What the

Cerita ini terinspirasi dari Eggnoid di Webtoon

Warning : 9000+ words, semoga pada ga ketiduran, banyak typo pula, duh maapkeun /bow/

.

.

Chapter 7

.

.

Ini adalah kisah hidup seorang Park Jimin.

.

Menurutmu, apa itu sebuah keluarga?

Kebahagiaan? Kehangatan? Orang-orang yang saling menyayangi? Masih banyak kalimat yang bisa mendeskripsikan apa itu arti sebuah keluarga. Namun sayang, Park Jimin tidak pernah merasakan hal tersebut. Ia mati sejak lahir.

"Hari ini kita pindah ke ibukota, siapkan saja barang-barangmu"

Tangan yang sedang ia gunakan untuk memotong daging asap langsung berhenti, kedua matanya ia bawa untuk menatap seorang pria paruh baya yang bahkan tidak membalas pandangannya. "Kita pindah lagi?"

Tidak ada jawaban.

"Bagaimana dengan eomma? Pasti eomma belum tau mengenai hal ini" Cicitnya pelan. Sebenarnya ia tak ingin melempar pertanyaan ini, tapi ayolah, ia masih enam belas tahun dan pikirannya belum matang seluruhnya.

Ayah kandung Jimin adalah orang yang tegas, ia punya kharisma tersendiri dan kesempurnaannya dalam berbagai bidang membuat siapapun yang melihatnya langsung berpikir wah. Apa kalian tidak mengerti? Maksudnya, semua orang yang melihat ayah Jimin pasti akan berpikir kalau pria itu adalah pekerja keras.

"Park Jimin, apa aku pernah mengizinkanmu berbicara mengenai ibu kandungmu? Sudah aku katakan hampir setiap waktu, dia bukanlah ibumu. Coba kau pikir-pikir, mengapa seorang ibu tega meninggalkan anaknya saat tau kalau anaknya itu lahir dari hubungan haram?"

Kalimat itu, menusuk Jimin hingga yang paling dasar.

Itu benar, ia adalah anak haram. Jimin lahir karena ibu dan ayahnya mempunyai hubungan terlarang, mereka berhubungan badan secara diam-diam kemudian kabur dari keluarga. Beberapa hari setelah Jimin lahir, ibunya meninggalkannya tepat di samping sang ayah, tanpa surat, izin, atau maksud apapun.

"Kenapa diam saja? Masih mau mencari sosok ibumu itu?" Suara ayahnya terdengar sangat dingin, Jimin menggenggam erat-erat pisau yang ada di tangannya.

Bagaimanapun juga, Jimin ingin bertemu dengan ibu kandungnya. Jimin ingin merasakan bagaimana sebuah pelukan hangat dari seorang ibu, karena selama ini Jimin tidak pernah mendapatkannya dari sang ayah. Tidak pernah.

Tapi, itu hanya andai-andai saja. Setiap Jimin mendengar informasi bahwa sang ibu mencarinya, mendatanginya ke rumah ini, pasti semua orang akan menutup pintu rapat-rapat. Seperti sengaja membiarkan Jimin tenggelam dalam dunia gelapnya, sendirian.

.

.


.

.

Jimin menutup pintu mobil sedikit keras, kemudian memperlihatkan wajahnya pada jendela mobil yang terbuka. "Apa nanti appa akan menjemput?" Tanyanya. Mood itu sudah kembali bagus lagi. Jimin rasa.

"Tidak" Ayahnya melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harus menghadiri beberapa meeting hari ini. Jung ahjussi sudah memberitahumu bagaimana cara pulang menggunakan bus umum bukan?"

Kecewa. Jimin terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk pelan. "Kalau begitu aku akan naik kendaraan umum saja. Sampai jumpa, appa"

"Hmm"

Bersamaan dengan itu, kaca mobil tersebut tertutup otomatis, di susul oleh mobil ayah Jimin yang melaju meninggalkan anak semata wayangnya. Jimin menghela nafas, sebenarnya ia tak mengerti. Ayahnya itu terlihat jahat, namun selalu membuatnya terkejut dengan cara ia memperhatikan Jimin. Ah, apa itu cara ayahnya menyayanginya?

Sudahlah. Bukankah sebaiknya ia harus mencari kelas barunya?

Saat ingin berbalik, pandangan Jimin jatuh pada tiga orang disana, di dekat gerbang sekolah lebih tepatnya. Untuk pertama kalinya, dalam seumur hidup, Jimin merasakan jantungnya berdetak tidak karuan (Ini lebih parah dari saat ia naik rollercoaster untuk pertama kali). Sungguh, Jimin merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya.

Rambut cokelat itu, wajah manis itu, senyuman lebar itu. Jimin baru pertama kali melihat malaikat—uhm, melihat yang seperti itu.

Untuk yang pertama kali. Jimin jatuh cinta, pandangan pertama.

.

.


.

.

Kim Taehyung adalah namanya.

Park Jimin bersyukur ia punya teman yang selalu tau informasi setiap siswa yang bersekolah disini. Maksudnya, mereka berdua masuk ke ruang TU diam-diam hanya untuk mengetahui informasi lengkap mengenai Kim Taehyung. Untungnya, mereka melakukan itu malam hari, jadi tidak ada siapapun yang tau.

Kecuali CCTV.

Pada akhirnya, Jimin dan temannya berakhir di ruang bimbingan dan konseling, mendapat ceramah lebar plus tatapan tajam dari wali kelas mereka. Jimin pikir, itu adalah akhir dari segalanya. Tapi ia salah, justru itu adalah awal hubungannya dengan Kim Taehyung.

'Namamu Jimin ya? Aku sudah dengar dari wali kelasmu—uhm, mau mencoba berteman?'

Hanya dengan kalimat sesederhana itu. Kim Taehyung sukses membuat si Jimin yang kurang kasih sayang, semakin jatuh ke dalam pesonanya. Jimin ingin mengenal Taehyung lebih dekat, barangkali hubungan mereka bisa melebihi sekedar teman saja.

Ah, ia terlalu bermimpi, kalau terbangun pasti sakit.

.

.


.

.

Sayangnya, perkiraan Jimin tentang hubungannya dengan Taehyung tak sesuai apa yang ada di otaknya. Mereka tidak menjadi sahabat dekat, mereka hanya saling menyapa disaat bertemu (biasanya Taehyung yang tersenyum manis padanya jika bertemu). Dan lagi, Jimin lebih sering melihat Taehyung bersama dengan Min Yoongi, sahabat Taehyung yang entah kenapa malah lebih tua dari mereka.

Sejauh Jimin memandang, Taehyung adalah orang yang ceria, ia selalu melakukan hal-hal aneh dan membuat seluruh perhatian orang lain jatuh padanya. Satu fakta lagi, yang paling tidak boleh di lupakan, Taehyung mempunyai seorang kakak laki-laki.

Kim Bogum. Kenapa Jimin tau? Tentu saja, Taehyung senang sekali membangga-banggakan kakak kandungnya itu di depan semua teman-temannya. Bogum tampan, baik, apapun yang positif mengenai laki-laki itu selalu Taehyung ceritakan.

Akhirnya Jimin tau, Taehyung sangat menyayangi kakak laki-lakinya tersebut.

.

.


.

.

Jimin berdiri di depan kelas Taehyung, ia membawa satu bungkus cokelat di balik punggungnya. Ini mungkin akan terlihat seperti menyatakan cinta kepada seorang perempuan. Tapi Jimin tidak perduli, ia punya caranya sendiri.

Mata Jimin mengintip ke dalam kelas Taehyung, menemukan sosok pujaan hatinya itu sedang melambaikan tangan kepada teman-temannya. Manis sekali, senyuman itu tak pernah menghilang dari wajah Taehyung dan Jimin harap senyuman itu tak akan pernah hilang dari wajah manisnya.

Saat Taehyung muncul, Jimin langsung menahan lengan kurus itu.

"Oh—" Taehyung terkejut. "Jimin? Kau mengagetkanku. Aku pikir kau itu siapa" Lanjutnya lagi, mentertawakan kebodohannya sendiri.

Jimin membalas dengan tersenyum tipis. "Err, aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu padamu"

Kening Taehyung mengerut. "Kau ingin bicara apa? Apa penting sekali sampai harus gugup begitu?" Oh sial. Kim Taehyung menyadari bahwa Jimin sedang gugup saat ini. Lebih tepatnya, Jimin ingin menghilang dari hadapan Taehyung sekarang juga.

Katakan tidak ya? Katakan apa tidak? Katakan saja!

"Tae, bagaimana kalau aku menyukaimu?"

Diam. Hening. Tidak ada balasan apa-apa. Jimin memberanikan diri untuk melihat wajah Taehyung, mengira-gira apa ekspresi yang digunakan pemuda itu. Dan, Jimin terkejut, ia melihat wajah shock Taehyung karena mendengar pengakuannya. Oh, apa dia melakukan hal yang salah?

Masih diam beberapa saat sampai akhirnya Jimin mendengar tawa keras dari Taehyung. "Menyukaiku? Jangan bercanda. Kita tidak akrab, aku juga tidak terlalu mengenalmu, kita hanya bertemu saat istirahat dan pulang saja"

Saat itu juga. Jimin merasa dirinya hancur berkeping-keping. Hati dan pikirannya berselisih, mencari kata apa yang pantas untuk menjelaskan keadaannya sekarang ini. Sekuat tenaga, Jimin memperlihatkan senyum lebarnya.

"Ah, apa itu menjadi sebuah penghalang?" Tanyanya, dia semakin menyembunyikan satu bungkus cokelat yang ada di balik punggungnya.

Tawa Taehyung berganti menjadi tatapan tajam. "Jimin, aku akan benar-benar menendang kepalamu! Akan aku adukan pada kakakku kalau sampai kau berbicara lelucon lagi!"

Hah. Selesai sudah. Taehyung menolaknya terang-terangan.

Jimin tertawa. "Haish, galak sekali. Jangan bawa-bawa kakakmu lagi, Tae! Aku hanya bercanda saja tadi, jangan di bawa serius okay?" Ia melihat Taehyung tersenyum sambil mengangguk. "Sebenarnya aku kesini mau mengajakmu pulang bersama, tapi ku—"

"Aku sudah di jemput oleh Bogum hyung" Taehyung memberikan tatapan lugunya.

Jimin langsung melempar senyum. "Aku sudah tau. Kalau begitu pergilah. Maaf aku sudah menganggumu, candaan tadi tidak perlu kau pikirkan okay?"

Taehyung terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk. "Baiklah. Sampai besok, Jimin!"

Jimin memandang sosok Taehyung yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Setelah benar-benar pergi, Jimin menghembuskan nafasnya kasar, ia membanting cokelat itu ke lantai, menyebabkan cokelat itu hancur dan berserakan kemana-mana.

Ia tidak perduli jika petugas kebersihan akan mengomelinya, atau bahkan CCTV merekam perbuatannya kembali. Jimin tidak perduli. Ia hanya merasa sudah hancur, Taehyung menolaknya walau ia belum benar-benar menyatakan cintanya.

Sekarang apa yang harus ia lakukan?

.

.


.

.

