Disclaimer : I Don't Own The Characters

Warning : OOC, AU, Mainstream dll

.

.

.

Piece 7

Temari behenti didepan pintu pepustakan dengan raut bingung, yah, wajar sih, pasti semua orang akan bingung melihat satu petak keramik yang diberi pita pembatas. Didepan keramik itu ada papan yang bertuliskan, tolong jangan diinjak. Bingungkan, buat apa benda seperti itu ada didalam perpustakaan.

Temari mundur selangkah dan mengambil ancang-ancang untuk melompat. Saat dia berhasil menjejakkan kaki kirinya keseberang, kaki kanannya tidak siap. Jadilah gadis itu kehilangan keseimbangan. Dengan wajah panik dia dapat merasakan tubuhnya yang condong kebelakang, bersiap untuk jatuh. Dan kini kaki kirinya telah ikut kehilangan pijakannya.

"uwaah", Temari menutup mata rapat. Tapi dia merasakan tubuhnya tertahan, ada tangan yang menangkapnya. Temari membuka mata, seketika mulutnya tenganga melihat siapa yang telah menolongnya. Shikamaru. Shikamaru melingkarkan tangan kanannya dipinggang Temari lalu perlahan-perlahan dia menarik tubuh Temari, membantu gadis itu berdiri.

Wajah Temari memerah, dia tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan Shikamaru masih datar dan lempeng saja wajahnya, pemuda itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Barulah saat Shikamaru hendak berbalik Temari buru-buru bicara. "eh, terimakasih" ucapnya canggung. Shikamaru berbalik lagi mengangkat alis, lalu mengulas senyum ringan, "forget it".

"ciee" terdengar suara jahil yang tiba-tiba nimbrung, suara yang merusak suasana itu datang dari sebelah. Dari Yamato yang sedari tadi terabaikan, Yamato tersenyum lebar, pria itu sudah sedari tadi memperhatikan tingkah kedua siswa itu. Sepertinya dia sangat menikmati pertunjukkan didepannya. Wajah Temari kembali memerah, dia benar-benar malu sudah menjadi tontonan Yamato. "wah, romantis, ada drama salah layar, hehe" Yamato terkekeh senang.

Mulut Shikamaru kontan menekuk kebawah, "apaan sih, biasa aja deh". Yamato masih terkekeh tidak jelas. "oh ya, pak Yamato kenapa lantainya di beri pita pembatas" Temari buru-buru mengalihkan topik, dia sudah malu berat. "oh itu kejadiannya benar-benar kacau" Yamato geleng-geleng sendiri.

"jadi kemarin ada anak yang baru selesai buat percobaan kimia, dia butuh bahan refrensi tambahan, jadi dia kesini sambil membawa percobaannya, waktu mau keluar dia hampir menjatuhkan buku yang dia bawa karena kaget dan berusaha menahan buku dia malah menjatuhkan percobaannya, percobaannya itu belum sempurna dan unsur hidrogen yang tinggi tentu jadi bahan peledak yang cukup kuat, saat jatuh terjadi ledakan dan keramik jadi hancur, baru selesai dirapikan dan semennya masih belum kering " jelas Yamato panjang lebar.

"puf, hahaha" Temari dan Shikamaru kontan ketawa membayangkan bagaimana wajah Yamato saat ledakan kecil itu. Yamato manyun. "hei itu sebuah kerugian lho". "maaf" sahut keduanya kompak masih berusaha menahan tawa. "sudah ah, gih sana cari buku yang pengen kalian baca" usir Yamato. "iya, iya" jawab Shikamaru lalu mulai berjalan kearah rak ilmu alam.

Sedangkan Temari melangkah kearah rak novel. Yamato geleng kepala lalu menarik novel yang ada didalam lacinya, novel yang sempat terabaikan karena adegan Shikamaru dan Temari, menggoda mereka adalah prioritasnya.

