What the—
Story by Datgurll
Infires by Eggnoid from Webtoon
.
.
.
Selamat membaca!
Chapter 4
.
.
.
"Berakhir di rumah kelinci putih, Alice sekali lagi kembali menjadi raksasa dan terjebak di dalam rumah itu. Apa yang dapat ia lakukan? Ia mengambil wortel di kebun dan dengan satu gigitan, sekali lagi ia kembali menjadi kecil, kemudian—"
Jungkook mendengarkan dongeng yang tengah dibacakan oleh Taehyung untuknya. Mereka berdua sedang duduk di halaman belakang, membawa buku-buku bacaan serta benda-benda yang biasa di gunakan untuk piknik. Yeah, kalau kata Taehyung sih itu namanya hemat, tidak perlu jauh-jauh piknik kalau mereka bisa melakukannya di rumah.
"—kelinci putih kabur lagi! Alice mengejarnya melalui kebun dari bunga yang bisa bicara, dan bertemu ulat—hey, apa yang kau lakukan? Kenapa makan terburu-buru begitu?"
Taehyung terpaksa memberhentikan bacaannya karena melihat Jungkook yang sedikit terburu-buru memasukkan satu potong kue langsung ke dalam mulutnya. Cheesecake, kue buatan Taehyung yang sekarang menjadi kue favorit Jungkook.
Jungkook berusaha menelan seluruh kue yang ada di mulutnya. "Kalau Jungkook makan kue, Jungkook akan jadi besar seperti Alice!" Jawabnya sambil tersenyum lebar.
God. Taehyung memutar bola matanya. "Cerita yang aku bacakan ini cuma dongeng, bukan cerita nyata! Kalau kau mau tumbuh besar, kau harus banyak makan, minum susu dan berolahraga, Jungkook!" Katanya menjelaskan.
Melihat cara makan Jungkook, Taehyung jadi gemas sendiri. "Kau ini, kenapa kalau makan selalu berantakan? Kau tau? Terkadang dirimu malah terlihat seperti anak autis daripada anak polos" Komentarnya, mengambil piring datar kue yang sudah kosong dari pangkuan Jungkook.
"Jungkook ingin kue lagi, mama" Ujarnya, memberikan ekspresi merajuk.
Taehyung mengambil selembar tisu kemudian mengusap daerah bibir Jungkook yang penuh dengan krim kue. "Aku akan buatkan lagi, tapi bukan sekarang oke?"
"Kapan?"
"Ummm—" Taehyung memasang ekspresi berpikir. "Minggu depan, bagaimana? Ngomong-ngomong, kau masih mau mendengarkan cerita ini atau tidak?" Tanyanya, kembali ke posisi sebelumnya setelah membersihkan mulut Jungkook.
Jungkook diam, matanya memandang buku-buku bacaannya yang berserakan. "Tapi, Jungkook sudah membaca semua buku ini" Katanya, tak lupa memajukan bibirnya.
Taehyung tertawa kecil. "Lalu kau mau membaca apa? Cerita yang ini saja belum terselesaikan olehmu, kau juga belum menyelesaikan huruf abjadmu" Kata Taehyung, menunjuk buku latihan huruf dan angka. Sebenarnya sih Jungkook sudah hafal, tapi memang dasar Taehyung saja yang berpikir kalau Jungkook benar-benar seperti anak kecil.
"Kalau ini?"
Tatapan mata Taehyung terfokus pada buku yang lumayan tebal sedang berada di tangan Jungkook. "Eitss—" Taehyung buru-buru merampas buku itu dari tangan Jungkook. "Ini itu buku tentang kisah cinta orang dewasa! Kau tidak boleh membaca karena kau masih—"
Jungkook memandangnya dengan ekspresi bingung.
"—Haish, kau itu sudah termasuk dewasa" Taehyung mendengus. "Tapi mau bagaimana lagi? Jika kau membaca ini, kau tidak akan mengerti dengan jalan ceritanya, masa aku mau menjelaskannya secara detail? Tidak, aku tidak tertarik!" Tolaknya mentah-mentah.
"Jungkook mengerti!" Kata Jungkook tegas, ingin memberitahu kalau ia sudah dewasa dan mulai mengerti segalanya. "Jungkook bisa mengerti tanpa harus mama jelaskan!" Lanjutnya lagi, dengan mata berapi-api.
Taehyung tidak perduli, ia membereskan piring-piring kotor dan memasukkannya ke dalam kotak piknik. "Kemudian itu akan berakhir dengan kau yang terus mengikutiku kemana-mana, menanyakan apa yang ada di pikiranmu, bukankah begitu?"
"Tapi—"
"Tidak, Jungkook" Taehyung memandang pemuda itu dengan tatapan enggan. "Hari sudah semakin sore, sebaiknya kita masuk sebelum langit berubah gelap. Tadi, aku melihat laporan cuaca dan mereka bilang malam ini akan terjadi hujan deras"
Ketika Taehyung berjalan meninggalkan Jungkook, pemuda yang sering di panggil anak ayam itu menoleh, melihat buku milik Taehyung yang terletak begitu saja di dekatnya.
Rasa penasaran Jungkook itu terlalu besar, ia akan melakukan segara cara agar rasa penasarannya itu terjawab dengan sempurna. Jadi, Jungkook diam-diam mengambil dan menyembunyikan buku milik Taehyung di antara buku-buku bacaannya.
"Jungkook!" Kepala Taehyung muncul dari balik pintu halaman belakang. "Ah, bagus! Tolong bawa buku-bukumu masuk ya? Aku mau mencuci piring-piring kotor dulu!" Ujarnya memerintah.
Jungkook mengangkat tumpukan buku-buku itu, ia tersenyum lebar kemudian mengangguk. "Ayay! Kapten!"
.
.
.
.
"Mereka sedang apa?"
"Hush—" Taehyung buru-buru mengganti channel televisi. "—aku tidak bisa menjelaskannya padamu, pokoknya itu adegan dewasa!" Lanjutnya, menghela nafas begitu layar televisi berubah menjadi acara musik.