Jimin berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Dia tidak perduli ketika beberapa pasang mata memandangnya dengan tatapan aneh. Jimin tidak perduli baju dan rambutnya yang sudah tidak berbentuk. Jimin tidak memikirkan apapun lagi. Ia tetap berlari sampai akhirnya ia berhenti di depan pintu ruang rawat.

Kedua mata Jimin memanas, dengan tangan bergetar serta keraguan ia mengangkat tangannya untuk membuka pintu tersebut.

"Maafkan hyung, Taehyung"

Deg. Jimin melebarkan matanya, pintu baru terbuka sedikit dan ia langsung merapatkannya kembali. Tidak terlalu rapat sebenarnya, karena penasaran ia lancang mendekatkan telinganya di daun pintu tersebut.

Di dalam sana ada Taehyung dan kakak laki-lakinya. Inilah yang membuat Jimin seperti orang kesetanan, dia mendapat kabar bahwa Taehyung mengalami kecelakaan parah saat pergi bersama keluarganya. Jimin memaki dirinya sendiri karena baru tau kejadian ini, padahal seharusnya ia ada di samping Taehyung, menemani Taehyung walau ia sendiri tak yakin Taehyung mau di temani oleh orang sepertinya.

"Bangunlah—" Terdengar lagi suara Bogum. "—aku minta maaf karena tidak sempat menyelamatkan eomma dan appa. Seharusnya aku tidak mengajak appa mengobrol saat ia sedang mengendari mobil"

Setelah itu, terdengar isak tangis yang sedikit keras.

"Sebenarnya, saat kau tertidur di pelukan ibu, aku.. aku.. aku mengajak ayah bercanda sampai menutup matanya hingga ia tak bisa melihat. Kim Taehyung, bangunlah.. aku ingin melihat senyummu lagi"

What the—. Jimin melebarkan matanya, ia buru-buru menjauhkan telinganya dari pintu tersebut. Jantung Jimin berdetak tidak karuan, dari semua yang ia dengar, ia menyimpulkan bahwa.. Kecelakaan mereka disebabkan oleh kakak Taehyung sendiri. Bogum yang menyebabkan semua ini terjadi, ia yang menyebabkan Taehyung sampai terbaring lemah seperti ini. Ia yang menyebabkan orang tua mereka berdua meninggal.

"Taehyung? Taehyung! Akhirnya kau sadar!"

Jimin tersentak mendengar kalimat itu, ia buru-buru mengintip dari celah pintu yang terbuka. Kedua mata Jimin melebar, Taehyung sudah membuka matanya. Taehyung sudah sadar! Oh betapa Jimin ingin berlari dan membawa Taehyung ke dalam pelukannya sekarang ini.

"U-uh?"

"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu! Apa yang kau rasakan sekarang? Apa kepalamu sakit?"

Ia bisa melihat jelas Taehyung masih memasang wajah bingung. Bahkan anak itu memegang kepalanya sendiri. "Kepalaku? Kepalaku sedikit pusing"

"Kalau begitu istirahatlah, aku akan menemanimu disini" Bogum tersenyum lega, mengelus rambut Taehyung dengan sangat lembut. Jimin berpikir, ternyata Bogum benar-benar menyayangi adiknya, walaupun ia sendiri yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi.

"Tapi sebelum itu.. bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Jimin terdiam, firasat buruk mulai menghantui pikirannya. Mengapa reaksi Taehyung justru seperti orang yang tidak mengetahui apapun? Apa jangan-jangan ia memang tertidur saat kecelakaan itu terjadi?

"Apa yang mau kau tanyakan Taehyung? Katakan saja dan hyung akan menjawabnya!"

Bibir Taehyung terbuka perlahan, terlihat sedikit ragu untuk berbicara. "Maaf kalau terdengar aneh tapi... kau itu siapa? Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini? Apa yang terjadi kepadaku?"

Saat itu juga, Jimin merasa sebuah tangan menyentuh bahunya. Reflek, ia berbalik dan mundur beberapa langkah. Akibatnya, pintu itu terbuka lebar dan Jimin terhempas begitu saja, dengan konyolnya. Bokongnya menabrak lantai yang keras dan dingin, ugh.

Jimin meringis, ia berniat untuk segera pergi dari sana, namun saat ia menoleh, tatapannya bertemu pada tatapan Bogum yang terkejut sekaligus tidak bisa ia artikan. Jimin mengalihkan pandangannya pada Taehyung, pemuda itu tidak berekspresi sama sekali, datar sekaligus kebingungan.

Astaga, ia tertangkap basah.

"Oh, kau itu Jimin?" Jimin mendongak ke arah depan, mendapati Yoongi sedang menatapnya bingung. "Sedang apa kau di sini? Kenapa berada di depan pintu bukannya masuk?" Tanyanya lagi.

Oh tidak. Jimin tertawa, canggung. "A-aku hanya ragu mau masuk atau tidak. Tapi, sepertinya sekarang aku harus pulang!" Ia buru-buru bangkit dan menepuk bokongnya pelan. "Aku pergi dulu, Yoongi hyung, Bogum hyung. Taehyung, cepat sembuh ne? Kita akan bertemu di sekolah! Sampai jumpa!"

Setelah mengatakan itu, Jimin langsung berlari dari sana, tak ingin menoleh lagi ke belakang. Bagaimana ini? Sekarang ia terlibat dalam masalah kehidupan orang lain.

.

.


.

.

"Park Jimin, apa aku benar?"

Jimin mengangguk pelan. Ah, seharusnya ia tidak menginjakkan kakinya di tempat ini. Seharusnya ia menolak permintaan pemuda di hadapannya untuk berbicara empat mata. Seharusnya Jimin tetap diam di rumah dan menikmati hari Minggunya. Seharusnya—ah, pokoknya ia menyesal!

"Aku yakin kau tau kemana arah pembicaraan ini" Pemuda itu melemparkan senyum malaikatnya. Namun, Jimin justru bergidik ngeri akibat senyuman itu. "Aku ingin membahas masalah seseorang yang telah mengetahui rahasia terbesarku"

Kedua bola mata Jimin bergerak gelisah. "B-bogum hyung, aku tidak mengerti apa maksudmu. Rahasia terbesar apa? Aku bahkan tidak mengetahuinya" Balasnya, mencoba sekeras mungkin agar tak terdengar gugup.

Bogum, mendorong satu cangkir cappuccino hangat ke hadapan Jimin. "Minumlah dulu, pasti kau sangat gelisah sekali karena tidak bisa berbohong. Aku benarkan?"

Sekali lagi, Jimin sangat ngeri dengan senyum malaikat itu.

"Ah, kalau begitu jangan berputar-putar" Bogum membenarkan posisi duduknya. "Mari kita mulai saja. Beberapa bulan yang lalu, kau mengetahui bahwa akulah penyebab kecelakaan yang menimpa keluargaku terjadi. Aku sangat yakin kalau kau berniat memberitahukan ini pada Taehyung, lalu mengajaknya melapor polisi"

"Tunggu! Aku tidak—"

"Maka dari itu, demi kenyamanan dan kelangsungan hidupku. Aku, Kim Bogum, akan menutup mulutmu itu rapat-rapat dengan caraku sendiri"

Jimin tak bisa berkata apa-apa lagi, ia memandang Bogum dengan tatapan tidak mengerti. Apa maksudnya? Bahkan Jimin tidak pernah berpikiran akan melaporkan kakak kandung Taehyung itu ke polisi. Tidak pernah.

Bogum tertawa kecil. "Mulai hari ini, kau akan punya kakak baru"

.

.

.

Apa katanya?

.

.

.

Jimin membereskan alat-alat tulisnya, bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Salahkan gurunya yang sengaja menahannya agar ikut pelajaran tambahan matematika. Itu sungguh menyebalkan, serius.

Saat ia keluar kelas dan melewati beberapa kelas lainnya, Jimin tersentak, ia terkejut mendengar suara tangis seseorang yang tidak lagi asing di telinganya. Jimin buru-buru mengintip lewat pintu kelas yang terbuka.

Yeah, itu Kim Taehyung. Jimin setidaknya harus bersyukur karena anak itu sudah kembali seperti biasanya, walau ingatannya tidak terlalu baik. Setelah kejadian 'menguping' tersebut, Jimin menghindari Taehyung. Ia tak ingin semakin merasa bersalah karena melihat wajah sedihnya itu.

"Taehyung, kau tidak boleh menangis seperti ini. Aku yakin, Bogum hyung akan segera pulang" Itu Yoongi, ia sedang mengelus rambut Taehyung dengan penuh kasih sayang.

Jimin dapat melihat jelas keadaan Taehyung yang sudah lebih dari kata berantakan. Mata itu sembab, bengkak, tubuh itu kurus dan ia lemah. Jimin benci melihat Taehyung yang seperti ini, ia ingin melihat Taehyung yang dulu.

"Tapi, sampai sekarangpun ia tidak kembali" Taehyung menenggelamkan wajahnya di perut Yoongi (Yoongi berdiri sementara Taehyung duduk). "Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak bertemu. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpanya?"

"Kau masih punya aku" Yoongi menepuk-nepuk kepala Taehyung pelan. "Kim Taehyung bukanlah orang yang cengeng. Aku benarkan? Berhentilah menangis, sekolah akan segera tutup dan aku tak ingin melihat wajah jelekmu terus—"

Jimin berlari dari tempatnya berdiri, ia tak ingin lagi melihat wajah sedih itu. Sudah cukup.

Taehyung, aku mohon maafkan aku.

.

.


.

.

"Kau gila!"

Jimin menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimana tidak? Semenjak keharian kakak barunya itu, kehidupannya semakin buruk saja. Ayahnya yang semula memang tidak perduli, kini malah lebih menaruh perhatian pada pemuda kejam itu. Jimin benci, ia muak, ia ingin mengakhiri ini semua. Namun, jika ia bisa.

"Aku gila?" Bogum tertawa kecil. "Aku baru tau, kalau ternyata harta yang di miliki oleh keluargaku banyak. Jika aku tetap diam disini, Taehyung bisa menghabiskan semuanya"

Kedua alis Jimin hampir menyatu. "Taehyung tidak akan melakukan hal seperti itu. Apa kau kurang puas dengan hartamu? Appa bahkan lebih memprioritaskanmu daripada anak—"

"Haramnya?"

Kedua tangan Jimin terkepal. Ingin sekali Jimin melayangkan tinjuan keras di wajah kakak angkatnya itu. Wajah dan senyumnya saja yang tampak seperti malaikat dari luar, padahal dalamnya lebih hina dari iblis.

"Kau—" Jimin menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. "Apa yang akan kau lakukan? Jangan sakiti Taehyung lebih dari ini.." Cicitnya pelan.

Kenapa Kim Taehyung membuatnya lemah?

Bogum tersenyum, ia mengacak-acak rambut Jimin. "Aku tak akan menyakitinya. Aku hanya ingin harta orang tuaku. Jadilah adik yang baik, Park Jimin. Jika kau membantuku, maka dengan senang hati pula aku akan membantumu" Katanya pelan.

