Orang bilang wajar bila kau menginginkan sesuatu.
Slaine adalah bukti nyata dari kalimat itu. Setiap hari ia hanya mampu memandang birunya langit dari jendelanya. Tak pernah bisa keluar untuk sekedar berjalan-jalan.
Atau sebenarnya ia tak ingin melakukannya?
Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Ia duduk menikmati semilir angin dan ditemani suasana teduh akibat pepohonan yang lumayan tinggi. Tidak buruk juga tinggal di sini karena Cruhteo selalu memberinya hal-hal yang bahkan tak pernah ia dapatkan semasa hidupnya. Ia tak perlu khawatir kelaparan. Ia juga tak perlu mencemaskan akan kekurangan. Cruhteo telah memberi semua untuknya dan itu lebih dari cukup.
Slaine tidak tahu apa yang terasa salah dari hidupnya. Mungkin saja menjual tubuhnya adalah dosa terbesar yang pernah ia lakukan.
Bukan mungkin, tapi memang demikian.
Tapi, siapa yang akan peduli? Slaine memerlukannya untuk bertahan hidup walau ia tak buta soal dosa. Ia sadar tak punya kemampuan apa-apa, ia tahu bahwa ia tak dapat melakukan hal selain yang ia lakukan saat ini.
Cara hidupnya?
"Slaine, mari kita lari."
Ucapan Lemrina itu masih terbayang di benaknya, menghantuinya setiap hari.
Malam itu Slaine mengajaknya bertemu di sudut gang untuk membahas langkah apa yang harus diambil ke depannya. Slaine perlu keberanian untuk mengatakan hal yang jujur, tidak ingin meninggalkan Cruhteo. Malam itu hujan, baik Slaine maupun Lemrina basah kuyup karenanya. Lemrina terlihat marah karena reaksi Slaine sangat berbeda dengan yang ia katakan ketika pertama kali bertemu dengan pria itu.
"Kenapa, Slaine? Karena hutang ayahmu padanya?"
Ucapan Lemrina benar.
Ayahnya yang berhutang kepada pria itu demi penelitiannya. Sebuah penelitian yang bahkan Slaine tidak tahu itu apa. Ayahnya mengatakan semacam sesuatu yang menakjubkan dan akan membuat semua orang terkagum. Slaine tak berani mengganggu ayahnya. Walaupun demikian, ayahnya adalah orang yang baik dan selalu memerhatikannya. Ia selalu memberi Slaine vitamin yang cukup semasa ia masih hidup.
Lalu ayahnya bunuh diri karena hutang ini. Slaine tak punya pilihan selain membayar dengan tubuhnya. Waktu itu ia masih remaja, tidak tahu dunia kerja dan tak mengerti bagaimana cara menghasilkan uang.
Slaine tak mengatakan apa-apa. Ia bukannya tidak ingin bebas seperti yang barusan diucapkan secara tersirat oleh Lemrina, tapi ketika orang lain menjelekkan Cruhteo, entah mengapa ia tidak terima. Hatinya berteriak tak rela.
Kenapa?
Slaine tidak lagi mendengar suara Lemrina akibat derasnya hujan. Begitu tersadar, tubuh Lemrina telah bersimbah darah di depannya.
Slaine terdiam. Menatapnya dalam.
"Maafkan aku, Lemrina."
Slaine tahu Lemrina adalah orang keras kepala. Revolver masih ia genggam sebelum dimasukkan ke saku pakaian.
"Selamat tinggal."
[ ketika kita sadar, semua itu hanya ilusi. ]
Tidak banyak yang bisa Inaho lakukan setelah menjadi korban tabrak lari. Seluruh tubuhnya nyaris diperban dan itu sulit membuatnya bergerak, terasa tidak nyaman. Kakaknya setiap hari juga rutin menjenguk, membawakan buah kesukaan adiknya, berharap Inaho akan segera sembuh. Kakaknya sangat panik waktu pertama kali membesuk, kata dokter yang merawatnya. Inaho sih tidak masalah dengan sifat kakaknya, hanya saja bagi beberapa orang mungkin tak menyukainya.
