Slaine masih bersemangat mengayuh sepedanya ketika jalan mulai menanjak yang entah menuju kemana. Helai sakura beterbangan akibat ulang angin, berputar-putar di udara sebelum jatuh ke tanah, tak luput dari jalur yang dilalui Slaine sekalipun.

Hari ini seorang Slaine Troyard sedang dalam edisi kabur dari ayahnya saat beliau hendak menengok apartemen baru mereka di Jepang. Ia dan ayahnya memang bukan penduduk lokal, namun pindahan dari Norwegia. Mereka pindah karena tugas ayahnya adalah seorang peneliti ternama dan sedang mengembangkan sebuah alat baru untuk Negeri Matahari Terbit ini.

Slaine masih sibuk memutar injakan pedal dengan kaki ketika tiba di tikungan. Menikmati semilir yang berhembus dan membelai helai pucatnya, ia tetap melaju tanpa ragu. Tak menduga bahwa jalan setelahnya adalah menurun dan seorang bocah melintas seenak jidat di tengah jalurnya. Tangan kiri dengan cepat mengerem meski kecepatan roda masih tersisa.

"Ming―"

BRUKK

Trrrrrr

Terlambat. Slaine sudah menubruknya. Sepedanya peot menjadi angka delapan dan Slaine melihat kepala bocah yang nampak sepantaran dengannya itu berdarah.

"K-kau baik-baik saja?" Slaine bingung menyusun kata, karena ia baru belajar bahasa Jepang dari sebulan lalu sebelum keberangkatannya kemarin. Bocah berambut cokelat gelap itu lalu mencoba duduk, memegang sisi tengkoraknya yang terasa sakit.

"Aduh..." katanya pelan.

"M-maaf, ayo kita ke rumah sakit!"

Pihak korban itu menatap tersangka tunggal di sana, memiringkan kepalanya.

"Kau siapa?"

"A-ah, itu tidak penting. Tunjukkan aku rumah sakitnya, kebetulan aku bawa atm ayahku. Aku bingung uang sebanyak ini dibuat apa."

Iris merah berkedip, "Tidak usah." ia berdiri ",aku bi―"

Dan dia pingsan.

.

.

.

.

Aldnoah Zero © Project A/Z, Olympus Knights, A-1 Pictures, Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama.

Story© Panda Dayo

| shounen-ai , hvmv dsj |

AU. OOC. Typo(s)

Don't Like Don't Read. I've warned you!

.

.

.

.

Slaine yang sedang bersih-bersih rumah, melihat kepulangan Klancain yang entah darimana. Ia hanya menyapa dan mengucapkan selamat datang kembali. Klancain menatapnya sebentar sebelum membalasnya. Beginilah rutinitas Slaine saat ini. Tinggal di kediaman Tuan Cruhteo dan anaknya yang sama-sama merupakan orang berpengaruh di militer Jepang saat ini. Ia masih tak tahu bahwa pemuda bernama Inaho itu mencarinya tadi, karena ia tengah berada di belakang.

"Oh iya, Slaine-san." Klancain berhenti di dasar tangga. "Apa kau ingin keluar dari rumah ini?"

Slaine tersenyum tipis. "Kalau Tuan Cruhteo mengusirku, mungkin." jawabnya tanpa ragu.

Klancain tak bertanya lebih jauh, dan kini Slaine yang heran mengapa Klancain bertanya demikian. Tapi, ya sudahlah.

.

.

.

.

.

.

"Jadi, mana laporanmu bulan ini, Kaizuka?"

"Sudah saya kirim ke e-mail anda, pak."

Inaho menjawab sejujur-jujurnya ketika Pimpinan Direksi, Saazbaum, bertanya demikian. Posisi Inaho di bagian keuangan cukup berat karena Inaho tak begitu paham masalah pembukuan. Untung kakaknya mengerti dan mengajarinya. Perempuan memang bisa diandalkan untuk situasi tertentu rupanya.

Inaho -_-

"Kau bisa kembali."

Inaho balik kanan, melangkah menuju pintu keluar. Di balik pintu rupanya Calm berdiri ―sambil menguping.

"Apa yang kau lakukan, Calm?"

"Kau tidak takut dengan wajah seram Tuan Saazbaum, ya?" tanya Calm pelan saat Inaho menutup pintu di belakangnya. Inaho dapat mendengar Tuan Saazbaum bertelepon setelahnya, tapi ia diam saja.

"Kenapa harus?" tanya Inaho balik.

"Hahh...itu tidak penting. Ayo makan siang, Rayet menunggu."

Inaho mengangguk pelan, mengikuti kemana Calm memimpin jalannya. Sebenarnya Inaho tak perlu pemandu segala, sih. Hanya saja penglihatannya agak terganggu. Mata kirinya disfungsi, tak dapat lagi melihat seluas jangkauan penglihatannya dulu. Inaho sendiri tak ingat apa yang membuatnya melupakan faktor mengapa netranya dapat buta, tapi toh itu tak penting saat ini. Ia bisa jalan sendiri, tapi hitung-hitung membuat temannya senang tak terdengar buruk.

