Disclaimer : I Don't Own The Characters
Warnings : OOC, AU, Typo dlll.
Song : Dareka – Super Beaver
.
.
.
Piece 11
Para personil band Shipuden sedang berjalan beriringan di koridor menuju kelas mereka. "haahh" hela Naruto tiba-tiba sambil meletakkan kedua tangannya dibelakang kepalanya. Sai menoleh mendengar helaan nafas Naruto. "kenapa?". "kayaknya nggak asik nih, hari valentine tapi jomblo" jawab Naruto terdengar malas.
Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya. "kenapa tiba-tiba berkata begitu Naruto?" tanya Choji dari belakang sambil mengunyah keripik kentang yang belum habis dikantin tadi. Naruto mengerutkan keningnya, "aku hanya berpikir selama 17 tahun hidup, kenapa tidak satupun aku punya seseorang dihari valentine?" ucapnya retoris.
"itusih karena kau sial saja" balas Shikamaru cuek. "masa gue terus ngelewatin hari itu tetep bareng kalian" keluh Naruto "entar disangka gue gay". Serentak keempat kawannya menjauh satu langkah dari si pirang. "heh?, kenapa?" tanyanya bingung. "jangan bawa orang lain, kau dapat membuat orang salah paham" tukas Sasuke sengit, dia paling tidak suka dengan bayangan para homo yang banyak seperti banci, sumpah tadi rasanya dia merinding. Naruto Cuma bisa misuh-misuh.
Saat tiba dibelokan tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengarah lurus kearah Sasuke dengan cepat. Sasuke menahan kedua lengan orang yang berlari tanpa lihat kiri-kanan tersebut sebelum dia bertabrakan. Wajahnya kaget karena orang tersebut muncul tiba-tiba. Orang tersebut adalah seorang gadis, saat dia mengangkat wajahnya, matanya membulat, bersamaan dengan onix Sasuke yang melebar. "kau?" ucap keduanya bersamaan dengan wajah terperangah. Sakura yang tadi hampir menabrak Sasuke.
Lalu seorang cowok datang setengah berlari kearah mereka. Sakura menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan dia tiba-tiba saja langsung bersembunyi dibelakang Sasuke, tangannya meremas lengan baju Sasuke, wajahnya tampak takut. Air muka Sasuke tampak bingung. "Sakura,kenapa kau lari menghindariku, aku tidak jahat kok" ucap pemuda itu terlihat berusaha ramah.
Sasuke memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Rambutnya berwarna biru gelap, kulitnya pucat, matanya bulat dengan iris kecil ada sepasang coretan dikedua pipinya, saat pemuda itu tersenyum tampak taringnya yang mencuat dan terlihat panjang, bajunya urakan sekali, dan walaupun baju Naruto berantakan setidaknya Naruto punya wajah ramah dan bukannya menyeramkan seperti pemuda yang satu ini.
"Sakura,kau bersikap berlebihan, aku hanya ingin kau jadi pacarku kok, nggak lebih" ucapnya seperti tidak sadar ada orang lain disekitar sini. Sasuke melirik kesamping, Sakura mengelengkan kepalanya dan malah semakin mengkeret. "maaf, kau ini siapa ya?" tanya Sasuke.
Karena sungguh melihat raut ketakutan yang sangat tergambar diwajah Sakura, membuatnya agak penasaran. Pemuda itu menoleh kearah Sasuke dengan pandangan tidak senang. "ini urusanku dan Sakura, kau tidak usah ikut campur" sergahnya membuat Sasuke jengkel sekaligus sedikit tersinggung.
"kau tahu, sepertinya cewek ini merasa terganggu olehmu" ketus Sasuke. "perasaan mu saja" balasnya acuh, dan ia kembali membujuk Sakura. Oke. Sekarang Sasuke benar-benar jengkel. Sasuke bisa merasakan Sakura semakin memperkuat pegangannya. Geram sudah dia pada pemuda yang satu ini.