Sunyi, ketiga orang itu tenggelam dalam keasyikan bacaan masing-masing, jarang sebenarnya bisa sehening ini, mengingat kalau Temari dan Shikamaru biasanya ribut kalau ketemu. Mungkin karena mereka sedang tidak mencari buku yang sama. Memang ketiganya kalau sudah membaca buku yang menarik sering nggak ingat... apapun.

Dering bel tanda berakhirnya jam istirahat menyentakkan ketiganya, mengembalikan kesadaran kedunia nyata setelah tadi sempat berkelana kedunia buku yang ajaib. Temari dan Shikamaru menutup bukunya dan memutuskan untuk meminjamnya. Keduanya sampai ditempat Yamato bersamaan tapi yang bersangkutan masih asyik dengan bacaannya dan mengabaikan dua orang yang berdiri didepannya. "baca apaan sih?" tanya Shikamaru sambil mengangkat novel ditangan Yamato.

"Autumn In Paris?!" sahut Temari heran bercampur kaget. "hei jangan sembarangan mengusik orang" seru Yamato menarik kembali buku itu. "pak Yamato baca novel itu?" tanya Shikamaru lagi sambil mengangkat alis, "itukan novel cewek banget" sambungnya. "memangnya kenapa inikan novel bestseller, apa salahnya baca buku terkenal" bela Yamato, mukanya mulai merah padam.

"tapi itukan novelnya melow banget" Temari ikut nimbrung. "aku tadi Cuma ngasal ngambil apa yang ada" lanjut Yamato. "tapi tadi kelihatannya asyik banget sampai nggak peduliin kita" sanggah Temari, "lagian kalau ngambil acak juga bisa ngambil buku lain kayak The Cuckoo's Calling " sambung Shikamaru menunjuk novel tebal di rak dekat Yamato.

"sudah, kalian mau pinjam bukukan?, nggak usah dipermasalahkan juga hal yang tidak penting" ucap Yamato mulai mencari jalan menyelamatkan diri. Shikamaru nyengir kuda,"iya, nih" dia mengulurkan bukunya, Temari juga melakukan hal yang sama. "eh, pak Yamato" panggil Temari, "apa?" tanya Yamato yang sibuk menulis, sama sekali tidak menoleh.

"nangis nggak bacanya?" Tanya Temari iseng, Yamato mengangkat wajah cemberut. "kalian kalau soal mengganggu kompak ya" komentarnya kesal. Temari dan Shikamaru hanya bisa tertawa tertahan.

"nih bukunya, cepat sana pergi" kata Yamato sembari menyerahkan buku. "jadi ceritanya kita diusir nih?" Shikamaru memutar matanya, "supaya nggak ketahuan nangis baca Autumn In Paris ya?" sambung Temari membuat Yamato makin keki, dia tidak menyangka kalau kedua murid yang sering diledekinnya itu kalau bersatu bisa mengalahkannya telak.

Temari bersiap melompat tapi dicegat Shikamaru, "biar aku duluan, jadi kalau kau mau jatuh lagi bisa kutangkap lagi" Shikamaru menyeringai. Temari cemberut, "nggak, aku saja yang duluan, nggak bakalan jatuh kok". "whatever" Shikamaru mengangkat bahunya.

Temari melompat dengan lebih mantap, kedua kakinya berhasil mendarat sempurna. "tuh kan, aku nggak bakalan jat-" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dirasakannya tubuhnya tertarik kebelakang, tapi tertahan. Tanpa ia sadari Shikamaru sudah melompat dan menariknya pelan namun menahannya.

"untung ada aku kalau nggak..." seringai Shikamaru. "nggak lucu" seru Temari Jengkel oleh candaan Shikamaru. Temari menyentakkan tubuhnya, lalu memberengut, Shikamaru terkekeh pelan, "lo jelek kalau cemberut lho" godanya. Temari makin memberengut, "terserah" lalu dia berderap pergi, sudah tidak tahan dengan perasaan malu diledek. Shikamaru tertawa rendah baru kali ini dia merasa puas sudah membuat gadis itu merah padam.

