What the—

Story by Datgurll

Infires by Eggnoid from Webtoon

.

.

.

Selamat membaca!

Chapter 5

.

.

.

"Jungkook!"

"Hey—"

"Maaf, Jimin!" Taehyung buru-buru memotong kalimat Jimin. "Aku harus pergi sekarang! Sekali lagi maafkan kecerobohanku, aku akan bertanggung jawab lain kali!" Tambahnya, buru-buru mengambil snack yang tadi dijatuhkan oleh Jungkook, memasukkannya ke dalam troli kemudian mendorongnya, meninggalkan Jimin yang masih kebingungan.

Haduh, kemana anak itu?!

"Jungkook?" Taehyung mengedarkan pandangannya, melihat keberadaan Jungkook di setiap bagian-bagian di supermarket. "Haish, kenapa anak itu cepat sekali? Padahal seharusnya dia masih disini!" Gertaknya kesal.

Taehyung terus mencari keberadaan Jungkook, ia tak tau apa kesalahannya namun Taehyung rasa ia sudah menyakiti hati Jungkook, ia benar-benar merasa bersalah pada anak ayam yang keluar dari dalam telur aneh itu.

Tidak mungkin Jungkook pulang, dia terlalu takut untuk melakukan hal itu.

"Jung—"

"DUAR!"

"—KOOK!" Taehyung hampir membanting troli itu jika saja seseorang tidak menahan bahunya agar tetap berdiri di tempatnya. Taehyung melebarkan matanya akibat terkejut, buru-buru ia menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa pelaku kurang ajar yang sudah berani mengagetkannya.

"Yah! Apa kau—" Kalimat Taehyung tertahan di tenggorokannya. "—Jungkook?! Apa yang kau lakukan?! Kenapa mengagetkanku dengan cara seperti itu?!" Semprotnya begitu tau sang pelaku adalah Jungkook sendiri.

Pemuda itu tersenyum lebar. "Jungkook habis pergi ke kamar mandi~ kebelet pipis~" Jawabnya, memajukan bibir bawahnya tapi sedetik kemudian tersenyum lebar lagi.

Taehyung menepuk keningnya keras. "Ya ampun! Aku pikir kau berlari karena apa! Kau itu, selalu saja membuatku khawatir. Ini tempat ramai, jadi jangan lakukan hal-hal yang bodoh, aku tidak bisa mengawasimu jika tempatnya ramai begini!"

Krik Krik.

Jungkook mengedarkan pandangannya pada keadaan sekitar mereka. "Tapi disini tidak ada orang lain, jadi ini tidak—"

"Ya, ya, ya, aku tau!" Taehyung memutar bola mata. "Kalau begitu kita pergi ke kasir saja ya? Kau juga sudah menemukan makanannya bukan? Jangan buat Yoongi hyung menunggu terlalu lama, bisa-bisa dia mati kebosanan karena tidak ada orang yang bisa ia marahi" Ajaknya, mendorong troli meninggalkan Jungkook sendirian.

Jungkook mengerjapkan matanya sejenak, ia baru sadar bahwa dirinya di tinggal Taehyung setelah beberapa detik. Pemuda itu melebarkan matanya, buru-buru berlari untuk menyusul langkah Taehyung.

"Mama!"

.

.


.

.

"Aku pulang!" Taehyung membuka sepatunya kemudian meletakkannya di rak. "Jungkook! Jangan berlari seperti itu nanti kau—"

Belum lagi selesai berbicara, Taehyung sudah mendapati tubuh Jungkook yang bertabrakan dengan tubuh Yoongi, membuat keduanya kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dengan tidak elitnya di lantai yang keras dan dingin.

"—kan sudah aku bilang"

Yoongi mengelus bokongnya. "Kenapa lari-lari begitu?! Bisa diam sehari saja tidak?!" Omelnya galak.

Jungkook memajukan bibirnya. "Yoongi hyung yang salah, kenapa berdiri di tengah jalan!"

"Mwo?" Yoongi tidak percaya dengan kalimat yang baru saja di keluarkan Jungkook. "Jadi kau menyalahkanku? Hey, berani sekali bocah ini" Katanya, meminta penjelasan pada Taehyung, satu-satunya orang yang tau bagaimana Jungkook itu.

Taehyung memutar bola mata. "Ayolah, dia hanya anak ayam yang tidak tau apa-apa. Jangan berlebihan hyung, nanti kau akan terbiasa dengan sifatnya"

Yoongi mendecak kesal. "Kau membeli apa saja?" Ia menghampiri Taehyung kemudian membuka kantong belanjaan tersebut. "Astaga, kenapa banyak sekali? Sudah aku bilang jangan terlalu banyak menghabiskan uang, kau masih pengangguran"

Oh tidak, ceramah Min Yoongi akan segera di mulai.

Taehyung tersenyum lebar. "Tidak apa-apa hyung. Aku sengaja belanja sebanyak ini karena kau sudah mau menginap disini, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku ingin membuatmu senang?"

"Berhenti, itu menjijikkan" Yoongi mengambil alih kantong belanjaan dari tangan Taehyung. "Biar aku saja yang masak makan malam, kau temani Jungkook saja!"

Syukurlah, dia tidak jadi ceramah.

"Hei—" Taehyung tidak sempat melanjutkan kalimat protesnya, Yoongi sudah pergi ke dapur meninggalkannya dan Jungkook. Halah, pasti itu hanya alasan Yoongi saja agar ia tidak berduaan dengan Jungkook (karena mereka akan terus bertengkar).

Taehyung menoleh ke arah Jungkook. "Kau mau apa?"

"Eum—" Jungkook menatap langit-langit ruangan. "—tidak tau. Mama punya sesuatu yang seru? Jungkook bosan dan ingin melakukan sesuatu!"

