Disclaimer : I Don't Own The Characters
Warning : OOC, Mainstream, AU, Typo, dll
Piece 4
Sasuke duduk kebangkunya, disebelah Naruto. "oke, aku sudah mencoba untuk bicara padanya soal pekerjaan yang harus kita lakukan tapi jawaban cewek itu kita sependapat saling tidak mau berurusan lalu dia pergi begitu saja" katanya. "coba kutebak, kalian menghabiskan beberapa menit untuk bertengkar dan hanya beberapa detik untuk membahas tugas" sahut Shikamaru dari belakangnya. Sasuke memutar tubuhnya, mengerutkan kening seolah sedang berpikir, "kurasa kau benar".
"mungkin kau harus mencoba metode lain, misalnya minta maaf kurasa mereka akan merasa lebih baik kalau kau minta maaf pada Sakura" Sai tiba-tiba saja sudah datang lalu duduk disamping Sasuke. "minta maaf? Kurasa aku tidak melakukan kesalahan apapun" kata Sasuke sinis. Naruto menggelengkan kepalanya, "ego,ego, kau sombong seperti biasanya" ledeknya. "apa kau bilang?!" desis Sasuke, Naruto cengar cengir saja.
"ayolah Sasuke hanya satu permintaan maaf tidak akan meruntuhkan harga dirimu" bujuk Sai. Sasuke mendengus, "mudah bagimu berkata begitu, ini bukan masalah harga diri tapi setiap bersama mereka aku kehilangan pengendalian diriku". Choji yang sedari tadi diam tersenyum, "yah itu jelas sekali, menurutku para gadis itu hebat, mereka bisa membuat Sasuke dan Shikamaru mengamuk".
Naruto mendorong tubuhnya kedepan sedikit agar bisa melihat Sai, "dan hal itu membuatku heran, kau kenapa bisa bertahan menghadapi mereka?". Sai menaikkan sebelah alisnya, "aku pikir kalian yang terlalu sentimental". Naruto menggeleng cepat, "kalau aku mungkin, tapi coba lihat, Sasuke dan Shikamaru bahkan tidak berdaya". "oi, apa maksudmu dengan tidak berdaya?" tanya Shikamaru tersinggung. "ah, jujur sajalah, kau tidak bisa menghadapi cewek-cewek itu, kurasa kau tidak bisa ditinggalkan dengan mereka walau Cuma lima menit" cemooh Naruto. "sial, benar juga" umpat Shikamaru.
Sasuke dan Naruto berjalan menuju kantin, Choji sudah pergi kesana lebih dulu sedangkan Shikamaru ke perpustakaan seperti biasanya dan Sai sedang membantu guru membawakan buku latihan kekantor. Mereka berpapasan dengan Hinata yang berjalan dari arah berlawanan. "hei, kau kelihatannya selalu sendiri ya" tentu saja itu adalah suara Naruto.
Hinata membuang muka, Naruto menggelengkan kepalanya, "sombong banget, orang sudah sapa balas sapa dong". Hinata melipat tangannya didepan dada lalu menaikkan sebelah alisnya. "bukan balasan sapaan yang ramah" komentar Naruto. Hinata memutar bola matanya seolah berkata 'aku nggak peduli' dan memang dia tidak peduli.
Hinata mencoba melangkah kekanan tapi seperti yang pernah terjadi Naruto menghadangnya. Sekarang dia mendongak dan menatap Naruto tajam jelas dia ingin bilang 'minggir! aku mau lewat'.
Naruto mengerti arti dari tatapan gadis dihadapanya tapi dia belum mau menyingkir karena belum berhasil membuatnya bicara. "oke, aku akan minggir tapi... " Naruto mengulurkan tangan kanannya "kita kan masih belum kenalan, Naruto Uzumaki". Hinata memperhatikan tangan itu beberapa saat lalu mendogak, dia sama sekali tidak mengulurkan tangannya. "Hinata Hyuga" lalu dia pergi. Naruto membiarkan cewek itu pergi dan menurunkan tangannya.
