Title : Aku. Butuh. Kamu
Author : Kimbaobei
Cast : Kim Joonmyun (Suho), Wu Yifan, Wu Sehun, Jessica Jung, Tiffany Hwang and other
Rating : T
Pairing : Krisho
Warning : Typo(s), GS for Suho, not-too-much-words-in-each-chapter
.
.
.
"Why is love so difficult for me?" – Oh Baby - Sistar
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini Joonmyun bersiap-siap untuk pergi ke taman. Ia memasukkan sebuah kanvas, beberapa botol cat akrilik, dua buah kuas dan sebuah palet ke dalam tas. Kaki-kaki mungilnya yang beralaskan sebuah sepatu putih sederhana berjalan pelan ke arah taman yang hanya berdurasi sepuluh menit dari tempat tinggal gadis sekolah menegah atas ini. Sepasang mata indahnya tidak berhenti mengagumi keindahan pagi yang kini tersaji di hadapannya. Sudah lama, Joonmyun menginginkan kegiatan ini, namun kesibukan sekolah dan kerja paruh waktu yang dijalanninya membuat ia harus menunda sampai lama.
Sepanjang perjalanan, ia terus menyapa para tetangganya dengan riang yang berada di luar rumah dengan kegiatannya masing-masing. Hatinya terasa begitu ringan, seolah semua beban mendadak hilang dari sana.
Joonmyun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku berwarna hijau tua di dekat sebuah pohon rindang. Ia menghirup oksigen pagi kuat-kuat.
"Segarnya.." gumam Joonmyun sambil kembali duduk.
Kira-kira dua bulan sudah Joonmyun menyimpan uang dari gajinya untuk membeli perlengkapan melukis ini. Joonmyun tersenyum lebar ketika ia menyobek plastik pembungkus kanvas berukuran tiga puluh kali empat puluh senti tersebut. Ia memeluk kanvas itu sebentar dan langsung melihat ke arah kanan dan kiri.
"Jangan sampai ada yang melihat. Nanti aku disangka gila," Joonmyun tertawa kecil dan mulai menuangkan cat berwarna biru tua di atas palet coklatnya.
-oOo-
"Lama sekali!"
Teriakan Sehun menggema di seluruh penjuru ruangan. Tangannya dilipat di depan dada, bibirnya merengut dan matanya menatap tajam ke arah sang kakak yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah suntuk.
"Sekarang sudah siang, hyung! Aku tidak ingin kalau kita terlambat untuk belajar bermain basket!" Omelan Sehun terus berkumandang di telinga Yifan yang sekarang sibuk memilih sepatu mana yang cocok dengan kostum basketnya yang berwarna putih dengan pinggiran merah.
"Aku baru tidur jam setengah satu malam, Hunnie.." keluh Yifan seraya menyambar bola basket kesayangannya.
Sehun tidak menyahut, seakan tidak peduli dengan ucapan kakaknya. "Tapi hyung kan sudah janji sama Hunnie kalau akan mengajari Hunnie bermain basket.."
Yifan menghela napas keras-keras. Ini masih pukul enam lebih lima belas menit dan aku sudah harus berhadapan dengan adikku yang ngambek? Oh, come on!, rutuknya dalam hati.
"Okay, okay, hyung memang salah. Nanti kalau sudah selesai main basket, hyung akan mentraktirmu."
Mendengar pernyataan itu, mata Sehun terbuka lebar dan ia melompat-lompat kecil. "Asik! Hunnie sayang hyung~"
Ya, setidaknya aku tidak harus mendengar suara tangis atau sejenisnya di pagi hari yang cerah ini, kan?
"Hyung!"
Mendadak lamanun Yifan buyar. Ia mengenyitkan dahinya ketika Sehun mengulurkan tangannya ke arahnya.
"Apa?" tanyanya.
Lagi. Sehun mengeluarkan jurus aegyo mautnya. "Gandeng." Pintanya.
Yifan menghela napas—untuk kedua kalinya—dan meraih tangan kecil adiknya untuk digandeng. Tidak sedikit orang-orang yang melihat atau bahkan membicarakan mereka begitu kakak-adik Wu tiba di taman. Katanya sih, mereka tampan, keren atau sejenisnya.
