Chapter 2

Title: The Halfs

Author: Lee Shikuni

Genre: Fantasy, friendship, romance

Archip: Sad ending, chapter, yaoi

Cast: -All members EXO

-All members BTS

-All members B.A.P

-All Members Super Junior

-And OC (Jika di perlukan *Jaga2*)

Warning: Yaoi Fanfic! DLDR! Setelah bca hrs di review, donk… ^^ Official Couple. Kecuali BTS.

A/n: EkstrakKulitKai: Kebanyakan cast? Emm… Iya, sih… Shi juga kadang suka bingung. Tapi pengen nyoba aja pke cast-nya banyak. Someone POV-nya Suga? Hmmh,... Bisa jadi… Liat aja chapter ini. Gamsahamnida udh bca&review… ^^

Polarise437: Klo Eun Hyuk jadi Seme, nma Couple-nya jd EunHae. Nama Couple itu, biasanya di duluin sma nama Seme dlu dpnnya. Bru nama Uke-nya. Tapi mau Eun Hyuk/pun Dong Hae, Shi ngerasa ke-2-nya sma2 wajah Seme. Gk pantes jd Couple. Sayangnya udh Official. Someone-nya Suga? Bisa, jadi… Kejawab di chap ini kyknya. Rap Mon serem? Akhirnya ada yg mengakui itu… #LirikRapMon# Gamsahamnida udh bca&review… ^^

Nyusul chap-2, nih! Sampei skrg untungnya nie FF gk knp-napa. Big thank's to 'HyuieYunnie' karna udh kasih semangat bwt lanjutin FF ini. Ok, hope U like it. Mianh klo kurang memuaskan/kurang panjang. Happy reading… ^^

SOMEONE POV

Oh, Rap Monster. Kau jadikan naga bayanganmu itu sebagai tameng? Aku melihat tanganmu kearah mana.

"Eh?" beonya terkejut. Aku terkekeh.

"Tidak bisa mengendalikan bayanganku?" tanyaku dengan nada sinis.

"Wae—" kalimatnya menggantung.

"Kau lupa apa power-ku, huh?" tanyaku tetap mempertahankan nada itu. Rap Monster masih mencoba mencerna apa yang terjadi karena dia tidak bisa mengendalikan bayanganku. Padahal jelas. Semua orang yang ada di sini memiliki bayangan. Hanya saja aku… "Sampai jumpa…" ucapku dan segera memukulnya cukup keras hingga terbanting keluar lapangan. Satu, sudah. Berapa banyak lagi yang harus kujatuhkan?

Aku melihat sekitar. Seperti kataku di chapter sebelumnya(?). Aku menunggu lawan mendatangiku.

"Aku tidak yakin apa aku bisa mengalahkanmu. Tapi saat melihat kau satu-satunya yang menganggur, apa boleh buat" ujar sebuah suara. Aku menoleh kebelakang, lalu ber-smirk-ria saat tahu siapa yang berkata.

"Kau tidak akan memasak di sini kan, Hyung?" godaku. Dia menatapku dengan expresi Se Hun –datar.

"Awas kau, Yoon Gi! Aku tidak akan memperbolehkanmu mencicipi masakanku lagi selama sebulan!" ujarnya lalu berlari padaku.

"Hmm! Tidak masalah untukku" responku, lalu menghindar dari tangan-tangannya yang mematikan itu.

Ah, gara-gara dia kalian jadi tahu siapa aku. Oh? Sudah tahu? Baguslah… dia memiliki healing power. Tapi tidak hanya itu. Malah karena memiliki healing power dia bisa menyembuhkan dan merusak organ dalam dengan mudah. Hanya dengan menyentuh titik-titik tertentu di tubuh.

"Cih! Jangan menghindar terus, Yoon Gi! Kau tidak bisa bertarung dengan cara seperti itu!" teriaknya karena aku agak jauh dari tempatnya berdiri.

"Bisa saja!" teriakku lagi. Aku berlari kearahnya. Dia memang tipe yang menyerang dari jarak dekat. Jika salah satu dari kami tidak ada yang mau mengalah, ini tidak akan selesai.

BUGH!

"Argh!"

"Suga Hyung!" teriak seseorang. Aku hafal sekali dengan suara itu. Aku mencoba bangkit. Tapi kepalaku agak pusing. Kupaksakan melihat Jimin. Oh, tidak. Aku tidak mau melihatnya dengan wajah khawatir seperti itu.

Aku alihkan pandanganku pada benda(?) yang membuatku terbentur cukup keras ke lantai. Itu es. Es yang sangat besar.

"Boleh aku bergabung? Sepertinya kalian seru" ujar seseorang dengan nada tanpa dosa. Aku masih mencoba menyeimbangkan kepalaku yang masih berputar.