Jimin menepis tangan itu kasar. "Kau gila harta"

Bogum tidak terkejut dengan perlakuan itu, ia justru semakin tersenyum. "Bagaimana kalau mendapatkan Taehyung setelah rencanaku berhasil? Aku tau, kau selama ini memperhatikan adikku. Bukankah begitu?"

"A-apa?" Jimin kehilangan kata-katanya.

"Dengar ini" Bogum meletakkan kedua tangannya di atas bahu Jimin, menatapnya dalam dan serius. "Ini adalah tawaran menggiurkan. Bantu aku dan kau akan mendapatkan Taehyung. Bagaimana?"

Tawaran itu sungguh menggiurkan untuk Jimin. Ia tidak ingin munafik, Jimin menyukai Taehyung. Tapi apa yang harus ia lakukan? Jika mendapatkan Taehyung dengan cara seperti ini, akankah lebih pantas di sebut sebuah paksaan?

Jimin mengepalkan tangannya lebih erat, membiarkan kukunya yang panjang menusuk telapak tangannya sendiri. Sial, bagaimana bisa ia terjebak di permainan pemuda iblis itu? Kemana otak jeniusnya yang selalu pandai memikirkan rencana hebat?

Bogum melirik kedua tangan Jimin yang terkepal.

"Aku anggap itu iya"

.

.

.


.

.

.

Beberapa tahun telah berlalu. Jimin telah lulus sekolah dan ia sekarang menjadi laki-laki yang lebih kuat dan pemberani. Terima kasih untuk sang ayah dan kakaknya, ketidak perdulian mereka berdua membuat Jimin mengerti apa itu arti bertahan hidup. Yeah, menurutnya sih begitu.

Sekarang, dia berjalan-jalan di sekitar taman, mencoba mencari udara segar karena hari juga akan menjadi sore. Ia muak berada di dalam rumah terus-menerus, apalagi melihat wajah sang kakak. Sungguh, apa tidak ada kantong muntah?

Kedua mata Jimin menyapu daerah sekelilingnya. Ia senang melihat banyak sekali anak-anak kecil yang berlarian di sekitarnya. Setidaknya, anak-anak kecil itu masih mendapatkan kasih sayang dari keluarganya, tidak seperti dirinya dulu.

Tak lama kemudian, tatapannya jatuh kepada dua orang pemuda yang ada di ujung sana.

Jimin merasa jantungnya hampir berhenti berdetak saat itu juga. Demi iblis yang ada di dalam tubuh Bogum, apa kedua matanya tidak sedang rabun? Apa Jimin harus memeriksa keadaan matanya? Di depan sana, Taehyung, Kim Taehyung, sedang tersenyum.

Kita ulangi. Kim Taehyung, tersenyum kepada seorang pemuda lain sambil melambaikan tangannya. Kim Taehyung, orang yang ia sukai selama ini, orang yang selalu mampu membuat Jimin tidak nyaman dalam tidurnya.

Kedua tangan Jimin terkepal erat. Setelah sekian lama, akhirnya, akhirnya ia bertemu dengan Kim Taehyung. Senang? Bukan main, Jimin ingin sekali menghampiri Taehyung kemudian memeluknya erat-erat. Dalam keadaan sadar sepenuhnya, Jimin beranjak dari posisi itu dan berjalan pelan, ke arah Taehyung.

Wajah itu. Senyum itu. Semuanya, Jimin merindukannya.

"Oh, jadi beginilah seorang flower boy setelah lulus dari sekolah, menjadi baby sitter, eoh?"

Jimin melihat Taehyung mendongak, menatap ke arahnya. Seketika, jantung Jimin seperti ingin meledak-ledak, mendesaknya untuk segera tersenyum bahagia sekaligus senang. Oh ayolah, mana mungkin Jimin melakukan hal itu.

Mereka berdua terdiam sesaat, hingga akhirnya mulut Taehyung bergerak.

"Hum, kau siapa?"

Hanya itu. Jimin merasa dirinya jatuh ke dalam jurang yang dalam. Bahkan setelah beberapa tahunpun, Taehyung masih juga tidak berusaha memulihkan ingatannya? Tak ingin mengingat masa lalunya? Perasaan kecewa hinggap di hati Jimin, ia ingin sekali menyalahkan Bogum atas semua kejadian ini.

"Astaga, kau tidak mengingatku?" Jimin tersenyum lebar, ia duduk di sebelah Taehyung. "Kau lulus sekolah belum lama, kenapa sudah melupakanku secepat itu?" Tanyanya. Kalau sudah begini, Jimin tidak boleh ceroboh. Ia harus menjaga perasaan Taehyung. Jangan sampai ia mengingat kembali masa lalunya yang kelam.

Taehyung terdiam lagi. "Kau siapa?"

Jimin memutar bola matanya. "Aku pikir kau mengingatku, Tae! Aku ini Park Jimin! Masa kau melupakan sahabatmu sendiri sih? Kau jahat sekali!" Katanya, memberikan tatapan humor di matanya. Memang berlebihan sih, sahabat? Bahkan mereka tidak dekat.

"Ah—" Jimin hampir berteriak begitu Taehyung seperti terkejut. Apa jangan-jangan Taehyung sudah mengingatnya?! Kalau iya, Jimin akan senang sekali. "—kau siapa? Aku benar-benar tidak mengenalmu" Taehyung memberikan tatapan lugu.

Jimin menepuk jidatnya keras. "Yasudah, kalau begitu mengingatnya nanti saja. Sekarang, apa yang kau lakukan disini eoh? Membawa balon segala, apa kau sekarang menjadi baby sitter? Kenapa tidak bilang-bilang padaku?"

"Kenapa aku harus bilang padamu?" Taehyung berbalik bertanya. "Aku tidak mengingatmu, jadi bukankah tidak salah jika aku tidak memberitahumu apapun tentang kehidupan dan pekerjaanku?" Tanyanya lagi.

Jimin terdiam beberapa detik.

"Well, itu tidak masalah" Ia mengangkat kedua bahunya. "Kau kesini dengan siapa? Keponakan? Tetangga atau kekasihmu?"

Barangkali ia datang dengan Yoongi. Siapa lagi orang yang dekat dengan Taehyung selain Yoongi? Jimin yakin Taehyung itu tidak mudah akrab dengan orang lain, meskipun anak itu senang sekali berteman dengan semua orang.

Bukannya jawaban manis yang ia dapat, justru Taehyung melempar tatapan aneh. "Jangan karena kita dulu itu bersahabat, kau bisa seenaknya bertanya-tanya hal seperti ini padaku. Maaf saja, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu" Jawabnya, terlihat jengkel sekali.

Dia bukan Taehyung yang ia kenal dulu.

Jimin tertawa kecil. "Baiklah, maafkan aku"

Kemudian keduanya terdiam. Taehyung enggan berbicara apapun sementara Jimin menyandarkan tubuhnya, mengedarkan pandangannya di sekitar penjuru taman. Hati dan pikirannya berkecamuk, berpikir tentang apa yang sudah terjadi pada Taehyung selama beberapa tahun ini.

Jimin sesekali melirik Taehyung, tidak ada yang berubah sama sekali dari sahabat lamanya itu, ia masih tetap menggemaskan seperti saat masa-masa sekolah, walaupun ia kehilangan ingatannya sekalipun. Si Flower Boy yang selalu di dekati oleh banyak wanita.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Jimin tersentak, memandang Taehyung. "Aku hanya tidak percaya bisa bertemu denganmu disini. Tapi, aku kecewa juga, kau tidak mengingatku"

Taehyung mendengus. "Maaf, tapi aku butuh waktu untuk mengingat dirimu dengan jelas, dan tolong, jangan berikan aku tatapan seperti itu, kau membuatku risih sekali" Ujarnya.

Jimin pada awalnya ingin tertawa, namun hal itu tidak tersampaikan ketika seseorang berlari dan berhenti di hadapan Taehyung.

"Oh, Jungkook" Taehyung tersenyum kecil pada pemuda di hadapannya. "Sudah selesai bermainnya? Apa kau kepanasan?" Tanyanya, memperhatikan keringat yang mulai membasahi kening pemuda itu.

"Iya, panas" Pemuda mengangguk cepat. "Benar-benar panas!"

Jimin menautkan alisnya, memperhatikan pemuda aneh itu dari atas hingga bawah. Kalau boleh jujur, penampilannya oke juga, seperti model yang sering ia lihat di majalah-majalah terbaru. Tapi, siapa pemuda ini? Kenapa ia mengenal Taehyung? Kenapa ia bersama Taehyung? Kenapa Taehyung mau berteman dengannya? Oh astaga, ini membingungkan.

Taehyung memberikan kedua benang balon kepada orang yang ia panggil Jungkook. "Bagaimana kalau kita beli es krim? Mungkin es krim akan membuat tubuhmu sedikit sejuk, ruangan disana juga lumayan dingin. Bagaimana?"

"Es krim!" pemuda di hadapannya tertawa lebar. "Ayo~" Seperti tidak sabar, pemuda aneh itu menarik-narik tangan Taehyung agar segera pergi dari sana.

"Tunggu sebentar" Taehyung beranjak dari posisinya kemudian memandang Jimin. "Errr, aku harus pergi, aku harap kau memaafkanku karena aku tidak mengingatmu. Lain kali aku akan menghubungimu jika sudah mengingat siapa dirimu"

Awalnya Jimin ingin bertanya tentang siapa pemuda bernama Jungkook itu, namun Jimin justru tersenyum tipis (Jimin tidak mau membuat Taehyung semakin jengkel padanya). "Bagaimana kau menghubungiku? Bahkan nomor ponsel saja tidak punya"

"Yeah, pokoknya kita mungkin akan bertemu lagi" Taehyung memutar bola matanya, begitu jengah. "Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa lagi!"

Setelah mengatakan itu, Taehyung buru-buru menarik Jungkook untuk segera pergi dari sana.

Jimin memandang mereka berdua dengan tatapan aneh sekaligus penasaran, bertanya-tanya ada apa hubungan antara Taehyung dengan pemuda bernama Jungkook itu. Sungguh, Jimin merasa sangat khawatir, bagaimana bisa Taehyung akrab dengan orang sepertinya? Apa mereka sudah mengenal lama? Satu bulan? Dua bulan?

"Haish—" Jimin mengepalkan tangannya. "Kau tak mengingatku, tapi kau bersama dengan orang lain. Taehyung, apa yang terjadi padamu selama aku tidak ada? Selama kakakmu tidak ada?" Bisiknya dalam keramaian.

Well, Park Jimin tidak akan tinggal diam, ia akan mencari tau siapa Jungkook itu.

.

.

.


.

.

.

Jimin memutar bola matanya saat ia kesusahan untuk menggapai kaleng sarden di rak paling atas. Bisakah Tuhan memberikan keajaiban dengan memanjangkan sedikit tulang kakinya? Ia tidak mau terlihat pendek, sudah lelah ketika semua orang menghina tinggi badannya.

Sudahlah, lupakan saja. Lebih baik Jimin mencari makanan cepat saji lain, untuk apa bersusah payah kalau masih ada banyak makanan di supermarket ini?

Tapi, saat ia belum merubah posisi sedikitpun, Jimin merasa pinggangnya tertabrak oleh sesuatu yang keras dan dingin. Sedetik kemudian Jimin langsung meringis, memegang pinggang bagian kanan yang kini terasa sakit sekali. Siapa sih yang kurang kerjaan sudah menabraknya?