"jadi kenapa tiba-tiba mendadak kau sepertinya tertarik dengan gadis Hyuga itu?" tanya Sasuke yang sedari tadi diam. "eh, apa?"Naruto berpaling kaget. Sasuke memasukkan kedua tangannya kesaku dan melangkah."kenapa kau kelihatannya menaruh perhatian padanya?" Sasuke malah kembali bertanya. "aku tidak mengerti" kata Naruto.
"ah jangan pura-pura, kau terlihat berusaha membuat gadis itu mau memperhatikan mu, kau menyukainya?" Sasuke melanjutkan pertanyaannya. "menyukainya?, tidak kok, aku hanya ingin membuat dia bicara" Naruto mengangkat bahu "kau tahu pembuktian apa dia benar-benar bisu atau tidak dan untuk informasi, pekerjaan ini tidak mudah". "sepertinya begitu" Sasuke mengangguk setuju, "tapi kau berhasil, aku baru kali ini mendengar suaranya langsung".
Tenten mengintip dari celah pintu ruang musik yang tanpa disadarinya sudah menjadi kebiasaan. Menonton permainan piano Neji sudah seperti rutinitas harian baginya. Neji merasakan ada orang orang yang memperhatikannya, dengan tidak mencolok dia melirik kesekelilingnya dan tetap memainkan piano. Matanya menangkap wajah yang mengintip dari celah pintu tapi dia masih belum bereaksi.
Ada suara langkah kaki yang samar-samar terdengar dan sepertinya semakin mendekat, Tenten berdiri lalu pura-pura berjalan dengan langkah pelan, lalu lewatlah segerombolan cewek yang berlari sambil tertawa mereka rupanya baru selesai mengganti seragam olahraga dengan seragam biasa.
Setelah para cewek itu tidak terlihat lagi, cepat-cepat Tenten menghampiri pintu dan mengintip lagi. Wajah gadis bermata coklat tua itu terlihat bingung, karena Neji sudah tidak ada ditempatnya padahal dia yakin bahwa Neji sama sekali tidak keluar.
Saat tengah bingung tiba-tiba pintu terbuka, tubuh Tenten terdorong kedepan, dia memekik pelan tapi dengan cepat dia berpegangan pada gagang pintu. Mulutnya ternganga saat melihat ada sepasang sepatu hitam didepannya, sepatu yang pasti tuannya sedang kenakan saat ini. Tenten menelan ludah sebelum mendongak, oops, benar saja, Neji sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
Gadis itu buru-buru menegakkan tubuhnya. Tenten bergidik ditatap tajam oleh Neji, dia belum pernah bertatap mata langsung dengan pemuda berambut panjang ini, jadi dia baru sadar bahwa pancaran dari mata abu-abu itu bisa sangat mengerikan.
"apa yang kau lakukan disini?" Neji bertanya dengan nada dingin dan tajam. Tenten membungkuk "ma-maafkan aku kak" dia begitu takut sampai menutup matanya, tapi mesti begitu dia tahu kalau Neji masih menatapnya dengan pandangan yang mengerikan. "aku tanya kenapa kau ada disini" ulang Neji. "a-aku cu-cuma" Tenten benar-benar gugup sampai tidak tahu mau bagaimana menjawab. "ma-mau mendengar permainan piano kakak" akhirnya dia menjawab walau masih dipenuhi perasaan takut.
Neji mengangkat sebelah alisnya. "berdiri, jangan membungkuk terus, kalau bicara hadap lawanmu" Neji tidak suka kalau ada orang yang terlalu merendah dihadapannya, dia tidak mau dianggap sudah menyiksa anak orang. Tenten bengong sejenak lalu meluruskan sikap tubuhnya. "kenapa kau selalu mengintipku bermain piano?" tanya Neji. Tenten menundukkan pandangannya, "uhm, anu,aku hanya menyukai peramainan piano kakak, menurutku benar-benar jenius" aku Tenten.