"Aku punya apa ya?" Taehyung berjalan melewati Jungkook. "Aku ini kan sudah besar, jadi tidak punya sesuatu yang bisa di mainkan lagi. Umm, bagaimana kalau membantu Yoongi hyung di dapur? Ah tidak mungkin, pasti ia akan marah-marah"

Jungkook memandang Taehyung yang terus-terusan berbicara sendiri. Well, terkadang ia tidak mengerti mengapa Taehyung dan Yoongi sering mondar-mandir dan berbicara sendiri seperti itu, semua yang di lakukan oleh mereka berdua terlihat asing di matanya.

"Jimin?"

Taehyung tersentak, ia menoleh ke arah Jungkook. "Jimin? Park Jimin? Pemuda yang tadi di supermarket? Ada apa dengannya? Kau mengenalnya?" Tanyanya bertubi-tubi, barangkali Jungkook mengenal Jimin itu.

"Tidak" Dengan polosnya Jungkook menggeleng. "Tapi dia terlihat senang ketika melihat mama, Jungkook merasa tatapan matanya itu—um, umm" Yeah, Jungkook mulai kebingungan dengan kalimatnya sendiri.

"Sudah ah, jangan di bahas" Taehyung membanting tubuhnya di atas sofa empuk. "Aku tidak ingat dengan Jimin. Entah otakku yang salah atau sebelumnya aku tidak mengenalnya? Ada-ada saja" Gumamnya, meraba apapun di sampingnya untuk menemukan remote televisi.

Ngomong-ngomong, Taehyung jadi kepikiran soal pekerjaan. Yoongi benar kalau Taehyung itu tidak boleh boros-boros dalam menggunakan uang, apalagi statusnya masih pengangguran. Apa sebaiknya ia bekerja saja? Lumayan menambah penghasilan atau bisa di masukkan ke dalam tabungannya.

Tapi kalau dia bekerja, siapa yang akan menemani Jungkook di rumah? Bayangkan saja, Taehyung bekerja hampir seharian penuh dan Jungkook berada di rumahnya, bisa-bisa Taehyung langsung stress akibat rumahnya yang hancur akibat kecerobohan Jungkook.

"Jungkook, apa menurutmu aku harus bekerja?"

Taehyung tidak tau apakah bertanya hal seperti ini pada Jungkook benar atau tidak. Lagipula, ia hanya ingin bertanya, barangkali Jungkook bisa memberi saran lewat kalimat-kalimatnya yang masih berantakan.

Jungkook mendekat ke arah Taehyung. "Bekerja? Kenapa harus bekerja?"

"Karena aku butuh uang, tentu saja" Taehyung memutar bola mata. "Aku ini tidak selamanya di kelilingi oleh harta, Jungkook! Makanya aku harus bekerja dan cari uang. Kau juga! Seharusnya kau mulai mengerti tentang kehidupan manusia normal pada umumnya, jadi kau bisa bekerja!"

Kenapa jadi Jungkook yang di salahkan?

Yoongi datang dari arah dapur. "Memangnya kau mau bekerja sebagai apa? Melihat bagaimana kemampuanmu dalam melakukan segalanya itu kurang baik. Lebih baik diam saja di rumah, duduk manis menonton animasi dan jangan macam-macam"

Taehyung menoleh, menemukan Yoongi duduk di sebelahnya. "Masih saja suka meremehkan kemampuanku! Aku tidak mengerti kenapa bisa berteman denganmu, hyung!" Protesnya dengan wajah sebal.

"Aku lebih tidak mengerti lagi"

Lalu keduanya terdiam, melirik Jungkook yang juga sedang memandang mereka dengan tatapan bingung. Sedetik kemudian keduanya menghela nafas, pastilah Jungkook tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan barusan itu.

"Masak makan siang sana" Yoongi mengambil remote televisi yang ada di genggaman Taehyung. "Tadinya aku mau masak, tapi tiba-tiba moodku hilang"

"Jujur sekali!" Taehyung mendengus, beranjak untuk pergi menuju dapur. "Jangan bertengkar dengan Jungkook! Kalian berdua memang tidak ada cocok-cocoknya! Kalau Jungkook bicara yang aneh-aneh abaikan saja hyung!"

Begitu Taehyung menghilang, Jungkook memandang Yoongi dengan tatapan aneh yang ia punya. Yoongi juga begitu, memandang Jungkook dengan tatapan menjudge, seperti yang biasa ia lakukan.

"Kenapa menatapku begitu?"

"Yoongi hyung menyeramkan" Jungkook mengembungkan pipinya. "Jungkook lebih suka melihat wajah mama daripada wajah Yoongi hyung! Hyung terlihat seperti monster-monster yang ada di televisi!" Tambahnya, jujur tanpa berbohong.

Yoongi diam. Adiknya saja tidak pernah mengatakan seperti itu padanya, tapi Jungkook? Benar-benar menuangkan minyak ke dalam api yang membara!

"Tuh, sedang diam saja menyeramkan"

"Yah, dasar kurang ajar" Yoongi memberi tatapan tajam pada Jungkook. "Seharusnya kau berterima kasih karena aku memperbolehkan Taehyung untuk membiarkanmu tetap tinggal disini. Jika tidak, kau pasti sudah membusuk di dalam penjara"

Jungkook tertarik dengan kalimat Yoongi, ia mendekat sembari memasang wajah penasaran. "Penjara itu apa? Kenapa Jungkook harus masuk penjara?" Tanyanya.

Yoongi menepuk keningnya pelan, rasanya menyesal telah mengeluarkan beberapa kalimat pada Jungkook. "Aku bisa saja mengira kalau kau melakukan pelecehan pada Taehyung. Zaman sekarang ini banyak hubungan-hubungan pasangan yang tidak benar! Aku hanya khawatir pada bocah nakal itu!" Jelas Yoongi.

