Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas

This story belongs to sureaLive

Cast:

Jimin from BTS

Yoongi from BTS

Jin from BTS (Mentioned)

Jungkook from BTS (Mentioned)

Taehyung from BTS (Mentioned)

Namjoon from BTS (Mentioned)

Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)

OC

And other(s)

Rated:

M (For Theme and Language)

Length:

Chaptered

Warning:

BoysLove, OOC, Typo(s)

Boring and Long

Very Slow Plot

Disclaimer:

They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^

Summary:

Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.

~][~

Ketika hujanlah yang menyambut mereka di luar gereja, Jimin dan Yoongi saling memandang dan memberikan isyarat tak terucap untuk berlari menembus hujan dan kembali ke hotel. Dengan sebelah tangan yang masih bertaut karena ikatan pita dari sang pendeta, secara tak langsung membuat jari-jari mereka saling menggenggam, dan itulah satu-satunya bagian dari tubuh mereka yang terasa hangat.

"Sebentar…" Jimin menghentikan langkah mereka saat pintu hotel hanya berjarak beberapa langkah di depan. Agar tubuh mereka tak di hujani oleh air langit yang semakin deras, Jimin menarik Yoongi ke tembok di samping pintu, memposisikan dirinya di hadapan Yoongi dengan badan Yoongi bersandar pada tembok bata di belakangnya.

Dalam diam, Jimin mencoba membuka ikatan pita di tangan mereka dengan sebelah tangan, agak kesusahan memang, namun bukan berarti tidak bisa.

"Ja-jangan..." Yoongi mencoba mencegah usaha Jimin dengan mendorong sebelah tangan Jimin yang masih mencoba melepaskan simpul ikatan.

"Aku tak ingin terlihat bodoh dengan pita ini saat berjalan di dalam hotel." Jimin menggeram, kesal karena usahanya terhalangi oleh Yoongi.

"Tapi pendeta bilang kita tak boleh membukanya sampai kita tiba di kamar." Yoongi berkata cepat, masih berusaha menghalau tangan Jimin.

"Kenapa? Memang apa yang akan terjadi?" Jimin mendesis saat jari-jari pucat Yoongi yang menutupi pita di pergelangan tangan mereka menyentuh tepat di nadinya. Kehangatan langsung menjalar di seluruh tubuh Jimin.

"Mu-mungkin hal buruk. Aku tidak tau, setidaknya kita bisa mencegah itu terjadi." Yoongi mengangkat wajahnya saat mendengar desisan di sela-sela bibir Jimin yang terkatup, tak yakin dengan ekspresi yang Jimin tujukan karena wajahnya tertutupi oleh bayang-bayang lampu temaram di belakangnya. Apakah Jimin marah?

"Di jaman seperti ini kau masih mempercayai hal-hal seperti itu?" Jimin bertanya dengan skeptis, tak percaya bahwa dia telah menikahi seorang yang kolot. Yoongi tak menjawab, namun sebelah tangannya masih mencoba menutupi pita di tangan mereka. "Kau benar-benar akan masuk hotel dengan penampilan seperti ini?" Jimin berkata dengan mata tepat menatap ke bola mata caramel Yoongi.

"Me-mereka tidak akan memperhatikan. Lagipula ini sudah ma…"

Kata-kata di bibir Yoongi tak terselesaikan karena kini bibirnya tengah tertutupi oleh sepasang bibir lain yang mendesaknya. Yoongi membulatkan matanya, memandang mata Jimin yang juga tengah memandangnya. Tangan Jimin yang sejak tadi berusaha keras membuka ikatan, kini terselip di belakang leher Yoongi, menekannya dan sedikit menggenggam lembut rambut basah Yoongi. Dengan badan Jimin yang menekannya ke belakang, kedua tubuh mereka semakin berdesakkan. Jimin menginginkan apa yang tidak bisa Yoongi berikan.

Yoongi tak pernah berciuman, dia tidak tau bagaimana caranya berciuman. Namun hasrat itu ada, memanasi kulitnya di balik pakaiannya yang basah merambat hingga pipi pucatnya. Karena tak tau apa yang harus dia lakukan, Yoongi memejamkan matanya dan menekankan bibirnya pada bibir Jimin dengan cara yang kaku.