Neji memperhatikan Tenten dengan seksama. "kau bukannya anggota dari band cewek itu kan?" tanyanya, Tenten mengangguk. "kau keyboardisnya kan?" walau bukan penggongsip dan tidak begitu suka dengan band-band disekolahnya, dia tidak terlalu ketinggalan berita. Tenten kembali hanya mengangguk.
"kenapa kau tetap mengintip permainan pianoku, kau kan juga pastinya jago memainkan piano, karena mereka sejenis" tanya Neji dengan nada menyelidik. Tenten terlihat semakin salah tingkah. "karena piano dan keyboard memiliki sedikit perbedaan, dan lagu-lagu yang kakak bawakan begitu indah, aku belum pernah mendengarnya sebelum ini" jawabnya ragu-ragu.
"aku tidak suka diintai" kata Neji datar. "maaf kak,tapi aku benar-benar hanya ingin melihat cara kakak bermain, itu sungguh memberiku inspirasi" Tenten kembali membungkuk."hei, kan sudah kubilang tegakkan badanmu" tegur Neji. "baiklah kalu begitu aku memberimu izin melihatku latihan piano asal jangan menggangu". Mata Tenten melebar, tidak menyangka dengan apa yang dikatakan seniornya itu.
Neji memang pemuda yang baik namun jarangnya dia bergaul dan bicara membuat orang kadang sedikit salah paham padanya, lagipula dia rasa Tenten tulus ingin mendengar permainannya, asal tidak mengganggu baginya tidak masalah. "sesama pemain piano tidak ada salahnya berbagi sedikit" ucap Neji lalu melangkah keluar, menuju kelasnya.
Tenten benar-benar tidak percaya apa yang baru terjadi, awalnya dia pikir Neji pemuda yang super dingin dan tidak akan mengijinkannya menonton permainannya apalagi tadi saat melihat tatapan tajam dari cowok itu, siapa sangka dia baik sekali, kali ini dia melihat sisi lain dari mata abu-abu yang tenang itu dan tanpa sadar ada perasaan senang yang meledak didadanya yang tergambar jelas dari senyum yang muncul diwajahnya.
Shikamaru memasuki perpustakaan mengangguk menyapa pada Yamato yang sedang membaca buku ditempatnya, itulah asyiknya menjadi pustakawan, dia bisa dekat selalu dengan benda yang disukainya. Yamato balas tersenyum padanya lalu kembali pada bacaannya. Namun setelah Shikamaru melewatinya dia kembali mengamati Shikamaru. "kau lagi?!" terdengar jelas suara murid cewek yang dikenalnya, pria itu tersenyum geli lalu beralih pada bukunya. Tebakannya tepat.
Temari terlihat jengkel sekali menemukan Shikamaru, dan lebih jengkel lagi sekarang mereka juga sama ingin mengambil buku biografi William Shakespear, ini mengingatkannya akan kejadian yang sama. Shikamaru juga kelihatan sama jengkel dengan Temari, sedikit perubahan di mukanya yang lempeng cukup untuk memberi tahu. "aku mulai bertanya kenapa akhir-akhir ini aku selalu mendapat gangguan diperpustakaan" ketus Temari sebal. "percayalah, aku juga menayakan hal yang sama" gumam Shikamaru.
"sebenarnya hal yang ku bingungkan adalah kenapa kau selalu mencari buku yang sama dengan ku" lanjutnya. Temari mengambil biografi sastrawan Inggris itu, untung buku itu ada dua buah kalau tidak mungkin sekarang mereka sudah rebutan buku. "aku yang berada lebih dulu disini jadi aku yang seharusnya aku yang bilang begitu" jawab Temari.