Ino menempelkan brosur di tembok – tembok jalanan, dia memakai kaus ungu dan rok jeans abu-abu selutut. Sepulang sekolah gadis pirang itu menempelkan brosur yang telah dirancang dengan ketiga temannya. Brosur itu berisi informasi tentang band mereka serta kontak mereka, jadi mereka bisa mendapat orderan dari kafe-kafe. Mereka akan bermain musik terus selama bisa. Yah, walau hanya dia sendiri yang sekarang menempel brosur itu karena yang lain berhalangan.

"yap, disini selesai selanjutnya..." gumam Ino sambil tersenyum lebar lalu berbalik. Gubrak. Ino berbalik dan menabrak bahu seseorang, kertas-kertas brosur ditangannya terlepas, dan bersebaran. Ino panik dan segera berlutut memunguti kertas yang berserakan dijalan itu. "maaf" suara itu terdengar sangat familiar. Ino mengangkat wajahnya, tertegun. "Sai?".

Sai tersenyum sambil ikut memunguti kertas brosur itu, pemuda itu memakai kaus hitam bertuliskan Breaker Rules dan celana Jeans panjang berwarna biru. "maaf ya" Sai menyerahkan brosur yang telah dipungutinya. Mereka berdiri.

"nggak apa-apa, aku juga nggak merhatiin jalan" Ino tersenyum sembari merapikan kertas-kertas itu. "apa itu?" tanya Sai menatap tangan Ino yang masih sibuk berkutat dengan brosurnya. "oh ini, ini brosur buat promosi biar bisa manggung di kafe-kafe" jawabnya. "great" puji Sai. "thanks".

"sendiri aja?" tanya Sai melihat tidak ada personil Ars Ladies lain disekitar sini. Ino mengangguk. "mau kubantu?" tawar Sai. Mata Ino melebar, "nggak apa nih?, nanti kamu disangka sama teman-temanmu membantu saingan". Sai tertawa rendah, "nggak, aku nggak merasa kalian saingan kok" ucapnya ringan.

"tapi beneran nih?" tanya Ino sekali lagi, "iya, cantik" ucap Sai lalu mencubit ringan pipi Ino. Ino tersentak lalu tersipu. Sai mengambil sebagian kertas ditangan Ino. "tapi omong-omong aku rasanya pernah ngalamin hal ini deh". Ino memutar bola matanya, mencoba mengingat lalu tersenyum, "ya, tapi waktu itu didepan loker dan yang jatuh buku".

"aku senang waktu itu kau tidak sejutek sebelumnya" cetus Sai, wajah Ino terasa panas, "yah, maaf sebelumnya kalau aku nggak ramah". Sai menggeleng, "kurasa kita sama-sama mengambil sikap yang salah waktu itu, jadi...", Sai mengulurkan tangan kanannya,"mau ambil sikap yang benar, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?". Ino menenggadah, menatap wajah Sai. Sai mengangguk, "mau berteman kan?". Ino tersenyum, "ya", dan menyalami Sai.

Terasa desiran aneh saat Ino menjabat tangan Sai. Sulit didefinisikan, rasanya membuat dia merasa salah tingkah tapi bukan berarti dia tidak suka. Ino melepaskan tangannya karena mulai merasa desiran itu menggelitik batinnya. Cara dia menggemgam tangan Ino begitu lembut dan hati-hati, dan Ino merasa dihargai.

"nah mau ditempel dimana ini?" tanya Sai sambil mengancungkan brosur ditangannya. Ah, hampir saja gadis itu lupa dengan tugasnya. "Disana" tunjuk Ino keseberang. "kalau begitu,ayo" ucap Sai sambil menarik tangan Ino. Ino tersentak tapi senyumnya terkembang tanpa ia sadari.