Merasakan kebingungan yang di rasakan oleh Yoongi, Jimin menjauhkan sedikit wajahnya, lalu memindahkan tangannya melewati telinga dan rahang Yoongi dengan sentuhan lembut dan berhenti di dagu lancip Yoongi. Saat Jimin mengalihkan pusat pandangannya dari mata ke bibir merona Yoongi, Jimin memiringkan posisi wajah Yoongi dan menarik dagunya dengan lembut, membuat sepasang bibir Yoongi terpisah dan merekah. Dengan tidak sabar Jimin kembali mendekatkan wajahnya, lalu menjilat bibir bawah Yoongi sekilas dan melesakkan lidahnya. Mengunci bibir mereka dalam pagutan yang dalam.

Saat Jimin menjauhkan badannya, Yoongi pikir dia telah melakukan kesalahan, maka dari itu dia belum berani membuka kembali matanya untuk bertatapan dengan Jimin. Dia malu. Namun kejadian selanjutnya membuat lenguhan kecil lolos dari dalam mulutnya. Yoongi dapat merasakan rasa Jimin, halus dan memikat dengan panas yang memabukan. Lidah Jimin mendorong masuk lidah Yoongi, menjelajahi setiap sudut mulut Yoongi yang tak memiliki pertahanan.

Secara tak sadar kedua kaki Yoongi terbuka, membuat celah yang di manfaatkan oleh Jimin untuk menyelipkan sebelah lututnya. Saat merasakan Yoongi telah mengikuti posisi yang Jimin tujukan, Jimin menurunkan tangannya, melewati leher dan deretan kancing di depan kemeja Yoongi dan berhenti di pinggang rampingnya.

Jimin menyadari bahwa badan Yoongi melemas, maka dari itu Jimin menghentikan gerakan lidahnya, sedikit menarik jarak namun kedua bibir mereka masih bersentuhan dengan napas yang saling berkejaran. Jimin mendapati bahwa Yoongi tengah memandanginya dengan tatapan sayu, dengan kedua pipi yang di hiasi semburat merah dan bibir yang juga memerah nan basah. Melihat keadaan Yoongi yang begitu menggoda, Jimin kembali mendekatkan wajahnya, menjilat dan menarik kedua belah bibir Yoongi secara bergantian. Setelahnya Jimin memindahkan bibirnya melewati pipi Yoongi dan terus hingga sampai pada belakang telinga Yoongi, menjilati kulit sensitif tersebut dalam gerakkan yang lambat dan membuat napas Yoongi tersendat, terutama saat Jimin mulai menggigiti daun telinganya. Hal tersebut membuat tubuh Yoongi semakin terasa terbakar dan pusat panas itu berada di tengah tubuhnya.

Mencoba melawan Jimin, Yoongi mencari-cari kembali bibir panas dan lidah lembut yang telah menggodanya dalam kefrustasian. Memberikan apa yang diinginkan Yoongi, Jimin kembali memagutnya dalam kelembutan, dan suasana intim semakin menyelimuti mereka berdua. Yoongi melingkarkan tangannya yang bebas di sekitar leher Jimin yang kokoh, untuk menjaganya agar tidak terjatuh. Sedangkan tangannya yang masih terikat oleh pita putih, kini tengah Jimin tekan di atas kepalanya. Jari mereka saling bertautan, dan nadi mereka berdenyut saling berkejaran.

Satu lagi ciuman dalam mereka ciptakan, entah bagaimana terasa liar dan menenangkan dalam waktu bersamaan. Jimin mencicipi rasa Yoongi, menjilatinya sampai ke titik terdalam. Yoongi rasa, kenikmatan ini akan mengambil kesadarannya. Pantas saja, pikir Yoongi. Begitu banyak perempuan yang rela menggadaikan harga diri mereka hanya untuk bersama Jimin, walaupun hanya untuk semalam. Pantas.

Setelah beberapa waktu terlewat, Jimin menarik kepalanya menjauh. Yoongi sedikit terkejut dirinya masih bisa berdiri, dia pikir dia sudah menjadi genangan di bawah kakinya. Jimin bernapas sama cepatnya seperti Yoongi, dadanya naik turun dengan keras. Mereka berdiri dalam diam saat Jimin menarik dan membuka pita pengikat mereka, tatapannya terfokus pada apa yang tengah ia kerjakan. Tangan Jimin bergetar, dan dia tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri untuk melihat Yoongi. Dia tidak membiarkan dirinya untuk bisa melihat ekspresi di wajah Yoongi atau Yoongi yang melihat ekspresinya.