Shikamaru juga mengambil buku yang sama, dia ada tugas menulis ringkasan singkat riwayat hidup tokoh yang berpengaruh dan entah mengapa yang terpikirkan olehnya adalah William Shakespear, mungkin karena ini adalah tugas bahasa jadi akan lebih pas kalau dia menulis tentang tokoh yang punya pengaruh besar pada kesussastraan.
"aku mengambil buku karena sudah kurencanakan sebelumnya jadi tidak usah ge er aku sengaja supaya bertemu denganmu" celetuk Shikamaru sambil berjalan mencari buku biografi titipan Choji yaitu Mahatma Ghandi dan titipan Naruto yaitu Leonardo Da Vinci, jelas Naruto memilih Da Vinci bukan karena dia penggemar seni dan lukisan tapi karena dia suka film Da Vinci Code.
"jadi kau penggemar Romeo dan Juliet?" tanya Temari sinis. "bukan" jawab Shikamaru datar tanpa menoleh "aku lebih suka Hamlet dan Macbech". Temari mengangguk, "selera yang bagus".
Lalu gadis itu segera melangkah kearah Yamato yang masih sibuk dengan bacaannya. Shikamaru berhasil dengan cepat menemukan buku yang dipinta kedua kawannya, dia sudah tahu betul isi dari semua rak yang ada diperpustakaan saking seringnya kesana. Mereka berdua sampai dimeja Yamato pada waktu yang berbarengan.
Yamato meletakkan bukunya, lalu tersenyum geli melihat buku yang disodorkan padanya. " meminjam buku yang sama lagi, mungkin kalian sebaiknya menjadikan itu sebagai kebiasaan" sahut Yamato. "kenapa memangnya?" tanya Temari heran. "ya, supaya aku lebih mudah mengingat buku yang kalian pinjam dan waktu pengembalianya" jawab Yamato.
"aku malah berharap ini tidak perlu terulang lagi" sahut Shikamaru. "kali ini aku setuju dengannya" gumam Temari. "tumben kompak" celetuk Yamato. Wajah kedua remaja itu langsung berubah. "enak saja kompak, aku tidak mau selalu sama dengan dia" kata Temari sengit. "aku juga tidak mau dibilang kompak atau akrab denganmu" balas Shikamaru. Keduanya mengeluarkan aura permusuhan yang besar.
Yamato menggeleng pelan, "kalian salah satu murid yang rajin datang kesini tapi kalian satu-satunya murid yang menggunakan perpustakaan untuk bertengkar". "rajin? Orang ini sering kesini" Temari menunjuk Shikamaru dengan nada ragu di suaranya. "yah, kalian berdua sejak kelas sepuluh sering keluar masuk perpus tapi diwaktu yang berbeda sehingga tidak pernah bertemu " terang Yamato "baru beberapa hari ini kalian kulihat bertemu disini" lanjutnya. "aku malah berharap tidak usah terjadi" gerutu Shikamaru.
"oh ya, kudengar kalian diminta berkolaborasi untuk acara ulang tahun sekolah, lalu bagaimana?" tanya Yamato penasaran."bagaimana apanya?" kerut kening Shikamaru. "sama sekali tidak lancar" jawab Temari. Yamato mengangguk, "sudah kuduga, kalau melihat kalian semua orang pasti bisa menebak". "jadi kau mau tidak berkerja sama dengan kami?" tanya Shikamaru menoleh pada gadis disebelahnya. "apa kau tidak bisa bertanya dengan lebih sopan?" tanya Temari sinis, "sebelum kalian minta maaf,kita tidak bisa bekerja sama" lalu dia mengambil bukunya dan pergi keluar.
"minta maaf? Memangnya kalian salah apa" tanya Yamato berpaling pada Shikamaru yang menatap kepergian Temari dengan jengkel. "tau deh" jawabnya cuek lalu pemuda itu berlalu begitu saja. Sekarang giliran Yamato jengkel.
