"Tuan, kita sudah sampai"
Yoongi tersentak, ia tersenyum gugup karena menyadari bahwa supir taksi sudah berbicara hampir tiga kali, dengan cepat ia meraba saku celananya. Namun sedetik kemudian, Yoongi melebarkan matanya, sepertinya ia melupakan sesuatu. Astaga, kemana dompetnya? Seharusnya dompet itu berada di saku! Dengan wajah panik, Yoongi terus merogoh semua saku yang ada di pakaiannya, ia hanya berharap dompetnya bisa ia dapatkan.
Menghilangkan jauh-jauh pikirannya tentang dompetnya yang mungkin saja ketinggalan dirumah Taehyung, toh ia pergi tanpa bilang-bilang dan sangat terburu-buru.
"Tuan?"
"T-tunggu" Yoongi tersenyum ragu pada sang supir taksi, tatapan supir itu seperti tidak yakin bahwa ia bisa membayar. "Kemana? Padahal sudah jelas aku meletakkan dompetku sendiri disini, kenapa tidak ada?" Ia berkata, hampir berbisik sehingga tidak ada yang mendengarnya.
Supir itu semakin mencurigainya, tentu saja ini bukan pertama kalinya seorang supir taksi sepertinya mendapatkan penumpang yang tidak bisa membayar, dari gerak-geriknya saja sudah ketahuan.
"Apa tuan tidak bisa—"
Pintu taksi terbuka, dari luar.
"Ini uangnya"
Yoongi terkejut, ia menoleh dimana pintu terbuka dan menemukan sosok Jimin, tengah menjulurkan tangannya, memberikan beberapa lembar won pada sang supir taksi. "Jimin?" Reflek Yoongi menyebutkan namanya.
Jimin tersenyum tipis, tatapannya beralih kepada sang supir taksi. "Aku yang membayar taksinya, aku temannya" Setelah memberikan uang tersebut, pemuda itu menjauhkan tubuhnya. "Kau masih mau duduk didalam sana atau berbicara denganku? Kau terlihat sangat buru-buru, hyung"
Kalimat Jimin yang terdengar santai membuat Yoongi diam, ia memandang Jimin yang sudah lebih dulu berbalik dan berjalan meninggalkannya. Dia hampir lupa bahwa alasan mengapa ia terburu-buru begini adalah Jimin. Jimin menghubunginya secara tiba-tiba, mengatakan sesuatu yang membuat Yoongi bertanya-tanya.
"Nah, apa tuan akan tetap disini atau ikut dengan teman tuan?"
Mengabaikan ucapan si supir taksi, Yoongi buru-buru turun dari mobil tersebut lalu melangkahkan kakinya agak buru-buru. Wajah Yoongi berubah datar seperti biasa, ia tidak peduli ketika supir taksi barusan berteriak padanya agar menutup pintu taksi kembali.
Yoongi memang sedikit kurang ajar tapi dia tidak mempermasalahkannya.
Yoongi harus segera meluruskan masalah ini.
.
.
.
What the—
Fic ini terinspirasi dari Eggnoid di Webtoon
Cast ; Jungkook x Taehyung, Yoongi, Jimin, etc.
Warning : Mungkin menyebabkan ngantuk dan rasa bosan, typo dimana-mana, kalau tidak suka jangan di baca.
.
.
.
"Eh? Yoongi hyung kemana?"
Jungkook mendongak, ia menemukan sosok Taehyung baru saja tiba dari dapur, lengkap dengan apron berwarna biru mudanya. Untuk sesaat, Jungkook mengedarkan pandangannya, berusaha mencari sosok Yoongi karena ia juga terlalu sibuk, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Yoongi telah pergi.
"Tidak lihat" Balas Jungkook, dengan santainya.
"Bodoh, kenapa aku harus bertanya padamu" Taehyung menghembuskan nafasnya. "Tumben sekali ia pergi tanpa bilang-bilang? Lalu, apa yang di atas meja itu dompet dan jaketnya?" Ia menunjuk dompet coklat beserta jaket yang tergeletak begitu saja di atas meja ruang tengah. "Tidak mungkin itu milikmu bukan?"
Ayolah, pertanyaan bodoh.
Jungkook menggelengkan kepalanya. "Barusan Yoongi hyung masih disini, tapi ponselnya bergetar dan—" Jungkook memberi jeda, ia seperti berpikir. "Tidak tau lagi"
Taehyung tidak membalas kalimat itu, ia justru tertarik dengan apa yang Jungkook katakan barusan. "Ponselnya bergetar ya? Apa dia dapat panggilan darurat? Jangan-jangan pesan dari ibunya?" Ia menduga-duga, mengelus dagu seperti orang tua. "Tidak mungkin, meskipun begitu ia tak akan lupa membawa dompetnya"
Jungkook diam saja, ia lebih memilih melihat raut kebingungan Taehyung daripada harus memberi komentar, karena ia sudah tau kalau Taehyung tidak suka di ganggu ketika ia sedang berpikir atau sedang dalam mode serius. Heol, Jungkook itu tidak selamanya bodoh, dengan mendapat sedikit ajaran dari Yoongi dan Taehyung, ia bisa mengerti.
Menyerah, Taehyung menghela nafasnya lagi. "Biarkan saja, barangkali dia sedang ada urusan, sesuatu yang penting" Dia tidak tau kalau kalimatnya barusan mengundang perhatian Jungkook.
"Sesuatu?" Jungkook mengulang. "Sesuatu itu yang seperti apa?"
Pertanyaan lugu itu cukup membuat Taehyung dongkol, dengan cuek Taehyung berbalik dan berjalan meninggalkan Jungkook. "Percuma saja jika aku menjelaskannya padamu, kau tidak akan mengerti" Sombong sekali Taehyung ini, untung saja Jungkook tidak selalu bisa paham dengan maksud dari omongannya.
Belum lagi menghilang dari pandangan Jungkook, Taehyung mendengar suara perut kelaparan, kedengaran seperti monster (okay, ia berlebihan). Hei! Itu bukan berasal dari perutnya! Kalaupun iya, aku tidak akan menceritakannya pada kalian.
"Taehyung" Jungkook mencicit. "Aku lapar"
Taehyung berbalik. "Kebetulan sekali, aku sudah masak banyak sarapan" Katanya, merutuk dalam hati karena lupa bahwa tujuan ia datang ke ruang tengah adalah untuk mengajak Jungkook dan Yoongi sarapan. "Tapi masakannya terlalu banyak, siapa yang akan menghabiskan kalau Yoongi hyung saja menghilang seperti ini?"
Jungkook mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, tanpa mengatakan apapun pasti Taehyung akan mengerti bahwa Jungkook sedang menawarkan diri. Iya, menawarkan diri untuk menghabiskan semua makanan yang mungkin tidak akan Taehyung sentuh.
