Chapter 4
Title: The Halfs
Author: Lee Shikuni
Genre: Fantasy, friendship, romance
Archip: Sad ending, chapter, yaoi
Cast: -All members EXO
-All members BTS
-All members B.A.P
-All Members Super Junior
-And OC (Jika di perlukan *Jaga2*)
Warning: Yaoi Fanfic! DLDR! Setelah bca hrs di review, donk… ^^ Official Couple. Kecuali BTS.
A/n: exoo12: Udh lanjut, nih… Joseonghamnida klo kelamaan update-nya #Emang!# Gamsahamnida udh bca&review… ^^
Di chap ini semoga pd suka. Happy reading… ^^
SUGA POV
Satu minggu sudah berlalu sejak Pertandingan Bulan Purnama yang kumenangkan dengan skor memalukan itu. Dan hari ini sekolah libur. Jadi aku bisa tidur hingga siang. Itu pun, jika Jimin tidak rajin membangunkanku.
"Eungh~" lenguhku saat merasakan sinar matahari menusuk mataku.
"Suga Hyung ireona!" teriak Jimin sembari mengoncang tubuhku. Aish! Mengganggu saja anak ini! "Suga Hyung! Palli ireona!" teriak Jimin lagi. Kenapa dia harus teriak-teriak dengan nada panik begitu, sih? Eh? Nada panik? Segera kubuka mataku dan kulihat Jimin memandangku dengan panik.
"Mwohae?" tanyaku datar dengan suara serak karena baru saja bangun tidur. Aku menunggu, tapi Jimin tidak juga bicara. Aku mendudukkan diriku.
Tapi kenapa kasurku rasanya keras sekali? Aku melihat ke bawah. Ini bukan kasur. Ini… tanah? Aku melihat sekitar. Seluruh siswa Academy Human Half terbangun di… lapangan Academy. Kenapa kami semua ada di sini?
"Apa yang terjadi?" gumamku sembari terus menatap sekeliling dengan tatapan tak percaya sekaligus aneh.
"Saat aku bangun, kita sudah ada di sini. Aku tidak tahu apa yang terjadi" ucap Jimin yang ntah kenapa nyambung dengan gumamanku. Mungkin dia mendengarnya?
"Kau sudah lihat Sonsaengnimdeul?" tanyaku. Jimin menggeleng. Aku berpikir sejenak, lalu bangkit dan membersihkan pakaianku dari debu lapangan luar. "Kajja kembali ke asrama. Aku masih ingin tidur" ucapku asal. Jimin hanya bisa menururtiku. Dia juga ikut berdiri, dan kami berjalan.
Tapi saat kami sampai di depan gedung asrama, aku menghentikan langkahku dan segera menarik tangan Jimin supaya tidak lebih jauh lagi melangkah. Aku melihat gedung asrama dengan intens. Tapi… sebenarnya bukan gedung asramanya yang kuperhatikan. Tapi sesuatu yang terbentang cukup berbahaya(?) dan transparan di depan gedung asrama. Sepertinya sangat tipis. Dan aku yakin Jimin bingung melihatku.
Setelah memastikan kami memang benar-benar tidak bisa kemana-mana, aku menarik Jimin kembali ke lapangan. Tapi dia tidak mau bergerak juga. Aku menoleh menatapnya dengan pandangan minta pengertian. Dia malah semakin bingung.
"Mwohae, Suga Hyung? Bukankah Hyung mau ke asrama? Kenapa kita kembali?" tanyanya polos.
DUAR!
Rasanya aku habis di hantam bola besi yang besarnya 2 kali lipat tubuhku. Dia belum mengerti juga? Ah, aku lupa kalau dia…
"Kita tidak bisa menerobos ke sana. Kau tidak ingin terpental, kan?" tanyaku. Dan di jawab dengan tatapan tak mengerti darinya. Aku mengerang. Coba saja kalau Jimin…
Dengan agak emosi aku menggerakkan sebuah batu kecil di dekatku. Dan melemparnya asal ke depan gedung asrama itu.
TRANG!
