Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas

This story belongs to sureaLive

Cast:

Yoongi from BTS

Jimin from BTS

Jin from BTS (Mentioned)

Namjoon from BTS (Mentioned)

Jungkook from BTS (Mentioned)

Taehyung from BTS (Mentioned)

Hoseok from BTS (as Hosiki)

Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)

OC And other(s)

Rated:

M (For Theme and Language)

Length:

Chaptered

Warning:

BoysLove, OOC, Typo(s)

Boring || Don't expect too much on this story :"

Slow Plot and Slow Update

Disclaimer:

They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^

Apabila ada kesamaan nama tokoh OC itu bukanlah hal yang disengaja LoL

Summary:

Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.

~][~

'WINGS' adalah bangunan yang terdiri dari 11 lantai. 2 lantai terbawah termasuk basement berfungsi sebagai tempat parkir. 3 lantai selanjutnya berfungsi sebagai Club dan tempat judi dan juga Billiard. Dan 3 lantai tersebut terhubung oleh tangga besar yang melingkar di tengah ruangan. Lantai 6 dan 7 berfungsi sebagai tempat tinggal para pekerja, termasuk para wanita penghibur dan para pelanggannya yang mungkin saja ingin bermalam. Lantai 8 sebagai kantor, kitchen, dan gudang. Tempat di mana semua stock makanan dan minuman kualitas terbaik di simpan dan disiapkan. Dan 3 lantai yang tersisa adalah area pribadi, yaitu tempat tinggal sang pemilik, Min Yoosuk. Ada lift khusus yang di siapkan untuk mencapai 3 lantai teratas tersebut. Jadi tidak semua orang bisa naik ke area itu, hanya orang-orang terpercayalah yang bisa.

Dan kini Yoongi dan Jimin tengah berdiri di pintu masuk belakang Club, masih saling diam seperti saat di pesawat, tak ada satupun diantara mereka yang mencoba untuk memcahkan kebisuan. Mereka sendiri tidak yakin apa yang membuat suasana mereka seperti ini. Apakah karena perkataan Yoongi? Ataukah ada hal lain?

Yoongi tidak ingin melewati area Club walaupun ia tau area tersebut masih sepi, karena sekarang baru pukul 2 siang. Tapi Yoongi benar-benar menghindari area tersebut, maka dari itu mereka memasukinya melalui pintu belakang.

Saat Yoongi ingin membuka pintu, pintu tersebut telah terbuka terlebih dahulu dari dalam. Memunculkan sosok kurus berambut cokelat berantakan yang kini tengah menatap Yoongi dengan raut benci yang yang tak di tutupinya.

"K-Kang-ssi… Apa kabar? Aku ingin bertemu ayahku." Yoongi bertanya dengan suara pelan, menatap sosok yang dia panggil Kang di depannya dengan kurang nyaman. Adalah Kang Ha Jung, salah satu pekerja ayahnya, seingat Yoongi dia sudah bekerja di sini dari semenjak dirinya masih usia belasan. Saat itupun usia Kang Ha Jung mungkin hanya 1-2 tahun di bawah Yoongi. Sejak saat itu Yoongi sudah sadar bahwa lelaki tersebut tidak menyukainya.

"Untuk apa kau kembali datang ke sini, tikus kecil?" Lelaki tersebut bertanya dengan suara berdesis, semakin menunjukan rasa tidak sukanya pada Yoongi.

"Aku i-ingin bertemu ayahku." Yoongi bertanya dengan suara bergetar, membuat Jimin memusatkan tatapannya pada Yoongi.

"Tidakkah kau sadar bahwa dengan membiarkan pamanmu mengambilmu, itu tandanya bahwa ayahmu telah membuangmu. Jadi, dapat di pastikan bahwa dia tidak ingin bertemu denganmu."

"A-aku hanya ingin menemuinya, dia sakit."

"Dia tidak membutuhkanmu. Oh, karena kau tau dia sakit maka dari itu kau datang ke sini, mengharapkan warisan, huh?!"

"Tid-tidak. Bukan seperti itu, Kang-ssi. A-aaku…"

"Pergi!"

"Setidaknya tolong panggilkan Hosiki. Dia pasti memb…"

"Tikus kecil, sebaiknya kau pergi. Ini bukan tempatmu. Dan tidak akan pernah menjadi tempatmu, jadi…"

"Berhenti membuang waktuku. Aku tidak akan membiarkan pasanganku berdiri di bawah udara sedingin ini lebih lama lagi. Jadi, sebaiknya… Cepat kau panggilkan Hosiki, sebelum kesabaranku benar-benar habis." Jimin yang semenjak tadi hanya diam, akhirnya kehabisan kesabaran. Melihat lelaki tersebut terus menghina Yoongi yang badannya sudah menggigil benar-benar memancing emosinya.

