"Aku akan membawanya"

"Eh? Apa kau sudah gila?"

Hoseok menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, ia menoleh, memijat-mijat batang hidungnya. "Kau pikir, apa lagi yang di harapkan? Aku sudah lelah, aku ingin membawanya pulang"

"Jung Hoseok—" Suara itu terdengar mengancam. "Jangan berani-berani kau—"

"Dia itu milikku" Hoseok memotong, tak berekspresi.

Lee Jaehwan terdiam untuk beberapa saat, mencari-cari alasan agar dapat mencegah apapun yang akan dilakukan Hoseok. "Aku bahkan sedang berusaha untuk membuatnya kembali, kenapa kau terburu-buru begitu?"

Kali ini, Hoseok terdiam.

Jika di tanya seperti itu, Hoseok sedikit ragu dengan jawaban yang ia miliki. Kenapa ia ingin dia kembali? Entahlah, Hoseok merasa ia telah melakukan kesalahan terbesar sepanjang hidupnya, benar-benar kesalahan yang seharusnya tak dapat di maafkan. Hoseok ingin memberontak, ia tidak mau lagi di perintah, ia tak lagi mau menuruti perkataan Lee Jaehwan, ia tidak mau lagi hanya berdiri diam dibelakang pria blonde itu dan menyaksikan semuanya tanpa melalukan apapun.

"Kau memang ingin membawanya kembali" Hoseok bersuara, air mukanya tenang sekali. "Tapi, kau akan benar-benar mewujudkan impianmu setelah dia kembali kesini, bukankah begitu?"

Jaehwan mengepalkan kedua tangannya.

"Aku menghargai usahamu untuk membawanya kesini, aku sangat berterima kasih akan hal itu" Hoseok melepas jas putihnya, meletakkannya secara rapi di atas bangku. "Tapi, kalau sudah seperti ini, melakukan hal itupun akan sia-sia" Tambahnya.

"Kau mau apa?" Jaehwan bertanya.

Hoseok memakai jam tangannya, mengambil kunci mobil yang sudah lama sekali ia letakkan di tempat yang sama dengan sebelumnya. Hoseok menoleh sebelum keluar dari ruangan, ia tersenyum tipis pada Jaehwan.

"Aku yang akan membawanya kesini"

.

.

.

What the—

Jeon Jungkook/Kim Taehyung

[Cerita ini terinspirasi dari Eggnoid, dari Webtoon]

Sebelumnya, jika ada yang tidak suka dengan fiksi ini, silahkan pergi sejauh-jauhnya.

.

.

.

"Jungkook?"

"Hm?"

Taehyung mengusap kedua matanya, berusaha melihat dengan jelas apakah orang yang tidur di sebelahnya itu benar-benar Jungkook atau bukan. Sepertinya hari sudah pagi, sebab suara kicauan burung terdengar dengan jelas, apalagi cahaya matahari juga masuk melalui celah-celah ventilasi.

Butuh waktu lima menit untuk Taehyung tersadar sepenuhnya, setelah dirasa ia memiliki cukup tenaga untuk bangun, barulah ia terkejut, Jungkook berada di kamarnya lagi.

"Sejak kapan kau—"

"Mimpi buruk" Jungkook meremas selimut yang digunakan, menariknya hingga sampai mulut. "Gara-gara hantu itu, jadi mimpi buruk"

Taehyung memutar bola matanya. "Hantu yang mana? Hantu itu tidak ada"

"Ada" Jungkook, si keras kepala mulai lagi beraksi. "Kalau tidak ada, tidak mungkin dia menghampiri mimpiku, wajahnya sangat menyeramkan"

"Yaudah" Taehyung menggaruk kepalanya, melirik jam yang tergantung di dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. "Eh? Aku pikir ini sudah jam sembilan, masih terlalu pagi ternyata"

Jungkook diam saja, ia lebih memilih tetap pada posisinya karena ruangan ini terasa dingin sekali, terheran-heran kenapa Taehyung nyaman-nyaman saja berada di dalam ruangan yang sudah mirip lemari pendingin besar ini. Taehyung sendiri, ia duduk di pinggiran ranjang kemudian memakai sandal rumahnya.

Tapi, bukannya segera beranjak atau apa, Taehyung justru kembali menguap, menyadari dirinya masih sangat mengantuk. Pemuda itu menengadahkan kepalanya, kedua mata indahnya terpejam erat, siap untuk jatuh tertidur lagi kapan saja.

"Masih mengantuk?"

"Ya, begitulah" Taehyung membalas tanpa menatap Jungkook. "Tubuhku rasanya berat untuk di gerakan, ingin sekali tidur seharian tanpa melakukan apapun" Tambahnya.

Jungkook sedikit menjauhkan selimut dari mulutnya. "Kalau begitu, kita tidur lagi"

"Mana bisa begitu, tidur lagi apanya? Masih ada pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan, kau tau apa akibatnya bukan kalau aku bermalas-malasan? Jika sekali saja aku malas, seterusnya akan selalu—"

Terlambat, masih ingat dengan perlakuan Jungkook yang selalu tidak bisa di duga-duga? Ya, ia baru saja menarik tangan Taehyung agar kembali berbaring di sampingnya. Lengan Taehyung itu kurus, sangat pas di tangan Jungkook.

Pada akhirnya, mereka berdua sama-sama berbaring lagi. Taehyung sempat ingin protes pada awalnya, tapi karena suhu di kamarnya terlalu dingin, ia buru-buru masuk kembali ke dalam selimut yang sama dengan Jungkook.

"Aku baru tau kamarku sedingin ini"

"Taehyung disini saja, kita akan tidur seharian" Jungkook berkata, tapi ia malah mendapat tatapan tajam dari Taehyung.

"Kalau kau mau tidur seharian silahkan saja, aku masih harus mengerjakan pekerjaanku"

"Tapi Taehyung sudah berjanji tak akan meninggalkanku"

Taehyung terdiam, ia menatap Jungkook yang kini juga sedang menatapnya. "Jangan berlebihan, ah. Aku hanya pergi untuk beres-beres, bukan pergi jauh dan tidak akan kembali" Katanya, memutar bola mata. Akhir-akhir ini Jungkook semakin aneh saja, ia tidak mau ditinggalkan walau hanya ke toilet saja. Risih? Tentu saja ia risih, masalahnya adalah, Jungkook sampai memaksa bahwa ia harus ikut ke dalam kamar mandi (Taehyung sampai harus menendang wajah Jungkook agar ia jauh beberapa meter darinya, sehingga bisa mengunci pintu kamar mandi).

Jungkook tidak membalas, ia hanya melempar tatapan lugu pada Taehyung.

Kini keduanya sama-sama diam, Taehyung yang melamun dan Jungkook yang asyik memikirkan entah apa itu. Taehyung mengubah posisinya, memeluk lututnya erat-erat. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang agak menganggu pikirannya semalaman. Sebenarnya bukan agak lagi, tapi benar-benar menganggu.

Ia tidak tau apakah ini sebuah masalah, atau lelucon konyol yang seharusnya tidak ia percaya.

.

.

[Flashback*1]

"Jadi, kau—"

Hoseok mengangguk tanpa perlu mendengar lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya, tak lupa senyum tipisnya menghiasi wajahnya yang memang sudah tampan. Kedatangannya memang tidak di perkirakan, sama sekali, lagipula Taehyung tidak akan mengenal dirinya, mereka baru saja bertemu sekarang ini, detik ini.

Dia bisa melihat jelas raut wajah Taehyung; shock.

"Maafkan aku" Hoseok memulai pembicaraan kembali. "Kau pasti berpikir bahwa aku harus menjelaskan ini semua padamu, bukankah begitu?" Memberi tatapan teduh untuk Taehyung. "Aku bukanlah orang jahat"

"Aku, tidak berpikir bahwa kau orang jahat" Taehyung berbisik.

Taehyung takut, ia panik, ia khawatir, terlalu bodoh untuk menyimpulkan apa yang sedang ia rasakan, mengapa dan apa alasan ia merasakan hal-hal tersebut. Jung Hoseok datang bagai amukan badai, membawa ketakutan serta rasa panik yang berlebihan. Taehyung tidak akan pernah tau apa tujuan Hoseok datang, karena ia sendiripun baru bertemu Hoseok detik ini.

Ia tidak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi. Sungguh.

Sementara Hoseok, ia tetap berdiri, setia menunggu bagaimana reaksi Taehyung. Wajahnya lugu, Hoseok tidak bisa berpikir dan berasumsi bahwa pemuda di hadapannya adalah orang jahat, tidak sama sekali, ia justru merasa nyaman berada di dekat Taehyung.

"Bagaimana," Hoseok berbicara lagi. "Bagaimana kalau kita bicarakan di dalam? Aku harap kau tidak keberatan membawaku masuk, percayalah bahwa aku bukan orang jahat seperti dalam pikiran kebanyakan orang"

Taehyung mengernyit; ia tak menganggap Hoseok orang jahat, ada apa sih dengan orang ini?

Hoseok orang aneh, namun harus Taehyung akui ia cukup baik.

Kedua tangan Taehyung terangkat untuk membuka pintu utama lebih lebar, dalam artian ia mengizinkan orang lain, Hoseok, untuk masuk ke dalam.

"Silahkan masuk"

.

.


.

.

[Flashback*2]

.

.

"Kau, pulang terlambat lagi?"

Hoseok mengernyitkan dahinya, terheran sendiri karena akhir-akhir ini sang adik selalu pulang terlambat dari jam seharusnya. Tentu saja, sebagai kakak, Jung Hoseok adalah satu-satunya orang yang sangat khawatir mengenai keadaan adiknya. Lagipula, adik laki-lakinya itu masih berstatus sebagai pelajar, dimana tidak boleh pulang terlalu larut.

"Maaf hyung"

Hanya maaf, dan itu sudah diucapkannya sejak seminggu yang lalu. Hoseok menghembuskan nafasnya, ia mulai penasaran dengan sesuatu yang telah menganggu kehidupan adiknya. Apakah sesuatu tersebut berdampak besar bagi kesehariannya?

"Kemana?"

Selesai melepas sepatu, Jungkook meletakkannya di rak sepatu. "Sekolah hyung" Jawabnya, tanpa membalas tatapan Hoseok. "Mau percaya atau tidak, aku benar-benar di sekolah" Lanjutnya lagi, berjalan melewati Hoseok.

Merasa tidak puas dengan jawaban tersebut, Hoseok mengikuti Jungkook hingga ke ruang tengah. "Apa perlu aku menghubungi wali kelasmu? Bertanya apakah kegiatan tambahan kalian sampai harus menghabiskan waktu banyak?"

Jungkook meneguk satu botol air mineral dari lemari pendingin hingga tak bersisa. "Hyung?" Dia melempar tatapan aneh pada sang kakak. "Aku pikir kau sudah berjanji tidak akan pernah mencampuri urusanku?"

Hoseok langsung menegang. "Maaf, aku hanya terlalu khawatir"

"Aku menghargai rasa khawatirmu hyung, tapi biarkan aku menjalani kehidupanku" Jungkook berkata, berjalan lagi menuju kamarnya sendiri.

Hoseok terdiam ditempatnya, tak bisa berkata apa-apa selain memikirkan perkataan Jungkook barusan. Mereka sudah tinggal bersama sejak Hoseok sekolah, orang tua mereka meninggal karena sakit. Sebagai anak pertama, tanggung jawab Hoseok sangatlah besar, ia harus mencari uang untuk menghidupi Jungkook, juga dirinya sendiri. Mengeluh? Iya, Hoseok mengeluh, mengapa harus seorang kakak yang bekerja keras? Membanting tulang demi adiknya? Ada rasa putus asa pada masa itu.