Batu itu terpental kearahku dan berhenti tepat di depan sepatuku(?). Sesuatu yang transparan itu berubah warna menjadi ungu di sekitar benturan untuk sesaat. Dan kembali transparan lagi.
"Lihat?" tanyaku. Jimin hanya membuka mulutnya tak percaya. Segera aku menariknya kembali ke dalam lapangan.
Belum lama kami berada di lapangan, tiba-tiba ada sebuah bantingan yang cukup keras. Memisahkan kami berdua dan… aku tak ingat apa-apa lagi.
SUGA POV END
AUTHOR POV
Suga membuka matanya perlahan. Dia mencoba menegakkan badannya perlahan meski pusing di kepalanya mendominasi.
Hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan taman belakang gedung sekolahnya yang indah ini tampak lebih gelap sekarang.
"Ige mwohae?" gumam Suga saat dia sadar dia tidak berada di lapangan. "Jiminnie?" panggil Suga saat dia baru menyadari Jimin tak bersamanya. Suasana sepi dan angin berhembus dengan lembut. Ntah kenapa terasa mengerikan di sini.
"Annyeong Suga~ah. Nice to meet you" ucap seseorang. Suga membalikkan badannya ke asal suara. Seketika Suga membulatkan matanya. Dia tidak sendiri di sini. "Jika kau tanya aku apa yang terjadi di sini, aku tidak tahu. Tapi otakku mengatakan aku harus mengalahkanmu" ujar namja di depan Suga.
"Apa maksudmu, Hyung?" Tanya Suga tidak mengerti dengan situasinya. Masalahnya, jika semua Half merasa di perintahkan untuk menghabisi siapa saja yang berada di hadapannya, kenapa dia lain? Yang ada di pikirannya sekarang hanya Jimin. Kemana Jimin-nya? Dimana Jimin-nya berada sekarang?
Perlahan namja itu melangkah mendekat pada Suga. Suga yang merasakan sinyal berbahaya hanya bisa mundur perlahan. Mengikuti gerakan namja di hadapannya.
"Shirreo. Aku tidak mau melawanmu, Hyung" bantah Suga sembari terus berjalan mundur karena namja itu semakin mendekat.
"Kau harus menjatuhkan lawanmu jika ingin pergi dari sini" ucap namja itu sayup-sayup.
'Apa ini sebuah pertandingan yang di rahasiakan? Apa Jimin juga ikut bermain?' batin Suga.
DUK!
Tidak ada jalan lagi. Suga sudah membentur pohon yang ada di belakangnya. Dan namja yang lebih tua darinya itu semakin mendekatinya.
"Aku serius, Chan Yeol Hyung. Aku sedang tidak mau bertarung dengan siapa pun" ucap Suga dengan penekanan yang lembut, berharap Chan Yeol mengerti dengannya yang memang ber-type moody.
"Tapi kita harus melakukannya agar salah satu dari kita bisa keluar dari tempat ini" ucap Chan Yeol tepat di telinga Suga setelah berhasil mendekati Suga.
"Wae geurae?" Tanya Suga masih tidak mengerti apa yang terjadi.
"Di sekitar kita ini di kelilingi pelindung transparant yang akan menghisap power kita jika kita mengenainya. Aku sudah mencoba keluar dari sini beberapa kali hingga kau bangun. Dan tiba-tiba otakku memerintahkanku untuk menghabisimu untuk bisa keluar dari sini" jelas Chan Yeol. Ntah kenapa terdengar seperti sebuah peraturan pertandingan survival di telinga Suga.
Half memang mudah terpengaruh oleh perintah seseorang yang di hormatinya. Mereka akan langsung mengatur dirinya untuk menuruti perintah itu. Sama seperti pertandingan bulan purnama minggu lalu. Mereka di perintahkan berstatus "independent". Jadi, mau tak mau mereka sudah tidak kenal teman dan lawan. Bahkan namjachingu sendiri pun ikut terhabisi oleh tangan kita sendiri, contohnya Jin dan V waktu itu.
