Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas

This story belongs to sureaLive

Cast:

Jimin from BTS

Yoongi from BTS

Jin from BTS (Mentioned)

Namjoon from BTS (Mentioned)

Jungkook from BTS (Mentioned)

Taehyung from BTS (Mentioned)

Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)

OC

And other(s)

Rated:

M (For Theme and Language and Sex Scene)

Length:

Chaptered

Warning:

BoysLove, OOC, Typo(s)

Boring and Long

Slow Plot

Disclaimer:

They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^

Summary:

Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.

~][~

Dengan napas yang terputus-putus, Yoongi memandangi Jimin yang kini tepat berada di atasnya. Pandangan mereka saling mengunci dan napas mereka saling beradu. Yoongi tidak pernah tau bahwa sebuah bisikan dapat begitu mempengaruhi tubuhnya. Ya, bisikan iblis penggoda yang kini nyata di hadapannya.

Jimin sendiri, dia kini sedang menikmati pemandangan erotis tepat di bawahnya. Napas Yoongi yang membelai wajahnya begitu memabukan di tambah rona merah yang menghiasi tiap inci kulit pucatnya membuat hasrat Jimin kian berdesir. Yoongi begitu indah.

Yoongi mencoba mengalihkan pandangannya, namun arah matanya tertuju pada hal yang salah, karena kini matanya mendapati bahwa tubuh Jimin telah sama polosnya dengan dirinya. Namun Yoongi tak bisa mengalihkan kembali tatapannya, terpaku pada bentuk tubuh Jimin yang begitu sempurna. Yoongi menyadari bahwa tubuh Jimin memang lebih besar darinya dan berotot di beberapa bagian. Sangat berbeda dengan tubuhnya yang lebih kecil dan tak ada otot yang membentuk tubuhnya.

Jimin kembali menundukkan wajahnya, menyusuri dagu hingga dada Yoongi dengan bibir dan lidahnya. Jimin begitu memuja kulit putih Yoongi yang kini di hiasi oleh bercak merah yang Jimin ciptakan. Saat Jimin menurunkan ciumannya dan menjilati sekitar pusar Yoongi, Yoongi mengangkat kepalanya.

"Tetaplah berbaring. kau tidak perlu melakukan apa-apa, sayang. Biarkan aku memujamu…" Jimin mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi, sedangkan tangannya kembali mendorong Yoongi agar kembali berbaring, namun tindakannya itu terhenti saat ia merasakan jari-jari halus Yoongi yang kini tengah menyusuri dadanya. "Yaah… kau bisa menyentuhku… yaahh sayang…"

Gerakan Yoongi terkesan ragu dan malu-malu, namun entah mengapa Jimin begitu menikmatinya dan hasratnya terpancing begitu cepat. Sebenarnya saat ia terbangun sekitar 30 menit yang lalu, Jimin hanya berniat iseng, namun tak disangka keisengannya malah menenggelamkannya dalam pusaran gairah.

"Kalau kau terus menyentuhku, aku yakin semuanya akan berakhir dengan cepat, karena aku sudah tidak bisa menahannya lagi, jadi biarkan aku kembali mengambil alih, manis…" Setelah menjauhkan jari-jari Yoongi dari kulitnya, Jimin membawa jari itu ke bibirnya, mencium dan menjilati setiap ruasnya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Yoongi.

"A-apah yang eummhh…" Kata-kata Yoongi terputus oleh lidah Jimin yang kini kembali menerobos pertahanan mulutnya, menggigit dan menarik lidahnya dalam kelembutan yang menyesatkan. Tanpa sadar, Yoongi menempatkan kedua tangannya pada rambut Jimin yang terasa lembut dan basah di sela-sela jarinya.

Saat mulutnya disibukkan oleh pertarungan dengan mulut Yoongi, Jimin menuntun sebelah tangannya menyusuri bagian samping tubuh Yoongi, di mulai dari pundak terus turun hingga sebelah paha Yoongi. Menggerakkan jari-jarinya dengan pelan menikmati tekstur halus dari kulit Yoongi yang belum terjamah. Jimin tau dan dia sangat yakin, bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi Yoongi, maka dari itu dia harus melakukannya selembut dan sehalus mungkin, Jimin akan mengenalkan Yoongi pada kenikmatan tertinggi.