"Baiklah, baiklah" Taehyung hanya menggelengkan kepalanya, pasrah. "Kau boleh makan semuanya, asal berjanjilah jangan minta temani lagi kalau ingin buang air besar" Ini menjijikkan, serius, Taehyung tidak mau mengingat-ngingatnya lagi.
"Ayey, kapten!"
Tidak sabaran, Jungkook beranjak dan langsung berlari menuju ruang makan, meninggalkan Taehyung yang bahkan belum memperingatinya bahwa tidak boleh lagi berlarian di dalam rumah atau ia akan menabrak sesuatu. Fakta yang tidak bisa di ganggu gugat ialah tentang betapa besarnya nafsu makan Jungkook, bahkan ia bisa menghabiskan makanan dua sampai empat piring.
Sayangnya, sebelum benar-benar pergi ke meja makan, Taehyung kedapatan sosok Jungkook yang hampir menyentuh telurnya. Dengan langkah seribu, Taehyung menahan tangan Jungkook, memberinya tatapan tajam sebagai bonus.
Jungkook terkejut, ia melebarkan matanya dan menatap Taehyung.
"Jika sampai aku menemukan telurmu ini ada di ruang makan, maka aku tidak akan segan-segan menjualnya ke tukang loak! Kau dengar itu Jungkook?!" Ancamnya galak. Taehyung tidak keberatan sebenarnya, tapi bagaimana tidak kesal? Waktu itu Taehyung pernah membiarkan Jungkook membawa telur besarnya itu ke meja makan, tapi ia malah meletakkannya di atas meja, syukur-syukur mejanya itu tidak hancur atau ambruk, coba saja kalau benar-benar ambruk, berapa biaya yang harus Taehyung keluarkan untuk membeli meja makan baru?
Maka dari itu, demi mencegah pemborosan, Taehyung menghapus peraturan memperbolehkan Jungkook membawa telurnya ke ruang makan. Sebenarnya dari awal tidak ada peraturannya sih, tapi terserah Taehyung saja okay?
Jungkook tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya, karena tidak mau mendengar ocehan Taehyung, pemuda itu langsung menjauhkan tangannya dari genggaman Taehyung kemudian berlari menuju ruang makan.
Melihat kelakuan Jungkook, Taehyung hanya bisa berharap bahwa Tuhan akan memberikan keajaiban padanya. Sepertinya anak itu sudah bisa menghindari amarahnya, jadi sulit bagi Taehyung untuk mengomeli Jungkook. Duh, ia rasa setelah ini lidahnya akan sariawan karena tidak bisa lagi mengomeli Jungkook.
"Taehyung!"
Teriakan itu menggelegar dan sukses membuat Taehyung tersentak. "Neee?" Balasnya, tidak sedikitpun punya keinginan untuk menyusul Jungkook ke meja makan. Lalu entah mengapa, perasaan tidak enak seperti menghantui pikiran Taehyung, ia berusaha berpikir positif, tidak mungkin Jungkook melakukan hal ceroboh lagi bukan?
Namun, kenyataannya?
"Taehyung! Taehyung!" Jungkook berteriak, memanggil namanya dua kali. "Kuahnya tumpah!"
Tuh, dia benarkan? Jungkook itu ceroboh.
Taehyung lelah, kawan.
Siapa saja, tolong bawa pulang Jungkook beserta telurnya.
Sadar ia berandai-andai terlalu lama, Taehyung melebarkan matanya. Heol, kenapa ia hanya diam disini tanpa melakukan apapun?! Parahnya lagi, Taehyung baru ingat kalau sup yang ia buat belum di pindahkan ke mangkok yang lebih kecil, yang berarti satu panci berisi sup itu—
"Astaga Jungkook!" Panik, Taehyung menetapkan betapa tololnya dirinya sekarang ini. "Tetap diam disana dan jangan melakukan apapun!" Well, itu merupakan peringatan untuk Jungkook, kartu kuning.
.
.
.
.
"Jadi?"
Yoongi mengernyit; tidak mengerti. "Jadi?" Ia mengulang.
Jimin, duduk di hadapannya sambil mengaduk-aduk cappuccino miliknya. "Sebenarnya, aku tidak punya keberanian untuk mengatakan semua ini" Ia memulai percakapan, menunduk dan menghindar dari tatapan Yoongi. "Tapi bagaimanapun juga, aku tidak bisa menyembunyikannya, ini semua adalah kesalahan"
"Apa kita sedang membicarakan—" Berhenti, Yoongi membuat Jimin mengalihkan pandangan kepadanya. "Kita membicarakan Kim Bogum, benarkan?"
Entah kenapa, seperti ada ribuan jarum yang berbondong-bondong menusuk hati Jimin, tepat mengenai bagian yang sakit. Jimin merasa, ia telah menipu dan menyakiti banyak orang, termasuk orang-orang yang ia sayangi. Jimin merasa ia adalah orang yang paling jahat, bahkan lebih jahat daripada Bogum sendiri.
"Jimin" Yoongi berusaha membuat Jimin menatap ke arahnya. "Dari awal aku sudah curiga bahwa Bogum ada bersamamu. Tapi kenapa?" Mata Yoongi berubah sayu. "Kenapa Bogum ada bersamamu? Aku.. aku tidak mengerti"
Jimin mengepalkan tangannya. "Aku bisa jelas—"
"Kalian menyakiti Taehyung terlalu dalam" Yoongi memotong, kini ia tidak lagi memandang Jimin, ia lebih tertarik menatap setangkai bunga mawar yang hampir layu, berada di dalam vas bunga, di meja itu. "Setelah ia kehilangan orang tuanya, kau membuatnya kehilangan kakaknya, Jimin"
Kalimat itu membuat Jimin kehilangan semua kata-katanya, kehilangan semua keberaniannya. "Kenapa?" Yoongi bersuara lagi. "Kenapa kau lakukan itu?"
Keduanya lalu sama-sama terdiam, hanya terdengar obrolan orang-orang dan suara khas dari café. Jimin membantah, ia ingin mengelak semua kesimpulan yang Yoongi katakan. Dirinya memang jahat, tapi ia juga tidak memiliki tujuan untuk menghancurkan Taehyung, sekalipun ia tidak pernah berpikir hal bejat seperti itu.
Tidak taukah bahwa.. Jimin selama ini juga tersiksa?
"Jimin"
Tersentak, Jimin menatap Yoongi lagi, tanpa berkata apa-apa, Yoongi pasti tau kalau Jimin siap mendengarkan apapun dari mulutnya. "Bawa Bogum kembali, biarkan Taehyung bertemu dengannya, biarkan mereka bahagia"
Permintaan itu terdengar sangat mustahil, Jimin tertawa dalam hati, tertawa miris. Bogum yang sekarang bukanlah Bogum yang mereka kenal dulu, apa semudah itu Bogum dan Taehyung bisa kembali bersatu? Bogum terlalu kejam dan Taehyung terlalu bodoh, itu semua tidak akan berjalan dengan baik.
"Jimin" Yoongi memanggil sekali lagi. "Kau mendengarku?"