Pelecehan.

Hubungan-hubungan pasangan.

Jungkook jadi kepo.

"Umm—"

"Sstt! Jangan bertanya apapun lagi" Yoongi memfokuskan pandangannya ke televisi, menampilkan siaran berita terkini. "Kalau mau bertanya, nanti saja kalau mamamu itu sudah selesai memasak, dia akan senang mendengar perkembanganmu itu" Sarannya, yang langsung di balas anggukan dari Jungkook.

Senang dari Hongkong.

.

.


.

"Kenapa lagi? Kau selalu memasang wajah kusut jika sampai rumah"

Jimin meletakkan barang belanjaannya di atas meja. "Itu karena aku tidak ingin tinggal disini. Kenapa kau bertanya? Perduli apa kau padaku?" Balasnya, tak lupa memberikan tatapan tajam dan sinis.

Pemuda lainnya menghembuskan nafas, duduk di kursi meja makan dan menopang dagunya, memandang sang adik yang selalu memasang wajah kusut. "Pasti Kim Taehyung lagi. Aku tidak pernah menduga kalau ternyata anak itu membawa dampak buruk bagimu"

"Dampak buruk bagaimana?"

"Yeah" Sang kakak menyandarkan tubuhnya. "Hubungan kita sebagai kakak-adik jadi merenggang. Seharusnya aku tak pernah mengizinkanmu untuk bertemu dengan Taehyung, dia benar-benar pengacau segalanya" Lanjutnya, terkesan tidak perduli.

Jimin mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Jangan bicara yang tidak-tidak tentang Taehyung! Kau tidak tau apa-apa! Kau bukan siapa-siapa!" Gertaknya, penuh penekanan.

"Oh ya? Begitu ternyata" Kakaknya tertawa pelan. "Lantas apakah aku harus memunculkan diri di depannya agar kau tidak lagi berkata kalau aku bukan siapa-siapa? Ingatlah, sekali aku bertemu dengannya, ia akan hancur"

"Kau—"

"Ini adalah rahasia yang sangat mengganggu untukku, kalau kau mau tau" Pemuda itu menghela nafas. "Akibat perjanjian dan rahasia ini, aku tidak bebas pergi kemana saja, selalu memakai masker dan topi. Ck! Kau tega sekali dengan kakakmu sendiri"

Jimin mendengus kasar, membuka kantong belanjaan dan mengeluarkan isinya.

"Ngomong-ngomong—" Jimin menatap sang kakak yang kembali berbicara. "Jimin, kau tidak akan menghancurkan apa yang sudah kita janjikan bukan?"

Kalimat itu membuat Jimin diam tak berkutik.

.

.


.

.

"Bahasa inggrisnya ikan?"

"Elephant?"

"Hah? Sejak kapan ikan itu sebangsanya gajah?!" Taehyung tertawa lepas mendengar jawaban Jungkook. "Bahasa inggrisnya ikan itu Fish! Dasar kau! Bisa saja membuatku sakit perut begini!" Lanjutnya, menendang-nendang udara.

Jungkook memajukan bibirnya. "Jungkook bukan makanan basi"

Tawa Taehyung langsung sirna seketika. "Maksudmu?"

"Jungkook bukan makanan basi yang bisa membuat mama sakit perut" Balas Jungkook, jangan lupakan cengiran idiot yang muncul setelah pemuda itu mengatakannya.

"Tidak lucu" Taehyung memasang wajah datar.

Saat ini, mereka berdua sedang membaca buku milik Jungkook bersama-sama, di atas karpet yang ada di kamar Taehyung. Yoongi memilih untuk berdiam diri di kamar, ia tidak mau membuang-buang waktunya dengan hal-hal tidak berguna seperti yang Taehyung dan Jungkook lakukan.

Taehyung merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamarnya. "Kau sangat sama seperti diriku waktu kecil! Tidak bisa berbicara bahasa inggris dengan benar! Ibu dan ayahku sampai frustasi, aku selalu berkata kalau bahasa inggrisnya unta itu monkey! Bodoh sekali ya?"

"Mama tidak bodoh kok" Jungkook ikut-ikut merebahkan dirinya, memandang langit-langit ruangan itu. "Waktu itu mama masih jadi anak ayam, seperti Jungkook~ Makanya kalau salah itu wajar~" Lanjutnya lagi.

"Anak ayam?"

Jungkook mengangguk dengan semangat. "Mama lahir dari dalam telur kemudian menetas jadi anak ayam, seperti Jungkook! Benarkan?" Tanyanya, memperlihatkan gigi kelincinya yang menggemaskan.

Taehyung memutar bola mata. "Aku berbeda denganmu tau! Aku tidak lahir apalagi menetas dari dalam telur! Kau saja yang aneh, masa manusia menetas dari dalam telur?!" Gerutunya, menoleh pada telur Jungkook yang entah bagaimana sudah ada di kamarnya lagi.

Oh iya, Taehyung ingat kalau Jungkook selalu memindah-mindahkan telurnya itu.

Jadi begini, terkadang Jungkook selalu berkeliling ke seluruh bagian rumah Taehyung kalau ia sedang bosan. Entah karena kurang kerjaan atau apa, Jungkook membawa-bawa telur miliknya sendiri, jika di tanya, Jungkook akan menjawab kalau ia tidak ingin telurnya kedinginan. Aneh memang.

"Jungkook—" Taehyung mengubah posisinya menjadi tengkurap. "Coba deh kau katakan ini 'Namaku Jungkook dan aku bukanlah lagi anak kecil yang selalu di suruh-suruh'" Perintahnya, memandang Jungkook dengan tatapan serius.

Jungkook diam saja, ia tidak mengerti.