"Terima kasih, terima kasih," Yifan tampak melempar senyum genit kepada dua orang gadis yang mungkin seusia guru privat adiknya dan tentu keduanya berteriak tertahan.
"Kau mirip sekali dengan Yifan EXO!" teriak salah seorang dari mereka yang menjadikan Yifan semakin percaya diri dengan ketampanannya.
Keadaan Yifan kini bertolak belakang dengan Sehun yang sama sekali tidak peduli dengan pujian yang ia dapatkan. Matanya hanya fokus ke deretan kios kecil yang menjual makanan manis.
"Coklat, es krim, puding.." gumamnya. "Benar-benar surga."
Yifan menggandeng tangan adiknya erat. Feelingnya mengatakan kalau adiknya sudah terjerat dengan pesona cemilan yang dijual di toko-toko kecil yang berbaris di seberangnya.
"Hunnie, kita kesini untuk latihan basket. Ayo, kita segera ke lapangan basket." Ajak Yifan pada Sehun.
"Shireo! Hunnie mau makan saja!" Tolak Sehun tegas. Ia merogoh saku celananya dan tidak menemukan uang sepeser pun disana.
"Pinjami Sehun uang.."
Yifan mendudukkan dirinya untuk menyamakan tingginya dengan sang adik. "Hhh, kita kesini untuk bermain basket, kan? Jadi, kita bermain dulu sebentar baru kita beli makanan, arraseo?"
Wajah Sehun yang awalnya tertekuk kini mulai tampak cerah. "Arraseo! Janji ya?" Sehun mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji, haha." Yifan tertawa kecil melihat kelakuan adik satu-satunya ini. Bisa-bisanya, kkk, pikirnya.
"Tapi Hunnie tidak mau latihan di lapangan basket, Hunnie mau latihan disini.."
Lagi. Lagi. Lagi. Yifan menghela napasnya keras.
"Pinjam bolanya," Sehun merebut bola basket berwarna jingga dari tangan kakaknya dan mulai berlari ke belakang menjauhi Yifan. "Ayo main lempar tangkap!"
Yifan hanya tersenyum melihat adiknya yang tertarik dengan dunia basket, sama seperti dirinya. Laki-laki berkaki jenjang itu pun merasa senang ketika Sehun mulai mendrible bola. Gayanya lucu dan tingkahnya imutnya membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka merasa gemas.
"Hyung! Tangkap!"
DUGH.
Ya, dahi Yifan terasa nyut-nyutan.
"Hyung, ambil bolanya!"
Dahiku sakit dan Sehun masih menyuruhku untuk mengambil bola? Tega!,jeritnya Yifan dalam hati. Cepat-cepat ia mencari bola basket miliknya. Yifan mengedarkan pandangannya ke seluruh taman.
"Apa ini milikmu?"
Yifan mendongakkan kepalanya dan melihat seorang gadis tengah memegang bola basket di tangannya. Mata Yifan membulat dan ia bisa melihat kalau mata gadis itu juga melebar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau?!"
"Hyung! Kenapa lama seka— Ah, annyeonghaseyo Joonmyun seongsaenim!"
Suatu kebetulan yang mengerikan. Mereka bisa bertemu di sebuah taman yang—padahal—berjarak cukup jauh dari kediaman kedua belah pihak.
"A-apa rumahmu di dekat sini?" Mulut Yifan tiba-tiba berkata seperti itu tanpa ia sadari.
Joonmyun hanya menggeleng. "Tidak begitu dekat. Apa kalian sering berkunjung kesini?" Tanya Joonmyun balik berusaha santai.
"Tidak terlalu sering. Hanya saja, taman ini dekat dengan kampusku." Jawabnya sedikit tidak nyambung.
Joonmyun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ini." Ia menyodorkan bola basketnya pada Sehun yang sudah memberikan tatapan 'tolong-berikan-padaku'.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Yifan sambil menggandeng tangan Sehun.
Jujur, penampilan Joonmyun kali ini agak berbeda. Entah kenapa, ia suka melihat Joonmyun dalam balutan baju yang sedikit sporty. Tanpa sadar ia memandangi Joonmyun dari atas sampai ke bawah.
