Disclaimer : I Don't Own The Characters

Warning : AU, OOC, Mainstream, Typo, dll

.

.

sebelumnya saya mau minta maaf pada Naraeyz-san

karena ternyata Naruhinanya gak ada di piece 5, saya juga gak sadar .

.

.

.

Piece 6

Tenten melangkah di koridor yang sepi dengan ringan, setengah loncat-loncatan sebenarnya, sepertinya anak ini masih terpengaruh euforia manggung kemarin, dia melewati ruang musik, lompatannya berhenti saat terdengar dentingan piano. Iya deh, sejujurnya dia melewati ruang musik bukan kebetulan, dia memang berharap mendengar permainan Neji. Tenten menoleh kekiri dan kekanan, memastikan tidak ada orang yang memergokinya.

Setelah yakin, dia mulai mengintip dicelah pintu. Dia mengulum senyum saat melihat pemuda bermata abu-abu itu bermain piano. Caranya bermain benar-benar seperti seorang komposer besar.

"aku tidak suka kalau diintai, aku lebih suka ditonton".

Tenten tersentak. Lebih pada kebingungan, habisnya pemuda itu masih bermain dan tidak terlihat seperti bicara padanya, padahal hanya mereka manusia disekitar sini. "kau bisa mengerti maksudku?". Neji menghentikan permainannya lalu memutar tubuhnya kesamping menatap Tenten yang terlihat dari celah pintu.

Tenten menegakkan posisi tubuh dan menggaruk kepalanya salah tingkah. Neji kembali memutar tubuh menghadap piano dan melanjutkan permainannya. "masuklah, dengan begitu aku tidak merasa diintai lagi" lanjutnya.

Tenten ragu sejenak, tapi lalu dia melangkah masuk. Dia tidak berani terlalu mendekat, jadi dia merapatkan diri kedinding. Selama beberapa menit dia hanya terdiam mendengarkan permainan Neji. "kudengar kau menggelar pertunjukkan dengan bandmu". Suara Neji kembali menyentakkan Tenten. "i...iya" jawab Tenten ragu-ragu. Ini hanya basa-basi, pernyataan biasa, pujian atau hinaan batin Tenten, semoga saja bukan yang terakhir.

"kalian berani juga ya". Uh-oh gawat, pasti ini benar-benar kategori terakhir, pasti dia berpikir kami sok padahal masih ingusan, Tenten mulai cemas. "tidak mudah dan tidak banyak band cewek yang diterima murid-murid disekolah ini". Tenten mulai bingung, itu sepertinya bukan sebuah sindiran. "tapi kalian dengan cepat mendapat sambutan baik". Tenten tertegun, ternyata dia salah kira. "te...terima kasih" ucapnya gugup.

"permainanmu bagus" komenter Neji singkat. "terima kasih" ucap Tenten sekali lagi. "apa kakak menontonnya?" tanya Tenten memberanikan diri bertanya, dia ingin Neji menjawab iya. "tidak, aku hanya mendengar dari jauh". "oh" Tenten menyembunyikan sedikit kekecewaannya, memang rasanya mustahil dia akan menonton.

"suara keyboardnya lumayan" lanjut Neji. "terima kasih, aku banyak belajar dari kakak". "aku tidak mengajari apapun". Neji menghentikan permainannya, memandang arlojinya. "aku harus pergi" dia bangkit menuju pintu lalu melewati Tenten. Tenten melangkah setelah Neji keluar, dia memperhatikan punggung pemuda itu menjauh, dia sebenarnya orang baik.

Naruto menyusuri koridor sambil bersiul, dari jauh terlihat sosok yang mengeluarkan aura dingin. Air mukanya berubah cerah, matanya berkilat jahil. "selamat pagi putri es" sapanya dengan kecerian yang berlebihan. Hinata mengangkat wajahnya dengan raut bete. Dia mendecih lalu berusaha berlalu. "eits" Naruto melintangkan tangannya didepan Hinata. "apa yang pernah kubilang, gadis manis?, kalau orang menyapamu kau harus balas menyapanya" ucapnya dengan nada lebay.

