Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas

This story is belong to sureaLive

Cast:

Jimin from BTS

Yoongi from BTS

Jin from BTS (Mentioned)

Jungkook from BTS (Mentioned)

Taehyung from BTS (Mentioned)

Namjoon from BTS (Mentioned)

Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)

OC

And other(s)

Rated:

M (For Theme and Language)

Length:

Chaptered

Warning:

BoysLove, OOC, Typo(s)

Boring One

Slow Plot

Disclaimer:

They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^

Summary:

Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.

~][~

"Kau mau kemana?" Suara Jimin mengagetkan Yoongi yang baru saja berdiri dari tempat duduknya.

"A-aku ingin ke toilet sebentar." Yoongi kira Jimin tidur, karena sejak mereka mendudukkan diri di pesawat 30 menit yang lalu, Jimin langsung memejamkan matanya.

"Baiklah. Ayo." Jimin berdiri lalu memasukkan earphonenya ke dalam kantong celana hitamnya, bermaksud mengantar Yoongi ke toilet.

"Tidak pe-perlu, biar aku sendiri saja." Yoongi menghentikan tangan Jimin yang telah bertengger di punggung sempitnya.

"Tidak. Aku akan mengantarmu. Aku tak ingin memberikanmu kesempatan untuk melarikan diri." Jimin menarik sudut bibirnya, lalu mendorong Yoongi ke arah toilet.

Dengan enggan akhirnya Yoongi membiarkan Jimin mengantarnya ke toilet. Sungguh, pikiran tak masuk akal apa yang telah merasuki seorang Park Jimin, bagaimana Yoongi bisa melarikan diri dari ketinggian beribu-ribu meter di atas permukaan laut? Heol!

Setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit di toilet, mereka kembali duduk dengan nyaman di kursi mereka masing-masing. Jimin sudah hampir menyumpal kembali telinganya dengan earphone saat ia melirik Yoongi yang tengah memandang ke luar pesawat dengan menempelkan keningnya di kaca jendela, hal itu membuat Jimin mengurungkan niatnya untuk mendengarkan musik.

"Kau tidak tidur?" Yoongi mengalihkan pandangannya dan menatap Jimin.

"Hmm.. tidak bi-bisa. Kau sendiri?" Yoongi balik bertanya.

"Tadinya aku berniat untuk tidur, tapi sepertinya ada hal yang lebih menarik daripada tidur." Mendengar itu Yoongi mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

Yoongi tak langsung menjawab, pandangannya kembali ia alihkan ke luar jendela pesawat. "Ti-tidak ada. Hanya saja aku sedang berpikir, apakah paman-pamanku sudah mulai mencariku."

"Hmm.. Walaupun mereka sudah mulai mencari dirimu, mereka tidak akan menemukanmu."

"Iya, itu bagus. Hanya saja cepat atau lambat mungkin teman-temanku aa-akan tau bahwa aku pergi dari rumah pamanku." Yoongi tak lagi memandang keluar, tak sopan rasanya berbicara tanpa memandang lawannya.

"Apa mereka akan menghubungimu?" Jimin kembali bertanya, entah kenapa rasa kantuknya hilang. Dia lelah, tentu saja, namun hasratnya untuk memejamkan mata sudah tidak ada.

"Me-mereka tidak akan bisa menghubungiku." Yoongi tersenyum kecil, senyum yang tak menyentuh matanya.

"Kenapa? Apa mereka tidak tau nomor ponselmu? E-mailmu?"

"Aku tidak pernah memberikan nomor ponsel, karena aku tidak pernah memilikinya. Kami hanya berkomunikasi lewat telepon rumah pamanku."

"Apa? Kau tidak punya ponsel? Di jaman secanggih ini masih ada orang yang tak memiliki ponsel." Yoongi hanya kembali tersenyum untuk menjawab pertanyaan Jimin. "Oke, kau berbeda, Min Yoongi-ssi."

"Cukup Yoongi. Kurasa usia kita tidak berbeda jauh. Berapa umurmu, Jimin-ssi?" kini giliran Yoongi yang bertanya, mencoba menyambung pembicaraan diantara mereka.