"Ng.. apa kau mendengarkanku?" Joonmyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yifan.
"E-eh, oh, maafkan aku, a-apa yang sedang kau lakukan?" Joonmyun hanya tertawa kecil melihat Yifan yang salah tingkah begini. Lucu, katanya.
Bukannya menjawab, Joonmyun malah mengajaknya ke arah bangku yang sedari tadi ia duduki. Yifan dan Sehun terkagum-kagum melihat semua perlengkapan melukis milik Joonmyun yang lengkap dan hasil akhir dari lukisannya.
"Dari tadi aku hanya membuat ini."
Gambarnya bukan pemandangan taman di pagi hari dan bukan juga gambar bunga-bunga berwarna merah muda yang bermekaran. Yifan mengambil kanvas yang ukurannya tidak terlalu besar itu dan memandangi lukisan yang ada disana.
"Kau ini aneh. Kenapa kau melukis ini?" Pertanyaan Yifan tidak membuat Joonmyun heran karena itulah hal yang mau ia dengar. Entah kenapa ia ingin menjelaskan makna lukisan buatannya pada seseorang. Cukup beruntung ia bisa bertemu dengan Yifan disini.
"Hm, sudah lama ide itu bersarang di kepalaku dan baru sekarang bisa aku tuangkan." Kata Joonmyun sebagai kalimat pembuka. "Entah kenapa aku suka warna galaksi. Bagus."
Yifan terdiam. Apa ini benar-benar sebuah kebetulan atau apa?, pikirnya. Jessica juga pernah berpikiran seperti itu. Suka. Tak ada alasan lain yang cukup logis untuk menjelaskannya. Bahkan wanita yang notabene adalah pacarnya—ah, mungkin sudah mantan—itu pernah menyulap sebuah sepatu hitam polos menjadi bermotif dan berwarna seperti galaksi. Jessica juga memakai sepatu itu pada kencannya yang ke lima belas.
"—pa!"
Joonmyun memutar bola matanya, jengkel. "Oppa, kau melamun lagi. Ada apa?" Tanyanya to the point.
"Ah.. tidak.."
Sumpah. Rasanya Yifan ingin dirinya menghilang saja. Jawaban macam apa itu tadi?!
"Hm, apa lukisanku jelek? Terus terang saja, aku tidak akan marah kok." Air muka Joonmyun berubah. Ia menjadi sedikit lesu. "Kembalikan lukisan itu padaku…"
Tidak. Joonmyun bukannya orang yang haus pujian, hanya saja, ia bersusah payah untuk melukisnya dan—
"Susah menjelaskannya. Aku senang melihatnya. Apa kau bisa membuatkan satu lagi untukku?" Tatapan Yifan masih terfokus pada lukisan milik Joonmyun. "Tapi, itu pun kalau kau tidak keberatan."
Joonmyun hanya tersenyum. "Tentu saja tidak, hanya saja.." Ia menghentikan kalimatnya.
Yifan mengerutkan dahinya, penasaran. "Hanya saja?"
"Hunnie hilang!"
"Oh, itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"WHAT?!"
Secepat kilat, Yifan melesat tanpa sempat berpamitan dengan Joonmyun. Ia berlari melewati segerombol orang-orang yang tengah mengobrol, menerobos kumpulan merpati yang berada di tanah dan hamper saja menabrak sebuah pohon besar di tengah jalan.
"Wu Sehun!"
Sebenarnya, seorang anak yang sudah duduk di kelas satu sekolah menegah pertama bukanlah anak yang harusnya diberikan perhatian yang berlebihan, namun Yifan sangat paham kalau adiknya berbeda dengan anak-anak seusianya. Kata lainnya sih, manja.
Ia tiba di tempat awal. Matanya melihat ke arah kios-kios dengan seksama.
"Baju biru.. baju biru.. Ah!"
Buru-buru Yifan kembali berlari untuk menghampiri Sehun yang sedang menyesap minuman kesukaan, bubble tea. Mahasiswa itu melambatkan langkahnya. Bagaimana caranya Sehun membeli minuman itu? Bukankah ia tidak memiliki uang? Dan siapa anak laki-laki berambut hitam itu? Kenapa mereka berdua tampak akrab?
