Disclaimer : I Don't Own The Characters

Warnings : OOC, AU, Typo dll.

.

.

.

Piece 14

Ino menutup pintu lockernya dan menoleh kesamping karena terdengar kasak kusuk. Murid-murid cewek sedang mengerumuni seseorang cowok. Pemuda itu sedang membelakanginya tapi punggunya terasa pernah ia lihat. Para siswi itu begitu heboh, wajah mereka terlihat begitu senang. Akhirnya pemuda itu berputar sedikit sehingga Ino dapat melihat wajahnya dari samping. Sai.

Pemuda itu sepertinya sedang bercanda dengan mereka. Tak heran dia punya banyak fans selain wajah yang oke, bisa bermusik, personil band dan dia sangat ramah. Dia bergaul dengan baik sekali.

"Sai, kau sudah punya pacar?" Ino mencoba ikut mendengar dengan tidak terlalu kentara. Ia bersandar kedinding samping loker. "belum" jawab Sai. "kalau cewek yang disuka?". Sai hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Selama beberapa menit Sai harus menjawab beberapa pertanyaan fansnya sampai bel berdering membuat mereka satu persatu pergi dengan tidak ikhlas.

Ino mengangkat sebelah alisnya saat melihat masih ada satu cewek yang berdiri didepan Sai. Entah apa yang mereka bicarakan. Sai mengangguk lalu tersenyum lembut dan bicara sesuatu. Awalnya Ino tidak dapat melihat wajah cewek namun cewek itu tadi sedikit berpaling sehingga terlihat raut wajahnya ceria sekali. Sai sedikit menunduk sedang gadis itu berjinjit lalu mencium pipi Sai.

Ino terkejut. Dia shock. Tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Sai. Gadis itu lalu bicara lagi, pergi dan melambai pada Sai. Sai hanya tersenyum dan berbalik berjalan berlawanan arah. Ino masih membatu. Tapi lalu dia dapat berpikir lagi. Dia mulai menduga hubungan antara gadis dengan Sai. Apakah Sai tipe cowok yang playboy, hal itu menjelaskan sikap kelewat ramahnya atau, Ino menelan ludah, gadis tadi adalah pacarnya?.

.

.

.

Hinata membuka pintu mobil dengan kasar lalu duduk dengan cepat. Kakaknya meliriknya, awalnya ingin mengomentari kelakuannya tapi tidak jadi. Mulutnya kembali bungkam, adiknya menatap keluar , kesamping. Namun wajahnya dapat terlihat, wajahnya terlihat marah, kemarahan yang dingin. Dia tahu pasti adiknya sedang bermasalah, masalah yang berat, tapi dia juga tahu semakin berat masalahnya semakin Hinata tidak mau bercerita. Hal yang membuatnya khawatir adalah aura dan raut Hinata, dia pernah merasakan pula sebelumnya. Sewaktu Hinata memutuskan untuk menjadi gadis yang dingin.

Neji menghela nafas, dia tidak bisa membujuk kalau Hinata tidak mau berbagi. Dia hanya berharap masalah ini tidak menekan adiknya secara mental, karena masalah yang dulu pernah terjadi telah membuat adiknya menutup sisi manisnya, membohongi banyak orang dengan menjadi sang putri es. Dia menjalankan mobil. Kini keduanya terdiam, memikirkan urusan masing-masing. Yah, Neji juga punya sebuah masalah kecil.

Setibanya dirumah, Hinata langsung membuka pintu lalu berjalan cepat masuk. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Neji membuang nafas panjang, ini bukan adiknya. Mungkin bagi orang yang hanya melihatnya disekolah bagi mereka itu adalah pemandangan wajar tapi disampingnya, Hinata adalah gadis manis, ceria, dan usil. Gadis yang dingin dengan raut tak ramah adalah sesuatu yang asing baginya. Setidaknya bagi dirinya dan ayahnya.

Hinata masuk kekamarnya. Bahkan tidak menyapa ayahnya yang duduk diruang tengah. Neji yang masuk ditatap Hiashi dengan tatapan bertanya, Neji hanya mengangkat bahu dengan sikap pasrah. Hiashi mengangguk mengerti. Dia memandangi tangga yang menuju ketingkat dua, menuju kamar anaknya. Dia khawatir dan sedih pada putrinya itu. Tidak lagi. Dia tidak ingin gadisnya sedih lagi, ini sudah tiga kali dia melihat mata putrinya yang kosong.

Saat ibunya meninggal, pengalamannya tahun lalu dan sekarang. Dan untuk saat ini dia tidak tahu apa alasannya.