Merasakan jari-jari Jimin yang terus bergerak ke bawah, Yoongi menurunkan sebelah tangannya untuk menutupi pusat tubuhnya yang sejak tadi telah terbuka.

"Seharusnya kau tidak melakukan itu, sayang. Saat kau menyembunyikan sesuatu dariku, maka aku akan semakin menginginkannya… Jadi, sebaiknya kau melepaskan tanganmu, sebelum aku melakukan hal-hal yang kasar…" Mendengar kata-kata penuh ancaman dari Jimin, akhirnya Yoongi menyingkirkan tangannya dari pusat tubuhnya.

"Bagus… Menurutlah pada suamimu, manis." Dengan itu, Jimin langsung menurunkan kepalanya, melewati dada dan perut Yoongi dan langsung berhadapan dengan pusat tubuh Yoongi yang sudah menegang. "Sudah menegang seperti yang seharusnya…"

"A-aanghhh…" Yoongi melenguh keras saat Jimin memasukkan pusat tubuhnya pada mulutnya yang hangat tanpa peringatan. Menggerakan lidahnya menyusuri bagian tubuh Yoongi yang terasa semakin menegang.

Jimin begitu memanjakan telinganya dengan suara yang Yoongi dendangkan atas perbuatannya, suara erangan Yoongi membuat hasratnya kian meninggi.

Mengalihkan mulutnya, kini Jimin menciumi paha bagian dalam Yoongi, menjilat dan menggigit meninggalkan jejak basah berwarna merah di kedua bagian paha Yoongi yang tadinya mulus tak bernoda.

Setelah puas atas tanda yang dia tinggalkan, Jimin kembali memfokuskan pada pusat tubuh Yoongi. Saatnya berhenti bermain-main, begitu pikirnya. Respon yang Jimin terima saat ia mulai menggerakkan mulut dan menjilati kedua buah zakar Yoongi adalah dengan mengetatnya cengkraman kaki Yoongi yang kini melingkar di sekitar pundaknya.

Mencoba untuk sedikit menenangkan, Jimin memberikan usapan halus di pinggul Yoongi, sedangkan dia sendiri tak mengurangi gerakan memaju mundurkan kepalanya dan mengecap rasa dari cairan yang mulai merembas dari kejantanan Yoongi dengan lidahnya.

Yoongi sendiri tak lagi bisa mengontrol suaranya. Apa yang Jimin lakukan pada kejantanannya membuat kepalanya semakin pening. Yoongi tidak bodoh. Dia tau apa yang sedang Jimin lakukan, tapi dia tidak tau bahwa rasanya akan seperti ini. Seperti kesadaranmu di tarik sedikit demi sedikit dari kepalamu.

Yoongi lelaki dewasa. Tentu dia tau apa itu hasrat, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyalurkannya. Bahkan dengan tangannya sendiripun dia tidak pernah. Dia sering mendengar cerita-cerita erotis yang sering di bagi oleh Jeonghan, di tambah setelah Jin menikah, dia kadang suka berbagi ceritanya juga. Kadang, saat mendengar cerita mereka hasrat Yoongi terpancing, namun pada akhirnya, dia hanya akan mendiamkannya, dan meninggalkan hasratnya agar menghilang dengan sendirinya.

"Aa-aakhh…" Yoongi kembali mengerang, gesekan gigi Jimin pada batang kejantanannya menarik kembali fokusnya. Menuntutnya agar meresapi hasrat yang selama ini ia abaikan.

Gerakan mulut Jimin semakin cepat. Sesekali di gantikan oleh jari-jarinya saat mulut Jimin ingin meninggalkan noda merah lain pada bagian kulit Yoongi yang ia pikir telah terlewat. Sungguh, kulit putih Yoongi membuat Jimin ingin meninggalkan jejak mulutnya dimana-mana.

