Disclaimer : I Don't Own The Characters

Warning: AU, OOC, Mainstream dll

Song: The Technicolor Phase – Owl City

.

.

.

Piece 8

Tenten menyentuh daun pintu ruang musik pelan, pintu itu terasa bergeser tanda tidak ditutup. Suara piano samar mengalun. Didorongnya daun pintu perlahan dengan telunjuknya, membuat celah kecil. Celah yang cukup untuk melihat sampai ke grandpiano yang ada ditengah ruangan. tentu saja didepannya ada seseorang yang tengah bermain. Pemuda berambut panjang yang sedang menggerakkan jari-jarinya di atas tuts dengan mata terpejam dan bibir yang terkatup.

Tenten ragu, dia menghela nafas. Dia tahu kalau kakak kelasnya itu sudah bilang tidak suka diintip, tapi rasanya kalau dia masuk itu hanya akan mengganggu saja. Terdengar suara dentingan keras. Beberapa tuts piano yang ditekan bersamaan dengan keras. "apa aku harus mengulang yang kukatakan waktu itu?".

Tenten tersentak saat mengangkat wajah dan mendapati Neji sudah menatapnya. Bagaimana bisa? Tanyanya bingung dalam hati. Neji sedang menutup matanya saat bermain dan celahnya juga kecil dan saat membuka pintu tidak ada suara yang dia hasilkan. Jadi bagaimana caranya cowok ini tahu dia ada?.

Jangan-jangan cowok ini punya indra keenam, pikir Tenten bergidik, uh dia jadi sedikit merinding. Tenten mendorong pintu dan masuk. "aku hanya tidak ingin mengganggu" ucap Tenten membela diri. "aku lebih terganggu jika diintip" balas Neji. Tenten mengangkat bahunya, "maaf", yah walau dia tidak mengerti kenapa seniornya ini risih ditonton secara sembunyi-sembunyi.

Neji kembali menghadap piano dan memainkan jarinya dengan cepat. Tenten menatapnya serius, jujur saja gerakan seniornya membuat dia iri. Permainannya jauh berbeda dengannya yang bermain lagu pop. "aku ingin lebih baik lagi dengan piano, aku ingin menjadi hebat" gumamnya tanpa sadar. Neji berhenti bermain dan menoleh kesamping. "kalau begitu belajar".

Tenten tersentak. Ternyata gumamanya keluar dari mulutnya, dan gumaman pelan itu tertangkap telinga Neji. Memangnya telinganya setajam apa sih? Batin Tenten, dia tahu kalau gumamanya pelan dan Neji sedang bermain, bagaimana dia tetap bisa mendengarnya?.

"belajar maksudnya?" Tenten memiringkan kepalanya. "kau ingin lebih baikkan, kau ingin menambah kelincahan jarimu, itu artinya kau harus bermain dasar yang sulit" jelas Neji. Tapi Tenten terlihat makin bingung, "dasar yang sulit?". Neji mengangguk, "sini duduk" perintahnya sambil berdiri. Tenten menurut walau masih belum mengerti. "Coba mainkan ini" Neji meletakkan buku di atas piano. Mata besar Tenten melebar. "HAH! Yang benar saja" serunya hampir berteriak, saat melihat sederetan not-not balok yang begitu rumit. "lagu klasik?!".

Turkish March – Mozart. Seniornya ini pasti sedang bercanda. Dia sama sekali tidak tahu apa lagu itu, yang dia tahu Mozart adalah seorang komposer besar, dan kata orang lagu-lagunya sangat bagus untuk kecerdasan anak kecil. But, hell, hal lain yang dia tahu tentang Mozart adalah nada-nadanya yang rumit ajegile.

Neji mengangkat sebelah alisnya sembari memasukkan tangan kedalam saku. "mulailah" suruhnya. Tenten menatapnya dengan pandangan tak percaya. Mulai? Apanya yang bisa dimulai, dia sama sekali asing dengan not-not dihadapannya. "tapi aku sama sekali nggak tahu lagu klasik" tuturnya. "apa aku bertanya kau tahu, aku hanya menyuruhmu mencoba" balas Neji ringan.