"Tidak, hyung"
"Apa?"
Bukan hanya Yoongi, Jimin juga sangat terkejut karena jawaban yang ia lontarkan. Apa-apaan ini? Seharusnya tidak seperti ini, seharusnya Jimin menjelaskan secara langsung dan jelas seperti apa kejadian yang sebenarnya, bukannya ia yang diam bagai pengecut seperti sekarang.
Tatapan Yoongi menajam. "Tidak bisa? Kenapa?" Tanyanya, tatapannya bisa saja membuat orang lain diam tak berkutik. "Kau senang melihat Taehyung menderita karena merindukan kakaknya? Apa kau tidak tau? Setiap hari, ia selalu berusaha melupakan kakaknya sekalipun ia bertemu dengannya tanpa sengaja"
"M-maksudku bukan tidak yang seperti itu" Dengan penuh keberanian, Jimin membalas tatapan Yoongi. "Kau tidak mengerti hyung, kau tidak mengerti. Aku juga tersiksa selama ini, kau tidak bisa menyimpulkan seenaknya begitu"
"Kenapa? Apa karena—"
"Karena aku yang merasakannya hyung" Jimin memotong. "Disini, akulah sudut pandangnya. Kau boleh berpikir bahwa semua akan baik-baik saja jika Bogum kembali pada Taehyung, tapi aku yang selama ini merasakannya hyung, Bogum akan lebih baik jika tidak bertemu dengan adiknya" Keberanian itu terkumpul, menjadikan Jimin lebih kuat untuk menjelaskan semuanya pada Yoongi.
Yoongi tertegun, Jimin berani membantah omongannya, itu sungguh keajaiban.
"Bogum yang kalian kenal bukanlah Bogum yang sekarang, ia sudah banyak berubah hyung" Jimin memelankan suaranya. "Jika kita pertemukan Bogum dan Taehyung sekarang, aku tidak yakin semua akan berjalan dengan—"
"Katakan yang jelas, Park Jimin!" Suara Yoongi meninggi. "Jangan berbelit-belit dan cepat katakan yang sebenarnya!"
Untungnya, suasana café yang ramai itu membuat suara Yoongi tenggelam. Jimin menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Baiklah, ia akan menceritakan semuanya dengan jelas, hari ini, seluruhnya, kepada Yoongi.
Jimin berdoa, semoga saja apa yang ia lakukan ini sudah benar.
"Jadi, semua ini terjadi karena—"
.
.
.
.
Taehyung membanting tubuhnya ke sofa, ia merasa seluruh badannya pegal, ternyata membersihkan rumah sebesar itu bisa membuatnya kehabisan tenaga. Lagipula, Taehyung baru menyadari bahwa rumahnya itu besar sekali, bahkan memiliki banyak ruangan yang tidak terpakai, ck, sebenarnya rumahnya itu dulu bekas apa? Hotel?
Jungkook tidak membantunya sama sekali, lagian apa juga yang Taehyung harus harapkan dari manusia aneh seperti Jungkook? Okay, sepertinya ia masih kesal karena Jungkook sudah menumpahkan hampir setengah sup saat sarapan tadi.
"Yoongi hyung belum kembali" Taehyung menghela nafas, sebenarnya kemana sih temannya yang galak itu? Bikin khawatir saja, harusnya ia memberi kabar, yeah, setidaknya mengirim pesan saja apa susahnya.
"Mungkin dia bertemu seseorang" Tau-tau Jungkook menyahut.
"Hehh? Bertemu siapa?" Taehyung berwajah masam sedetik kemudian. "Setahuku ia belum pernah punya seseorang yang spesial, bagaimana bisa ia bertemu seseorang?"
Jungkook mendongak. "Seseorang? Siapa?"
Hening. Taehyung memutar bola mata, kenapa ia jadi ikut-ikutan bodoh sih?
"Sudah ah" Taehyung pusing, dia langsung memejamkan matanya, mengabaikan wajah kebingungan Jungkook. "Daripada itu, lebih baik kau baca buku atau ngapain gitu. Aku hari ini sedang tidak mood bermain denganmu, melihat wajahmu saja malas" Keluhnya.
"Kenapa?"
"Ya ampun" Taehyung mendesah frustasi. "Berhentilah bertanya, apa tidak bisa diam sehari saja? Aku sedang penat! Suntuk! Lelah! Kehilangan mood! Mengerti tidak?"
Entah mengapa, Jungkook jadi teringat seorang ibu-ibu yang beberapa waktu lalu mengomelinya karena ia tidak sengaja menyenggol belanjaannya hingga terjatuh semua. Bukannya apa-apa sih, tapi kok.. Taehyung jadi mirip sama ibu-ibu itu?
"Baiklah"
Begitu saja? Taehyung membuka matanya sedikit, tumben sekali Jungkook tidak banyak bicara? Apa dia sudah menurut sekarang ini? Biasanya Jungkook akan menceritakan banyak hal, entah dari cerita yang ia baca atau film yang ia tonton. Aneh, ini aneh dan patut di curigakan.
Tapi, Taehyung terlalu malas memikirkannya, biarkan saja, bukankah ini kesempatan emas untuk istirahat? Nanti juga Jungkook akan kembali seperti biasa, menganggu hari-harinya.
Rasanya, baru lima menit ia memejamkan mata, tapi rasanya aneh sekali jika tidak mendengar Jungkook berbicara. Taehyung mengerang, merasa tidurnya terganggu karena Jungkook, padahal laki-laki itu tidak melakukan apapun. Sudahlah, Taehyung membuka matanya lagi dan ia menatap Jungkook.
Tidak ada yang aneh darinya, Jungkook sudah kembali membaca buku-buku ceritanya, mungkin yang berbeda hanyalah ia lebih pendiam dari biasanya. Taehyung menaikkan satu alisnya, ada yang salah dengan Jungkook, sepertinya.
"Jungkook?"
"Ya?" Jungkook menoleh, tatapannya lugu seperti biasa.
Taehyung diam, tapi beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Tidak jadi, kalau kau tidak enak badan tolong katakan ya" Setelah mengatakannya, Taehyung mengubah posisinya menjadi berbaring di sofa. Apa yang mau ia tanyakan coba? Lebih baik biarkan saja.
Jungkook juga tidak bertanya apa-apa lagi, ia kembali fokus pada buku yang tengah di bacanya.
Sejujurnya, Jungkook juga tidak mengerti mengapa ia tidak tertarik untuk berbicara panjang lebar hari ini, padahal ia selalu mengabaikan omelan Taehyung tentang 'Jangan kebanyakan berbicara! Kalau tidak rahangmu akan geser!'
Memangnya, rahang geser itu seperti apa?