Cengkraman jari-jari Yoongi pada rambutnya, membuat Jimin semakin fokus untuk membawa Yoongi pada puncak klimaksnya. Batang kejantanan Yoongi terasa halus dan panas di lidahnya, dan juga semakin keras membuat Jimin semakin berhasrat untuk menjilat dan menghisapnya kuat, yang di hadiahi erangan Yoongi di sela napasnya yang terdengar semakin terengah.

"Ji-Jimhhh…" Dan desah suara Yoongi menyebutkan sepenggal namanya adalah tanda bahwa Jimin telah membawa Yoongi pada pencapaian klimaks pertama dalam hidupnya.

Dengan santai Jimin meneguk dan menjilat habis semua cairan yang di hasilkan oleh kejantanan Yoongi, bahkan cairan yang tersisa di jarinya pun tak terlewatkan. Sambil masih menjilati jarinya, Jimin memandangi Yoongi yang tengah mengatur napasnya. Dada yang tak lagi putih mulus itu terlihat naik turun saat mengisi paru-parunya dengan oksigen. Sedang matanya tengah terpejam, meresapi sisa-sisa kenikmatan yang Jimin berikan.

"Kau tak boleh menggigitinya, itu adalah tugasku…" Jimin menarik bibir Yoongi yang tengah ia gigiti sendiri dengan giginya. Tanpa memberi jeda, di lesakkannya lidahnya ke dalam celah bibir Yoongi yang mulai membengkak, membagi sisa rasa Yoongi pada pemiliknya.

Yoongi sendiri agak mengernyit saat di rasakannya rasa asing di mulutnya, namun Jimin tak membiarkannya bertanya. Karena, saat lidah Jimin mendominasi mulutnya, Yoongi merasakan benda asing yang menerobos masuk ke dalam lubang analnya.

Dengan gerakan pelan, benda itu bergerak keluar masuk dalam tempo pelan, selang semenit kemudian, benda asing itu bertambah, bergerak meregangkan lubang sempit Yoongi. Dari situ Yoongi sadar bahwa benda asing itu adalah jari-jari Jimin.

Mencoba menerima kehadiran jari Jimin di dalam analnya, Yoongi mulai belajar untuk membalas ciuman yang Jimin berikan, pertama dengan mengikuti gerakan mulut dan lidah Jimin. Saat Jimin mengemut bibir atasnya, maka Yoongi akan mengemut bibir bawah Jimin. Dan saat Jimin menggerakan lidahnya ke seluruh sudut mulut Yoongi, maka Yoongi akan ikut menggerakan lidahnya untuk bertemu lidah Jimin. Sampai kemudian Jimin menarik lidah Yoongi ke dalam mulutnya sendiri dan Jimin menggeram saat lidah hangat Yoongi menyentuh sudut-sudut mulutnya.

Geraman Jimin di balas oleh erangan Yoongi saat di rasakannya jari-jari Jimin melesak semakin ke dalam sampai jari itu menyentuh satu titik yang membuat pandangan Yoongi sedikit memburam karena kenikmatan.

"Ahh… I got you, sugar…" Yoongi memandangi Jimin dengan sayu, memperhatikan rambut Jimin yang setengah basah oleh keringat, seperti rambutnya. Dan entah mengapa, Yoongi merasa bahwa pandangan Jimin saat memandang balik dirinya terasa berbeda. Mengalihkan tatapannya, Jimin menciumi seluruh wajah Yoongi, di mulai dari pelipisnya yang basah oleh keringat dan Jimin menjilatnya tanpa merasa jijik sedikitpun, lalu menciumi pertengahan diantara kedua mata Yoongi sampai ke hidung mungilnya, dan berakhir dengan menjilati rahang sampai ke telinga kiri Yoongi, menikmati desah napas Yoongi yang mulai tak teratur kembali.