Tentu saja bagimu mudah,kau mungkin sudah memainkan lagu ini sebelum bisa berjalan rutuk Tenten dalam hati, mana mungkin dia mengucapkan secara terang-terangan, bisa-bisa kakak kelasnya ini berubah jadi monster. Yah, siapa tahu Neji sejenis Hulk. Ups, otaknya mulai kacau nih.

Tenten mencoba memainkan not-not yang tertera dibuku. Dan benar saja, dia kesulitan mengikuti setiap nada-nada cepat itu. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia kepayahan, banyak nada yang meleset. Neji menaikkan alis setiap mendengar kesalahan dari permainan Tenten. "ada sebelas nada yang salah" ucap Neji sebelum Tenten selesai memainkan lagu itu.

Tenten menoleh, "hah?!" tanyanya frustasi, otaknya sedikit pusing berkutat dengan sekelumit nada-nada buatan Mozart tadi. "tanganmu kurang cepat, refleknya agak lamban, dan akurasi jari-jarimu juga rendah" komentar Neji mengabaikan kalau Tenten sudah memasang wajah tidak kuat lagi.

Tenten terdiam memikirkan ucapan Neji, memang nada yan meleset dikarenakan dia salah memencet tuts, dan suara yang sumbang mungkin karena iramanya tidak cukup cepat. Gadis itu menghembuskan nafas pelan, sekarang dia tahu kemampuannya dan Neji terpaut jauh. "akan ku contohkan" ucap Neji tiba-tiba lalu duduk disebelah Tenten.

Pemuda itu mulai bermain. Jari-jarinya bergerak dua kali lebih cepat dari jari-jari Tenten, tidak ada nada sumbang, tidak ada not yang meleset, dia bahkan dapat memainkan lagu sulit itu dengan mata terpejam. Tenten benar-benar terpukau. Dia seorang jenius bisiknya penuh kagum jangan jangan dia tidur sambil main piano.

Neji melirik kesamping, dan mendapati cewek disebelahnya sedang memperhatikan tangannya yang sedang sibuk dengan tuts. Neji mengulum senyum, dia tidak pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya, tatapan yang penuh kagum dan terbuai, hanyut dalam menikmati lagunya.

Walaupun sudah sering ditonton cewek tapi biasanya mereka hanya menatap penuh pujaan dan kagum namun bukan menikmati lagunya. Mereka hanya berpikir tentang cowok keren yang pinter main piano. Mereka tidak peduli bagaimana dia memainkan lagunya, mereka tidak datang untuk menikmati lagunya, mereka datang untuk melihat salah satu dari cowok populer. Dan Neji benci akan ketidak pedulian mereka pada musiknya, karena musik baginya adalah sesuatu yang berharga.

Neji menyelesaikan permainannya. "mengerti?". Lalu dia berdiri menatap arloji berwarna perak yang melingkari pergelangan tangannya. "aku harus pergi" dia ada janji dengan adiknya, dia tidak mau membuat adik tersayangnya itu menunggu terlalu lama. Neji menyandang tasnya, tapi lalu membuka dan terlihat mencari sesuatu.

"ini" sahut Neji sembari menyodorkan selembar kertas partitur. Tenten menerimanya lalu menatap Neji dengan pandangan bertanya. Neji segera paham, "itu milik sekolah" tunjuk Neji pada buku lagu diatas piano, "jadi tidak boleh dibawa, kau bisa berlatih dengan punyaku dirumah". Tenten mengangguk paham, "tapi apa kakak tidak memerlukan ini?" tanya Tenten ragu. Neji menggeleng, "aku sudah hafal". Sekali lagi Neji sukses membuat Tenten iri.