Dia sedang iseng-iseng nonton televisi, tiba-tiba channel yang memperlihatkan adegan kiss muncul. Taehyung terkejut sekali, karena sebenarnya ia juga tidak terlalu suka menonton film ataupun drama-drama yang seperti itu. Dasar zaman sekarang ini, banyak film-film yang sama sekali tidak berpendidikan ataupun mengandung pesan moral yang baik, terlalu berbahaya jika di tonton oleh anak-anak di bawah umur, seperti Jungkook—eh, memangnya usia Jungkook berapa?
"Adegan dewasa?" Jungkook memasang wajah bingung.
"Iya! Kau itu kan masih—" Taehyung menghentikan kalimatnya, menyadari sesuatu yang ganjil dari apa yang ingin ia ucapkan. "—haish, lupakan saja, mungkin lain kali aku akan memperlihatkan beberapa film dewasa untukmu" Katanya, sedikit ragu-ragu sebenarnya.
Jungkook mengangguk saja. "Mama, kenapa perempuan dan laki-laki menikah?" Tanyanya.
"Karena memang sudah di takdirkan begitu"
Lalu Jungkook bertanya lagi. "Tapi kenapa mama bermimpi—"
"Sudah ah!" Taehyung melempar remote televisi sembarangan. "Aku tau kau sudah mulai pintar berbicara dan banyak mengetahui hal-hal baru. Tapi tolong, tidak dengan pertanyaan yang menjurus pada tujuh belas tahun ke atas! Aku terlalu canggung untuk menjawabnya"
Pemuda itu berjalan menuju dapur, mencari apapun yang bisa ia makan. Hari masih sore, jadi terlalu awal jika ia membuat makan malam sekarang, lebih baik mencari snack atau apapun yang bisa ia gunakan untuk mengganjal perut.
Jungkook mengekornya di belakang. "Mama akan menikah dengan perempuan atau laki-laki?"
"Tidak tau—" Taehyung sedikit melebarkan matanya lalu menoleh. "—hei, pertanyaan itu terlalu privasi tau! Memangnya siapa yang tau takdir seseorang akan seperti apa? Kau ini ada-ada saja" Ketusnya.
"Jungkook hanya bertanya"
"Pertanyaanmu membuat aku pusing!" Taehyung mengambil dua bungkus snack dengan rasa keju dan daging panggang. "Serius, aku bersyukur karena tidak jadi mendaftar pekerjaan sebagai guru taman kanak-kanak, mungkin rasanya akan seperti ini, pusing"
Well, itu keinginan Taehyung sejak sekolah dulu, menjadi seorang guru di taman kanak-kanak. Tapi sampai sekarang impiannya itu belum terwujud, dan Taehyung sudah keburu merubah pemikirannya.
"Kau mau, Jungkook?" Tawar Taehyung, memberikan satu bungkus snack kepada Jungkook. "Setelah ini aku akan membuatkan makan malam, jadi kau harus sabar menunggu dan makan saja apa yang ada" Lanjutnya lagi, berjalan menuju ruang tengah.
Yang Jungkook bisa lakukan hanyalah menurut dan mengekor kemanapun Taehyung pergi. Hari ini pemuda itu terus mengikuti Taehyung dan melontarkan berbagai macam pertanyaan padanya, mulai dari hal-hal kecil sampai yang dewasa seperti tadi.
Bukannya Taehyung tidak mau menjawab, tapi ia terlalu pusing karena Jungkook tidak berhenti bertanya. Taehyung sedang dalam keadaan badmood untuk marah-marah, bibirnya juga masih terasa perih akibat insiden kemarin itu. Jungkook sungguh beruntung hari ini, katanya dalam hati.
Belum melangkah sampai ruang tengah, mereka berdua dikejutkan oleh suara pintu yang di ketuk, di lanjutkan dengan suara bel rumah Taehyung yang berbunyi.
"Oh tidak" Taehyung melebarkan matanya. "Aku harus sembunyikan Jungkook dimana?!" Katanya panik, buru-buru ia menarik tangan Jungkook agar ikut bersamanya menuju lantai dua, tempat kamar tidurnya berada.
"Mama—" Jungkook berusaha menahan tarikan tangan Taehyung. "Kenapa—"
"Bertanyanya nanti saja!" Taehyung membuka pintu kamarnya kemudian menekan kedua bahu Jungkook agar pemuda itu duduk di atas ranjangnya. "Pokoknya, kau tunggu disini sampai aku kembali! Ingat! Jangan keluar apalagi membuat suara-suara aneh! Kau mengerti?"
Jungkook mengangguk dan Taehyung tersenyum puas. Pemuda itu menutup rapat pintu kamarnya kemudian berlari menuruni anak tangga, ia terlalu cemas memikirkan siapa yang datang sore-sore begini, apakah tukang pos atau justru—
"Yoongi hyung?"
Keadaan hening sejenak.
"Kenapa bingung begitu?" Yoongi mendesah malas. "Aku mau tidur di rumahmu malam ini. Ibu dan ayahku mengajak adikku untuk pergi ke rumah nenek, aku tidak bisa ikut karena kau tau aku, tidak akrab dengan nenek tua bawel itu" Ceritanya, dengan nada enggan.
Taehyung reflek melebarkan matanya. "M-menginap?"
Yoongi mengangguk. "Kau ini mau mempersilahkan aku untuk masuk atau membuatku diam saja di udara dingin seperti ini?"
"O-oh, silahkan masuk hyung!" Taehyung tersenyum lebar. "Kau membuatku terkejut dengan kedatanganmu, kenapa tidak memberitahu dulu lewat ponsel, eoh? Tidak biasanya juga hyung mau menginap disini" Katanya keheranan.