Dengan menggertakan giginya, akhirnya sosok itu kembali masuk ke dalam, walaupun satu sudut pikirannya bertanya-tanya, mengapa salah satu anggota VIP club bisa berdiri di sana bersama si tikus kecil.

Sepeninggal pegawai ayahnya tersebut, Yoongi memandangi bangunan tinggi di depannya, menarik Yoongi ke dalam ingatan masa kanak-kanaknya, ketika ia hanya di ijinkan mengunjungi ayahnya saat liburan musim panasnya. Hanya di musim panaslah Yoongi bisa melepaskan rindu pada orang yang di sayanginya. Saat dia menginjak remaja kadar kunjungannya semakin berkurang, Yoongi tau itu semua karena keluarga pamannya, namun itupun tak lepas dari campur tangan ayahnya yang ingin melindunginya dengan cara menjauhinya.

"Club ini bukanlah tempat untukmu, Little-sugar…" Ucap ayahnya sambil mengelus surai kelamnya. "…kau harus menjaga jarak dari lingkungan yang buruk, agar kau tak menikahi orang sepertiku."

"Appa. Jangan mengembalikanku ke rumah paman. Biarkan aku tinggal bersamamu, aku mohon." Yoongi memelas, memandangi wajah ayahnya yang mulai menua.

"Sweet-sugar… Kau milik keluarga ibumu. Karena hukum pun tau bahwa lingkungan seperti ini bukanlah untuk anak-anak. Jadi, jangan kembali lagi kesini." Dengan itu ayahnya mencium keningnya sebagai penutup.

Mengingat itu Yoongi terkekeh miris, membuatnya bertanya bagaimanakah pendapat ayahnya atas pernikahannya dengan Park Jimin? Karena ayahnya pasti tau bahwa kenyataannya seorang Park Jimin tidak lebih baik dari seorang Min Yoosuk.

Jimin sendiri hanya menaikan sebelah alisnya bingung, menerka apa yang sedang dipikirkan oleh sosok mungil di samping kirinya. Segala pemikiran mereka buyar saat seorang lelaki jangkung berambut dark-orange -dalam balutan kemeja putih yang lengannya terlipat sampai siku- memanggil Yoongi lembut.

"Yoongi-ah?" Suara itu memanggil dengan nada bertanya.

"Hosiki!" Tanpa ragu Yoongi melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Hosiki, lelaki berambut dark-orange yang tadi memanggilnya. Hosiki sendiri langsung menenggelamkan tubuh mungil Yoongi dalam pelukannya, menghasilkan kerutan samar di kening mulus Jimin saat melihatnya.

Jimin mengenal lelaki tersebut, tentu saja. Jung Hosiki. Lelaki setengah Korea dan setengah Jepang, tangan kanan Min Yoosuk sekaligus Bandar Judi Terbesar di WINGS. Mengenal dan mengawasi segala seluk beluk perjudian yang berjalan di dalamnya. Dan juga membawahi puluhan bodyguard yang bertugas untuk mengawasi dan mengamankan WINGS.

Menyadari tatapan yang menusuknya, Hosiki melepaskan Yoongi dari kungkungan lengan kerasnya. Demi kesopanan walaupun enggan, Hosiki membungkukan badannya ke arah Jimin.

"Park Jimin-ssi." Sapanya dengan suara dalam.

"Jung Hosiki." Jimin membalas dengan anggukan samar. Sebelah tangannya menarik Yoongi agar lebih dekat dengannya.

Melihat sikap Jimin, Hosiki menaikan sebelah alisnya tanda bertanya, apa maksud dari sikap Jimin terhadap Yoongi?

Berada di tengah 2 lelaki yang melempar tatapan saling menilai, Yoongi terbatuk gugup, membuat kedua lelaki tersebut kini beralih memandanginya.

"Eumm… Ho-Hosiki, pasti kau sudah mengenalnya, ini Park Jimin, emmm… aku sudah menikah dengannya." Mendengar itu Hosiki tak berkata apapun, hanya memandangi Yoongi semakin dalam, menilai segala ekspresi yang di tunjukan oleh wajah pucatnya. Tanpa menunggu respon dari Hosiki, kini Yoongi melihat ke arah Jimin, "Jimin pasti kau juga sudah mengenal Hosiki kan?" Dan hanya di jawab anggukan kecil oleh Jimin.

"Apa kau baik-baik saja, Hime?" Tanya Hosiki tiba-tiba, menyadari bahwa pernikahan Yoongi dengan Jimin bukanlah pernikahan yang di landasi cinta ataupun perasaan lain yang semacamnya. Karena Hosiki tau, seorang Park Jimin bukanlah jenis lelaki yang mau hidup terikat dengan seseorang hanya karena cinta.