Setelah pita putih itu terlepas, akhirnya Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi, menunggu Yoongi untuk menentangnya lagi. Tapi Yoongi malah mengatupkan mulutnya dan menarik tangannya yang masih menggantung di leher Jimin. Setelah euphoria dan keintiman mereka berkurang, Yoongi merasa kelelahan kembali mendatanginya dengan intensitas yang lebih besar, terasa seperti seluruh tenaganya telah terkuras habis. Melihat cara berdiri Yoongi agak goyah, Jimin kembali membelitkan sebelah tangannya di pinggang Yoongi dan menariknya untuk kembali berjalan ke dalam hotel.

Saat mereka masuk sang receptionist melihat mereka dengan pandangan bahagia.

"Selamat untuk kalian berdua. Lalu apakah kalian membutuhkan sesuatu? Makan malam mungkin?"

"Terimakasih. Tidak, kami ingin istirahat. Tapi kami ingin sarapan besar untuk besok pagi." Jimin menjawab masih dengan suara seraknya.

"Tentu. Baiklah, selamat beristirahat." Receptionist tersebut kembali memberikan senyumannya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka saat di dalam lift. Tak ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan. Mungkin karena kelelahan yang baru terasa sekarang. Saat Yoongi akan menarik panel pintu, Jimin menghentikannya.

"Sebentar…"

"Kenapa? Aku sangat lelah kita bisa bicara lagi nanti." Yoongi menjawab pelan. Kalau Jimin ingin membicarakan masalah ciuman mereka tadi, sungguh, itu hanya buang-buang waktu. Begitu pikir Yoongi.

Jimin tidak menjawab, namun kini dia tengah mengangkat Yoongi dengan sebelah tangan di punggung dan belakang lututnya. Bridal style.

"A-a-apa yang kau lakukan?" Yoongi yang kaget langsung melingkarkan tangannya di sekitar pundak Jimin.

"Mengingat kau adalah seorang yang kolot dan percaya takhayul. Sebaiknya kita melakukan tradisi terakhir." Jimin mendorong pintu dengan Yoongi tengah bertengger nyaman dalam gendongannya. "Akan sial jika sang pengantin terjatuh di depan pintu kamar pengantinnya. Mengingat kau sudah tidak bisa berjalan dengan benar."

"Terimakasih."

"Biayanya $100." Jimin mencoba melucu, mengingatkan mereka atas semua biaya yang di ucapkan oleh sang pendeta tadi. Mendengar itu, Yoongi tersenyum.

Jimin menurunkan Yoongi di tengah ruangan. Yoongi berdiri dengan menumpukan kedua tangannya di pundak Jimin. Agar tidak memandangi Jimin, Yoongi mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, ranjang besar di sampingnya benar-benar menggoda. Membuat kelelahan Yoongi semakin terasa dan ingin segera berbaring di atasnya.

Namun pemandangan ranjang besar itu juga memunculkan sebuah pemikiran yang membuat Yoongi gugup mendekati rasa takut. "A-apakah kita akan…?"

Mendengar suara gugup Yoongi, Jimin memandangnya. "Apakah kita akan…?" lalu mengikuti arah pandang Yoongi, "Oh Tuhan, tidak." Jimin berkata cepat, mengerti apa yang hendak di tanyakan oleh Yoongi. "Walaupun sekarang kau begitu menggoda, sayang. Tapi aku begitu lelah. Ini pertama kalinya dalam hidupku. Saat ini aku lebih memilih tidur daripada bersenggama."

Mendengar itu, Yoongi merasa lega. Yoongi membungkukkan badannya, mencoba melepas sepatunya saat ia berbisik. "Aku tak suka kata-kata itu."

Melihat Yoongi agak kesusahan, Jimin berjongkok di depan Yoongi dan membantunya melepaskan sepatu. "Apa? Bersenggama? Kau harus mulai membiasakannya, manis. Kata-kata semacam itu akan sering kau dengar saat di club ayahmu nanti. Hanya Tuhan yang tau bagaimana bisa selama ini kau tidak pernah mendengar kata itu dan sejenisnya."