"Aku kehabisan pulsa" Yoongi melepas jaketnya kemudian melemparnya secara asal di atas sofa. "Aku begini karena malas sendirian di rumah. Bisakah kau berhenti bertanya dan buatkan aku cokelat panas? Udara di luar dingin sekali, padahal masih sore"
Taehyung mendengus sebal. "Kenapa aku terlihat seperti pembantu di matamu hyung? Padahal ini adalah rumahku!" Protesnya tidak terima.
"Biar saja" Yoongi mengangkat kedua bahunya, tak perduli. "Banyak jalan bisa membuat jantungmu tetap sehat, jadi lakukan saja apa yang aku perintahkan" Tambahnya lagi, sekalian menasehati.
Mau tak mau, Taehyung menuruti perintah Yoongi, ia pergi ke dapur untuk membuatkan temannya itu cokelat panas. Percuma saja membantah apa yang sudah keluar dari mulut Yoongi, bahkan ibunya sendiripun tidak bisa melakukannya.
Yoongi mengedarkan pandangannya, matanya terfokus pada beberapa buku bacaan anak-anak yang tersebar di atas meja. "Kau tidak bermaksud kembali pada impian lamamu itukan?"
"Maksudmu?" Taehyung mengernyit, meletakkan gelas berisi cokelat panas itu di atas meja.
"Buku-buku ini" Yoongi menunjuk buku-buku itu. "Sejak kapan kau mempunyai ketertarikan khusus pada buku anak-anak? Apa kau ingin menghidupkan kembali impianmu itu? Menjadi guru di taman kanak-kanak?" Tanyanya, heran tentu saja.
Taehyung menggaruk sikutnya. "Err—itu hanya buku-buku lamaku, aku berniat untuk merapikannya kemudian aku berikan ke panti asuhan" Jawabnya, mencari objek apapun selain tatapan mata Yoongi.
"Jangan berbohong" Yoongi menghela nafasnya. "Akhir-akhir ini aku sering melihatmu berbohong—maksudku, merasa bahwa kau sedang berbohong. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak terjadi apa-apa" Taehyung tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong, hyung malam ini mau langsung tidur atau apa? Kalau langsung tidur, aku akan merapikan ruangan yang akan menjadi tempat tidurmu" Tawarnya, mengalihkan pembicaraan.
Yoongi mengernyit heran. "Kenapa kita tidak tidur satu kamar?"
"Karena kita ini laki-laki" Jawab Taehyung, dengan tatapan lugu serta nada bicara yang terlalu santai.
"Itu bukan alasan yang tepat" Yoongi memutar bola matanya. "Biasanya kau paling suka jika aku tidur bersamamu, membacakanmu dongeng-dongeng aneh kemudian berakhir dengan kau menangis akibat akhir ceritanya"
Taehyung menggerakan bola matanya, mencari alasan yang bagus. "Tapi aku tau kalau hyung tidak mau melakukan itu lagi, benar kan? Jadi lebih baik kita tidur berbeda ruangan, aku yakin kau akan menyukainya" Ujarnya, tersenyum lebar.
Tentu saja mereka harus tidur berpisah ruangan, mana mungkin Taehyung membiarkan Yoongi melihat sosok Jungkook di dalam kamarnya? Bisa-bisa pemuda itu terkejut dan menuduh Taehyung yang macam-macam, apalagi jika sampai temannya itu melapor ke polisi, bisa mati dirinya.
Ah, apa yang sedang di lakukan Jungkook di kamar ya?
"Kau masak makan malam?"
Taehyung tersentak. "Eungg, belum. Apa hyung lapar? Aku bisa memasaknya sekarang jika hyung sudah lapar" Ujarnya.
Yoongi menggeleng. "Aku sudah makan banyak sebelum datang kesini. Mungkin sekitar jam tujuh malam aku akan masuk kamar dan tidur—oh, apa di kamarmu yang itu ada televisi?"
"Ada" Taehyung mengangguk. "Sudah lama tidak di gunakan, tapi aku rasa masih bisa berfungsi. Kau bisa gunakan televisi itu untuk bermain game atau menonton film, disana sudah tersedia kok" Tambahnya.
"Kau ini aneh sekali, Taehyung. Tidak biasanya kau selalu menjawab pertanyaanku, apa ini hanya perasaanku saja?"
Taehyung tersenyum lebar. "Mungkin hanya perasaan hyung saja! Kalau begitu, aku mau membuat makan malam, kalau lelah silahkan masuk ke kamar saja ya hyung!" Katanya, mulai berjalan meninggalkan Yoongi.
"Heh, kamarnya dimana bodoh? Kamar tidur dirumahmu ini banyak sekali!"
Langkah Taehyung terhenti, ia menoleh dan lagi-lagi tersenyum lebar. "Ada di lantai dua, tepat di sebelah kamarku. Kau pasti tau kan hyung? Jangan masuk ke kamarku dulu! Aku belum mem—"
"Bawel!" Yoongi memotong perkataannya. "Aku tidak akan masuk ke kamarmu, apa kau sudah puas Kim Taehyung?"
Taehyung hanya menjawab itu dengan anggukan tanpa dosa.
.
.
.
.
Memasak sup ayam sebagai makan malam bukanlah hal buruk, lagipula Taehyung sedang tidak mood untuk membuat masakan yang enak-enak. Pemuda itu mematikan kompor kemudian menuangkan sup ke dalam dua mangkok, satu untuknya dan satu lagi untuk—
"Kenapa kau membuat dua mangkok? Bukankah aku berkata kalau aku sudah makan?"
Taehyung terkejut, ia menoleh dan menemukan Yoongi sudah berdiri di belakangnya. "Kau, hyung! Membuatku kaget saja! Aku pikir kau sudah masuk ke kamar daritadi!"
Yoongi menghela nafas. "Maunya sih begitu, tapi aku heran saja ketika melihatmu memasak sup sebanyak ini—hei, kau belum jawab pertanyaanku yang barusan!"
"Uhmm, keduanya ini untukku" Jawab Taehyung seadanya.