"Apa ada yang sakit, Nao-kun? Katakan pada kakak, ya?"
"Kau tidak bekerja, Yuki-nee?"
Yuki tersenyum tipis. "Aku izin cuti, paling cuma bakal kena potongan gaji." katanya, tanpa rasa sesal sama sekali.
Inaho agak merasa bersalah karena mengganggu jam kerja kakaknya. Tapi, perempuan itu keras kepala dan Inaho lebih memilih menerima apa yang terjadi padanya saat ini daripada harus membuang waktu dengan berdebat hal yang tidak berguna.
"Kau tahu, Nao-kun, kasus baru kami agak sulit—" Yuki bercerita. "Kami tak bisa melacaknya karena hujan waktu itu."
"Memang benar, sulit jika jejaknya terhapus hujan, tapi bukan berarti tidak ada bukti, kan?"
"Hanya jejak kaki yang cukup dalam di tanah yang masih tersisa. Kami sudah memotretnya tapi tidak ada perkembangan."
"Hm, cukup sulit juga. Rambut?"
"Hanya ada beberapa milik korban, sayangnya. Aku agak cemas karena pembunuhan sedang marak dan kau akan diincar." Yuki tentu saja makin cemas dengan keselamatan sang adik setelah kejadian yang dialaminya.
"Aku tidak punya apa-apa." kata Inaho. Padahal dia sudah memasang wajah orang yang tak punya uang dan masih saja diincar.
Kenapa kau bisa seyakin itu, Inaho?
"Beberapa ada yang melakukan pembunuhan secara acak." lanjut Yuki. Ada juga beberapa orang yang menjadikan aktivitas ini sebagai hobi mereka. Ouch.
"Oke, itu mengerikan, tapi aku bisa jaga diri. Kakak lihat?"
Yuki swt. "Kau hampir jadi mumi hidup, Nao-kun."
Cklek.
Krieett.
"Bagaimana kondisimu, Kaizuka kecil?"
Inaho melirik ke arah pintu yang baru saja terbuka. Dokter yang menanganinya ternyata masuk.
"Yagarai-sensei, terima kasih sudah merawat Inaho." ucap Yuki sambil sedikit membungkukan seperempat bagian atas tubuhnya. "Dan kalau bukan anda yang menemukannya, saya tidak tahu nasibnya."
"Kau kejam sekali, kak Yuki." ucap Inaho masih dengan tampang datarnya.
"Yang penting Inaho selamat, kan?" Yagarai tertawa. "Seminggu lagi kau boleh pulang." katanya. Inaho bernafas lega. Ia juga tidak ingin berlama-lama di Rumah Sakit karena gajinya pasti terpotong selama ia ada di sini.
"Kaizuka!"
Seruan lain terdengar. Ternyata rombongan teman-teman kantornya berebutan untuk segera masuk duluan.
"Aku duluan!"
"Aku!"
"Aku!"
Inaho sebenarnya bingung mereka itu sudah dewasa ataukah masih berjiwa bocah.
"Kami baru bisa menjenguk hari ini, maaf. Soalnya harus membereskan pekerjaan dulu." Calm berhasil mendahului yang lain.
"Oh, tidak apa, sih. Seminggu lagi aku keluar dari neraka ini, aku akan berjuang."
Calm swt. "Yah, kupikir kau akan berubah setelah kecelakaan karena kepalamu katanya sempat terbentur aspal cukup keras."
"Maksudmu berubah?"
"Yah, seperti mukamu yang tersenyum?"
Inaho merotasi kedua manik merahnya. "Jangan bermimpi terlalu tinggi..." Inaho memelankan suaranya di akhir. "..protozoa.."
"Kau memanggilku protozoa?! Sini maju, Inaho!"
"Calm, Kaizuka-san sedang terluka!" Nina menengahi. Inaho melihat lagi, ada seseorang yang tak ia kenal di belakang Nina.