Tapi, begitu ia mengerti betapa pentingnya seorang Jung Jungkook baginya, barulah Hoseok menghilangkan pikiran buruk itu. Jungkook adalah satu-satunya keluarga yang ia punya, satu-satunya adik yang selalu tersenyum padanya, apapun keadaan mereka. Semangat Hoseok mulai membara, ia bekerja keras hingga kehidupan mereka sepenuhnya tercukupi.

Apa itu yang dinamakan kasih sayang?

"Hyung"

Hoseok terkejut, ia tersadar dari lamuannya dan segera menatap Jungkook. Dilihatnya Jungkook berdiri di depan pintu ruang tengah, tersenyum tipis kepadanya.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku" Begitulah kalimat yang Jungkook lontarkan. "Selamat malam" Lanjutnya lagi, langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Hoseok mematung, ia tidak pernah menyangka Jungkook akan mengajaknya bicara duluan. Memang, semakin lama Jungkook tumbuh dewasa, hubungan mereka sedikit merenggang. Sebenarnya Hoseok sendiri sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, toh ia juga seperti itu disaat masa-masa remaja. Namun, ia hanya tidak menyangka kalau Jungkook akan berkata seperti itu. Sungguh.

Tapi tak lama, Hoseok tersenyum. Ah, betapa ia tak ingin kehilangan adik satu-satunya tersebut, meski ia tau suatu saat Jungkook akan pergi meninggalkannya, memiliki kehidupan baru bersama dengan orang yang dicintainya.

Jangan salah sangka, rasa sayang Hoseok pada Jungkook hanyalah sebatas rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, tidak lebih dan tidak akan pernah lebih.

.

.

Sudah, Hoseok tidak bisa menahannya lagi.

Ini sudah sebulan sejak Jungkook selalu terlambat pulang ke rumah, bahkan selalu mengatakan alasan yang sama. Hoseok tidak bisa mempercayainya terus-menerus, ujian juga sudah lewat, mengapa masih ada pelajaran tambahan disaat murid seharusnya dapat beristirahat?

Jadi, dengan langkah penasaran, Hoseok menunggu Jungkook disaat jam pulang sekolah. Sungguh, ia ingin tau kemana adiknya itu pergi, apakah benar-benar menghadiri pelajaran tambahan atau justru kegiatan tambahan lain.

Bel sekolah Jungkook berbunyi, Hoseok bersembunyi dibalik pohon besar yang letaknya tak jauh dari gerbang. Tak lama, banyak siswa maupun siswi keluar dari gedung sekolah, sebagian dari mereka juga menggunakan sepeda. Hoseok mempertajam pandangannya, ia tak boleh kehilangan jejak Jungkook saat ini.

Munculah Jungkook, terlihat buru-buru.

Tanpa berkata apapun, Hoseok mengikuti langkah sang adik dengan hati-hati, berharap keberadaannya tidak ditemui oleh Jungkook, karena akan panjang lagi urusannya. Adiknya tersebut menyebrangi jalan, tak berhenti tersenyum sejak keluar dari gerbang.

Well, benar-benar ada sesuatu yang Jungkook sembunyikan.

Terus mengikuti, Hoseok baru menyadari bahwa ia sudah berada di area sekolah lain. Sekolah ini terkenal karena murid-muridnya yang pintar, Hoseok sendiri punya teman lulusan dari sekolah ini (bahkan mereka akrab sampai sekarang). Kembali ke permasalahan pertama, ada urusan apa sampai-sampai Jungkook pergi kesini? Memang ia punya teman disini?

Dengan gaya seperti penguntit, Hoseok mengintip Jungkook yang berdiri di samping gerbang sekolah, tak berhenti tersenyum seperti orang idiot. Hoseok terus berada dalam posisi tersebut, mengabaikan pandangan aneh dari orang-orang yang berjalan disekitarnya. Hoseok mulai berasumsi bahwa yang mengubah adiknya menjadi seperti ini adalah perempuan. Iya, Jungkook jatuh cinta pada murid perempuan disekolah ini.

Tapi, pemikiran itu segera hancur berkeping-keping. Pupil mata Hoseok melebar seketika.

Jungkook, membalikkan tubuhnya ketika seorang murid laki-laki berjalan melewatinya. Murid laki-laki itu punya warna rambut cokelat seperti karamel, ia bersama temannya, Hoseok rasa. Wajah murid laki-laki itu sungguh bahagia, berbeda dengan temannya yang terlihat menggerutu sepanjang jalan.

Oh?

Setelah kedua murid tersebut melewati Jungkook, sang adik kembali berbalik, tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari salah satu kedua murid itu. Sedetik kemudian, Jungkook tersenyum, menunduk dengan wajah merona (meski Hoseok tak melihatnya karena terlalu jauh).

Barulah Hoseok mengetahui sebuah kebenaran. Adiknya, Jung Jungkook, jatuh cinta pada murid—ah, pada anak laki-laki itu, si pemilik cengiran persegi serta rambut secokelat karamel.

.

.

Untuk pertama kalinya, saat itu, Hoseok melihat Jungkook menangis.

"Ya, kau kenapa?" Begitulah pertanyaan khawatir Hoseok saat menemukan Jungkook menangis, padahal ia baru saja sampai ke rumah. Terakhir kali ia melihat Jungkook menangis adalah pada saat adiknya berumur lima tahun, itu juga menangis dengan alasan.

Jungkook tidak membalas, ia melepas sepatu secara asal kemudian berjalan cepat melewati Hoseok. Jangankan untuk membalas, Jungkook saja sedang tak ingin melihat wajah siapapun sekarang ini.

Sebelumnya, Jungkook tidak pernah sehancur ini.

Hoseok tidak menyerah, ia mengikuti kemana Jungkook melangkah. Sesampainya ia di depan pintu kamar Jungkook, Hoseok tak kunjung menghilangkan wajah khawatirnya. "Katakan, Jungkook, ada apa denganmu? Apa yang membuatmu menangis?"

Tentu saja, ia terikut sedih. Bagaimana rasanya melihat adik kesayanganmu menangis? Dan kau sebagai kakaknya, tidak tau apa-apa.

Jungkook tak juga membalas, ia melepas seragamnya satu-persatu, melemparnya asal ke atas ranjang. Dia memang tidak menangis keras, tapi kedua matanya memerah dan tubuhnya bergetar.

"Jungkook?"

Hoseok tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, ia harus tau mengapa adiknya seperti itu. Jadi, Hoseok menghampirinya, mencengkram kedua bahunya erat-erat dan mendorongnya agar duduk di pinggir ranjang. Tatapan Hoseok menajam, ia membiarkan Jungkook kesakitan akibat cengkramannya.

"Katakan, Jung Jungkook"

Karena tidak bisa mengelak lagi, Jungkook akhirnya memberanikan diri membalas tatapan Hoseok. "Orang yang aku suka, aku baru mendengar dia kecelakaan" Katanya, pelan namun disertai getaran yang membuat cengkraman Hoseok sedikit merenggang. "Dia kecelakaan, ibu dan ayahnya meninggal, sama seperti kita" Lanjutnya lagi.

Okay, Hoseok agak sensitif jika sudah membahas apapun yang berhubungan dengan orang tua. Tatapannya melemah, ia membiarkan Jungkook melanjutkan kalimatnya, ia hanya perlu diam saja saat ini.

"Disaat aku ingin menggapainya, dia kehilangan ingatannya" Jungkook mengusap kedua matanya kasar. "Hyung, apakah itu artinya aku tidak ditakdirkan bersamanya? Tapi kenapa? Selama ini aku tidak pernah berkhianat pada Tuhan, meski aku melanggar apa yang dilarangnya"

Kalimat itu terdengar sangat putus asa, Hoseok semakin diam, ia bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Jika ia simpulkan, bukankah berarti orang itu sangatlah spesial bagi Jungkook? Sampai-sampai dengan seenaknya membuat adiknya tersebut menangis seperti bayi.

Jungkook dengan kasar menepis kedua tangan Hoseok. "Keluarlah hyung, aku ingin sendirian saat ini" Usirnya, tak lagi mau menatap Hoseok seperti tadi.

Ah, itu menyakiti Hoseok, sumpah.

Dengan sangat terpaksa, Hoseok menyeret kedua kakinya untuk pergi dari ruangan itu. Meski ia tak ingin meninggalkan kamar ini, tapi ia masih harus menghargai apapun yang Jungkook katakan. Disaat ia menutup pintu, Hoseok menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata, sebisa mungkin mengurangi rasa sakit itu.

Jungkook berkata seperti itu padanya, hanya karena orang yang dia sukai.

Kalau ada cara yang bisa membuat Jungkook bahagia, apakah Hoseok akan menemukannya? Cara itu? Apapun, apapun akan Hoseok lakukan asal Jungkook bahagia. Kebahagiaan itu akan berdampak baik untuknya juga, sudah pasti.

Teringatlah dia akan sesuatu. Hoseok punya satu cara.

Tapi tidak masuk akal.

Dengan terburu-buru, Hoseok mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menghubungi seseorang disebrang sana, berharap panggilan itu akan terjawab.

/"Ya?"/

Hoseok tersenyum. "Aku butuh bantuanmu, Jaehwan"

.

.

Okay, jadi, Hoseok tidak pernah sepecaya diri ini sebelumnya.

"Kau yakin, hyung?"

Laki-laki itu mengangguk mantap. "Kau ingin bersama-sama dengan orang yang kau sukai itu, bukan?" Tanyanya, yang langsung dibalas anggukan antusias dari Jungkook. "Maka dari itu percayalah padaku, kalian akan bersama-sama sebentar lagi" Lanjutnya, tersenyum penuh percaya diri.

Jaehwan berdehem. "Tapi, kau tidak akan ada sangkut-pautnya untuk mengantar dia nanti"

"Aku tau" Hoseok menghela nafas, tapi helaan nafas lega. "Setidaknya, apapun akan aku lakukan untuk Jungkook, asal ia bahagia"

Jungkook dan Jaehwan saling melempar pandangan, mereka berdua menatap Hoseok lagi.

Rencana gila mereka kali ini adalah, membuat Jungkook bisa berdekatan dengan orang yang disukainya tanpa perlu menerima penolakan. Sangat tidak masuk akal, memang. Di jaman seperti ini, Jaehwan dan Hoseok melakukan sebuah percobaan, dimana mereka dapat mengambil ingatan seseorang, menyimpannya dan mengembalikannya disaat yang tepat, suatu hari.

Hoseok, berniat melakukan percobaan mereka kepada Jungkook, untuk pertama kali. Dia ingin menghilangkan ingatan apapun yang Jungkook miliki, kemudian membuat Jungkook berada di sisi orang yang disukainya tanpa perlu menerima penolakan. Maksudnya, jika Jungkook seperti orang linglung (dalam arti lain, seperti orang amnesia), mana bisa seseorang menolak kehadirannya? Apalagi, Jungkook itu tampan.

Dia percaya, kalau orang yang Jungkook sukai itu bukanlah orang jahat.

"Bagaimana kalau gagal?" Jungkook bertanya, ia sudah duduk di atas ranjang berbalut kain putih. Ruangan ini sangat aneh, Jungkook tidak juga percaya bahwa yang seperti ini benar-benar ada, meski ia sudah melihatnya sendiri.

Jaehwan menepuk-nepuk bahu Jungkook. "Percayalah, kakakmu akan melakukan yang terbaik untukmu" Katanya, menenangkan. "Lagipula, kami akan mengambilmu kembali suatu hari, tidak tau kapan, itu keputusan kakakmu"

Alis Jungkook bertaut. "Apa itu artinya, aku tak bisa selamanya?"

Hoseok menghela nafas, mengelus bahu Jungkook. "Biar aku tanya sekali lagi, apa tujuanmu menyetujui semua ini?"