"Aku mendengarnya. Hanya saja aku tidak tau artinya selama ini." Jawaban Yoongi membuat Jimin tergelak. Sungguh, seberapa polos pasangannya ini.

Setelah selesai melepaskan kedua sepatu Yoongi, Jimin kembali berdiri dan mulai membuka satu persatu kancing kemeja Yoongi. "Biarkan aku membantumu." Bisiknya saat melihat Yoongi akan membantah. Setelahnya berlanjut pada celana Yoongi. "Angkat kakimu." Dengan berpegangan pada pundak Jimin, Yoongi menurut dan mengeluarkan kakinya dari dalam celana satu persatu.

Kini Jimin menarik Yoongi kearah kamar mandi, mengatur temperature air shower lalu menempatkan Yoongi di bawahnya. "Mandilah, manis. Malam ini kau bebas dariku. Aku mungkin memandangimu, namun aku tidak akan menyentuhmu. Mandilah."

Yoongi tidak pernah telanjang di depan orang lain sebelumnya, karena itu sekarang rona merah mulai merambati di sekujur tubuh pucatnya. Dalam diam Yoongi mulai membasuh badannya, dia tidak tau apakah Jimin masih di kamar mandi atau telah keluar, Yoongi hanya ingin menyelesaikan mandinya dengan cepat. Otot-ototnya mengendur di bawah siraman air hangat dan Yoongi mengerang dalam kenyamanannya.

Setelah menyabuni dan mencuci rambutnya dengan cepat, Yoongi mematikan shower. Saat hendak berbalik, sebuah handuk telah menutupi kepalanya, sedang badannya telah di bungkus oleh bathrobe putih besar dan hangat. Dalam diam, Jimin membantu Yoongi mengeringkan badan dan rambutnya, setelah di rasa cukup, Jimin menarik Yoongi keluar dan mendudukannya di tepi tempat tidur.

"Tidurlah." Jimin berbisik pelan saat dia lihat Yoongi sudah menyamankan diri di dalam selimut. Yoongi masih mencoba membuka matanya, namun rasa kantuk semakin menariknya ke dalam batas kesadaran. Yang terakhir Yoongi ingat sebelum terlelap adalah, tubuh telanjang Jimin yang berjalan kedalam kamar mandi.

~][~

Yoongi tidak bermimpi dalam tidurnya. Tidak ada apapun, hanya ada kelembutan, kehangatan dan kenyamanan dari tempat tidur di tengah malam musim gugur di sebuah Negara Eropa. Dengan enggan Yoongi membuka matanya, ruangan itu gelap dan sunyi, hujan telah berhenti hanya ada suara kendaraan di luar sana sesekali. Di luar juga masih gelap, belum ada cahaya yang menembus jendela. Lalu Yoongi menolehkan kepalanya kesamping dan dia terkejut. Ada seonggok tubuh yang kini tengah tidur di sisi ranjangnya yang lain.

Itu Jimin. Suaminya. Yoongi baru mengingat apa yang membuatnya terdampar di sini. Kini dia telah menikah. Badan Jimin telanjang, setidaknya bagian atasnya yang tak tertutupi selimut. Jimin tidur dengan posisi tertelungkup, dengan sebelah tangan yang mengapit sebuah bantal di bawah kepalanya. Pemandangan punggung dan bahunya yang lebar tersaji di depan Yoongi. Ekspresinya ketika tidur begitu lembut, begitu manusiawi, jauh berbeda dengan saat dia tengah membuka kedua matanya yang penuh dengan intimidasi dan terkesan tak nyata dengan ketampanannya.

Suara napas Jimin yang teratur membuat kelopak mata Yoongi kembali berat. Yoongi menutup kembali kedua matanya dengan mengingat bahwa sekarang dia telah menikah dan akan segera bertemu ayahnya, dan dia akan segera bebas karena tentu saja Jimin tidak akan peduli dengan apa yang akan ia kerjakan dan akan pergi kemana ia. Berkurangnya rasa khawatir dalam diri Yoongi kembali membawanya ke dalam tidur yang dalam sekali lagi.