"Haish" Taehyung menghela nafas. "Kalau begitu mulai dari yang mudah saja. Jungkook, tolong katakan 'Aku sudah dewasa' dengan wajah serius!"

Mulut Taehyung ikut-ikut terbuka melihat Jungkook yang akan berbicara. "Aku sudah dewasa"

"Bagus!" Taehyung tersenyum lebar. "Sekarang ini, 'Aku akan melakukan segalanya sendiri tanpa meminta bantuan Taehyung'!"

"Aku akan melakukan segalanya sendiri tanpa meminta bantuan Taehyung"

Entah mengapa, Taehyung merasa seperti seorang ibu yang bangga pada anak satu-satunya. "Kau harus mengganti nama Jungkook menjadi 'aku' di setiap apa yang kau ingin katakan. Mengerti itu? Coba kau katakan apapun"

Jungkook terdiam sejenak. "Umm—aku tidak akan pergi kemana-mana"

Sebenarnya, Jungkook mencontek dari tayangan televisi yang ia tonton.

"Yesh! Lanjutkan!"

Ia terdiam lagi. "Dan mama—"

"Stop!" Taehyung buru-buru memotong perkataan Jungkook. "Kau juga harus mengganti kata 'mama' dengan Taehyung! Kau panggil namaku saja seperti orang-orang memanggilku!" Tambahnya, berharap Jungkook akan mengerti.

"Dan Taehyung—" Jungkook memandang Taehyung yang tersenyum puas padanya. "—Tidak akan pergi kemana-mana" Lanjutnya.

Kini Taehyunglah yang terdiam, mencerna kalimat Jungkook.

Jungkook sendiri merasa senang bukan main karena dirinya sudah bisa berbicara dengan lancar. Pemuda itu memandang Taehyung yang diam saja, ia bertekad untuk membuat sang mama bangga kepadanya! Jungkook akan membuktikannya!

"Taehyung" Jungkook tersenyum lebar.

Merasa namanya terpanggil, Taehyung mendongak dengan wajah tercengangnya. "Tunggu, aku belum menyuruhmu untuk—"

"Aku—" Jungkook masih tersenyum lebar, melihat bagaimana lucunya ekspresi sang mama saat ini.

.

.

"—Mencintaimu"

"HUAA Sudah-sudah jangan di lanjutkan!"

.

.


.

.

Yoongi memandang heran sosok Taehyung yang sedari tadi tidak berbicara apapun. Makan malam sudah di mulai sejak sepuluh menit yang lalu dan suasana disana tidak lebih dari pemakaman. Yoongi tidak heran melihat Jungkook berisik karena makanan yang disantapnya, ia juga makan berantakan—tapi Taehyung? Tidak biasanya anak itu diam.

"Taehyung" Panggil Yoongi. "Kau baik-baik saja?"

Taehyung tersentak dari lamuannya. "Oh, um, ah—yeah, aku tidak apa-apa hyung" Jawabnya sambil tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong kau mau pulang ke rumah kapan hyung?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

Berbohong lagi.

"Kenapa? Kau tidak suka ada aku di rumahmu?"

"Bukan begitu" Taehyung memajukan bibirnya. "Aku hanya bertanya! Barangkali kau masih mau disini karena merindukanku hyung~" Ia memasang wajah menggoda yang sungguh…

"Menjijikan" Yoongi melanjutkan makan malamnya. "Besok mungkin aku akan pulang, mengingat orang tuaku dan adikku pulang malam ini. Mereka tadi menghubungiku dan mereka bilang nenek tua itu merindukanku—aku rasa ini tidak penting untuk di ceritakan tapi, ugh, untuk apa nenek-nenek merindukanku?!"

Taehyung tertawa. "Jangan begitu hyung! Dia itu nenekmu lho!"

"Tidak akan mau aku punya nenek bawel begitu"

Jungkook menoleh ke arah keduanya, tanpa aba-aba langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Aku tau apa itu nenek! Nenek adalah orang tuanya orang tua—"

"Iya iya, sudah tau"

Mendengar Taehyung berbicara seperti itu, Jungkook langsung cemberut. "Aku hanya ingin menjawab, apa itu salah?" Tanyanya.

"Tunggu dulu" Yoongi baru menyadari sesuatu. "Kalimat Jungkook sudah tidak seperti tadi siang lagi? Kau mengajarkan apa padanya, Kim Taehyung? Rasanya asing sekali mendengarnya berbicara begitu"

Taehyung tersenyum lebar. "Dia bukan anak ayam yang baru menetas lagi aku rasa. Mungkin aku akan merubah keputusanku, aku ingin membuat Jungkook agar menjadi manusia normal pada umumnya—maksudku, cara ia berbicara, aku ingin mengubah cara ia bicara" Jelasnya.

Yoongi mengangguk setuju. "Kalau begitu, selamat berjuang"

Suasana disanapun hening lagi. Taehyung menghembuskan nafasnya pelan, ia berani sumpah kalau dirinya itu tidak bisa melupakan kejadian siang tadi. Oh, rasanya Taehyung menyesal sekali sudah membiarkan Jungkook berbicara! Ternyata kalimat dewasa seorang Jungkook mampu membuatnya diam tak berkutik.

Ah, tentang secarik kertas kecil berisi pesan-pesan penting itu.. dimana Taehyung menyimpannya ya? Barangkali ada nomor telepon tersembunyi disana, jadi ia bisa menghubungi pihak yang telah mengirimkan Jungkook padanya.

'ARGHH! Rasanya aku mau mengembalikan Jungkook ke dalam telur lagi! Kemudian mengirimnya pada tempat asalnya! Benar-benar menyebalkan!' Rutuk Taehyung di dalam benaknya, ia memotong daging di atas piring bagaikan sedang memutilasi manusia.

