Chapter 5

Title: The Halfs

Author: Lee Shikuni

Genre: Fantasy, friendship, romance

Archip: Sad ending, chapter, yaoi

Cast: -All members EXO

-All members BTS

-All members B.A.P

-All Members Super Junior

-And OC (Jika di perlukan *Jaga2*)

Warning: Yaoi Fanfic! DLDR! Setelah bca hrs di review, donk… ^^ Official Couple. Kecuali BTS.

A/n: Happy reading… ^^

AUTHOR POV

Suga membuka matanya. Keadaan yang sama ia dapati dirinya pusing setengah mati saat sadar. Sekarang dia berada di aula sekolah.

DOR!

Sebuah peluru tertembak tepat di samping mata Suga. Membuat goresan kecil di sana. Suga tidak meringis atau apa pun. Dia terlampau terkejut karena sibuk menyeimbangkan tubuhnya.

"Aku ingin tahu, seberapa tangguh Life Power yang di miliki kaum Half di dunia ini" ucap seorang namja dengan wajah sinis. Suga menatapnya lekat.

"Kau tidak bisa membunuhku" ucap Suga pelan. Namja di hadapannya terkekeh.

"Tentu, saja. Jika aku sampai membunuhmu, itu adalah ke salahan yang paling fatal dalam hidupku. Bukankah kau sangat langka, Min Suga?" Tanya namja itu dengan nada sinis. Suga yang terduduk itu kini berusaha berdiri.

"Sedih rasanya mendengar sejarah jenisku terlahir 1000 tahun(?) sekali" gumam Suga yang di pastikan masih dapat di dengar lawannnya sekarang.

"Jika aku membuatmu mati, berarti aku juga mati" gumam namja itu lalu menyerang Suga dengan cepat. Tapi sebelum namja itu mendekat, Suga segera menghindar. Jujur saja, tubuh Suga masih lelah setelah pertandingan sebelumnya.

Namja itu terus menyerang Suga tanpa henti dengan senjata yang berbeda-beda yang dapat di keluarkan namja itu sesuai keinginannya seperti sihir. Sedang Suga terus mencoba menghindar. Dia harus mengimpun powernya dulu dan berpikir apa yang akan dia lakukan pada lawan barunya ini.

"Apa kau tidak lelah, Yong Guk Hyung?" Tanya Suga.

"Apa kau tidak lelah, Yoon Gi~ah? Kau terus saja menghindar dari seranganku. Apa kau takut? Cih! Seorang Life Power sepertimu, sepertinya pantas mati, ne?" tantang Yong Guk.

Suga mulai emosi. Bahkan dia hampir meledakkan seluruh benda yang ada di sekitarnya. Tapi dia ingat, seorang Half harus bisa mengontrol emosinya agar power-nya tidak terbuang sia-sia. Lagi pula, dia tidak boleh membunuh lawannya. Hanya membuatnya jatuh tak sadarkan diri, saja. Yah~ Setidaknya itu yang di perintahkan otaknya. Eh? Apa dia baru saja di 'bisiki'?

"Aku tidak mau melukaimu, Hyung…" gumam Suga pelan.

"Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan padaku" tantang Yong Guk seperti tuli atas gumaman Suga. Padahal dia jelas mendengar itu. Kini Suga menatapnya dengan pandangan memohon. Tanpa basa-basi, Yong Guk mengarahkan pelatuknya kearah Suga.

BOOM! SRAK! DUAK!

"Argh!" ringis Suga saat dia kembali terpental untuk yang ke-2 kalinya mengenai sisi pelindung. Punggungnya terasa panas dan lagi-lagi sedikit tenaganya menguap ntah kemana. Padahal dia belum membalas serangan Yong Guk satu pun. Kini tubuhnya terbungkus sejenis jaring yang di keluarkan Yong Guk dari pelatuknya. 'Aku merasa babbo terperangkap jaring babbo seperti ini' batin Suga. Tiba-tiba Suga mendengar tawa kemenangan dari Yong Guk. Suga mendecih kesal.