"Untukmu? Yang benar saja, Kim Taehyung"
"Mengapa? Nafsu makanku akhir-akhir ini sering bertambah, hyung. Menurut informasi yang aku baca, aku sedang dalam masa pertumbuhan, maka dari itu makanku semakin banyak" Ujarnya, menunjukkan senyum lebar yang di paksakan.
Yoongi mengernyit. "Kau baca informasi yang mana? Tapi yasudahlah, itu juga tidak penting untukku. Aku mau pergi ke kamar sekarang, selamat malam"
"Tapi hyung—"
"Tidak" Yoongi buru-buru memotong. "Aku akan membersihkan kamar itu sendiri, kau harus bersyukur karena hari ini aku sedang dalam mood rajin. Sekali lagi, selamat malam"
Setelah mengatakan itu, Yoongi berjalan meninggalkan Taehyung sendirian di dapur. Taehyung sendiri menghela nafasnya lega, ia langsung mengendap-endap untuk melihat apakah Yoongi benar-benar pergi ke kamar atau tidak.
Ia menghela nafas lega lagi begitu melihat Yoongi menghilang di belokan lantai dua. Kini saatnya untuk ia membawa nampan kayu berisi dua mangkok sup ayam beserta dua gelas air mineral menuju kamar tidurnya.
Begitu Taehyung membuka pintu kamar, ia menemukan Jungkook sedang duduk di atas kasur, persis di tempat tadi ia meninggalkannya. Taehyung menutup pintu kamarnya menggunakan kaki kanan, berjalan dan meletakkan nampan tersebut di atas meja belajarnya.
"Jungkook, kau sedang apa disana?"
"Mama menyuruh Jungkook menunggu, makanya Jungkook disini" Jawab Jungkook, memasang ekspresi polos sekaligus bodoh.
Taehyung menganga, ia menepuk keningnya sendiri dengan keras. "Aku menyuruhmu menunggu bukan berarti kau tidak boleh melakukan pergerakan apapun. Ya ampun, aku tidak mengerti apa-apa lagi tentangmu" Desahnya frustasi.
"Jadi, Jungkook boleh bergerak?" Tanya pemuda itu.
"Tentu saja boleh!"
Dan akhirnya, Jungkook langsung menjatuhkan bokongnya ke atas lantai yang dingin, menyandarkan tubuhnya di pinggiran ranjang yang terbuat dari kayu, memasang ekspresi lelah akibat merasakan pegal di seluruh tubuhnya.
Taehyung jadi merasa kasihan sendiri, jadi ia membawa satu mangkok dan segelas air untuk Jungkook. "Aku memasak sup ayam malam ini, silahkan makan saja. Maafkan aku ya Jungkook, aku tidak tau kalau Yoongi hyung akan datang kesini"
Jungkook menerima mangkok sup ayam itu beserta minumnya. "Yoongi hyung?"
"Yeah, dia teman dekatku" Taehyung duduk di samping Jungkook. "Dia sedikit lebih galak dan bawel dariku, makanya aku harus menyembunyikanmu agar ia tidak membuatmu menangis hanya karena perkataannya"
"Yoongi hyung orang jahat"
"Hei, bukan begitu" Taehyung memutar bola mata. "Aku bilang dia hanya sedikit lebih galak dan bawel, bukan berkata kalau dia itu jahat" Ralatnya.
Jungkook mengangguk mendengarnya, ia mengenggam sebuah sendok (dengan gaya aneh) kemudian mulai memakan makan malamnya. Begitu kuah kaldu ayam menyentuh lidahnya, Jungkook merasa matanya melebar dan berbinar-binar, ini benar-benar… enak!
"Woaahh~" Jungkook tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. "Mama! Ini enak! Enak sekali!" Pekiknya heboh, membuat Taehyung harus buru-buru membungkam mulut pemuda itu menggunakan telapak tangan kanannya.
"Ssttt—" Taehyung memberinya tatapan tajam. "Jangan terlalu keras! Bagaimana kalau Yoongi hyung mendengarmu? Aku belum menemukan alasan yang tepat jika sampai keberadaanmu di ketahui orang! Mengerti?"
Jungkook mengangguk dan Taehyung melepaskan telapak tangannya. "Buat yang seperti ini lagi, mama~" Pintanya, dengan ekspresi memelas yang begitu menggemaskan.
Taehyung diam sejenak. "Tadi kau minta kue, sekarang kau minta sup—astaga, aku lupa kalau kau seharusnya makan nasi agar kenyang! Kalau di cerita dongeng Alice membesar karena kue, aku rasa kau akan membesar karena makanan, teoriku memang tidak pernah salah!"
"Hm~" Anak ayam itu mengangguk senang. "Jungkook akan tumbuh lebih besar dari Alice! Jungkook akan makan dengan—"
"Lanjutkan saja makanmu, anak ayam!" Taehyung buru-buru memotong ucapannya, tidak ingin mendengar apapun lagi. "Setelah ini kau harus sikat gigi kemudian pergi tidur! Haish, kenapa kau seperti anak kecil eoh? Sikat gigi dan tidur saja sampai harus aku ingatkan!" Katanya, meratapi takdirnya.
Jungkook tetaplah Jungkook, pemuda aneh yang selalu berantakan ketika makan, kuah sup muncrat kemana-mana dan itu membuat Taehyung lebih gemas lagi.
"Mama, tidak makan?"
Taehyung menghela nafas, meraih tisu di atas meja kemudian mengeringkan lantai yang basah. "Aku akan makan setelah kau tidur, dengan begitu waktu makan malamku akan terasa lebih tenang dan damai" Jawabnya, menyindir Jungkook walau ia tau anak ayam itu tidak akan merasakannya.
Jungkook mengembungkan pipinya, menurutnya sup buatan Taehyung itu enak sekali, maka ia berpikir kalau Taehyung juga harus makan dan merasakannya. Jungkook tidak ingin sup ini ia habiskan sendiri, jadi—
"E-eh?!" Taehyung hampir memekik keras. "J-jungkook! Kau sedang apa eoh?!"
