Disclaimaer : I Don't Own The Characters

Warnings : OOC, Au, Typo dll

Song : Watashi – Super Beaver (coba searching lagunya, cocok kan? and bagus banget lho)

..

..

..

Piece 15

Tenten sedang berjalan menuju kantin bersama teman-temannya. Ia sebenarnya ingin protes saat melihat teman-temannya mengambil jalan yang ini. Koridor yang ia lalui terdapat ruang musik. Saat menanyakan kenapa lewat sini, jawabannya tidak bisa ia bantah. Lewat jalan yang biasanya sedang ada keributan, kelas yang ada dikoridor jalan biasanya kekantin sedang bertengkar, memenuhi jalan.

Dia berjalan paling belakang, mengerang dan mengeluh, dia belum siap untuk melihat ruang musik lagi.

Neji memainkan tuts-tuts dengan irama yang pelan dan berat. Kemudian pemuda itu menghentikan permainan sambil menghela nafas frustasi. Sedikit kesepian, tidak ada gadis yang biasanya menontonnya bermain. Gadis yang dicepol dua itu tidak datang lagi keruang musik. Ia akui perbuatannya dulu tidak dapat dibilang menyenangkan.

Telinganya yang tajam menangkap sesuatu. Suara samar gadis-gadis yang sedang mengobrol. Pemuda itu perkirakan jarak gadis-gadis itu dengan ruang musik adalah lima meter. Pendengaran cowok berambut panjang itu memang peka.

Sepertinya ia pernah mendengar suara-suara itu. Tidak terlalu familiar tapi ia yakin tahu itu suara siapa. Daripada penasaran ia melangkah kejendela dan mengintip. Rupanya personil Ars Ladies, pantas ia seperti kenal, ia pernah mendengar suara Sakura saat pertunjukkan. Pemuda itu menyipitkan mata abu-abunya saat mellihat Tenten yang berjalan sendiri dibelakang.

Otaknya berputar cepat. Dia harus bicara dengan gadis itu secepatnya. Kalau gadis itu tidak bisa didatangi pelan-pelan karena pasti akan kabur, jadi lebih baik ia yang menyeret gadis itu agar gadis itu tidak bisa menghindar.

Sekarang pemuda itu merapat kepintu, tangannya memutar kenop agar terbuka sedikit lalu menunggu para gadis itu lewat. Gadis-gadis itu lewat, sekarang ia dapat melihat gadis bercepol dua itu lewat dari celah pintu. Dengan cepat ia membuka pintu lebih lebar, menangkap tangan gadis itu dan menariknya masuk, dan lalu menutup pintu tanpa suara.

Semuanya ia kerjakan dengan cepat dan tanpa suara. Saking cepat semuanya hanya tiga detik. Benar-benar seperti ninja saja. Bahkan para personil Ars Ladies yang lain tidak sadar kalau ada satu anggotanya yang hilang, mereka tetap berjalan dan mengobrol seru. Baru setelah enam meter dari ruang musik. "menurutmu bagaimana Tenten?" Sakura menunggu jawaban. Tapi tidak ada yang menyahut. Ia dan yang lain saling pandang dan menoleh kebelakang. "lho, Tenten mana?".

Tenten tersentak saat ada yang menariknya tiba-tiba. "k..kak Neji". "maaf kalau kesannya memaksa". Tenten memalingkan muka. Ia merasa benar-benar canggung. "kau pantas marah karena waktu itu", ujar Neji lalu berhenti sejenak, menyusun kata-kata. "tapi.. aku tidak ingin kau menjauh".

Lalu kata-kata berikutnya mengalir tanpa jeda. "aku minta maaf soal itu kalau kau tidak suka, tapi jangan benci padaku, aku melakukannya karena bagiku kau gadis yang berbeda dari yang pernah kutemui ". Tenten berpaling bingung. "kau menikmati musikku, lebih dari gadis manapun yang kukenal, kau tidak berpura-pura dihadapanku, tidak seperti yang lain, kau gadis yang ceria, antusias dan jujur".