"kalau begitu terimakasih banyak" ucap Tenten membungkuk. Neji mengangguk sekilas lalu berjalan setengah berlari kearah parkiran. Tenten mengamati kertas ditangannya. Bisakah aku jadi sehebat dia? Batinya bertanya.

Neji membuka pintu samping mobilnya untuk Hinata yang sudah menunggu berdiri didekat mobil berwarna silver itu. Setelah itu dia berbalik memutari mobil masuk ketempat pengemudi. Saat baru saja duduk, "kakak, tadi teman sekelas kakak titip pesan karena kakak sudah pergi duluan padahal ada rapat kelas, kakak disuruh tampil rabu besok" sahut Hinata sambil sibuk memakai sabuk pengaman.

Neji menoleh bingung, "untuk apa?". "untuk pertemuan mingguan, rabu besok giliran kelas kakak" jawab Hinata. Neji menepuk keningnya pelan. Kenapa dia bisa lupa, setiap sebulan sekali setiap kelas mendapat giliran untuk membuat acara didepan seluruh murid. Isi acaranya bebas kepada para murid. Ada berbagai penampilan, mulai dari bernyanyi solo maupun grup, drama singkat, pidato, puisi dan puisi, semuanya dirangkai semenarik mungkin selama satu jam penuh.

"apa tugas ku?" tanya Neji mulai menjalankan mobil keluar parkiran walau sebenarnya dia sudah menduga apa jawabannya. "pertunjukkan piano, kakak diminta menyanyikan lagu romantis" jawab Hinata mencari novel didalam tasnya, kemarin dia baru saja membelinya dan baru membaca setengah dari buku itu.

"lagu romatis?, untuk apa?". Oke, yang satu ini tidak ada dalam dugaannya. "kan pertunjukkanya tanggal 12 Februari, deket Valentine day, jadi disesuaiin aja". Uh, Valentine day, Neji sedikit mengerang. Dia tidak peduli apapun soal hari yang disebut sebagai hari kasih sayang itu. Karena cowok ini tidak pernah benar-benar merayakannya, terutama dengan pacar.

Yep, percaya atau tidak, cowok tampan, kalem dan berbakat ini belum pernah pacaran!. Dia masih single sampai kelas 12 SMA ini, tapi justru ini yang membuat penggemarnya sedikit agresif, karena pemuda cool ini masih available. "aku tidak tahu mau bawa lagu romantis apa" gumam Neji lesu. Hinata menoleh, mengalihkan perhatian dari novel. "lagu yang biasa kakak bawain aja, lagu yang kakak suka aja" sarannya. "contohnya?" tanya Neji.

Hinata berpikir sejenak, "fur elise". Neji menggeleng, "itu memang romantis tapi ada orang yang menganggapnya seram". "sempurna?". "sudah pernah dibawakan". "just the way you are?"." Udah terlalu sering dinyanyiin orang lain". "marry you?". "aku nggak mau ngelamar seseorang". "all of me?". "kemarin band itu membawakan lagu itu". "i will always love you?". "nadanya ketinggian". "my love go on?". "sama aja tinggi".

"aaahhh..., nyerah " ucap Hinata putus asa. Dia sudah kehabisan ide. "kakak searching di internet aja deh". Bukannya seleranya dan Neji berbeda jauh, selera musik mereka hampir sama malah,apa yang disuka Hinata juga lagu yang disuka Neji. Hanya saja untuk masalah perform kakaknya sangat picky, dia mau lagu yang benar-benar pas dengan event, tema, diketahui orang tapi bukan yang sudah banyak dinyanyikan, ribetkan?.

Hinata memilih kembali pada bacaannya, agak kesal karena semua idenya ditolak, sedangkan Neji memikirkan lagu yang tepat. Dalam hati dia mengerang, lagu romantis, benar-benar bukan tipenya. Dan sampai gerbang rumah mereka kelihatan, tidak ada satupun lagu yang muncul dipikirannya.