"Membuat mama makan" Jawab Jungkook kelewat santai. "Jungkook tidak ingin menghabiskannya sendiri, maka dari itu Jungkook ingin makan Taehyung!" Lanjutnya dengan senyuman lebar.
WHUT?! Oke, terkadang cara pengucapan Jungkook memang tidak selamanya benar. Taehyung menarik nafasnya dalam-dalam—oke, maksudnya, posisi mereka sekarang ini benar-benar membuat dirinya tidak merasa nyaman sama sekali. Jungkook melakukan pergerakan tanpa aba-aba, mendorong tubuh Taehyung dan duduk di atas perutnya.
Taehyung menggigit bibir bawahnya. "H-hei! Anak ayam! Bisakah kau menyingkir dari tubuhku?" Pintanya, dengan nada panik sekaligus tatapan mata memohon.
"Apa mama akan makan?"
"Y-yeah!" Taehyung buru-buru menjawab. "Tapi sebelum aku makan, kau harus menyingkir dari tubuhku! Kau tau, badanmu itu besar dan terasa sangat berat! Apa kau tidak kasihan melihat tubuh kurus sepertiku di duduki olehmu?!"
Mendengar kalimat protes dan omelan dari Taehyung, Jungkook tertawa pelan. "Kalau mama sedang marah, mama terlihat lucu!" Katanya, seratus persen jujur.
Taehyung melebarkan matanya. "H-hei! Aku ini tidak lucu! Kau tau, aku ini laki-laki yang gentle dan mempunyai—"
"Taehyung, apa kau punya—"
Setelah mendengar pintu kamarnya terbuka, suasana hening.
Taehyung membulatkan matanya lebih lebar kali ini, menemukan pintu kamarnya yang terbuka dengan lebar, memperlihatkan sosok Yoongi yang berdiri di depan pintu kamarnya, memandangnya dengan tatapan shock—antara percaya dan tidak percaya.
"Y-yoongi hyung?"
Yoongi masih dalam posisi yang sama. "K-kau—"
"Tunggu!" Taehyung buru-buru mendorong Jungkook dari atas tubuhnya, menyebabkan sup ayam yang ada di genggaman tangan Jungkook sepenuhnya terjatuh ke lantai, untungnya mangkok itu terbuat dari plastik jadi tidak akan melukai siapapun.
Astaga, bahkan Taehyung belum mempersiapkan alasan apa yang tepat untuk menjelaskan hal ini kepada Yoongi. "Ini tidak seperti yang kau lihat, hyung! P-pemuda ini hanya—"
"Kau siapa?" Yoongi mengalihkan pandangannya pada Jungkook, memberikan tatapan judge pada pemuda itu mulai dari bawah hingga sampai ke ubun-ubun kepala. "Apa yang kau lakukan bersama Taehyung?" Tanyanya, dengan ekspresi dan nada suara yang datar namun di penuhi oleh emosi yang terbaca dengan jelas.
Meskipun datar, Taehyung sangat tau kalau di dalam benaknya Yoongi hampir ingin membentaknya keras-keras, apalagi ia menemukan posisi mereka berdua dalam keadaan seperti ini, makin jadi saja pikiran negatif itu memenuhi otak Yoongi.
Jungkook menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bingung. "Jungkook?"
"Jungkook?" Yoongi mengernyit. "Kau siapanya Taehyung dan kenapa kau ada di sini?"
Taehyung berusaha untuk menjawab semuanya. "J-jadi begini hyung! Jungkook itu adalah teman kakakku dulu! Kami mulai akrab semenjak kakakku menghilang dan—"
"Aku bertanya dengan Jungkook! Bukan denganmu, idiot!" Hardik Yoongi, hampir mengeluarkan seluruh emosinya kepada temannya itu.
AH, mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih di bawah umur yang sedang tertangkap basah melakukan adegan tidak senonoh, entah mengapa.
Taehyung bungkam, melirik Jungkook untuk membiarkan anak itu menjawab (ia berharap bahwa Jungkook akan segera menangis atau bahkan tidak menjawab apa-apa, itu lebih baik menurutnya). Namun, Jungkook sendiri tidak merasa takut, justru ia tersenyum selebar-lebarnya pada Yoongi, memperlihatkan deretan giginya yang tampak rapi dan bersih.
"Jungkook—" Anak ayam itu menghentikan kalimatnya sejenak, kelihatan seperti sedang mengingat sesuatu. "—berciuman, saling berbagi kehangatan dan tidur bersama sampai pagi!"
"HAHHH?!"
Baik Yoongi maupun Taehyung, keduanya sama-sama terkejut bukan main, jika Yoongi terkejut akibat pengakuan dari Jungkook, maka Taehyung lebih terkejut akibat jawaban konyol yang keluar dari mulut Jungkook. Oh astaga, masalah apa lagi sekarang ini? Dari mana anak ayam itu belajar kalimat-kalimat dewasa seperti barusan?!
Jungkook ikut terkejut juga mendengar pekikan kedua orang di sana, ia menoleh dan menemukan tatapan Yoongi begitu tajam dan menusuk, hanya untuknya.
Yoongi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Jungkook-ssi, coba kau jelaskan padaku dengan detail—dan Taehyung! Kau dalam masalah besar kali ini, masalah yang sangat besar dan butuh waktu hingga satu minggu untuk menyelesaikannya!" Gertaknya pada Taehyung.
"M-mwo?!" Taehyung tidak percaya dengan perkataan Yoongi. "Kenapa harus satu minggu hyung?! Semua yang di katakan oleh Jungkook itu tidak—"
Kalimat Taehyung tidak ia selesaikan, pemuda itu hanya bisa memandang wajah datar Yoongi yang terus-terusan menatap Jungkook tiada henti. Dalam hatinya, Taehyung berharap kalau Yoongi tak akan memperpanjang masalah ini, ia sudah sangat ketakutan sekarang.