"I want to go deep into your body… I'll be so gentle, love… This is going hurt… But, hold it okay? Just relax… God, you're so lovely…" Bisik Jimin dengan suara paraunya. Sungguh, Jimin sangat berusaha keras untuk mengontrol gairahnya. Selama ini Jimin selalu berurusan dengan pasangan yang berpengalaman, maka dari itu Jimin tak perlu berhati-hati. Namun, ini Yoongi, seorang yang polos yang tak pernah mengenal namanya having sex, bahkan yang mengambil first kiss nya adalah Jimin. Jimin tau bibir tak berpengalaman itu.

Masih menciumi titik sensitive Yoongi di telinganya sampai ke denyut nadi di leher samping Yoongi, Jimin melepaskan kedua jarinya dari lubang Yoongi, lalu membawa tangannya tersebut ke kejantanannya yang sudah mengeras dari waktu yang cukup lama, sampai terasa menyakitkan. Sedikit memijatnya untuk memaksimalkan ukurannya, sampai keluar sedikit cairan pre-cum di ujungnya, Jimin membawa kejantanannya ke lubang anal Yoongi. Pada awalnya Jimin hanya menggesekkannya, lalu setelah beberapa lama mulai mendorongnya sedikit demi sedikit.

Jimin tak melepaskan pandangannya dari wajah Yoongi saat ia melakukan penetrasi tersebut. Merekan semua ekspresi yang muncul di wajah Yoongi yang memerah. Saat kejantanannya semakin masuk, Yoongi mulai mengeluarkan suara napas tertahan.

"It's hu-hurt…" Bisik Yoongi. Lalu menggigit kembali bibirnya yang membengkak, untuk menahan erang kesakitan yang hendak keluar. Sedangkan kedua tangannya menggenggam lengan Jimin yang berada di sisi kiri-kanan tubuhnya sebagai penopang.

Jimin menghentikan penetrasinya. Sungguh, Jimin ingin segera melesakkan kejantanannya dengan keras, namun saat melihat raut wajah Yoongi, Jimin menahannya.

"It's okay… just relax, you'll be fine…" Jimin kembali menarik bibir Yoongi yang tengah di gigitinya, lalu melanjutkan penetrasinya yang sempat terhenti. Dan juga memindahkan pegangan Yoongi pada kedua pundaknya. Dengan geraman tertahan, Jimin mendorong kejantanannya dengan sedikit keras, dan menghasilkan gigitan di bibirnya oleh Yoongi.

Jimin bisa merasakan rasa karat dari luka di bibirnya. Namun entah kenapa, itu malah membangkitkan gairahnya pada titik tertinggi. Sedikit memberi lumatan pada bibir Yoongi lalu Jimin melepaskan pagutan bibir mereka.

Memandangi Yoongi yang setengah terpejam, Jimin mulai menggerakan kejantanannya. Pelan pada awalnya, namun saat mendengar erangan Yoongi, gairah Jimin semakin tersulut. Dengan menahan pinggul menggiurkan Yoongi, Jimin mempercepat gerakan pinggulnya, melesakan kejantanannya sampai menyentuh titik terdalam pada tubuh Yoongi.

Yoongi merasakan itu lagi, pandangannya sedikit memburam dalam kenikmatan saat Jimin menyentuh titik sensitifnya. Yoongi tak pernah tau ini, Jin tak pernah menceritakan sensasi membutakan yang bisa kita rasakan saat kita bercinta. Cinta? Bisakan Yoongi menyebut ini bercinta?

Di tengah erangan Yoongi dengan suara seraknya, Jimin kembali memberi lumatan pada bibirnya yang terbuka. Menelan habis air liur yang meleleh di sudut bibir Yoongi yang membengkak. Manik caramel Yoongi membuka, bertubrukan dengan manik hitam kelam Jimin yang semakin kelam karena hasratnya yang tak terbendung. Saling membaca gairah yang menyelimuti mereka berdua.