Karin dan Conan berjalan disepanjang koridor yang lenggang sambil bercanda dan tertawa. Mereka berhenti saat melewati ruang musik. Pintunya sedikit terbuka. Mereka mendengar dentingan piano. Langsung saja mereka ambil ancang-ancang pose mengintip. Kepala mereka celingak-celinguk, benar-benar gerakan mengintip yang parah. Sedikit saja orang yang diruangan menoleh, mereka langsung ketahuan, karena tidak ada tanda kalau mereka berhati-hati.

Mata mereka menangkap sosok yang duduk didepan grandpiano yang berada ditengah ruangan. heran deh kenapa mereka celingak-celinguk padahal wajah mereka langsung menghadap tengah ruangan. "wah, Hinata" bisik Karin tertahan. Konan meletakkan telunjuknya di bibir sambil mendongak pada Karin, gadis berambut biru itu mengerutkan kening."ssstt". Hinata mulai memainkan tuts lalu membuka mulut bernyanyi.

"I am the red in the rose, the flowers
on the blankets on your bedroom floor.
And I am the gray in the ghost that hides
with your clothes behind your closet door."

"uwah, keren" desis Karin kagum. Konan hanya bisa terdiam, terlalu takjub untuk mengomentari lagu The Technicolor Phase – Owl City yang dibawakan dengan sempurna. Yep, kata sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkan permainan piano Hinata dan suaranya yang lembut.

"If you cut me I suppose I would bleed

the colors of the evening stars.
You can go anywhere you wish 'cause I'll be there, wherever you are.
(wherever you are) "

Gila, batin Karin berdecak kagum, bagaimana bisa Hinata memainkan nada-nada instrumentalis tersebut dengan hanya piano?. Nada-nada lagu Owl City yang bergenre electronica termasuk sulit ditiru, karena penyanyi tersebut juga memanipulasinya dengan baik menggunakan komputer. Tapi memang bukan berarti tidak bisa diaplikasikan pada piano, karena Owl City selalu membuat lagu pertama-tama dengan piano baru kemudian musiknya dikerjakan dengan alat musik lain dan komputer.

Hinata selesai memainkan lagunya sampai selesai. "Hinata, kamu keren banget" seru Karin yang menghambur masuk bersama Konan. Hinata membelalakkan mata kaget. "kalian..." ucapnya pelan. "Hinata, yang tadi itu luar biasa " puji Konan. "apa yang kalian lakukan disini?" tanya Hinata menatap mereka bergantian dengan intens.

"oh...,kita hanya kebetulan lewat terus denger" jawab Karin ringan. "kok kita nggak pernah tahu kamu bisa main musik sih?" tanya Konan dengan nada sedikit memprotes, ya iyalah, kemampuan seperti itu kan asyik banget bisa didengar setiap hari.

Hinata terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu dengan sedikit guratan sedih tak kentara sehingga Karin dan Konan tidak dapat mengetahuinya, tapi lalu wajahnya kembali datar. "aku tidak mau dianggap pamer" ketusnya sedatar mungkin. "pamer apaan, eh kamu bisa apalagi selain piano" tanya Karin semangat. "gitar dan biola". "kalo gitu mainin gitar dong" pinta Karin cepat.

Hinata meringis di dalam hati tapi tetap mengambil gitar lalu memetiknya dan menyanyikan lagu Let Her Go dari Passenger ,Karin menumpukan kedua tangan ke piano dan meletakkan wajahnya, mendengarkan dengan penuh minat sedangkan Konan duduk menghadap Hinata menikmati petikan dan suara Hinata. Hinata menutup matanya, sudah berapa lama ya, ada yang mendengar permainanku selain kakak dan ayah?.