Jungkook terdiam untuk beberapa saat, kepalanya tertunduk. "Aku ingin melihatnya bahagia"

"Nah, tepat" Hoseok membalas. "Meski tidak selamanya kau berada disisinya, kau akan bisa membuatnya tersenyum dan bahagia seperti sedia kala. Ketika aku mengambilmu kembali dari sisinya, kau tidak akan merasa kehilangannya"

Kepala Jungkook terangkat. "Kenapa?"

"Karena kau tak akan ingat apapun" Senyuman itu menghiasi wajah Hoseok. "Tapi percayalah, setelah ingatanmu kembali, kau sudah membuat orang yang kau sukai itu kembali bahagia. Meski kau tak ingat apapun, setidaknya kau ada disampingnya, dimasa-masa sulitnya"

Kalimat itu membuat Jungkook tersenyum. Memang ini keputusannya, ia rela tak mengingat apapun ketika bersamanya, ia rela terlihat bodoh asal dia senang. Lagipula, ia tidak akan merasa kehilangan bukan? Toh ia tak mengingat apa-apa, ia hanya perlu yakin, ia sudah hadir di dalam kehidupannya dan membuatnya bahagia.

Suasana disana hening, hingga Jaehwan berdehem.

"Apa kau yakin, Jungkook-ah?"

Jungkook menoleh, ia menganggukan kepalanya mantap. "Ya"

Kim Taehyung, aku akan datang kepadamu.

.

.

"Heh, bagaimana? Sudah berhasil?"

Ruangan serba putih itu dipenuhi banyak alat-alat aneh yang mungkin tidak akan dimengerti oleh orang-orang biasa. Jaehwan berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan, dahinya mengernyit seperti sedang berpikir keras.

"Berhasil apanya?" Hoseok, dengan kacamata tebalnya mendengus. "Aku rasa ia mengabaikan perintahku, apa ia sudah terlalu larut dalam kesenangan? Apa manusia itu berhasil membuatnya nyaman?"

"Mendengar kau menyebut manusia, aku merasa kita bukanlah manusia" Pria di sampingnya mencibir. "Mau bagaimana lagi kalau ia sudah terlanjut nyaman? Biarkan saja, bukankah itu sebuah kesuksesan bagi—ADUH!"

Memberikan jitakan keras pada Jaehwan, Hoseok menyeringai puas. "Enak saja kau berbicara seperti itu, dia belum sempurna bodoh, mana bisa orang-orang menerimanya jika dia belum sempurna begitu?"

"Galak sekali"

"Lagian, dia itu cuma kelinci percobaan, dia harus kembali karena akan bahaya jika sampai terus-terusan seperti itu" Bohong, Hoseok tidak berniat mengatakan ini. Jungkooknya bukan kelinci percobaan. Ia hanya mengatakan itu untuk menghibur diri. Tidak! Jaehwan membantunya karena ia ingin percobaan mereka ditampilkan pada dunia. Hoseok terpaksa setuju, karena ia juga membutuhkan Jaehwan disisinya.

"Heleh, tumben sekali kau peduli pada hal-hal yang seperti ini" Jaehwan di sebelahnya memasang wajah masam. "Kalau begitu teruslah berusaha, aku lelah dan mau tidur! Kau pikir sudah berapa lama kita di ruangan ini?! Dua hari, bukan?!"

"Dua hari kepalamu!" Jaehwan hampir terkena lemparan papan jalan. "Kita hampir berada disini selama satu minggu dan tidak ada kemajuan, aku mau istirahat beberapa hari. Semoga berhasil!"

"YAH! Jung! Kembali kau!" Kini Jaehwan sendirian di ruangan itu, sedetik kemudian menghela nafasnya kasar. "Jung Hoseok sialan, bisa-bisanya ia meninggalkanku dengan semua kerepotan ini, lihat saja, aku akan membuktikan padanya bahwa aku bisa melakukannya sendirian"

Sementara Hoseok, ia keluar dari ruangan, wajahnya berubah sayu. Ia tidak bisa menahan ini lagi, ia tak bisa membiarkan Jungkook larut dalam kesenangan. Ia harus mengambil adiknya kembali, ke pelukannya. Soal Jaehwan, bisa ia urus belakangan.

Jungkook, tunggu saja.

.

.

"Jadi dia berada disini selama ini?"

"Menurut alamat, iya"

"Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Aku sudah berkata, kau tidak akan ada sangkut-pautnya mengenai masalah ini"

Hoseok diam, sementara Jaehwan mengusak rambut belakangnya absurd. "Kenapa juga kita harus lelah-lelah datang hanya untuk melihatnya? Sudahlah, biarkan saja dia hidup bahagia dengan majikan barunya" Angin berhembus pelan bersamaan dengan kalimat yang Jaehwan lontarkan.

Majikan? Bahkan dia bukan seekor.

Hoseok tersenyum miring. "Permisi? Kau berkata apa?"

"Tidak, aku hanya tidak berminat lagi melanjutkan proyek ini" Jaehwan mendesah. "Terlalu beresiko, kau tau sendiri apa akibatnya jika kita tetap melanjutkan? Kita tak pernah melakukan hal bodoh ini sebelumnya, aku tidak yakin apakah ingatan Jungkook bisa kembali"

Hoseok berpikir; mungkin sebaiknya semua ini harus dihentikan, ia harus membawa Jungkook kembali dan mengembalikan semuanya.

"Sudah seperti ini kau berusaha menghentikannya?" Hoseok masih memperlihatkan senyum tipisnya, tapi di balik senyuman itu, terdapat rasa sakit yang teramat sangat. "Setelah aku berjanji akan membawanya kembali, aku berhenti di tengah jalan dan meninggalkannya?"

"Dengar, kau tidak bisa membawa kembali Jungkook sesuai kemauanmu"

"Kenapa?" Emosi Hoseok meninggi, ia memberi tatapan tajam pada Jaehwan. "Pikirkan lagi ucapanmu, sialan. Kau pikir, dirimu siapa bisa seenaknya berhenti dari semua ini? Membiarkan—"

Jaehwan menatapnya, tajam. "Lalu, apa sekarang?! Kau bahkan baru menyadari ini setelah sekian lama, apa itu yang dinamakan penyesalan di akhir? Lucu!"

Hoseok baru saja akan menampar Jaehwan jika saja ia tak ingat kalau Jaehwan lebih tua darinya, dengan pasrah ia menghela nafas, kedua matanya melirik seseorang yang baru saja keluar dari pintu kayu berwarna cokelat gelap. Tidak, tidak seseorang, melainkan dua orang.

Melihatnya membuat Hoseok semakin merasa bersalah.

Semua ini harus ia hentikan.

"Hoseok?"

"Biarkan mereka bersama" Hoseok bersuara, pelan sekali namun rasanya aneh jika pemuda di samping itu tak mendengarnya. "Biarkan adikku bersama dengan orang itu"

Jaehwan. Ia tertawa. "Leluconmu sungguh tidak lucu. Tadi kau berkata kita harus membawa Jungkook kembali, sekarang kau sendiri yang—"

Namun, wajah Hoseok sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang melempar lelucon konyol. Mendapati tak ada reaksi apapun dari Hoseok, Jaehwan tiba-tiba seperti kehilangan suaranya, ia membeku dengan pikiran kacau.

"Kau tidak sungguh-sungguh bukan, Jung Hoseok?"

"Ya"

"Ya?" Jaehwan mengulang, alisnya terangkat satu. "Ya untuk hal apa?"

Hoseok berbalik, berjalan pelan meninggalkan Jaehwan, meninggalkan rumah besar tersebut. Tidak perlu menjawab pertanyaan Jaehwan, Hoseok tidak punya waktu. Jaehwan sudah dewasa, tanpa perlu di jelaskan pasti ia sudah tau apa isi pikirannya.

Dirinya, hanya tidak bisa memisahkan dua orang yang sepertinya sudah saling membahagiakan satu sama lain, dan itu semua terlihat jelas begitu Hoseok melihat dua orang yang baru saja keluar rumah sambil melempar senyum bahagia.

Untuk kali ini, aku membiarkanmu menghabiskan waktu bersamanya. Tapi, aku tidak janji kalau kalian akan terus bersama-sama, maaf, semua ini tidak boleh berlanjut, semua ini harus di hentikan.

Begitu.

.

.

[End of flashback*2]

.

.


.

.

"Dua puluh empat jam?"

Hoseok mengangguk, meski ia ingin sekali membantah apa yang baru saja terlontar dari mulutnya. "Hanya dua puluh empat jam, tidak kurang dan tidak lebih" Katanya, memandangi vas bunga. "Apa, apa kau keberatan?"

Bunga yang biasanya terlihat indah di dalam vas, kini layu. Hampir mati.

Taehyung tidak berkata apa-apa, ia sibuk berkecamuk dengan pikiran dan isi hatinya sendiri. Ada dorongan dalam dirinya dimana ia harus menerima atau menolak. Ayolah, ia tidak bisa egois disaat seperti ini, bukan? Taehyung tidak memiliki hak apa-apa, Jungkook bukan miliknya.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" Taehyung bersuara, pada akhirnya. "Maksudku, setelah dua puluh empat jam itu"

Hoseok yang kali ini tidak berkata apapun.

Hey, kalian pikir Hoseok tau harus melakukan apa? Setelah ini?

Jawabannya, tidak.

"Aku tidak bisa mengatakannya padamu, maafkan aku" Hoseok tersenyum, menutupi kedoknya.

Taehyung cukup pintar, ia sangat tau Hoseok tidak memiliki rencana apapun ke depannya. Jadi, pemuda itu tertawa, mengejek sepenuh hati. "Maksudmu, kau belum memiliki rencana untuk ke depannya? Jadi, kau membiarkan Jungkook seperti itu saja? Kau benar-benar kakak yang jahat"

Jelas, itu sebuah sindiran.

Hoseok membalas tatapan itu. "Aku akan memikirkannya, setelah dia ada bersamaku. Kau tidak perlu ikut memikirkannya sampai sejauh ini, tapi terima kasih" Ujarnya.

"Aku tidak yakin" Lontaran kalimat itu membuat senyum di wajah Hoseok menghilang, digantikan ekspresi datar serta aura yang gelap.

"Taehyung-ssi, aku ingin minta maaf sebelumnya" Hoseok bersuara, dingin, tanpa eskpresi. Hilanglah wajah hangatnya, hilanglah nada suaranya yang tadi terdengar lembut. "Jungkook itu adikku, dia milikku. Aku berhak melakukan apapun, aku yang membuatnya seperti ini maka aku yang harus mengembalikannya"

Skak. Taehyung mematung.

Hoseok tersenyum tipis. "Kau bukan siapa-siapa, aku mengerti itu" Dengan bangsatnya ia berkata, berdiri kemudian beranjak menuju pintu utama. "Hanya dua puluh empat jam, tolong manfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Aku akan datang jika waktunya telah tiba. Ja, sampai jumpa, Kim Taehyung"

Tidak ada balasan.

Hoseok masih berdiri disana dengan senyumannya. "Kau tidak perlu mengantarkan aku. Tolong pikirkan ini baik-baik, Jungkook akan senang jika ia kembali seperti dulu, ia akan kembali normal. Dan lagi, bukankah itu sangat bagus untukmu? Aku yakin selama ia berada disini, kau merasa terganggu. Sampai jumpa sekali lagi"

Setelah terdengar suara pintu tertutup sedikit keras, Taehyung sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, bahkan ia masih tercengang, memandang pintu utama tanpa berkedip. Apa-apaan barusan itu? Hilanglah semua pemikiran tentang betapa baiknya Jung Hoseok, senyumnya yang seperti malaikat, nada bicaranya menenangkan.

Jung Hoseok itu setan.