"Hyung" Cicit Taehyung pelan. "Kau tidak akan melaporkannya pada polisi bukan?" Tanyanya, benar-benar tidak tau lagi harus melakukan apa-apa, toh dia juga tidak merasa bersalah, ini semua murni kesalahpahaman.
Jungkook merasa bahwa Taehyung sedang ketakutan, jadi dengan lugunya pemuda itu memeluk Taehyung dari samping, meletakkan dagunya di atas bahu Taehyung yang terasa kurus.
"Mama—" Jungkook berbisik. "Jangan takut, Jungkook akan selalu ada di samping mama"
Yoongi memandang mereka berdua. Sungguh, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, entah ia salah paham atau semua yang di katakan Jungkook adalah kebenaran. Ck, bertahun-tahun Yoongi mengenal Taehyung, baru kali ini ia melihat Taehyung membawa seorang pemuda asing ke dalam rumahnya, bahkan sampai ke dalam kamar pula!
Dia khawatir—yeah, Yoongi khawatir dengan Taehyung, ia selalu merasakan hal itu walau cara ia berkomunikasi atau berhubungan dengan Taehyung agak keterlaluan.
Taehyung tersenyum tipis. "Jungkook, bisa tolong lepaskan pelukanmu?"
Halus dan tanpa emosi, namun sukses membuat dada Jungkook menjadi sesak, seperti ada beribu-ribu jarum yang menusuk hatinya hingga sampai yang paling dalam. Ia hanya merasa.. Taehyung tidak membutuhkan kehadirannya.
Apa Taehyung kecewa padanya?
.
.
.
.
"Jungkook ya?"
Park Jimin memijit pelipisnya pelan. "Astaga, entah aku yang lupa atau Taehyung tidak pernah memiliki teman bernama Jungkook?! Tidak bertemu dengannya selama beberapa tahun ternyata berdampak buruk untukku" Erangnya frustasi.
"Jungkook? Siapa itu?"
Seseorang masuk ke kamar Jimin, membawa satu gelas susu hangat dan memberikan tatapan bingung. "Kenapa kau kusut begitu? Bukankah kemarin kau senang karena bisa bertemu dengan Taehyung?"
Jimin menoleh. "Ah, aku hanya bingung saja. Taehyung memiliki teman baru bernama Jungkook namun aku benar-benar tidak mengenalnya, bahkan dia juga bukan teman semasa kami sekolah" Jawabnya dengan nada frustasi.
"Kau bisa menceritakan—"
"Tidak, terima kasih" Jimin tersenyum miring. "Lagipula, kenapa aku harus menceritakan Taehyung padamu? Tidakkah itu bukan lagi hal yang penting untukmu?" Tanyanya, terkesan menyindir lebih tepatnya.
Pemuda itu terdiam beberapa saat, meletakkan gelas berisi susu hangat itu di atas meja belajar Jimin. "Aku hanya mau mendengar saja, apa itu salah?" Katanya, sok terluka.
Jimin tertawa sinis. "Tidak seharusnya kau ingin tau tentang Taehyung, kau sudah meninggalkannya dan kau menyukai itu. Bukankah begitu, Kim—"
"Park" Pemuda itu memotong kalimat Jimin. "Apa kau lupa kalau margaku Park? Astaga, bagaimana bisa seorang adik melupakan marga kakaknya sendiri? Kau jahat padaku, Park Jimin~" Katanya, penuh ekspresi 'too much drama'.
"Stop being dramatic, you brat!" Jimin memutar bola mata. "Lebih baik kau keluar dari sini sebelum aku menyiram susu ini di wajah tampanmu!" Ancamnya dan itu sungguh-sungguh, ia sudah menggenggam gelas susunya.
"Haish, seharusnya kau panggil aku hyung" Pemuda itu mengangkat kedua bahunya tidak perduli. "Baik kalau kau ingin aku keluar, selamat malam ya Jimin"
Jimin memandang kepergian pemuda itu dari kamarnya. "Itu lebih baik" Bisiknya pelan begitu pemuda tadi menghilang dari pandangannya.
.
.
.
.
"Taehyung! Kenapa kau tidak berhenti menangis?!"
"H-habisnya—hiks, aku pikir—hiks, hyung mau melaporkan—hiks, aku ke polisi—hiks, hyung!"
Yoongi memutar bola matanya. "Aku tadi hanya terkejut dan emosi saja! Kau seharusnya bilang kalau kehadiran Jungkook dari dalam telur itu benar-benar nyata! Jadi tidak akan seperti ini akhirnya!" Balasnya denga nada malas.
Taehyung melepaskan pelukannya pada pinggang Yoongi. "Waktu itu aku sudah bilang tapi kau tidak percaya! Aku ini tidak pernah ber—"
Melihat tatapan tajam dari Yoongi, Taehyung kembali merengek. "Oke, mungkin sekali atau beberapa kali aku pernah berbohong. Tapi serius hyung! Jungkook benar-benar keluar dari sebuah telur aneh! Percayalah padaku!"
"Kim Taehyung! Berhenti memelukku seperti ini!" Yoongi berusaha menyingkirkan tubuh anak itu dari pinggangnya. "Aku mempercayai ucapanmu—hei yah! Kenapa kau mengusap air matamu di bajuku eoh?! Yah! Kim Taehyung!"
Jungkook memandang keduanya dengan tatapan bingung, ia lega karena Yoongi tidak lagi membentak dan memarahi Taehyung, ia sungguh gembira melihat mereka berdamai lagi. Pemuda itu memeluk boneka milik Taehyung erat-erat, tersenyum tiada henti.
Tadi Taehyung sempat marah-marah karena Jungkook mengaku bahwa ia mengenal kalimat-kalimat dewasa seperti itu dari buku novel milik Taehyung sendiri, kemudian berlanjut dengan Yoongi yang memarahi Taehyung habis-habisan karena sudah meletakkan buku seperti itu sembarangan.