Hinata duduk dikursinya sambil membaca buku. Sekilas diangkatnya mata dari bacaan, melihat Karin dan Conan yang meletakkan tas dibangku mereka, tepat di depan bangku Hinata. Hinata kembali memfokuskan diri pada buku. Karin dan Konan bertukar pandang lalu saling mengangguk seolah mereka sedang melakukan telepati. Keduanya memutar tubuh menghadap Hinata. "Hinata" panggil Karin. Hinata mengangkat wajahnya, menatap keduanya tanpa ekspresi.

"kamu beneran nggak mau temenan?" tanya Konan. Hinata mengerutkan kening, itu lagi, apa sih yang dipikirkan cowok itu saat menyuruh mereka?. "kalian ingin berteman karena permintaan cowok nyebelin itukan?" balas Hinata datar, "aku tidak mau punya teman pura-pura". Karin menggeleng, "bukan kok, kalau kami mau, kami tidak perlu album gratis yang dia tawarkan, toh nanti kalau sudah rilis juga akan kami beli, mudah saja, fans klub mereka akan menyalurkan apapun yang berhubungan dengan band Shipuden".

Hinata memutar bola matanya, apa sebegitu besar pengaruh cowok-cowok itu disekolah?. "jadi?". Konan bengong sejenak, "jadi apa?". Hinata mendecak, susah memang kalau irit kata, orang biasanya tidak langsung mengerti apa yang kita inginkan. "jadi kalian mau apa?" jelasnya. "oh itu" senyum Karin terukir, "kami hanya ingin melihat kamu dengan Naruto".

Hinata melongo. Melihat aku dengan cowok nyebelin kuadrat itu?. "maksudnya?" tanya Hinata sama sekali tidak mengerti apapun. "iya, kalian keliahatan cocok sekali" jawab Konan, "kalian pasangan yang manis sekali" sambung Karin. Hinata langsung membantah, "kami bukan pasangan!", gadis bermata abu-abu itu terlihat sedikit emosional, jarang sekali melihat reaksi seperti itu, biasanya dia dingin sekali, sama sekali tidak terpengaruh apapun.

Konan dan Karin terkikik pelan, Hinata merasa sebal telah menjadi bahan tertawaan. "apanya yang lucu?" tanyanya sewot. "kamu kalau sudah menyangkut Naruto, jadi mudah terbawa emosi ya" komentar Karin. Hinata sedikit manyun, tentu saja, namanya saja cowok nyebelin kuadrat. "kalian tidak marah kalau dia suka sama cewek lain?" tanya Hinata, setahunya fans cewek tidak suka kalau idola mereka dekat dengan orang lain, alias mereka ingin idol itu hanya untuk mereka.

Karin dan Konan kompak menggeleng, "tentu saja nggak, kami tahu mereka punya hak untuk suka sama orang lain, merekakan juga punya kehidupan pribadi" sahut Konan. "jadi gimana nih Hinata, kamu maukan jadi temen kita? " sela Karin tidak sabar, dia merasa sudah cukup ngobrol yang OOT. Out of topic. Hinata mengetuk-ngetukkan jari ke mejanya, "kalau aku bilang tidak", tantangnya. "aku tidak akan berhenti memaksa" tanggap Karin. Hinata menghela nafas, sudah kuduga.

Hinata kembali mengetuk-ngetukkan jari ke meja sambil berpikir, "asal kalian berjanji tidak memaksaku dengan cowok nyebelin kuadrat itu" ungkapnya pelan. "itu artinya kamu mau?" tanya Karin bergairah dan semangat, cewek itu hampir mau melompat dari kursi saking senangnya. Hinata mengangkat bahunya sembari mengukir senyum tipis, artinya ya.

TBC

.

.

A/N: bagaimana?, baguskah piece ini?, saya berharap review dan dukungannya ^-^