Dan Taehyung hanya memiliki waktu dua puluh empat jam, di mulai dari sekarang.

"Jungkook!" Itu Taehyung, berteriak sekeras-kerasnya. Pemuda itu mengalihkan pandangannya, menatap cemas pada jam dinding yang menunjukkan waktu dua belas siang. Oh betapa sialnya dia, apa yang harus di lakukannya sekarang?

Tak lama kemudian, datanglah Jungkook yang masih menggunakan piyama keramatnya. Jungkook datang membawa-bawa bantal guling, ia masih saja belum beranjak dari ranjang walau Taehyung menyuruhnya untuk mandi.

"Apa?"

"Apa kepalamu!" Taehyung langsung menyembur. "Cepat mandi, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Anggap saja aku sedang sombong, kau pilih, mau kemana kita hari ini, aku akan mengajakmu kemanapun"

Jungkook, yang tau-tau di suguhkan tawaran seperti itu langsung saja mengangguk senang. "Apa kita akan melihat menara Eiffel? Seperti yang ada di film-film romantis?" Tanyanya, antusias sekali, sepertinya.

Taehyung berusaha menahan diri, ia tak boleh emosi untuk beberapa jam ke depan.

"Bukan itu maksudku" Dia tersenyum, sangat manis (tapi mungkin juga terlihat menyeramkan). "Tolong, yang dekat-dekat saja, kau pikir aku bisa menggandakan uang?"

Jungkook hanya nyengir dan Taehyung diam-diam menghela nafas.

[End of flashback*1]

.

.


.

.

Mungkin, berjalan-jalan bersama Jungkook tidak selamanya buruk, apalagi ketika pemuda itu telah mengalami perkembangan. Taehyung membenarkan letak scarf Jungkook, ia tampak tampan menggunakannya. Aigu, apa ia harus menebak berapa banyak wanita yang akan jatuh hati pada anak ayam ini nantinya?

"Taehyung, panas" Jungkook mengeluh, tapi ia tidak melepas scarf itu dari lehernya. "Kenapa aku harus menggunakan ini? Orang-orang saja tidak, kau juga tidak" Tambahnya, memperhatikan apa yang orang-orang lain kenakan.

Taehyung menepuk-nepuk dada Jungkook, posisi mereka berdiri, berhadapan. "Kau tau style, tidak? Aku sedang berusaha membuatmu terlihat tampan, jadi kau diam saja"

Hello, mereka seperti memiliki dunia sendiri. Padahal, bus yang mereka naiki masih memiliki beberapa bangku kosong, tapi keduanya justru lebih memilih berdiri dan berpegangan pada besi penyangga. Tapi, apa pedulinya? Semua penumpang tampak duduk manis, tenang-tenang saja.

Jungkook sih, senang-senang saja di perlakukan seperti itu. Dia sangat suka ketika beberapa penumpang wanita memandanginya tanpa berkedip, dia berpikir, apakah dirinya benar-benar tampan? Persis seperti yang Taehyung katakan? Jadi, Jungkook membalas tatapan mereka dengan tersenyum, senyuman terbaik (mungkin).

Dia tidak menyadari, para penumpang wanita tersebut seakan-akan ingin lompat dari jendela bus karena malu. Bagi mereka, senyuman Jungkook yang sangat menawan itu, terlalu indah bagi mereka. Hiperbola? memang.

"Berhenti tersenyum!"

Jungkook terkejut, ia kembali menoleh kepada Taehyung. "Kenapa? Kenapa aku tidak boleh tersenyum?" Tanyanya, dengan ekspresinya yang melongo.

Taehyung memutar bola mata. "Para wanita itu bisa mimisan mendadak jika kau terus tersenyum pada mereka, kau hanya perlu seperti ini—"

Memperhatikan, Jungkook membulatkan matanya ketika Taehyung mulai berdiri tegak, berpegangan pada besi penyangga, memasang wajah dinginnya. Jungkook terdiam untuk beberapa saat, apa itu? Taehyung sedang memeragakan bagaimana caranya menjadi cool? Pft, maaf, maaf sekali, tapi Jungkook tidak sengaja tertawa keras.

"Kenapa kau tertawa?" Taehyung buru-buru kembali pada posisi semula. "Aku tau itu memalukan—hey, tak ada yang membayarmu untuk tertawa!" Protesnya, tidak suka melihat bagaimana Jungkook mentertawakannya seperti itu.

Tapi Jungkook tetap tertawa, dan tak lama kemudian Taehyung ikut tertawa kecil. Mereka berdua ini sangatlah konyol, bukan?

Ah iya, ini akan menjadi hari yang panjang, benarkan?

.

.


.

.

Cuaca hari ini tidak begitu baik, awan-awan gelap menggumpal dan menutupi matahari yang seharusnya bersinar. Sudah dipastikan, sebentar lagi hujan akan turun, entah itu hujan deras atau gerimis-gerimis biasa, yang jelas laporan cuaca mengatakan cuaca hari ini tidaklah bagus. Lagipula, sepertinya hujan kali ini akan disertai oleh angin dan petir, sungguh cuaca yang sangat ekstrim.

Bogum mengalihkan pandangannya dari jendela, ia diam saja melihat Jimin asyik dengan ponselnya, sampai tersenyum-senyum sendiri. Tanpa bertanya, Bogum sudah mengerti kalau Jimin, sedang dalam mood yang seratus persen baik. Ini terasa asing juga, sih. Selama ini Bogum sendiri jarang mendapati Jimin tersenyum, atau dalam keadaan mood yang sangat baik seperti itu.

"Siapa dia?" Akhirnya ia bertanya.

Jimin terkejut, ia buru-buru menoleh dan merubah ekspresinya. "Kau mau apa hyung? Ini sama sekali bukan urusanmu" Balasnya dingin.

Mendengar itu, Bogum langsung tertawa pelan, entah sampai kapan Jimin akan terus bersikap seperti itu kepadanya. Ia mengira-ngira, seperti apakah dirinya di mata Jimin? Siapakah dirinya bagi Jimin? Tapi tidak, ada baiknya ia tak bertanya hal seperti itu. Karena, sudah bisa dipastikan, mood Jimin akan langsung turun dan itu sangat tidak baik.

"Apa dia kekasihmu?"

"Huh?"

Ah, jadi begitu.

"Sudah pasti, kau senang karena kalian membalas pesan satu sama lain" Bogum menggelengkan kepalanya, baru menyadari bahwa adiknya masihlah pria yang memiliki emosi labil (dalam urusan cinta, tentu saja). "Siapa dia? Apa kau tidak berniat memberitahukannya padaku? Tak perlu lagi mengelak, kau tau, kau tidak pandai berbohong"

Jimin mendecih tapi wajahnya merona tipis, ia kembali fokus pada layar ponsel pintar di hadapannya.

Bogum itu misterius, ya? Dia seperti memiliki kepribadian yang lebih dari satu. Maksudnya, lihat saja dirinya itu. Terkadang, Bogum bisa saja baik hati, bisa saja menolong siapapun yang kesulitan, bisa berubah menjadi super duper perhatian. Tapi, sewaktu-waktu ia bisa berubah menjadi kejam, menjadi yang tidak pernah orang lain duga-duga. Sialnya lagi, sisi gelapnya kebanyakan hanya ditujukan kepadanya saja.

Ah, sungguh tidak bisa di tebak.

Atmosfer disana sungguh canggung, tidak ada lagi yang berbicara selain suara dari musik yang di putar. Jimin masih berkutat dengan ponselnya, ia sampai bersandar di pintu mobil, tersenyum-senyum sendiri membaca pesan yang masuk ke ponselnya.

Aigu, sebahagia itukah kau, Jimin?

"Apa dia membuatmu bahagia?" Lagi-lagi, Bogum bertanya.

Jimin mematikan ponselnya, ia menoleh pada Bogum yang kini juga memandangnya. Ayolah, Jimin tidak pernah melihat Bogum yang terlalu kepo seperti sekarang, apa tak apa jika ia mengatakan yang sebenarnya? Bogum itu berbahaya. Oh, atau mungkinkah, Bogum tertarik pada hubungan semacam asmara? Sehingga ia terus bertanya? Jimin menggelengkan kepalanya, itu tidak akan mungkin terjadi.

Sadar dari dunianya sendiri, perlahan Jimin mengangguk, ia tersenyum miring.

"Ya, dia membuatku bahagia"

Bogum terdiam, setelahnya kembali memandang keadaan luar melewati jendelanya. Jimin mengernyit, begitu saja responnya? Sialan, padahal Jimin berniat untuk tau apakah Bogum benar-benar penasaran soal hal semacam itu. Mungkin, hati Bogum terbuat dari batu beton, ia rasa? Entahlah, Jimin kembali menyalakan ponselnya.

Oh iya, kalau ditebak-tebak, kapan terakhir kali Bogum merasa bahagia? Pria itu melamun, memandang pepohonan rindang yang berada di sekeliling mereka, seakan-akan menemani perjalanan. Pemandangannya mulai membosankan, seperti tidak ada ujung. Apakah masih lama? Ia rasa, ia takkan kuat berlama-lama duduk di mobil.

Mereka berdua diharuskan menghadiri acara penting, itulah yang ayah mereka katakan. Jimin sebenarnya tidak ingin, malah ia menolaknya habis-habisan. Akan tetapi, berkat paksaan dari Bogum serta ancaman dari sang ayah, akhirnya ia ikut, dengan memberikan ancaman tidak akan pergi kemanapun lagi setelahnya, langsung pulang maksudnya.

Jimin itu tidaklah bodoh, kawan.

"Pak, bisa tolong kurangi kecepatannya?"

Itu suara Jimin, tapi tangannya masih saja memegang erat ponsel pintarnya tersebut. Memang, sejak tadi mobil mereka semakin tinggi saja kecepatannya. Bukannya apa-apa, tapi sangat bahaya jika terlalu cepat sementara jalanannya seperti ini, bisa saja ada orang menyebrang tanpa tau tempat, bukan? Bisa jadi tertabrak dan kemudian munculah masalah. Ayah mereka mana mau mengurusi hal seperti ini, terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

Bogum mengalihkan pandangannya dari pemandangan diluar, ia memperhatikan supir pribadi mereka dari belakang, mengernyit keheranan saat tak melihat respon apapun dari pria paruh baya tersebut. Supir mereka sudah bekerja sejak lama, ngomong-ngomong.

"Pak?" Bogum memanggil, tapi si supir justru terlihat gelagapan, tidak mengeluarkan jawaban apapun.

Saat itulah Bogum merasa ada yang tidak beres.

Bogum langsung mencondongkan tubuhnya diantara kursi jok depan, melihat bagaimana kedua kaki sang supir berusaha menginjak rem, susah payah. Sedetik kemudian, wajah itu berubah, panik bukan main, dilihatnya jalanan sekitar yang sepertinya tidak banyak kendaraan berlalu-lalang disini. Perasaan Bogum langsung tidak enak.

"Remnya tidak berfungsi!" Bogum berteriak dan itu membuat Jimin terkejut.

Tanpa diduga, bayangan-bayangan masa lalu langsung menyerbu pikiran Bogum, ia mendengar suara tangisan anak kecil, suara tangisan dirinya sendiri. Darah segar yang mengalir dari bagian-bagian tertentu di tubuh kedua orang tuanya terlintas, sangat mengerikan. Teringat juga gumpalan asap mengudara dan percikan-percikan api kecil yang mengerikan.

Bogum bersandar, ia mencoba menghapuskan ingatan itu, menggeleng-gelengkan kepalanya keras, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membayangkan masa lalu. Kepala Bogum sakit, ia mencengkram rambutnya kuat-kuat, berbeda Jimin yang kini memaksa si supir agar terus mencoba menginjak pedal rem. Kacau, seperti ada kekacauan yang mengepung Bogum.

