Disclaimer : I Don't Own The Characters

Warning : OOC, AU, Mainstream dll

Piece 3

Naruto menuju kekelasnya dengan earphone ditelinganya saat ini dia sedang mendengarkan lagu Kekkaron dari Super Beaver, cowok ini dan teman-temannya suka banget dengan Super Beaver. Karena sedang asyiknya menikmati setiap hentakkan dari lagu Kekkaron dia tidak sengaja menabrak Hinata. Hinata sendiri sebenarnya juga tidak memperhatikan jalan soalnya dia sedang mendengar lagu Rashisa dari Super Beaver lewat earphone.

Hinata menurunkan earphone, mengalungkan ke lehernya, Naruto juga melakukan hal yang sama. Senyum Naruto terkembang melihat gadis yang berdiri dihadapannya sebaliknya Hinata memasang muka tidak senang. " pagi-pagi sudah memberengut aja, nggak baik lho" tegur Naruto. Mendengar sapaan Naruto Hinata makin kesal. 'cowok ini mau apa sih pagi-pagi begini bikin orang emosi'.

Naruto menatap kabel earphone Hinata " denger apa sih?" secepat kilat tangannya mencabut kabel itu dari handphone Hinata. Hinata benar-benar kaget dengan kelakuan Naruto tapi dia terlalu terlambat untuk menghentikan cowok itu. Sekejap saja sudah terdengar irama dari lagu Rashisa. Hinata cepat-cepat kembali menyambungkan earphone dengan handphone lalu dia melototi Naruto.

Cowok berambut oranye itu tidak takut dengan pelototannya. "jadi lo suka sama Super Beaver juga?". " bukan urusanmu" kata Hinata kasar lalu berjalan melewati Naruto. Naruto terlihat puas dan senang, dia berbalik dan kembali memasang earphonenya, aku benar-benar akan membuatnya bicara. Dan cowok itu berjalan menuju kelasnya dengan mendengar lagu Somebody To You.

Ino mengambil beberapa buku dari lokernya lalu berjalan menuju kelasnya. Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba dia berpaspasan dengan Sai. Tiba-tiba Ino merasa geram ingat dengan pertemuan-pertemuan mereka yang tidak menyenangkan. Ino memasang muka sejutek mungkin dan ingin melalui Sai begitu saja.

Sai tersenyum pada Ino. Senyum cowok yang satu ini terbilang unik karena saat tersenyum matanya akan menyipit."hai Ino" sapanya. Ino membuang pandangannya. "maaf ya soal kemarin, Sasuke tidak bermaksud menghina Sakura kok dia hanya kaget karena Naruto tidak mau ikut". "kalau mau minta maaf, minta maaf sama Sakura saja soalnya dia yang tersinggung oleh kalian" kata Ino ketus.

"ya tentu saja, tapi karena kamu adalah temannya Sakura aku juga minta maaf padamu sebagaimana aku adalah temannya Sasuke" jawab Sai masih dengan suara yang ramah. Sai memang lebih sabar menghadapi cewek karena baginya cewek adalah sosok yang begitu istimewa, mereka begitu penuh paradigma dan tak jarang menjadi sulit dimengerti.

"ah, sepertinya lebih baik aku segera kekelasku, sampai jumpa", Sai menatap arlojinya lalu tersenyum pada Ino, dia lalu melangkah pergi. Ino berbalik sambil berpikir. Cowok aneh, aku belum pernah lihat cowok yang tetap ramah walau sudah dijutekkin, mungkin tidak semua dari mereka menyebalkan.

Shikamaru memasuki perpustakaan sendirian karena tidak ada satupun dari teman-temannya yang mau diajak kesana. Dia segera menyusuri rak untuk mencari buku astronomi karena dia mengikuti olimpiade astronomi, cowok ini memang pintar jadi rugi kalau tidak disalurkan. Saat tiba di rak ketiga dia menemukan beberapa buku ilmu perbintangan itu.

Saat akan meraih salah satu buku tangannya bertemu dengan tangan lain yang juga hendak mengambil buku yang sama. Kepalanya tersentak kesamping, pupil matanya mengecil karena kaget dengan orang yang ada disampingnya.