Dan sekarang Suga berpikir, otak para Half sudah di masuki perintah sebelumnya saat mereka tengah tak sadarkan diri karena bantingan tiba-tiba. Emmh,.. mungkin berupa bisikkan saat tidur. Karena memerintah Half saat tidur itu mudah sekali.
Tunggu. Apa cara itu juga yang di lakukan oleh 'seseorang' bahkan lebih untuk memindahkan seluruh siswa Academy pindah tidur ke lapangan depan? Apa mereka seperti sleep walking? Kalau begitu, sekarang kenapa Suga hanya merasa dirinya saja yang tidak di biski saat pingsan tadi? Bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang ini.
"Bersiaplah, Suga" ucap Chan Yeol menyadarkan Suga dari lamunannya. Chan Yeol sudah siap di tangannya dengan sebuah bola api.
"Chakkaman, Hyung. Bagaimana jika kita keluar dari sini bersama-sama?" tawar Suga. Chan Yeol berpikir sejenak. Ia menatap mata Suga yang menyiratkan permohonan. Tapi perintah otaknya lebih keras.
"Kita tidak bisa keluar dari sini jika salah satu dari kita tidak ada yang kalah, apa kau tak paham?!" bentak Chan Yeol seraya mengayunkan bola apinya kearah Suga. Dengan sigap Suga mengindar. Dan api itu membakar pohon di belakang Suga.
"Tapi aku tak ingin melukaimu, Hyung…" lirih Suga.
"Aku tidak peduli! Lawan aku Min Suga!" ucap Chan Yeol dengan lantang. Tapi Suga masih terdiam di tempatnya. Dan itu membuat Chan Yeol marah.
Dengan emosi Chan Yeol menembaki Suga dengan serangan bertubi-tubi dan sangat cepat. Suga hanya mampu menghindar. Berlalu beberapa menit serangan Chan Yeol belum berhenti dan bahkan power yang di miliki Chan Yeol masih stabil.
'Damn it! Aku mulai lelah sedangkan power Chan Yeol Hyung terlalu terkontrol. Bahkan dia masih bisa berdiri tegak di saat aku sudah letih untuk menghindar' batin Suga meringis.
DUAR!
Bola api itu tepat jatuh di depan Suga membuatnya agak terpental.
DUAK!
Dan sukses membanting sisi pelindung. Suga meringis. Benar yang di katakan Chan Yeol. Dia merasa powernya sedikit menguap ntah kemana saat bersentuhan dengan sisi pelindung itu. Jika terlalu sering terbanting ke sini, maka dia bisa tamat.
Suga mencoba berdiri. Dan dengan kemampuannya dia mencoba membuat prajurit bayang. Prajurit bayang itu mulai melawan Chan Yeol dengan perintah tangan Suga yang mengendalikannya. Hingga Chan Yeol terpojok dan prajurit bayang itu mengeluarkan seutas benang bayang yang mengikat bayangan Chan Yeol di belakangnya. Sekarang nasib Chan Yeol berada pada Suga. Suga menyeringai.
"Aku sudah bilang, dan Hyung memaksaku" ucap Suga dengan nada sinis. Chan Yeol menatapnya penuh amarah. Tubuhnya sekarang kaku tak bisa bergerak. Tiba-tiba Suga tertawa sinis. Lalu berhenti seketika. "Apa Hyung tahu, dimana Jiminnie?" Tanya Suga dengan nada datar.
"Babbo! Tentu saja tidak! Aku kan terkurung di sini bersamamu dari beberapa jam yang lalu!" bentak Chan Yeol alih-alih menjawab.
"Hmm! Sayang sekali Hyung tidak tahu dimana Jiminnie-ku. Kalau begitu, aku harus mengabisi Hyung karena jawaban Hyung tidak memuaskanku" ucap Suga dengan nada yang mengerikan.