Dalam bayangannya, terlihatlah sosok anak kecil yang tersenyum, memeluk boneka singa sambil mengulurkan satu tangannya pada Bogum.

"Hyung, mau bermain dengan Tae?"

Sekeliling mereka hanyalah kegelapan, Bogum terdiam untuk sejenak. Anak kecil dihadapannya itu, adalah Taehyung kecil. Ia tercengang, ada apa dengan senyuman Taehyung itu? Apa Taehyung tidak marah kepadanya? Apa Taehyung tidak membencinya walau ia sudah meninggalkannya? Menjadi penyebab perginya ibu dan ayah mereka?

"Hyungie?"

Perlahan, dan juga tanpa ia sadari, Bogum membalas uluran tangan tersebut, menggenggamnya erat. Tangan itu begitu kurus, jari-jarinya mungil dan Bogum menyukainya. Dilihatnya Taehyung tersenyum lebar, menunjukkan cengiran persegi yang begitu ia rindukan.

"Hyung!"

Bersamaan dengan itu, mobil mereka hilang kendali dan Bogum tidak ingat apa-apa setelahnya.

.

.


.

.

"Taehyung! Apa jika kita membeli banyak balon, mereka bisa membawa kita terbang?"

Taehyung mengangkat sekilas kedua bahunya. "Tidak tau, kalau menurut film animasi di televisi sih, bisa saja. Bahkan, rumah saja bisa terangkat jika menggunakan balon, tapi harus dalam jumlah yang banyak" Katanya, sibuk membersihkan celananya yang kotor.

Jungkook mengangguk, ia memandangi balon berwarna biru muda yang baru saja di belikan oleh Taehyung. Kemana lagi tujuan mereka jika bukan ke taman hiburan? Mereka tadi sudah menaiki beberapa wahana, termasuk rollercoaster (dan Taehyung hampir muntah tiga kali). Waktu juga menunjukkan pukul empat sore, sebentar lagi akan berganti malam.

"Oh—" Jungkook terpekik kecil, balonnya meletus tiba-tiba dan mengagetkan keduanya. Rintik-rintik air hujan mulai turun, membasahi bumi tanpa ijin terlebih dahulu. "Hujan! Balonnya meletus!" Seru Jungkook.

Taehyung mendecih kesal, ia buru-buru mengikat tali sepatunya kemudian menarik lengan Jungkook agar segera pindah, mencari-cari tempat untuk berteduh. Jungkook sih menurut-menurut saja, ia malah menjulurkan lidahnya, merasakan bagaimana air hujan itu.

Dasar aneh.

Pada akhirnya, Taehyung berlari keluar dari taman hiburan tersebut, terus mencari-cari tempat yang sekiranya muat untuk mereka berdua. Hujan semakin deras, pandangan Taehyung mulai mengabur, sampai ia harus mengusap kedua matanya berulang kali menggunakan kedua tangannya. Pakaiannya setengah basah, tapi itu bukan permasalahannya untuk sekarang ini.

Ketika ia menoleh ke belakang, Jungkook tidak ada.

"God" Taehyung langsung berhenti, dia mengumpat di dalam hati. Kemana Jungkook? Ia juga baru sadar kalau tautan tangan mereka sudah terlepas entah sejak kapan. Taehyung tak bisa melihat apapun dengan jelas, berharap Jungkook akan datang dari segala arah dengan cengiran bodohnya itu.

Tuhan, jangan bercanda.

"Jungkook?!" Taehyung berteriak lagi, di dalam keheningan serta suara hujan. Dia berlari, kemana saja asal ia bisa menemukan keberadaan Jungkook. Ada rasa menyesal di dalam hati, melepas genggamannya dari Jungkook. Ini semua kesalahannya, murni.

Dua puluh empat jam.

Jantung Taehyung seakan-akan berhenti, ia tak lagi berlari dan nafasnya tidak beraturan. Hujan terus mengguyurnya, memaksanya untuk menangis (atau, membantunya?). Barulah ia ingat tentang waktu singkatnya untuk bersama Jungkook.

Sekarang? Hanya tersisa beberapa jam saja, dan ia tak bersama Jungkook.

"Ah, si bodoh itu" Taehyung berjongkok, menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya sendiri. Air hujan terasa seperti menusuknya, ada rasa perih disaat rintik-rintik itu mengenai permukaan belakang tubuhnya.

Sudahlah, ia menyerah saja.

Taehyung tidak mengerti lagi harus melakukan apa, ia ingin menangis tapi tidak bisa. Air matanya mendesak ingin keluar tapi ia tak mengizinkan. Lagipula, kenapa ia harus menangis? Apa itu berarti Jungkook memiliki posisi penting di dalam kehidupannya? Ini sedikit hiperbola, memang. Tapi, rasanya Taehyung tidak rela sedikitpun jika Jungkook pergi dari sisinya.

Bocah polos, dimana dirimu?

Ketika Taehyung memejamkan mata, ia tak lagi merasa bagian belakang tubuhnya perih karena air hujan. Ah, apa sudah berhenti? Taehyung tersenyum pilu, tapi senyuman itu menghilang, jika hujan berhenti, kenapa suaranya terdengar jelas?

Perlahan, ia membuka kedua matanya, melihat ada sepasang kaki yang berdiri di hadapannya. Taehyung berkedip beberapa kali, perlahan menengadahkan kepalanya dan melihat siapa yang berdiri di depannya itu.

Jungkook, tersenyum sambil membawa payung, memayunginya.

"Jungkook?"

Sungguh, bukankah ini terasa déjà vu?

"Payung!" Jungkook menunjukkan payung yang berada di pegangannya, melindungi mereka berdua dari derasnya hujan.

Taehyung masih diam saja. Bersumpahlah ia, ini terasa sangat tidak asing. Mereka seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya, tapi kapan?

"Aku pergi untuk mencari payung" Jungkook berkata, masih tetap dalam posisi tersenyumnya. "Aku pergi mencari payung agar kau tidak kehujanan. Aku mendengar bahwa seseorang bisa sakit jika terus-menerus terkena air hujan, aku tidak mau kau sakit"

Taehyung rasanya ingin menangis. Dasar bodoh, kenapa ia melakukan hal seperti ini? Tidak taukah, hal seperti ini justru membuat dirinya semakin tidak ingin kehilangan Jungkook? Si bodoh ini selalu saja melakukan hal-hal tak terduga.

"Sebaiknya—"

Jungkook terkejut bukan main di saat Taehyung memeluknya, menenggelamkan wajahnya di scarf milik Jungkook. Bukan terkejut karena scarf yang di kenakannya ikut basah, melainkan terkejut karena Taehyung terisak. Apa dia menangis?

"Taehyung?"

"Bodoh, bodoh, bodoh" Taehyung mengumpat, memejamkan matanya erat-erat. "Kenapa kau melakukan ini? Apa kau tidak tau, aku sedang berusaha rela melepaskanmu?!" Katanya, memukul-mukul pelan bahu pemuda yang ada di depannya, tanpa tenaga.

"Melepaskanku?"

Okay, si Jungkook ini sama sekali tidak mengerti. Kenapa ia mau di lepaskan? Memangnya dirinya itu mau pergi kemana? Tapi, tidak memberontak, Jungkook justru membawa tangannya yang kosong untuk memeluk Taehyung, membalas pelukan tersebut walau Taehyung sendiri masih memukul-mukul bahunya.

Pada akhirnya, Jungkook akan pergi, bukan?

Taehyung diam, ia mengusap kasar air matanya dan mendorong Jungkook hingga pemuda itu mundur beberapa langkah. Apapun yang terjadi, Taehyung tidak akan terlihat lemah, Jungkook tidak memiliki arti penting di dalam hidupnya, bukankah ia sudah menetapkan pikirannya yang satu itu? Jungkook bukan miliknya!

Ia tidak punya hak.

"Taehyung?"

Tidak ada jawaban, Taehyung masih berseteru dengan isak tangisnya sendiri. Beruntunglah karena suara hujan mengiringinya, setidaknya rasa malunya karena menangis tidak terlalu besar.

"Kenapa menangis?" Jungkook bertanya. "Aku tidak akan pergi kemanapun, aku akan tetap berada di sisimu sampai kapanpun. Jangan menangis, melihatmu menangis, akupun ingin menangis" Kalimat itu terlontar dengan lugunya.

Taehyung memandang wajah lesu Jungkook.

Pendusta.

Jungkook tidak akan bersamanya sampai kapanpun, ia tak akan berada di sisi Taehyung sampai kapapun. Taehyung tertawa, ia berjalan pelan mendekati Jungkook, membiarkan air mata memenuhi dan menghalangi pandangannya.

Ketika mereka berhadapan, Taehyung menarik scarf yang Jungkook kenakan. Jungkook terkejut, tentu saja, ia merasa tertarik dan tak sengaja menjatuhkan payungnya.

Tanpa di duga, Taehyung menciumnya.

Hujan semakin deras, mengguyur keduanya hingga tak lagi tersisa bagian yang masih kering. Dua manusia itu masih bertaut, mencoba menikmati kehangatan yang mereka salurkan meski keduanya memiliki dua rasa yang berbeda.

Taehyung menangis dalam diam.

Sial, aku jatuh cinta.

.

.


.

.

Bogum bertanya-tanya, mengapa suasana seperti ini tidak lagi asing baginya?

Kedua matanya memandang lurus, kosong, tiada arti, tiada makna, dan tak ada ekspresi apapun. Suara nafasnya berkelahi dengan heningnya ruangan, berseteru dengan bunyi asing dari sebuah alat yang tergeletak di dekatnya. Bogum tau itu apa, namun ia berpura-pura tak mengingat apapun, di ruangan ini.

Tak lama, pintu terbuka lebar.

"Permisi tuan"

Bogum mengangkat kepalanya. "Ya?"

Di dengarnya langkah kaki yang mendekat. "Anda masih harus mendapatkan perawatan di ruangan anda, saya harus membawa anda untuk kembali" Katanya.

"Tidak, aku tidak akan pergi" Bogum menolak, tersenyum seperti malaikat, lagi. "Aku tidak merasa sakit apapun, dimanapun. Jadi, dengan hormat, aku menyuruhmu untuk segera pergi dari ruangan ini. Aku hanya ingin berdua" Katanya, tersenyum tapi menusuk.

Mau tidak mau, perawat itu pergi dari sana.

Karena suasananya hening, Bogum sengaja menimbulkan suara dari helaan nafasnya. Ia menoleh pada sosok Jimin yang terbaring lemah di atas ranjang, memakai banyak alat-alat yang sekali lagi, Bogum berpura-pura tidak tau apapun.

Ini, sudah pernah terjadi, jadi Bogum mengalaminya dua kali.

Kecelakaan itu membuat Bogum kehilangan arah. Dia memang tidak terluka parah, hanya luka-luka kecil yang memenuhi tubuhnya. Meski terkadang ada rasa sakit dan nyeri selalu muncul, menyerangnya secara mendadak. Akan tetapi, Bogum tidak ingin sekalipun beranjak untuk meninggalkan ruangan ini, meninggalkan Jimin sendirian.

Jimin adalah satu-satunya yang terluka parah, membuatnya tidak bisa sadarkan diri hingga sekarang. Bogum tidak mengerti, ia tertawa sendirian disana, mengisi keheningan dengan rasa penyesalannya. Ia harus berterima kasih atau apa? Perlahan, di genggamnya tangan pucat Jimin, ia harus berterima kasih pada Tuhan karena tidak mengambil Jimin dari sisinya.

Tiba-tiba, ia teringat akan Taehyung, adik kandungnya.

Bogum ingat betul, saat-saat dimana ia menemani Taehyung di rumah sakit, setia menunggunya berhari-hari sampai ia sadar. Saat itu Bogum ketakutan, ia tidak tau alasan apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Taehyung jika itu hyung, kemana ayah dan ibu?

