Disclaimer : I Don't Own The Craracters

Warnings : OOC, Typo, Au dll.

Song : Long Way Home – 5 Second Of Summer

.

.

.

Piece 13

Temari memasuki perpustakaan, dan bengong melihat keadaan tempat itu yang berantakan. Rak-rak kosong, sedangkan buku-bukunya terletak dilantai.

"ah, Temari, kalau kau mau pinjam buku nanti saja ya". Temari menoleh mendapati Yamato yang mengambil setumpuk buku dilantai dan meletakkannya di meja. "kenapa bisa berantakan begini?" tanyanya. "sebentar lagi ada penilaian sekolah, perpustakaan termasuk hal penting yang diperhatikan, aku baru saja membersihkan rak".

Temari mengangguk. "mau kubantu?" tawarnya. Yamato tersenyum, "tentu, kau bisa tolong mengelompokkan buku berdasar jenis, merek, dan ukurannya, kau bisa tolong Shikamaru disana".

Temari menoleh kaget, dia melihat Shikamaru yang sedang menyusun buku di meja yang luas. Dia tadi tidak melihat Shikamaru karena cowok itu menunduk tadi untuk mencari buku di lantai.

"tak kusangka kau mau melakukakn ini" sahut Temari sinis saat sudah berdiri dihadapan Shikamaru. Shikamaru mendengus, "kau bilang mau membantukan?, bukan mau mengomentariku" balasnya seraya menyodorkan dua buku agar diletakkan Temari dikelompoknya.

Temari mengangkat bahu, dan mulai membantu Shikamaru. Keduanya menyortir buku. Mengambil dilantai, mengelompokkanya, sesekali mengoporkan jika buku yang ditangan lebih dekat dengan yang lain. Saling mengintruksikan. Saling bekerja sama. Tidak ada perdebatan, tidak ada saling lempar kata-kata sinis.

Yamato mendekat, mengecek pekerjaan kedua orang tersebut. Sedikit khawatir mereka bertengkar, soalnya mereka benar-benar tidak akrab. Tapi sekarang dia tersenyum senang. Mereka kompak sekali. Bingung juga ternyata mereka bisa saling membantu.

Temari dan Shikamaru selesai menyortir buku dalam setiap merek yang sama. Saatnya untuk menyusunya di rak sesuai kategori yang telah ditulis di rak. Mereka mengambil setumpuk buku dan berjalan menuju rak berbeda. Temari menaiki tangga yang ada disana. Tangga itu tadi memang dipakai Yamato. Mereka menyusun buku dari rak teratas.

Gadis itu baru saja selesai meletakkan buku saat Shikamaru yang sedang membawa buku berjalan kearahnya tanpa melihat kedepan karena terfokus pada tumpukan buku yang hampir jatuh. Pemuda itu menabrak tangga, bukunya berhamburan. Tangga yang dipakai Temari bergoyang, gadis itu tadi melepaskan tangannya, sehingga dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya sudah terjatuh lebih dulu sebelum sempat menggapai pegangan.

"uwaah". Bruk. Dia merasakan tubuhnya terhempas, namun anehnya tidak sesakit yang ia kira. "kalau kau sudah selesai, cepat berdiri, aku rasanya remuk". Sebuah suara memecah keheranannya. "eh?". Di menoleh kebelakang. Pantas tidak sakit, ternyata dia terjatuh diatas tubuh Shikamaru.

Dia segera menyingkir, "kau tak apa?". Shikamaru bangkit duduk, meringis, "oh menurutmu aku baik setelah kau menimpaku" sahutnya sinis. Temari cemberut, "maaf deh, lagian kan salah mu juga jalan tidak lihat-lihat".

"ada apa?" Yamato muncul dengan raut khawatir. Dia cukup kaget setelah mendengar suara ribut. "dia menabrak tangga sampai aku terjatuh" Temari menunjuk Shikamaru. Shikamaru mengernyit, "dan dia menimpaku, hei, kau itu berat tahu".

Temari langsung kesal. Jangan pernah singgung masalah berat badan pada wanita. "apa kata mu?, jangan sembarang, aku tidak berat". Shikamaru mendengus, "dasar cewek, sensitif sekali kalau soal berat badan".