Jungkook yang melihatnya meringis takut, Taehyung terlihat lebih menyeramkan dari hantu-hantu yang ia lihat di film-film horror kesukaan sang mama.

"Ma—Taehyung?"

"HAAA RASANYA AKU INGIN MENENDANG TELUR JUNGKOOK JAUH-JAUH! KALAU PERLU KE PLANET PLUTO SEKALIAN BIAR DIA TIDAK KEMBALI!"

"Idiot! Kenapa kau berteriak?!"

.

.

.

.

"Kau selalu berbohong padaku! Apa kau tidak tau kalau aku mencintaimu sungguh-sungguh?"

"Kau selalu berbohong padaku! Apa kau tidak tau kalau aku mencintaimu sungguh-sungguh?"

"Maaf, tapi aku benar-benar harus pergi. Tolong lupakan aku dan.. selamat tinggal"

"Maaf, tapi aku benar-benar harus pergi. Tolong lupakan aku dan.. selamat tinggal? Uh? Memangnya dia mau kemana?"

Taehyung memandang Jungkook dengan tatapan datar. Jadi begini, Taehyung sedang menonton drama favoritnya yang di tayangi kembali setelah episode terakhir beberapa bulan yang lalu, namun bukannya ia duduk santai sambil menonton, ia malah terganggu karena Jungkook duduk di depan televisi, menghalangi pandangannya.

Dalam hati Taehyung protes, ia tau Jungkook ingin belajar banyak mengenal kalimat, tapi tidak begini juga! Menganggu waktu santainya untuk menonton televisi itu sungguh menyebalkan.

"Mama—ups, Tae~" Jungkook menoleh ke belakang. "Memangnya dia mau kemana? Kenapa dia pergi? Kenapa perempuan itu menangis?" Pemuda itu melontarkan pertanyaan yang menumpuk.

Taehyung memutar bola mata. "Dia mau pergi jauh ke tempat tinggalnya di luar negri! Karena ia memang harus pulang dan perempuan itu adalah kekasihnya, ia menangis karena tidak sanggup berpisah dengan laki-laki itu" Jelas Taehyung, tidak ikhlas sebenarnya.

"Apa dia akan kembali?"

"Tidak tau" Taehyung memeluk bantal sofa erat-erat. "Kalau laki-laki itu benar-benar mencintai kekasihnya, pasti ia akan kembali kemudian hidup bersama-sama selamanya" Jawabnya, meskipun rasanya malas sekali untuk berbicara.

"Wah" Jungkook memandang Taehyung dengan tatapan kagum. "Taehyung sudah hafal jalan ceritanya ya? Hebat! Jungkook juga akan mencoba untuk mengerti maksud dari drama ini!" Tekadnya kuat, kembali fokus ke televisi.

'Aku memang sudah sangat hafal jalan ceritanya' Taehyung menghela nafas. 'Laki-laki itu tidak akan pernah kembali sampai kapanpun, mereka ditakdirkan untuk tidak bersatu.. benar-benar kisah yang mengharukan'

Tiba-tiba, Taehyung langsung teringat sesuatu, pertanyaan yang selalu ia pendam di dalam benaknya.

"Jungkook" Panggil Taehyung pelan. "Seandainya kau harus kembali ke dalam telur kemudian pergi dari rumah ini, apa kau merasa sangat senang? Kembali ke tempat asalmu, misalkan"

Jungkook mengernyit sesaat, ia menoleh kemudian tersenyum lebar. "Jungkook akan sedih dan kembali ke rumah Taehyung. Taehyung adalah mama, Jungkook tidak kenal siapa-siapa selain Taehyung dan Yoongi hyung—umm, Jimin juga!" Jawabnya.

Taehyung terdiam, kenapa juga dia harus bawa-bawa nama Jimin? Taehyung menghela nafas kasar. "Tapi, seandaikan kau tidak boleh kembali ke rumahku, apa yang akan kau lakukan?"

"Tentu saja mencari caranya!"

"Oh begitu"

Jungkook memandang Taehyung dengan tatapan bingung. Well, dia sangat menyadari bahwa Taehyung jadi lebih pendiam sekarang. Jujur saja, Jungkook lebih suka saat Taehyung memarahi atau membentaknya, itu lebih baik daripada melihat sang mama berdiam diri seperti sekarang ini.

Taehyung masih diam, entah kenapa jadi tidak bernafsu menonton drama kesukaannya.

"Ildeohagi ileun gwiyomi~"

"Eh?!" Taehyung mendongak, menemukan Jungkook sedang melakukan hal aneh—melakukan aegyo secara tiba-tiba. "Jungkook, kau ini sedang apa?"

Jungkook tidak menjawab, dengan polosnya ia tetap melakukan aegyo; gwiyomi dengan khas yang aneh di depan Taehyung. "ideohagi ineun gwiyomi, samdeohagi sameun gwiyomi, gwigwi gwiyomi gwigwi gwiyomi—"

Taehyung langsung menahan tawanya. "Jungkook! Berhenti! Ekspresimu itu benar-benar aneh, aku bersumpah!" Katanya, menutup mulutnya rapat-rapat agar tawanya tidak meledak saat itu juga.

"Sadeohagi sado gwiyomi, odeohagi odo gwiyomi, yukdeohagi yugeun jjokjjokjjokjjokjjokjjok—" Jungkook terdiam, memandang jari-jarinya sendiri dengan tatapan bingung. Yeah, menurut Jungkook bagian ini adalah bagian yang paling tersulit.

Dengan sadisnya, Taehyung melempar Jungkook dengan bantal sofa yang ada di pelukannya. "Tidak hafal ya? Kalau begitu jangan lakukan itu lagi! Kau tidak tau sih bagaimana ekspresimu saat melakukan hal itu! Lain kali aku harus merekamnya!" Akhirnya tawa Taehyung terdengar, pemuda itu sampai memegang perutnya sendiri.