Akhir-akhir ini Jungkook merasakan sesuatu yang aneh, ia tidak bisa menjelaskannya pada Taehyung karena ia sendiri terlalu bodoh untuk mengerti. Hampir setiap waktu, sebuah suara seperti mendatangi Jungkook, mengatakan hal yang sama dan itu cukup membuat Jungkook bingung. Maksudnya, siapa yang berbicara? Kenapa hanya ada suaranya? Tidak ada orangnya? Saat Jungkook bertanya pada Taehyung apa ia mendengar seseorang berbicara, Taehyung menjawab tidak dan berkata paling-paling itu hanya halusinasi Jungkook saja.
Jungkook juga berusaha mengabaikannya, ia jadi lebih sering mendengarkan lagu atau menonton televisi dengan volume yang lumayan tinggi (sampai-sampai Taehyung menyembunyikan remote agar Jungkook tidak membesarkan volumenya), tapi ketika suara itu datang, semua suara disana seolah-olah mengecil, hanya terdengar suara aneh itu saja.
Kembalilah.
Hanya itu, tapi anehnya selalu di ucapkan berkali-kali dan menghantui pikiran Jungkook. Kembali kemana? Memangnya Jungkook punya tempat tinggal? Ia lahir di rumah Taehyung (kata Taehyung), jadi tentu saja rumah Taehyung adalah rumahnya juga.
"Hum.." Jungkook bergumam, ia menutup buku yang ia baca tanpa menandai halamannya, padahal ia sudah hampir membaca setengah halaman. Jungkook meletakkan buku itu, kedua matanya beralih pada sosok Taehyung yang tertidur dengan nyenyaknya di sofa.
Wajah itu kelihatan lelah, apa pekerjaan barusan membuat Taehyung lelah? Jungkook bertanya-tanya. Dengan keberanian Jungkook menyeret tubuhnya mendekati Taehyung, menatap wajah Taehyung tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya.
Taehyung baik, Taehyung mau merawatnya, Taehyung memarahinya jika ia melakukan hal yang salah, Taehyung mengomelinya jika ia ceroboh, Taehyung mengajarkannya berbagai macam hal, mulai dari cara memakai sumpit, memakai baju, menyikat gigi bahkan mengajarkan bagaimana menanam dan menyiram bunga. Jungkook tersenyum lebar, Taehyung orang yang baik, jadi ia pikir tidak sepantasnya Taehyung menangis seperti hari itu.
"Bagaimana kalau—" Jungkook menjeda kalimatnya, dengan jahil ia bermain dengan hidung Taehyung. "Bagaimana kalau tidak ada telur dan Jungkook di kehidupan Taehyung?" Jungkook berbisik, ia tetap bermain dengan hidung Taehyung tapi Taehyung terlalu nyenyak untuk merasa terusik.
Jungkook menyukai senyum Taehyung, Jungkook menyukai tawa Taehyung, Jungkook menyukai Taehyung kalau sedang memarahinya, Jungkook juga senang ketika Taehyung memperhatikannya, ia menyukai segala yang ada pada Taehyung. Jungkook ingin seperti Taehyung, Taehyung punya banyak macam emosi, ia bisa menangis, tersenyum, mengomel sementara dirinya hanya bisa tersenyum sepanjang hari.
Ia hanya terlalu lugu untuk memahami siapa sebenarnya dirinya itu.
"Jungkook?" Akhirnya Taehyung terbangun, tidak protes sama sekali begitu tau wajah mereka cukup dekat. "Apa yang kau lakukan? Astaga, apa aku tertidur disini? Aku lelah sekali" Dengan suara khas orang bangun tidur, Taehyung mengusap kedua matanya.
Jungkook tersenyum. "Manis sekali kalau tidur"
"Hehh?" Taehyung menoleh. "Siapa maksudmu?"
"Taehyung" Jungkook masih tersenyum. "Taehyung sangat manis kalau sedang tidur, terlihat sangat tenang dan damai" Lanjutnya. "Aku selalu suka melihat Taehyung tidur dibandingkan dengan Taehyung marah"
Wajah yang seharusnya merona kini berganti dengan wajah masam. "Maksudmu aku menyeramkan jika sedang marah?"
"Tidak ada wajah orang marah terlihat menggemaskan" Jungkook berkata dengan sangat jujur dan untungnya Taehyung sedang dalam keadaan tidak mood untuk memarahinya.
"Apa kau sering menatap wajahku saat aku tidur?" Taehyung tersenyum miring, ia hanya bercanda ketika bertanya hal seperti barusan itu, ia hanya ingin menggoda Jungkook. Tapi sayangnya Jungkook mengangguk, membuat Taehyung melebarkan matanya. "Jadi benar?! Berati, berarti kau suka menyelinap di kamarku untuk—"
"Melihat Taehyung tidur" Jungkook memotong, kedua matanya membulat lucu. "Aku sering masuk ke kamar Taehyung malam-malam, ketika Taehyung tidur, itu akan membuatku tenang"
Taehyung tertegun, sejak kapan Jungkook jadi banyak omong begini? Ya ampun Taehyung, sepertinya Jungkook selalu salah di matamu itu. "K-kau ini bicara apa sih? Apa baru membaca buku tentang percintaan?" Mencoba untuk tidak membalas tatapan mata Jungkook.
"Hoo?" Mulut Jungkook membulat. "Percintaan? Apa itu penting?"
"T-tidak!" Taehyung buru-buru menjawab. "Kau masih terlalu awal untuk mempelajari hal-hal seperti itu. Kenapa kita jad serius begini sih? Apa kau sudah mendingan?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan.
"Mendingan?" Dahi Jungkook mengerut. "Siapa yang sakit?"
"Masa bodo ah" Taehyung mendengus, rasa-rasanya Jungkook sudah kembali menyebalkan seperti biasa. "Kau mau aku buatkan apa? Hari ini moodku lagi bagus, jadi kau bisa minta apapun selama mood bagusku masih ada" Tawarnya, mengubah posisi menjadi duduk.
Jungkook terdiam. "Benarkah? Apa saja?" Ia melihat Taehyung mengangguk. "Kalau begitu, aku ingin... Jerapah?"
. . .
"HEOL!" Taehyung reflek melempar tatapan tajam. "Aku menyuruhmu minta apapun bukan berarti kau boleh minta yang aneh-aneh! Darimana aku akan mendapatkan jerapah?! Lagipula apa jerapah akan muat di dalam rumah ini?! Lehernya terlalu tinggi!" Omelnya, Jungkook sampai menutup kedua telinganya. "Kalau minta sesuatu yang wajar saja!"
"M-maaf" Jungkook menunjukkan senyum lebar setelahnya.
Taehyung memutar bola mata. "Padahal baru saja kau membuat moodku semakin bagus, tapi kau menghancurkannya kembali dengan permintaan bodohmu itu" Mengoceh lagi, seperti biasa. "Aku mau mandi, kau mau mandi juga tidak?"
Jungkook diam, ia menatap Taehyung yang akan beranjak dari posisinya. Tanpa di duga-duga, Jungkook menahan lengan Taehyung, membuat pemuda itu terkejut dan menoleh kepadanya, memberikan tatapan bingung.