"Mudah sekali meringkusmu, Suga~ah. Kau tidak berkonsentrasi di pertandinganmu kali ini" ucap Yong Guk so' bijak.

'Aku memang tidak pernah serius, untuk apa berkonsentrasi penuh pada sebuah pertandingan konyol macam ini?' batin Suga kesal.

Yong Guk terus memperhatikan Suga yang kini tengah merutuki Yong Guk dalam hatinya dengan manatap tajam mata Yong Guk. Seolah tidak peduli, Yong Guk membalikkan badannya dan melangkah menjauh dari Suga.

Melihat itu, Suga berusaha melepaskan jaring yang membungkus dirinya dengan sekuat tenaga.

SRAK!

Rusak sudah jaring itu. Yong Guk yang mendengar suara robekkan membalikkan tubuhnya ke belakang secara perlahan. Dan dia… tidak mendapati Suga di sana. Yong Guk segera berlari kecil ke tempat Suga tadi. Dia berjongkok dan mengambil seutas jaring miliknya yang telah rusak.

'Dimana dia bersembunyi?' batin Yong Guk bertanya dan matanya mulai menatap sekitar. 'Oh, atau jangan-jangan…' batin Yong Guk dan perlahan mendongakkan kepalanya keatas.

BUGH!

Saking terkejutnya, Yong Guk tak sempat menghindar dari serangan Suga yang mendadak. Suga menendangnya dengan sekuat tenaga. Membuatnya kini menyentuh dinding aula sekolahnya sekaligus sisi pelindung. Senjatanya pun tak sengaja terlepas tadi.

Ntah perasaannya atau apa, Yong Guk merasa kakinya dingin. Dingin sekali. Dengan cepat dia menatap kakinya yang sekarang mulai membeku. Yong Guk membelalakkan matanya. Lalu menatap Suga yang kini tengah ber-expresi menyeramkan –menurutnya— tengah mengendalikan es. Es itu kini menyelimut tubuh Yong Guk sepenuhnya. Tiba-tiba Suga menghentikan pergerakkan tanganya yang mengendalikan es itu.

"Yong Guk Hyung tahu dimana Jiminnie-ku?" Tanya Suga dengan nada datar.

"Ani. Selama pertandingan… aku… tidak melawan… atau melihat Jimin~ah…" jawab Yong Guk dengan lirih di akhir kalimat. Tubuhnya terasa lemas sekarang.

"Aku tidak puas dengan jawabanmu, Hyung" ucap Suga santai. Sekarang Suga membekap mulut Yong Guk dengan es. Membuat Yong Guk tidak bisa berbicara. Punggung Yong Guk pun sudah menempel pada sisi pelindung. Seluruh tenaganya hilang seketika.

Di tengah kesadarannya Yong Guk melihat Suga mulai mendekatinya pelan dengan seringai di wajahnya. Tapi setelah itu, Yong Guk tidak tahu apa yang akan di lakukan Suga padanya.

Suga terkekeh pelan melihat hasil karya es yang paling di banggakannya. Saat sudah berada di depan Yong Guk yang kini tak sadarkan diri, Suga melakukan hal yang sama pada lawannya yang lain. Mengelus kepala Yong Guk pelan. Lalu bergumam 'maaf', lalu kesadarannya menghilang lagi.

ΩΩΩ

Sedangkan di ruangan lain. Ruangan yang sama seperti chapter sebelumnya, 15 namja paruh baya masih dengan kegiatannya beberapa jam yang lalu. Memperhatikan layar monitor di depannya dengan sangat serius.

"Dari Room 1, Jeon Jung Kook gugur, dan pemenangnya Kim Seok Jin" lapor namja berwajah oriental.

"Dari Room 2, Kim Nam Joon gugur, dan pemenangnya Wu Yi Fan" lapor namja imut nan manis dengan suara riang ntah karena apa.

"Dari Room 3, Bang Yong Guk gugur, dan pemenangnya Min Yoon Gi" lapor namja bertubuh gempal.