"Jadi, kita sudah mulai memanggil dengan panggilan informal." Jimin menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. "Kalau begitu kau bisa memanggilku Jimin. Hmm.. Aku 29 tahun, kau sendiri Yoongi?"

"Aku 30."

"Jadi seharusnya aku memanggilmu, Hyung, huh? Tapi maaf, aku tidak bisa memanggil pasanganku sendiri seperti itu." Jimin berkata dengan nada meminta maaf, sedang raut wajahnya sendiri tidak menunjukkan penyesalan sama sekali.

"Ti-tidak perlu. Kau bebas memanggilku sesukamu." Yoongi agak jengah melihat seringai di bibir Jimin.

"Bagus. Aku akan menemukan nama panggilan yang bagus untukmu." Melihat raut muka jengah Yoongi, Jimin semakin melebarkan seringainya.

Setelah terdiam cukup lama, Jimin kembali bersuara. "Seandainya aku menolak tawaranmu, apa yang akan kau lakukan, Yoongi?"

Yoongi tak langsung menjawab, dia menarik napas lelah, seolah mencoba melepaskan beban tak terlihatnya. "Mungkin aku akan mendatangi Seokjin dan Namjoon." Dia tidak bisa meminta bantuan pada Jungkook dan Taehyung, mereka sedang berbulan madu, dan mungkin akan memakan waktu lama, selain itu datang ke keluarga Jeon bukan pilihan bagus. Walaupun Jeonghan akan membantunya namun kedua orangtuanya mungkin akan keberatan, keluarga Jeon bukanlah pilihan.

"Kenapa itu bukan menjadi pilihan pertamamu?"

"Akan sulit bagi mereka untuk membantuku. Posisi mereka di mata hukum tidak akan kuat, lebih aman untukku menjadi pasanganmu daripada menjadi tamu di rumah seseorang."

Jimin terdiam, dan berpikir bahwa itu benar. Status mereka akan kuat di mata hukum untuk menahan Yoongi agar tak bisa di paksa kembali oleh pamannya. Melihat Yoongi mencoba menyamankan posisi kepalanya, Jimin menarik pelan Yoongi agar mendekat.

"Kesini, mendekatlah. Akan lebih nyaman untukmu." Setelah menyamankan posisi kepala Yoongi yang bersandar pada pundaknya dan melingkarkan satu tangannya melewati pundak Yoongi, Jimin memanggil salah satu pramugari dan meminta tambahan selimut untuk Yoongi saat dia merasa jari-jari Yoongi terasa dingin. "Kemana perginya gagapmu, sayang? Kurasa gagapmu berkurang dalam beberapa waktu terakhir."

"Benarkah?" Yoongi tak menyadarinya. "Mungkin... karena aku merasa nyaman denganmu. Gagapku akan berkurang saat aku berbicara dengan orang-orang tertentu." Ini aneh, hanya sedikit orang yang bisa membuat gagap yang Yoongi alami berkurang, bahkan gagapnya benar-benar menghilang saat ia berbicara dengan anak-anak.

"Tidak ada seorangpun yang pernah merasa bahwa aku memberikan kenyamanan. Aku yakin, aku tak menykai itu. Aku harus segera melakukan sesuatu yang jahat padamu. Untuk mengubah cara pandangmu padaku." Dada Jimin bergerak teratur di bawah telinga Yoongi saat ia menarik dan menghembuskan napasnya.

"Aku yakin kau akan segera melakukannya. Mungkin aku terlalu lelah untuk gagap."

Setelah keheningan yang cukup panjang, Yoongi bertanya dengan suara pelan, agak teredam dengan selimut yang menyelubunginya sampai dagu. Pada awalnya posisi ini agak aneh menurut Yoongi, namun kenyamanan yang di tawarkan Jimin tak bisa di tampiknya. "Apakah kau memiliki saudara? Kakak atau adik?"