Neji mengulurkan tangan menggenggam telapak tangan Tenten, membuat Tenten mengalihkan atensinya pada telapak tangannya. "karena itu, aku tahu kalau aku jatuh cinta pada mu". Lalu Neji mendekatkan wajahnya dan sekarang benar-benar mencium gadis bermata hazel itu. Tenten membulatkan matanya. Sepertinya ia lupa cara bernafas.

Neji menjauhkan wajahnya dan memandang lurus kedalam mata coklat Tenten. "kau mau jadi pacarku?". Tenten tidak segera menjawab, menunggu otaknya berpikir dulu, tapi setelah bisa berpikir malah pertanyaannya. "kalau iya, aku jadi yang keberapa?" tanyanya dengan nada penasaran. Neji menjawab ringan, "yang pertama". Wajah Tenten melongo tidak percaya, "masa?".

Neji berdecak, "serius". Tenten mengangkat sebelah alisnya. "kakak yang begitu populer tidak pernah pacaran, kenapa?". Neji mengangkat bahu, "mungkin karena tidak ada cewek yang menarik, mungkin juga karena kau baru muncul sekarang". Tenten mendelik, "benar?".

Neji menghela nafas kesal, "Tenten jadi apa sebenarnya jawaban mu?". Tenten tersenyum lebar, "karena aku akan jadi yang pertama untuk orang yang sangat populer dan sangat jenius dalam piano, aku akan jawab iya". Neji merekahkan senyumnya yang menawan, "kalau begitu sekarang resmi kau bukan muridku lagi, kau adalah kekasihku".

Sai duduk diatas motor sport putihnya diparkiran. Matanya menatap tajam jalan dari gedung sekolah kearah gerbang. Seluruh teman-temannya sudah ia suruh duluan. Sekarang ia menanti seorang gadis. Dia sudah mencari tahu kalau gadis itu akan pulang sedikit terlambat dan tidak bersama teman-temannya karena ia harus menyelesaikan tugas tambahan.

Setelah lima menit menunggu, gadis itu terlihat juga. Pemuda dengan kulit seputih gading itu bangkit dan berjalan dengan cepat menuju gadis itu. "Ino". Ia berdiri dihadapan gadis itu, mencegatnya. "Sai". Ino terkejut. "kita perlu bicara". ujar Sai serius. Jarang Ino melihat pemuda itu memasang raut seriusnya. Dan terlihat sangat tidak ingin dibantah saat ini.

"aku tahu kalau waktu itu aku salah menciummu, tapi aku tahu kalau kau ada masalah lain denganku sebelum itu, apa salahku memangnya?" tanya Sai dengan nada yang tak kalah seriusnya. Ino menunduk, entah kenapa sepatunya sekarang menjadi tontonan yang lebih menarik. Gadis itu ragu menceritakannya atau tidak. "kumohon Ino, setelah Sakura dengan Sasuke dan Shikamaru dengan Temari aku tidak ingin kita juga bermasalah" ucap Sai dengan nada memohon.

Ino meneguk ludah. "aku tidak ingin dipermainkan Sai". Sai mengerutkan alis tidak mengerti. "kusangka kau ramah memang karena baik tapi ternyata kau hanya seorang player". Nada Ino berubah kecewa sekaligus marah sedang Sai semakin bingung. "aku melihat seorang gadis yang mencium pipimu, itu pasti pacarmu, awalnya kukira kalau sikap baikmu padaku memang sifatmu, tapi saat kau menciumku aku jadi mengerti kalau kau hanya seorang player".

Sai tertegun lau terdiam, sepertinya ia mengerti sekarang. Ia memegang pergelangan tangan Ino, "ikut aku sebentar", lalu ia menyeret gadis pirang itu menuju motornya. Ino terkejut dengan kelakuan Sai yang tiba-tiba, "Sai!". Sai segera mendudukkannya diatas motor, memasangkan helm lalu kemudian pemuda itu sendiri yang naik dan memasang helm dan pergi keluar dari Sekolah.

"Sai kita akan kemana" tanya Ino agak berteriak untuk mengalahkan deru motor dan angin. Pemuda itu tidak menjawab. Ino terheran-heran saat Sai memasuki gerbang rumah sakit. Ia dan Sai turun dari motor lalu membiarkan pemuda itu menuntunnya menuju salah satu gedung. Mereka lalu berhenti didepan sebuah kamar. Sai menatap kedalam melalui jendela dan hanya diam.

