Disclaimer: I Don't Own The Characters

Warning : OOC, AU, Mainstsream dll

Song : Seikatsu – Super Beaver

Piece 2

Keesokan harinya para personel band Shipuden berkumpul di dalam studio. Tampang mereka terlihat frustasi. Sai menekan tuts asal, Shikamaru memetik Bassnya, Sasuke memetik gitarnya, sekali-kali dia menulis sesuatu di partitur tapi lalu dicoretnya dan diremasnya kertas itu dengan wajah kesal, Choji memukul drumnya tanpa semangat, Naruto menarik rambutnya dengan wajah depresi tingkat akut.

"ah, ide gue buntu nih" teriaknya akhirnya. "menulis lagu memang nggak bisa dipaksain, harus dapat feelnya kalau lagi nggak mood mana bisa" Shikamaru masih fokus pada bassnya. Naruto berdiri. "mau kemana?" tanya Sai melihat Naruto melangkah kearah pintu. "nyari inspirasi"lalu berlalu.

Naruto berjalan menyusuri koridor, mukanya terlihat kesal bagaimana tidak ,otaknya sama sekali tidak mau diajak untuk membuat lagu. Dia melewati ruang musik dan terhenti karena mendengar dentingan gitar. Dia menoleh kecelah pintu berusaha meilihat siapa yang bermain gitar. Pandanganya terpaku pada seseorang yang sedang duduk menyamping di jendela ruang musik yang memang besar itu. Disipitkannya matanya karena cahaya matahari yang silau membuatnya hanya seperti siluet yang abstrak. Matanya membulat melihat rambut indigo yang berkibar ditiup angin.

Hinata Hyuga. Naruto membeku saat tiba-tiba gadis itu bernyanyi.

"Hadasamui yoru ni hisabisa ni kiita love song
Chikuri to mune wo sashita sabishi sa wa kokochi yoku mo atta
Tsuugakuro datta michi wo hisabisa ni aruite omoi dasu no wa
Kekkon shiki no shou taijou ga sou ieba todoite ita tte koto
Ie nakatta kotoba wo koukai shite iru aida ni
Sore sura nomikonde itta seikatsu"

Suaranya yang merdu dan lembut menghentikan aliran darah itu menyanyikan Seikatsu dari Super Beaver, lagu pelan yang memang cocok dengan karakter suaranya yang lembut, bahkan pada saat nadanya seharusnya mulai tinggi dan cepat cewek itu berhasil membawakannya tetap lembut.

"Kikanaku natta love song aru ka naku natta eki mae
Awanaku natta tomodachi nomeru you ni natta biiru
Fuan mo kitai mo koukai mo nomi konde itta seikatsu
Fuan to kitai wo ima demo hakidashi tsudzukete iru seikatsu
"

Tanpa Naruto sadar dia ikut bernyanyi walau tanpa bersuara, yah bisa gawat juga kalau sampai gadis itu tahu dia ada disana.

Hinata selesai menyanyikan lagunya dan bangkit berdiri tapi Naruto masih terdiam, baru saat gadis itu melangkah mendekati pintu dia cepat-cepat menyelinap ke balik loker. Hinata keluar lalu pergi untung dia berjalan kearah yang berlawanan dengan tempat sembunyi Naruto. Setelah gadis itu cukup jauh barulah Naruto beranjak, diperhatikanya Hinata yang berjalan.

"gadis itu tidak bisu, tapi kenapa dia diam saja. Suaranya benar-benar luar biasa" batin pemuda itu. "cantik, bersuara merdu tapi dingin..., aku pasti akan membuatnya bicara" tekadnya.

"sudah dapat inspirasi?" tanya Sai saat melihat Naruto yang memasuki Studio. Naruto menggeleng lalu menutup pintu. "kalian bagaimana, ada kemajuan?" Naruto balik bertanya. Keempat sahabatnya kompak menggeleng dengan lesu. "bisa kulihat jelas" angguk Naruto melirik tumpukan kertas yang bertebaran didekat Sasuke, sebagian terlihat sudah diremas sebagian yang tidak tampak penuh coretan frustasi.

"yah seperti yang Shikamaru bilang sebelumnya, menulis lagu itu tidak bisa dipaksakan" Sasuke mulai membereskan kertas-kertas dan membuangnya ke tempat sampah. "kita pulang saja yuk, suntuk nih" ajak Choji. "oke deh"jawab Shikamaru melepas bassnya. Mereka keluar dari gerbang sekolah Naruto melihat kekiri dan kanan sebentar. "cari apa?" tanya Sasuke melihat tingkah kawanya. "tidak ada" gumam Naruto. "where is she?" batin Naruto.