"Tersisa 3 orang lagi yang akan masuk ke babak final. Mereka sudah di pindahkan ke lapangan bawah tanah" laporan terakhir di lontarkan namja berbadan kekar.

"Mereka ber-3 masuk final? Jadi mereka akan battle ber-3?" Tanya namja berwajah malaikat memastikan.

"Ye" jawab namja berbadan kekar itu.

"Sepertinya akan seru. Lanjutkan" perintah namja berwajah malaikat itu.

"Ye" jawab ke-14 namja lain.

ΩΩΩ

Ketiga orang namja secara bersamaan membuka mata mereka. Masing-masing dari mereka menyeimbangkan keadaan tubuhnya sendiri. Kini mereka berada di lapangan bawah tanah. Lapangan yang biasa mereka pakai untuk tanding atau latihan massal.

"Aku merasa di permainkan" gumam Suga seraya berdiri.

"Kapan ini akan berakhir?" Tanya Kris ntah pada siapa.

"Kalian berantakan sekali" ujar Jin sembari menatap 2 lawan di depannya yang penampilannya sudah tidak berbentuk(?). Suga dan Kris memperhatikan Jin yang tanpa luka. Hanya ada beberapa yang kotor di sisi wajahnya dan bahkan bajunya pun tak seberantakan mereka.

'Aku curiga dia ke salon terlebih dahulu' kira-kira itulah batin Suga dan Kris saat melihat penampilan Jin yang masih bisa di bilang baik-baik saja.

Tanpa aba-aba, Kris tiba-tiba menyerang Jin. Jin yang memiliki reflex yang bagus dengan mudah bisa menghindar dengan cepat. Suga hanya melihat mereka yang sedang berkelahi.

"A-Apa kalian tidak merasa di permainkan?" Tanya Suga membuat perkelahian itu terhenti.

"Maksudmu?" Tanya Kris tidak mengerti.

"Yah~ Kita terbangun di lapangan depan lalu tiba-tiba kalian di setting untuk menghabisi siapa pun yang ada di hadapan kalian. Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang terjadi" ujar Suga.

"Apa pun itu, menghabisi lawan adalah perintah otakku saat ini. Dan kalianlah lawanku!" teriak Kris di akhir kalimat. Tiba-tiba muncul seekor naga berukuran besar di depannya. Jin sudah mengambil ancang-ancang.

'Kenapa mereka tidak bisa berpikir jernih? Aish! Otak Half pemula sangat mudah untuk di kendalikan dan di set ulang' batin Suga kesal.

Suga melihat pertarungan Jin dan Kris. Jin terus berusaha keras untuk mendekati Kris. Dan naga Kris yang terus menghalangi pergerakan Jin. Melihat itu selama 1 menit membuat Suga bosan. Dia merasa di lupakan di arena ini.

"Hoaam~ Kapan ini akan selesai?" gumam Suga seraya melangkah ke pinggir lapangan lalu berbaring sembari melihat mereka. Hingga dengkuran lembut terdengar dari mulut Suga. *Ckckck… Lagi gawat malah tidur… -_-*

"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa ada di sini dan melawanku, Seok Jin~ah!" teriak Kris yang sibuk memberi aba-aba pada naganya.

DUAR!

Sebuah bola api akhirnya berhasil mengenai perut rata Jin. Jin terpental ke sisi pelindung. Posisinya yang terduduk dengan kepala menunduk dan asap yang keluar dari perut ratanya yang terlihat memerah akibat panas.

"Kau tidak mengerti? Hahaha!" tawa sinis keluar dari bibir Jin. Lalu dia mencoba berdiri. "Ini karena kemampuan self healing-ku yang membuatku mudah untuk menyembuhkan luka pada tubuhku" jelas Jin. Kris melihat perut rata Jin yang semakin lama, lukanya semakin tertutup dan tiba-tiba hilang tanpa bekas. Self healing-nya bekerja sangat cepat. Kris mendecih.

"Apa pun yang terjadi aku yang akan menang. Dan keluar dari permainan ini dengan selamat" ucap Kris menyombongkan power miliknya.