Hinata menutup pintu, melempar tasnya kekasur. Lalu terduduk dilantai kamar yang dilapisi karpet. Bodoh, kenapa aku merasa kacau begini. Karena cowok itu lagi. Kenapa aku harus peduli. Tapi lalu sesuatu meleleh dari sudut matanya, meleleh begitu saja. Tidak ada isakan, tidak ada suara. Aku benci orang itu, seenaknya saja mempermainkan ku. Setiap kata Naruto terputar kembali seperti sebuah rekaman yang terus diputar ulang.

Hinata bangkit dan duduk didepan meja rias, menatap cermin. Menyedihkan, kemana sisi dingin mu selama ini, kenapa begitu rapuh,bukankah kau telah berjanji menjadi gadis kuat dan dingin. Hinata mengangkat wajahnya, rautnya mengeras dengan sorot mata dingin. Aku tidak akan mau bicara dan berurusan dengan dia lagi

.

.

.

Hinata memasuki kelasnya. Tidak memperdulikan sekitarnya. Dia duduk dengan tenang. Karin dan Konan yang tadi ngobrol, berhenti dan menatapnya dengan keheranan. Mereka merasa sikap Hinata sama seperti pertama kali bertemu. Dingin. Sangat dingin. "Hinata.." panggil Konan. Hinata hanya melirik sekilas lalu sibuk menyiapkan buku. "Hinata kau kenapa sih?" tanya Karin. Hinata mengangkat bahu lalu menatap mereka dengan pandangan yang berarti, maaf tapi tolong aku sedang tidak ingin diganggu. "Oh, oooke " Karin dan Konan mengangguk paham dan memutar tubuh kedepan, saling pandang.

Hinata berjalan sendirian dikoridor sambil termenung, menutup kedua telinga dengan earphone dan melangkah menuju taman belakang. Ia menghembus kan nafas lelah. Entah kenapa menjadi gadis dingin yang telah ia lakoni selama setahun lebih sekarang menjadi sangat melelahkan.

Itu sama saja menjadi orang lain, suara kakaknya menggema dipikirannya. Kakaknya benar untuk sebagian hal, melelahkan untuk selalu berada dengan orang asing, bahkan jika orang asing itu adalah dirimu sendiri. Dia mengangkat bahu dan tersenyum pahit, tapi mau bagaimana lagi jika itu satu-satunya cara untuk melindungi diri.

Tiba-tiba ada yang menarik earphone nya dari belakang, membuatnya kaget dan reflek menoleh. Hal yang pertama kali dia lihat adalah cengiran lebar berkesan jahil dan ramah dan hal pertama yang ia lakukan adalah membuat wajah sedatarnya. "hai". Hinata menarik earphone nya kembali lalu berbalik.

Naruto mengangkat sebelah alis bingung, sikap gadis itu dingin sekali. Auranya sangat tidak menyenangkan, bahkan terasa lebih buruk dibanding saat bertemu pertama dulu. Bukannya dia tidak tahu dengan sifat gadis ini yang dingin namun saat memberikan permintaan taruhan yang kedua dan ketiga, saat dikafe dan ditaman bermain itu dia tahu kalau gadis ini punya sifat usil dan aktif walau ditutupinya. Dan pasti dia jadi gadis yang manis sekali kalau ceria dan aktif.

Segera dia melangkah cepat mencegat gadis itu. "kau mau ketaman belakang?". Hinata mencoba berbalik tapi dengan langkahnya yang panjang Naruto sudah berdiri didepannya. Hinata kembali berbalik dan Naruto kembali berusaha mendahuluinya namun tak disangka sebelum berbalik sepenuhnya kembali dia berbalik membuat Naruto tertegun dan tidak sempat berbalik.

Gadis itu berlari dengan cepat, membatalkan niat ketaman belakang, sekarang dia memilih bersembunyi diruang musik saja. Naruto melongo, kagum dengan reflek gadis itu dan heran kenapa dia sangat terlihat menghindar. Sekarang dia mencoba mengejarnya, namun gadis itu tidak terlihat lagi. Bingung, lari Naruto tergolong cepat mustahil rasanya gadis itu bisa hilang dalam sekejap. Yang Naruto tidak tahu Hinata memakai jalan lain yang membuatnya lebih mudah menghindari pandangan orang yang mencarinya.

Naruto mengacak rambutnya, ada apa dengan mu?, apa kau marah padaku?, tapi kenapa?.

.

.

.

Ino mengambil beberapa buku dari dalam loker dengan lesu. dia bercermin sebentar pada cermin kecil yang ia gantung disana. Begadang semalaman memang tidak bagus, pikirnya. Di kaca terpantul bayangan dengan wajah pucat, kantung mata yang bengkak dan hitam, mata memerah dan yang menegaskan semua itu sehingga semakin memperparahnya adalah raut sedih dan lesu.