"Nina, dia siapa?" Inaho menunjuknya. Nina tersentak, lalu buru-buru menyeret yang ada di belakangnya. "Kenalkan, pegawai baru di perusahaan kita, Asseylum! Asseylum, ini Kaizuka Inaho. Secara teknis kita semua ada di bawah pria ini." Nina tersenyum.
"Salam kenal, Kaizuka-san." sapa Asseylum. Dia memang cantik sih. Inaho kalau tidak salah ingat pernah melihatnya di ponsel milik Calm. Ternyata yang asli memang lebih bening, ya.
"Terima kasih sudah datang. Aku Kaizuka Inaho, salam kenal." Inaho tentu tahu tata krama dan sopan santun.
"Nih, untukmu." Rayet menempelkan sebuket bunga tepat di wajah Inaho. Wanginya harum. Inaho melihat bunga apa yang diberikan Rayet. Sekumpulan lili putih menghidupkan visualnya.
"Cantik sekali. Maaf merepotkanmu, Rayet." Inaho memandangi bunga itu. Bagus sekali. Mungkin setelah ia sembuh, akan ia pertimbangkan untuk menanam bunga ini di kebunnya.
"Bukan masalah besar, sih. Tapi tua bangka itu terus-terusan mengeluh karena tak ada dirimu dan mencari pekerja bayaran lain." Rayet mengutarakan.
"Kami permisi dulu." Yuki berpamitan, dan akhirnya keluar bersama Yagarai entah kemana.
"Pekerja bayaran lain?"
"Seperti pekerja sewaan, Kaizuka! Kalau aku tidak salah ingat namanya...ngg...Mazureek siapalah itu." Nina menyahut. Ia tak terlalu ingat dengan pekerja yang menggantikan Inaho sementara waktu itu.
"Gajiku.." keluh Inaho entah pada siapa.
"Apa kau lapar?" tanya Calm. "Asseylum membawakanmu sesuatu dari rumahnya."
Asseylum membungkuk sebentar, sebelum mengangkat kotak bekal tingkat tiga berwarna hitam dan bermotif sakura. "Kebetulan ada bahan lebih di rumah. Dan karena ini hari menjenguk, sekalian saja. Semoga kau suka. Aku dengar kau suka telur." Asseylum tersenyum.
Inaho mengernyit.
Calm meletakkannya di meja nakas di sebelah kiri ranjang Inaho.
"Kau beruntung sekali, kawan. Apa aku juga harus celaka sepertimu?" Calm setengah berbisik padanya.
"Kukatakan satu hal, Calm. Tidak akan ada yang peduli."
Calm menangis dalam hati.
"Rumah target terlihat."
Perintah dikirimkan melalui walkie talkie. Inko kembali ke kawasan ini untuk kedua kali, namun ia bersama para polisi lain untuk mengungkap sebuah kasus yang dilaporkan bulan lalu oleh seseorang bernama Saazbaum. Ia mencurigai adanya tindakan penyekapan dan pemaksaan di kediaman Cruhteo, salah satu petinggi militer negara ini. Ia juga menduga adanya kaitan antara kasus ini dengan anak teman lamanya.
"Bagaimana situasinya?"
"Aman."
Bzzt. Bzzt.
Inko memulai pergerakan. Mengendap pelan-pelan di antara semak untuk mendekati bangunan utama. Di pintu luar, ada beberapa orang yang berjaga. Diduga mereka juga dilatih untuk menyingkirkan gangguan hama, dan parasit lain.
"Saazbaum-san. Kondusif di pintu utama tapi ada tiga orang berjaga." lapor Inko.
"Aku tahu,batalion satu sedang menyusuri area belakang untuk menyingkirkan sebagian. Jangan terburu-buru, tunggu hingga pemilik rumah kembali."
Bzzt.
"Dimengerti."
Ketiga penjaga itu langsung diumpuhkan dengan serangan obat bius pada bom asap yang mereka lemparkan. Inko segera bergerak maju bersama rekannya. Mereka mendobrak pintu yang ternyata tidak dikunci. Suasana rumah tampak begitu sepi. Beberapa petugas langsung menyusuri area sekitar. Inko dengan salah satu rekannya yang bernama Koichirou langsung menuju lantai atas. Mereka membuka pintu satu per satu, dan menemukan seorang lelaki yang duduk di kursi goyang menghadap ke arah balkon.