Jimin terdiam cukup lama, Yoongi sampai memutar kepalanya untuk melihat Jimin, Yoongi berpikir mungkin Jimin tertidur. Namun ternyata Jimin sedang memandangnya dengan pandangan yang tak dapat Yoongi artikan.

"Tidak ada yang tersisa, hanya ada aku dan ayahku. Aku tak punya memori tentang ibuku. Dia meninggal saat aku masih kecil karena sakit. Aku anak terakhir dan anak lelaki satu-satunya, memiliki 3 kakak perempuan. 2 kakak perempuanku meninggal karena kecelakaan. Sedang kakak perempuanku yang satunya, sama seperti ibumu, meninggal saat melahirkan. Bayinya pun meninggal."

Yoongi mendengarkan dalam diam, sedang dia makin menyamankan posisinya dalam dekapan Jimin. Dalam hatinya dia merasa kasihan pada lelaki yang tengah dia jadikan sandaran ini. Ibu dan ketiga kakak perempuannya telah terenggut dari hidupnya. Tak ada kasih sayang dari tangan perempuan yang dapat membimbingnya. Yoongi sendiri lupa, bahwa dia sendiripun tak pernah merasakannya. "Apakah kau pernah berpikir, andai saja ibu atau kakak-kakakmu masih ada, mungkin keadaanmu tidak akan seperti ini? Maksudku, mungkin dengan adanya ibu atau kakakmu kehidupan bebasmu akan lebih terkontrol."

"Tidak."

"Aku pernah. Andai saja ibuku masih hidup, aku ingin tau pendapatnya atas keputusan-keputusan yang aku ambil. Apakah yang aku lakukan ini benar atau salah."

"Melihat ibumu menikahi seorang Min Yoosuk, aku tak begitu yakin dengan pendapatnya."

"Ayahku tak seburuk dirimu." Yoongi menjawab dengan kesal, dia mendelik dan menjauhkan kepalanya dari Jimin, tak terima ada orang yang menjelekkan ayahnya, apalagi orang itu seorang Park Jimin, lelaki berengsek yang sudah terkenal seantero Seoul.

Mendengar nada kesal yang di tunjukkan oleh Yoongi, Jimin tertawa. "Aku tidak pernah berkata bahwa aku orang baik, manis. Kemarilah. Dan cobalah untuk tidur." Jimin kembali menarik Yoongi, mengusap kening Yoongi lembut, mencoba meluruskan kerutan kesal di kening mulusnya.

Yoongi sendiri masih memandang Jimin dengan kesal, mencoba tak terpengaruh dengan usapan lembut dari jari-jari hangat Jimin. Dan untuk kesekian kalinya, pandangan mereka bertemu, dan kali ini dalam jarak yang begitu dekat. Mereka merasakan itu, sebuah tarikan tak kasat mata diantara mereka, yang membuat mereka enggan memutus tatapan masing-masing. Jimin mengalihkan usapannya ke pipi pucat Yoongi, yang sekarang pipi itu tengah di hiasi semburat merah tipis. Jimin tak pernah memperlakukan orang lain selembut ini. Tidak pernah sekalipun. Biasanya yang di berikan hanyalah usapan sensual yang berisi rayuan. Bukan elusan lembut yang di penuhi ketulusan. Sedangkan Yoongi sendiri, dia tidak pernah dalam jarak sedekat ini dengan orang lain. Tidak pernah seintim ini.

Karena Yoongi merasakan kecanggungan diantara mereka, akhirnya Yoongi mengalihkan pandangannya. Merasakan bahwa mata yang menjadi objeknya beberapa saat tadi telah beralih, Jimin berdehem kaku.

"Tidurlah." Katanya pelan, lalu memasukkan sebelah earphone ke telinga kanan Yoongi.