Yifan berdiri di sebelah mereka berdua—Sehun dan 'teman'nya—dan berdehem agak keras. "Minumannya enak, hm?"
Sehun hanya tertawa kikuk ketika melihat kakaknya—dan wajah marahnya—sudah berada di sebelahnya. "I-iya, enak, hyung mau coba?" katanya canggung.
"Kenapa kau bisa berada di sini? Bagaimana caranya kau membeli minuman ini? Siapa dia?" Pertanyaan dilontarkan bertubi-tubi menghantam sang adik yang masih sibuk menyesap bubble tea rasa anggur, rasa yang sama dengan milik temannya ini.
"Aku disini karena hyung sibuk sekali dengan Joonmyun seongsaenim.. Aku dibelikan oleh noona.. Dan ini Luhan, adiknya noona.."
Yifan menghela napas. Entah sudah yang berapa kalinya ia menghela napas. "Noona? Hhh, sepertinya aku harus bertemu dan berterima kasih padanya. Dimana noonamu, Luhan-ah?" Tanyanya pada anak laki-laki yang mengenakan kaus garis-garis itu.
"Hm, noona sedang membeli hotdog.. Ah itu dia!"
Luhan, anak laki-laki yang tingginya tidak begitu berbeda dengan Sehun, itu melambikan tangan mungilnya ke arah seorang perempuan. Mulut Yifan menganga sangat lebar.
"Yifaaaannnnn!"
Suaranya yang menggelegar membuat perhatian orang-orang menjadi tersita sebentar. Jujur, kini Yifan sibuk merutuk dalam hati. Kenapa sih harus dia?!
Yifan hanya diam ketika perempuan itu menyodorkan sebuah hotdog padanya.
"Untukmu." Katanya. "Hotdog dengan banyak sambal dan mayonnaise. Aku betul, kan?"
Yifan membuang muka. "Tidak, terima kasih. Aku tidak lapar."
"Hyung! Hyung tidak boleh begitu! Fany noona sudah berbaik hati membelikan Hunnie bubble tea ini. Diterima, ya?"
PUPPY EYES EVERYWHERE!
Sial.
"Okay," Tangannya meraih bungkusan hotdog dari Tiffany dan mulai merogoh saku celananya. "Berapa harga minuman itu?"
Tiffany menggeleng keras. "Tidak perlu diganti!" serunya dengan mulut penuh.
Yifan hanya terkikik pelan. "Ditelan dulu, baru bicara."
Pipi Tiffany memerah dan buru-buru menelan makanan yang berada di dalam mulutnya. "Ma-maaf,"
"Tidak apa-apa, hahaha!"
-oOo-
Di ujung sana, seseorang tengah menelan salivanya kasar. Di pelukannya ada sebuah kanvas yang sebenarnya diperuntukkan kepada Yifan. Hatinya sedikit sakit. Ya, sedikit. Karena ia tidak punya hak untuk cemburu.
Tunggu.
Cemburu?
"Kenapa aku jadi seperti ini ya? Siapa tahu wanita itu adalah sahabatnya Yifan oppa. Tapi bisa juga kalau ia adalah pacarnya. Hm, memangnya Yifan oppa sudah move on? Eh, peduli amat!"
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
a/n : Fourth chapter! Finally selesai juga nulisnya kkk~
.
.
Kecup Basah Corner
jimae407203: Yah, disini chapter ini, Suhonya masih misterius kkk~
honeykkamjong : Ini udah update~
leeyeol: Iya tuh, Suhonya nakal!(?) Mianhae, kemarin lagi gak ada ide T_T
eviloshhd: Hai! Cieee satu fakultas sama Tiffany :p
yongchan : Betul betul! Kkk~
Emmasuho : Siap bos!'-')7
peblish: Betul XD kkk~ Okay, ini udah update~
sayakanoicinoe: Siap bos!'-')7
Raemyoon : Oke oke! Gomawo atas kritiknya^^~~
HamsterXiumin: Kalo posesif, nanti Kris susah deketnya sama Suho dong o_o
Seung Rin : Jangan cepet-cepet ah~ Adain lagi ah~ :p