Bel pulang baru berdering beberapa menit, jadi koridor dipenuhi oleh murid-murid yang terburu-buru. Naruto dan Sasuke berjalan berdua menyusuri koridor yang sesak, saat mereka bertemu lagi dengan seorang gadis bermata abu-abu. Gadis itu mendongak menatap kedua pemuda di hadapannya tentu saja dengan wajah dinginnya yang terkenal.
"hai, ketemu lagi nih" seringai Naruto lebar, Sasuke menahan senyum oleh tingkah sahabat karibnya. "Hinataaa" Naruto sengaja memanjangkan suku kata terakhir berharap gadis ini kesal tapi gadis itu tidak bergeming. "kayaknya nggak berhasil" bisik Sasuke pelan. Naruto mengangguk
"kan sudah kubilang kalau ada orang menyapa balas sapa dong" gerutu Naruto"berapa kali harus aku katakan sih". Hinata masih diam, cewek ini kalau diam terus seram juga pikir Sasuke, menurutnya Naruto hebat bisa tahan mengahadapi cewek ini, bahkan dia lebih memilih untuk berhadapan dengan seluruh personil Ars Ladies walau mereka bisa bikin dia kehilangan kesabaran.
" kau gadis yang susah dibilangin ya" Naruto mendecak "heran deh, bagaimana kau bisa hidup dalam keadaan diam terus". "kau mau menggodanya sampai kapan?" bisik Sasuke dengan suara rendah. "sampai dia bicara" balasnya. "haloo, apa aku lagi ngomong sama patung?" tanya Naruto. "sama orang" ketus gadis berambut gelap itu kasar lalu pergi.
Naruto tampak berpuas diri atas jerih payahnya, Sasuke menggeleng, "hebat juga kau bertahan hanya untuk membuatnya bersuara, menurutku dia begitu mengerikan mungkin aku lebih suka berhadapan dengan Sakura ".
Seolah menjawab perkataanya, Sakura muncul dihadapan mereka. "tuh Sakura, gih sana hadepin" bisik Naruto. "setelah dipikir-pikir mending nggak usah aja deh" balasnya. "hai Sakura" sapa Naruto ramah, dia ingin mengikuti saran Sai yaitu bersikap baik. "hai" balas Sakura datar. Naruto celingak-celinguk sebentar, "tumben sendirian mana temanmu yang lain?" tanya Naruto. "mereka ada sedikit urusan"jawab Sakura. Naruto mangut-mangut lalu menyikut Sasuke. Sasuke meringis pelan, dia melototi Naruto, dia mengerti apa yang diminta Naruto.
"uhm, Sakura, bagaimana pendapat teman-temanmu tentang tugas yang diberikan guru Kakashi?" tanya Sasuke, dia masih enggan untuk bilang maaf. Sakura menaikkan sebelah alisnya, "bukannya sudah kubilang kita setuju untuk saling tidak berurusan". "itu kan katamu,aku bertanya pendapat teman-temanmu" balas Sasuke.
"mereka mau rencana ini tetap jalan asal kamu mau bekerja sama" sahut Sakura tajam. "aku sih mau saja tapi kau yang sepertinya tidak mau bekerja sama" cetus Sasuke sinis. Naruto menahan senyum, dia sudah menduga ini akan menjadi perdebatan panjang.
"kau benar, aku memang enggan, tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara menolak permintaan guru Kakashi" celetuk Sakura. "jadi kau mau bekerja sama kan?"potong Naruto harap-harap cemas. Sakura mengangkat bahu, "entahlah" lalu dia memandang arlojinya, "aku harus pulang sekarang, bye" lalu dia melangkah pergi setelah melambai kecil.
Sasuke berpaling pada Naruto, "see?, dia yang menyebalkan, tidak mau bekerja sama" katanya jengkel. "mungkin sebaiknya kau ikuti saran Sai untuk minta maaf" Sahut Naruto mulai berjalan. "aku nggak punya salah apa-apa" kata Sasuke ringan.
TBC