Seketika muncul sebuah pedang dari bayangan prajurit milik Suga. Dan sesuai perintah tangan Suga, banyangan prajurit itu menyayat-nyayat lembut bayangan Chan Yeol yang berakibat serangan tidak langsung tapi terasa nyata di tubuhnya Chan Yeol. Kini badan Chan Yeol sudah banyak luka sayat. Darah menetes di sekitarnya. Terakhir, Suga mengangkat kaki dan mengarahkannya pada lutut belakang Chan Yeol yang kini tengah berlutut tak mampu menahan beratnya sendiri. Dan…
BUK! KREK!
Terdengar sesuatu yang patah setelah Suga menginjak belakang lutut Chan Yeol secara tidak langsung. Chan Yeol menjerit sakit. Sudah di pastikan tulang lutut kiri Chan Yeol patah.
BRUK!
Suga melepaskan benang-benang bayang yang mengikat bayangan Chan Yeol, membuat Chan Yeol ambruk dengan posisi telungkup dan kepala yang menghadap ke kiri. Perlahan ke sadaran Chan Yeol mulai terambil.
Setelah di rasa Chan Yeol sudah menutup matanya, Suga melangkah mendekat dengan santai. Lalu dia berjongkok di dekat kepala Chan Yeol. Suga mengelus rambut Chan Yeol.
"Mianhne, Hyung" gumam Suga dengan smirk di wajahnya. Suga berdiri dan menghilangkan prajurit bayangnya. Lalu ntah apa yang terjadi, tiba-tiba semuanya gelap di pandangan Suga.
ΩΩΩ
Sementara itu, di sebuah ruangan dengan banyak monitor yang tengah di lihat oleh 15 orang namja paruh baya, tampak suasana sangat menegangkan.
"Dari Room 1, Yoo Young Jae gugur, dan pemenangnya Kim Nam Joon" lapor seorang namja cantik sembari tetap fokus pada layar di hadapannya.
"Dari Room 2, Park Chan Yeol gugur, dan pemenangnya Min Yoon Gi" lapor seorang namja berwajah oriental sembari melakukan hal yang sama.
"Dari Room 3, Byun Baek Hyun gugur, dan pemenangnya Choi Jun Hong" lapor seorang namja berkepala besar dengan memandang seirus layar di hadapannya.
"Dari Room 4, Kim Tae Hyung gugur, dan pemenangnya Do Kyung Soo" lapor seorang namja mungil seraya menutup mata dan mendongakkan kepalanya keatas merasa pegal.
"Dari Room 5, Kim Jong In gugur, dan pemenangnya Jeon Jung Kook" lapor seorang namja imut nan manis sembari tersenyum manis menatap layar di depannya.
"Dari Room 6, Jung Dae Hyun gugur, dan pemenangnya Wu Yi Fan" lapor seorang namja jangkung dengan kulit putih-pucat sembari memijat keningnya yang terasa agak pening karena terlalu fokus pada layar.
"Dari Room 7, Kim Him Chan gugur, dan pemenangnya Bang Yong Guk" lapor seorang namja berdarah Canada-China dengan santai.
"Dari Room 8, Jung Ho Seok gugur, dan pemenangnya Oh Se Hun" lapor seorang namja berdarah China sembari membenarkan letak kacamatanya.
"Dari Room 9, Huang Zi Tao gugur, dan pemenangnya Moon Jong Up" lapor seorang namja tampan sembari tersenyum pada namja lain di sebelahnya.
"Dari Room 10, Kim Jong Dae gugur, dan pemenangnya Kim Seok Jin" lapor seorang namja ber-gummy smile sembari membalas senyum namja di sampingnya.
"Dari Room 11, Xi Lu Han gugur, dan pemenangnya Zhang Yi Xing" lapor seorang namja bertubuh gempal.
"Dari Room 12, Kim Jun Myeon gugur, dan pemenangnya Kim Min Seok" lapor seorang namja kekar mengakhiri laporan.
"Jadi yang tersisa?" Tanya seorang namja berwajah malaikat.