Saat ia tau kalau Taehyung kehilangan ingatannya, Bogum bersyukur sekali. Memang, terkutuklah dirinya karena bisa bernafas lega pada saat itu. Hanya saja, Jimin membuat helaan nafas itu berubah menjadi rasa takut yang berlebihan. Bogum mengejar Jimin, ia berusaha membuat Jimin tunduk padanya agar rahasianya tidak terbongkar.

Jadinya? Ya, seperti ini.

"Masa lalu itu, buruk, ya?" Bogum bertanya kepada Jimin, tentu saja tidak akan ada balasan apapun. Pria itu menoleh ke meja, menemukan ponsel Jimin mendapat panggilan masuk dari seseorang bertuliskan Tae. Bahkan disaat seperti ini, ponsel Jimin justru selamat daripada sang pemilik sendiri, meski banyak retakan dimana-mana.

Tae, ya?

Bogum perlahan meraih ponsel itu, melupakan soal jari-jarinya yang terluka. Entahlah, jantungnya mulai berdetak tidak karuan saat membaca siapa nama si pemanggil. Tidak ingin berpikiran aneh, Bogum berusaha meyakinkan kalau nama Tae bukanlah satu orang saja di dunia ini.

Ketika ia mengangkatnya, menempelkan ponsel itu di daun telinganya, Bogum hampir kehilangan oksigen mendadak.

"….Taehyung?"

.

.


.

.

"Hei, buka dulu sepatumu baru masuk!"

"Tapi Taehyung juga begitu, kok!"

Taehyung tidak membalas, ia hanya menghela nafas kesal lalu membuka sepatunya buru-buru. Karena hujan, mereka memutuskan untuk pulang saja pada akhirnya. Selain itu, Taehyung tidak ingin mengingat-ingat kejadian tadi, ia akan menandai bahwa hujan adalah cuaca yang paling dibencinya. Mulai sekarang.

Kalau bisa.

"Letakkan sepatunya di dekat kamar mandi" Taehyung memerintah, seperti biasa. "Ketika matahari muncul, aku akan menjemurnya. Jangan coba-coba memasukkannya ke dalam mesin cuci" Ancamnya.

Jungkook mengangguk, menarik tali sepatunya hingga terurai, membuka kedua sepatu itu lalu berjalan ke arah kamar mandi. Setelah meletakkan sepatunya, Jungkook kembali ke ruang tengah, berniat menghampiri Taehyung. Karena apa? Karena itu memang pekerjaannya.

"Buka semua pakaianmu, letakkan di mesin cuci" Taehyung menatapnya. "Seharusnya tadi sekalian saja, daripada jadi lelah seperti itu"

"Tidak apa" Jungkook membuka seluruh pakaian yang ada di tubuhnya. "Bisa aku dapat susu hangat dengan kue kering, Taehyung?"

"Ha?" Taehyung mengangkat satu alisnya. "Kau pikir aku nenekmu?"

"Tidak"

Taehyung diam saja, tidak berniat sama sekali untuk meladeni keanehan Jungkook. Pemuda itu membuka baju atasannya, membiarkan tubuhnya terekspos begitu saja. Dengan langkah lambat, Taehyung berjalan ke kamar mandi, berniat meletakkan semua pakaian basahnya ke mesin cuci. Sekali lagi, ini semua murni kesalahan hujan.

Terserah dia saja, bro.

Ketika selesai meletakkan pakaiannya, Taehyung terkejut bukan main akibat Jungkook yang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Pelukan itu terasa sangat—ah, bagaimana mengatakannya ya? Taehyung bisa merasakan permukaan kulit tubuh Jungkook yang sangat menyentuh tubuhnya.

Astaga, ini sangat tidak baik.

"Apa-apaan ini, Jungkook?" Taehyung berkata, dengan ekspresi datarnya.

Jungkook tidak berniat sama sekali untuk melepas pelukan itu, ia justru meletakkan dagunya di atas bahu Taehyung, mencari posisi nyaman. "Tubuh Taehyung dingin, jadi aku ingin menghangatkannya" Jawabnya, jujur seratus persen.

Taehyung mengalihkan pandangannya. "Bocah ini belajar dari siapa?" Pikirnya, facepalm. "Lepaskan, Jungkook. Kau membuatku kepanasan jika terus dalam posisi ini! Lagipula, jangan suka memeluk orang seenaknya begitu!" Omelnya, berusaha melepaskan tubuh kurusnya dari dekapan Jungkook.

Ayolah, atmoster disini semakin aneh saja.

Taehyung akhirnya menyerah, membiarkan Jungkook memeluknya semakin erat. Wajahnya sudah merona hingga sampai telinga, jantungnya berdegup tidak karuan dan ia mulai mengingat kejadian di tengah-tengah hujan itu. Ugh, jadi malu sendiri jika mengingatnya. Taehyung menetapkan, pasti ia melakukan hal bodoh itu bukan karena cinta atau apa, pasti karena ia mabuk.

Aku tidak pernah tau, ada mabuk hujan.

Mereka terus seperti itu, hingga Taehyung benar-benar jengah dibuatnya.

"Kau mau sampai kapan begini?" Tanya Taehyung, membawa kedua tangannya untuk mencengkram lengan Jungkook. "Justru, aku akan masuk angin jika terus-terusan dibiarkan terkena udara dingin"

Jungkook menurut pada akhirnya, melepas pelukannya namun mencengkram bahu Taehyung, membalikkan tubuh mamanya tersebut. Tidak mendapat penolakan apapun dari Taehyung, Jungkook tersenyum, menatap Taehyung dengan tatapan yang ia sendiripun tidak bisa menjelaskannya.

"Kenapa? Kenapa kau menatapku sambil tersenyum begitu?" Taehyung melempar tatapan tajam. Jungkook itu memang mencurigakan, ia harus hati-hati terkadang.

"Habis, Taehyung manis sekali" Begitulah jawaban Jungkook, membuat Taehyung memutar bola matanya.

"Aku bukan perempuan, dan seorang laki-laki tidak akan terima jika di panggil manis seperti itu"

Taehyung mengalihkan pandangannya lagi, ekspresinya datar. Sebenarnya, bocah ini belajar dari siapa? Mengapa ia bisa tau hal-hal yang seharusnya di lakukan oleh laki-laki pada perempuan? Begitulah pikirnya.

Tiba-tiba, ia teringat wajah Yoongi, tersenyum manis.

Ah, ia tidak heran sekarang.

"Kau ini aneh, Jungkook" Taehyung menepis kedua tangan Jungkook yang masih bertengger di bahunya. "Cepat ambil pakaian, kita akan masuk angin jika begini terus. Jangan berlaku aneh, aku jadi takut" Katanya. Tidak takut beneran, kok, hanya asbun saja.

Jungkook kali ini tidak menurut, ia justru menahan tangan Taehyung dan kembali menarik pemuda itu agar berdiri di hadapannya. Meski Jungkook terkesan tidak tau apapun, ia sangat mengakui kalau Taehyung itu manis sekali, apalagi dengan wajah merona seperti itu. Haruskah ia berterima kasih pada Yoongi hyung?

"Apa lagi, Jungkook?!"

"Boleh aku menciummu?"

Kedua pupil mata Taehyung membesar tiba-tiba, pipinya terserang rasa panas aneh yang menjalar kemana-mana, jantungnya mulai berdetak tidak karuan. "P-pertanyaan macam apa itu? Apa sih yang merasukimu?" Tanyanya, mengalihkan pandangan agar tidak bertemu mata Jungkook.

"Dari film yang diberikan Yoongi hyung, mencium seseorang yang kita cintai itu tidak apa-apa, kok"

Yoongi hyunggg, aku akan membunuhmu! ( ¯^¯)9

Tak mendapat respon, Jungkook meraih dagu Taehyung dan membawanya untuk juga menatapnya. Tidak ada yang tau bagaimana diri Jungkook, kapan ia bisa melakukan hal-hal diluar dugaan, kapan ia bisa bersikap aneh atau normal, semuanya terjadi begitu mendadak.

Wajah Taehyung makin memanas saja, tapi ia membiarkan Jungkook menarik dagunya. Jungkook yang seperti ini, agak menyeramkan, tapi tidak seluruhnya menyeramkan. Ya ampun, dia bicara apa, sih?

Dengan wajah yang masih merona serta jantung berdetak tidak karuan, Taehyung membiarkan Jungkook menyatukan bibir mereka. Bersyukur, walau begini, Jungkook masih tidak tau bagaimana cara mencium yang, ehem, yang benar. Eits, Taehyung tidak mengharapkan sesuatu yang lebih, ia masih punya akal sehat, camkan itu.

Lalu teringatlah dia, bahwa waktu yang ia miliki bersama Jungkook tinggal beberapa jam lagi.

Mengingat hal itu, membuat perasaan dan mood Taehyung kacau seketika. Dia mulai berpikir, apa yang harus ia lakukan ketika Jungkook tidak ada? Apakah ia akan menjadi seorang Taehyung yang kesepian seperti dulu? Ah sial, disaat Taehyung sudah lupa bagaimana rasanya kesepian, Jungkook malah tidak ditakdirkan bersamanya.

Kedua pupil Jungkook membesar, melepaskan tautan bibir mereka saat dilihatnya Taehyung menangis dalam diam. Kedua tangannya, ia bawa untuk menangkup pipi Taehyung, menghapus air mata itu dengan tatapan super khawatir.

"T-taehyung?" Jungkook berkata. "A-apa kau menangis karena aku?"

Ya, itu karena kau.

Taehyung tidak membalas, ia hanya memejamkan mata, membiarkan air mata membasahi wajahnya. Taehyung tidak ingin seperti dulu, ia tidak ingin kesepian seperti dulu, tidak ingin terjebak dalam kondisi yang sama, seperti masa lalunya. Wajah menangis Taehyung persis seperti anak kecil, ia menggigit bibir bawahnya hingga memerah.

Taehyung tidak ingin kehilangan Jungkook.

Karena itu, Taehyung memeluk Jungkook erat-erat, melupakan fakta bahwa tubuh mereka mulai kedinginan. Dasar bodoh, Tuhan itu selalu saja mempermainkan takdirnya. Taehyung tertawa miris di dalam hati, begini juga pada akhirnya.

Jungkook membalas pelukan itu. "Kau tau, Taehyung? Uhm, aku m-mencintaimu" Katanya, sedikit malu dengan wajah yang juga sama merahnya. Ini lucu, Jungkook bisa mencium Taehyung namun malu untuk mengatakan apa yang ia rasakan.

Taehyung terkejut pada awalnya, ia tak pernah menduga Jungkook akan berkata seperti itu. Ada perasaan bahagia yang menggebu-gebu, membuat Taehyung ingin tersenyum dan semakin ingin tidak melepaskan pelukannya.

Tapi kemudian, Taehyung tertawa, kali ini bersuara dan terdengar menyakitkan.

"Jangan mengucapkan kata-kata keramat itu secara blak-blakan, Jungkook" Taehyung melepaskan pelukannya, membawa satu tangannya untuk menepuk-nepuk puncak kepala Jungkook. "Tapi syukurlah, kau sudah semakin mengerti. Bukankah ini berarti, tidak ada lagi anak ayam? Haruskah kita merayakan ini?"

Percuma, meski perasaan yang Jungkook rasakan itu benar-benar nyata.

Mereka tidak akan bersama.

Jungkook bergumam, sepertinya ia sedang berpikir. "Aku ingin cheesecake buatanmu" Pintanya, menggigit jarinya sendiri karena membayangkan betapa lezatnya cheesecake buatan Taehyung. Mungkin tidak, semua masakan Taehyung terasa lezat baginya.