~][~

Jimin melangkah menuju luar bandara dengan satu tangan menarik koper berukuran sedang yang di atasnya bertengger tas ransel Yoongi, sedang tangannya yang lain ia kaitkan di pinggang Yoongi yang berjalan dengan sedikit terhuyung. Perjalanan udara yang memakan waktu -/+ 18 jam dan juga kurangnya kualitas waktu untuk tidur membuat kondisi fisik Yoongi sedikit drop. Jimin sendiri sebenarnya dia juga lelah, sangat lelah, hanya saja tak separah Yoongi, maka dari itu ia masih kuat untuk menopang Yoongi dengan satu tangannya.

Saat sampai di pintu keluar Jimin langsung memanggil satu taksi, dan meminta mengantarkan mereka ke hotel yang terletak di sekitar Vondel Park. Jalanan di luar masih terang dengan cahaya orange pucat dari matahari, Jimin melihat kearah jam di pergelangan tangannya, saat ini sudah jam 11 malam di Seoul, berarti di Belanda sekitar jam 4 sore. Jimin menghela napas lega, setidaknya malam ini mereka bisa tidur terlebih dahulu, lalu besok pagi mereka akan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka.

"Apakah sudah sampai?" Tanya Yoongi dengan suara kecil.

"Sebentar lagi. Kau bisa tidur sekarang." Jimin menjawab dengan satu tangan yang tetap menjaga Yoongi agar tetap menyandar padanya. Lalu setelahnya tak ada lagi suara dari Yoongi.

Hotel yang mereka tuju bukanlah hotel besar dengan 5 bintang, hanya hotel kecil yang terlihat nyaman, dengan dekorasi yang di penuhi oleh warna cokelat kayu dan merah batu bata yang terkesan hangat untuk cuaca di penghujung musim gugur seperti ini.

Yooongi terbangun tepat saat taksi mereka berhenti di depan pintu hotel, Yoongi berjalan dengan menyandarkan setengah badannya pada lengan Jimin.

"Satu kamar VIP, please?" Jimin memesan kamar dengan Yoongi yang setengah terpejam di sampingnya.

"Tentu, Tuan. Satu kamar VIP. Kamar nomor 89 di lantai 9. Room Boy kami akan mengantar anda dan pasangan anda. Terimakasih." Receptionist menyerahkan kunci kamar mereka sambil memandangi Jimin dan Yoongi bergantian. Setengah penasaran, sedangkan setengahnya lagi sudah bisa menebak apa tujuan mereka datang ke Belanda.

"Thank you." Jimin mengangguk kecil setelah transaksi selesai, lalu kembali menggiring Yoongi menuju kamar mereka.

"Se-sebentar. Kau hanya memesan satu kamar?" Yoongi sedikit menjauhkan kepalanya dari pundak Jimin.

"Kita kesini bukan untuk berlibur, jadi kita tidak memerlukan 2 kamar." Mendengar itu Yoongi langsung diam. Ya, mereka kesini untuk menikah, dan pasangan yang sudah menikah akan tinggal dalam kamar yang sama.

Dengan diam mereka mengikuti room boy yang mengantarkan mereka, saat mereka sudah sampai di dalam kamar mereka, Jimin kembali bersuara.

"Mandilah terlebih dahulu, lalu istirahat. Kita akan mengurus pernikahan kita besok."

"Besok? Bukan sekarang?" Yoongi memandang Jimin dengan mata setengah mengantuknya.

"Tidak. Kita butuh istirahhat, bahkan kau sendiri sudah tidak bisa berdiri dengan tegak." Jimin menjawab dengan cepat.

"Ta-tapi kita tidak punya banyak waktu. Kita harus cepat kembali ke Korea." Yoongi berkata dengan suara pelan.

"Iya, tapi…"

"Ayahku te-tengah sekarat. A-aku tak punya banyak waktu." Suara Yoongi bergetar, gagapnya kembali, dan terdengar lirih di telinga Jimin.

"Tapi ini sudah hampir malam. Tidak akan ada pendeta yang mau menikahkan kita di jam seperti ini." Jimin semakin merasa lelah dengan perdebatan ini. Jimin mulai menyadari bahwa lelaki mungil di depannya ini adalah seorang yang keras kepala.