"Ck! Boleh, saja" ucap lawanku sebelumnya pelan. Lalu dia berlari cukup cepat.

BUGH!

Eh? Terhajar dengan mudah? Aku bangkit. Dan sekarang penglihatanku sudah jelas. Yang tadi di pukul Jin Hyung itu V?

"V babbo! Dasar menyebalkan!" gumamku. Aku melangkah kearah V. Menarik kerah bajunya dengan mudah. Menyeretnya, lalu melemparnya asal keluar lapangan. Aku kembali berhadapan dengan Jin Hyung. "Tega sekali kau…" ucapku. Dia hanya menyeringai.

"Itu hanya sentuhan kecil pada tengkuknya. Aku akan membuat kejutan yang lebih besar lagi untukmu, Suga" ujarnya dengan nada sinis. Aku terkekeh.

"Ngomong-ngomong, kecepatanmu boleh, juga…" pujiku asal.

"Gomawo…" balasnya.

"Tapi tentu saja kau masih kalah denganku" ucapku final dan segera melesat berlari mendekatinya.

Sialnya, tiba-tiba dia ada di belakangku. Dia cepat sekali? Terakhir kali aku melihatnya latihan, kecepatannya masih kurang. Bagaimana dia bisa menguasainya dalam waktu singkat?

"Bingo!" ucapnya pelan tepat di telingaku. Tangannya terulur hendak memukul perutku.

HUSH!

Mata Jin Hyung terbebelalak. Aku memandangnya remeh. Memangnya bisa dengan mudah menjatuhkanku? –Yah~ Selain serangan tiba-tiba V tadi—

"Bingo!" ucapku membalikkan kata-katanya. Aku gunakan angin sekuat tenagaku untuk melemparkannya keluar lapangan dengan mudah. Dan… berhasil! Angin? Oh, nanti aku jelaskan. Kapan-kapan. Hehehe…

Satu, Rap Monster. Dua, Jin Hyung. Emmh,… V… Tidak termasuk hitungan point-ku. Yang menghabisinya Jin Hyung. Aku hanya membereskannya menyingkir keluar lapangan karena mengganggu. Siapa lagi selanjutnya?

"Suga Hyung! Awas!" teriak Jimin. Aku menoleh kearah Jimin yang menunjuk ke belakang tubuhku. Ketika aku berbalik, dengan sigap aku menghindar.

DUAR!

Fiuuuh…~ Aish! Siapa yang bermain api tanpa tahu arah? Aku menoleh kearah datangnnya api berbentuk phoenix itu. Oh, Chan Yeol dan Kris. Kelihatannya seru. Sepertinya menonton sedikit tak apa.

Aku duduk di lapangan itu tanpa takut ada yang melawanku. Aku sangat menikmati pertandingan gratis yang tersuguh di depanku. Aku terus memperhatikan cara bertanding Kris. Dia saingan terberatku. Setelah semuanya tumbang di luar lapangan, keadaan lapangan jadi lebih sepi. Kris melihat sekitar.

"Sepertinya pemenangnya Wu Yi Fan" ucap Lee Teuk Juyohan yang melihat Kris sendirian tengah berdiri di lapangan. Aku yang mendengar itu berjalan mendekati Kris dengan santai.

"Ani. Wu Yi Fan tidak sendiri. Aku tidak melihat Uri Life Power sejak dia menjatuhkan Kim Seok Jin" sekarang pendapat Kang In Buhoejang Gyojang (Wakil Kepala Sekolah). Sepertinya dia memperhatikanku terus. Dan langkahku berhenti tepat 5 meter di belakang Kris.

"Mungkin saja dia sudah keluar lapangan" pendapat di lontarkan oleh Hee Chul Sonsaengnim. Kang In Buhoejang Gyojang menggeleng.

"Aku memfokuskan diri padanya sejak awal pertandingan" belanya lagi. Dan setelah itu, orang-orang tua itu berdebat kecil tanpa menghiraukan Kris yang sepertinya masih waspada.

Aku mengendalikan bebatuan yang ntah kenapa bisa ada di sini dengan tanganku. Memainkannya di tanganku. Memutarnya dan tembak!

TUK!

Tepat sasaran! Aku berusaha menahan diriku agar tidak tertawa saat melihat wajah Kris yang tidak kontrol sembari mengusap kepala belakangnya yang terkena tembakkanku.

"Hahaha! Aku sudah tidak tahan! Kau lucu sekali Kevin Wu!" teriakku sembari tertawa dan tanpa sadar membuat tubuhku nampak di pandangan mereka. Suasana mendadak hening. Tawaku makin keras karena mereka sangat lama mencerna situasi.