Bibir yang biasanya menyunggingkan senyum itu menekuk. Aura ceria yang ringan itu terganti dengan kesuraman yang tak bisa ditutupi. Ino sudah mencoba menyamarkannya namun tidak berhasil. Segalanya tidak bisa ditutupi dengan sempurna oleh make up. Ia hanya tidak ingin bersikap lesu, dia ingin bersikap ceria didepan teman-temannya namun ia sendiri tidak yakin bisa berpura-pura.

"selamat pagi". Sebuah suara menyapanya. Tapi tubuhnya malah tidak merespon. Ia malah mematung, pikiranya tegang, pegangannya pada buku melemah dan buku-buku itu terlepas. Buk. Bunyi buku-buku tebal yang menyentuh lantai membuatnya terkejut dan segera berlutut memungutnya.

Seseorang ikut memungutnya. Setelah beridiri ia mengambil buku-buku itu dari tangan orang itu tanpa memandang wajahnya atau mengucapkan kata apapun. Tidak perlu melihat, dia tahu itu siapa kok. "hei, kenapa?". Ino menggeleng, masih menunduk. Sebuah jari mengangkat dagunya.

Sai menatap wajah gadis itu dan menyipitkan matanya. Gadis itu terlihat pucat sekali, matanya dikelilingi lingkaran hitam, dia tidak tersenyum seperti biasanya. "kau sakit?" tanya Sai melihat gadis itu yang tidak bersemangat. Ino menggeleng dan menepis tangan Sai. Sai mengerutkan kening. Perilaku gadis pirang ini terasa aneh.

"aku duluan" ucap Ino pelan lalu bergegas pergi. "hei" panggilnya. Awalnya dia ingin mengejar namun berpikir mungkin Ino tidak ingin diganggu. "ada apa?" sebuah suara dengan nada datar membuatnya menoleh. " Sasuke ". Sai melihat pemuda yang memiliki warna rambut seperti langit malam itu sedang berdiri dengan gayanya yang biasa. Wajah datar serius, sikap tubuh cuek dengan kedua tangan disaku.

Tiba-tiba terlintas dibenak Sai kalau Sasuke sudah ada disana sedari tadi. "kau melihatnya, sebab itu bertanya 'ada apa'?". Sasuke mengangguk. Sai mengangkat bahu, "aku tidak tahu, dia terlihat menghindari ku". Sasuke menoleh padanya dengan pandangan bertanya. "apa gadis itu punya masalah ya?" Sai bertanya-tanya. Sasuke mengangkat bahu. "entahlah, tapi lebih baik kita pergi, sebentar lagi bel". Sai menghela nafas dan mengangguk setuju dan keduanya pun pergi.

Sai dan keempat temannya sedang berjalan pulang, Sai dan Shikamaru berjalan paling belakang, didepan mereka ada Sasuke dan yang paling depan adalah Naruto dan Choji. Sai hanya mendengar obrolan mereka, yang paling aktif bercerita, Choji menimpali setiap pernyataan Naruto, Shikamaru menanggappinya dengan santai dan jenaka, Sasuke menanggapi dengan komentar pedas yang memancing perdebatan.

Sai hanya bisa tersenyum mendengar mereka. Sembari mendengar percakapan sobat-sobatnya dia menatap kesekeliling. Manik gelapnya menangkap sosok berambut pirang panjang yang diikat sedang berdiri dipinggir kolam taman. Dia masih penasaran dengan kelakuan gadis itu disekolah tadi jadi ia memutuskan untuk menghampirinya.

"kalian duluan saja aku ada perlu" sahut Sai pada keempat temannya yang reflek menoleh. "perlu apa?" tanya Naruto, yang lain juga menatap dengan heran. "bukan hal yang penting, tapi tetap aku mau urus dulu" jawabnya. Sasuke mengikuti arah lirikan mata Sai yang tidak begitu kentara dan mendapati sosok yang dikenalnya. Dia mengangguk kearah Sai, pertanda ia tahu. Sai melihat anggukan Sasuke, "sudah ya, aku pergi" lalu pemuda itu berlalu.

"dia ada perlu apa sih?" kata Naruto bingung, Sasuke berbalik kembali, "sudahlah tidak perlu tahu" lalu ia mulai berjalan, dia memang bukan tipe yang suka cerita hal yang menurutnya tidak perlu orang lain tahu. Tiga orang lainnya mengikutinya.

"hai". Ino terlonjak kaget dari lamunannya. "Sa..Sai!". Sai tersenyum "kenapa sendiri saja?". Ino membuang wajah kearah kolam, "aku memang ingin sendiri". Sai terdiam, "apa aku mengganggu?" tanyanya pelan. Ino tidak menjawab. "kau terlihat punya masalah, apa itu berhubungan dengan ku?" Sai kembali bertanya dengan hati-hati. Ino masih tidak menjawab.