"Power-ku 1 tingkat lebih tinggi dari Lay-ge, teman sekelasmu itu, meski aku bahkan lebih muda darinya" ucap Jin dengan wajah sinis.

Ntah terbakar emosi dari mana, Kris menyerang Jin habis-habisan. Hingga Jin ke walahan melayaninya.

DUAK!

Sayap naga Kris membanting telak Jin kearah Suga yang tengah tertidur. Membuat Suga yang berada di belakang Jin menyentuh sisi pelindung dengan keras.

"Argh!" teriak Suga saat di rasa sekarang setengah dari tenaga seadanya(?) hilang.

BOOM!

Dengan bola api yang cukup besar, Kris melayangkannya kearah Jin. Suga yang merasakan sinyal berbahaya segera berlari menjauhi Jin meski terjatuh-jatuh.

Dan selesai! Jin tak sadarkan diri dengan tubuh memerah juga mengeluarkan asap saking panasnya. Mungkin kali ini self healing-nya tidak bisa bekerja dengan sangat cepat.

Suga yang melihat itu tercekat. Lalu menatap Kris yang sekarang tengah menatapnya tajam.

Tiba-tiba Suga berjalan perlahan kearah Kris. Ntah apa yang dia pikirkan. Matanya hanya tertuju pada mata Kris. Tersirat amarah di mata Suga. Berkali-kali naga Kris mencoba menepis pergerakkan Suga. Tapi nihil. Suga seperti tak memiliki jasad. Berulang kali sayap naga Kris menembus tubuhnya dan tak terjadi apa-apa pada Suga. Seperti… bayangan.

Kini Suga sudah berada di depan Kris. Kris pun sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu apa yang di lakukan olehnya nanti pasti sia-sia, karena dia tidak akan mungkin bisa menyentuh Suga.

Tangan Suga dengan cepat dan kuat, mencengkram rahang bawah Kris lalu mengangkatnya setinggi yang ia bisa. Ntah sadar atau tidak, Suga melempar Kris hingga menyentuh sisi pelindung dengan keras. Kembali Suga melangkah mendekat dengan wajah datar.

Naga Kris menggeram melihat itu. Suga menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap naga Kris yang menatapnya penuh benci. Tangan Suga terangkat lalu dia menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, asap berkumpul di samping naga itu dan membentuk seekor naga betina berwarna biru pekat. Naga Kris yang melihat itu mulai menatap lawan barunya. Suga ber-smirk melihat itu. Berarti acaranya menghabisi Kris tidak akan terganggu lagi oleh naga Kris yang besar dan tidak berguna itu.

Suga berbalik menghadap Kris kembali. Kris panik saat melihat 2 naga di belakang Suga. Bahkan hingga tak memperhatikan Suga yang mendekat kearahnya.

Lapangan berlantai baja murni itu tiba-tiba mencuat membentuk 4 titik di sekeliling Kris atas perintah tangan Suga. Ke-4 titik yang di buat Suga itu mencuat setinggi 2 meter keatas. Dan melengkapinya dengan cuatan-cuatan lain. Kini Kris seperti berada di dalam jeruji.

"Yak! Apa yang kau laukan padaku, Yoon Gi?! Lepaskan aku!" teriak Kris.

"Asal kau menjawab dengan benar, Kevin. Dimana Jiminnie-ku?" Tanya Suga. Kris menggeram karena panggilan itu lagi.

"Molla!" jawab Kris asal. Mencoba tak peduli.

"Begitukah? Geurae. Aku juga mencoba untuk tidak mempedulikanmu" ucap Suga. Lalu ntah listrik darimana, Suga dapat mengalirkannya pada ke setiap sisi jeruji yang mengelilingi Kris.

Kris yang saat itu memegang salah-satu sisinya ikut menerima sengatan ber-volt besar itu. Seketika Kris tak sadarkan diri. Suga menghentikan penyerangannya. Dia mengembalikan cuatan jeruji itu seperti semula. Suga manatap Kris iba.

"Mianhne, Hyung" gumam Suga.

JRASH!