Temari benar-benar terkejut saat berpaling tapi sedetik kemudian wajahnya berubah kesal. "sedang apa kau disini?" tanyanya. "inikan perpustakaan, silahkan tebak sendiri aku mau apa" jawab Shikamaru santai. "jadi anak band nongkrongnya di perpustakaan ya" celetuk Temari sinis. "bukannya itu kata-kata yang berlaku padamu juga" balas Shikamaru.

Cowok ini hebat juga ilmu silat lidahnya batin Temari. "ya, tapi tidak ku sangka kau tertarik pada astronomi, kusangka kau tertarik pada ilmu teknologi" Temari masih menggunakan nada yang sama saat bicara. Cewek ini sinis banget, udah sinis bawel lagi pikir Shikamaru. Dia meraih buku astronomi itu sambil memutar tubuhnya dengan santai "well, ini yang ku suka, kau tidak bisa mengaturnya".

Shikamaru segera menuju penjaga perpustakaan untuk mengurus prosedur peminjaman buku. Temari menerobosnya dan mengangsurkan buku astronomi dan fisika kedepan penjaga pustaka. Shikamaru menoleh dengan kesal "aku yang duluan mau meminjam buku" sergahnya. Temari sama sekali tidak menoleh padanya "aku hanya meletakkan buku diatas meja kalau buku ku yang diambil duluan berarti itu bukan salahku kan?".

Yamato geli melihat pertengkaran mereka "wah, wah, kalian akrab sekali ya," dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu mulai mencatat tanggal dan buku yang mereka pinjam. "bukan akrab lebih tepat disebut bermusuhan" gumam Shikamaru.

"lebih tepat lagi kalau kau katakan tidak akan pernah akrab" balas Temari sinis. Yamato tertawa, "jangan saling membenci, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, siapa tahu malah jadi suka". "impossible!" sanggah Shikamaru dan Temari bersamaan lalu mereka saling pandang dengan jengkel dan Yamato kembali tertawa.

Tenten melewati ruang musik, sengaja dia memelankan jalannya agar suara langkahnya tidak terdengar sebab saat ini dari dalam ruangan itu mengalun suara piano yang lembut. Dia menarik nafas sebelum mengintip melalui celah pintu. Neji sedang memainkan sebuah lagu dengan grandpiano. Sudah kuduga, dari jauh saja permainan jeniusnya dapat ditebak batin Tenten. Tenten tidak mengerti kenapa dia harus menuju ruang musik saat samar terdengar dentingan piano.

Selama lima menit dia menikmati lagu yang dimainkan dan selama lima menit itu pula pandangannya tidak lepas dari sosok Neji. Tenten bukannya baru melihat Neji, dari awal masuk dia sudah tahu tentang Neji, cowok itu memang populer.

Dia sering mendengar dari cewek lain yang selalu memuji kakak kelasnya itu, mulai dari kepintarannya, wajahnya sampai kehebatannya dalam bidang musik, mereka bilang kalau Neji banyak menguasai alat musik mulai dari gitar, flute, biola, harmonika dan piano tapi sebelum ini dia belum pernah mendengar permainannya.

Awalnya dia tidak peduli dengan semua hal tentang Neji, sebesar apapun ketenarannya tapi sekarang setelah mendengar permainan pianonya mau tidak mau dia harus mengakui betapa indah nada-nada yang dihasilkan oleh jarinya. Dan sulit rasanya untuk tidak memperdulikan setiap lagu yang dimainkannya.

Sakura menyusuri koridor menuju kelasnya karena bel sebentar lagi akan berbunyi. Dilihatnya Sasuke yang bersandar sambil membaca buku, lebih baik aku pura-pura tidak lihat saja deh, pikirnya. Sakura melewati Sasuke dengan santai seolah benar-benar tidak menyadari keberadaan pemuda itu.

"jadi lo beneran cewek yang sombong ya, saat berjalan didepan orang yang lo kenal nggak disapa sama sekali". Sakura menoleh kepada Sasuke yang masih terlihat asyik dengan bacaannya. "aku tidak tahu kau ada di sana" sahut Sakura melipat tangannya didada.

Sasuke masih belum melepas pandangan dari bukunya, "ah, kurasa itu tidak mungkin". Sakura mengerutkan kening, "maksudmu karena kau adalah selebriti sekolah kau akan selalu diperhatikan orang, begitu". Sasuke menaikkan bola matanya sedikit sebelum kembali beralih pada bacaannya. "tidak juga, hanya saja tidak ada yang menghalangi pandanganmu padaku". Sakura semakin mengerutkan kening, susah amat ngomong sama cowok ini tanpa emosi,gerutunya.