"Tersisa 12 orang. Kim Min Seok dari EXO Class, Wu Yi Fan dari EXO Class, Zhang Yi Xing dari EXO Class, Do Kyung Soo dari EXO Class, Oh Se Hun dari EXO Class, Bang Yong Guk dari B.A.P Class, Moon Jong Up dari B.A.P Class, Choi Jun Hong dari B.A.P Class, Kim Seok Jin dari BTS Class, Min Yoon Gi dari BTS Class, Kim Nam Joon dari BTS Class, dan Jeon Jung Kook dari BTS Class" laporan terakhir di bacakan oleh namja bertubuh kekar. Namja berwajah malaikat itu mengangguk-angguk paham.
"Lanjutkan" ucap namja berwajah malaikat itu tegas.
"Siap!" jawab ke-14 namja itu serempak.
ΩΩΩ
Suga membuka matanya. Lagi-lagi rasa pusing menyapa kepalanya. Setelah mencoba menyeimbangkan tubuhnya, Suga melihat sekitar. Ini lapangan depan. Suga menatap namja yang baru terbangun 5 meter di hadapannya dan Suga sudah menatapnya tak suka. Hingga akhirnya mereka saling tatap. Tak ada yang memulai di detik-detik awal.
Perlahan mereka berdua bangkit secara bersamaan. Suga memberikan sinyal peringatan pada namja di depannya. Tapi namja di depannya hanya memberikannya tatapan tajam.
Suga mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menurunkannya dengan cepat seperti gerakan menusuk.
DUAR!
Sebuah petir menyambar ke samping tempat namja itu berdiri, membuat namja itu terpental ke sampingnya. Bagian tangan kanannya agak gosong, sepertinya tanpa sengaja menyentuh petir buatan yang di layangkan Suga padanya. Namja itu berdecih, lalu dengan evil smirk, dia merapatkan tangannya yang terbuka lebar secara perlahan.
Dan seketika itu Suga merasa kaki hingga lututnya terhisap masuk ke dalam pasir yang di buat namja yang menjadi lawannya sekarang. Suga terkejut dan menatap namja di depannya itu tidak percaya. Sekarang Suga tidak bisa menggerakkan kakinya.
Suga mengendalikkan tanaman rambat(?) di sana. Tanaman itu mencoba mencekik namja di hadapan Suga dan menahan pergerakkan tangan penentu nasib Suga selama Suga mencari cara untuk keluar dari lubang pasir hidup buatan ini.
Tapi sayang, kosentrasi Suga yang terbagi 2, membuat apa yang di kendalikan Suga saat ini penguasaannya agak longgar. Hingga namja itu agak merapatkan lagi tangannya. Kini, seluruh kaki Suga sudah terhisap masuk. Suga mulai panik. Tapi karena ke panikkannya cengkraman tanaman rambat itu semakin menjadi di leher lawannya.
Namja itu agak merapatkan lagi tangannya karena gerakan spontan –mengingat cekikkan di lehernya semakin kuat—membuat kini perut Suga ikut terhisap. Suga yang semakin panik dan membuat power-nya kacau membuat tanaman rambat itu lagi-lagi agak melonggar. Kini kesempatan namja itu untuk melakukan lebih pada Suga.
Namja itu merapatkan tangannya sedikit demi sedikit. Membuat badan Suga sepenuhnya terhisap ke dalam pasir hidup. Hanya di sisakan kepalanya saja. Tentu saja itu membuat kendali Suga atas tanaman rambat itu hilang. Namja itu tersenyum menang.
"Yak! Lepaskan aku D.O Hyung!" teriak Suga dengan nada panik. D.O hanya tertawa merasa menang.
"Apa aku orang pertama yang bisa mengalahkanmu dengan mudah? Hahaha… Bahkan Kris Hyung yang kuat saja tak bisa mengalahkanmu" ucap D.O dengan kata-katanya yang terdengar sombong sekarang.
"Ini… belum… selesai… Argh! Lepas, D.O Hyung!" teriak Suga seadanya. Ntah kenapa tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya.
"Merasa sesak, eoh? Perlu kuingatkan, di dalam tanah tidak ada udara" jelas D.O dengan nada datar. Tidak mau berlama-lama, kini tangan D.O merapat sempurna. Membuat seluruh tubuh Suga terhisap ke dalam tanah bagai di kubur hidup-hidup. Lagi, D.O tertawa merasa menang. Beberapa detik berlalu, keadaan sangat sepi di sana. Hingga…
SRET! SRET!