Kali ini Yoongi bermimpi. Dia mendengar suara air, lalu dia melihat sebuah sungai kecil yang mengalirkan airnya ke sebuah danau. Yoongi berdiri di samping danau dengan cahaya matahari yang mengintip malu di sela-sela pepohonan yang mengelilinginya. Yoongi ingat, ini adalah tempat yang pernah didatanginya bersama Jin, Jungkook, dan juga Jeonghan. Namun Yoongi lupa tempat apa namanya. Ini adalah satu-satunya tempat yang pernah di datangi Yoongi yang bisa di sebut sebagai tempat berlibur, karena sebelumnya Yoongi tak pernah pergi kemanapun.

Mengingat sekilas apa yang pernah dikatakan oleh Jeonghan tentang tempat ini. Katanya danau ini di tunggui oleh seorang iblis penggoda yang akan menarik dan membawa orang-orang yang berani mendekati danau sampai ke dasar. Begitu yang di ceritakan oleh penduduk di sekitar. Namun, dalam mimpinya Yoongi tak merasakan takut dan dia melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan danau.

Saat Yoongi menghentikan langkahnya, Yoongi memandangi air danau yang jernih dengan air yang berwarna kehijauan. Kejernihan airnya menggoda Yoongi untuk memasukkan kakinya ke dalam air. Saat pertama kulit kakinya menyentuh air dingin, Yoongi terkejut, namun setelahnya ada kenyamanan. Yoongi mendudukkan dirinya di sisi danau dan membuat kakinya yang di balut celana pendek sebatas paha memasuki air lebih dalam sampai air tersebut menyentuh perbatasan lututnya.

Yoongi tengah memejamkan matanya menikmati dinginnya air di kakinya dan hangatnya matahari yang menyentuh kulit wajahnya. Yoongi tidak takut walaupun ia merasakan ada sesuatu yang bergerak dan mengusap kakinya. Lagi, sampai beberapa kali. Lalu sebuah tangan menggenggam pergelangan kakinya, bergerak lembut dan sedikit memijatnya. Yoongi melenguh pelan dalam kenyamanan karena itu. Tangan dengan jari-jari panjang itu bergerak semakin ke atas melewati betis dan lutut Yoongi. Lalu sesosok tubuh muncul dari kedalaman air.

Sosok itu masih menyentuh dan mengusapnya sampai ke paha lalu menyelimuti pinggang Yoongi dengan lengan-lengan panjangnya. Yoongi merasa aneh namun nyaman maka dari itu Yoongi masih menutup matanya, sedang tangannya kini tengah balik menyentuh punggung sosok di hadapannya. Yoongi takut jika dia membuka matanya sosok itu akan lenyap. Sosok itu terasa hangat dan kulitnya begitu halus dan juga berotot di bawah jari-jarinya.

Kekasih dalam mimpinya membisikkan kata sayang dengan tangan yang masih memeluknya. Sedangkan mulutnya tengah bermain di leher bagian depannya. Di manapun dia menyentuh, Yoongi merasakan sengat panas di sekujur tubuhnya.

"Haruskah aku membawamu?" Suara halus itu bebisik. Sedangkan jari-jarinya kini tengah melepaskan pakaian Yoongi satu persatu, membawa kulit pucatnya ke bawah hangatnya sinar matahari. "SStt... Jangan takut, sayang… Jangan..."

Dan dengan matanya yang masih tertutup, Yoongi merasakan sosok itu kembali menciumi lehernya lalu turun ke dadanya. Menjilati bulatan kecil di dadanya dengan lidahnya yang terasa panas. Jari-jari tangannya mengelus sisi depan tubuh Yoongi, melewati dada lalu berhenti di pinggang dan kembali ke dada yoongi. Sedangkan bibirnya masih menciumi puting kecil Yoongi secara bergantian, dan menggerakkan lidahnya dengan pelan.