Masih saling mengunci pandangan, Jimin merasakan rectum Yoongi mengetat, menandakan bahwa dia sudah hampir sampai pada pelepasan selanjutnya. Oleh karena itu Jimin menuntun sebelah tangannya menuju kejantanan Yoongi memijatnya seirama dengan sentakan pinggulnya. Sedangkan tangan yang satunya, ia jadikan penopang tubuhnya di samping kepala Yoongi.

Dan saat itu pun Jimin merasakan bahwa kejantanannya semakin mengeras dan terasa mengencang, dan dalam tiga hentakan selanjutnya, mereka telah sampai pada pelepasan secara bersamaan.

Dengan posisi Yoongi masih melilitkan kedua tangannya pada pundak Jimin, dan juga Jimin melumat bibir Yoongi di detik-detik terakhir pencapaian klimaksnya. Menelan segala erangan yang keluar dari bibir Yoongi maupun dari bibirnya sendiri.

Melepaskan bibir Yoongi, Jimin memandangi Yoongi seolah Yoongi adalah makhluk yang tidak pernah dia temui sebelumnya.

"Oh Tuhan…"

~][~

Jimin meninggalkan tempat tidur setelah memandangi Yoongi yang sudah mulai terlelap kembali dalam waktu cukup lama. Jimin menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin di dalam kamar mandi. Jimin marasa linglung dan bimbang, terlihat seperti dirinyalah yang telah kehilangan keperjakaan alih-alih Yoongi.

Jimin sering berpikir bahwa tidak akan ada hal yang baru dalam kehidupan sex nya, namun ternyata dia salah. Untuk seorang lelaki yang sudah memiliki banyak pengalaman dan teknik dalam having sex, Jimin merasa shock menemukan bahwa gairahnya bisa terpancing sebegitu dahsyatnya.

Jimin membasuh mukanya sendiri dengan air dingin, sambil menunggu napasnya kembali normal dari gairah yang mengukungnya. Mengingat apa yang telah terjadi, seharusnya gairahnya telah terpuaskan setelah bercinta lebih dari 3 jam lamanya. Namun ternyata itu tidak cukup. Dia membutuhkan Yoongi, lagi. Memaasukinya, dan menyentuh bagian terdalam dari tubuhnya. Ini gila. Kenapa dia? Kenapa Yoongi?

Yoongi memiliki kulit terputih dari semua yang pernah tidur dengan Jimin. Terhalus, dengan semua rona yang muncul saat gairah memenuhinya. Rambutnya, hitam bak jelaga, begitu kontras di banding kulitnya yang mendekati pucat. Suaranya, suara desahannya, Jimin bisa langsung menegang hanya dengan mendengar itu. Ya, semua itu adalah hal menarik yang dimiliki oleh Yoongi. Tapi, itu bukanlah hal yang luar biasa yang dapat di jadikan acuan kenapa Yoongi bisa begitu berpengaruh padanya.

Merasa tidak menemukan jawaban dari segala pertanyaanya, kali ini Jimin membasuh seluruh badannya dengan air dingin, berharap itu bisa menyurutkan gairahnya. Saat Jimin keluar kamar mandi, Jimin kira Yoongi masih tertidur, tapi ternyata Yoongi tengah memandanginya, dalam posisi setengah berbaring.

Dengan tubuh telanjangnya, Jimin membawa handuk kecil yang telah ia basahi dengan air hangat ke arah Yoongi. Setelah duduk di sisi tempat tidur Yoongi, Jimin menarik selimut yang menutupi tubuh Yoongi tanpa memandang ke arahnya. Merasa ada yang menahannya, akhirnya Jimin melihat ke arah Yoongi, yang memang tengah menahan selimut di dadanya.

"Biarkan aku membersihkanmu." Bisiknya, lalu kembali menarik selimut, kali ini tanpa ada yang menahannya.

Dengan telaten, Jimin menyeka seluruh badan Yoongi, di mulai dari dada, pinggul, lalu ke bagian tengah badan Yoongi. Membersihkannya dari sisa-sisa percintaan mereka yang tertinggal, mulai dari keringat, sperma, sampai dengan sedikit darah di bagian anal Yoongi.