Taehyung mengangguk, berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaian kering. Jungkook mengekorinya dari belakang, tapi ia tidak protes. Karena sudah menduga-duga sejak awal, Taehyung meletakkan beberapa baju Jungkook di lemari pakaiannya, hanya untuk jaga-jaga.

Saat ia telah mengenakan pakaian kering serta mengganti celana (Taehyung mengunci Jungkook di kamar mandi terlebih dahulu), ia mendapati ponselnya berdering. Taehyung segera meraih ponselnya, berjalan ke arah kamar mandi lalu membuka pintu tersebut.

"Oh, Yoongi hyung?" Taehyung menempelkan layar ponselnya di telinga, melirik Jungkook yang sepertinya kedinginan akibat terlalu lama di dalam kamar mandi. "Mengapa? Tidak biasanya menelpon di hari hujan begini"

Sambil memberikan pakaian kering pada Jungkook, Taehyung berjalan keluar dari kamar.

/"Tumben kepalamu, aku menghubungi dengan maksud tertentu"/

"Hngg" Taehyung bergumam, memutar kedua bola matanya. "Jadi, apa tujuanmu menelponku, hyung? Kalau kau memintaku untuk keluar dari rumah, maaf saja, aku tidak bisa" Tentu saja ia tak akan bisa, Taehyung harus bersama Jungkook.

Karena waktu yang tersisa tidak banyak.

/"Iya, kau terlalu banyak menghabiskan waktu bersama orang aneh itu"/ Terdengar Yoongi menghela nafas. /"Aku hanya ingin kau menghubungi Jimin. Jangan tanyakan apapun dulu!"/

Langkah Taehyung terhenti, jantungnya berdetak keras tiba-tiba. "Jimin? Kenapa?"

/"Bertanya dan penjelasannya nanti saja. Aku harap kau mau membantuku, Kim. Sekarang, hubungi Jimin dan tanyakan dimana keberadaannya. Aku sudah menghubunginya puluhan kali tapi ia tak juga mengangkatnya"/

"Taehyung?" Jungkook muncul di belakangnya. "Ada apa?"

Taehyung mengibas-ngibaskan tangannya, bermaksud mengusir Jungkook, ia juga mencoba bersikap biasa dengan kembali berjalan. Dia tidak mau memikirkan apapun sekarang, mencoba menepis jauh-jauh pikiran tentang mungkin saja Jimin ada hubungannya dengan Bogum.

"Kau, dekat dengan Jimin?"

/"Itu bukan permasalahannya. Bisakah kau membantuku? Barangkali, kau beruntung dan ia mengangkat panggilanmu"/

Sesampainya mereka berdua di dapur, Taehyung meraih apron berwarna biru laut dan memakainya, membiarkan Jungkook mengikat bagian belakangnya. "Terima kasih, Jungkook" Katanya, tersenyum disaat Jungkook menunjukkan cengiran lebarnya.

/"Sudah aku duga, kalian menghabiskan waktu bersama. Aku harap tidak ada perasaan konyol di antara kalian"/

Taehyung tertawa, mengeluarkan telur dan bahan-bahan lainnya dari lemari pendingin. "Jadi, kau mau aku menghubungi Jimin? Baiklah hyung"

/"Kau mengalihkan pembicaraan"/

"Tidak, hyung" Taehyung tersenyum. "Aku hanya ingin melakukan apa yang kau pinta"

/"Ya, terserah. Cepat hubungi Jimin dan beritahu aku jika ia menjawab, tanyakan dimana dia, apakah ia sibuk, katakan Yoongi mencarinya"/

"Oww, manis sekali" Ledek Taehyung, tapi Yoongi tidak merespon apa-apa. Mungkin jika Yoongi disini sekarang, ia akan mendapat belaian kasin sayang berupa jitakan. "Aku bercanda, hyung. Nanti aku akan hubungi Jimin"

/"Ya"/

Dan perkataan singkat itu menjadi akhir pembicaraan mereka.

Taehyung meletakkan ponselnya di atas lemari pendingin, memperhatikan bahan-bahan yang sudah ia persiapkan. Bagusnya, Jungkook ikut membantu, meski Taehyung tidak mengerti mengapa pemuda itu ikut meletakkan keripik udang di antara bahan-bahannya.

"Kau mau membantu?" Tawar Taehyung, yang jelas saja langsung di respon anggukan antusias dari Jungkook. "Nah, tapi berjanjilah tidak akan mengacau"

"Ayey, kapten!"

Kapten apanya, ahjumma-ahjumma sih, iya.

Akhirnya, mereka berdua mulai mencampurkan bahan-bahannya. Dengan kemampuannya, Taehyung mengerjakannya dengan sangat baik, berbeda dengan Jungkook yang mengaduk telur dan tepung saja, masih ragu-ragu.

Dalam hati, Taehyung berharap, cara inilah yang akan membuat Jungkook senang, juga dirinya. Mengingat cuaca hari ini buruk, Taehyung tidak bisa melakukan apapun. Ingin menyalahkan hujan, tapi tidak bisa. Kalau boleh ia menebak, sudah pasti ini akan jadi sad ending.

Menyedihkan, ya?

"Aku mau menghubungi seseorang dulu, jangan kau campurkan apapun ke dalam sana. Mengerti?" Taehyung mencuci tangannya, mengambil ponselnya kemudian berjalan menuju ruang tengah. Jungkook menurut saja, ia setia mengaduk adonan meski tatapannya tertuju pada Taehyung.

Ruang tengah itu terasa hening, Taehyung membuka pintu lebar yang terbuat dari kaca, menghubungkannya dengan balkon. Setelah menyimpan nomor yang Yoongi berikan melalui pesan, Taehyung segera menghubungi nomor tersebut, menatap hamparan langit luas yang seluruhnya berwarna keabu-abuan gelap.

Tak lama, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Taehyung sedikit menoleh dan menghembuskan nafasnya, itu hanyalah Jungkook, kawan. "Kenapa kau kesini? Apa sudah selesai mengaduknya?"

Jungkook mengangguk, berdiri di belakang Taehyung kemudian memeluk tubuh kurus itu, lagi. Sepertinya, memeluk Taehyung semakin menjadi candu bagi Jungkook. Jungkook juga sangat menyukai aroma Taehyung, apa ini dari shampoo yang ia gunakan?

"Menghubungi siapa?" Tanya Jungkook.

"Kepo" Taehyung tertawa mengejek, melihat ekspresi cemberut Jungkook akan jawabannya.

Sepertinya cuaca semakin memburuk saja, buktinya hujan semakin turun dengan deras, angin juga ikut serta menggoyangkan pohon-pohon tinggi. Percikan air hujan mulai membasahi Taehyung dan Jungkook, mereka berdua merasakan angin yang sangat dingin menerobos masuk.

Lengan Jungkook semakin erat memeluk Taehyung. "Dingin"

"Kalau begitu kembali ke dapur" Taehyung berkata, sedikit terkejut saat seseorang mengangkat panggilannya di sebrang sana, ia segera mengalihkan pandangannya lagi. "Uhm, hallo? Apakah aku berbicara dengan Jimin sekarang ini?" Tanyanya, berharap yang mengangkat benar-benar Jimin, sehingga ia bisa mempertanyakan suatu hal dengan jelas.

Jungkook tidak mengikuti perkataan Taehyung, ia tetap disana dan menatap rintikan air hujan. Ini sungguh aneh, Jungkook tidak bisa menjelaskan mengapa ia ingin selalu berdekatan dengan Taehyung, ingin mendapatkan kehangatan dengan cara seperti ini.

Apa ini cinta? Jungkook tak terlalu mengerti tentang apa itu cinta dan antek-anteknya.

Tapi, ia hanya merasa kalau, ia benar-benar jatuh cinta.

"…Hyung?"

Jungkook mengernyit, mendapati tubuh Taehyung menegang serta mematung. Ia menyimpulkan bahwa Taehyung mendengar sesuatu yang membuatnya kehilangan kata-kata. Jungkook ingin bertanya, tetapi yang ia dapat adalah, tangan Taehyung yang mendorongnya begitu kuat hingga ia terjatuh ke belakang.

Taehyung mendorongnya dengan kasar.

"Taehyung?" Jungkook meringis, bokongnya sakit. "Ada apa?"

Bukan jawaban atau omelan yang diterimanya, Jungkook mendapati sosok Taehyung yang tidak lagi seperti tadi. Pemuda itu menunduk dalam-dalam, membuat poni depannya menutupi matanya, kedua tangannya terkepal erat, salah satu tangannya menggenggam ponsel hingga berkeringat. Apa? Apa yang terjadi?

"Taehyung, kau—"

"Kunci pintu, jangan kemana-mana." Hanya itu yang keluar dari mulut Taehyung, bersamaan dengan berlarinya sosok tersebut menuju pintu utama. Jungkook membulatkan matanya, buru-buru terbangun dari posisinya dan mengejar Taehyung sebelum pemuda itu menghilang.

"Mau kemana?" Jungkook bertanya, memperhatikan Taehyung yang memakai sepatu terburu-buru. "Diluar hujan! Taehyung akan—"

"JANGAN IKUTI AKU!"

Jungkook terkejut bukan main, kedua pupilnya semakin melebar disaat Taehyung mengatakannya sambil menangis, air mata itu turun membasahi wajahnya, nafasnya terengah-engah. Apa? Ada apa? Mengapa Taehyung menangis?

Taehyung menggigit bibir bawahnya. "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut" Katanya pelan, meraih gagang pintu dan membukanya. "Aku pergi, jangan ikuti aku. Kalau ada apa-apa, kau bisa mengatasinya sendiri, bukan?"

"Taehyung?" Hanya itu respon Jungkook.

"Kau sudah dewasa, jangan selalu mengharapkan aku" Taehyung tersenyum. Karena aku juga tidak ingin mengharapkanmu. "Nah, aku pergi"

Setelah mengatakannya, Taehyung berlari, membiarkan pintu itu tertutup, meninggalkan Jungkook sendirian di dalam. Sudah ia katakan, ini akan berakhir menjadi sad ending. Lihat saja, bukankah itu kata-kata terakhir yang Taehyung ucapkan? Perpisahan mereka akan jadi seperti barusan, menyedihkan.

Taehyung menghapus air matanya, membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya untuk yang kedua kali. Haruskah ia membenci hujan? Atau justru berterima kasih?

Dia berharap, perpisahan terkonyol ini takkan membawa trauma buruk baginya.

.

.

.

Rumah sakit, benar.

Taehyung telah sampai, ia mengedarkan pandangannya, membiarkan air hujan menetes dan membasahi lantai rumah sakit. Pemuda itu menghampiri meja resepsionis, tersenyum pada wanita yang memandanginya keheranan.

"Aku mencari pasien bernama Park Jimin" Katanya, terburu-buru.

"Apakah anda keluarganya?"

"Tidak," Taehyung terdiam sejenak. "Aku temannya, bisakah kau segera beritahu aku dimana kamar rawatnya? Aku harus bertemu dengannya" Pintanya, dengan wajah memelas.

Wanita itu mengangguk, mencari-cari ruang rawat dengan nama pasien Park Jimin. "Park Jimin, dia ada di kamar 307—"

"Terima kasih!"

Tanpa banyak kata, Taehyung berlari menuju lift, tapi ia segera memutar arah karena dipikirnya akan lama jika menunggu lift. Dengan tekad yang kuat, Taehyung belari menaiki tangga, tak peduli kamar rawat itu berada di lantai berapapun, pikirannya sudah terlalu kacau.

Dengan nafas terengah-engah, kaki sakit serta keringat bercampur air hujan, Taehyung berlari ke lorong-lorong ruang rawat, mencari-cari kamar dimana Jimin di rawat (berserta keberadaan kakaknya).