Jungkook tersenyum lebar, akhirnya ia berhasil membuat Taehyung tertawa lagi.

.

.

"Nih, sekarang giliranku!"

Taehyung beranjak dari posisi duduknya, memandang ke depan dengan tatapan serius, sedikit membuat Jungkook tercengang karenanya (Anak ayam itu sempat berpikir bahwa Taehyung akan melakukan gerakan dance yang keren).

Tiga.

Dua.

Sa—

"Geh-ool-gah-eh ohl-cheng-ee han-mah-ree, ggoh-mool ggoh-mool heh-uhm-chee-dah~"

Ya ampun. Jungkook langsung tersenyum lebar, melihat sosok Taehyung yang mulai melakukan gerakan-gerakan aneh, apalagi dengan suara nyanyiannya yang sangat terdengar seperti seorang anak kecil berusia tiga tahun.

"Duit-dah-ree-gah ssook, ahp-dah-ree-gah ssook, pahl-dak pahl-dak geh-goo-ree dehn-neh—Yah! Kenapa kau malah mentertawakan aku begitu?! Ini adalah lagu favoritku dari kecil kalau kau mau tau!" Omel Taehyung, menatap tajam Jungkook yang entah kapan sudah tertawa keras.

Jungkook memegangi perutnya yang terasa sakit, bahkan ia hampir menangis. Astaga, ini sudah larut malam dan sebenarnya siapa yang masih anak ayam di sini? Jungkook atau Taehyung?

.

.


.

.

Pagi harinya, Yoongi berjalan dengan langkah lambat, sepanjang perjalanan dia tidak berhenti menggerutu. Bagaimana tidak? Saat ia baru pulang ke rumah, ibunya sudah menyuruh dirinya untuk pergi belanja (dengan bonus tatapan mata yang menusuk Yoongi sampai ke ubun-ubun).

Seharusnya ia tetap menginap di rumah Taehyung sementara waktu, agar sang ibu tidak bisa memerintah dirinya seenaknya. Awalnya Yoongi ingin menyuruh sang adik, tapi dengan kurang ajarnya bocah ingusan itu berlari keluar rumah dengan alasan mau bermain.

Jadi disinilah dia, membawa banyak kantong belanjaan sesuai daftar yang sudah di berikan oleh sang ibu tercinta.

"Yoongi hyung!"

Nah, siapa pula yang berani memanggilnya disaat moodnya sedang seperti ini? Yoongi membalikkan tubuhnya, semua kata-kata kasar yang ingin ia lontarkan langsung tertelan olehnya sendiri.

"Oh, Jimin?"

"Astaga!" Pemuda bernama Jimin tersenyum lebar. "Kau mengingatku?! Aku pikir kau juga melupakanku, seperti yang Taehyung lakukan!" Lanjutnya, tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya.

Yoongi memandang Jimin dengan tatapan datar. "Sebenarnya ingatakanku cukup bagus. Apa yang kau lakukan di sini? Dan siapa pemuda ini?" Tanya Yoongi begitu menyadari ada seorang laki-laki lain yang berdiri di samping Jimin.

"Oh?!" Jimin hampir lupa dengan kehadiran laki-laki itu di sampingnya. "Aku belum memberitahumu ya? Dia kakak laki-lakiku, satu-satunya kakak laki-lakiku" Jawab Jimin, menepuk-nepuk bahu sang kakak (dengan terpaksa).

Yoongi mengernyit, sebenarnya ia merasakan sesuatu yang ganjil. "Oh kakakmu? Kalau begitu aku langsung mau pergi saja, di rumah ada yang menungguku. Sampai jumpa, Jimin dan kakak—"

"Hyung" Jimin menahan lengan Yoongi, membuat pemuda itu kembali membalikkan tubuhnya. "Sebelum kau pergi, apa kau keberatan memberikanku alamat dan nomor ponsel Taehyung?" Pintanya, dengan nada pelan.

"Alamat dan nomor telepon Taehyung?" Yoongi mengulang. "Untuk?"

Jimin terdiam sebentar, melepas genggaman tangannya di lengan Yoongi kemudian sekilas melirik sang kakak yang dari tadi tidak berbicara apapun.

"Aku—" Jimin tersenyum. "—hanya merindukannya, karena kami sudah lama tidak bertemu dan dia malah melupakanku. Apa kau keberatan?"

"Tidak, tentu saja"

Tunggu, tunggu, tunggu, Yoongi merasa ada yang aneh dengan Jimin dan kakaknya ini. Sejak kapan Jimin punya kakak laki-laki? Sejak kapan Jimin… dekat dengan Taehyung? Apa ingatannya yang salah atau.. dia benar?

Jimin semakin melebarkan senyumnya. "Bagus, jadi bisa aku minta sekarang?"

.

.


.

.

Ponsel Taehyung bergetar, menandakan ada panggilan masuk dari seseorang.

"Hey Jungkook jangan jauh-jauh!" Taehyung merogoh saku celananya, sesekali matanya memandang sosok Jungkook yang sedang mengendarai sepeda miliknya. Pagi ini dia memang berniat mengajarkan Jungkook bagaimana mengendari sepeda.

Untungnya, Jungkook bisa dengan mudah mengerti.

Setelah menemukan ponselnya, Taehyung dengan sengaja menjepit benda canggih itu di antara bahu dan telinganya, kedua tangannya ia gunakan untuk menyuruh Jungkook agar kembali.