Yamato menghela nafas lega. "kalau kalian sanggup berdebat begitu berarti kalian baik-baik saja". "hei!" protes keduanya. Yamato membantu Shikamaru berdiri. "kau masih sanggup kan?". Shikamaru tersinggung, "aku tidak lemah".

"ya, sudah, kalian sama-sama salah kali ini jadi jangan bertengakar, tunda dulu pertengkarannya, tugas ini harus selesai" Yamato mendorong keduanya ke meja, membujuk agar keduanya tidak bertengkar, walau dia cukup senang melihat mereka bertengkar. "iya" sahut keduanya lalu kembali bekerja.

Selama setengah jam kemudian semua sudah tersusun rapi. Terorganisir baik, berdasarkan tipe, merek dan ukurannya. Temari dan Shikamaru menghempaskan tubuh kekursi dengan raut lelah. "wah, sepertinya capek sekali". Mereka melirik Yamato. Pria itu datang membawa tiga jus dan dango yang cukup banyak.

Wajah keduanya terlihat lebih cerah. "nih, sebagai ucapan terima kasih" Yamato meletakkan makanan dan duduk. Keduanya langsung mengambil minuman. Tak lama mereka segera terlibat obrolan yang menyenangkan. Yamato sangat pandai dalam mengarahkan pembicaraan. Mereka saling bertukar pikiran.

Yamato menikmati setiap pendapat kedua anak ini. Mereka berdua sama cerdas dan memiliki minat yang sama namun tak jarang persepsi mereka berbeda. Mereka sangat nyambung, bagaimana selama ini mereka hanya berdebat padahal mereka dapat berdiskusi dengan akrab.

Keduanya segera pamit setelah puas mengobrol. "hei" panggil Yamato saat keduanya tiba dipintu. "daripada berdebat tidak jelas, lebih baik kalian berdiskusi seperti tadi, kalian bisa jadi teman yang baik kok, dari pada bertengkar menambah masalah yang tidak selesai " sarannya.

Shikamaru dan Temari saling pandang lalu mengangguk. Kalu dipikir benar juga sih. Ternyata setelah bicara semuanya jadi mudah dan jelas . "sepertinya tidak buruk juga" Shikamaru mengangkat bahu. Temari mengerjapkan matanya lalu tersenyum dan mengangguk. Keduanya melambai pada Yamato dan pergi.

.

.

Hinata berjalan dikoridor, dia baru selesai dari kantin. Omong-omong selesai, dia sudah selesai meminta tiga permintaan di tiga hari pada Naruto. Hari pertama hanyalah pemanasan. Naruto tertipu dengan permintaan sepele seperti itu, hari kedua dan ketiga baru dia memunculkan sisi menyiksanya.

Hari kedua dia menyuruh Naruto untuk ber-cost play di sebuah acara yang diadakan kafe. Hal yang membuat Naruto tersiksa tentu saja karena kostum yang dipakainya adalah karakter cewek dalam sebuah anime. Wajah Naruto dirias secantik mungkin dengan baju lolita serta wig Hinata mempunyai apa yang tidak para fans Naruto punya, yaitu foto sang idola dalam balutan gaun yang imut dengan rok mini.

Hari ketiga. Dia menanyai Konan dan Karin tentang apa yang ditakuti cowok pirang itu. Keduanya punya informasi segudang kalau soal band Shipuden. Diapun tahu kalau Naruto Phobia ketinggian dan takut dengan hantu.

Alhasil dia menyeret pemuda itu ketaman bermain. Dia memaksa cowok itu untuk naik halilintar dan rollercoaster – yang berakhir dengan Naruto mengeluarkan semua isi perutnya. Setelah itu dia langsung mengajaknya masuk ke rumah hantu – Hinata tidak yakin saat tiba diluar yang disampingnya adalah Naruto, dia sempat berpikir itu adalah mayat bohogan rumah hantu, habisnya pucat banget, lemes dengan raut wajah tanpa roh.

Hinata tidak terlalu keterlaluan kan?.

Pantas Neji heran dan tidak tahan dengan kenakalan adik kecilnya ini, sehingga dia menjulukinya dengan setan bertubuh malaikat. Mungkin kedengaranya Neji kejam tapi coba saja kalian merasakan menjadi dirinya saat kecil dulu.

Mata abu tanpa pupil milik Hinata menangkap kelebatan warna pirang khas. Pemuda yang dijulukinya cowok nyebelin kuadrat itu sedang berjalan bersama sahabatnya, Shikamaru.