"Astaga—" Suara seseorang membuat Jimin terkejut, apalagi saat mendengar langkah orang itu mendekat ke arahnya, bahkan ia langsung meraba pinggang Jimin. "Maaf! Aku benar-benar tidak melihatmu! Tadi aku sedang melamun dan akhirnya—"

Jimin menoleh dan ia terkejut.

"Oh, Taehyung?"

Taehyung menganga, sama-sama terkejut. "P-park Jimin?"

Okay, pertemuan kedua yang begitu awkward. Jimin langsung melempar senyum, ia melihat wajah Taehyung yang masih saja shock, bahkan tangannya tidak lepas sedikitpun dari pinggang Jimin. Ah, bolehkah ia bahagia untuk beberapa detik saja?

Karena tidak mungkin terus diam, Jimin membuka pembicaraan.

"Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini" Jimin tertawa kecil, tidak bisa menghindari perasaan senang sekaligus leganya. Ia lega karena Taehyung tidak lagi seperti kemarin, saat pertama kali bertemu.

Dengan lugunya, Taehyung mengerjapkan matanya. "Y-yeah, aku bahkan—"

Belum menyelesaikan kalimatnya, Jimin mendengar suara langkah yang begitu cepat menuju ke arah mereka berdua, di sertai nada yang terdengar begitu bahagia.

"Mama~ Jungkook takut sendirian makanya Jungkook ingin menyusul—"

Kalimat itu terhenti, membuat Taehyung dan Jimin menoleh secara bersamaan. Taehyung menatap seseorang yang kini berdiri mematung, memandang keduanya dengan tatapan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan.

Jimin diam, bukankah itu pemuda yang bernama Jungkook? Mengapa ia ada bersama Taehyung lagi? Kenapa juga…. Ia memanggil Taehyung dengan sebutan mama?! Tunggu, tunggu, tunggu, ini benar-benar membuat Jimin terkejut.

Kemudian, Jimin melihat dengan jelas Jungkook menjatuhkan dua snack yang ada di genggamannya. Tatapan Jungkook terlihat begitu kecewa, Jimin bisa melihatnya dengan sangat jelas. Apa ini?

"… Mama?"

Setelah itu, pemuda bernama Jungkook itu berlari dari sana, sebelum Taehyung sempat membalas perkataannya. Jimin tidak mengerti, otaknya berputar lambat saat ini.

"Jungkook!"

Taehyung berteriak, namun si Jungkook itu tidak kembali.

Jimin akhirnya membuka suara, ia ingin bertanya pada Taehyung soal ini. "Hey—"

"Maaf, Jimin!" Taehyung justru memotong kalimatnya. "Aku harus pergi sekarang! Sekali lagi maafkan kecerobohanku, aku akan bertanggung jawab lain kali!" Tambahnya, buru-buru mengambil snack yang tadi dijatuhkan oleh Jungkook, memasukkannya ke dalam troli kemudian mendorongnya.

Jimin tak berbicara lagi, ia masih menatap ke arah dimana Taehyung pergi meninggalkannya. Oh Tuhan, Jimin harus benar-benar mencari tau, ia berdoa agar Taehyung tetap aman selama ia bersama pemuda asing itu.

.

.

.


.

.

.

"Berjalanlah yang lambat! Aku bisa tertinggal"

Jimin mendengus kesal. "Aku tak menyuruhmu ikut denganku. Dasar keras kepala, kenapa tidak diam saja di rumah? Bosan dengan pria tua bangka itu?" Sindirnya, tanpa basa-basi lagi.

Sayangnya, sindiran yang terdengar kejam itu justru tidak ada apa-apanya bagi Bogum. Laki-laki yang kini resmi menjadi kakaknya itu malah tertawa keras. "Astaga, aku mencium bau kecemburuan disini. Kau cemburu karena ayah lebih sayang padaku, iyakan?"

Jimin mendecih. Sekarang dia tau bagaimana sifat brengsek seorang Park Bogum. Ini semua karena kecelakaan itu, kejadian itu merubah segalanya menjadi buruk. Sangat buruk. Bahkan ini juga memperburuk kehidupan Jimin.

Mereka berdua berjalan beriringan, menembus angin pagi yang terasa membekukan tubuh walau memakai baju tebal sekalipun. Jimin akan pergi ke supermarket, tapi laki-laki brengsek itu malah mengikutinya, dengan alasan bosan di rumah.

"Jimin—"

"Brengsek, apa kau tidak bisa diam?!"

Bogum memutar bola mata. "Cepat katakan, apa kau sudah mendapatkan nomor ponsel dan alamat Taehyung? Dimana alamatnya? Apa dia masih tinggal di rumah lama kami?" Ia melemparkan banyak pertanyaan, dengan wajah penasaran juga.

Jimin tertawa sinis. "Menyesal karena meninggalkannya?"

"Tidak" Bogum terdiam sesaat, tatapannya datar. "Bukankah tugasmu hanya menjawab pertanyaanku sekarang ini?" Ia mengalihkan pembicaraan, membuat Jimin merasa mual mendadak.

Awalnya, Jimin ingin diam saja dan segera pergi, namun itu tidak bisa karena Bogum itu tidak akan menyerah jika belum mendapatkan apa yang ia mau. "Belum dan aku tidak tau dimana Taehyung tinggal. Bisa berhenti berbicara, hyung?" Katanya, lelah.

Bogum memutar bola mata. "Akhirnya kau memanggilku hyung—"

Jimin tak mendengarkan, kedua matanya jatuh pada seorang pemuda yang berjalan di depan mereka. Pemuda itu tidak asing lagi, bahkan cara berjalan hingga postur tubuhnya masih Jimin ingat dengan baik.

"Yoongi hyung!"

Ia berlari dan meninggalkan Bogum dengan wajah terkejutnya. Saat hampir sampai, Jimin bisa melihat pemuda yang ia panggil Yoongi itu membalikkan tubuhnya, menatapnya dengan pandangan terkejut.

"Oh, Jimin?"

"Astaga!" Jimin langsung tersenyum lebar. "Kau mengingatku?! Aku pikir kau juga melupakanku, seperti yang Taehyung lakukan!" Lanjutnya lagi, ia benar-benar merasa bahagia sekarang. Yoongi mengingatnya!

Yoongi segera merubah ekspresi wajahnya, ia memandang Jimin dengan tatapan datar. "Sebenarnya ingatakanku cukup bagus. Apa yang kau lakukan di sini? Dan siapa pemuda ini?" Tanya Yoongi begitu menyadari ada seorang laki-laki lain datang dan berdiri di samping Jimin.

"Oh?!" Jimin bahkan lupa kalau Bogum ada bersamanya (itu juga tak penting baginya). "Aku belum memberitahumu ya? Dia kakak laki-lakiku, satu-satunya kakak laki-lakiku" Jawab Jimin, menepuk-nepuk bahu sang kakak (dengan terpaksa).

Melihat Yoongi mengernyit, Jimin sangat yakin kalau Yoongi merasa sangat curiga. Bisa saja ia mengenali Bogum, bagaimana tidak? Yoongi sudah bersahabat lama dengan Taehyung, jadi tentu saja ia tau bagaimana rupa Bogum itu.

Untungnya, Bogum menggunakan topi dan masker, jadi Yoongi tidak akan benar-benar mengetahui identitasnya.

"Oh kakakmu? Kalau begitu aku langsung mau pergi saja, di rumah ada yang menungguku. Sampai jumpa, Jimin dan kakak—"

"Hyung" Jimin menahan lengan Yoongi, membuat pemuda itu kembali membalikkan tubuhnya. "Sebelum kau pergi, apa kau keberatan memberikanku alamat dan nomor ponsel Taehyung?" Pintanya, dengan nada pelan.

Jimin mengucapkan beribu-ribu maaf dalam hati. Ia sangat merasa bersalah karena ikut campur dalam rencana Bogum, rencana yang bisa berakibat buruk.

"Alamat dan nomor telepon Taehyung?" Yoongi mengulang. "Untuk?"

Jimin terdiam sebentar, melepas genggaman tangannya di lengan Yoongi kemudian sekilas melirik sang kakak yang dari tadi tidak berbicara apapun.

"Aku—" Jimin tersenyum. "—hanya merindukannya, karena kami sudah lama tidak bertemu dan dia malah melupakanku. Apa kau keberatan?"

Awalnya, Jimin berusaha tidak gugup, tatapan Yoongi itu benar-benar menusuk walau wajahnya datar sekalipun. Bogum juga begitu, ia hanya berharap sahabat dekat adiknya itu tak mengenalinya dengan mudah. Semua bisa kacau.

"Tidak, tentu saja"

Jimin memperlebar senyumnya. "Bagus, jadi bisa aku minta sekarang?"

Yoongi mengangguk, ia segera menuliskan nomor ponsel Taehyung serta alamatnya di ponsel milik Jimin. Setidaknya Jimin bisa menghela nafas lega, Yoongi tidak mencurigainya dan mau memberikan nomor serta alamat Taehyung. Jika tidak, Jimin tidak tau harus melakukan apa.

"Sudah ya, aku buru-buru. Sampai jumpa!"

"Hati-hati, hyung!" Jimin melambaikan tangannya begitu Yoongi berlari dari sana, ia memang selalu terburu-buru. Setelah Yoongi menghilang dari pandangan Jimin, ia dengan kasar memberikan ponselnya pada Bogum, bahkan ponsel itu terbentur keras di dadanya.

"Tidak bisa pelan-pelan?"

Jimin memutar bola mata. "Cepat, aku muak terus-terusan berada di dekatmu"

Bogum menerima ponsel itu. "Sekarang aku tau mengapa appa tidak suka padamu, kau memang bocah kecil yang kurang ajar, bahkan pada kakakmu saja bersikap seperti ini" Katanya, walau ia bercanda sebenarnya.

Mendengar itu, emosi Jimin bergejolak. Bercandaan macam apa itu? Bukankah semenjak kedatangan Bogum justru membuat hidupnya semakin hancur? Tidak tau diri, semua sisi gelapnya tertutup oleh wajah malaikatnya. Menjijikkan.

.

.

.


.

.

.

BRAK!

Jimin terkejut, menemukan sosok laki-laki yang membuka pintu secara kasar, bahkan pakaiannya terlihat acak-acakkan, seperti habis di kejar-kejar polisi. Tapi begitu tau siapa yang datang, Jimin langsung mendengus, kembali fokus pada siaran televisi di hadapannya.

"Dia menemukanku"

Jimin menoleh, ia semakin terkejut mendengar pengakuan itu.

"Apanya?"

Park Bogum, dengan terengah-engah duduk di sebelah Jimin. "Aku seharusnya tak melakukan hal ceroboh. Taehyung menemukanku dan dia hampir mendapatkanku. Sekarang, rencana yang sudah aku susun dengan rapi kini berantakan semuanya! Apa yang harus aku lakukan?!" Katanya, terdengar sangat frustasi sekaligus kelelahan, nafasnya belum teratur.

Kedua mata Jimin melebar. "Taehyung melihatmu?! Bagaimana reaksinya?!"