Ino ikut memandang kedalam. Ia melihat seorang gadis yang tertidur diranjang. Tubuhnya terlihat tersambung dengan banyak selang termasuk selang oksigen. Disamping tempat tidur terdapat penunjuk detak jantung. Ia memandang wajah gadis itu, dan mengenalinya, gadis yang waktu itu mencium pipi Sai.

Kemudian ia mendongak pada Sai yang berdiri disampingnya. Wajah Ino terlihat sangat prihatin namun sekaligus bingung. Ia butuh penjelasan. Sai mengangguk mengerti. "kita bicara ditempat lain". Ia mengajak Ino ketaman rumah sakit. Mereka duduk disebuah bangku taman. Tak banyak orang yang berada didekat mereka, tapi tak jauh didepan ada banyak pasien yang sedang berjalan tertatih dibantu suster, atau berada diatas kursi roda. Ada lansia, orang dewasa, remaja yang seusia dengan mereka dan anak-anak.

Setelah hanya melihat para pasien itu, Sai mulai bicara. "namanya Hotaru kelas 10A". Ino mengalihkan pandangan dari seorang anak kecil menuju Sai yang masih menatap lurus kedepan. "ia baru selesai menjalani operasi sumsum tulang belakang dan belum sadarkan diri". Ino mendengar penjelasan Sai penuh perhatian. Nada Sai terdengar agak datar, pemuda itu menahan suara prihatinnya.

"gadis itu adalah penggemarku". Ino mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi terkejut. "sehari sebelum operasi ia datang padaku dan bercerita betapa ia takut akan operasi itu, ia takut kalau operasi itu gagal dan ia tidak bisa sembuh, bahkan takut tidak akan bisa sadar lagi". Sai menghela nafas sejenak dan kemudian menyambung, "ia bilang kalau ia sudah melakukan banyak hal yang ia inginkan berjaga-jaga kalau tidak ada kesempatan lagi, termasuk mencium pipiku".

Sai kemudian menatap Ino, meluruskan sikap duduknya. "walau sudah kukatakan padanya bahwa ia pasti sembuh kalau percaya, tapi ia bersikeras kalau takutnya lebih besar, jadi kuizinkan saja sambil berpesan bukan berarti aku menyetujui pendapatnya kalau kesempatannya sudah hilang".

Wajah Ino terlihat paham sekaranng. Ia merasa terharu. Tapi lalu gelombang rasa bersalah menyapunya. "maaf Sai, aku tadi menyebutmu player padahal tidak tahu yang sebenarnya" ujarnya penuh penyesalan. Sai tersenyum lembut, "tak apa, sekarang kaukan sudah tahu".

Ino ikut tersenyum, "kau baik sekali Sai". Sai tertawa pelan lalu kembali menatap kedepan, memperhatikan pasien-pasien yang seumuran dengannya sedang dibantu perawat. "oh ya?". Lalu Ino membuang nafas, "tapi kau terlalu baik juga sih, bagaimana kalau orang yang suka padamu jadi salah paham", gumamnya. Sai berpaling cepat dengan raut kaget.

"apa kau baru saja mengaku kalau kau menyukaiku?" tanyanya tersenyum jahil. Ino terkejut, "eh, tidak, akukan hanya berpikir kalau kau dapat membuat orang salah paham" elaknya. Berusaha mati-matian menutupi semburat merah diwajahnya. Sai mendesah pura-pura kecewa, bersandar dan mendongak keatas. "padahal kuharap iya, kau baru saja menghancurkan harapanku".

Ino tercengang, sekarang ia bingung. "hah?". "karena aku menyukaimu". Ino tidak mampu bilang apa. Gadis pirang itu speechless. Sai menurunkan wajahnya, memandang Ino serius. "Ino aku menyukaimu, karena itulah waktu itu aku menciummu, karena dimataku kau begitu cantik, aku menyukai warna-warna cerahmu yang berpadu dengan keceriaanmu, aku selalu ingin melihat senyummu setiap hari".