"Kita bi-bisa bertanya pada receptionist di depan." Yoongi masih bertahan dengan keinginannya. Sungguh, tidakkah Jimin mengerti, dia benar-benar tidak punya banyak waktu.

Melihat Yoongi seperti itu, Jimin menghembuskan napasnya pelan, mencoba memahami kebutuhan Yoongi di waktu yang mendesak seperti ini. "Baiklah, mari kita bertanya. Lagipula siapa yang butuh tempat tidur saat ini." Mendengar itu Yoongi mengangkat kepalanya yang selama ini tertunduk, dan menatap Jimin tepat di bola matanya. Membuat napas Jimin sedikit tercekat.

"Terimakasih."

~][~

Dan disinilah mereka sekarang. Di depan Gereja kecil yang terletak tepat di seberang hotel tempat mereka menginap. Gereja terdekat yang di rekomendasikan oleh si receptionist. Dengan tersenyum cerah receptionist tersebut memberitahukan bahwa pengurus Gereja ini adalah sikeluarga pendeta, dan mereka sering menangani kasus-kasus seperti ini. Sepasang kekasih yang datang ke Negara mereka untuk menikah dalam waktu cepat. Si receptionist menduga bahwa mereka datang untuk kawin lari. Ya, kalau mengingat tidak ada satupun pihak keluarga dari Jimin dan Yoongi yang tau tentang pernikahan mereka, mereka bisa di sebut sebagai pasangan kawin lari.

Saat mereka memasuki Gereja tersebut, ada seorang lelaki kurus setengah baya yang sedang membereskan bangku-bangku yang berjejer rapi di sepanjang lorong kecil. Mendengar langkah mereka, lelaki tersebut berbalik dan tersenyum cerah kepada mereka.

"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Lelaki tersebut bertanya masih dengan senyum di bibirnya.

"Kami ingin menikah." Jimin menjawab langsung ke tujuan mereka, rasa lelah membuatnya enggan berbasa-basi.

"Aah.. tentu saja. Apakah kalian menginap di hotel seberang?"

"Iya. Receptionist di sana berkata bahwa kau bisa mengurus pernikahan dengan cepat." Yoongi hanya diam, membiarkan Jimin yang melakukan semua pembicaraan yang di perlukan.

"Tentu. Tentu saja. Mari ikuti saya. Setelah kalian mengisi data kita bisa langsung memulai prosesi pernikahan kalian." Jimin tak juga melepaskan tangan Yoongi saat mengikuti pendeta yang melangkah di depan mereka.

"Seperti yang kau lihat, aku dan…" Jimin menjawab lalu memandang Yoongi di sampingnya ".. dan pasanganku dalam keadaan lelah kami datang dari Korea dan kami tidak memiliki banyak waktu, maka dari itu kami ingin melewati semua proses secepat mungkin."

"Dari Korea? Mengapa kalian ingin menikah seterburu-buru ini? Apakah kedua orang tua kalian tidak merestui hubungan kalian?"

"Seandainya semuanya se simple itu." Untuk pertama kalinya Yoongi bersuara. Membuat pendeta itu sekarang menatapnya.

"Tidak ada hubungan yang simple, nak." Pendeta itu menjawab, senyum hangat kambali muncul di bibir lelaki setengah baya itu. "Tapi, asal kalian tau, serumit apapun sebuah hubungan, namun saat cinta sejati yang menyatukan kalian, semua kerumitan itu akan bisa kal…"

Dengan tidak sabar Jimin menyela perkataan sang pendeta. "Ini bukanlah hubungan yang melibatkan cinta. Ini adalah pernikahan karena kebutuhan. Tidak ada kehangatan dalam hubungan kami seperti lilin di tengah ruangan dingin. Jadi, jika kau mengijinkan, bisakah anda mempercepat proses pernikahannya? Kami tidak cukup tidur dari kemarin."

Keheningan tercipta diantara mereka, kedua putri sang pendeta yang baru hadir menatap mereka bergantian dengan bingung. "Aku tidak menyukaimu, Boy." Sang pendeta menunjuk Jimin dengan raut muka tidak suka yang sangat kentara.