"Tentu saja terkejut, sama sepertiku" Bogum menyandarkan tubuhnya. "Hanya saja, rasa terkejut kami mempunyai makna yang berbeda. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Menyusul rencana dari awal?" Tanyanya, memandang langit-langit ruangan.

Mendengar itu, Jimin langsung terdiam. Taehyung sudah tau kalau kakaknya masih hidup, bukankah itu berarti secepat mungkin, Taehyung akan mencari keberadaan kakaknya? Jimin sudah yakin akan hal itu, ia juga yakin Taehyung akan meminta bantuan Yoongi dan pemuda asing di rumahnya, kalau tidak salah ingat, namanya adalah Jungkook. Yeah, Jungkook.

Ah, Jimin sangat tau apa yang harus ia lakukan sekarang.

Dia akan membantu Taehyung. Benar, Jimin akan membuat rencananya sendiri, menghancurkan rencana Bogum, menghancurkan keinginannya untuk merebut apapun yang Taehyung miliki. Kim Taehyung, orang yang dulu Jimin sukai secara diam-diam, orang yang telah melupakannya begitu saja karena amnesia yang di alaminya, orang yang sangat penting hingga Jimin terus memikirkannya setiap waktu.

Niatnya sudah bulat, kedua tangannya terkepal.

"Jimin, apa kau punya ide?"

Ide apa? Jimin tidak ingin lagi termakan omongan Bogum soal perjanjian konyol beberapa tahun yang lalu. Meskipun tidak bisa mendapatkan Taehyung, ia tidak seharusnya membantu Bogum menjalankan rencananya.

Bukankah ini terdengar bodoh? Konyol? Tidak masuk akal? Bogum menghilang dari kehidupan Taehyung dan menjadi kakak angkatnya hanya karena rahasia besar itu ada di tangan Jimin, kenapa tidak sekalian saja Bogum membunuhnya? Bukankah itu adalah cara yang terbaik? Dan sekarang, pemuda malaikat berhati iblis itu ingin merampas semua harta milik keluarganya sendiri. Ini semua karena appanya, ayah Jimin membuat Bogum rakus akan harta, di manjakan oleh harta dan selalu bergantung pada uang.

Rencana Bogum selama ini ialah, mengganti seluruh kekayaan keluarga mereka dengan namanya, karena selama ini semua harta itu berada di atas nama Kim Taehyung, bukan Kim Bogum. Untuk mengubahnya, Taehyung harus ada di sana juga.

Jimin menoleh, tersenyum aneh pada Bogum. "Sayangnya, tidak"

Sudah cukup. Jimin rasa semua ini sudah harus di akhiri. Karena Jimin tidak mau membantu kakaknya untuk menghancurkan hidup Taehyung lebih dalam lagi.

.

.

.

What the

Story by Datgurll

.

.

.

"Ikan ini namanya Koi, bukankah mereka menggemaskan dengan warna oranye terang seperti itu? Mereka seperti menyala walau ada di dalam dasar kolam"

Jungkook mengangguk setuju, memperhatikan dua ikan koi yang berenang kesana-kemari di dalam akuarium kecil berbentuk bundar. Saat pergi ke pasar, Jungkook meminta Taehyung untuk membelikannya ikan-ikan mungil ini. Entah kenapa, Jungkook sangat tertarik.

"Kenapa beli dua?"

Taehyung membawa satu tangannya untuk menopang dagunya. "Kalau aku beli satu, dia akan kesepian karena tidak punya teman. Jadi, aku langsung saja membeli dua sekaligus. Lihat, bukankah mereka tampak senang?"

"Kesepian?" Jungkook bergumam, mendekatkan wajahnya pada akuarium bundar itu. "Apa mereka senang jika berduaan seperti ini? Bahkan mereka tidak tersenyum" Katanya, menoleh pada Taehyung.

"Geez" Taehyung memutar bola matanya, jangan mulai lagi. "Dari kecil aku juga tidak pernah melihat ikan tersenyum. Tapi coba kau lihat, ikan itu akan menjadi lebih lincah dari biasanya karena ia punya teman bermain~"

Jari telunjuk Taehyung menempel di kaca, mengikuti kemana ikan-ikan itu berenang bebas.

Ia iri dengan ikan itu, bisa bahagia karena ia punya teman. Sementara dirinya? Kesepian, bahkan sekalipun Jungkook ada bersamanya, ia terkadang tetap merasa ada yang kosong. Kakaknya tidak ada, ia merasa hidupnya hampa. Duh, kenapa hidup sesulit ini?

"Kapan Koi akan merasa kesepian?"

Taehyung terkejut, ia menoleh. "Ne?"

Jungkook memandangnya. "Kapan ikan-ikan ini akan merasa kesepian? Dia tidak akan kesepian bukan? Kan sudah ada ikan lain yang menemani. Jadi untuk apa ia bersedih? Ikan ini tidak akan merasa kesepian"

Mungkin itu memang kalimat asal yang keluar dari mulut Jungkook. Tapi, entah mengapa, itu seperti sebuah sindiran untuk Taehyung. Jungkook benar, untuk apa ia merasa kesepian? Bukankah Jungkook sudah ada di sisi Taehyung? Bukankah Taehyung sudah memiliki Jungkook sebagai teman? Kenapa ia harus kesepian?

Kau tidak mau bukan, jika kisah hidupmu lebih menyedihkan dari ikan-ikan ini?

"Sudah ah!" Taehyung menepuk tangannya satu kali. "Daripada tidak ada kerjaan, bagaimana kalau kita memberi makan ikan-ikan ini? Dari pagi mereka belum makan, bisa-bisa mati karena kelaparan!" Ajaknya, meraih satu botol kecil makanan ikan.

Taehyung membuka tutup itu, saat ingin menuangkannya di dalam akuarium, ia mendapati Jungkook memandangnya dengan tatapan 'apa itu?''. Menyadari hal itu, Taehyung menghembuskan nafasnya panjang.

"Mau mencoba memberi makan?"

Kedua mata Jungkook berbinar, ia mengangguk. "Bolehkah?"

Dengan sangat terpaksa, Taehyung memberikan botol itu pada Jungkook. "Padahal aku ingin sekali memberi makan ikan! Tapi yasudahlah, kau tidak perlu memberinya banyak-banyak, cukup beberapa—"

Terlambat. Jungkook menuangkan makanan itu sampai tak tersisa.

"—Aku meragukan kepintaranmu, sungguh" Taehyung menggeram kecil. "Kenapa tidak mendengarku eoh? Kalau begini mereka malah akan mati kekenyangan!" Omelnya, mengambil botol itu dari tangan Jungkook.

"Eh?" Jungkook menggaruk kepala belakangnya. "Bukannya kata Taehyung, kita akan tumbuh cepat jika makan banyak? Jungkook ingin ikan-ikan ini cepat besar" Katanya, dengan tatapan lugu.

Tiga kali, Taehyung menepuk keningnya keras.

Sudahlah, mau di jelaskan sampai mulut berbusapun pasti Jungkook tidak akan langsung mengerti. Taehyung jadi lelah sendiri nantinya, lebih baik ia membiarkan Jungkook berkutat dengan dunianya sendiri. Toh, nanti ia juga akan mengerti dengan sendirinya.

"Lebih baik, kita makan cheesecake saja yuk? Sepertinya sudah mendingin di kulkas" AJak Taehyung. Ia memang sengaja membuat kue kesukaan Jungkook karena sedang mood. Lagipula, ia senang karena Jungkook menyukai makanan buatannya. Ia merasa sangat di hargai.

Ketika ia berjalan menuju dapur, Jungkook mengekor di belakangnya. Seperti biasa, Jungkook memang selalu mengikuti Taehyung kemanapun ia pergi (Bahkan sampai saat ini, Jungkook selalu mandi bersama dengan Taehyung, walau pada awalnya pemuda berambut cokelat itu akan mengomelinya terlebih dahulu).

Belum sampai dapur, langkah Jungkook terhenti, ia menoleh dan menemukan telurnya terletak di samping lemari. Okay, ia memang membawa telurnya kemana-mana, seperti yang sudah di ceritakan. Tapi kali ini, Jungkook membawa kedua kakinya untuk mendekati telur itu.

Telur ini aneh, bahkan Jungkook tidak tau mengapa ia bisa keluar dari telur semacam ini.

Ketika jari-jari tangan Jungkook menyentuh permukaan telur itu, ia mendengar bunyi aneh, seperti sebuah benda yang terbuka. Jungkook terkejut, ia mundur beberapa langkah, kedua matanya bergerak gelisah. Ia menemukan telur itu renggang, terbuka sedikit dan bercahaya.

Jungkook terdiam. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau Taehyung tau telurnya terbuka? Bagaimana kalau Taehyung kembali memasukan dirinya ke dalam sana? Bagaimana kalau Jungkook di kembalikan?

Karena terus berpikir yang aneh-aneh, Jungkook buru-buru menekan telur itu kembali, membuatnya tertutup rapat lagi. Jungkook tidak ingin pergi kemana-mana, ia hanya ingin bersama Taehyung. Sampai kapanpun!

"Jungkook, kau sedang apa?" Terdengar suara Taehyung, berasal dari dapur.

Jungkook terkejut, ia buru-buru menjauhi telur itu kemudian membalas teriakan Taehyung. "J-jungkook segera kesana!" Balasnya, buru-buru melangkahkan kakinya menuju dapur. Sebelum itu, Jungkook sekali lagi melirik telur itu, wajahnya berkerut, tidak dapat di jelaskan.

Taehyung memandang Jungkook yang hampir berlari, namun kepalanya menoleh ke lain arah. Pemuda itu mengernyit. "Yah, kau akan terjatuh jika—"

BRUK. Jungkook menabrak dinding di sebelah pintu dapur.

Yeah, mungkin lain kali Jungkook juga harus di ajarkan bagaimana berjalan dengan benar. Konyol bukan jika wajah tampannya jadi jelek hanya karena menabrak dinding? Kalau seperti squidward yang menjadi tampan setelah terkena dinding sih tidak apa-apa, tapi inikan kenyataan, yang ada wajah Jungkook berubah buruk rupa.

"Kau ini sedang apa sih?" Taehyung mendesah malas, menatap Jungkook yang duduk di hadapannya, mengelus wajahnya sendiri. "Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?" Tanyanya lagi.

Jungkook menggeleng, ia menarik piring cheesecake dengan semangat. "Boleh Jungkook habiskan semua? Semua ini?" Tanyanya, menunjuk satu piring besar cheesecake lengkap dengan buah stroberi di atasnya.

Taehyung pada awalnya ingin protes karena Jungkook tidak menjawab pertanyaannya, namun mau tak mau ia mengangguk, kasihan melihat wajah gembira Jungkook jika ia marahi, nanti anak itu malah menangis. Kalau sudah menangis, Taehyung lebih memilih mendengarkan musik sekeras mungkin.

"Makan saja, tapi aku tidak tanggung jawab kalau kau—"

Bel pintu rumah berbunyi.

Taehyung mendengus kesal, kenapa sih perkataannya selalu di potong-potong begitu? Dengan gerakan marah, Taehyung beranjak dari kursi untuk membuka pintu depan, meninggalkan Jungkook di ruang makan sendirian (dalam hati ia berdoa agar Jungkook tidak menghancurkan dapur itu).