"terserah apa katamu, aku ingin kekelas saja" ketus Sakura berbalik, dia mau mengakhiri pembicaraan yang menyebalkan ini secepatnya. "tunggu dulu bagaimana dengan tugas kita " Sasuke mengangkat kepalanya memandang Sakura. " ah soal itu, kita sependapat tidak mau saling berurusan kan" lalu gadis berambut soft pink itu berlalu.

Sasuke mengangkat bahunya, dia sudah berusaha mengumpulkan sedikit kesabarannya lebih banyak dari kemarin, memang dia bisa bertahan lebih lama tapi tidak terlihat terlalu berguna, jadi dia melangkah menuju kekelasnya.

Neji keluar dari ruang musik, aneh, akhir-akhir ini dia merasa ada yang mengawasinya saat sedang bermain piano,tapi hanya pada saat hampir selesai saja dan selalu hanya selama beberapa detik saja dirasakan sehingga dia ragu dengan prasangkanya ini, biasanya kalau ada yang memperhatikannya dia akan segera tahu, lagipula biasanya cewek-cewek akan ribut saat memperhatikan dia latihan, hal yang lumayan sering terjadi. Tapi saat ini dia tidak merasakan keberadaan siapa pun. Mungkin Cuma perasaanku saja,batinnya.

"kakak". Neji menoleh melihat adiknya yang menghampiri. "kakak sedang apa?" tanya Hinata. "aku baru selesai main piano" jawab Neji, Hinata mengangguk dia paham betul kecintaan kakanya pada piano. "ada yang kakak pikirkan?" tanya Hinata saat melihat wajah kakaknya mendadak serius.

"tidak, hanya saja aku merasa ada orang yang memperhatikan ku bermain akhir-akhir ini" jawab Neji. "bukannya kakak sudah biasa mendapat fans?" Hinata mengangkat sebelah alisnya. "ya, tapi aku hanya merasa begitu saat bermain piano dan hanya selama beberapa saat saja, lagipula aku biasanya selalu tahu kalau ada orang lain didekatku " Neji mengangkat bahunya.

"mungkin hantu" Hinata terlihat berpikir. Neji mengetuk pelan kepala adiknya. "kak sakit" protes Hinata sengit sembari mengelus kepalanya sendiri. "jangan aneh-aneh, mana ada hantu ngefans pada aku". "bisa jadi, kan kakak hobi mainin musik klasik yang cocok banget sama image hantu" Hinata bersikeras.

"ngawur, ruangan ini kan baru, tidak ada angkernya sama sekali" cemooh Neji. "oke tapi kalau beneran hantu jangan takut sampai teriak-teriak ya" kerling Hinata. "tentu". "kak berdoa saja hantunya cantik bisa buat jadi pacar" kedip Hinata yang disambut jitakan pelan lagi.

Sakura menghempaskan tubuhnya kebangku sembari menghela nafas, beberapa saat kemudian Temari datang, dia menjatuhkan bukunya keatas meja lalu duduk disebelah Sakura. Ino dan Tenten terlihat heran dengan tingkah kedua temannya yang duduk didepan mereka tidak biasanya mereka baru masuk sudah kelihatan lelah. Kedua cewek itu menyentuh bahu kedua sahabat mereka agar berpaling.

"kok kelihatannya lesu banget?" tanya Tenten, "iya, biasanya kan kalian heboh" timpal Ino. Sakura mengerucutkan mulutnya, kesal mengingat alasannya kesal. "aku tadi bertemu Sasuke , menyebalkan, cowok itu benar-benar menyebalkan" jawabnya.

"emang cowok itu ngapain tadi?" tanya Ino penasaran. "cowok itu ingin membahas tetang projek kolaborasi, tapi dia tidak punya niatan untuk minta maaf sama sekali, merasa menyesal pun tidak atas perbuatannya kemarin"jawab Sakura dengan suara meninggi.