305

306

307.

Langkahnya terhenti tepat di depan pintu bernomor 307. Taehyung mengatur nafasnya, menggigit bibir bawahnya, mengira-ngira apakah ia harus tetap masuk atau justru diam disini? Entahlah, Taehyung kehilangan keberaniannya tiba-tiba.

Hyungnya, di dalam, kan?

Akhirnya, Taehyung menjulurkan tangannya, mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Jantungnya seakan-akan ingin berhenti, sedikit merutuk karena sadar apa yang telah dilakukannya.

"Jim—"

"Taehyungie?"

Sepertinya, Taehyung akan tewas seketika. Pendingin ruangan, udara malam, pakaian basah kuyup, lengkap semua sudah.

Pemuda itu membiarkan pintu terbanting agak keras, kedua pupilnya melebar tatkala dilihatnya sosok Bogum duduk di samping ranjang Jimin, memasang ekspresi kaget, sama sepertinya. Kedua tangannya seketika terkepal erat, ingin ia menangis sekeras-kerasnya.

Pertemuan yang lucu, eh?

Bogum segera berdiri, menangis tanpa berkata-kata. Itu adiknya, Kim Taehyung. Selama ini, dia sudah jahat, ya? Dia membiarkan Taehyung merasakan penderitaan sendirian, dia tidak menemani Taehyung disaat adiknya tersebut menangis atau kesepian. Bogum adalah kakak yang jahat, tapi mau seberusaha apapun ia membenci, muncul setitik cahaya di dalam hatinya saat Taehyung menatapnya.

Ia merindukan adiknya.

"Hyung" Taehyung akhirnya bersuara, tapi bergetar. "Hyung, hyung, hyung, hyung, hyung, Bogum hyung" Katanya lagi, berulang-ulang. Kedua mata Taehyung terpejam, kepalanya menunduk, ia menangis.

Bogum melebarkan matanya, tapi sesaat kemudian ia tersenyum. Perlahan, ia menghampiri Taehyung, terdiam di hadapannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya menarik Taehyung ke dalam pelukannya.

Mereka berpelukan, tak peduli pakaian basah Taehyung akan menular sebentar lagi.

Taehyung sendiri, tidak pernah menduga bahwa Bogum akan memeluknya, tapi ia segera membalas pelukan tersebut. "Hyung, maafkan aku" Kini, tangisnya pecah.

"Kenapa kau meminta maaf?" Bogum bertanya, mengeratkan pelukan mereka, seakan-akan pertemuan mereka adalah untuk yang pertama kalinya. "Aku yang salah, akulah yang salah selama ini. Jangan menangis, akulah yang harusnya menyesali perbuatanku"

Perkataan itu seperti sebuah obat penenang, Taehyung semakin terisak. Bukannya ia cengeng atau apa, tapi, bagaimana perasaanmu ketika kau bertemu seorang kakak yang selama ini tidak tau dimana keberadaannya?

Jangan samakan ini dengan adegan di drama-drama picisan!

Ah, sepertinya kisah ini akan semakin panjang. Bukan, maksudku, kisah di antara Taehyung dan kakaknya, Bogum.

Hei, hei, Taehyung, apa kini kau terlalu bahagia? Sampai tidak berpikir pada hal yang lain?

Well, itu hakmu.

.

.


.

.

Jungkook terdiam, ia sudah duduk di dekat lemari rak sepatu hampir berjam-jam. Tidak lapar, tidak haus, tidak merasa ingin ke kamar mandi, pokoknya ia hanya ingin duduk disini, menunggu kedatangan Taehyung meski tidak tau kapan ia akan pulang.

Dia ingin menyusul Taehyung, tapi bahkan Jungkook tidak tau kemana sang mama pergi.

Khawatir? Tentu saja. Jungkook merasa dirinya yang bersalah, ia tak memperingati Taehyung untuk memakai payung, pastilah pemuda itu kehujanan dan kedinginan sekarang ini. Jungkook memeluk lututnya, ia ingin memberi kehangatan untuk Taehyung, ingin sekali.

Tapi, bagaimana caranya?

Jarum jam bergerak dan menimbulkan suara, menemani Jungkook di keheningan tanpa ujung. Hujan semakin deras, kini petir menyambar kemana-mana. Jungkook jadi ingin menangis, ia rindu Taehyung, ia ingin Taehyung berada di hadapannya sekarang juga. Ia teringat akan janji Taehyung, tentang dirinya yang tak akan meninggalkan Jungkook.

Tanpa di duga-duga, suara bel serta ketukan pintu terdengar.

Jungkook reflek berdiri, tersenyum lebar saat berpikir pastilah itu Taehyung. Tanpa menebak siapa yang datang, ia segera membuka pintu itu lebar-lebar. "Taehyung!" Pekiknya, terdengar gembira dan lega bukan main.

Iya, andai saja itu Taehyung.

Tapi, nyatanya itu orang lain.

"Kau? Siapa?" Jungkook bertanya, senyumannya menghilang mendadak, meski orang di hadapannya tersenyum begitu lembut.

"Setelah ini, kau akan tau siapa aku" Itu Hoseok, Jung Hoseok. Dia tersenyum tanpa merasa ada beban. "Bagaimana kalau kau ikut denganku?" Tawarnya secara tiba-tiba, membuat Jungkook terkejut bukan main dan mulai merasa ketakutan. Kakinya melangkah mundur, tapi Hoseok melangkah maju, mendekatinya.

Dengan wajah sedikit takut, Jungkook menggeleng. "Taehyung akan mencari dan memarahiku jika aku pergi tanpa izin" Katanya, menolak mentah-mentah. Tentu saja, ia mengingat betul apa yang Taehyung ajarkan, jangan menerima ajakan orang lain jika kau tidak mengenalnya, bisa saja itu orang yang memiliki niat jahat.

"Lalu, kemana Taehyungmu?" Tanya Hoseok.

Jungkook menggelengkan kepalanya. "Dia pergi"

Mendengar itu, Hoseok tertawa kecil, membuat Jungkook kebingungan sendiri. "Kau masih menunggu seseorang yang bahkan tidak tau dimana keberadaannya disaat waktu kalian hampir habis?" Tanyanya lagi. "Taehyung tidak membutuhkanmu, Jungkookie"

Perkataan itu seperti belati, sangat tajam dan menusuk. Jungkook menganga. "Apa?"

"Ikutlah denganku" Hoseok menjulurkan tangannya di hadapan Jungkook. "Aku yakin, setelah ini kau akan memiliki kehidupan yang sama seperti dulu. Lupakan Taehyung dan ikut bersamaku"

"Tidak bisa, aku—"

"Hey, Jungkookie, dengar ya" Hoseok masih setia dengan senyumannya. "Meski kau mencintai Taehyung, dia tidak akan mencintaimu. Coba kau pikir kembali, untuk apa kau menunggu Taehyung? Dia bahkan pergi tanpa mengajakmu"

Kini, yang Jungkook bisa lakukan hanyalah diam, ia mematung dan kehabisan kata-kata.

Benarkah?

Taehyung tidak pernah mengatakan cinta kepadanya, ia hanya mengomeli atau terkadang menjitak kepala Jungkook jika dirinya berbuat nakal. Tapi, Jungkook berpikir semua yang Taehyung lakukan padanya adalah sebagai bentuk rasa cintanya, apakah itu salah? Apakah semua kesimpulan yang ia buat itu salah besar?

Tau apalah kamu, Jungkook.

Taehyung juga sudah berjanji tidak akan meninggalkannya. Meski Taehyung sendiri sering memarahinya, tapi ia tak selamanya seperti itu. Taehyung memperhatikannya, Taehyung selalu mempedulikannya, Taehyung membantunya, Taehyung tersenyum padanya, ia tertawa, menangis, karenanya.

Tapi,

"Jika kau tidak ikut denganku, kau akan menjadi benalu bagi Taehyung" Hoseok tau-tau menyambar dan itu sangat mengena pada Jungkook.

Apa iya? Aku selama ini menganggu Taehyung? Menghancurkan hidupnya? Menganggu ketenangannya?

Jungkook berusaha untuk tidak memikirkan itu, tapi apa yang Hoseok katakan ada benarnya. Selama ini, Taehyung sering dibuat uring-uringan olehnya, bukankah itu berarti keberadaannya sangat menganggu?

Yoongi hyung, apa yang harus Jungkook lakukan?

"Bagaimana?"

Jungkook menatap Hoseok. "Tapi—"

"Hei, orang aneh. Kau tau tidak? Dimana ada pertemuan, pasti disitu ada perpisahan. Aku tidak yakin sih dengan ini, tapi kebanyakan orang mengatakan bahwa itu adalah kebenaran" Itu yang Yoongi katakan, saat Taehyung tidak bersama mereka. Jungkook hanya diam saja pada waktu itu, ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Yoongi.

Jadi, apakah ini adalah perpisahannya dengan Taehyung?

Hoseok perlahan tersenyum, ia menatap tangan Jungkook yang kini telah menerima uluran tangannya. Hoseok menggenggam tangan itu erat, memastikan Jungkook tak akan merubah pikirannya dan melepasnya kembali. Hoseok telah mendapatkannya, Hoseok telah mendapatkan adik kesayangannya kembali. Hoseok bejanji tidak akan melepaskannya, lagi.

"Ayo, aku akan mengembalikanmu seperti dulu. Jung Jungkook, adikku yang menyebalkan, keras kepala, tapi tak pernah bisa membuatku menghentikan rasa sayang ini" Hoseok tertawa, menarik Jungkook agar berjalan di belakangnya. "Kita kembali, ke rumah"

Jungkook diam saja, ia menunduk, mengikuti langkah Hoseok, membiarkan dirinya dibawa kemanapun.

Rumah?

Tapi, rumahnya adalah Taehyung.

"Taehyung" Jungkook bergumam, berharap Taehyung mendengarnya, meski rasanya sangat mustahil. Tak lama mereka berjalan, Jungkook teringat akan sesuatu, ia menahan tangan Hoseok. "Tunggu!"

Hoseok berhenti melangkah. "Apa?"


Bersambung


Uh, ano—maaf, maaf sekali karena terlalu lambat update, gomenasai (;A; ) Dan yeah, fic ini akan mendekati end, HORAAAYYY \(^0^)/

Aku mau membenarkan sesuatu disini; Pertama, Flashback*1 dan Flashback*2 itu jauh berbeda ya (kalau yang *2, itu lebih lampau lagi, saat flashback *1, terjadilah flashback lagi /aku bingung jelasinnya). Kedua, ada dialog yang berubah (bagian Hoseok sama Jaehwan, pokoknya yang di chapter kemarin ada juga), mianhae. Ketiga, harusnya aku menggunakan tahu bukan tau, tapi aku lebih nyaman sama tau (padahal jelas salah), jadi tolong dimaafkan ya kawan /guling-guling/. Keempat, maaf kalau kisahnya semakin membosankan dan membingungkan ;A; /yang ini serius guling-guling/. Kelima, kalau banyak melihat perubahan tolong di maklumi, tiba-tiba ide berputar mendadak. Terakhir, keenam, maaf kalau kesan Jungkook polos mulai dihilangkan, ini sudah saatnya masuk mode serius /bacok/

Terima kasih yang sudah review, menunggu, favorite, follow (sampai bingung harus bilang apa). Maaf sudah buat kalian menunggu terlalu lama, mohon maklum kalau ada typo(s) TT. Makasih buat yang udah maksa aku untuk update, tanpa dipaksa pasti aku bakal pesimis terus, kalau ceritanya tambah gaje, jangan bash ya /guling-guling

Oh, aku kerja sampingan di Wattpad juga (meski ngaretnya sama), silahkan di follow ladybugtae.

Jaaa~ sampai ketemu lagi di chapter depan!