"aku dengar dari Sasuke kalau kau suka dengan adik dari Neji itu ya" perkataan Shikamaru membuat Hinata mematung. Nafasnya terhenyak, entah kenapa jantungnya berdetak, dan entah kenapa dia menunggu jawaban Naruto.

"jangan dengar perkataan orang itu, dia hanya sembarangan" dengus Naruto. Hinata menggigit bibirnya tanpa sadar. "tapi kau kelihatannya memang tertarik pada cewek itu" ucap Shikamaru kembali berargumen. Naruto mengibaskan sebelah tangan, "jangan salah sangka, aku hanya mendekatinya karena ingin menjahili cewek yang terkenal dingin itu".

Shikamaru mengerutkan kening samar, seolah tidak percaya, "serius?". Naruto mengangguk, terlihat mantap sekali. "tentu, memang kau pikir untuk apalagi?". Shikamaru mengangkat bahu, "entah, kupikir kau mungkin menyukainya, kau tahu, dia cukup cantik".

Naruto menyapu rambutnya, "aku iseng saja kok, habis menyenangkan melihatnya kesal, aku tidak peduli dia cantik, aku hanya mencari hiburan". Shikamaru lau mengangkat bahu acuh dan tidak berkomentar lagi.

Hinata hanya mendengarkan semua itu dalam diam. Ingin rasanya dia melabrak pemuda itu tapi tubuhnya malah berbalik dan berlari kearah toilet. Di dalam dia terisak tanpa suara. Rasanya sakit. Dia tidak mengerti, semua hatinya telah ia bekukan, lalu kenapa sekarang dia sangat sedih. Dia sudah mengerti akan semua ketidak sukaan orang padanya tapi kenapa saat ini masih terasa pedih?.

Hinata mengusap air matanya dan keluar dari bilik. Gadis itu berdiri menatap cermin. Disiramnya wajahnya, lalu sinar matanya kembali berubah. Sinar yang kuat dan keras dan dingin. Mungkin lebih baik aku benar-bear menjadi puri es tanpa hati.

.

.

Tenten memasuki ruang musik lalu menutup pintunya. Gurunya dalam hal ini adalah pemuda bernama Neji sedang bermain piano. Lagu klasik, entah apa judulnya Tenten tidak tahu. Dia berjalan kearah cowok itu sedang orang itu sama sekali tidak menggubrisnya.

Neji menghentikan permainannya. "lagu klasik lagi?" tanya Tenten. Neji mengagguk membalik buku lagu didepannya, lalu bermain tanpa sekalipun melirik buku itu. Jadi apa gunanya buku itu?, batin Tenten tak habis mengerti.

"selera kakak kenapa klasik sekali, apa setiap pianis grandpiano begitu?" lanjutnya, Neji menoleh, "maksudmu?". "kakak tidak suka lagu pop?". Neji kembali fokus pada tuts piano, "tentu aku suka, aku tetap mendengar lagu pop kok".

"kalau begitu coba mainkan" pinta Tenten semangat. Neji mengangkat bahu dan mulai bermain dan bernyanyi. Tenten tidak tahu ini lagu apa jadi dia bertanya, "apa judulnya?". "let it be" jawab Neji masih bermain. "siapa yang bawain?". "the beatles".

"ya, ampun, kakak lahir tahun berapa sih?" tanya Tenten lemas. Neji berhenti bermain dan menatap Tenten menuntut penjelasan. "selera kakak tetap kuno, itu sih band yang lebih cocok didengar ayahku". Neji mengerutkan dahi tidak setuju. "mereka itu band yang melegenda, mereka adalah perintis band rock".

Tenten mengangkat tangan. "setidaknya mainkan lagu yang aku tahu, yang sepantaran dengan zaman ku" keluhnya. Neji memutar bola mata, "hm, tapi sepertinya tidak usah pakai piano", lalu dia meraih gitar yang terletak tidak jauh dari jangkauannya. Tangannya yang belum menyentuh gitar ditahan oleh pergelangan tangan Tenten.

"aku mau dan lebih suka kalau pakai piano" ucapnya. Neji terdiam lalu mengangguk, Tenten tersenyum senang lalu melepaskan cekalannya. Neji memainkan jarinya lincah. Terdengar nada yang sangat menyenangkan. Tenten tersenyum, dia sangat kenal lagu ini.