"hei, kau tidak bisa lihat dia merasa tidak nyaman, dia sudah menolak mu, sebaiknya kau pergi saja sana" Sasuke membentaknya dengan kasar. Suaranya dinaikkan, matanya menyipit sedangkan bibirnya terkatup rapat. Semua mengindikasikan dia marah.
Cowok itu menatap Sasuke marah, tangan kanannya terangkat, "sudah kubilang jangan ikut campur" geramnya lalu dengan cepat melayangkan pukulan kearah wajah Sasuke. Namun ditahan dengan mudah oleh Sasuke dengan tangan kirinya. Cowok itu menyeringai, "kau lumayan juga". Cowok itu mundur dua langkah, lalu maju dengan cepat. "Sakura, mundurlah" bisik Sasuke. Sakura tertegun tapi lalu melepaskan pegangannya dan melangkah mundur sambil mengangguk.
Pemuda itu dari kuda-kudanya terlihat hendak menendang Sasuke tapi Sasuke meletakkan kakinya kelutut pemuda itu, membuatnya berhenti. Lalu dia melayangkan tangan kearah wajah cowok itu, namun cowok itu berkelit. Dengan cepat Sasuke melayangkan kaki kanannya dan tepat kena kedagu cowok itu sehingga dia terlempar. Cowok itu berdiri dan memegangi dagunya sambil menyumpah lalu dia pergi dari tempat itu. Sasuke mencibir. Sakura tercengang melihat keahlian Sasuke, ke-keren, tanpa sadar dia mengagumi Sasuke.
"whoa, keren, lama nggak ngelihat Sasuke fight" cengir Naruto. "lama nggak latihan jeet kune do, ya, sekalinya latihan dikoridor sekolah" Sai ikut menghampiri sambil mengelengkan kepala. Untung koridor sedang sepi, kalau ramai Sasuke bisa dalam masalah, dia bisa dihukum karena berkelahi. "ck, kemana saja kalian" decak Sasuke baru sadar kalau sedari tadi sobat-sobatnya ini tak terlihat. "kita disini kok, nontonin" jawab Choji.
Mereka menghampiri Sakura. "kau tak apa Sakura?" tanya Naruto. Sakura mengangguk. " te-terima kasih" ucap Sakura pelan. Dia malu harus berterima kasih pada Sasuke. "hah?" Sasuke menunduk kearah Sakura memastikan kalau dia tidak salah dengar. "apa yang kau bilang tadi?". "terima kasih" ulang Sakura membuang wajahnya yang memerah. "aku tidak mendengarnya" Sasuke semakin mencondongkan tubuh, andai Sakura berpaling dia dapat melihat senyum samar Sasuke. Rupanya dia sedang dalam mode jahil.
"kubilang terima kasih!" ucap Sakura hampir setengah berteriak dan menolehkan wajahnya dengan cepat kedepan. Dia langsung terdiam, saat melihat wajah Sasuke yang dekat hanya berjarak 5 senti saja. Membuat Sakura menahan nafasnya. Sasuke tertawa dan menegakkan tubuhnya. Sakura tersentak, tidak menyangka kalau sipemuda sinis itu bisa tertawa. Dan mau tidak mau ia harus akui wajah Sasuke terlihat lebih menyenangkan saat tertawa.
"a-apa yang lucu?" tanya Sakura dengan nada sebal walau pipinya masih berwarna pink samar dan dia masih tergagap. Sasuke berhenti tertawa lalu menyeringai, "aku tidak menyangka kau juga bisa takut dan aku juga tidak menyangka cewek sepede mu bisa malu, wajah mu terlihat aneh" jawab Sasuke. Sakura membuang wajahnya yang kembali menyala. Kalau dia menyeringai seperti itu dia jadi menyebalkan.
"omong-omong, cowok tadi siapa " celetuk Sai mengalihkan topik. Sakura terdiam sejenak. Tangannya meremas ujung roknya. Kelima pemuda itu masih menunggu jawabannya. "namanya Kizame" ucap Sakura pelan. "ah aku rasanya pernah dengar nama itu" seru Choji. Shikamaru mengangguk "namanya cukup sering diperbincangkan, dia termasuk anak yang punya banyak kasus". "anak berandal heh?" Naruto mengangkat sebelah alisnya.