"Jungkook?" Taehyung bertanya. "Ada apa?"
Jungkook juga tidak tau mengapa ia menahan tangan Taehyung, ada sebuah rasa nyeri ketika Taehyung akan meninggalkannya, meskipun itu ke kamar mandi sekalipun. Jungkook menunduk. "Taehyung, jangan pergi" Cicitnya.
Taehyung menaikkan satu alisnya. "Aku tidak pergi kemana-mana, aku hanya mau mandi" Ia menatap Jungkook. "Ada apa denganmu? Kau jadi aneh"
"Disini sakit" Jungkook menekan dadanya menggunakan satu tangannya. "Disini sakit, rasanya nyeri ketika Taehyung tidak ada di sekitarku" Ia berbicara pelan, namun Taehyung bisa mendengarnya dengan jelas. "Saat Taehyung tidak ada, disini benar-benar terasa sakit, tapi kemudian sakit itu hilang begitu Taehyung datang"
Hm, keadaan yang sulit.
Taehyung kehabisan kata-katanya, wajahnya memanas, apa ia sudah salah tangkap mengartikan ucapan Jungkook? Demi dewa, darimana Jungkook belajar semua kata-kata itu? Jangan-jangan ia beneran baca novel dewasa? Tentang percintaan?!
"Jungkook, t-tapi aku tidak—"
"Berjanjilah, Taehyung tidak akan meninggalkanku" Jungkook mendongak, menatap Taehyung dengan tatapan sayunya. "Kalau Taehyung pergi, maka aku akan merasa sakit lagi" Fyi, Jungkook sedang berkata jujur sekarang, kawan.
"Aku tidak kemana-mana!" Taehyung menepis tangan Jungkook, berusaha mengalihkan wajahnya agar tidak ketahuan. "Aku hanya mau mandi, tidak akan meninggalkanmu, Jungkook! Berhenti berbicara yang aneh-aneh!"
Setelah berkata seperti itu, Taehyung buru-buru meninggalkan Jungkook seorang diri. Tidak habis pikir, apa maksud dari kalimat Jungkook? Taehyung benci, ia benci ketika kalimat-kalimat seperti itu sukses membuat wajahnya memanas, Taehyung benci ketika jantungnya berdetak tidak normal. Apa-apaan sih Jungkook itu?! Apa dia sedang bercanda? Tidak lucu!
Menatap kepergian Taehyung, Jungkook terdiam, ia kembali meremas dadanya kuat-kuat. "Sakit, sakit itu kembali lagi" Bisiknya, tentu saja tidak ada siapapun yang bisa mendengarnya.
Taehyung bisa saja berjanji tidak akan meninggalkan Jungkook.
Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana Jungkook pergi meninggalkan Taehyung?
.
.
.
.
Yoongi mendesah. "Masalahmu benar-benar rumit, Jimin. Bagaimana bisa Bogum sejahat itu pada Taehyung? Aku bahkan sangat yakin meskipun kau mengetahui bahwa penyebab kecelakaan orang tuanya adalah Bogum sendiri, pasti kau tidak akan melaporkannya ke pihak berwajib"
Suasana café itu hampir sepi, hanya tersisa beberapa pelanggan yang sepertinya para karyawan pulang kantor. Cerita Jimin memakan waktu hampir seharian dan itu benar-benar membuat Yoongi harus berpikir keras.
"Kau benar hyung" Jimin bermain dengan jari-jari tangannya sendiri. "Sekalipun aku tau bahwa penyebab kecelakaan itu adalah Bogum, aku pasti tidak akan memberitahunya ke siapapun, karena aku tau kalau Bogum sangat berarti untuk Taehyung" Ujarnya.
"Kalau sudah begini" Yoongi menyandarkan tubuhnya. "Kita yang harus menjauhkan Bogum dari Taehyung. Ini sungguh di luar perkiraanku, kenapa Bogum jadi gila harta begitu? Apa yang ayahmu lakukan padanya?"
Sudah jelas perkataan Yoongi adalah sebuah sindiran, Jimin menghela nafas. "Bogum dan ayah itu sama, aku punya seribu alasan mengapa aku membenci ayahku, lalu tiba-tiba Bogum datang dan aku ikut membencinya"
"Jika aku beritahu Taehyung, ia akan sedih sekali"
"Jangan hyung" Jimin menggelengkan kepalanya. "Untuk saat ini jangan pertemukan mereka, jangan beritahu apapun tentang Bogum padanya"
"Aku tau" Yoongi menatap gelas cappucinonya yang kini sudah kosong. "Jika ia tau saja berita tentang kakaknya, maka ia tak akan segan-segan mencarinya sampai dapat. Aku tidak tega melihatnya menangis hampir seharian"
Jimin tersenyum tipis. "Kau teman yang baik hyung" Pujinya, benar-benar memuji. "Pantas saja Taehyung nyaman berada di dekatmu, kau mengerti dirinya"
Yoongi terkekeh. "Dia hanya anak yang cengeng dan juga lemah, tapi di balik itu semua ia punya rasa kasih sayang yang tidak terhingga, ia menyayangi siapa saja yang dekat dengannya" Suasana disana tiba-tiba menghangat, keduanya menikmati itu. "Taehyung pernah cerita bahwa ada seorang siswa bernama Park Jimin yang mengajaknya berkenalan"
"Eh?"
"Itu terjadi sebelum ingatannya hilang" Yoongi tersenyum sendiri membayangkannya. "Bahkan setelah ingatannya hilang, ia terus bertanya tentang kau, ia penasaran mengapa kau tiba-tiba jatuh saat aku memergokimu menguping, ia terus bertanya tentang siapa kau dan apa hubungan kalian" Jelasnya. "Dia ingin aku menyampaikan permintaan maaf jika sebelum hilang ingatan, kalian punya hubungan spesial"
Cerita itu, Jimin tertegun mendengarnya, benarkah? Apa Taehyung masih peduli padanya? Bahkan setelah kejadian itu? Taehyung tidak membencinya walau Jimin pernah dengan lancang menyatakan cinta padanya?
"Jimin" Yoongi menyadarkan Jimin dari lamuannya. "Mungkin suatu saat Taehyung akan menemukan orang yang ia cintai, tapi bukan berarti kau tidak bisa mendekatinya"
Mendengar itu, wajah Jimin memerah. "Hyung, kenapa kau—"
"Heol, kau pikir aku tidak tau?" Yoongi tertawa lagi, memotong kalimat Jimin. "Aku melihatmu saat membanting cokelat waktu itu, aku langsung mengerti bahwa kau menyukai Taehyung"
Jimin melebarkan matanya, sedetik kemudian ia menunduk. "Itu hanya masa lalu"
Yoongi tersenyum mendengarnya. "Yeah, itu hanya masa lalu" Dia membiarkan Jimin mendongak dan memandangnya lagi. "Tugasmu sekarang adalah melindunginya, melindunginya dari Bogum meskipun Bogum adalah orang yang paling Taehyung sayangi. Dan lagi, jangan memaksakan cinta, Park Jimin, kau pasti akan menemukan orang yang menyayangimu sepenuh hati"
Tunggu, kenapa..