"Begitupun dengan pengantin saya. Tapi itu tidak menghentikannya untuk menikah dengan saya. Jadi, saya harap itupun tidak menghentikanmu. Silahkan lanjutkan" Jimin menjawab dengan nada malas.

Sang pendeta menatap Yoongi dengan pandangan khawatir. "Apakah sang pengantin mempunyai bunga?" Setelah menarik napas untuk menenangkan diri, sang pendeta melanjutkan dan mencoba mencoba menciptakan nuansa romantis untuk pasangan pengantin di depannya. Saat tak melihat setangkai bungapun, sang pendeta memandang ke salah satu putrinya. "Sayang, bisakah kau ambil bunga di belakang?" Tanpa disuruh dua kali sang putri langsung berlari ke arah pintu samping.

"Pengantinku tak membutuhkan bunga." Jimin berkata dengan nada kesal.

"Mengapa begitu? Setiap pengantin membutuhkan bunga." Jawab sang pendeta, lalu muncullah putrinya dengan buket bunga tulip perpaduan dari warna cream, orange, dan pink. "kau tau arti dari warna-warna ini? Cream melambangkan komitmen, pink untuk melambangkan kebahagiaan, sedangkan orange melambangkan pengertian antar pasangan, kehangatan, daya tarik, dan keinginan dalam sebuah hubungan. Indah bukan? Sangat cocok untuk pasangan yang akan menikah seperti kalian."

"Tapi, seperti yang…" Jimin kembali ingin menyela, namun Yoongi menarik lengan kemejanya lalu berbisik.

"Semakin sering kau menyela, akan semakin lama proses pernikahannya." Yoongi menerima buket bunga yang di tujukan padanya.

Tidak menghiraukan interupsi yang hampir di keluarkan oleh Jimin, sang pendeta kembali bertanya. "Apakah sang pengantin memiliki cincin?" melihat pasangan di depannya kembali terdiam, sang pendeta melanjutkan. "Seperti yang ku duga. Sayang, tolong ambilkan kotak cincinnya." Kali ini putri yang satunya yang berlari ke belakang. "Cincin ini dengan kualitas terbaik, kami bekerja sama dengan salah satu toko perhiasan dekat sini. Tenang, kualitas terjamin, ada sertifikatnya."

"Pengantinku tidak membu…" Jimin terdiam saat melihat Yoongi sedang melihat-lihat kotak besar yang berisi jajaran cincin dengan berbagai ukuran dan motif. "Baiklah. Pilih salah satu."

Sang pendeta kembali berkata menjelaskan arti dari setiap motif dan ukiran yang terdapat pada cincin, lalu Yoongi memilih cincin paling simple, polos, yang berukuran cukup kecil, memasukkannya ke dalam jari manis kirinya yang langsung tepat, pas. Melepasnya lagi dan memperhatikannya lalu membaca ukiran yang terdapat di bagian dalam cincin. "Tha Gad Agam Ort." Bisiknya dengan suara pelan. "Apa artinya?"

"Itu dari bahasa Scotlandia, yang berarti "Cintaku Hanya Untukmu"." Sang pendeta menjawab sambil tersenyum senang.

Tak ada pergerakkan ataupun suara dari Jimin sedangkan Yoongi sendiri merasa canggung, dan kembali meletakkan cincin ke dalam kotak, merasa bodoh karena sempat tertarik pada cincin-cincin itu. Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya arti dari kata-kata itu yang mengganggunya. "A-aku pikir, aku tidak membutuhkannya."

"Kami akan mengambilnya." Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Jimin kembali bersuara. Mengambil kembali cincin yang tadi sempat di pilih oleh Yoongi. Sedangkan Yoongi memandang Jimin dengan kaget. "Itu hanya kata-kata. Tak berarti apapun."

Yoongi mengangguk lalu menundukkan kepalanya, terdapat semburat merah tipis di pipi putihnya.