"cowok-cowok dari band itu semuanya memang mengesalkan" dengus Temari. "dan kamu kenapa juga kelihatan kesal Temari?" Tenten berpaling padanya. "tadi aku bertemu Shikamaru di perpustakaan, cowok itu ngeselin deh cara dia ngeles apalagi mukanya lempeng banget" jawab Temari, "dan yang lebih ngeselin pak Yamato bercanda kalau saling benci bisa aja nanti suka" sambungnya jengkel. Muka cewek berambut kuncir empat itu semakin memberengut saat ketiga sahabatnya malah cekikikan.

"kok kalian malah tertawa" teriak Temari keki. "candaan pak Yamato oke juga tuh"sahut Sakura geli "eh Temari bisa aja yang dia bilang bener lagi" sambungnya dengan muka jahil. "ah, Sakura bukannya kau dan Sasuke juga begitu" goda Ino. Wajah Sakura merah padam terkena sentilan dari cewek pirang itu. "nggak mungkin dong, dia saja berbuat salah padaku bagaimana bisa kami saling suka, yang benar saja kau Ino" sanggah Sakura sengit.

"tapi para cowok itu memang mengesalkan" gerutu Temari, Sakura mengagguk, "yah, mereka benar-benar cowok yang buruk, menyebalkan, arogan, tidak sopan dan tidak bisa meminta maaf" semburnya tidak senang. "tapi mungkin tidak semua dari mereka begitu" gumam Ino setengah merenung.

Ketiga teman Ino berpaling padanya dengan heran. "apa maksud mu Ino" tanya Sakura tajam. "eh, tidak ada" jawab Ino kaget. "kau tidak merahasiakan sesuatu kan?" Temari mencondongkan tubuhnya.

Ino gugup sekali, "aku Cuma berpikir sepertinya Choji dan Sai tidak suka pertengkaran ini" sahutnya pelan. "maksudnya?" kening Sakura mengerut tidak mengerti apa yang dikatakan Ino."yah, coba ingat lagi, waktu kita bertengkar mereka diam saja dan menenangkan teman-temannya, lagipula..." kata Ino ragu-ragu. "ya,lagipula apa?" Tenten memiringkan kepalanya. "tadi Sai minta maaf soal sikap Sasuke".

"heh?!". "minta maaf?, maksudnya dia datengin kamu untuk minta maaf?" tanya Temari heran. Ino menggeleng pelan,"bukan, aku tadi tidak sengaja ketemu dia lalu dia minta maaf sebagai sahabat Sasuke, walau sudah kujutekin cowok itu tetap ramah" Ino mengangkat bahunya. "kurasa memang Choji dan Sai sepertinya memang tidak berharap permusuhan" cetus Tenten terlihat berpikir. "kenapa kamu tiba-tiba setuju dengan Ino?" ketus Sakura. Tenten mengangguk pelan, "ya, bagaimanapun masalah ini harus segera selesai, kita memang harus bekerja sama dengan mereka".

"tapi ketiga teman mereka kan tidak, setiap bertemu mereka bawaannya pengen berantem aja, masa kita Cuma main sama dua orang itu saja, gimana kita mau bekerja sama?" sanggah Temari cepat. Tenten terlihat berpikir keras. "kita bisa bujuk Sai dan Choji untuk membuat teman-teman mereka bersikap lebih baik pada kita". "wow, aku nggak tahu kalau kamu bisa manipulatif Tenten" seru Ino kagum. Tenten mengibaskan tangannya, "ini bukan manipulasi, aku hanya ingin rencana kolaborasi ini tetap jalan karena itu akan menjadi ajang promosi yang bagus sekali".

"ajang promosi mungkin benar, tapi juga ajang untuk menaikkan tensi darah" sembur Sakura. "Sakura kaukan sudah meng-iyakan permintaan guru Kakashi, kita tidak mungkin membatalkan " sahut Tenten. Sakura mengangguk, "ya,ya, aku tahu,tidak mungkin untuk membatalkannya dan tidak mungkin menolaknya".

"yang menggangguku adalah ketidak cocokkan kita dengan band Shipuden" keluh Temari. "tapi bagaimanapun kita harus mencari jalan untuk keluar dari masalah ini secepatnya" kata Ino dengan menekankan kata terakhir.

TBC

A/N : maaf kalau yang ngeriview gak sempet ke bales karena sering buru-buru. tapi kalau yang pakai akun mungkin aku pm, jadi cek aja email atau inboxnya, kalau pertanyaanya penting, menarik atau banyak yang nanya bakal ku jawab di author note.