Pagi hari Naruto berjalan memasuki kelasnya, dia berpaspasan dengan Hinata. "hai" sapa Naruto ramah. Hinata menatapnya sebentar lalu berlau melewati Naruto. "dingin banget, mungkin gue perlu metode lain untuk membuat dia bersuara" pikir Naruto lalu memasuki kelasnya.

Pada saat jam istirahat."Sakura kamu dipanggil sama guru Kakashi" panggil seorang teman sekelasnya Sakura. Sakura yang bersama teman-temannya terlihat bingung. "buat apa?" balasnya. Anak itu mengangkat bahu. "entahlah, kamu disuruh kekantor sekarang". Sakura berpandangan dengan sahabatnya. Mereka juga bingung tapi dari pandangan mereka, mereka menganjurkan Sakura untuk menghadap guru Kakashi.

Sakura berjalan kearah kantor dengan perasaan cemas. "kenapa aku dipanggil ya, apa aku sudah berbuat salah, apa kami tidak diperbolehkan membuat band?" dia bertanya-tanya dalam hati. Saat dihadapan meja guru Kakashi dia bertemu Sasuke. Sakura benar-benar terkejut, Sasuke pun sama matanya yang tadi redup terlihat kaget.

"Sasuke, Sakura silahkan duduk " kata Kakashi. Sakura duduk dengan ragu dan menatap gurunya dengan cemas. "begini ulang tahun sekolah kita yang kelima puluh tinggal sebulan lagi" Kakashi menghentikan sebentar ucapannya, Sakura dan Sasuke menunggu perkataan Kakashi dengan penasaran. "jadi saya ingin band kalian berkolaborasi untuk mengisi acara ini" sambungnya. "APA?! BERKOLABORASI?!" teriak Sakura dan Sasuke bersamaan tanpa sadar.

Kakashi tampak kaget dengan reaksi kedua muridnya dia sampai memundurkan punggungnya. "ada apa memangnya, kenapa kalian sangat shock begitu?" tanyanya heran. "ah ti-tidak apa-apa guru" jawab Sakura tergagap. Kakashi mengangguk, "saya berharap kalian bersedia, karena ini penting untuk sekolah kita" ujarnya serius. Sakura dan Sasuke mengangguk dengan terpaksa.

Sasuke menghampiri keempat kawannya yang asyik bercengkrama di bangku mereka masing-masing. Keempatnya menatap Sasuke. "guys, gue punya berita buruk dan baik untuk kita" katanya serius. "kalian mau denger yang mana dulu?" lanjutnya. "berita baik" sahut Choji cepat. "berita baiknya kita akan tampil di acara ulang tahun sekolah " jawab Sasuke. "wow keren" Naruto berteriak senang. Sasuke menghela nafas sebelum bicara lagi, "berita buruknya kita akan berkolaborasi dengan Ars Ladies". "HAH?!"

Sakura kembali kekelasnya dengan perasaan campur aduk. Dia menghenyakkan tubuh ke bangkunya. Ketiga sahabatnya segera mengerubunginya. "ada apa kamu dipanggil tadi?" tanya Ino. "apa ada masalah?" Tenten memperhatikan ekspresi Sakura yang depresi. "girls, kita harus berkolaborasi dengan..." Sakura menghentikan ucapanya untuk mengumpulkan segenap kekuatan untuk menyambung kalimatnya. "dengan?" tanya Temari memiringkan kepalanya. "band Shipuden". "WHAT?!"

"yang benar?!" Naruto bertanya atau lebih tepatnya berteriak ke arah Sasuke. Sasuke hanya mengangguk, mengiyakan. "pasti ada yang salah dengan pikiran guru Kakashi" gumam Shikamaru. "bagaimana caranya kita bisa berkerjasama dengan mereka?" tanya Choji muram. "setelah kejadian yang kemarin, ini tidak akan mudah" Sai menghembuskan nafasnya.

"mustahil!" Ino jelas sekali shock. "ka-kamu ng-nggak bercanda kan?" Tenten tergagap. Sakura menggeleng lesu. "kita mana mungkin bisa melakukan hal itu" Temari benar-benar gelisah. "tapi apapun yang terjadi kita tetap harus melakukanya, semustahil apapun" Sakura menekan kan dua kata terakhir.

Tenten berlari dari arah ruang ganti, dia baru sadar kalau tidak sengaja meninggalkan dompetnya saat mengganti seragam pada pelajaran olah raga, sekarang dia harus ke studio karena dia dan teman-temannya akan bicara dengan band Shipuden sehabis pulang sekolah. Dia melewati ruang musik masih sambil berlari tapi tiba-tiba dia mengerem langkah saat telah beberapa langkah pintu dia lewati dan berjalan mundur. Tenten mengintip kedalam karena saat berlari tadi rasanya dia mendengar suara piano.