Ino masih speechless. Sai mendesah sekarang benar-benar dengan harap-harap cemas. "Ino, apa kau mau setiap hari ada dimataku, setiap hari tersenyum padaku?". Ino membuang muka kedepan. Terdiam beberapa lama. Sai sekarang merasa putus asa, belum apa-apa ia sudah merasa tertolak. Yang tidak pemuda itu tahu sebenarnya gadis itu membuang muka karena malu dan terdiam karena mendiamkan detak jantung serta benaknya yang sekarang sedang menjerit.

"apa kau baru saja menembakku?" tanya Ino tanpa menoleh. Sai berdecak, "kau tahu itu iya" nadanya mulai frustasi. Diam-diam Ino senang melihat pemuda itu depresi. Wajah putus asanya terihat manis saat ini. Ino menatap Sai datar. "kalau tidak?". Sai menghenyakkan tubuhnya dan menyandarkan leher sehingga wajahnya menghadap langit.

Menutup matanya dengan sebelah telapak tangan. Ia mengira benar-benar tertolak. Ino tersenyum geli. Ia lalu mendekatkan wajahnya berusaha sedikit menyamakan tinggi nya dengan mendongak lalu ia menyapu pipi Sai dengan bibir pinknya. Membuat pemuda itu tersentak, punggungnya segera berdiri dan menatap Ino dengan raut kaget yang sangat lucu menurut Ino. "Aku mau kok".

Selama semingguan ini Naruto merasa frustasi. Ia sama sekali belum bertemu Hinata. Ia pernah bilang pada Hinata kalau melihat Hinata adalah kebutuhannya. Mungkin ia terdengar bercanda waktu itu. Tapi lihat sekarang, ia merasa kalau akan segera mati karena depresi tidak melihat gadis itu sehari lagi.

Dia mencari gadis itu kekelas tapi tidak menemukannya, padahal mana mungkin dia boloskan?. Masa gadis itu punya kemampuan menyamarkan diri atau keberadaannya. Ia mencari keperpus atau ruang musik, tempat ia pernah melihat gadis itu beberapa kali. Tidak ada. Dia juga selalu mengecek taman belakang, tempat faforit gadis bermata abu itu, tidak pernah gadis itu hadir lagi.

Demi tuhan. Ia sangat frustasi. Ia ingin mendengar suara merdu gadis itu. Melihat helaian panjang rambut indigonya. Melihat mata abu-abu tanpa pupil yang besar dan penuh dimatanya yang sayu. Bibir mungil yang berwarna peach pucat yang jarang membuat lengkungan senyum. Melihat ekspresinya yang dingin, kesal dan sebal, namun terlihat manis. Setiap detil dari gadis itu amat sangat ia rindu.

Hinata menatap ponselnya, mencari lagu yang sedang pas dengan suasana kali ini. Sebuah lagu terdengar dari earphone yang menutupi kedua telinganya. Ia menumpukan kedua lengan bawahnya dipagar yang membatasi atap sekolahnya. Ia melayangkan pandangannya jauh. Angin bertiup pelan. Memainkan helaian sutra berwarna gelap yang menjadi mahkotanya. Selama seminggu ia benar-benar absen bicara. ia juga mati-matian berusaha menghindari seorang pemuda. Sehingga ia tidak pernah mengunjungi taman belakang lagi. Sekarang ia lebih memilih berada diatap sekolah.

Tempat itu menyenangkan. Sepi. Matahari bersinar hangat, dan kalaupun terik ada bagian belakang dari tempat masuk kesini. Disini ia bisa melihat pemandangan yang luas. Menyenangkan melihat segala sesuatu dari atas. Kau dapat melihat semuanya dan jarak pandangan menjadi lebih luas. Angin juga sangat menyenangkan, menyejukkan, mengurangi panas matahari.

Hinata menghembuskan nafas. Membuka celah diantara bibirnya. Ragu sejenak. Tapi kemudian ia mengangkat bahu. Ia sekarang ingin membiarkan dirinya bebas sedikit. Dengan caranya.