"Jangan bergerak!"
Inko mendekat perlahan, bersiaga dengan senjata yang ia miliki. Siapa tahu ada kejadian tak terduga; perlawanan tiba-tiba. Inko dengan cepat berada di depannya dan menodongkan pistolnya.
Lelaki itu membuka sepasang matanya. Ia melihat orang asing masuk ke kediamannya.
"Kau siapa? Teman Cruhteo-san? Klancain?" tebaknya.
"Saazbaum-san, saya menemukan target di lantai dua." tak lupa Inko melaporkan keadaan.
"Saazbaum?" ia mencoba mengingat jika ada teman Cruhteo atau Klancain yang bernama demikian.
"Ah, bukannya kau yang waktu itu?"
"Kau mengingatku?" tanya Inko. Slaine mengangguk. "Tentu saja, aku tak mungkin lupa paras cantikmu itu."
Inko sedikit memerah. "Di-diam! Kami di sini untuk menyelamatkanmu. Ikutlah bersama kami. Bukankah anda korban penculikan dan perbudakan yang terjadi sepuluh tahun lalu?"
Lelaki itu tertawa. "Penculikan? Perbudakan? Konyol sekali." ia terpingkal-pingkal sampai sakit perut.
"Kenapa anda tertawa?"
"Begini ya, nona. Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Lagipula, waktu itu aku menyuruhmu pergi untuk kebaikanmu. Aku tak mau bertanggung jawab jika kau mati di sini."
Inko meremat bodi laras pendek yang tengah ia genggam.
"Apa maksudmu dengan—"
Inko mendadak tergeletak begitu saja. Ia terkejut melihat rekannya juga terkapar tak berdaya di belakang kursi lelaki itu.
Inko menjelajah lagi menggunakan netranya, ada seorang lain yang muncul di balik pintu. Ia memegang sebuah senapan panjang. Bau mesiu masih tercium di indera penciuman Inko sebelum bau amis perlahan menguasai.
"D-darah..." lirih Inko. Ia melihat lelaki yang duduk di kursi goyang itu kini beranjak berdiri.
"Kuberitahu, aku sudah memperingatkanmu."
Inko terlonjak beberapa kali setelah mendapat peluru tambahan di seluruh tubuhnya.
"Kenapa kau datang, Klancain? Bukankah sudah kubilang kau bawa kabur juga ayahmu bersamamu?"
Klancain berjalan menghampirinya, namun langkahnya terhenti beberapa meter di belakangnya.
"Ayah tak bisa meninggalkanmu, jadi aku kembali atas perintahnya."
"Kau akan masuk penjara." ujar Slaine.
"Jika itu harga untuk kebahagiaan ayahku, aku tidak peduli." katanya. "Ayo kita pergi dari tempat ini, Slaine-san."
"Bagaimana dengan yang di luar?"
"Aku membawa beberapa temanku." Klancain mengulurkan tangannya yang tak membawa senapan.
"Jadi..?
Slaine terkekeh sembari menyambut tangan itu. "Aku tak memintamu."
Tbc
A/N :
Dikarenakan alasan kemalasan, panda ngaret apdet ini. Dan kayanya mbulet sendiri ihk nanti bakal ada satu chapter full tentang masa lalunya slaine tp entah kapan.
thanks for read
siluman panda
Balasan review :
Kaoru Aozora :
Halo salam kenal eaqqq /alay. Aku seneng deh kalo suka ehe /APA.
Hanyo4 : halo yaz mereka bukan om mecum :"( #ZRH. Typo kapan2 deh dan aku juga baru sadar #bego #mageran. Maacih udah mau baca. Muah #jyjyq
Nia Shintarou : :) #APA . ga mecum tahu (999) :( semoga baca ini jadi JENG JENG gitu ya #GIMANA
Yuyu arxlnn : halo udah lanjut ya salam kenal eaq #SKSD.