"Jungkook!" Taehyung memekik. "Yoongi hyung ingin mematahkan tanganku! Tolong—"
"Heh, kenapa minta bantuan sama Jungkook?!"
Taehyung meringis. "Hyung! Sakit—arghh! Kau mau membuat tanganku—OKE! AKU MENYERAH! JUNGKOOK! ANAK AYAM! TOLONG AKU! MONSTER JAHAT INI MAU MEMBUNUHKU! SAMA SEPERTI YANG ADA DI BUKU DONGENGMU!" Teriaknya, meminta pertolongan dengan teriakan lebih heboh dan berisik lagi (dan juga berlebihan).
Jungkook memajukan bibirnya, ia melempar secara asal boneka beruang milik Taehyung kemudian berlari ke arah mereka berdua.
"Yoongi hyungg~~ Jangan sakiti mamaa!"
"MAMA?! Jungkook memanggilmu mama?!"
"Hyung, aku bisa jelas—"
"Mati kau, Kim Taehyung!"
Jungkook menggeleng kencang. "MAMAAAAA!"
.
.
.
.
Keesokan paginya, Taehyung memutuskan untuk pergi ke supermarket, ia juga terpaksa mengajak Jungkook karena anak ayam itu masih sedikit takut bila berada di dekat Yoongi. Menurut Jungkook, Yoongi itu seperti monster yang ada di buku dongeng, menyeramkan kalau sedang diam, dan lebih menyeramkan lagi kalau sudah marah.
"Jangan pepero, Jungkook! Kan sudah aku kasih tau kalau kau hanya boleh beli snack saja?"
"Tapi, pepero itu snack~"
Taehyung mendengus sebal. "Tapi aku tidak suka pepero, kenapa tidak ambil makanan ringan yang ada rasa kejunya saja? Aku lebih suka itu!" Sarannya, terdengar sedikit memaksa.
Mendengar itu, Jungkook berjongkok dan mengambil beberapa snack dengan rasa keju. "Ini? Ini? Ini? Ini?" Pemuda itu memperlihatkan banyak sekali makanan ringan dari berbagai macam nama produk.
Taehyung ikut berjongkok. "Kau mau di marahi Yoongi hyung? Dia paling tidak suka jika melihat seseorang terlalu boros dalam urusan belanja. Dua saja ya? Kau boleh pilih mana yang kau suka, terserah saja" Katanya, membujuk Jungkook.
"Dua? Apa saja?"
"Hu'um" Taehyung mengangguk. "Aku akan mengambil daging dulu di sebelah sana, kalau kau sudah selesai tunggu saja aku di bagian kasir, mengerti? Jangan kemana-mana dan jangan ambil yang macam-macam!" Ingatnya, mendorong troli menjauhi Jungkook.
Taehyung menghembuskan nafasnya saat jaraknya dengan Jungkook sudah sedikit jauh, ia merasa lega begitu Yoongi tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran Jungkook—temannya itu hanya merasa terkejut dan sedikit tidak percaya sehingga Taehyung harus menjelaskannya dari awal, bersyukur karena pada akhirnya Yoongi menyarankan kalau Jungkook masih boleh tinggal bersama Taehyung, dengan kata lain ia tidak jadi melaporkan Jungkook ke polisi.
Tidak terbayangkan olehnya jika ia kembali tinggal sendirian, tidak akan ada teman bermain atau mengobrol, sama saja akan membunuh dirinya secara perlahan. Kehadiran Jungkook mulai bisa di terima Taehyung dengan senang hati, toh Jungkook juga sudah mulai mengerti semuanya.
Asyik dengan pikiran sendiri, ia tidak melihat orang lain yang berdiri di depannya. Alhasil, trolinya sukses menabrak pinggang orang itu dari samping, menyebabkan ringisan kesakitan keluar dari mulut orang tersebut.
"Astaga—" Taehyung buru-buru menghampiri orang itu. "Maaf! Aku benar-benar tidak melihatmu! Tadi aku sedang melamun dan akhirnya—"
"Oh, Taehyung?"
Taehyung menganga. "P-park Jimin?"
Okay, pertemuan kedua yang begitu awkward. Taehyung masih terkejut sementara Jimin langsung memberikan senyumnya. Keduanya masih berada di posisi yang sama, Taehyung memegang pinggang Jimin karena ia ingin memeriksa bagian mana yang sakit.
"Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini" Jimin tertawa kecil, tidak bisa menghindari perasaan senang sekaligus leganya.
Taehyung mengerjapkan matanya. "Y-yeah, aku bahkan—"
Belum menyelesaikan kalimatnya, mereka mendengar suara langkah yang begitu cepat menuju ke arah mereka berdua, di sertai nada yang terdengar begitu bahagia.
"Mama~ Jungkook takut sendirian makanya Jungkook ingin menyusul—"
Kalimat itu terhenti, membuat Taehyung dan Jimin menoleh secara bersamaan. Taehyung menatap Jungkook yang kini berdiri mematung, memandang keduanya dengan tatapan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan. Seketika Taehyung merasa dirinya tersandung sebuah batu besar dan kemudian terjatuh ke dalam jurang yang paling dalam.
Sementara posisi mereka berdua masih sama, Jungkook terdiam, ia memandang kemana tangan Taehyung memegang pemuda asing itu. Dalam hitungan detik, dua bungkus snack yang di pegang Jungkook terjatuh ke atas lantai.
"… Mama?"
Lagi-lagi, rasa sesak itu kembali.