Tiba-tiba Suga di kejutkan oleh suara yang berasal dari atas kepalanya. Pelindung transparant itu terbuka. Terlihat dari sisi-sisi terbukannya yang berwarna ungu. Setelah terbuka semua, Suga segera keluar dari lapangan itu. Ntah sejak kapan naganya juga naga Kris telah menghilang. Sedari tadi yang mengganggu pikirannya hanya Jimin seorang. Dia harus mencarinya. Tapi kemana?

Suga mencari Jimin ke seluruh gedung sekolah dan gedung asrama. Kali ini semuanya terbebas dari pelindung trasnparant ntah buatan siapa. Tapi nihil, Suga tak menemukan pujaan hatinya.

Suga berpikir untuk mencari seorang Sonsaengnim yang mungkin bisa membantunya. Tapi saat berada di depan pintu ruang guru, Suga tidak juga masuk. Ruangannya gelap jika di lihat dari celah atas pintu. Sepertinya memang tidak ada siapa-siapa. Kemana semua orang? Akhirnya Suga memutuskan mencari di tempat lain.

CLEK!

Suara itu muncul saat Suga berbalik. Dan…

BUGH!

Suara itu adalah suara terakhir yang Suga ingat, sebelum penglihatnnya menjadi gelap.

ΩΩΩ

Suga membuka matanya perlahan. Dia berada di sebuah ruangan ntah apa. Di sini gelap dan di depannya ada sebuah layar monitor yang memperlihatkan seorang namja tengah terikat dengan posisi tergantung.

Suga menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi siapa yang ada di layar itu. Hingga matanya terbelalak saat mengenal namja itu.

"Ruangan itu kedap suara juga udara. Sudah lama dia di sana. Aku tidak yakin dia bisa selamat" ucap sebuah suara ntah dari mana asalnya. Suga tidak peduli.

Suga yang merasa harus cepat seketika itu juga mencari pintu dan keluar dari ruangan itu. Ternyata dia ada di gedung sekolah. Lantai paling atas. Dia pernah ke sini sebelumnya untuk ke atap. Tapi hanya iseng. Sekarang dia harus mencari ruangan yang terdapat Jimin-nya di dalamnya.

Suga merasa pernah tahu tempat itu. Tapi dimana? Sementara kakinya melangkah menuruni tanggan di gedung sekolah, Suga mencoba mengingat-ingat dimana ruangan Jimin-nya berada. Dan saat dia menapaki kakinya di gedung asrama… Bingo! Suga ingat dimana ruangan itu berada.

Suga segera mempercepat langkahnya menuju atap asrama. Di atap asrma ada sebuah gudang tua. Ukurannya tidak terlalu besar. Tapi Suga yakin Jimin-nya berada di sana.

Sesampainya di depan pintu gudang tua itu, Suga mencoba membukanya. Tapi terkunci. Suga mencoba mendobraknya tapi tidak bisa. Perasaan panik sudah menjalarinya. Jimin tidak bisa bernafas di dalam sana. Akhirnya setelah mengumpulkan tenaganya, ia menendang pintu itu.

BRAK!

Dan berhasil terbuka. Tanpa lama, Suga segera masuk dan mendapati Jimin-nya dengan kondisi yang sama seperti yang dia lihat di layar monitor. Bahkan mulut Jimin di tutupi sehelai kain. Oh, Suga tidak akan kuat melihat ini.

"Ji-Jiminnie…" panggil Suga dengan nada lirih. Tanpa terasa air mata menggenang di pulupuk matanya. Perlahan kelopak mata Jimin terbuka. Mata itu menyiratkan ketakutan juga kerinduan. "A-Aku di sini Jimmnie, kau tidak perlu takut" ujar Suga menenangkan.

Jimin tak lagi fokus pada namjachingu-nya saat ia melihat di pintu siluet orang asing. Keadaan langit yang mendung di luar membuat penerangan minim di sini.

BUGH!

Lagi, Suga tak sadarkan diri. Jimin yang melihat itu hanya bisa menahan tangisnya. Apa yang bisa ia lakukan?