"Sejak kapan kau di situ?" akhirnya pertanyaan tiba-tiba Kris membuat tawaku perlahan berhenti. Aku menegakkan kembali badanku setelah puas tertawa tadi. Agak sedikit mengusap mataku yang mengeluarkan air mata karena terlalu sibuk tertawa.

"Sejak negara api menyerang"gumamku alih-alih menjawab.

"Sudah kuduga dia pasti bersembunyi"gumam Kang In Buhoejang Gyojang. Namun aku masih bisa mendengarnya.

"Jangan banyak bicara!" teriaknya lalu menyerangku habis-habisan dengan bola apinya tanpa kontrol. Aku hanya menghindarinya dengan mudah. Tapi beberapa menit kemudian serangannya berhenti. Tenaganya sudah terkuras habis. Hah… aku pikir menjadi lawannya akan sangat menyenangkan.

"Aku menyesal menyisakanmu di akhir, Kevin Wu" ucapku dengan nada so' menyesal.

"Berhenti meanggilku Kevin! Kau bukan keluargaku!" teriaknya. Aku meringis. Seberharga itukah nama panggilan 'Kevin' untuknya?

"Memangnya kenapa jika aku memanggilmu, begitu?" tanyaku. Dia terdiam mengatur nafas karena emosi –kurasa. "Payah!" ucapku setengah berteriak. Dia membelalakkan matanya.

"Apa katamu?! Berani sekali kau!" teriaknya marah. Good! Aku telah memancingnya lagi.

"Tapi ngomong-ngomong aku lelah. Aku mau istirahat. Dan kau juga istirahatlah" ucapku pelan saat tiba-tiba muncul di belakangnya dan menyentuh pundaknya lembut. Seketika itu juga es menyelimuti tubuhnya hingga ke leher. Aku terkekeh pelan melihat hasil karyaku. Lapangan hening lagi. "Kelemahan dari seorang Kevin Wu adalah masih belum bisa mengontrol pengeluaran powernya. Jadi berlebihan" jelasku padanya.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" ucapnya tegas. Rahangnya mengeras. Aku terkekeh sinis lagi.

"Mianh. Senang menggodamu, Kris" ucapku mengakhiri.

PROK! PROK! PROK!

Aku menoleh kearah depan lapangan. Lee Teuk Juyohan bertepuk tangan.

"Dengan begini, pemenangnya adalah Min Yoon Gi!" ucap Lee Teuk Juyohan lantang. Para Human yang duduk di bangku penonton dan Sonsaengnimdeul yang lain bertepuk tangan.

Aku tersenyum miris, lalu menundukkan kepalaku. Dan melangkah pergi meninggalkan lapangan.

"Suga Hyung!" teriak Jimin. Aku mendengar langkah kakinya berlari menyusulku.

"Hei, Yoon Gi! Tanggung jawab! Lepaskan aku!" untuk suara teriakan yang itu…. Kalian pasti tahu itu siapa. Ah, lagi pula nanti juga es-nya mencair. Kecuali Sonsaengnimdeul atau V atau Xiu Min Hyung mau sukarela melepaskannya. Xiu Min Hyung pasti terluka parah. Dan V pasti masih belum bisa bergerak. Yah~ Harapan satu-satunya hanya Sonsaengnimdeul.

ΩΩΩ

Aku menenguk air botol mineral dengan rakus. Lalu kubuang botol air itu setelah habis kuminum dengan sekali tegukkan.

"Pelan-pelan minumnya" nasihat Jimin yang ada di sampingku. Kami hanya berdua di kantin yang sepi ini. "Kau terluka, Hyung" ujar Jimin sembari mengusap kepalaku.

"Aku lelah, Jiminnie" ucapku alih-alih merespon kalimatnya.

Ntah kenapa badanku rasanya lemas. Kepalaku rasanya berdenyut sakit dan dunia berputar. Semakin lama aku tak bisa menahannya. Mataku ini rasanya sangat ingin tertutup. Sekilas aku melihat wajah khawatir Jimin lagi. Tidak, tidak. Aku harus kuat. Tapi sedetik kemudian, aku tak ingat apa yang terjadi.

SUGA POV END

AUTHOR POV

BRUK!

"Suga Hyung!" teriak Jimin saat tiba-tiba Suga ambruk di bahunya. Darah dari pelipisnya kembali meneteskan darah. Melihat itu, Jimin panik. Segera ia membawa Suga ala bridal style ke Ruang Kesehatan.

"Lay-ge!" panggil Jimin tak sabar. Lay menoleh.

"Ada ap– Oh astaga, Jimin~ah! Letakkan Suga~ah di sana!" perintah Lay pada Jimin. Sesuai perintah Lay, Jimin meletakkan Suga di salah satu ranjang yang kosong di Ruang Kesehatan itu.