Dia dapat melihat sosok yang sedang duduk di depan grandpiano ruang musik. Cowok berambut panjang bermata abu-abu menghadap piano kesepuluh jarinya menari diatas tuts-tuts piano. Tenten tidak tahu lagu apa yang diamainkan tapi sepertinya lagu klasik. Irama lagu itu cepat dan tegas membuat Tenten merinding.

"Neji Hyuga. Aku tahu dia seorang pianis tapi tidak kuduga permainannya begitu jenius" bisik Tentem dalam hati. Matanya tidak sengaja melihat jam tangan saat memegang pintu. "ya ampun aku lupa aku harus segera ke studio" rutuknya. Lalu gadis itu kembali berlari.

Naruto baru saja melangkah keluar dari kelas dia baru saja menyelesaikan tugas piketnya, semua sahabatnya sudah terlebih dulu pergi ke studio. Dia bertemu lagi dengan Hinata. Hinata melangkah kekiri tapi Naruto ikut melangkah kekiri, Hinata mencoba melangkah kekanan tapi Naruto juga melangkah kekanan. Hinata menenggadah menatap Naruto dengan pandangan kesal, Naruto hanya menyeringgai dia memang sengaja menghambat gadis bermata abu-abu itu.

"kau ini kalau mau jalan kasih tahu dong arahnya mau kemana kan jadinya bingung" ujar Naruto. Hinata mengindahkan pemuda itu dan kembali berusaha pergi tapi Naruto tetap mencegat jalannya. "ini cowok maunya apa sih?!" batin Hinata kesal. "jangan dingin gitu dong, hawanya jadi serem gini" ucap Naruto lagi. Hinata menatapnya tajam, sebenarnya Naruto sudah mulai ciut nyalinya menghadapi tatapan tajam dari gadis dingin dihadapannya.

"hei kau ini kenapa sih, ngomong dikit kek memangnya kau tahan bisu begitu" Naruto mencoba untuk membuat Hinata bicara. 'cowok ini kenapa belum juga pergi ?!' Hinata gemas sendiri. "ah kamu pasti nggak biasa menghadapi pemuda tampan seperti aku ya, makanya diam saja" Naruto kembali mencoba. "dasar narsis!"rutuk Hinata dalam hati.

Hinata berusaha melewati Naruto tapi pemuda itu mencegat tangannya. Hinata memelototi pergelangannya yang dipegang Naruto tapi cowok itu tidak memperdulikanya. "kenalan dulu dong masa mau pergi gitu aja sih". "maaf tapi saya harus pergi" kata Hinata dingin. Naruto melepaskan tangan gadis itu dia mau bicara lagi tapi gadis itu berbalik dengan cepat dan menderap pergi. Naruto berpuas diri sudah berhasil membuat Hinata bicara. Tapi...

"gue kan harus segera ke studio!" teriak pemuda itu lalu bergegas lari.

Naruto menyusul keempat kawannya yang sudah tiba didepan pintu studio. "lama amat, dari mana aja lo?" tanya Sasuke. "piket" jawab Naruto pendek napasnya masih ngos-ngossan. Sasuke membuka pintu studio didalamnya sudah berkumpul personil Ars Ladies. Uh-oh awkward moment.

"jadi bagaimana rencana kolaborasi ini?" tanya Sakura memulai pembicaraan. "kalian sendiri setujukan dengan hal ini?" Sasuke balik bertanya. "tentu saja bagaimana bisa kami menolak permintaan guru" sahut Sakura. "oke untuk merealisasikan projek ini kita harus bisa bekerja sama dan berkoordinasi dengan baik " ujar Sasuke, keempat sahabatnya geli mendengar bahasa Sasuke yang kelewat tinggi jelas sekali dia berusaha terdengar berwibawa dan jelas sekali kalau dia tidak suka situasi ini.

"lalu kolaborasi seperti apa yang akan kita mainkan?" Temari melipat tangannya didepan dada. Sasuke melirik teman-temannya minta bantuan karena jujur saja tidak ada ide dalam kepalanya saat ini. "yah kita memainkan musik seperti biasanya saja bedanya adalah pada bagian vokal saja karena mereka harus berduet" Shikamaru angkat bicara, anak ini memang problem solver yang cepat karena pada dasarnya dia memang selalu menghindari masalah.

Ars Ladies saling pandang sebentar lalu mengangguk bersamaan. "oke tapi bagaimana tata panggung dan yang lainnya?" tanya Tenten. "kita buat formasi yang sedikit berbeda dari biasanya agar penonton tidak bosan" saran Sai. "misalnya?" lanjut Ino.

"misalnya vokalis cowok di belakangnya anggota band cewek begitu juga sebaliknya vokalis cewek anggota di belakangnya cowok atau selang seling " jelas Sai. Ino mengangguk. "lalu bagaimana dengan vokalisnya?siapa yang bakal nyanyi?" Choji nimbrung.