Sakura mengangguk dan menyambung ceritanya. "beberapa hari yang lalu dia menemuiku, dan menyatakan kalau dia menyukaiku, tapi kutolak, sepertinya dia tidak terima, dia semakin gencar, dia mengikutiku dan terus menemuiku, dia benar-benar memaksaku" Sakura ingat bagaimana Kizame menahan tanganya dan dia sama sekali tidak bergeming saat berontak.
Kelimanya kini paham, pantas Sakura segitu takutnya. "dia mengikutimu?" tanya Naruto, "ya, setiap pulang sekolah dan jam istirahat". Shikamaru memiringkan kepalanya "preman itu stalker?,huh tak kusangka dia sinting". Sasuke terdiam bibirnya mengatup rapat, tanganya dibenamkan semakin dalam kesaku.
"kau harus belajar bela diri nona" Sai menggelengkan kepalanya dengan wajah tak habis pikir, "sekolah isinya bukan anak baik saja". Naruto mengangguk "yah, paling tidak cara kau lolos dari orang jahat". Sakura berpikir lalu menganggguk "kurasa ada benarnya, ah lebih baik aku pergi dulu nanti yang lain mencari, bye" lalu Sakura berlari menuju kelasnya.
Mereka kembali melanjutkan jalan. Naruto melirik kearah Sasuke. "kenapa kau sedari tadi diam saja Sasuke". Sasuke menoleh dan mendengus, "memangnya gue seperti lo yang cerewet". Naruto manyun, "lo terlihat berpikir". Sasuke mengangkat bahu acuh. "memikirkan Sakura?".
Sasuke tersentak dan menoleh cepat saat Naruto berbisik pelan agar yang lain tidak mendengar, mereka sedang asyik ngobrol. "kenapa lo berpikir begitu?". Naruto mengibaskan tangan, "oh ayolah, gue mengenal lo dari SD, gue paling tahu kalau lo paling nggak suka milik lo dirusak, barang yang lo anggap penting tidak boleh diganggu, lo bersikap seperti itu tadi pada Sakura" Naruto memiringkan kepalanya "kau menganggap Sakura milikmu?".
Sasuke menatap Naruto tajam, "jangan bicara hal ngawur seperti itu". Naruto meletakkan tangannya didepan dada. "kedua" benar-benar mengindahkan Sasuke "kau merapatkan bibirmu, tanda kau marah, kau marah pada Kizame itukan?, kau tidak suka kalau Sakura terancam seperti itu".
Sasuke mendengus " gue hanya nggak suka cowok brengsek kayak begitu,urus masalahmu sendiri" sergahnya. Tiba-tiba mata Naruto menangkap sosok Hinata yang memasuki kelasnya sembari menenteng gitar, wajahnya memberengut sih. Naruto nyengir, "tenang, aku sudah mengurus masalahku kok".
Hinata memasuki kelasnya. Dia sedang kesal. Kenapa dia menerima taruhan Naruto. Kenapa dia jadi mudah terprovokasi begini. Dia menghenyakkan tubuhnya kekursi. Karin dan Konan yang ada didepanya terlihat gembira. "yeay, Hinata berubah pikiran dan mau tampil" sorak Karin kegirangan. Hinata mendengus. "apa yang membuat mu berubah pikiran?" tanya Konan. Hinata hanya memutar mata, malas kalau mengatakan jika dia dimanipulasi Naruto.
Kurenai memasuki kelas saat bel berdering. Sontak seisi kelas berlarian ketempat duduk masing-masing. Kurenai meletakkan tasnya lalu berdiri ditengah papan tulis sambil memegang buku absensi. Untuk ukuran seorang guru dia memiliki cara berdiri yang anggun. "baik, sesuai apa yang telah saya katakan minggu lalu hari ini kita akan mengambil nilai musik kalian, kita mulai sesuai urutan absen ".