Saat sampai di depan pintu, Taehyung segera membukanya tanpa berpikir siapa yang datang.

"Kim Taehyung"

Taehyung terkejut. "Uhm, Yoongi hyung?" Katanya pelan. "K-kenapa kau tiba-tiba kesini? Apa kau butuh sesuatu?" Tanyanya. Aneh, tidak biasanya Yoongi datang tanpa memberitahu (kecuali ia kehabisan pulsa atau keadaan sedang darurat).

Yoongi pada awalnya diam, namun sedetik kemudian ia menghela nafas. "Aku mau disini saja, lelah di rumah terus-terusan berdebat dengan adik kurang ajar itu. Biarkan aku masuk, dimana Jungkook? Apa ia sudah pulang?"

Taehyung membuka pintu lebih lebar, membiarkan Yoongi masuk dan meletakkan jaket tebalnya di tempat khusus yang sudah disediakan.

"Tumben sekali mencari Jungkook"

"Aku ingin berbicara sesuatu dengannya—" Yoongi terdiam sebentar. "Ah, mungkin berbicara dengan kalian berdua. Pembicaraan ini sedikit serius, aku memikirkan hal ini dari tadi malam, sampai tidak bisa tidur"

Keduanya berjalan menuju dapur, Taehyung yang lebih dulu berjalan. Sesampainya disana, keduanya menemukan Jungkook sudah menghabiskan setengah cheesecake yang tadinya utuh. Benar-benar nafsu makan yang besar.

Yoongi duduk di sebelah Jungkook. "Apa-apaan ini? Program pertumbuhan untuk Jungkook?"

Taehyung duduk di sebrang mereka. "Aku hanya membuatkannya cheesecake, dia suka sekali dengan itu. Tapi aku senang, ia menyukai kue buatanku" Jawabnya.

Jungkook menelan cheesecake yang ada di mulutnya. "Kenapa Yoongi hyung kesini?"

"Memangnya tidak boleh kalau aku kesini?" Yoongi mendengus. "Wajar kalau aku khawatir dengan Taehyung, aku takut kau berbuat yang macam-macam padanya, apalagi kau itu orang asing. Aku tak bisa mempercayakan Taehyung sepenuhnya kepadamu" Jelasnya.

Taehyung memutar bola mata. "Hyung, jangan mulai lagi"

"Hei, ini serius" Yoongi memandangnya tajam. "Aku punya banyak pertanyaan untukmu, terutama untuk manusia aneh ini" Katanya, mengalihkan pandangannya pada Jungkook.

Taehyung diam, ia melirik Jungkook yang masih saja setia memotong bagian cheesecake dan memasukannya sekaligus ke dalam mulutnya. Kasihan juga sih, Jungkook ini seperti anak kecil polos yang tak tau apa-apa, seperti di buang ke dunia yang keras.

"Taehyung, apa kau tidak takut dengan kehadiran Jungkook yang sangat tidak masuk akal seperti ini? Keluar dari telur, itu sungguh tidak masuk akal bukan? Bagaimana kalau ternyata dia punya niat jahat? Bagaimana kalau ternyata dia pembohong? Kemudian akan berdampak buruk bagi kehidupanmu?"

Jungkook menoleh, ia memajukan bibirnya. "Tapi Jungkook tidak seperti—"

"Aku bertanya pada Taehyung" Yoongi memotong, melempar tatapan tajam pada Jungkook. "Aku bukannya meragukanmu, tapi aku meragukan Jungkook. Kau harus mengerti, Taehyung, aku mengkhawatirkanmu" Tambahnya.

Fyi, ini adalah sisi Yoongi yang penuh perhatian, setelah sekian lama tak ia tunjukkan di depan Taehyung. Terakhir kali adalah saat kakaknya menghilang entah kemana.

Taehyung membuka mulutnya. "Walau pada awalnya aku menganggap ini tidak masuk akal, aku percaya kalau Jungkook bukanlah orang dengan niat jahat. Dia terlihat sangat lugu, bahkan seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa. Kalaupun ia jahat, mana mungkin ia tahan dengan akting konyol seperti itu terus-menerus?"

Yoongi diam untuk beberapa saat.

"Lalu bagaimana kau tau ia berkata jujur selama ini? Dia bahkan tidak tau nama lengkapnya, tempat asalnya, tanggal lahirnya dan semua identitasnya itu tidak diketahui sama sekali. Lalu, yang aku tidak mengerti, kenapa ia harus datang padamu? Siapa yang mengirimnya dan apa maksudnya?"

Kini Taehyung yang terdiam, ia mencoba mencerna semua kalimat Yoongi.

Kedatangan Jungkook memang terdengar sangat tidak masuk akal. Mana mungkin seorang manusia keluar dari dalam telur raksasa? Tanpa diketahui asalnya pula. Taehyung mengerti dengan kemajuan teknologi zaman sekarang ini, tapi ia tak mengerti mengapa ada orang mengirim telur padanya. Apa itu adalah sebuah percobaan? Tapi kenapa harus dirinya?

Keheningan itu terus berlanjut, sampai akhirnya Yoongi menggebrak meja secara tiba-tiba. Hal itu membuat Taehyung dan Jungkook sama-sama terkejut, bahkan Jungkook sampai tersedak oleh kuenya sendiri.

"Astaga, Jungkook" Taehyung terkejut, ia buru-buru mengambil botol air minum di dalam lemari pendingin dan kembali menuju Jungkook. "Cepat minum ini—"

"Kim Taehyung" Yoongi berbicara datar. "Aku tau mengapa kau mempertahankan Jungkook sampai sekarang. Aku tau apa ini, aku menyadarinya bahwa kau itu…"

Jungkook buru-buru membuka tutup botol kemudian meneguknya hingga setengah, berbeda dengan Taehyung yang diam memandang Yoongi. Jantungnya berdetak sangat cepat, ia mengira-ngira apa yang akan dikatakan Yoongi, apa itu hal buruk atau justru—

"Kau menyukai Jungkook" Yoongi mengatakan itu, tegas. "Kau jatuh cinta pada Jungkook sehingga kau tidak bisa mengusirnya dari sini. Aku benarkan, Kim Taehyung?"

DEG.

"B-bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?" Taehyung tersenyum ragu. "Aku hanya kasihan kalau dirinya berada di dunia luar, bisa-bisa ia di culik kemudian di jual ke luar negeri. Percayalah hyung, aku tidak.."

"Kalaupun kau mengelak, suatu saat kau akan merasakannya"

Taehyung bungkam, mulutnya tidak bisa berbicara ataupun mengelak lagi.

Yoongi menghela nafasnya. "Sudah, kenapa suasananya jadi tegang begini? Lebih baik kita pikirkan bagaimana cara agar Jungkook bisa jadi manusia normal pada umumnya" Pemuda itu menopang dagunya menggunakan tangan kanan, ia melirik Jungkook. "Kalau sudah sebesar ini mana mungkin ikut sekolah, bisa-bisa ia di tertawakan"

Jungkook menoleh. "Sekolah? Jungkook suka sekolah!" Ujarnya, bersemangat.

"Identitasnya juga begitu" Yoongi menambahkan. "Kalau sampai orang-orang tau, pasti Jungkook akan jadi bahan omongan tetangga. Dia butuh nama lengkap, tanggal lahir, dan data-data lainnya"

Taehyung membuka mulutnya. "Bagaimana bisa kita tau nama lengkapnya? Aku hanya tau kalau nama dia itu Jungkook. Apa kita harus memberinya nama depan? Kim? Jung? Lee? Park? Min?"

"Min Jungkook?" Yoongi memutar bola mata. "Jangan bercanda di saat aku sedang serius, Kim Taehyung"

"Eh? Aku tidak sedang bercanda!"

Jungkook mendengarkan percakapan keduanya. Sebenarnya ia ingin sekali memberitahu kalau tadi ia berhasil membuka telurnya, tapi apa itu tidak akan berdampak buruk nantinya? Apalagi Yoongi ada disini, bisa-bisa pemuda itu langsung memasukannya ke dalam telur kemudian mengirimnya pulang.

"Lupakan soal ini" Yoongi mendesah pelan. "Aku butuh kamar mandi"

Setelah kepergian Yoongi, tinggalah Jungkook dan Taehyung di ruangan itu. Suasana disana sangat hening, Taehyung yang berkutat dengan pikirannya dan Jungkook yang menusuk-nusuk cheesecakenya menggunakan garpu. Nafsu makannya hilang begitu saja, cheesecake itu sudah tidak menarik lagi di matanya.

"Jung—"

"Taehyung"

Keduanya terdiam, hingga Taehyung tertawa. "Kau duluan saja, kau mau berbicara apa?" Tanyanya.

Jungkook sekilas menampilkan senyum lebarnya, tapi setelah itu ia kembali memasang wajah seperti biasa. "Apa benar kata Yoongi hyung, kalau Jungkook ini berbahaya? Jungkook akan membuat hidup Taehyung menjadi buruk?"

Pertanyaan itu membuat Taehyung bungkam. Jadi selama percakapannya tadi, Jungkook mengerti semuanya? Anak ayam itu mengerti apa yang mereka bicarakan?

"Taehyung, jawab Jungkook!" Anak itu terlihat gelisah dan ketakutan. "Benarkah Jungkook ini jahat? Jungkook akan berbuat macam-macam pada Taehyung? Apa Yoongi hyung akan membawa Jungkook pergi dari Taehyung? Apa Taehyung juga akan—"

"Yah!" Taehyung buru-buru memotong kalimat Jungkook. "Kenapa jadi panik begitu? Tidak ada yang membawamu pergi, Jungkook. Semua akan baik-baik saja dan aku percaya padamu, tidak akan ada yang bisa membawamu pergi, kau dengar itu?"

Tatapan Taehyung berubah melembut. Kalau sudah begini mana mungkin ia tega mengusir Jungkook? Dimana dan dengan siapa ia akan tinggal? Biarpun pemuda ini termasuk asing dan tidak di ketahui dengan jelas asal-usulnya, tetap saja kepercayaan Taehyung seluruhnya ia berikan pada Jungkook.

Apa ini? Jatuh cinta? Yang benar saja.

Jungkook memandang Taehyung. "Benarkah? Jungkook hanya tidak ingin Taehyung kesepian, bahkan ikan-ikan tadi bisa bersama-sama" Ujarnya, ekspresinya memelas.

"Duh, jangan memasang wajah begitu" Taehyung gemas sendiri jadinya. "Bagaimana kalau kau melanjutkan makan cheesecakenya? Kalau sudah tidak dingin nanti dia tidak enak!" Taehyung merampas garpu yang ada di tangan Jungkook, melahap satu potong cheesecake sekaligus.

Jungkook diam, memandang Taehyung dengan tatapan lugu seperti biasa.