"di band kami vokalnya adalah Sakura" terang Temari. "kalau kita Naruto dan Sasuke, tapi kadang-kadang hanya satu dari mereka" balas Shikamaru. Mereka semua menatap Naruto dan Sasuke menunutut jawaban. "gimana kalau Sasuke aja yang jadi vokalis dari wakil cowok soalnya karakter suaranya lebih cocok dengan Sakura" jawab Naruto.

"APA?!" suara Sasuke meninggi tiga oktaf dan dua desibel mendengar jawaban Naruto. "maksud lo apa?" tuntutnya sekarang dengan suara yang lebih rendah. "maksud gue apanya? Emang nggak jelas gue bilang apa tadi? karakter suara lo itu cocok dengan Sakura sedangkan karakter suara gue kalau disandingin dengan Sakura bakalan nggak enak didenger" jelas Naruto panjang lebar.

Sasuke menatap Naruto dengan tajam tatapannya benar-benar menyeramkan. Dia curiga jangan – jangan itu hanya alasan Naruto untuk keluar dari tugas tidak mengenakkan ini dan melimpahkan semuanya padanya.

Naruto sama sekali tidak bergeming ditatap oleh Sasuke dia sudah lama mengenal Sasuke jadi dia sudah terbiasa dengan tatapan penuh hawa pembunuhannya Sasuke lagipula dia jujur kok karakter suara Sasuke yang rendah cocok dengan suara tinggi Sakura, sedangkan karakter suaranya yang tinggi pasti akan terdengar berlomba-lomba dengan Sakura.

Sasuke menghembuskan nafas, sepertinya Naruto memang jujur dan dia harus mengakui kemampuan Naruto menilai karakter vokal seseorang memang hebat. Sasuke berbalik menatap para cewek. "kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa kok" ujar Sakura dengan nada tersinggung. Cewek berambut pink itu memang tersinggung berat oleh reaksi Sasuke.

"sorry, bisa kita lanjutkan saja pembicaraan yang tadi?" tanya Sasuke dengan nada formal. Itu memang sudah kebiasaannya kalau berada di situasi yang tidak menyenangkan cara bicaranya berubah formal. "kalau kau membenciku bilang saja, aku juga tidak suka dengan tugas ini" Sakura ternyata benar-benar marah. "bisakah kita fokus pada topik ?" tanya Sasuke dia dapat merasakan emosi yang merayap naik.

"Sasuke aku tanya padamu apa kau benar-benar mau menjalankannya atau tidak?" tanya Sakura tidak mengindahkan pertanyaan Sasuke. "kau mau tahu, mau aku jujur,baik, aku benar-benar tidak mau berurusan dengan kalian" Sasuke mulai kehilangan kesabarannya. "bagus, kita sependapat dalam hal ini" ucap Sakura dingin lalu berjalan keluar, ketiga sahabatnya langsung mengikutinya.

"hei, Sakura tunggu" Ino tergopoh-gopoh berusaha menjejari sahabatnya. "apa sih cowok itu, sepertinya sebuah hinaan besar kalau berduet denganku" rutuk Sakura. "sabar nona,sabar, mungkin dia Cuma kaget dengan keputusan Naruto" Tenten berusaha menurunkan emosi Sakura dan ber- positive thinking. "tapi tetap saja itu keterlaluan" sanggah Sakura. "sudah kuduga ini hal yang tidak mungkin bisa dilakukan" Temari menghela nafas panjang.

"Sasuke apa tidak apa-apa nih begini, kelihatannya keadaannya jadi gawat" Sai memperhatikan kepergian cewek-cewek itu dari pintu. "biarkan saja, dasar cewek " kata Sasuke lalu beralih pada Naruto, "dan lo, apa-apaan mau ngelemparin semuanya ke gue?!" raung Sasuke.

"whoa, easy tiger" Naruto mengangkat kedua tangannya. " kalau gue sama Sakura duet kami nanti malah suaranya kejer-kejeran, suara gue kan tinggi juga" jelas Naruto. Hmm,masuk akal pikir Sasuke tapi itu belum tentu dia mau berhenti mengamuk, "tapi lo kan tau gue nggak suka sama mereka".

Shikamaru menggeleng, "nggak ada yang suka tapi kita harus tetap berduet dengan mereka ". "benar kata Shikamaru mau nggak mau kita tetap harus melakukannya" tambah Choji. "ini sulit sekali kita sama sekali tidak akur dengan Ars Ladies, kurasa waktu sebulan tidak akan cukup " Sai menutup pintu saat semua cewek itu sudah hilang dari jarak pandangnya. "waktu seratus tahun pun tidak akan cukup " ketus Sasuke.

TBC