Hinata menatap Naruto tajam tapi pemuda itu hanya mengangkat sebelah alisnya."kau mau apa?" sergah Hinata, Naruto mendecakkan lidah. "itu bukan balasan yang ramah". "oh begitu, jadi menyebut seseorang putri es itu ramah?" tanya Hinata sinis. Naruto menyeringai "tapi itukan apa adanya".

Hinata mendengus tidak habis mengerti dengan kelakuan menyebalkan Naruto. Selama ini dia yakin banyak yang tidak suka padanya karena sikap dinginnya tapi tidak pernah ada yang berani mengganggunya, pertama aura yang dia punya terlalu seram, kedua karena dia punya kakak yang populer, setiap orang disekolah mengenal Neji.

Dan entah kenapa hanya cowok kurang ajar ini yang membuatnya kepingin emosi. Menurutnya Naruto adalah cowok mengesalkan kuadrat dan super kurang kerjaan.

"awas aku mau lewat" bentak Hinata. "kalau aku tidak mau bagaimana? Kau mau mengadu pada kakak mu?" tanya Naruto setengah menantang. "memang kau berani?" Hinata menaikkan bola matanya. "berani, aku kan bisa jet kune do, jangan sedih kalau kakak mu babak belur, ya?". Hinata mendengus, Naruto terlalu pede, Neji kan karateka nasional, yang ada dia babak belur dihajar Neji.

"Naruto". Terdengar sapaan disebelah mereka dari dua orang gadis. Mereka terlihat sedikit malu, tapi dari tatapannya jelas mengisyaratkan kalau mereka adalah fans Naruto. Seorang gadis berambut merah dan berkarcamata dan seorang gadis berambut biru disanggul dan diberi hiasan mawar putih. Hinata mengenali mereka, Karin dan Konan, teman sekelasnya.

"boleh minta tanda tangan?" tanya Karin malu-malu sambil mengulurkan album pertama band Shipuden. "tentu" jawab Naruto menggoreskan tanda tangannya. Hinata melihat kesempatan bagus, dia langsung melangkah tanpa ba-bi-bu lagi. "jangan secepat itu nona, kau bahkan tidak pamit" kata Naruto memegang sebelah tangan Hinata sedang matanya masih fokus pada tanda tangannya.

Karin dan Konan menatap Hinata dengan wajah heran, yah bagaimana tidak heran, kok bisa-bisanya Hinata bergaul dengan Naruto dan jelas sekali kalau keduanya berbeda, bagai musim dingin dan musim panas. "Naruto kenal dengan Hinata?" tanya Conan bingung. "ya, kalian juga kenal gadis seram ini?". "ya, kami kawan sekelas" angguk Karin. "oh".

Cewek ini selalu sendiri, apa dia tidak kesepian?,ah kujadikan saja dua orang ini sahabatnya pikirnya. "oh ya, kalian mau album kedua kami yang sedang dalam proses?" tawar Naruto. "mau" jawab Karin dan Konan kompak. "kalau begitu kalian harus jadi teman Hinata". Hinata membelalakkan matanya. Karin dan Konan tercengang dan saling pandang, tapi detik berikutnya berubah ragu.

Hinata menahan geramannya melihat raut ragu Karin dan Conan, "jangan main-main" ketusnya dan Conan tersentak mendengar suara Hinata. Walau nadanya tajam tapi suara Hinata begitu bagus. "itu bukan sikap yang baik" komentar Naruto. "menurutmu sifatmu itu baik?" tanya Hinata retoris, "kalau iya lepasin tanganku sekarang " sambungnya. "nggak, entar lo kabur" seringai Naruto.