Di kantin kantor bagian baris kedua, terdapat sebuah meja dan kursi yang sudah diisi oleh Rayet sembari menunggu kedua temannya sejak tadi. Rayet menatap tajam, seperti hendak menguliti mereka hidup-hidup. Calm bergetar ketakutan, berlindung di balik tubuh tegap Inaho.

"Kalian lama sekali."

"Maaf, Saazbaum-san menahanku sebentar." Inaho mengambil kursi, berhadapan dengan Rayet, sementara Calm duduk di sebelah teman laki-lakinya.

"Laporan keuangan? Sepertinya si tua bangka itu ingin mendepakmu hingga menginvestigasi seminggu sekali." dengus Rayet.

"Tidak apa-apa, sih." Inaho melihat makanan di depannya yang sudah tersaji, mungkin telah dipesankan sebelum ia kemari.

"Kakakmu polisi kan, Kaizuka?" Calm turut berkomentar. "Kapan-kapan kirim fotonya ke aku dong."

"Tidak akan."

Inaho memisahkan sumpitnya dan mulai menyantap menu favorit yang dihidangkan; nasi dengan telur mentah. Ia menambahkan sedikit kecap di atasnya dan mulai makan dengan lahap.

"Menumu seperti anak kecil." sindir Rayet, tak peduli Inaho meliriknya penuh arti.

"Sudahlah, Rayet-san, ngomong-ngomong, katanya akan ada pekerja baru, ya?" Calm membuka ponselnya dan seperti mencari-cari sesuatu. Ia tersenyum lebar ketika menemukannya.

"Ini fotonya." ia menunjukkan sebuah potret dengan objek berparas cantik.

"Wow." Rayet menaikkan satu alisnya. "Kau dapat darimana?"

"Dia cantik, kan? Ehehehe." Calm tertawa pelan. Inaho tak menanggapi walau ia sekilas melihatnya. Memang cantik, sih. Tapi, rasanya sedikit aneh. Apa dia pernah melihatnya di suatu tempat, ya?

"Namanya hngg...siapa, ya...Asseylum kalau aku tidak salah."

"Nama yang aneh." Rayet meletakkan sumpitnya dan meminum jusnya.

Inaho tidak peduli.

.

.

.

.

.

.

Tak jauh berbeda dengan Inaho, Yuki, kakaknya pun saat ini tengah makan siang dengan beberapa rekan kerjanya. Membahas beberapa kasus yang belum tuntas di divisi masing-masing. Bertukar cerita tentang pengalaman mereka saat mengejar target operasi semalam.

"Aku menembaknya seperti ini, dor! Dan dia jatuh."

Yuki terkikik pelan, melanjutkan membaca file yang diterimanya pagi ini dari atasannya. Katanya tentang sebuah kasus pembunuhan di salah satu distrik di Ginza semalam, dekat Penguin Bar. Korban berjenis kelamin wanita ditemukan telah tewas dengan luka tusuk di sekujur tubuh atas nama Lemrina. Jasadnya masih diotopsi, tapi berhubung tak ada informasi mengenai keluarganya, kepolisian akan memakamkannya siang ini. Menurut data, ia adalah salah seorang pekerja di sebuah kabaret ternama milik seseorang bernama Slaine Troyard. Pemilik tempat tersebut pun tak dapat dihubungi untuk sekedar meminta keterangan, karena para pekerja lain di sana mengatakan pria itu telah lama pergi dari sana tanpa mengabari siapapun. Nina, teman Lemrina di sana, memberitahukan bahwa hanya Lemrina yang diberitahu kemana pemilik tempat hiburan itu pergi. Terlebih, tak ada yang melihat Lemrina di malam kematiannya, ia ijin tak datang melalui pesan singkat. Tak ada yang menyangka mereka tak dapat menemuinya lagi.

"Astaga, kepalaku." keluh Yuki sembari memijit kening. Kasus ini terlalu berputar-putar, dan akhirnya tak ada satupun petunjuk untuk menemukan pelaku pembunuhan. Untuk beberapa waktu ke depan, tempat hiburan itu diawasi dari jauh oleh pihak kepolisian agar kasus serupa tak terulang. Dugaan sementara adalah Lemrina dibawa pergi oleh salah seorang pelanggan yang menipunya. Masalahnya, tak ada satupun sidik jari pelaku tertinggal atau helai rambut yang terjatuh. Memang ada jejak kaki dengan motif alas pantofel dewasa, tapi itu pun tak cukup sebagai barang bukti.

"Kaizuka, sudah selesai?"

Yuki terjengit begitu mengetahui atasannya, Darzana Magbaredge berdiri di sampingnya entah sejak kapan.

"Ma-Magbaredge-san! Jangan tiba-tiba muncul!"

"Kau pikir aku hantu? Kau yang terlalu sibuk melamun." Magbaredge tak sengaja melihat file yang sedang dibaca Yuki.

"Kasus semalam, ya?"