Satu persatu murid mulai maju setelah namanya terpanggil. Hinata semakin gelisah saat namanya semakin dekat. Jantungnya berdetak cepat, jarinya diremas, keringat dingin mulai mengaliri tengkuknya. Rasa takut merayapinya perlahan, tapi dia tidak bisa untuk mundur lagi, sudah terlalu terlambat.
"Hinata Hyuuga". Jantungnya berhenti memompa selama sepersekian detik. Dia masih membeku. Karin dan Konan menoleh kebelakang. Mereka mengangguk, dari ekspresi mereka mendorong Hinata untuk maju, meyakinkannya.
Hinata menarik nafas panjang, lalu berdiri sambil menenteng gitar dia berjalan kedepan. Ia dapat melihat belasan pasang mata menatapnya. Dia duduk, menarik nafas kembali, oke, ini akan baik-baik saja, mengarversi diri sendiri. Konan menyenggol Karin, Karin menoleh, dengan tampang bertanya. Konan memberikan ekspresi menyuruhnya melakukan sesuatu secepatnya. Karin menepuk keningnya, mengeluarkan Handphone dan menulis pesan singkat dari dalam laci.
Naruto hampir tertidur karena bosan mendengar uraian membosankan tentang sejarah perang Troya. Ini sudah keberapa kalinya guru sejarahnya menceritakan kisah itu. Dia benar-benar menggilai kisah itu. Dia melirik kesamping, bahkan Shikamaru benar-benar sudah tidur. Getaran halus disaku celananya menyentakkannya. Dia merogoh isi saku, dan mendapati pesan masuk dari Karin. Dibukanya dan dibacanya.
Raut wajahnya tiba-tiba terlihat bersemangat. Naruto berdiri. "pak boleh saya permisi ketoilet". Pamitnya. Sang guru mengangguk. Dia dapat melihat Sai dan Sasuke mengikutinya dengan pandangan. Naruto berdiri diepan pintu lalu nyengir misterius. Sai dan Sasuke saling pandang. Sai menganggukkan kepalanya pada Sasuke, bertanya. Sasuke hanya mengangkat bahu.
Hinata menghela nafas, berkonsentrasi pada gitarnya. Memetiknya, memulai intro. Ia membuka mulutnya, ingin mulai bernyanyi, tapi matanya melebar saat melihat sekelebat warna kuning di dekat jendela. Dengan cengiran lebar Naruto mengancungkan jempol dan menggerakkan bibirnya. Good Luck. Hinata menelan ludah dan mengerang. Cowok sialan.
Hinata membuang wajah kedepan. Membuka bibir tipisnya, dan mengeluarkan suaranya.
"Oshare teido no kizu ga hoshii n deshou?
Oshare teido no doku ga hoshii n deshou?
Oshare teido no uso ga hoshii n deshou?
Soko ni honmono nado iranai no deshou?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya. Dareka, heh?. Setahunya itu lagu paling pendek di album Ai Suru, Super Beaver. Agak kecewa?, sepertinya. Kenapa tidak lagu yang lebih panjang sih?. But well, tak apa asal aku sudah mendengarnya bernyanyi .Naruto mengunci pandangannya pada gadis itu.
"Oh marude fiction sore ga non fiction na no ka
Oh tsumari fashion sore ga non fiction naraba"
Semua yang ada dikelas terdiam dengan wajah terperangah. Tidak menyangka gadis yang paling pendiam, tidak pernah bicara itu punya suara bidadari. Kurenai terdiam, matanya terpaku pada Hinata, buku nilainya terabaikan. Bagaimana bisa murid itu menyimpan suara emas, seharusnya gadis itu diikutkan lomba.