Karin dan Konan termangu,tidak tahu harus berbuat apa, rasanya canggung banget. "ah, oh, maaf" sahut Naruo baru sadar telah mengabaikan kedua orang gadis ini. "kalian masih mau dengan tawaranku kan?" tanya Naruto dengan nada yang sangat ramah. Susah deh nolak. "ng, uhm, ah, eh, mm... mau" jawab Karin setelah sedari tadi mengucapkan kata-kata tidak jelas.

Naruto melongo sesaat. Awalnya dia pikir kedua cewek ini akan menolak setelah mendengar nada dingin dari mulut Hinata, dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh mereka. Hinata sendiri tercengang, apa sebegitu besar pengaruh cowok ini sampai mereka mengiyakan permintaan aneh Naruto.

Mereka berdua tidak tahu Karin dan Konan mulai tertarik dengan Hinata. Bagaimana bisa cewek ini menyimpan suara sebagus itu selama ini.

Naruto cepat-cepat menyimpan tampang bengongnya, menggantinya dengan wajah puas. "wah, terima kasih, mudah-mudahan kalian tahan ya" ucapnya yang langsung membuat Hinata memelototinya. "kau benar-benar suka membuat orang lain repot?" desis Hinata. Naruto kembali menyeringai dan mencondongkan tubuhnya, "kau seharusnya berterima kasih, aku mau menolongmu mendapatkan teman" bisik Naruto ditelinga Hinata. Aku nggak minta, dasar cowok nyebelin kuadrat pekik Hinata dalam hati.

"terserah apa katamu" sergah Hinata lalu pergi, Naruto tersenyum geli lalu beralih pada Karin dan Konan. "aku pergi dulu ya, takut telat, kalian yang sabar aja tapi kurasa kalian akan jadi teman yang cocok, bye" setelah berkata sepanjang itu dia berlalu sambil melambaikan tangan ramah. Karin dan Konan saling tatap, "yakin nih kita bakalan cocok sama Hinata?" tanya Karin.

Konan mengangkat bahu, "entahlah, tapi selain tawaran Naruto sepertinya Hinata gadis yang menarik", gadis berambut biru itu mulai melangkah. Karin segera menyusul Konan, berjalan disampingnya. "yep, harus diakui suara gadis itu bagus banget, selain itu... ".

Konan berpaling kesamping menunggu Karin menyambung kalimatnya, "aku pengen tahu hubungan Hinata dengan Naruto, mereka lucu sekali" seringai Karin. Conan tidak bisa untuk tidak mengulum senyum, Naruto dan Hinata terlihat manis kalau sedang adu mulut, coba pikir pasangan macam apa yang terlihat cocok saat mereka bertengkar.

Eh, tapi kayaknya hal ini juga akan berlaku dengan beberapa tokoh disini.

Sakura melangkahkan kaki menuju kelas sambil berkonsentrasi pada penampilannya. Bukannya dia centil atau apa, tapi dia tadi berlari kearah gerbang dengan kecepatan tinggi karena dia salah membaca jam tangannya dan menyangka kalau dia sudah terlambat.

Yep, malu-maluin bangetkan?, apalagi acara bodohnya pagi-pagi itu menyebabkan dia berantakan sekali. Sekarang dia merapikan seragamnya, menepis debu, merapikan tatanan rambutnya sambil merutuk sia-sia saja dia berkaca selama dua puluh menit dirumah tadi.

Dia tertegun saat masih sibuk mengurus penampilannya dan melihat kelantai ada sepasang sepatu tepat sejajar didepannya. Rasanya sepatu itu pernah dia lihat sebelumnya. Sepatu hitam dengan biz silver dan beberapa corak dongker. Kalau tebakan ku tidak salah ... batinnya lalu mendongak, betul saja didepannya ada Sasuke.

Bibirnya mengerucut saking betenya. Sasuke sendiri tampak kesal,matanya menyipit dan bibirnya terkatup rapat. Oh ya, betewe, kenapa pemuda awas ini tidak melihat Sakura sebelumnya kalau dia menampilkan raut sebal seperti itu?.