Kurenai memasuki ruangan kelas, anak-anak muridnya nampak berlarian kearah tempat duduk masing-masing. Kurenai adalah guru kesenian untuk kelas sebelas, dia termasuk guru faforit karena selain baik dan ramah guru ini juga sangat cantik. Hinata mengeluarkan buku catatannya, sedangkan Karin dan Konan yang duduk didepannya tengah asyik berbisik, entah apa yang mereka bicarakan mungkin menggosipi keakraban antara guru Kurenai dan guru Asuma. Dasar.

Kurenai membuka buku pelajaran, saat ini dia sedang mengajarkan tentang musik, semua muridnya mendengar penjelasannya dengan serius dan mencatat tulisan yang ada dipapan tulis. Kurenai melirik jam dinding, waktu menunjukkan sepuluh menit lagi waktu jam pelajarannya akan habis.

"untuk minggu depan kita akan mengambil nilai praktik, kalian akan menyanyikan satu lagu diirngi dengan alat musik, ada pertanyaan?" jelasnya yang disambung dengan tanya. Salah satu murid mengangkat tangan, "apakah lagunya boleh bebas bu? Atau harus lagu wajib nasional?". "kalian boleh menyanyikan lagu kesukaan kalian dalam bahasa apapun" jawab Kurenai.

Para siswa mulai ribut membicarakan lagu apa yang akan mereka nyanyikan. Suara dering bel, Kurenai segera mengemasi buku-bukunya dan berjalan keluar. Karin dan Konan langsung bicara dengan seru sedangkan Hinata dengan tenang memasukkan bukunya kedalam tas dan mengambil novel untuk dibaca.

"Hinata, kamu mau nyanyi lagu apa?" tanya Karin menatap Hinata, Hinata menaikkan pandangannya, menatap Karin dari sudut atas bukunya. "aku tidak akan ikut" jawab Hinata datar. "lho, kenapa?" Konan mengedipkan matanya beberapa kali, bingung.

"aku tidak mau tampil didepan banyak orang" jelas Hinata kembali menurunkan pandangan ke arah novel. "memangnya kamu mau nilai praktekmu kosong?" Karin mengerutkan kening. "aku akan izin tidak tampil dan mengantinya dengan tugas lain" jawab Hinata acuh. "tapikan suaramu bagus" protes Karin. "lalu?" balas Hinata. Konan ikut berkomentar "seharusnya kamu tampil, perlihatkan kalau kamu punya suara yang bag...".

"aku tidak mau" potong Hinata tajam. Karin menyipitkan mata dan menumpukan tangan di meja Hinata, "apa salahnya". "aku tidak mau, habis perkara" Hinata berdiri lalu pergi. "hei" Karin mencoba mencegat tapi sama sekali tidak digubris.

"ada apa dengannya?" Karin melongo menatap kepergian Hinata, dia tidak mengerti sepertinya Hinata tidak ingin sekali bermain didepan umum. "aneh, dia seperti benci sekali dengan tampil didepan orang banyak" Karin ikut memandangi arah pandangan Karin. Yah, kata benci lebih tepat nampaknya menggambarkan bagaimana ekspresi dan suara Hinata saat mereka membicarakannya. Bagaimana kilat mata abu-abu Hinata memantulkan rasa yang sangat dipendamnya.

Tiba-tiba wajah Karin cerah, seperti baru saja mendapat sebuah ilham. "kita ngomong sama Naruto, minta dia bujukin Hinata yuk " ajak Karin antusias. Konan menoleh, "yakin?". Karin mengangguk cepat, "Naruto pasti bisa buat Hinata mau tampil soalnya kalau sama Naruto, Hinata jadi nggak mau kalah gitu, apa lagi Naruto hobi bikin Hinata kesal, sedikit dorongan pasti berhasil " ucap Karin yakin. "kalau gitu yuk kita cari sekarang" ajak Konan lalu bangkit berdiri, "ayo" Karin ikut berdiri sambil tersenyum lebar.

TBC

ternyata di piece ini cuma ada adegan Naruhina sama Nejiten, seperti biasa aku nggak nyadar kalau ada pair yang kurang ^^ gomen.