Bersambung
A/N : TAHAN! Sebelum kalian protes karena updatenya kelamaan, mari dengarkan curahan hatiku sejenak TT_TT Jadi ceritanya, aku berniat update ff ini hari jum'at kalau ga hari sabtu—sayangnya, website ffn gak bisa di buka entah kenapaaa x.x dan hari sabtu, aku ada pameran di sekolah, abis itu lanjut ke rumah saudara sampe jam 11 malem, jadi ga sempet buat update :( Maafin yaa teman-teman sekalian, aku harap kalian ga kecewa sama alur cerita ff ini /bow/
Nah, aku mau bales komentar dulu okay~
rayeol (Ya ampun kamu ra! kamu masih kecil wkwkwk /tutupin matanya/) | Xxzmn (Gemes sama dua-duanya juga boleh kok kakak :')) | Adinda869 (Jungkook dewasanya nanti yaa wkwk biar Taehyungnya di buat pusing dulu xD mereka ke bathup mau cuci baju :') jangan berpikir negatip dulu wkwkwk) | yungki (nih sudah di lanjut~ ttp review yaa!) | Mokuji (Waduhh hati-hati dong yaa kamuuu hehe xD) | Clou3elf (Iyaa kalau anak ayamnya kayak Jungkook sih aku mau, tapi realitanya aku malah melihara anak ayam beneran wkwkw /curhat/ sudah di lanjut yaa :p sukses buat ff kookv kamu~) | hyemi270 (yap yappp! sudah di lanjut yaaa!) | jeunbits (yaudah gih suruh Jungkooknya berhenti polos :( aku juga sebagai istrinya kasian ngeliat Taehyung wkwkwk /digampar/ semoga chapter ini lebih baik yaa^^ nanti juga bakal terungkap kok siapa sosok Park Jimieenn sebenarnya xD) | bbihunminkook (Ayoo makanya rawat Jungkook biar cepet dewasaa :c salam terong yak!) | varaxiu991 (Yang jelas, anaknya bakal sama anehnya kayak ortunya wkwkwk /ngawur/) | mariomayo (Mantap? udah kaya acara tipi yang mancing wkwk yap yap MERDEKAA!) | utsukushii02 (berdoa aja semoga Taehyung diberi kesabaran dan ketabahan wkwk xD) | Phylindan (Waduhhh /buru-buru aduin ke Jimin/ iyadongg kan Jungkook ga selamanya jd anak ayam wkwk xD tau nih si Tae mahh kampretz :c) | cutebei (jangan geli dongg, kan dia bukan banci wkwkwk /btw ngakak/ yeapz qaqa nieh syudah di lanzut!) | Jell-ssi (Kesian Jimin baru muncul udah di curigain wkwkwk, pecat ae dia dari ff ini xD nahh di chap ini udah puas belomm sama suganyaa? haha xD) | anoncikiciw (IYAA EMANGG CERITANYA GEMESIN KAN YAA?! /capslock keinjek jungkook/ BIARIN KAK YOONGI MAU EKSIS KAN DIAA MAHHH :') Astagaa aku di tuduh udah ga polos lagi :c /sedih/) | chriseume (AWAS KAK RAHANGNYA GESER /EH/ MOGA-MOGA KISAH CINTANYA GAK KAYA FTV YA :c OKEYY MAKASIH KAKK SUDAH D LANJUT YAA SEMOGA GA MENGECEWAKAN!) | Fujoshi203 (Hayooo menurutmu gimanaa wkwk /nyengir/) | MY Yeon (Wkwkk boleh ajaa kamu manggil Jungkook papaa tapi siap-siap aja ya kalau ada yang bangunin kamu, di mimpi maksudnya gituuu wkwk /kemudian di injek/) | Cakue-chan (Oalahh ini semua karena terong ternyata .-. wkwk kasian kak Jimin baru masuk dah di curigain xD YEAH YOONGI MAU EKSIS KAK! GAPAPA BIARKAN SAJA! Beneran? huaa syukur dehh kalau ceritanya tidak mengecewakan :') Nih chapter ini Yoongi udah muncul, aku juga suka karakter Yoongi wkwk. gak lah, Tae ga bakal ketabrakk ntar kalau dia mati ceritanya bedaa wkwk, sudah di lanjut ya kakk! semoga ga mengecewakan^^! terongnya jangan di pikirin terus wkwk) | PurpleLittleCho (Iyaaa di usahakan di percepat yaaa biar ga pada bosennn hehe) | arisafukushima564 (terlalu singkattt? maklumin otakku yang bisa ngetiknya segini ajaa :c oalaahhh tp ttp bagusan manganya lhooo hehe~) | Ansleon (Kamu mending, lah aku malah kebayangan Tae yang ngagetin di kaca mobil orang di MV RUN wkwk yeapp sudah di lanjut kakak~) | HyeraSung (mungkin karenaa mereka berdua selalu punya cara untuk bikin kita senyum /seketikabijak/) | hmmm hmmm (lol username kamu anti mainstream sekaleh :') Jimin lagi jimin lagi wkwkw kesiann :c /pukpuk/ Yakin tuh gagal paham? wkwk. BANG?! JADI KAMU BANG YONGGUK!? ASTAGAH BIASSS AAAAA /salah orang/) | Aloonela (wkwk silahkan di bayangkann, nahh kan Jungkooknya udah sama Tae, jadi kamu ayam yang warna-warni aja yaa? wkwkwk /di giling/) | SongHyurA (wkwkwk karena Jungkook emang anak ayam) | rilakkuchan61 (DI BAYANGIN AJAA SILAHKANN TP JANGAN GEMES SENDIRI LHOOO HAHA~ /smirk/) | eggtae (Jangaannnn dongg kan Jungkooknya belum dewasa masa kamunya udah mati duluan di tangan Yoongi wkwkwk :c) | karinarmy19 (wahh kebetulan kamuu nih udh d lanjut :p)
ASTAGAHH LELAH GUYS, TAPI GAPAPA YANG JELAS AKU BERSYUKUR BANGETT MASIH ADA YANG MAU BACA DAN REVIEW FF ABAL-ABAL KAYAK GINI /terharu/ POKOKNYA MAKASIH BANYAKKK BUAT YANG UDAH MENDUKUNG FF INI SEHINGGA BISA TERUS BERLANJUT :') /terharu pt2/
Err.. bingung mau ngomong apalagi ._. ada yang mau tanya-tanya? Silahkan add line aku anismaysarah /promosi pt2/
Silahkan reviewnyaa^^~