"Ha—"

"Taehyung~~" Jungkook memberhentikan sepedanya tepat di hadapan Taehyung, ia tersenyum lebar karena senang sekali bisa mengendarai benda berjalan seperti ini. "Cepat naik~ Jungkook akan membonceng Taehyung~"

Sayangnya, bukan jawaban yang ia dapat, justru Jungkook terkejut akibat ponsel Taehyung yang tiba-tiba jatuh, membentur aspal yang keras hingga membuat benda persegi canggih itu sedikit lecet. Jungkook mendongak lagi, menemukan Taehyung tidak melakukan pergerakan apapun.

"Taehyung?" Jungkook turun dari sepedanya, mempersempit jarak mereka berdua. "Taehyung tidak apa-apa?" Tanyanya, terdengar begitu khawatir.

"Jungkook—" Taehyung tidak menyelesaikan kalimatnya, kedua matanya memanas dan perlahan air mata turun dari kedua mata indah itu. "Jungkook—" Katanya lagi, tapi ia tetap tidak memandang Jungkook.

Jungkook menjatuhkan sepedanya, kedua tangannya ia bawa untuk menangkup kedua pipi Taehyung. "Jungkook? Jungkook kenapa?" Pemuda itu semakin khawatir saat mendengar isakan kecil keluar dari bibir Taehyung.

"Jungkook—" Taehyung menggigit bibir bawahnya. "Hyungku—"

.

.

.

"Sudah?"

Pemuda itu mengangguk, memberikan ponsel kepada pemiliknya. "Dia tidak merespon apapun. Aku rasa ia sangat terkejut, apalagi kata-kataku tadi itu terlalu serius" Jawabnya, kembali memakai maskernya.

Park Jimin diam saja, memandang nomor ponsel Taehyung yang kini sudah tersimpan di kontak ponselnya. Dia menggenggam ponsel itu erat-erat, seakan-akan bisa menghancurkannya dalam hitungan detik. Emosi bergejolak di dalam benaknya, ia ingin sekali melayangkan pukulan paling menyakitkan kepada sang kakak, agar ia tau rasa.

"Kau" Jimin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia tidak bisa mengeluarkan seluruh amarahnya di tempat ini. "Kau, kau telah menghancurkannya" Jimin berkata pelan, namun seakan-akan ingin membunuh.

"Aku tidak menghancurkannya, Jimin" Sang kakak tersenyum lembut. "Malah kalau aku boleh jujur, aku memang merindukannya"

Merindukan apa? Jimin membuang muka ke segala arah. Andai ia bisa melakukan sesuatu, andai ia bisa.. hanya kata andai yang kini ia pikirkan.

.

.

.

"Taehyung-ie, apa kau ingat aku? Aku kakakmu, aku masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja sekarang ini. Taehyung-ie, kau tau? Aku merindukanmu, aku ingin menemuimu tapi tubuhku tak ingin menuruti kemauan hatiku. Bagaimana kabarmu disana? Aku tau kau sehat-sehat saja. Taehyung, kau harus ingat satu hal kalau aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu"


Bersambung


Lirik lagu yang ada di fanfic ini adalah lirik dari lagu Gwiyomi dan Tadpole Song (Yang sering di nyanyiin sama Taehyung)


A/N : YEAHH Akhirnya selesai juga ujiannyaaa /tebar confetti/ Siapa yang rindu fanfic ini? Gak ada? Wkwk sama aku juga. Sebenarnya agak ragu buat update, karena aku gak yakin ceritanya bakalan seru atau justru membosankan, maaf kawan-kawan, keterbatasan ideku yang bikin cerita ini semakin lama semakin aneh /bow/, tadinya mau di bonusin sampe 5000+words, tapi sengajalah biar pada penasaran wkwk.

Balas review dulu okk!