"Aku sudah memesan sarapan." Jimin berkata setelah selesai membersihkan badan Yoongi. Yoongi hanya menjawab dengan anggukan. Yoongi menunduk sembari menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Tidak perlu malu, aku sudah melihat semua bagian tubuhmu." Jimin menyeringai, mendekatkan wajahnya pada wajah Yoongi. "Kenapa tubuhmu begitu indah?"

"A-aku terlalu pucat." Yoongi menjawab sambil menggelengkan kepalanya, menyanggah kata-kata manis dari Jimin.

"Iya, aku tau. Tapi itu menambah keindahanmu." Jimin kembali berkata dengan tangannya yang menyusuri sepanjang lengan Yoongi yang tak tertutupi selimut.

"Tidak. Dari kecil aku sering di bilang penyakitan karena kulitku ini. Saat aku beranjak remaja, bibiku suka memberikanku krim-krim entah apa, katanya agar kulitku lebih merona." Yoongi kembali menundukan kepalanya, kali ini dia memperhatikan ruam-ruam merah di sepanjang lengan bagian dalamnya. Sebelumnya dia tidak menyadari bahwa Jimin meninggalkan begitu banyak tanda. Yoongi tidak tau saja bahwa di punggungnya pun penuh tanda dari Jimin.

"Tidak susah membuat kulitmu merona, aku tau cara yang lebih ampuh daripada bibimu." Dengan itu, Jimin semakin mendekatkan wajahnya, menyusuri kulit Yoongi dari belakang telinga sampai ke tulang selangka Yoongi dengan sentuhan bibirnya yang seringan bulu. "Lihat… kau merona. My sugar is on fire." Jimin terkekeh, senang akan efek yang dia timbulkan terhadap Yoongi. "Jangan pernah memakai krim-krim seperti itu lagi. Kulitmu adalah favoritku. Dengan kulit pucatmu, tanda yang aku tinggalkan akan terlihat semakin terang. Bahkan ada beberapa bagian yang sudah ku tandai sebagai tempat terbaik untuk meninggalkan jejak bibirku, kau ingin tau? Akan ku tunjukan."

Dengan itu, Jimin menarik Yoongi agar lebih mendekat. Melihat Jimin yang sepertinya tidak berniat untuk menjauhkan wajahnya, maka Yoongi pun memiringkan kepalanya, menjaga jarak sejauh yang ia bisa dari Jimin. Walaupun itu hanyalah usaha yang sia-sia. Karena dengan posisi seperti itu, Yoongi malah mempermudah Jimin.

"Di sini…" Jimin menjilati tanda kemerahan di bagian belakang leher Yoongi, memperjelas tanda yang telah ia tinggalkan beberapa waktu. Lalu turun ke pundak. Jimin sadar, dengan apa yang dilakukannya ini, dia bukan hanya memancing gairah Yoongi, namun juga gairahnya sendiri. Namun Jimin tak bisa menghentikannya.

Semakin ke bawah, Jimin menciumi sepanjang lengan sampai bagian samping tubuh Yoongi, lalu dia tiba di pinggul Yoongi yang menjadi salah satu bagian favoritnya. Dengan pelan, Jimin menciumi pinggul kiri Yoongi yang telah penuh dengan tanda merah sampai ke pinggul bagian kanan. Saat Jimin berhenti untuk menciumi perut Yoongi, sebuah suara tipis menghentikannya.

Dengan terkekeh Jimin menjauhkan wajahnya, melihat ke arah Yoongi yang tengah memerah karena malu.

"Sarapan." Jimin masih terkekeh saat dia meninggalkan ciuman kecil di perut Yoongi yang tadi menginterupsinya. "Aku tak ingin membuatmu memilih antara makan atau bercinta denganku. Karena jawabannya sudah jelas."