Gampang saja, jawabannya karena pemuda itu sedang sibuk mengurus jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan kirinya. Dia salah menyetel alat itu sehingga dia ngebut kesekolah dan setibanya disekolah mendapati gedung itu masih sepi. Cukup merusak moodnya karena dia tidak sempat sarapan. Tapi kok rasanya masalah yang merusak pagi mereka mirip ya?.

Tapi masalahnya kali ini mood keduanya benar-benar sedang tidak baik. "mau apa?!" bentak Sakura kasar. Sasuke mengernyit, "hei, kau bisa tidak sih tidak merusak suasana hati orang lain pagi-pagi begini?!".

Cukup lama keduanya saling pelototan sembari mengeluarkan aura permusuhan yang dapat dirasakan dalam radius 10 meter.

"kak Sasuke". Panggilan dari beberapa orang gadis membuat keduanya sadar dan berpaling. "Sakura". Kali ini panggilan dari beberapa murid cowok membuat keduanya berpaling kearah yang berlawanan. Ups, apa mereka melihat adegan pertengkaran kami? Batin keduanya.

"kak Sasuke... boleh... minta... nomor telfonnya?" tanya salah satu dari siswi itu pelan dan dengan nada ragu. "Sakura, pertunjukkan kemarin itu luar biasa, kalian keren, benar-benar cewek hebat" sekarang giliran dari salah satu cowok itu memuji Sakura dengan senyum lebar yang diikuti anggukan teman-teman yang berada dibelakangnya.

"terima kasih" ucap Sakura sambil menyunggingkan senyumnya yang sangat manis. "yap, boleh" Sasuke menjawab pertanyaan para gadis itu dengan santai, seperti sikap biasanya yang kalem. Mereka berusaha menyingkirkan perasaan bete mereka saat saling bertemu tadi. Mereka tidak akan menghancurkan perasaan orang-orang ini.

Sakura baru mulai meniti usahanya, dia tidak akan memberantakkannya karena perasaan bete pada Sasuke, Sasuke sendiri tidak ingin merusak semua yang telah dia bangun bersama teman-temannya selama ini.

Setelah berbasa-basi para penggemar masing-masing bubar. Meninggalkan mereka yang langsung dalam hitungan hanya satu detik kembali bad mood. Setelah memberi tatapan tajam keduanya melangkah menuju kelas, kelas yang mereka tuju berlawanan jadi mereka harus saling melewati.

"ternyata kau penjilat juga ya" bisik Sasuke di telinga Sakura. Sakura terkejut dan langsung menoleh kesamping, dia menatap Sasuke sengit. Sasuke mengangkat kepalanya dengan wajah poker face dia membalas tatapan Sakura. "apa maksud mu" tuntut Sakura. "berpura-pura manis didepan mereka karena popularitas yang masih baru, heh?" kini Sasuke mengulas senyum mengejek. Telinga Sakura memanas. "hei, jaga mulutmu, kau pikir kau juga tidak penjilat, bersikap sok cool, karena menjaga image" balas Sakura berkacak pinggang.

"aku tidak bersikap sok cool, aku Cuma tidak mau cewek-cewek tadi kecewa" bantah Sasuke. Sakura mencibir, "sejak kapan kau memperdulikan perasaan orang lain". Sasuke mengerutkan kening, "kau tidak mengenalku, jadi kau tidak bisa seenaknya men-judge ku". "kalau begitu sama" balas Sakura sembari melangkah dan menatap lurus kedepan. Meninggalkan pemuda bermata onix yang menatap punggungnya dengan tajam.

TBC

.

.

A/N ; bagaiana apa kah puas dengan naruhina dan pair lainnya, saya mau ucapkan terimakasih pada yang telah baca, suka dan review fic Ai ^^.