"Kau ingin melihat Taehyung bahagia bukan?" Yoongi bersuara lagi. "Maka dari itu, tugasmu, tugas kita adalah menjaganya"
Suasana disana hening kembali, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing sampai salah satu dari mereka kembali membuka percakapan.
"Hyung" Jimin memanggil pelan.
"Ya?"
"Aku rasa aku tau siapa yang sepantasnya aku kagumi"
Yoongi menaikkan satu alisnya. "Oh ya? Siapa?"
Jimin tersenyum, senyuman itu sungguh mempesona, menggerakan hati Yoongi walau tidak sepenuhnya. "Aku rasa orang itu…" Jimin berhenti sejenak, memantapkan hatinya. "Orang itu adalah kau"
Yoongi melebarkan matanya, kalimat itu sukses menimbulkan rona kemerahan di wajah Yoongi, bahkan sampai ke telinga.
.
.
Jika memang aku tidak lagi bisa mengharapkanmu, maka aku akan menjagamu – Park Jimin.
.
.
.
.
"Heh, bagaimana? Sudah berhasil?"
Ruangan serba putih itu dipenuhi banyak alat-alat aneh yang mungkin tidak akan dimengerti oleh orang-orang biasa. Di ruangan tersebut pula terdapat dua orang menggunakan jas putih panjang mirip seperti dokter, namun mereka bukanlah dokter sungguhan, mereka bukan dokter.
"Berhasil apanya?" Seorang pria dengan kacamata tebalnya mendengus. "Aku rasa ia mengabaikan perintahku, apa ia sudah terlalu larut dalam kesenangan? Apa manusia itu berhasil membuatnya nyaman?"
"Mendengar kau menyebut manusia, aku merasa kita bukanlah manusia" Pria di sampingnya mencibir. "Mau bagaimana lagi kalau ia sudah terlanjut nyaman? Biarkan saja, bukankah itu sebuah kesuksesan bagi—ADUH!"
Mendapat jitakan keras, pria dengan kacamata tebal itu menyeringai puas. "Enak saja kau berbicara seperti itu, dia belum sempurna bodoh, mana bisa orang-orang menerimanya jika dia belum sempurna begitu?"
"Galak sekali"
"Lagian, dia itu cuma kelinci percobaan, dia harus kembali karena akan bahaya jika sampai terus-terusan seperti itu"
"Heleh, tumben sekali kau peduli pada hal-hal yang seperti ini" Pria di sebelahnya memasang wajah masam. "Kalau begitu teruslah berusaha, aku lelah dan mau tidur! Kau pikir sudah berapa lama kita di ruangan ini?!"
Pria berkacamata menautkan alisnya. "Dua hari?"
"Dua hari kepalamu!" Ia hampir terkena lemparan papan jalan. "Kita hampir berada disini selama satu minggu dan tidak ada kemajuan, aku mau istirahat beberapa hari. Semoga berhasil!"
"YAH! Jung! Kembali kau!" Kini ia sendirian di ruangan itu, sedetik kemudian menghela nafasnya kasar. "Jung Hoseok sialan, bisa-bisanya ia meninggalkanku dengan semua kerepotan ini, lihat saja, aku akan membuktikan padanya bahwa aku bisa melakukannya sendirian"
Kembalilah.
.
.
.
.
"Jungkook, jangan banyak bergerak!"
Yoongi terkejut, ia baru pulang dan menemukan Taehyung sedang duduk di sofa, mengeringkan rambut jungkook yang juga sedang duduk di lantai. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, yang berarti ia belum makan sama sekali dari pagi. Great, baru kali ini seorang Min Yoongi tidak makan hampir seharian, kalau dia sakit bagaimana?
"Aku pulang"
Taehyung tersentak, ia menoleh dan matanya membulat. "Ya, kau kemana saja hyung?" Ia bertanya, tentu saja Yoongi sudah bisa menebak hal itu. "Pergi tanpa kabar dan kau juga tidak membawa dompetmu, apa semuanya baik-baik saja?"
Yoongi mengangguk malas, ia membanting tubuhnya di sebelah Taehyung. "Saking buru-burunya aku sampai lupa membawa dompet, benar-benar sial. Kau tau? Aku bahkan tidak bisa membayar taksi, memalukan"
Taehyung menaikkan satu alisnya sementara Jungkook tertawa. "Yah, kenapa kau tertawa? Kau pikir ceritaku ini lucu?" Yoongi memberikan tatapan membunuh pada Jungkook, membuat Jungkook sendiri langsung diam dan membuang muka.
"Lalu, siapa yang membayar taksimu? Kau pergi kemana? Dengan siapa? Sampai seharian begitu"
Yoongi tersenyum. "Tentu saja pergi dengan Ji—"
Oh, crap.
Mana bisa Yoongi berkata jujur bahwa ia baru saja pergi menemui Jimin? Bisa-bisa Taehyung berubah panik dan menanyakan bagaimana soal kakaknya yang hilang itu. Tidak, tidak, Yoongi tidak bisa mengatakan alasannya, ia harus punya alasan lain yang bisa meyakinkan Taehyung.
"Ji?" Taehyung mengulang. "Jiwon? Jiyeon? Jihyo? Jiho?" Ia terus menebak, bahkan Yoongi tidak tau siapa orang yang Taehyung sebutkan itu, ia hanya ingat satu, Jiwon, teman sekelas mereka dulu, tapi tidak penting juga sih. "Jieun? Ji, Ji, Ji siapa sih? Aku penasaran"
"Bukan siapa-siapa" Yoongi memejamkan matanya. "Lupakan saja, lebih baik kau masak makan malam karena aku sangat lapar"
"Hyunggg" Suara Taehyung terdengar seperti merajuk. "Katakan dulu siapa ji itu—"
Yoongi membuka matanya, ia dapat melihat jelas ekspresi shock di wajah Taehyung. "Hyung, apa kau baru saja bertemu dengan.. Jimin? Park Jimin?"
Aduh.
"Bukan bodoh" Yoongi sebisa mungkin tidak membuat gerak-gerik yang mencurigakan. "Buat apa aku bertemu dengan Jimin? Aku bertemu dengan.. dengan.. dengan Jina! Jina itu anak anjing tetanggaku, ia baru lahir dan aku disuruh datang kesana"
"Jina? Anak anjing?" Dahi Taehyung mengerut. "Sejak kapan kau suka pada anak anjing?"
Seorang Yoongi berkata hal bodoh begini, duh rasanya Yoongi ingin cepat-cepat berendam di air hangat.
"Apa yang kau lakukan?" Suara Yoongi meninggi, seperti memerintah. "Cepat buatkan aku makan malam! Aku lapar!"