"Sebaiknya kau juga tidur, Park Jimin" ucap orang itu lalu menyuntikkan sesuatu ke lehernya. Perlahan pandangannya mengabur, hingga mata itu terpejam.

ΩΩΩ

Mata Suga mengerjap. Menyesuaikannya dengan cahaya. Saat Suga menyadari dia tidak di kamarnya, dengan spontan dia bangun. Pening segera menyapanya. Lagi-lagi Suga harus menyesuaikan tubuhnya.

"Mwohani? Kau harusnya beristirahat, Suga~ah" ujar suara seseorang.

"Ugh~ Ige eoddiga?" Tanya Suga, lalu menatap namja berdimple di depannya ini.

"Dimana lagi?" namja itu balik bertanya alih-alih menjawab. Suga memutar bola matanya malas. Ini Ruang Kesehatan.

"Eee… Jimin?" Tanya Suga pada namja itu yang kini berjalan ke ranjang di seberangnya. Di sana Jimin-nya terbaring.

"Tenang saja, dia tidak apa-apa. Kami sempat kesulitan mengembalikkan nafasnya yang pendek-pendek setelah di sekap di gudang kecil itu. Hihihi… Academy terkadang kejam, ne?" jelas namja itu. Suga menatapnya tidak mengerti.

"Apa maksudmu, Hyung?" Tanya Suga tidak mengerti.

"Semua ini, adalah permainan yang di buat Academy untuk kita. Melihat ketangguhan kita saat lawan di pilih secara acak" jelas namja yang lebih tua dari Suga itu. Suga mencerna sejenak. "Kau harus banyak istirahat. Lukamu cukup parah di bagian punggung juga tengkuk. Beruntung di pukul seperti itu tidak membuat tengkukmu patah" jelas namja itu.

"Gamsahamnida, Lay Hyung…" ucap Suga dan di balas anggukan oleh Lay lalu dirinya keluar dari ruangan Suga.

Suga menatap Jimin lekat. Dia sangat khawatir. Bagaimana keadaan Jimin saat dia tengah bertarung dengan lawan-lawan babbo-nya?

"Eungh~" lenguh Jimin lalu membuka matanya. Jimin melihat sekitar dan mendapati Suga tengah tersenyum khawatir melihatnya. "Jangan tersenyum seperti itu, Hyung" kata pertama yang di ucapkan Jimin itu membuat Suga terkekeh kecil. Suga bangkit dari ranjangnya, lalu duduk di kursi sebelah ranjang Jimin.

"Gwaenchana? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Suga seraya mengambil tangan Jimin yang paling dekat dan menggesek-gesekkannya pada pipinya sendiri. Jimin terkekeh melihat Hyung-nya itu.

"Naneun gwaenchanayo…" jawab Jimin. Untuk beberapa detik suasana hening kembali. Jimin tersenyum melihat Suga yang tak menghentikan kegiatannya. "Nan jeongmal bogoshipoyo~" gumam Jimin. Seketika Suga menghentikan kegiatannya dan menatap mata Jimin lekat.

"Nado~ Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu, Jiminnie?" Tanya Suga seraya bangkit dari duduknya dan menyatukan kening mereka berdua. Jantung mereka sama-sama berdebar keras.

Perlahan tapi pasti, Suga menyatukan bibir mereka. Untuk beberapa detik tetap begitu. Suga menjauhkan diri sedikit dari Jimin.

"Jangan buat aku khawatir lagi" gumam Suga.

"Ne" jawab Jimin pasrah. Setelah itu, Suga mulai melumat lembut bibir Jimin yang di balas oleh Jimin. Dan 'kiss momment' mereka menutup cerita di chapter ini.

AUTHOR POV END

~TBC/Delete?~

A/n: Ok, yang ini juga ke bablasan 9 page again. _ Tp tunggu. Di adegan terakhir kenapa serasa YoonMin ya, bukan MinSuga? Hehehe… Shi kayaknya kebawa karakter Suga di sini. Semoga chap ini memuaskan. Review, please… ^^