Anata ga nobashita te ni utsumuki nagara fureru tabi ni

Mune no oku zuki zuki yaru no wa hitori ja tatenai kono watashi

Sugiru hi ni furikaeru hibi tsuyosa to wa nani ka shiranu mama

Naseru koto nasou to suru koto sono chigai sae mo kidzu kazu ni

Tada me no mae no puraido ya dareka san ga itta joushiki wo

Tate ni shite mada heiki da to tsukuri egao de

Doko ka de machi tsudzuketeta anata o

Nando datte nando datte sashinobe rareta te wo toreba ii

Watashi ga hitori de naseta koto nante kazoe rareru hodo ni wazuka de

Nan mo nakute hitotsu mo nakute sore demo koko ni korareta no wa

Anata ga nobashita sono te wo tsukande tomo ni aruketa kara deai mo sono subete

Naruto ngos-ngosan saat membuka pintu menuju atap. Ia sedang lari dari Sasuke karena ia tidak mau menerima tugas kelompok yang tadi disuruh Sasuke. Pemuda raven itu ngamuk saat Naruto dengan seenaknya lari saat diberi tugas. Ia lari keatap karena Sasuke juga kadang suka ketaman belakang dan ia tidak boleh lari-larian di studio, ruang musik, uks dan pustaka. Jadi satu satu-satunya tempat yang terpikir adalah atap sekolah.

Ia memutar kenop dan mendorong pintu lalu terdiam. Disana berdiri sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang sangat ia rindukan. Rambutnya yang halus diterbangkan oleh angin begitu juga dengan ujung roknya. Tangannya menggemgam tiang pagar. Matanya menatap jauh kedepan. Ia bernyanyi. Suaranya benar-benar menghipnotis. Ia bernyanyi dengan sepenuh emosi yang tercurah. Menyalurkan semuanya pada lagu watashi – super beaver.

Naruto terlalu takjub dan shock. Ia sudah dihantui bayangan gadis itu dan sekarang ia sedang bernyanyi dengan sepenuh jiwa. Mungkin karena terlalu lama tidak melihatnya sekarang baginya gadis itu begitu cantik apalagi dilatar belakangi langit biru berawan putih.

Gadis itu selesai bernyanyi namun tidak menyadari keberadaan Naruto. Naruto mendekat beberapa langkah namun kemudian ragu. Sudah lama sekali tak bertemu gadis itu sehingga ia ingin melihat pemandangan didepannya ini lebih lama, kalau gadis itu tau ia disana gadis itu pasti pergi. Namun dilain pihak pemuda pirang itu penasaran kenapa Hinata menjauhinya. Ia tidak tahan kalau tidak mendengar sura indah itu selama beberapa hari saja.

Jika dihadapkan pada sebuah pilihan begini ia jadi ragu. Tapi kemudian ia mangambil keputusan. Ia kembali melangkah. Tangannya mengambil earphone gadis itu menariknya agar lepas. Hinata yang kaget segera menoleh. Dan langsung dihadapkan pada wajah Naruto yang serius dan berkesan sedih, terluka. Tapi karena apa?. Hinata hanya memasang wajah dingin dan berusaha pergi.

Ia baru melangkah dua kali saat pergelangannya ditarik dan kembali dihadapkan pada wajah serius Naruto. Hinata mencoba melepaskan namun Naruto tak bergeming. Lama-lama ia menjadi semakin memberontak. "Hinata dengar!" suara Naruto yang tinggi seperti membentak membuat Hinata menatapnya dengan raut yang semakin beku.

"kenapa kau menghindari ku?". Hinata hanya menatap mata Naruto dalam sedang tangannya masih berusaha melepaskan diri. "Hinata Jawab!" suara Naruto sangat frustasi. "aku membenci mu" tiba-tiba Hinata bicara dengan suara rendah dan setiap penekanan dalam kata-katanya. Tiga kata itu sudah mampu membuat Naruto terdiam, selama sepuluh detik ia termanggu.

"kenapa?" sekarang suara Naruto menjadi pelan. Hinata hanya menatap tajam Naruto. Naruto menggeleng, "tidak Hinata, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjaelaskan apapun padaku". Hinata menatapnya dengan sorot benci yang membuat Naruto merasa tertusuk. Dadanya terasa sakit.