"Baiklah, sekarang kami memiliki lagu spesial untuk pernikahan kalian. Ayo, sayang bernyanyilah." Sang pendeta menyuruh kedua putrinya untuk bernyanyi.

"Lagu? Yang benar saj…" hampir saja Jimin berteriak kesal, namun tertahan saat Yoongi kembali berbisik di telinganya.

"Biarkan. Berhenti menyelanya. Aku sudah lelah."

Oh, my love is like a red, red rose

That's newly sprung in June

Oh, my love is like a melody

That's sweetly played in tune

As fair art thou, my bonnie lass,

So deep in love am I

And I will love thee still, my dear

Till all the seas gang dry…

Mendengar kedua putrinya bernyanyi., sang pendeta memandangi keduanya dengan kilatan bangga. Setelah nada terakhir terdengar, sang pendeta berdehem, "Sekarang, aku bertanya, apakah kalian pernah menjalin pernikahan sebelumnya?"

"Tidak." Jimin menjawab hampir bersamaan dengan Yoongi.

"Apakah kau memiliki cincin?"

"Tadi kau baru saj…" Sang pendeta menatap Jimin tajam, oke, sekarang Jimin hanya harus mengikuti kata-kata dari si pendeta. "Ya, aku memilikinya."

"Sekarang pasangkan cincin tersebut ke jari pengantinmu."

Yoongi merasa aneh, dan kepalanya terasa ringan saat berhadapan dengan Jimin. Saat di mana Jimin memasangkan cincin di jari manisnya, jantungnya berdetak begitu cepat, perasaan ini terasa hangat, kehangatan yang tak bisa dia deskripsikan, tak ada kata yang dapat mengekspresikan perasaan Yoongi saat ini. Setelah memasangkan cincin itu, jari mereka masih bertautan. Jari Jimin lebih hangat dan tak sepucat jari Yoongi. Jimin memandangi Yoongi dengan dalam. Berbagai emosi berkelebat di mata kelamnya, dan napasnya terdengar lebih cepat dari biasanya. Sedikit kaget dengan dirinya, sejak kapan Yoongi hapal dengan ritme napas seorang Park Jimin? Yoongi mengalihkan tatapannya, dan melihat sang pendeta membawa sebuah pita putih berukuranng cukup panjang, sambil mendekati mereka berdua.

Lalu sang pendeta mengikat tangan Jimin dan Yoongi yang masih bertautan dengan pita putih tersebut. "Sekarang kalian telah terikat." Sang pendeta berkata pelan, " Ikuti kata-kataku… 'Aku Menerimamu sebagai pasanganku'."

"Aku menerimamu sebagai pasanganku." Yoongi berbisik.

"Tuan?" Sang pendeta mamandang Jimin.

Jimin masih belum mengalihkan pandangannya dari Yoongi, dan Yoongi dapat merasakan kembali tarikan hasrat yang telah terbangun di antara mereka. Tarikan yang begitu kuat lebih dari sebelumnya.

"Aku menerimamu sebagai pasanganku." Suara Jimin terdengar dalam dan sedikit serak.

"Di depan Tuhan dan saksi, aku menyatakan bahwa pernikahan kalian telah sah. Apa yang telah di persatukan oleh Tuhan tak akan bisa di pisahkan oleh tangan manusia. Semuanya $1750."

Jimin mengalihkan pandangannya dari Yoongi dan melihat sang pendeta dengan menaikkan sebelah alisnya.

"$1000 untuk biaya pernikahan dan surat-suratnya. $500 untuk cincinnya."

"$500 hanya untuk cincin?"

"Itu terbuat dari emas 24k dan bersertifikat."

"Dan sisanya?" Jimin bertanya malas.

"$200 untuk bunga." Kedua putri sang pendeta hanya tersenyum lebar di samping ayahnya. "$50 untuk pitanya, kalian tidak boleh membukanya sampai kalian tiba di kamar pengantin kalian. Dan untuk lagunya gratis."