"Hmm—" Taehyung terbelalak. "Ternyata buatanku bisa juga seenak ini! Pantas saja kau menyukai kue ini! Aku memang berbakat menjadi koki yang handal! Mungkin aku bisa melamar pekerjaan sebagai koki atau—"

"Melamar pekerjaan apa? Kita harus mengurus Jungkook dulu baru kau boleh bekerja"

Tidak tau darimana, Yoongi tau-tau sudah duduk di sebelah Jungkook. "Awalnya aku tidak mau ikut campur terlalu jauh. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus memastikan kalau Jungkook bukanlah orang jahat, kita harus mengajari dia bagaimana caranya hidup normal seperti biasa"

Taehyung menelan cheesecake di dalam mulutnya. "Lalu? Kita harus apa?"

Jungkook menoleh. "Jungkook suka berhitung"

"Kau pikir kau anak kecil?"

"Jungkook suka membaca dan mendengarkan cerita"

"Kau pikir aku sudi membacakan cerita untukmu?"

"Jungkook suka bernyanyi"

"Oh ayolah, suaramu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan—"

"Tunggu dulu" Taehyung melerai pertengkaran keduanya. "Kenapa kita tidak mulai dari yang dasar dulu? Misalkan mengajarkan Jungkook cara bertemu orang lain, membenarkan bahasanya dan hal-hal sederhana lainnya?" Sarannya.

Yoongi mengangguk. "Aku memang meragukan otakmu, tapi kurasa kali ini kau ada benarnya" Pemuda itu menunjuk tepat di depan wajah Jungkook. "Kau, bersiaplah karena kami akan merubahmu menjadi manusia normal pada umumnya, sehingga nanti kau bisa menikah dan hidup bahagia"

"Menikah?!"

Taehyung reflek terkejut, ia buru-buru membekap mulutnya sendiri. "Maaf, aku terkejut mendengarnya. Tapi Yoongi hyung, Jungkook masih terlalu lugu untuk memikirkan hal seperti itu, lagipula pernikahan itu tidak penting" Katanya, berusaha menutupi rasa gugupnya.

3). Jungkook adalah suaminya di masa depan.

Pesan dari kertas itu. Yeah, Taehyung masih mengingatnya dengan jelas. Wajahnya memerah, memanas hingga sampai ke telinga. Jika Jungkook mulai di ajarkan bagaimana cara hidup dengan normal, bukankah itu berarti Jungkook akan mengenal apa itu pernikahan kemudian…

Menikahinya?

"Haish" Taehyung mengacak-acak rambutnya kesal.

"Yah, kau kenapa eoh?" Yoongi membuat Taehyung terkejut lagi. "Jungkook bukan anak kecil lagi, ia harus menikah kemudian menjalani kehidupannya sendiri. Hey, apa kau keberatan? Jangan-jangan pemikiranku tadi itu—"

"Tidak, tidak, tidak!" Taehyung melambaikan tangannya cepat. "Aku bukannya keberatan, hanya saja aku tidak bisa membayangkan Jungkook berdiri di atas altar kemudian mengucapkan janji suci. Astaga, bagaimana kalau ia menghancurkan segalanya?"

Yoongi menghembuskan nafasnya. "Kenapa kita berpikir kalau Jungkook benar-benar akan menikah? Sudah lupakan saja. Aku akan memikirkan bagaimana cara agar Jungkook memiliki identitas" Katanya, memijit pelipisnya pelan.

Taehyung tersenyum. "Terima kasih sudah mau membantu, aku tak tau harus melakukan apa jika tidak ada dirimu disini hyung"

"Hentikan itu, menjijikkan" Yoongi mendengus.

Beberapa saat kemudian, Jungkook berdiri dari posisinya. "Jungkook akan pergi ke kamar mandi! Jangan makan cheesecakenya!" Pemuda itu buru-buru meninggalkan dapur, membuat Taehyung dan Yoongi sama-sama menghela nafas.

"Kira-kira berapa lama kita akan mengajarinya?"

Taehyung menopang dagunya lagi, ia sudah kembali ke posisi duduknya. "Mungkin akan memakan waktu lama, mengingat dia benar-benar tak bisa melakukan apapun"

Kemudian keduanya terdiam. Yoongi berkecamuk dengan pikirannya sementara Taehyung teringat akan kejadian kemarin, dimana ia bertemu sosok sang kakak. Taehyung masih tidak mengerti, sungguh, apa ia telah berbuat salah pada kakaknya sehingga ia menghindari Taehyung?

"Yoongi hyung"

"Hm"

"Kemarin.." Taehyung menggantungkan kalimatnya. "Aku bertemu Bogum hyung"

Mendengar itu, kedua mata sipit Yoongi melebar. "Kau bertemu dengan kakakmu?! Yang benar saja! Apa yang ia lakukan? Kemana dia sekarang? Apa kau serius? Apa benar-benar Bogum hyung? Atau jangan-jangan hanya orang yang mirip?"

"Aku yakin dia Bogum hyung!" Taehyung meyakinkan wajahnya. "Tapi saat aku berusaha mengejarnya, ia justru lari kemudian menghilang dari pandanganku. Bukankah itu aneh? Aku tak mengerti kenapa ia menghindariku, apa aku punya salah?"

Yoongi diam.

"Kalaupun aku punya salah, pasti dia akan memaafkanku bukan? Atau ia pernah melakukan kesalahan padaku? Apa kau tau sesuatu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, hyung?" Taehyung melempar bertubi-tubi pertanyaan.

"Aku tidak yakin soal ini, tapi…" Yoongi terdiam sejenak. "Aku bertemu dengan Jimin. Kau tau diakan? Saat itu, aku bertemu Jimin dan ia sedang bersama seorang laki-laki. Aku berani sumpah kalau Jimin itu tidak punya kakak laki-laki, wajahnya yang tertutup topi dan masker itu mengingatkanku pada…"

Taehyung mengulang. "Pada?"

"Bogum" Yoongi menatap Taehyung. "Aku merasa kalau orang yang bersama Jimin adalah kakakmu, Taehyung. Aku tau, aku tak bisa menyimpulkan ini seenaknya, tapi aku merasa tidak asing dengan orang itu" Jelasnya.

Taehyung membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang. "J-jimin, bersama kakakku? T-tapi kenapa? Siapa Jimin sebenarnya?"

.

.


.

.

"Kenapa kita malah membawanya ke toko pakaian sih?"

Yoongi mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Sebelum memulai pembelajaran, ada baiknya dia memperhatikan cara berpakaian. Selama ini dia hanya di rumah kan? Pasti dia tidak akan tau bagaimana cara berpakaian keluar rumah"

Taehyung menyandarkan tubuhnya, malas. "Lalu, pertanyaanku, apa hyung membawa uang?"

"Tentu tidak" Yoongi tersenyum satu detik. "Kau yang membayar semuanya. Kalau hanya untuk Jungkook tidak akan menghabiskan banyak uang kok! Lagipula kita datang ke toko pakaian yang tidak terlalu mahal"

Jungkook memandang keduanya dengan tatapan bingung, anak ayam itu mengedarkan pandangannya, banyak sekali pakaian yang di pajang disini. Tempat ini juga ramai, mungkin ia akan hilang jika bermain terlalu jauh. Tenang saja, Jungkook sudah mendengarkan perkataan Taehyung kok. Jangan main jauh-jauh.

"Mulai dari baju santai, aku akan memilih beberapa kaos" Yoongi merapatkan dirinya pada sederet pakaian baru yang di gantung. "Jungkook itu, kurasa pakaian simple akan cocok dengannya. Bagaimana menurutmu?"

Taehyung mendengus. "Memakai kaos putih polos saja orang sudah menganggapnya tampan"

Yoongi tidak membalas, ia sibuk mengambil beberapa baju untuk Jungkook. Kalau celana itu urusan nanti, yang penting Jungkook harus tau apa yang ia kenakan jika mau berjalan keluar rumah. Tidak lucu kalau ia keluar hanya dengan baju piyama.

Jungkook mendekati sebuah patung, memegang tangannya erat. "Ini keras"

Taehyung menoleh, ia menghampiri Jungkook kemudian tertawa kecil. "Kenapa ya kalau patung seperti ini itu botak? Kan jadi tidak keren, padahal sudah di pakaikan baju sebagus ini" Oh ayolah, itu di sebut manekin, Kim Taehyung.

Yoongi mendengus kasar saat mendengar tawa cekikikan dari kedua pemuda aneh itu. Kenapa juga jadi ia yang harus repot? Tapi apa boleh buat, ini demi kebaikan Taehyung juga. Jangan sampai Jungkook mempermalukan Taehyung.

Jungkook masih memperlihatkan senyum lebarnya, ia dengan sengaja menarik tangan manekin itu hingga terlepas dari tempatnya. "Oh! Dia lepas! Tangannya terlepas!" Katanya panik, menunjukkan tangan itu pada Taehyung.

"Pfft—" Taehyung menutup mulut menggunakan satu tangannya. "Cepat kembalikan sebelum petugas toko melihat kita!"

"Kenapa kalian malah bercanda?" Yoongi datang membawa beberapa baju atasan. "Cepat coba semua pakaian ini, Jungkook! Aku akan memilih mana yang nanti pantas untukmu. Hey kau, jangan ikut bermain dasar idiot"

Taehyung memutar tangan manekin tersebut hingga kembali terpasang. "Tidak perlu mengatakan aku idiot juga kan?"

Yoongi tidak perduli, ia mendorong sosok Jungkook agar masuk ke dalam ruang ganti pakaian. Andai saja ini bukan karena Taehyung, Yoongi tidak pernah sudi memilihkan pakaian hanya untuk orang aneh yang keluar dari telur.

Awalnya, mereka pikir Jungkook akan bergerak lebih cepat. Tapi kenyataannya, ini sudah hampir sepuluh menit dan Jungkook tidak keluar dari ruang ganti tersebut.

"Dia sedang apa sih di dalam sana?!" Yoongi berdecak kesal, ia membuka gorden penutup itu lebar-lebar sehingga memperlihatkan Jungkook yang sedang—

"Jungkook?" Taehyung menepuk keningnya keras. "Kami menyuruhmu untuk memakai pakaian itu, bukan menyuruhmu untuk diam seperti manekin begitu!"

Bagaimana tidak kesal? Bukannya mencoba pakaian itu satu-persatu, justru Jungkook hanya diam di dalam tanpa melakukan apapun.

Yoongi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Tidak perlu di coba lagi, langsung saja beli semua ini. Aku akan mencari celana hitam untuknya, kau tunggu disini dan jaga dia, Kim Taehyung"

Mau tidak mau, Taehyung mengangguk. Pemuda itu mengambil kantong khusus untuk meletakkan barang yang akan di beli, kemudian ia menghampiri Jungkook dan memasukan semua baju-baju itu ke dalam sana.

"Jangan menyusahkan aku okay? Menurutlah pada Yoongi hyung" Kata Taehyung pelan.

Jungkook mengangguk mengerti, ia mengikuti Taehyung menyusul dimana Yoongi sedang memilih celana untuknya.

.

.


.

.

"Toko buku lagi?"

Yoongi menoleh. "Kalian pernah kesini? Pantas saja aku menemukan banyak buku anak kecil waktu itu" Katanya, mendorong pintu toko buku hingga terbuka lebar. "Kalau waktu itu buku untuk anak kecil, kita sudah mulai harus mencari buku yang agak dewasa"

Taehyung melotot. "Maksudmu? Buku dengan pelajaran seks dan—aduh!"