Gerakan tersebut terus berlanjut sampai dengan sosok itu menggesekkan giginya ke bagian tubuh Yoongi yang sensitive tersebut. Aksi itu membuat lenguhan keluar melewati sela-sela bibir Yoongi, dan Yoongi merasakan pusat tubuhnya kini menegang dan menyiksa. Yoongi menggerakkan kedua kakinya dengan gelisah, membuat kulitnya dan kulit sosok di hadapannya saling bergesekkan. Napas Yoongi mulai tak teratur, sedang desahannya masih berlanjut seiring dengan gerakkan bibir lawannya. Lalu sosok tersebut menggerakkan sebelah tangannya lebih ke bawah dan ke bawah, mangusap paha bagian dalam Yoongi dengan gerakan selembut beledu. Dan saat sosok tersebut menggenggam pusat tubuhnya…

Yoongi membuka matanya dengan nyalang, napasnya masih terputus-putus. Yoongi bangun dalam keadaan bingung dan gairah yang masih menyelimutinya. Saat mimpinya mulai luntur, Yoongi sadar bahwa sekarang dirinya tidak berada di tepi danau namun di sebuah hotel di Belanda, sedangkan suara air mengalir itu berasal dari suara hujan yang kembali turun di luar sana. Tidak ada cahaya matahari, yang ada hanya lampu tidur yang menyala di sebelah ranjangnya. Dan tubuh yang mengukungnya bukanlah sosok penunggu danau, tapi sosok nyata dan hangat. Kepalanya sekarang tengah berada di atas perut Yoongi, bibirnya bergerak dalam gerakan yang terkesan malas. Yoongi menegang dan merintih dalam keterkejutan saat menyadari bahwa dia kini telah telanjang, dan Jimin telah menikmati tubuhnya dalam beberapa menit terakhir.

Jimin mengangkat kepalanya, memandangnya dalam tatapan yang dalam. Matanya terlihat bercahaya dan lebih hangat dari biasanya. Sudut bibirnya terangkat dan tersenyum.

Jimin berbisik dengan suara seraknya. "Kau begitu sulit untuk di bangunkan."

~][~

TBC

Ini gak di sengaja stop di sini, abis kalau di lanjut kepanjangan hehe :D

Review, please? ^o^

Semakin lambat alurnya, tapi saya gak bisa berbuat apa-apa _ _|||) I'm sorry

Balasan Review:

minyoonlovers NC? Ada gak yaaa hahaha Han Gu datangnya nanti, entah kapan :D terimakasih yaa, keep watching, jangan bosen :)

ravoletta Terimakasih :) itu indah? Gak ada romantis2nya si Jimun mah hehe terimakasih udah baca+review, keep watching ya :)

she3nn0 bakal gimana yaaa, saya juga gak tau hehe :) terimakasih ya, jangan bosen buat baca+review :)

CandytoPuppy Yeaah, akhirnya :D

gita9393 Terimakasih, keep watching yaa :)

Guest Terimakasih :)

qwertyxing Di usahain yaa, terimakasih :) Ayoo, mari kita lindungin Yoongi w

LittleDevil94 Hahaha cintaku juga di tolak sama Yoongi T^T Terimakasih yaa, untuk update, saya usahain sesuai kemampuan saya hehe :) Jangan bosen yaa :)

jim8nyoungi8895 ini udah lanjut, terimakasih :)

07 Iya, susah.. dan butuh waktu yang tidak sebentar hehe :) thanks, keep watching yaa, jangan bosen hehe :)

FuckMeYoongi Komennya panjaaaang, saya bingung balesnya hehe tapi sumpah saya ngakak pas bacanya, seneng, terimakasih yaaa :) Jangan bosen ya, di tunggu kritik dan sarannya juga :) Saya update semampunya saya hehe Terimakasih :)

Tikha Semuel RyeoLhyun Terimakasih :)

anunyajimin Mulai suka gak yaaa? Hehe Terimakasih, keep watching ya, jangan bosen :)

praxion Udah yaa :) Terimakasih, jangan bosen yaa

sueweetiesuga Terimakasih :) untuk update, semuanya semampu saya hehe

Hanami96 Enggak juga, saya stop saat saya rasa udah kepanjangan aja hehe :) puyeng, mabok kenapa? OoO untuk perkembangan rasa Jimin ke Yoongi hmm, kita lihat saja ya hehe Ini udah di update semampu saya :) Terimakasih yaa, jangan bosen :)

haneunseok Masih dalam proses, di tunggu aja kelanjutnannya, terimakasih :)

Terimakasih semuanya, jangan bosen yaaa, kritik dan sarannya di tunggu :)