Taehyung langsung mendengus. "Kau ini selalu saja seenaknya hyung" Cibirnya, meletakkan handuk di kepala Jungkook lalu beranjak. "Lebih baik kau mandi dulu saja hyung, aku rasa waktuku untuk memasak akan sedikit lama"
Yoongi mengangguk sebagai jawaban, ia menatap Jungkook yang kini diam, tidak berbuat apa-apa, bahkan membiarkan handuk putih itu menutupi pandangannya. Dasar orang aneh, Yoongi menggelengkan kepalanya, sebenarnya Jungkook itu manusia macam apa sih?
"Hari ini kau tidak membuat Taehyung kesal kan?"
Jungkook menoleh pada Yoongi. "Um, sepertinya—"
"Sepertinya ya, kau membuatnya kesal" Yoongi memotong. "Lain kali tolong biarkan ia istirahat, ia punya banyak pikiran dan kau jangan membuatnya tambah pusing. Ingat ya, aku masih mencurigaimu walau Taehyung sepenuhnya memberikan kepercayaannya padamu"
"Mencurigaiku?" Jungkook mengulang.
"Ya, bisa saja kau orang jahat yang mau memanfaatkan Taehyung" Yoongi beranjak dari posisinya. "Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kau membuatnya menangis, apa kau dengar itu?" Seolah-olah mengancam, Yoongi membuat Jungkook mengangguk takut. Yoongi tersenyum tipis, ia berjalan meninggalkan Jungkook sendirian disana.
Lalu Jungkook bertanya-tanya, dia itu sebenarnya orang jahat atau orang baik? Apa dengan keberadaannya di sisi Taehyung, justru akan memperburuk keadaan?
Kembalilah.
Suara itu datang lagi, seperti menggema, Jungkook secara tidak sengaja mendongak dan menemukan Taehyung sudah berada di depannya, menatapnya dengan tatapan bingung.
"Eoh? Ada apa denganmu? Apa Yoongi hyung memarahimu lagi?"
Jungkook tidak tau kapan Taehyung tiba, ia tidak tau bagaimana Taehyung tau-tau sudah berada di hadapannya, ia hanya tidak mau Taehyung pergi. "A-aku—"
Taehyung tertawa, ia menunduk dan mengacak-acak rambut Jungkook yang masih tertutup handuk. "Jika Yoongi hyung memarahimu, maka abaikan saja oke? Yoongi hyung memang punya mulut yang pedas, tapi sebenarnya ia adalah orang yang peduli" Jelasnya, tersenyum pada Jungkook. "Dia mengkhawatirkanku, dia mengkhawatirkanmu, jadi kau tidak perlu—"
BRUK. Jungkook menarik Taehyung ke dalam pelukannya, membuat tubuh –berat– Taehyung jatuh begitu saja. Taehyung melebarkan matanya, tidak pernah sekalipun ia punya pemikiran bahwa Jungkook akan memeluknya dengan cara seperti ini. Wajah Taehyung memanas lagi, kenapa akhir-akhir ini ia jadi seperti seorang perempuan sih? Memalukan!
"Jungkook, lepaskan aku!" Taehyung berusaha melepaskan dirinya, mau bilang apa coba kalau sampai Yoongi melihat posisi mereka saat ini? Bisa-bisa titisan ibu tiri itu mengomelinya habis-habisan. "Yah! Kau tidak mendengarku eoh?!"
"Katakan, Taehyung tidak akan meninggalkanku"
Jungkook mengeratkan pelukannya dan itu membuat semua pemberontakan yang Taehyung lakukan berhenti. Taehyung melebarkan matanya, lagi-lagi jantungnya berdetak tidak karuan begini, ada apa sih dengannya?
"Taehyung" Jungkook memejamkan matanya, meletakkan dagunya di atas bahu Taehyung. "Katakan, katakan sekarang, aku mau mendengarnya dari mulut Taehyung"
"Yah!" Taehyung berusaha melepaskan tubuhnya, tapi apa daya, kekuatan Jungkook jauh dua kali lebih lipat dari biasanya. "Kenapa harus pakai janji segala? Aku tidak akan meninggalkanmu bodoh, kalau berjanji, belum tentu akan di tepati!"
Jungkook tidak membalas, tetap mempertahankan posisi mereka.
"Jungkook!" Taehyung menghembuskan nafasnya, percuma saja kalau begini. "Baiklah, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu kemana-mana, Kim Taehyung berjanji! Puas? Sekarang lepaskan aku!"
Menurut, Jungkook melepaskan pelukan itu dan mengakibatkan tubuh Taehyung terjungkang ke belakang. Taehyung meringis, kenapa Jungkook sekejam itu sih? Menyebalkan sekali. "Kau ini kenapa sih? Berhentilah bersikap aneh!"
Jungkook diam, ia hanya menatap Taehyung tanpa berniat mengatakan apa-apa.
"Dasar aneh" Taehyung memutar bola mata, ia buru-buru berjalan meninggalkan Jungkook, membuatnya kembali sendirian.
Padahal hanya ke dapur, tapi kenapa nyeri itu datang lagi pada Jungkook? Ia tidak mengerti, sungguh. Tapi, Jungkook bisa bernafas lega, Taehyung sudah berjanji tidak akan meninggalkannya, tidak ada yang perlu ia gelisahkan, Jungkook, si pemuda lugu berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi, bagaimana jika dirinya sendiri yang justru meninggalkan Taehyung?
.
.
"Kalian ini, menempel terus"
Yoongi mendengus, melirik Taehyung dan Jungkook yang duduk saling berdekatan, malah menempel, padahal lantai luas sekali. Malam ini mereka memutuskan untuk menonton film, hitung-hitung mengajarkan hal-hal baru pada Jungkook. Awalnya Taehyung menolak karena dia rasa terlalu awal mengajarkan Jungkook hal-hal dewasa, tapi begini saja, siapa yang berani mengelak omongan seorang Min Yoongi?
Jadilah mereka disini sekarang, duduk di ruang tengah dan menonton film dengan genre action serta romance.
"Anak ini yang terus menempel padaku" Taehyung berkata datar, wajahnya suram. "Padahal aku berkata bahwa kita tidak akan menonton film horror, tapi dia tidak percaya" Lanjutnya.
Jungkook menyahut. "Setelah ini Yoongi hyung akan menyetel film hantu"
"Hehh" Atmosfer disana berubah dingin, mata Yoongi seolah-olah menyala di tengah-tengah kegelapan. "Mau aku nonton horrorpun, itu bukan urusanmu, kau saja yang terlalu penakut! Padahal jelas-jelas bahwa hantu itu tidak ada!"
Taehyung diam saja, ia tidak mau melibatkan dirinya di antara pertengkaran Yoongi dan Jungkook.
"Hantu itu ada" Jungkook ngotot.
Yoongi tertawa mengejek. "Dimana? Apa kau bisa membuktikannya?"