2 tanaman rambat mengunci pergelangan tangan D.O. D.O berusaha berontak tapi nihil, tanaman rambat ini sangat kuat.
DUAK!
Suga keluar dari tanah di belakang D.O. Suga berjalan ke hadapan D.O yang kini tidak bisa melakukan apa-apa. Suga menatap D.O lekat. Tangan Suga terulur mengangkat dagu D.O. Sekarang bergantian, D.O yang panik.
"Mau membunuhku, eoh? Kau tidak bisa semudah itu melangkahi jasadku, D.O Hyung yang manis…" ujar Suga dengan smirk lalu mundur 2 langkah dari D.O. Terlihat pipi D.O agak merona yang terlihat sangat manis di mata Suga. "Hmm… Sekarang aku mengerti kenapa Kai Hyung mencintaimu" gumam Suga. Beberapa detik Suga terus menatap D.O. "Aku tidak mau berlama-lama lagi. Dimana Jiminnie-ku?" Tanya Suga dengan penekanan di kalimat terakhir. D.O tersentak.
"Mwo? N-Nan molla… Aku tidak bersamanya tadi. Aku baru saja mengalahkan V~ah" jelas D.O tidak mengerti atas pertanyaan Suga. Suga mengangguk-angguk.
"Jadi V~ah sudah tersingkirkan? Arraseo. Emmh,… Karena aku tidak puas dengan jawaban D.O Hyung, jadi… selamat tinggal…" ucap Suga dengan senyum miringnya.
Lagi-lagi tanaman rambat mencekik leher D.O erat. Bahkan kini D.O sudah terbatuk-batuk atas ulah Suga. Saat di rasa kesadaran D.O hampir menghilang, Suga melepaskan seluruh ikatan tanaman rambat yang melekat di tubuh D.O. D.O ambruk dengan posisi telungkup dan kepala yang menoleh ke kiri.
Perlahan kesadarannya hilang. Setelah melihat D.O tak bergerak sama sekali, Suga mendekat dengan santai kearah D.O. Berjongkok dan mengusap rambutnya.
'Dia masih hidup' batin Suga lega. "Mianhne, Hyung" gumam Suga lalu bangkit. Lagi, tiba-tiba dia merasa kepalanya berat dan pusing menghalaunya terlalu cepat. Hingga ia tak sadarkan diri kembali.
ΩΩΩ
Sementara itu, di ruangan yang lebih tertutup, 15 namja paruh baya tengah menahan nafas mereka akibat tayangan yang di lihat merek dari monitor.
"Dari Room 1, Do Kyung Soo gugur, dan pemenangnya Min Yoon Gi" lapor namja cantik itu.
"Dari Room 2, Choi Jun Hong gugur, dan pemenangnya Wu Yi Fan" lapor si namja mungil.
"Dari Room 3, Kim Min Seok gugur, dan pemenangnya Kim Nam Joon" lapor namja tampan.
"Dari Room 4, Zhang Yi Xing gugur, dan pemenangnya Bang Yong Guk" lapor namja bertubuh gempal.
"Dari Room 5, Moon Jong Up gugur, dan pemenangnya Kim Seok Jin" lapor namja bertubuh kekar.
"Dari Room 6, Oh Se Hun gugur, dan pemenangnya Jeon Jung Kook" lapor namja berkepala besar. Namja yang mendegar laporan itu hanya mengangguk-angguk.
"Tersisa 6 orang lagi, ne? Lanjutkan" perintah namja berwajah malaikat itu tegas.
"Baik!" jawab ke-14 namja lain tanpa bantahan.
AUTHOR POV END
~TBC/Delete?~
A/n: Gk nyadar ampe 9 page bikinnya. '-' Mudah2an ini udh ckup panjang. Jeosonghamnida klo fokusnya ke Suga terus. #Bow# Review, please… ^^