"Bukan itu bodoh!" Yoongi memukulnya dengan gulungan kertas brosur yang ia dapat di jalan tadi. "Maksudnya, buku yang menunjukkan bagaimana cara hidup dengan normal. Aku tidak yakin sih buku seperti itu ada, tapi jangan mengeluh sebelum mendapatkan hasil"

Jungkook diam saja, ia mengikuti kemana langkah Yoongi dan Taehyung. Jungkook selalu suka toko buku, disana banyak buku dengan sampul berbagai warna di letakkan sejajar dalam satu rak, membuatnya tampak lebih indah dan teratur.

"Aku akan mencari di sebelah sini" Taehyung berhenti di tempat bagian memasak.

Yoongi memutar bola mata. "Dasar tidak membantu" Cibirnya. "Yah, kau! Cepat ikut aku" Ujar Yoongi pada Jungkook. Menurut, Jungkook mengangguk kecil dan mengikuti langkah Yoongi.

Sesampainya di sebuah rak khusus, Yoongi mengambil salah satu buku disana kemudian menoleh pada Jungkook. "Kau tau, meskipun tingkahmu lugu, aku masih tidak bisa percaya seratus persen padamu"

Jungkook memajukan bibir bawahnya, memasang ekspresi bingung. "Kenapa?"

"Aku yakin kau mengingat identitasmu" Yoongi menyila kedua tangannya di dada. "Aku yakin ingatanmu itu terkubur di dalam otakmu. Memang kau tak mengingatnya sekarang, tapi aku harus memastikan apa kau berbahaya untuk Taehyung atau tidak" Tambahnya lagi, wajahnya datar.

"Apa Jungkook berbahaya?" Jungkook terdiam setelah melempar kalimat itu dari mulutnya.

Yoongi menghela nafas. "Sebenarnya aku juga tidak ingin memisahkanmu dari Taehyung. Karena aku lihat kalian sudah saling melengkapi, tapi aku tak bisa bertingkah seenaknya begitu. Maaf Jungkook, aku harus mencari tau siapa dirimu dan mengapa kau bisa datang dengan cara tidak masuk akal seperti itu"

Jungkook menunduk, seketika ingatannya terulang pada kejadian tadi, dimana ia berhasil membuka telurnya sendiri.

Apa kehadirannya salah?

Apa dengan keberadaannya di sisi Taehyung itu justru membahayakan Taehyung?

Apa dirinya punya niat jahat pada Taehyung?

"Jungkook?"

Jungkook dan Yoongi sama-sama menoleh, ia menemukan Taehyung berjalan ke arah mereka. "Ada apa? Kenapa Jungkook memasang wajah murung begitu?" Tanyanya. "Aku sudah menemukan buku ini, tapi kenapa kalian—"

"Jungkook tidak apa-apa!" Jungkook tersenyum lebar. "Tadi Yoongi hyung hanya memberitahu agar Jungkook tidak menjatuhkan buku-buku disini. Iyakan Yoongi hyung?" Pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Yoongi.

Yang di tatapan langsung mengangguk. "Tidak ada yang terjadi selama kau tidak ada"

Taehyung terdiam beberapa saat, namun setelah itu ia mengangguk senang. "Bagaimana kalau habis ini kita makan es krim?! Kau sudah lama tidak makan es krim hyung! Aku akan membelikanmu es krim dengan porsi jumbo!" Katanya, bersemangat.

Kedua mata Jungkook berbinar-binar. "Kalau begitu ayo kita pergi!"

Keduanya pun pergi meninggalkan Yoongi. Yoongi sendiri masih diam, ia memperhatikan gerak-gerik Jungkook mulai dari atas hingga bawah, barangkali ada sesuatu yang mencurigakan dari pemuda asing itu, atau barangkali Yoongi bisa menemukan suatu petunjuk.

Sibuk melamun, ia sampai tidak sadar kalau Taehyung dan Jungkook berhenti, menatap ke arahnya.

"Hyung! Kenapa diam saja?! Ayo!"

"Yoongi hyung~ Cepat!"

Ah, ternyata dua pemuda ini sudah berani kurang ajar padanya. Kalau Taehyung sih Yoongi masih bisa maklum, nah Jungkook? Kenapa ia selalu bertingkah kurang ajar pada Yoongi semenjak mereka kenal? Benar-benar.

Daripada memikirkan hal ini lebih dalam lagi, lebih baik ia memakan es krim porsi jumbo bukan?

.

.


.

.

Sinar mentari pagi menembus ventilasi di kamar Taehyung, membuat sang pemilik kamar terusik dalam tidurnya. Taehyung membuka matanya perlahan-lahan, melirik kira-kira jam berapa sekarang ini. Kemarin mereka keluar terlalu lama, sampai hampir jam delapan malam (bersyukur karena uang di dompet dan di kartu atm-nya tidak benar-benar ludes).

Saat ia menoleh, yang di dapatinya adalah wajah Jungkook.

"Selamat pagi!"

BUGH.

Jungkook meringis begitu wajahnya terkena lemparan bantal guling. "Taehyung! Kenapa memukul dengan bantal?!" Protesnya.

Taehyung melotot. "Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kau tiba-tiba ada di depan wajahku seperti itu?! Dasar tidak sopan! Seharusnya kalau mau masuk kamar orang lain, kau harus dapat izin dulu baru boleh masuk! Jangan seenaknya begitu!" Omelnya tiada henti.

Astaga, ini bahkan masih pagi (meskipun hampir jam delapan).

Jungkook menunjuk dirinya sendiri. "Jadi Jungkook harus minta izin dulu baru boleh masuk?"

Taehyung menendang selimutnya. "Tentu saja! Untung kau tidak melakukan ini pada Yoongi hyung, kau bisa kena lempar vas bunga jika itu sampai terjadi" Pemuda itu memungut bantal yang ia gunakan untuk melempar wajah Jungkook tadi dari lantai. "Kenapa sudah ada disini pagi-pagi begini?"

Jungkook memajukan bibirnya. "Tidak bisa tidur, kamar itu terlalu besar dan menyeramkan. Yoongi hyung jahat, bahkan ia mematikan lampu saat pergi dari kamar"

Jungkook memang belum terlalu biasa tidur sendiri, apalagi rata-rata kamar di rumah Taehyung itu luas sekali, memungkinkan tidur sendirian akan merasa ketakutan atau gelisah. Taehyung memaklumi hal itu, ia juga merasakannya saat baru pertama kali tidur sendirian.

Tapi bedanya, dulu kakaknya selalu menemaninya sampai ia benar-benar tertidur. Bogum juga sering menemaninya tidur jika ia terbangun karena mimpi buruk.

"Kalau tidur memang harus mematikan lampu" Taehyung memakai sandal rumahnya. "Tapi kurasa Yoongi hyung keterlaluan, dia tidak tau kau takut tidur sendirian. Ngomong-ngomong, kenapa kau membawa telurmu lagi kesini?" Tanya Taehyung, dengan wajah datar ia menunjuk telur Jungkook yang ada di dekat lemari bajunya.

Jungkook tersenyum lebar. "Jungkook membawanya agar ia tak kesepian"

Mendengar jawaban Jungkook, Taehyung mendengus. "Kau mau mandi atau tidak? Kalau mau mandi cepat atau kau mandi sendirian tanpa di temani" Pemuda itu menyambar handuk dari atas kursi, membawanya ke dalam kamar mandi.

Jungkook melebarkan matanya. "Tunggu! Jungkook ikut!" Ia berlari menyusul Taehyung, namun saat belum benar-benar sampai, Jungkook berhenti di samping telurnya.

Jungkook mendekati telur itu lagi, dengan perlahan ia meraba permukaan telur raksasa itu hingga akhirnya terbuka kecil. Jungkook menggigit bibir bawahnya, ia penasaran dengan apa isi telur itu, apa ia bisa masuk kembali ke dalam sana?

Oh iya, kata Yoongi, keberadaan Jungkook bisa saja mengancam kehidupan Taehyung. Jungkook jadi berpikir, apa kira-kira jika ia kembali masuk ke dalam telur itu, Jungkook bisa mengingat segalanya? Nama lengkapnya, tanggal lahirnya dan identitasnya yang lain?

Tapi bagaimana kalau justru dengan ia masuk ke dalam sana, telur itu akan membawanya pulang ke tempatnya berasal? Bagaimana kalau ia tidak kembali lagi ke rumah ini?

Apa sebaiknya Jungkook coba saja?

"Jungkook!"

Tuk. Jungkook langsung menekan telur itu lagi agar tertutup dengan rapat, ia menoleh dan menemukan kepala Taehyung menyembul dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. "Neee?!" Sahutnya.

"Kau mau mandi atau tidak sih?" Taehyung memutar bola mata. "Kenapa juga kau berdiri di telurmu itu? Cepat mandi karena aku harus menyiapkan sarapan, kau tidak mau bukan kalau Yoongi hyung sudah marah pagi-pagi begini?"

Jungkook mengangguk, ia buru-buru berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Lebih baik ia mandi air dingin daripada mendengar omelan Yoongi di pagi hari begini. Sudah di bilang, Yoongi itu mirip monster yang ada di buku-buku dongeng!


Bersambung


Allahu, akhirnya terselesaikan juga chapter ini ;w;

Helo~ Apa kabar semua? Semoga kalian masih ingat sama cerita membosankan ini ya ;w; aku minta maaf kalau kelamaan update, maaf semaaf-maafnya. Sebagai gantinya, tuh aku kasih 9000+ words, semoga kalian ga pusing baca ini hahaha. Heol, siapa yang masih bingung dengan masa lalunya Jimin? Kalau kalian merasa di cerita Jimin sudah pernah di ceritakan di chapter sebelumnya, berarti itu adalah kejadian yang sama, tapi di lihat dari sudut pandang Jimin. Auk ah, ku tak mengerti-.-

Soal Bogum, aku nyebelin ya? Beberapa orang mengira kalau kakak Taehyung itu Seokjin, Namjoon, Baekhyun dan bahkan ada yang bilang Chanyeol .-. kenapa aku pilih Bogum? Bosan lihat wajah angelicnya, sekali-kali dibuat jahat /di bantai/

Aku mau berterima kasih banyak buat kalian yang tetap setia sama fic gaje bin absurd ini, buat yang baru review, favorite, follow, aku padamu pokoknya ;w; terima kasih buat Mokuji, RonaTan, Rayeol, temen-temen di grup line maupun di facebook/twitter, dan kalian yang sebagian aku lupa nama sekaligus pen-namenya /maapkeun/ (dan buat semuanya yang udah nanyain kapan anak ayam di lanjut), pokoknya siapapun kalian yang udah jadi teroris dadakan setiap waktu, aku ucapkan terima kasih ;w; /lempar granat/ buat kak Hosikki, semoga sukses dengan semua ff-nya xD

Mungkin aku bakal berencana gimana ending fic ini nantinya, takut kalian bosen karena kepanjangan -.- Ah, kebanyakan bacotnya aku. Pokoknya kalau gumoh sama chapter ini ku tak bertanggung jawab. Sampai ketemu di chapter depan~ Ppyong~

Datgurll.