Take me back to the middle of nowhere
Back to the place only you and I share
Remember all the memories?
The fireflies and make-believe
Kicking back in the old school yard
Singing songs on our guitars
This is our reality
Crazy stupid, you and me

Long Way Home – 5 seconds of summer, lagu kesukaanya. Dia ikut menyanyikan reff lagu itu. Lagu yang menggambarkan seseorang yang ingin mengahabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang disukainya. Dia tidak keberatan tersesat jika itu artinya dia bisa terus lebih lama dengan orang yang ia cintai.

So we're taking the long way home
'Cause I don't wanna be wasting my time alone
I wanna get lost and drive forever with you
Talking about nothing, yeah, whatever, baby
So we're taking the long way home tonight

Neji berhenti saat telah selesai menyanyikan lagu itu. "apa aku masih tetap kuno?" tanyanya menoleh pada Tenten. Tenten masih tersenyum lebar lalu menggeleng, "itu adalah lagu kesukaanku". Neji ikut mengulum senyum, "baguslah kalau begitu".

Neji kembali memainkan lagu klasiknya. Tenten hanya diam memperhatikan. Neji melirik gadis itu, bosan pasti kalau hanya memperhatikan. "hey, duduklah dan bermain" Neji menggeser duduknya. Tenten terkejut. "maksud kakak?". "duduk dan berduet denganku".

Tenten duduk dengan ragu, "memang kita akan main lagu apa?". Neji mulai bermain, "tidak ada". Tenten menatapnya bingung. "bermain saja sesukamu, sesuaikan dengan tangan teman duet mu untuk membuat nada yang enak didengar, aku sering melakukannya dengan Hinata" jelas Neji panjang lebar.

Tenten mulai dengan tidak yakin, lalu mencoba bermain sedikit klasik. Awalnya tidak terlalu cocok dengan nadanya Neji, tapi lama kelamaan mulai imbang dan mulai terbiasa. Dia pikir mungkin ini caranya Neji berlatih dalam membuat nada dan mempertajam insting musiknya.

Tapi sepertinya dia belum cukup terbiasa, karena jari tangan kanannya terpaut pada jari tangan kiri Neji. Dia menenggadah, dan langsung berhadapan dengan wajah Neji yang begitu dekat. Nafasnya tertahan, dia terdiam saat Neji mulai mendekatkan wajahnya. Nafas Neji yang hangat menerpa wajahnya.

Krriiiinnggg. Suara bel yang nyaring menyentakkanya, mengembalikan kesadaran yang tadi pergi entah kemana. Dia bangkit berdiri secepat kilat, "a..aku ha.. harus ke..kelas..k..kak" ucapnya terbata tanpa menatap wajah Neji lalu melesat keluar.

"hei!" Neji kaget namun tidak sempat mencegah gadis itu. Dia menghela nafas berjalan keluar dan menutup pintu. Pemuda itu mengelap wajahnya bingung. Dia tidak tahu kenapa terpikir seperti itu. Dia bahkan tidak pernah benar-benar memperhatikan cewek apalagi hampir menciumnya. Mungkin sebaiknya sebelum masuk kelas dia ketoilet dulu menyiram wajah agar kepalanya dingin.

Tenten berlari terus sepanjang jalan menuju kelasnya dan bahkan masih terus berlari saat masuk dan ketempat duduknya. Dia segera menghempaskan tubuh dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasanya wajahnya panas.

Ketiga temannya menatapnya heran. "hei, Tenten kau tidak apa?" tanya Sakura bingung. Tenten menggeleng lalu semakin menenggelamkan wajahnya pada telapak tangan. Apa yang dilakukan Neji tadi mampu membuatnya kacau.

.

TBC

A/N : kayaknya konflik udah mulai tuh, yep, lucukan konflik mulai di angka 13 yang kata orang angka sial, walau aku suka dengan angka itu karena menurut saya unik dan bagus...

ohya, kemarin piece 12 ada yang sadar rupanya saya lelet update, saya entah kerasukan apa males update (alasan macam apa itu?.) hmm... 3 pair yah di piece ini, kebanyakan aku emang isinya 2-3 pair per piece, yah saya tutup bacotan ini saja ya...

Ai . RnR?.