"kau hanya mempermainkanku, menjadikanku sebagai hiburan, membuat kukesal setiap hari, dan bagimu itu hanya hiburan, aku benci dirimu". Naruto tertegun. Sebuah kejadian berkelebat diotaknya saat mendengar kalimat Hinata. Percakapannya dengan Shikamaru.

"kau mendengar itu ya". Hinata menantang pandangan Naruto. "tapi itu semua kebohonganku". Kalimat yang baru saja terlontar oleh Naruto membuatnya berhenti memberontak. "aku tidak pernah mempermainkanmu". Naruto menyibak rambut Hinata menyelipkanya kesamping telinga. "aku selalu membuat mu kesal karena itu satu-satunya cara agar aku bisa mendengar suaramu".

Hinata terlihat tidak begitu mengerti. "waktu itu aku melihatmu menyanyikan lagu Seikatsu diruang musik, aku benar-benar terpesona oleh suaramu, Hinata aku jatuh cinta saat pertama kali mendengar nyanyianmu". Hinata tersentak kaget dengan kalimat terakhir Naruto. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.

"bohong, kau sendiri yang bilang kalau kau hanya mempermainkanku". Naruto mengehela nafas lelah. "aku berkata begitu karena aku ingin orang pertama yang tahu adalah kau". "bohong!" Hinata bersikeras. Membuat Naruto menarik nafas kembali. Menarik tangan gadis itu, sehingga gadis itu membenturnya. Ia memeluk gadis itu dan meletakkan telapak tangan Hinata kedada kirinya.

"kalau kau tak percaya kata-kataku, apa kau mau percaya pada jantungku". Hinata dapat merasakan debaran jantung Naruto yang bertabuh seperti drum sebuah band rock. "Hinata, aku jatuh cinta padamu, aku jatuh cinta sejak mendengar nyanyian seindah nyanyian malaikat siang itu". Hinata tak dapat bereaksi seperti apapun. Naruto melepaskan pelukannya.

Pemuda bermata safir itu marik leher Hinata mendekat dan mencium gadis itu. Selama lima detik. "bukankah sudah kubilang kalau melihatmu adalah kebutuhan, aku hampir depresi berat karena kau menghilang selama seminggu, aku pasti bisa bunuh diri kalau besok masih belum melihatmu". Hinata tak berkomentar. Masih shock karena ciuman barusan.

"Hinata jangan pergi, bernyanyilah setiap hari untukku" Naruto menghela nafas tiga kali sebelum berkata. "Hinata aku mencintaimu, jadilah tuan putriku". "hah?!" begitulah reaksi Hinata. "kau dengar kan Hinata, maukan?". Hinata hanya memandang wajah Naruto ternganga. Tiba-tiba saja otaknya menjadi lelet. "Hinata?" Naruto mengguncang bahu Hinata karena gadis itu tak juga menjawab.

"aku mau". Hinata tampak shock dengan jawabannya. Ia otomatis menjawab saat kaget oleh guncangan tadi. Naruto tampak senang. "eh, tidak tadi aku hanya asal jawab tanpa sadar" ralat Hinata buru-buru. Naruto menggeleng. "kau pasti juga menyukaiku, kalau tidak kau tidak akan menjawab begitu". Hinata menatapnya sengit. "kau terlalu percaya diri, aku tidak menyukaimu".

Naruto masih menggeleng, ia malah kembali mencium gadis itu, "pokoknya kau sekarang adalah tuan putriku". "dasar tukang paksa" balas Hinata, namun dia menerima saja saat dipeluk oleh tubuh besar Naruto.

.

.

TBC

A/N :Hai, saya balik! masih inget fic saya? Udah pada lupa?

Gomen, gomen, maaf semua... saya gak bisa nepatin janji bakal update pas tanggal 14, ada urusan yang nyita waktu dan kuota internet udah habis...

Btw, abis ini bab terakhir... saya gak bisa buat panjang karena ide saya udah habis...

hmm... ada yang nyoba nyari lagu-lagu yang ada di fic ini? kalau ada apa suka lagunya?

bales review bentaran ah...

nara : makasih dukungan n doanya ^^ ujiannya cukup lancar kok...

nico : makasih udah mau nungu, saya senang ada yang suka sama cerita saya ^^

udah ah ngebacot, Don't forget to Reviews \ ( ^-^) /