Kalau mengingat hal lama, ada banyak hal yang tak ingin ia ingat. Tentu saja, dibalik semua kisah Indah, pasti ada kisah pilu yang tersimpan dan ia benci mengingat hal itu.

Terlebih mengingat jika ia berdiri di depan dua orang yang akan mengikat janji dengan sah di mata Tuhan.

Bukan bermaksud tak merasa bahagia, namun bagaimana bisa ia membohongi perasaannya lebih lama lagi sedangkan luka lama masih belum sembuh satupun?

Mengingat jika sosok didepannya memang harus bersanding dengan wanita benar-benar membuat ia tak sanggup menahan segala perasaan yang tersimpan. Semua memang salah dan semua memang harus berakhir seperti ini.

Pria itu hidup dengan wanita dan ia juga akan bernasib sama.

Bukan mereka yang menjadi satu.

"Hyung?" Ia menoleh, mendapati sahabatnya menatap dengan pandangan khawatir. "Are you okay?"

"I'm not, Namjoon."

"Yoongi hyung, kita bisa keluar sekarang."

"Aku ingin berbahagia untuk Jimin. Sudahlah, tak apa." Yoongi tersenyum paksa.

"Don't hurt yourself, hyung. You have no painkiller anymore."

"Yeah, it's already killing me." Desis Yoongi tajam.

"Maaf."

Suasana langsung riuh saat pengantin pria didepan sana berlari menerjang pintu, meninggalkan pengantin wanita yang menatap shock dengan tubuh bergetar.

Bisikan penuh tanya serta nada sinis mulai mengalun membuat kedua orangtua sang pengantin merasa malu serta marah. Bagus sekali, mereka mempersiapkan semua ini tiga bulan dan hancur dalam tiga detik.

Yoongi berdiri di situ, hanya diam bahkan ketika Namjoon mulai berlari keluar.

...

Yoongi memarkirkan mobilnya di garasi rumah lalu berhenti sebentar sekedar menenangkan diri.

Setelah merasa lebih baik, ia beranjak keluar, memasuki rumah dengan langkah gontai.

"Aku pulang." Ia berseru lemah. Ia mendapati sosok Ibunya yang tersenyum di ruang tengah.

"Kenapa cepat sekali?"

"Acaranya dihancurkan pemeran utama. Eomma sudah makan?"

"Sudah. Pergilah ke kamar, ada yang menunggumu."

"Siapa?"

"Pemeran utama yang menghancurkan hari pernikahannya sendiri demi seorang pria penahan perasaan yang mana adalah anakku." Ibunya tersenyum lembut. "Kau tau jika perasaan takkan salah, nak. kita hanya hidup berdua sekarang, jadi carilah kebahagiaanmu sendiri seperti kau yang mencoba memberi Eomma kebahagiaan selama ini."

"Eomma.."

"Pergilah dulu, dia membutuhkanmu."

"Aku menyayangi Eomma." Seru Yoongi cepat lalu berlari menuju kamarnya.

Saat pintu kamar terbuka, ia mendapati sosok Jimin tengah berdiri membelakanginya. Sosok itu masih sama, masih terlihat hangat meski sekarang bukan lagi miliknya.

Ia diam. Tak bisa melangkah lebih dekat karena takut jika sosok itu hanya akan menghancurkan lagi apa yang sudah hancur.

Ia tak sanggup lagi, sungguh.

Hingga saat sosok itu berbalik, Yoongi rasa ia tak percaya lagi dengan penglihatannya.

Jimin masih tersenyum, sama hangatnya seperti dulu. Dia mendekat, mengeluarkan sesuatu lalu menyerahkannya ke Yoongi dengan senyum yang tak kunjung luntur.

"Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tak kusukai. Kau pernah bilang jika kita tak bisa hidup dalam paksaan, kan?" Suara itu mengalun lembut. "Aku menabung sejak hari jadi kita yang ke tiga bulan. Aku bahkan sudah mempersiapkan banyak uang untuk membeli apartemen tapi Ibumu bilang dia ingin tinggal bersama kita jika kau mau menerimaku. Jadi, kau mau kita tinggal bersama dan membahagiakan Ibumu kan?"

"Jimin, kau.."

"Lima tahun itu lama, Yoongi hyung. Bagaimana mungkin bisa kugantikan dengan lima bulan?" Jimin tersenyum lebih lembut. "Jadi?"

"I want to kill you right now, idiot!"

"Ok, hug me."

Yoongi memeluk Jimin erat tanpa ketakutan. Ia tak lagi perduli jika hubungan mereka akan bermasalah lagi karena Jimin pada nyatanya hanya memilih dirinya.

Tak mungkin kan Jimin kembali ke wanita itu lalu memulai ulang acara mereka yang sudah hancur hingga ke akar?

Yoongi akan menaruh bom agar acara itu hancur bersama para orang didalamnya. Ia tersakiti disini dan ia taj bersedia di sakiti lebih dalam lagi.

Jimin memilihnya. Tamat cerita.

"Kalau begitu, ayo menikah!"

Kkeut!
R.i.p my english