. Mandi bersama katanya tadi?
"Seseorang—tidak, Yoongi hyung, tolong bunuh aku. Sekarang"
Bersambung
A/N : HAIII OMG maafkan aku yang kelamaan update TT_TT tugas tidak pernah habis dan tes selalu datang mendadak :( Parahnya lagi, cerita ini semakin ngawur aja -_- maaf banget buat temen-temen yang ngerasa kecewa sama chapter ini. Maklum, otak lagi mentok-mentoknyaaa /bow/
Balas komentar dulu yaa~
bbihunminkook (Iya, sayang cuma mimpi :( Tae itu udah lulus sekolah^^b) | Clou3elf (No way :( Taehyung is mine~ /dibunuh/) | Vookie (Tae mah sok polos gitu, wkwk padahal diem-diem dia suka /lol/) | Jell-ssi (Okay, Tae emang suka gitu. Kenapa pada konek ke terong Jungkook ya? xD Haduh, nanti diusahakan di banyakin lagi deh yaaa^^b) | anoncikiciw (Bagus deh kalau bisa bikin kamu senyum :p tapi jangan kelamaan ya senyumnya wkwk) | utsukushii02 (Cuma mimpi sih ya, jadi ga seru :c) | BaekAeri (Jungkook memang gemesin, tapi hati-hati di balik wajah gemesinnya :p Yoongi memang jahat, untung sayang haha. Jangan kelamaan senyumnya :p Salam kenal juga ya, aku istrinya Taehyung :p) | winachan62 (Sepertinya ke'cabe'an Baekhyun menurun pada sang anak wkwk xD) | IdayatikookieV (Memang gemesin lho :p Iyaa mereka mandi bareng, kamu ga boleh ngintip! Maaf nih baru di lanjut sekarang /senyum polos/) | Oh Deer Han (Wkwk itulah kekuatan tersembunyi dari seorang Jeon Cena xD Tae sampai kelepek-kelepek kayak gitu) | Ansleon (Mungkin karena Tae baru pertama kali liat punya orang /LOLOL APA INI/ Haha, mereka udah kayak barang online aja. Aww, syukur deh kalau gitu :p) | bananona (IYA INI SUDAH DI LANJUT YA BEBS) | kim joungwook (Jungkook berasal dari telur, kemudian telur itu di namakan kind*rj*y wkwk xD Eitss Jungkook masih polos lho disini :c) | hyemi270 (Yoongi memang sadis haha. lol your english is better than mine :c but thanks for review btw :*) | cutebei (Hu'um Tae jahat banget :( Nah kalau soal Yoongi itu seme atau uke aku belum tau deh xD Hei hei pertanyaanmu banyak sekali aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu xD Di tunggu aja kelanjutannya okay?! Jangan khawatir karena aku juga sama cerewetnya kayak kamu :'3) | alientae (Terong? kkk. Sudah di lanjut ya!) | Xxzmn (Kamu pikir Jungkook itu nasi bungkus? xD Iyaa thx sudah di lanjut yaa!) | Fujoshi203 (Dia lebih gemesin dari anak ayam xD Tae memang sudah greget sejak kedatangan anak ayam itu haha xD) | varaxiu991 (Anu apa hayoo? Sudah di lanjut yaa^^) | Guest (Oh tidak bisa :p kalau Jungkook di paketin nanti ff ini ga berlanjut dong wkwk :p Tae gak bakal tua kok :p haha) | Rayeol (Hayooo, jangan jadi siders lagi yaaaa :p huaduhhh Banana Chanyeol :'3 /salah fokus/) | jeunbits (eiyy atuhlah gapapa sok atuh di baca lagi chapter yang ini ya :p sudah di tambahkan ya cuyungg~ Iyap, Jungkook memang seorang seme dan Taekhyung itu uke :'3 Salam kenal ya #TeamTerongJungkook) | Phylindan (Waduh di tunggu aja yaa sampai Jungkook versi dewasanya :p Tae pura-pura lupa kali tuhh wkwk thxx babyy) | PurpleLittleCho (Hayoo coba di baca ulangg biar ngerti :p) | RonaTan (Mari kita paksa Taehyung supaya jujur haha :p sudah di lanjut yaa /wink/) | arisafukushima564 (Eitss tetap seru manga aslinya lhoo :p ini cuma ff abal aja haha :p) | chriseume (Iya gapapaaaa kok :p Lho jadi kamu mau nangis apa ketawaa :p LHOO KOK JADI AKU YANG TANGGUNG JAWAB?! Gak mau :p Iyaa terinspirasinya cuma beberapa bagian saja, lhaaa jangan musuhan dong sama Jungkook, nanti dia nangis gimana? :( NIH KAMU PAS BANGETT SUDAH DI LANJUT YAA MWAHH!)
Okay /tarik nafas/ /buang/, makasih banyak buat kalian yang sudah review/favorite/follow fanfic ini :'3 Nah, kalian kapan memperlihatkan diri wahai para siders? Bercanda, sudah di baca aja aku bersyukur kok /wink pt3/ /lama-kelaman bisa sampe pt100/
Yang bikin aku ngakak baca review kalian adalah.. KENAPA SEMUA MEMBAHAS TERONG?! Aku masih polos kakak :( /padahal dia yang bikin hastag #TeamTerongJungkook/ /plak/ xD Oh iya, aku bingung lho.. Yoongi itu seme atau uke ya? Kalau sama Tae, udah jelas dia seme /smirk/ tapi kalau sama yang lain? ._. jujur aja aku suka dua-duanya wkwk.
Pokoknya mau minta maaf kalau jalan ceritanya semakin aneh plus kebanyakan salah~ Waktuku buat lanjut fanfic ini itu selalu tengah malem (sekitar dari jam 11 malem sampe jam 2 pagi), karena disaat itu ide-ideku numpuk xD Sayang kalau ga langsung di tulis, nanti keburu mentok~
So, masih ada yang penasaran sama kisah antara mereka berdua? Silahkan komentarnya~ Sampai ketemu di chapter depan! #TeamTerongJungkook #TeamTerongChanyeol /EH MAAP-MAAP MALAH NULIS NAMA SUAMI LOL/