Jimin mengambil dompet yang di simpan di kantong celananya dengan canggung, karena sebelah tangannya masih terikat dengan tangan Yoongi. "Ini. Sisanya tidak perlu di kembalikan, berikan itu pada kedua putrimu. Terimakasih untuk lagunya."

"Terimakasih. Surat-suratnya akan saya antarkan ke hotel tempat kalian menginap besok sore."

Lalu Jimin dan Yoongi meninggalkan Gereja tersebut dengan diiringi pandangan dari sang pendeta, dan dendangan lirih dari kedua putrinya.

And I will love thee still, my dear

Till all the seas gang dry…

~][~

TBC

Alurnya memang sengaja di buat lambat, karena saya pengen seenggaknya, mereka mengenal satu sama lain dulu sebelum menikah hehe :D

Review please? ;)

Kritik dan sarannya ya?

Apakah ini kepanjangan?

Ataukah terlalu berbelit?

Hehe terimakasih ^o^

Balasan Review:

Minyoonlovers Yoongi juga berharap begitu, makanya dia pilih Jimin, dia harap Jimin bisa lindungin dia :) Masalah Han Gu, karakter dia di sini beda banget sama novel aslinya, di novel dia sama sekali gak ada perasaan semacam itu, tapi kalo di sini, mari kita lihat kedepannya hehe Tenang aja, saya juga pecinta Jimin seme, gak bisa bayangin dia di ukein sama mas Gula hahahah Terimakasih ya, di tunggu kritik dan sarannya :D

princexod Badboy kan baiknya sama pasangannya doang hehe Tsun itu gak bisa di lepas dari image Yoongi hahaha Chapter ini lama, maaf yaaa huhu Jangan panggil Thor ya, saya mah bukan author, panggil N aja ^o^ terimakasih ya, di tunggu kritik dan sarannya :)

qwertyxing Chapter ini lama, maaf yaaa huhu terimakasih ya udah baca dan review, di tunggu kritik dan sarannya :D

07 Tuh udah sah hahaha kalo udah sah tinggal ngapain lagi? Hehe terimakasih, di tunggu kritik dan sarannya ya :)

an.2794 hmm, bisa di bilang begitu, tapi banyak yang saya rubah hehe Iyaaaa, Yoongi rambut item itu ukeable(?) bangeet w Haha seme berengsek, tobatnya cuma bisa ma uke yang tepat hahaha terimakasih ya, di tunggu kritik dan sarannya :)

Hanami96 halloooo jugaaa ^o^ terimakasih yaa, hmm masalah itu kayanya udah di certain sekilas di chapter 1, gak detail si emang, semoga kedepannya bisa saya perjelas lagi dengan perlahan yaa hehe terimakaksih, di tunggu kritik dan sarannya juga yaa :)

anunyajimin Iyaa, kasiaan Yoongi T^T udah nikah nih hehe terimakasih yaa, di tunggu kritik dan sarannya :)

The Min's Terimakasiiih, seneng deh ada yang suka hehe Chapter ini lama, maaf ya, saya stuck di sini T_T Semoga next chap bisa lebih cepet, terimakasih yaa, kritik dan sarannya di tunggu :)

LittleDevil94 Tapi aku cintanya ma Yoongi hehe peace .. ini udah, terimakasih yaa, di tunggu kritik dan sarannya :)

she3nn0 otp kesayangan, ? :D sebenernya mereka ada cerita sendiri, tapi saya belum ada niat buat remake itu hehe Iya, otp ini lagi hits banget belakangan ini huhu *nangis bahagiaaa* terimakasih ya, di tunggu kritik dan sarannya :)

praxion Terimakasiih, keep watching ya, di tunggu kritik dan sarannya juga, jangan bosen :)

driccha Terimakasih yaa, ini udah di lanjut, semoga tetep suka ya, di tunggu kritik dan sarannya :)

CandytoPuppy sudaaah, terimakasih yaa, di tunggu kritik dan sarannya :)

Shubble Terimakasiih hehe semoga chapter depan lebih cepet yaa, di tunggu kritik dan sarannya :) terimakasih