"Y-ya, Magbaredge-san. Aku sedang mencoba menganalisanya. Bagaimanapun kita butuh keterangan pemilik kabaret sebagai keterangan pendukung untuk mengetahui latar belakang korban." jelas Yuki. "Bisa saja kejadian ini terkait dengan masa lalunya."

"Sedikit merepotkan." Magbaredge menghela nafas, "tapi idemu boleh juga. Jadi, ayo kita ke kantor membahas ini bersama Marito-san."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Seperti yang anda katakan, Saazbaum-sama. Saya melihat target di kediaman Tuan Cruhteo."

Inko mendengarkan jawaban dari Tuannya melalui telepon sebelum ditutup kembali. Ia kembali melihat sosok yang diperintahkan sebagai objek pencarian kali ini.

"Slaine Troyard, huh? Kenapa Tuan Saazbaum begitu menginginkannya?" Inko menurunkan teropong yang sedari tadi dipakai guna mengamati. Laki-laki itu tadi sedang duduk santai di balkon sebelum menghilang beberapa menit yang lalu. Inko lalu turun dari pohon yang dipanjatnya. Sedikit tinggi memang, dan itu bukanlah masalah besar bagi seorang mata-mata sepertinya. Namun ia mengurungkan niatnya turun begitu tahu apa yang menunggunya di bawah sana. Menelan ludah gugup, bagaimana mungkin ia bisa seceroboh ini.

Oh, tidak.

"Sibuk mengamati sesuatu, nona?"

Slaine Troyard.

.

.

.

.

.

.

.

.

Inaho heran ketika kembali ke kabaret kemarin, banyak polisi berlalu lalang di sekitar sana. Wanita kabaret masih bekerja menemani pelanggan minum seperti biasa, tapi yang mengejutkan adalah ketika ia menemukan Nina, salah satu pekerja di sana menangis tersedu-sedu sambil ditenangkan oleh beberapa temannya.

Inaho ingin bertanya tapi tidak enak, maka ia menarik salah seorang wanita di sana yang kebetulan lewat di sampingnya.

"Apa yang terjadi?"

"Ah, maaf, Tuan. Teman kami, Lemrina, ditemukan menjadi korban pembunuhan." ia kemudian meneruskan perjalanannya setelah memberi penjelasan singkat. Inaho mencoba mengingat. Kalau tidak salah, Lemrina adalah wanita yang memberinya petunjuk mengenai tempat Slaine berada saat ini.

Kenapa harus Lemrina?

Inaho berasumsi ini ada keterkaitannya dengan orang yang membawa Slaine pergi. Jangan-jangan...

Inaho menggeleng sendiri. Ia kemudian berbalik pergi dari sana dan berniat menanyai kakaknya mengenai ini. Tadinya ia ingin menanyai Lemrina lagi, karena sepertinya ia tahu banyak mengenai Slaine. Siapa yang mengira akan jadi seperti ini.

Hari sudah larut saat Inaho menyadarinya setengah jam kemudian. Di jalan menuju rumah, ia harus menanjak sebelum berjumpa dengan sebuah tikungan tajam di bibir tebing. Lengang, sepi, dan sunyi. Daerah rumahnya memang bukan wilayah yang banyak dilalui kendaraan, dan lebih mengherankan bila jalanan di sini ramai oleh transportasi.

Kakinya menapak perlahan saat mulai berbelok. Mengeratkan genggaman tangan pada tas kerjanya sembari melirik kanan-kiri. Sepi bukan berarti aman. Kakaknya biasanya diantar hingga ke rumah oleh rekan kerjanya, jadi Inaho tak perlu mencemaskan soal itu.

Angin musim gugur berhembus sedikit kencang menerpanya, terasa dingin dan menakutkan, menusuk tulang belakang. Sebentar lagi musim dingin, semua akan menjadi lebih dingin dari ini. Suhu akan berada di bawah kisaran sepuluh derajat. Entah mengapa Inaho tak menyukai musim dingin. Karena ketika salju turun, ia pasti akan flu dan demam tinggi. Sungguh sialan tubuh kurusnya ini.

Inaho melihat perpanjangan bayangannya sendiri ketika menunduk. Tersentak, ia menoleh ke belakang, saat itu pula sebuah sorot menyilaukannya.

Ckitt

BRAKK

Tubuhnya terpental beberapa meter ke depan. Mata kanan refleks terpejam karena darah mengalir deras menuruni wajahnya. Penglihatan kirinya tak bisa ia andalkan, jadi ia hanya menebak dalam hati,

Siapa?

Inaho dapat mendengar suara kendaraan itu menjauh. Inaho ingin bergerak tapi sekujur tubuhnya mati rasa. Pun kesadarannya yang berangsur menurun.

Gelap.


Bersambung


a/n :

*sfx suara jangkrik*

Kanato-desu : halo kanato-san! (Boleh kupanggil begitu ga si eheh #SKSD) terima kasih ya sudah sering mampir wqw yuks kibarkan inasure bersama 7*q*)7 semoga suka chapter ini, ya!

thanks for read

siluman panda