Lalu Jimin melangkah ke arah kopernya -sepertinya Jimin tidak merasa risih berkeliaran di sekitar Yoongi dalam keadaan telanjang- mengambil sepotong celana kain panjang berwarna hitam dan memakainya. Setelahnya Jimin mendekat ke arah pintu yang telah di ketuk tanpa memakai baju atasannya. Membuat siapa saja yang membawakan sarapan mereka terdiam beberapa saat.

~][~

"Kita akan kembali ke Seoul hari ini kan?" Yoongi bertanya tepat setelah room boy membereskan bekas sarapan mereka. Jimin yang tengah memeriksa ponselnya langsung mengalihkan perhatiannya pada Yoongi.

"Hari ini? Tidakkah kau ingin beristirahat dahulu? Jalan-jalan menikmati…"

"Aku ingin bertemu ayahku." Yoongi memotong perkataan Jimin dengan suara pelan.

"Baiklah. Aku akan memesan tiket sekarang." Setelah menarik napas untuk meredam amarahnya, Jimin mengiyakan keinginan Yoongi.

"Terimakasih. Lalu sertifikat pernikahannya?"

"Aku akan memeriksanya ke receptionist. Kau bersiap-siaplah." Jimin keluar setelah memakai pakaian lengkapnya.

Tiga jam kemudian mereka sudah duduk di bandara, penerbangan mereka masih 30 menit lagi.

"Jimin, bolehkah aku bertanya?" Yoongi memandang Jimin yang duduk di samping kirinya, sedang kedua tangan Yoongi menggenggam cup coffee yang terasa hangat di sela jari-jarinya.

"Tentu."

"Kenapa kau begitu menginginkan menikahi seorang pewaris? Kalau aku tidak salah, kau pun seorang pewaris. Ayahmu adalah salah satu pengusaha ternama di Korea." Yoongi bertanya dengan hati-hati, memilah setiap kata agar tak menyinggung Jimin.

"Ya, kau benar. Tapi itu harta ayahku, bukan milikku." Jimin mengalihkan tatapannya ke depan, memandangi orang-orang yang hilir mudik di hadapannya.

"Kau bisa mulai bekerja di sana, lagipula itu akan menjadi milikmu suatu hari nanti." Yoongi masih melihat ke arah Jimin, memperhatikan ekspresinya dari samping.

"Aku tidak tertarik. Apalagi aku bekerja dalam pengawasan ayahku. Dia akan membandingkan cara kerjaku dengannya, begitu juga dengan petinggi-petinggi lain di perusahaan. Itu bukan hidupku." Jimin sadar dia tengah di perhatikan Yoongi.

"Jadi, apakah hidupmu itu adalah dengan mengencani wanita yang berbeda setiap harinya? Apakah hidup yang kau maksud adalah kebebasan…"

"Apakah sekarang kau mulai ingin mengetahui kehidupanku?" Jimin mengalihkan tatapannya, memandang tepat menghujam ke mata caramel Yoongi.

"Bu-bukan seperti itu. Aku hanya berpikir apakah kau tidak memikirkan masa dep…"

"Berhentilah. Dan ketahuilah di mana batasmu, Min Yoongi." Dengan itu Jimin meninggalkan Yoongi dan melangkah ke bagian keberangkatan.

Dan sisa perjalanan itu hanya di hiasi oleh kediaman. Tak ada satupun diantara mereka berdua yang berniat memulai percakapan. Sangat berbeda dengan perjalanan mereka kemarin yang di isi oleh pertanyaan dan obrolan untuk menjaga keadaan agar tetap hidup.

Namun kediaman itu tak menyurutkan perhatian Jimin terhadap Yoongi, karena saat Yoongi jatuh tertidur dengan posisi kepala miring ke arah jendela, Jimin menariknya pelan dan memposisikan Yoongi dalam dekapannya.