Sementara Lay mengobati Suga, Jimin melihat ke sekitar. Ada V yang masih berbaring lemah di temani Jin di ranjang seberang kanan Suga. Dan di seberangnya ada Rap Monster yang di urus D.O.

"Jja! Sudah selesai. Sepertinya V~ah terlalu bersemangat sehingga es yang di buatnya membentur Suga~ah terlalu keras. Tapi tenang, saja. Aku sudah mengobatinya. Hanya harus memakai perban 1-2 hari ini, saja. Tapi dia juga harus banyak istirahat. Power-ku belum terkumpul semua. Jadi mianh jika aku belum bisa menyembuhkannya total" jelas Lay seraya tersenyum.

"Ne. Gwenchana. Gomawo, Hyung. Eh? Hyung sendiri sudah pulih?" Tanya Jimin berbasa-basi.

"Aku akan lebih cepat pulih. Tapi… aku baik-baik saja, kok" jawab Lay lagi dengan senyum. Jimin mengangguk-angguk mengerti.

"Lay Chagi!" panggil seseorang.

"Oh, aku permisi dulu, Jimin~ah. Oh, ne. Suga~ah mungkin akan tertidur lama. Bersabarlah jika kau mau menunggunya" ucapan terakhir Lay yang di angguki Jimin. Setelah itu Lay keluar untuk menemui 'seseorang'.

Jimin duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur Suga. Menggenggam tangannya erat. Dan terus menatap khawatir pada Suga yang belum sadarkan diri. Ntah kapan ia akan bangun.

Jimin terus memperhatikan Suga. Parasnya yang cantik, yang selalu di kagumi Jimin setiap hari. Rambutnya yang berwarna merah mempermanis Suga. Tapi sekarang di tambah hiasan kecil di pelipisnya. Perban yang di sematkan(?) Lay pada luka Suga. Jimin meringis melihatnya.

Dia tidak pernah mengikuti pertandingan massal(?) itu. Karena… ah, pokoknya sekarang dia tidak bisa membayangkan seberapa lelah dan sakitnya menjadi salah satu Half yang ada di lapangan tadi. Melihat Suga bertarung saja membuatnya meringis sejak tadi.

ΩΩΩ

Suga mulai membuka matanya. Mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya di ruangan itu.

"Eungh~" lenguh Suga saat di rasa kepalanya pusing kembali.

"Eh? Suga Hyung? Sudah bangun? Bagimana perasaanmu sekarang?" Tanya Jimin dengan wajah khawatir.

"Jangan memasang wajah khawatir, begitu. Nan gwenchana… Dimana ini?" Tanya Suga dengan sewot sembari melihat sekelilingnya. Jimin terkikik kecil.

"Ruang Kesehatan, Hyung. Hyung tidak ingat jika Hyung terluka? Hyung ambruk tiba-tiba di kantin setelah minum. Membuatku panik, saja" jawab Jimin sembari terkekeh. Tiba-tiba Suga memeluk Jimin.

"Mianh merepotkanmu" gumam Suga di telinga Jimin.

"Apa yang Hyung bicarakan? Hyung tidak membuatku repot sama sekali. Asal lain kali jangan membuatku panic lagi. Arra?" ucap Jimin. Suga mengangguk pelan. Jimin terkekeh lagi merespon sikap manja Hyung tercintanya itu. "Kau mau ke kamar, Hyung?" Tanya Jimin. Lagi-lagi Suga mengangguk. Suga sangat tidak suka berada di Ruang Kesehatan. "Geurae. Kajja kita pulang" ajak Jimin.

Dengan semangat Jimin menggendong Suga hingga ke kamar mereka. Sesampainya di kamar, di baringkannya Suga di ranjangnya. Di perhatikannya wajah Suga yang tertidur –lagi— dalam pelukannya tadi.

CHUP!

"Jaljayo, Hyung. Saranghae…" ucap Jimin pelan setelah mengecup kening Suga lembut. Lalu menyusul Suga kea lam mimpi setelah berbaring di ranjang seberang Suga.

AUTHOR POV END

~TBC/Delete?~

A/n: Ok, ada yang mau Shi sedikit ralat di chap 1 yang belum ke tulis ternyata. –yang baru sadar sekarang— Official Couple semuanya udh punya hubungan, ne? Kayak BangHim, DaeJae, JongLo, ChenMin, HunHan, KrisTao, SuLay, ChanBaek, KaiD.O. Dan Couple BTS-nya, JinV, MinSuga, HopeKook&Rap Mon. single. Sedangkan Couple KangTeuk, HanChul, YeWook, SiBum, KyuMin, HaeHyuk&ShiNari itu udh pada nikah.

Ok, karna ini update chap 2-nya ngebut. Update di hari yang sama, sama chap 1, mudah2an review-nya bnyk. Amin~ Review, please… ^^