Hinata berdiri, selesai pada tugasnya, lalu pergi begitu saja ketempat duduknya. Kelas masih hening. Kurenai lupa pada absensinya. Hinata menatap gurunya bingung. Gadis indigo itu menyenggol tempat duduk temannya. Karin menoleh dan menaikkan sebelah alisnya, Hinata menganggukkan kepala kearah guru mereka. Karin membulatkan mulutnya, mengerti dan berbalik. "ehem, bu guru" panggilnya membuat sang guru tersentak. "ah, selanjutnya" ucapnya sambil buru-buru melirik absen.
Hinata melirik jendela, disana Naruto menyeringai dan mengancungkan jempol. Nice perfomed. Ucapnya tanpa suara. Hinata mengatupkan rahangnya. dasar cowok nyebellin kuadrat. Hinata membuang wajah, Naruto terkekeh pelan sepertinya dia harus kekelas sekarang.
Bel berdering, pertanda jam istirahat, Hinata melangkah keluar kelas. "congrats". Sebuah suara membuatnya menoleh. Naruto sedang bersandar didinding samping pintu.
Hinata berdiri menghadap cowok itu sambil melipat kedua tangan didepan dada. Puas?.tanya Hinata hanya dengan ekspresi. Naruto mengerutkan kening. "kau yakin masih mau bisu begitu?, teman sekelas mu sudah tahu kok suara mu ". Hinata diam dan membuang muka. Ah sial, gara-gara dia, hancur sudah yang kupertahankan selama ini. Hinata kemudian menatap Naruto tajam. "bagaimana dengan taruhannya?" tanya Hinata.
Naruto menegakkan tubuhnya. "baik akan kuturuti permintaan mu selama 3 hari, satu hari satu permintaan" ucap Naruto. "hei, itu tidak ada pada kesepatan" potong Hinata. Naruto memiringkan kepala dengan sikap polos. "oh ya?, sepertinya aku lupa bilang". Hinata menatapnya jengkel "kau curang". Naruto tersenyum, "sayang sekali nona, akulah yang membuat peraturannya, jadi apa permintaan pertamamu?". Hinata menatap Naruto dengan pandangan menusuk dan mulai bicara dengan setiap kata yang penuh tekanan. "jangan ganggu aku lagi selamanya!".
Naruto menggeleng dengan gaya prihatin, "sayang sekali tidak bisa". Hinata menatapnya heran, "kenapa?". Naruto menyeringai, "karena itu adalah sebuah kebutuhan bagi ku, permintaanmu tak bisa dilakuakan, kau tidak ingin melihatku menderita kan?". "oh, aku sangat ingin" jawab Hinata sinis.
Naruto meletakkan tangan didada seolah tertusuk, "oh kau kejam putri es, permintaan tidak boleh membuat mati seseorang". Hinata mencibir" kau tidak akan mati hanya dengan tidak melihat ku sehari". Naruto menggeleng "sayangnya iya, sebuah kebutuhan akan berpengaruh besar pada kehidupan, jadi bisa ganti permintaan mu".
Hinata menghentakkan kaki kesal. Berpikir kenapa dia bisa terjebak oleh permainan Naruto. Tapi sebaiknya dia memikirkan apa permintaannya. Naruto berdoa, semoga permintaan Hinata tidak aneh-aneh. "pertunjukan dibalas pertunjukkan, aku ingin kau membuat pertunjukkan solo" jawab Hinata akhirnya.
Naruto menghela nafas lega, "oke, besok akan kulakukan". Hinata memutar bola matanya. "nah, sekarang sudah sana pergi" usir Hinata. Naruto memanyunkan bibirnya, "kau jahat sekali, tapi memang aku harus pergi sih, dadah putri es" ucap Naruto sambil melambaikan tangan. "dasar rubah licik" desis Hinata mengamati kepergian Naruto.
TBC
A/N : nah piece ini sasusaku dan naruhina ya?, buat yang ship pair ini semoga suka ya ^^
ohya, review dari ana, saya emang sengaja dicerita ini ada banyak pair, karena idenya ya begitu, tapi buat cerita lain nanti mungkin saya cuman pakai satu pair...
salam Ai...
XOXO