~][~

TBC

Maafkeun ya update nya lama… ternyata bikin scene NC tuh gak segampang bayanginnya hahaha Saya harus nyari wangsit dulu, bahkan saya harus bongkar koleksi(?) film lama saya buat nyari referensi, tapi apa yang di dapat… malah saya pengen bikin remake an laiiiiin T^T saya tuh harus gimana? Ini aja masih jauuuuuuuuh dari kata selesai, malah pengen bikin yang lain huhuhu Maaf ya malah curhat…

Maaf ya kalo NC nya gak jelas dan gak nyambung, saya akan berusaha yang lebih baik di scene yang mendatang… hohoho

Di tunggu kritik dan sarannya yaaa… Terimakasih, jangan bosen buat mampir ^o^

Balasan Review:

LittleDeviL94 Seneng deh kalo gak bosan hehe warisannya dalam bentuk apa nih? :'D Terimakasih yaa, di tunggu review selanjutnya ^o^

Hanami96 Maafkeun aku stop disutu yaa hehe Alasan sebenarnya, karena saya sudah gak sanggup ngelanjutin T^T Enggak, Jimin gak brutal, di sini Jimin seorang gentleman :) terimakasih yaa, ditunggu review selanjutnya ^o^

sueweetiesuga Terimakasih :) chapter ini lama, karena saya gak sanggup ngetiknyaaa T^T

07 maaf aku gantungin yaa T^T 'itu' apa? :) #senyumpolos :'D Namamu padahal ada loh pas aku ketik, tapi pas aku post kok gak ada ya, Cuma nyisa 07 nya aja T^T

Tikha Semuel RyeoLhyun siapin kipas yaa :D yang ini cukup panas gak?

Uozumi Han Gak papa, makasih loh udah review :) #kipasin Yoongi mimpi jorok juga gara2 Jimuun :'D Maapkeun yaa aku stop hahaha

minyoonlovers perjalanan mereka masih panjaaaaaang, dan hal baik/buruk masih banyak yang menghadaaang T^T Jimin gak peduli sama orang lain, kan Yoongi bukan orang lain hehe Iya, untung udah sah yaaa :) Terimakasih yaa, jangan bosen

jim8nyoungi8895 maapkeun di stop, soalnya sayanya juga gak sanggup buat lanjut, butuh mental yang kuat T^T

qui23 Terimakasih, saya usahain terus lanjut, mohon doanya aja ya semoga gak ada halangan :)

ugotnochim Terimakasih :) Jangan bosen yaa :)

dhankim Terimakasih ya udah review hehe soal saran, kamu bisa minta saran sama author2 lain yang lebih berpengalaman, saya juga baru belajar nulis ^-^ saya memang bukan orang baru dalam fanfiction, tapi selama ini saya hanya jadi penikmat dan pengamat (baca : sider) #peace hehe Cuma satu yang bisa saya kasih tau, tetaplah berimajinasi hehe ^o^

CandytoPuppy Hehe ikut-ikut, di tending Jimin ntar, kita ngintipin aja tugasnya :'D

holly Terimakasih hehe :) Mr. Grey mah terlalu kejam buat Yoongi yang polos haha Jangan di bawa, ntar mereka gak bisa naena dong kalo di bawa hehehe

haneunseok Keep watching yaa, terimakasih :)

princexod Maapkeu ya saya stop, saya udah gak kuat buat lanjutinnya T^T semoga chapter ini cukup sebagai permintaan maaf hehehe

gita9393 Mesum sama Jimin itu udah satu paket hehe :)

anunyajimin hahaha Jimin kalo deket Yoongi gak bisa gak mesum wkwkwkw Terimakasih, jangan bosen yaaa :)

FuckMeYoongi Ini udah cukup belum? kalo belum, minta nambah sama Jimin ya hehehe :'D Terimakasih ya, saya selalu seneng baca komennya, panjaaaaaaaaang hahahaha Saya usahain cepet padahal, tapi ternyata chapter ini butuh mental yang kuat T^T

ravoletta Terimakasih juga ya udah review, jangan bosen yaa hehe :)

Minsoo-ie Terimakasih ya udah baca dan review :)

Terimakasih ya buat semua yang udah baca+review, buat para siders juga makasih, saya seneng deh ada yang baca cerita gaje ini hehe :) Jangan bosen ya semuanyaaaaa :*