"Tentu saja" Jungkook berkata enteng, ia menunjuk Yoongi dengan santainya. "Yoongi hyung itu termasuk dari macam-macam hantu"
Hening.
"Ahhh" Taehyung buru-buru melerai pertengkaran keduanya, ia bahkan mulai merasakan aura dingin dan membunuh dari arah Yoongi. "Daripada kalian bertengkar, bagaimana kalau nonton filmnya saja? Tidak baik bertengkar di malam hari" Ia tertawa canggung.
Satu hal yang harus Taehyung hindari, jangan biarkan Yoongi dan Jungkook bertengkar, karena dampaknya dahsyat sekali, bisa menghancurkan seisi rumah dalam waktu kurang lebih satu jam.
Yoongi mencibir. "Bisa gila jika ia terus-terusan berada didekatku, kapan ia akan kembali sih? Aku sudah bosan melihat wajah polosnya"
Taehyung menghela nafas. "Bagaimana mau kembali kalau ia saja tidak mengingat asal-usulnya, palingan suatu saat ia akan mengingat sesuatu" Lagi-lagi wajahnya berubah masam. "Walau aku tidak yakin seratus persen"
Yoongi tidak merespon, ia menatap sosok Jungkook yang kini sudah fokus lagi pada layar televisi. Kehadiran Jungkook memang patut di curigai, mana mungkin Jungkook itu bukan manusia, semuanya terlihat jelas bahwa Jungkook sama seperti mereka, sama-sama manusia.
Entah mengapa, Yoongi mempunyai pikiran; Jungkook itu diciptakan atau justru ia hanyalah kelinci percobaan. Yeah, tidak ada yang tau, Yoongi hanya bisa menebak-nebak dan tebakannya belum tentu benar. Apapun yang di lakukan Jungkook, Yoongi tetap harus mencurigainya, siapa tau saja dibalik tampang polos itu, tersimpah sebuah niat jahat? Ya, bisa saja.
Namun Yoongi tau, seberusaha apapun ia untuk membuat Jungkook menjauh, Kim Taehyung tidak akan pernah membiarkannya.
"Taehyung, aku mengantuk"
Yoongi melirik Jungkook, pria itu mengusap-usap matanya seperti seorang anak kecil. Taehyung juga sama saja, ia mengacak-acak rambut Jungkook lalu mengajaknya pergi ke kamar, padahal film yang mereka tonton belum selesai.
"Hyung, aku mau mengantarkan Jungkook ke kamar dulu" Begitulah kata Taehyung sebelum ia pergi meninggalkan Yoongi.
Yoongi memutar bola mata, apa-apaan yang barusan itu? apa dia baru saja melihat adegan percintaan orang dewasa? Eh tapi kalau berbicara tentang percintaan, kenapa ia jadi ingat kejadian di café?
"Sial" Ia mendengus. "Aku membicarakan dan menyindir-nyindir mereka berdua, tapi rasanya seperti aku baru menghina diriku sendiri" Yoongi dengan segera menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, wajahnya merona.
.
.
Di kamar Jungkook sendiri, Taehyung dengan teganya menarik selimut hingga menutupi ujung kaki Jungkook sampai hidungnya, dengan tatapan tidak berdosa, seperti tidak peduli jika saja Jungkook tak bisa bernafas.
"Pokoknya, malam ini kau tidak boleh menyelinap ke kamarku" Itu sebuah peringatan, Taehyung sudah mengetahui kebiasaan buruk Jungkook yang suka menyelinap ke kamarnya dan ia tak mau kejadian itu terulang.
Jungkook memandangnya. "Bagaimana kalau monster datang?"
"…" Ekspresi Taehyung berubah datar. "Monster yang bagaimana maksudmu? Tidak akan ada monster, kau terlalu banyak baca buku dongeng!"
"Tapi" Jungkook mengelak. "Kemarin aku melihat monster aneh di film, itu terlihat seperti nyata" Well, Jungkook itu tukang ngotot.
Taehyung memutar bola mata. "Tinggal tutup saja matamu dan tidur, jangan berpikir yang aneh-aneh" Ayolah, ia tidak mungkin mengomeli Jungkook malam-malam begini, bagaimana kalau Yoongi mendengarnya dan ia marah?
"Taehyung tidak akan menemani—"
"Tidak" Taehyung memotong. "Kau sudah besar dan aku tidak mau menemanimu tidur lagi, sudah cukup bicaranya? Cepat tidur karena aku mau mematikan lampu"
Jungkook mengangguk, ia mulai memejamkan matanya. Taehyung sendiri menghela nafas, kenapa dia terlihat seperti seorang baby sitter yang akan menidurkan anak majikannya? Taehyung jadi membayangkan bagaimana kalau Yoongi yang berada di posisinya sekarang ini, mungkin dia akan segera membuang Jungkook sejak awal.
Beberapa menit melamun, Taehyung mendapati Jungkook sudah tertidur.
"Hahhh" Taehyung menghela nafas. "Kenapa merawatmu terasa sangat merepotkan huh? Mau sampai kapan? Bukankah kau juga punya kehidupan?" Menggelengkan kepalanya, Taehyung mematikan lampu di dekat meja, setelah itu berbalik dan berjalan menuju pintu.
Taehyung diam-diam tersenyum tipis.
Mimpi indah, Jungkook.
Bersambung
Holla, apa aku kelamaan menghilangnya? Maapkan aku kawan-kawan, anggap saja khilaf. Kependekan? Maapkan aku T^T
Well, semoga chapter ini tida mengecewakan para pembaca sekalian ya? Sebenarnya sih, aku sudah merencanakan ending dari fanfic ini yang kemungkinan besar akan berbeda dari komik aslinya (yoiyalah wong yang aslinya lom tamat).
Terima kasih banyak buat yang udah setia nunggu ni ff, yang favorite, follow, review, bahkan yang ngebatalin favorite/followpun terima kasih yo, aku merasa sangat di hargai oleh kalian. Terima kasih juga buat para siders. Lalu entah mengapa, karena ff ini, saya jadi dijuluki tukang telor, demi dewa :")
Nih ya, aku kasih tau, kalau kalian gak suka atau merasa terganggu sama fic ini, tolong jangan di baca. Baca? Boleh deh, tapi jangan berkomentar yang bisa bikin authornya sakit hati :) Kalian masih punya hati bukan? Fic ini terinspirasi, lalu aku buat sedemikian rupa supaya beda dari komik aslinya, aku bisa memaklumi kalau kalian nganggep sampah atau ah komik aslinya lebih bagus atau alurnya maksa atau bahkan karakternya ga cocok. Tentu saja lebih bagus komik aslinya, aku bahkan juga sangat sadar. Aku juga ga maksa kalian buat baca fic ini, ah, sedih euy /butuh sandaran/ /butuh bahu/ /bahu jalan/.
Yyo, aku minta review kalian aja deh, sebagai penghibur. Terakhir, sampai ketemu di chapter selanjutnya! Ppyong~
Datgurll.