Sai tak tahan juga akhirnya. Ditempelkan jarinya dipipi gadis itu lalu didorongnya agar menatapnya. "jawab aku Ino, apa masalah itu berhubungan dengan ku?". ino menatapnya ragu, Sai dapat merasakan pancaran matanya seolah berkata iya. "aku benar ya?" ucapnya pelan dengan rasa sedih. Ino menunduk membuat Sai kembali mengangkat wajahnya.

Sai terkejut melihat setetes air mata yang melewati pipinya. "eh, kenapa ?, apa aku terlalu kasar padamu?". Ino diam. Setetes air mata jatuh lagi. Sai menghapusnya dengan ibu jari. "hei kenapa?" tanyanya lembut. Ino hanya menatap Sai tanpa bergeming.

Sai menatap wajah Ino lekat-lekat. Memperhatikan setiap detail dari wajah gadis itu. Kulit gadis itu putih dan halus dapat terasa dijarinya yang sedang memegang pipi gadis pirang itu. Poni berwarna pirang pucat menjuntai, rambut itu terlihat halus. Matanya beriris aquamarine tanpa pupil, namun sayang mata itu kosong. Hidungnya kecil dan mancung. Lalu pandangannya berakhir dibibir gadis itu. Bibirnya sensual berwarna pink, biasanya bibir itu menyunggingkan senyum ceria namun sekarang hanya kurva yang melengkung turun.

Jujur Sai tidak menyukainya. Dia lebih menyukai bibir mungil itu melukiskan kegembiraan. Dia tidak suka raut sedih yang ia gambarkan, ia lebih ingin melihat kilatan riang dimata dengan warna cerah itu. Warna cerah yang ada pada gadis itu sangat cocok dengan keceriaan. Dan ia benar-benar tidak suka bibir gadis itu menurun tanpa ada kecerahan disana.

Dan tanpa ia sadari ia mencondongkan tubuh kedepan dan menyentuh bibir gadis itu. Menciumnya. Bibir gadis itu terasa empuk, lembut dan basah. Sepertinya hari ini hanya rasanya yang ia suka dari bibir gadis itu.

Sai lalu berhenti. Menatap wajah gadis itu yang terlihat shock. Yah, memang sudah pasti. "ke..kenapa?" tanya Ino tergagap dengan suara bergetar. Sai terdiam, ekspresinya bersalah dan bingung. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa mencium gadis itu, saat melihat bibirnya dia jadi ingin mencicipinya.

"maaf, aku.." dia berusaha mencari kata yang pas. Tapi lalu raut wajah Ino berubah. Rautnya berubah kecewa. Sai tidak tahu apa yang dipikirkannya. Gadis pirang itu menepis tangan Sai kasar lalu berlari. Sai mengejarnya namun saat tiba di luar taman ia berhenti. Dia maklum Ino marah. Tapi dia ingin minta maaf, selain itu ia juga penasaran dengan sikap aneh gadis pirang itu sebelumnya.

Tapi ia lalu memutuskan mungkin Ino butuh waktu, walau ia khawatir gadis itu tidak akan mendengarkannya lagi. Sai mengacak rambut frustasi. Dia tidak mengerti. Tadi itu benar-benar tiba-tiba, seolah ia tidak sadar melakukannya. Gadis itu berhak marah, tapi ia masih berharap gadis itu tidak akan pergi. Dia ingin melihat gadis itu setiap hari. Melihat senyum cerianya tiap hari.

TBC

A/N : ANOUNCEMENT! saya ingin mengumumkan kalau saya ingin HIATUS. Saya baru saja kehilangan seseorang yang sangat saya sayangi, selain itu ujian semester udah dekat jadi saya ingin menenangkan diri dan fokus ujian, malahan awalnya saya gak mau update piece 14. saya akan balik main lagi di ffn setelah tanggal 14 desember nanti. Saya harap semua dapat mengerti...

yosh! bales reviews bentar...

nara : konfliknya ringan atau berat? hm...saya ambil timbangan dulu ya... (WOY!) becanda . tergantung yang baca sih, kalau aku pribadi nganggapnya gak berat amat, selain itu gak merata ada yang lumayan ada yang gak berasa kayaknya tuh. senpai?, saya dipanggil senpai?, kyaaa, saya jadi tersanjung sekaligus takut, takut besar kepala karena emang masih newbie. maaf gak bisa updet kilat gomen.

ana : naru kejam?, ah masa?, hina bikin naru jatuh cinta. itu perintahkah? yah lihat aja apa hina bakal bikin naru jatuh cinta dan apa naru emang kejam.

cydonia25 : makasih udah makin cinta fic saya. maaf gak bisa pm, (gak sempat). gak papa kok, yang penting mohon dukung saa, tugas sekolah emang nyita waktu (walau saya sering curi waktu pas jam pelajaran buat baca ff) # bener-bener bukan murid teladan.

Irna Putri Asuna420 : penasaran dengan naruhinanya ya... yosh lihat saja kelanjutannya...

sekian dulu ya...

AI..