Adinda869 (Maaf ne chingu :( nae sibuk sekali sekarang ini, jeongmal mianhe /lol/ ini sudah di usahakan yaa biar Jungkooknya dewasa TT_TT wah wahh kalau jalan ceritanya begitu kamu bisa nebak dong :p nah sudah di lanjut ya) | Clou3elf (Dan akupun update lama lagi wkwk. Haha tolong amankan Taehyung ya kakak :( lucu tau anak ayam itu :p) | sxgachim (Jungkook sudah besar tidak pakai popok lagi, Jungkook mau pakai celana dalam /?/) | eggtae (Lagi-lagi Jimin salah wkwk /pukpuk Jimin/ Jungkook sudah dewasa kakak :') untungnya aku sudah terbebas dari internet positif huahaha /ketawa setan/ sudah di lanjut kak! Salam #TeamTerongJungkook) | HyeraSung (Hayooo di tebak siapa kakaknya Taehyung dan apa hubungannya sama Jimin :p Jungkook ingin dewasa kak :c) | Jell-ssi (Yeap Yoongi akhirnya eksis kakak :c Haha masa sih mereka mau marahan? Nanti ga asik dongg :c sudah di lanjut yaa! Yoongi masih ada kok di chapter ini wkwk) | JustUkeVaddict (Akhirnya ada yang cinta sama saya :') Yoongi bakal mikir dua kali kalau dia suka sama Taehyung haha xD Bantet? Jahatnyaaa :c tebak kak tebak siapa sebenarnya kakaknya Tae TT_TT nih sudah di lanjut coeg wkwk) | Malaikat Pencabut Nyawa (Jujur aku kaget liat pen-namenya wkwk. Serba salah deh, Jungkook polos pada greget, Jungkook sakit hati pada blg Jungkook sudah dewasa /pusing pala berbi/ Wahh makasih xD aku jadi semangat bikin kelanjutannya baca review kamu xD Nah nah jangan jadi siders lagi okayyy?! Sudah di lanjut yaa!) | rizqiqaharini (Gapapa nyantai ajaa^^ Wkwk aku pikir mau bilang Jungkook sudah dewasa juga kamu :" sudah di lanjut ya!) | rlnmjn (Jawaban polos Jungkook menggemparkan kedamaian dunia wkwk /apaan/ yeah Jungkook sudah bosan jadi anak ayam terus kak :c sudah di lanjut ya ayey /lol/ | bbihunminkook (GAPAPA KAK JUNGKOOK LELAH SOALNYA WKWK) | utsukushii02 (TAU NIH BANTET DATENG-DATENG RUSUHHH :c) | YolYol17 (ANAK AYAM JUGA MANUSIA /?/ sudah di lanjut nihh maap menunggu lama~) | Anunya Bangtan (Yaampun pen-namemu membuat diriku ambigu nak :") Hayo siapa kakaknya Taehyung? Sudah berhenti kakak :c dia kasian melihat para readersnya yang frustasi) | Ansleon (Jangan di bayangkan lho nanti gemes haha. Masa kamu mau di makan sama Jungkook & Taehyung kak? wkwk) | JeonJeonzKim (Iyap! Ndak apa-apa selaw aje /?/ Caranya ya begitu wkwk, sudah di lanjut ya) | anoncikiciw (INI KENAPA AKU YANG DI SURUH TANGGUNG JAWAB KAK?! /kabur/ Udahlah si Jimin usir aja wkwk xD) | PurpleLittleCho (Wah wah kalau begitu pas dong ya sekarang ini Jungkook udah banyak ngomong, hehe~ Jangan di bayangkan kak :c diabetes nanti) | Phylindan (Waduhh waduhh /panik karna sesuatu/ wkwk Jungkook ingin seperti kalian semua yang sudah dewasa :c) | rilakkuchan61 (Kakaknya bukan Jin, tapi setan wkwk /di lindes/ Yah, dia sudah gede /apanya/ wkwk) | Yoongipark (Jangan kak ndak muat dia di dalam kantong plastik wkwk, kalau bisa langsung masukin karung xD) | syuberi (Cari di toko online kak barangkali jual wkwk /apaan/) | hanbinunna (Hey hey nakk masih banyak anak di bawah umur disini, Jungkook juga termasuk :c) | rayeol (Tugas mulu ya, capek banget :c Tae jadi guru tk, sekolahnya hancur wkwk. Eaakk berasa tua di panggil kak anis :') /memang sudah tua/ wkwk Jimin salah mulu ya xD Sudah di lanjut ya Raraaa /hug/) | SongHyurA (JIMIN ITU *PIIPPP* NYA TAEHYUNG DAN YANG NGOMONG SAMA JIMIN ITU *PIIIIPP* Wkwkwk /di lempar granat/ | Mokuji (Ada apa chinguuu? 0_0) | Strawbaekberry (Ga apa-apa kak xD santai aja. Kakaknya jimin masih di sembunyikan identitasnya /?/ Iya dongg kan ini ffnya KookV /smirk/) | varaxiu99 (Dan Jimin baru datengpun langsung di pitnah wkwkwk xD Mari kita berdoa agar Jimin tidak jadi PHO disini xD) | taehyungkece (hot hot pop bikin gaya makin ngetop /ngiklan/ xD) | nabilalifiau (Wkwk jangan di tungguin telornya wehh ga bakal keluar Jungkook xD Oh iya udah lama ga masukin terong ke ff ini :c tetep ikutin ya kalau penasaran~ /maksa/) | ONEEL (Wkwk gapapa kok~ bedanya Eggy sama Jungkook itu.. Eggy romantis dan Jungkook nyebelin wkwk xD udah di lanjut ya) | KookieL (Sudah kilat? 0_0) | mariomayo (WEYY JANGAN PITNAH WEYYY BTW ANE BACA PEN-NAME SITU KOK JADI OMAYO YAK?! WKWK /MAAPKEUN/ JUNGKOOK DAH DEWASA WEYY /ganyante/ CHANYEOL ITU SUAMI GUE KAK PLEASE DEH WKWK /ditendang/) | vijeonjams (Syukurlah kalau akhirnya keberadaan ff ini di temukan :') lihat saja nanti, apakah Jungkook akan polos terus atau justru... *piiippp* /sensor/ wkwk bisa aja Seokjin, tapi bisa juga orang lain :v /kabur/ ) | bities (KENA ASMA JUNGKOOKNYA MAKANYA SESAK /bruh/) | rizkah sung (Ini sudah di lanjut sayangg~) | princeRathena (Jangan nyesel atuhh xD Wah wah beneran? Tapi tetap hargai yang aslinya yaa :p sesama fujo dong kita wkwk. Sudah di lanjut nihh! Selamat membaca yaa!)

CAPEKNYA NGETIK GA KERASA GUYS, MALAH SEMANGAT KARENA KALIAN SEMUA SELALU MEMBERIKAN KOMENTAR POSITIF BUAT FF INI /Capslock di teken Jungkook/ Buat kalian yang fav/follow doang, aku ucapin makasih banyakkk :') aku awalnya negatif thinking lho, mikir kira-kira ff kayak gini bakal banyak yang sukain gak ya, tapi ternyata.. syukurlah /terharu/

Yang bikin aku bingung; Jungkook polos pada greget, Jungkook nyesek malah di bilang sudah dewasa. Lelah hayati bang, memang sudah waktunya untuk Jungkook tumbuh dewasa dan membaca fanfic rating M /apa hubungannya/ dan untuk soal kakaknya Taehyung dan apa hubungannya sama Jimin, aku masih gak mau kasih tau kalian biar pada penasaran huahaha /ketawa bajak laut/

Segitu aja kali ya? Maaf lho malah jadi ngebacot disini. Buat kalian para siders, apa ga mau coba buat review? Komentar kalian semua itulah yang selalu jadi penyemangat aku buat lanjutin fanfic ini /muka serius/ /kemudian nyengir/ Tapi no problem juga sih, di baca aja aku udah bersyukur banget :3