Mendengar pertanyaan dari Hosiki, Yoongi langsung memasang wajah waspada. Yoongi tau bahwa Hosiki begitu mengenalnya, mereka dekat bukan hanya setahun dua tahun. Hosiki begitu menjaganya saat ayahnya sendiri pura-pura tak memperdulikannya. Hosiki adalah satu-satunya orang yang selalu menyambutnya dengan senyum saat ia mengunjungi ayahnya dulu. Bahkan Yoongi sering berpikir, apakah Hosiki itu adiknya? Anak ayahnya entah dengan wanita mana, karena Yoongi tau ayahnya bukanlah lelaki suci. Memikirkan kemungkinan Hosiki adalah adik lain ibu dengannya, membuat Yoongi mengalihkan tatapannya ke arah Jimin. Mungkinkah Jimin memiliki anak dengan seseorang? Mengingat kehidupan sex nya yang begitu bebas.

Merasa ditatap oleh Yoongi, Jimin mengalihkan pandangannya dari Hosiki dan memandang balik Yoongi dengan mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya. Dan Yoongi yang mendapatkan tatapan dari Jimin secara tiba-tiba, membuat Yoongi mengalihkan pandangannya dengan gugup dan membuatnya mengingat pertanyaan dari Hosiki.

"A-aku baik, Hosiki. Terimakasih." Yoongi tersenyum melihat raut khawatir yang membayangi wajah Hosiki. "Bagaimana dengan ayah, a-aku…"

"Keadaannya menurun beberapa hari terakhir… Tapi kau tak perlu khawatir, Hime. Aahh, Ayo masuk." Setelah memberikan elusan lembut di satu sisi wajah Yoongi, Hosiki masuk ke dalam Club, mendahului Yoongi dan Jimin, sehingga dia tak memperhatikan raut Jimin yang mengeras.

~][~

Keadaan di dalam Club terlihat gelap di beberapa bagian, namun itu tak menghalangi Jimin untuk mengeksplore seluruh sudut yang tersentuh oleh matanya. Saat jam operasional Club, WINGS terlihat begitu penuh dan mewah, dengan segala hingar bingar yang menghiasinya terasa begitu memukau untuk para penikmat dunia malam. Namun saat ini, Jimin menyadari ada beberapa bagian dalam gedung ini yang terlihat tak terurus. Ada beberapa sisi tembok yang terlihat catnya sudah mulai mengelupas, apalagi bagian belakang yang tak pernah terlewati oleh para pengunjung Club. Kebobrokan manajemennya benar-benar terlihat.

"Di manakah Ji Sung Wan?" Jimin bertanya pada Hosiki saat mereka keluar dari lift di lantai 10, tempat di mana kamar seorang Min Yoosuk berada.

"Ada perlu apa anda bertanya tentangnya?" Hosiki menjawab dengan masih menuntun Jimin dan Yoongi melewati lorong menuju kamar ayah Yoongi.

"Dia manajer operasional kan? Seharusnya dia sudah harus menyiapkan segala sesuatu untuk hari ini."

"Iya, seharusnya. Mungkin dia masih tertidur di ruangannya, sisa semalam. Nanti aku akan melihatnya. Silahkan." Setelah menjawab rasa penasaran Jimin, Hosiki membuka pintu mahogany besar di hadapannya, memperlihatkan seorang lelaki yang sudah mulai menua yang tertidur di salah satu sisi ranjang besar.

"A-Appa…" Yoongi setengah berlari menyebrangi ruangan tersebut, lalu mendudukan dirinya di samping ayahnya.

"Dia tertidur setelah meminum obatnya beberapa saat yang lalu." Hosiki menjelaskan saat Yoongi tak mendapatkan jawaban atas panggilannya.

"Apa kau sudah membawanya ke Rumah Sakit?" Yoongi mengusap tangan keriput ayahnya yang di hiasi oleh selang IV.

"3 hari yang lalu dia meminta keluar setelah di rawat lebih dari 2 minggu. Bahkan tadinya dia ingin menghentikan semua pengobatan, tapi aku berhasil memaksanya agar melanjutkan di rawat di sini. Dokter datang 2 kali sehari untuk mengeceknya." Hosiki menjelaskan sebisanya. Dia ingin mengatakan bahwa dia telah melakukan apa yang akan di lakukan oleh Yoongi jika Yoongi bisa, Hosiki tau seberapa besar keinginan Yoongi untuk berada di sisi ayahnya selama ini, hanya saja begitu banyak yang menghalanginya.

"Appa…" Yoongi mengelus rambut ayahnya yang mulai memutih. Dan dua lelaki lain di ruangan tersebut bisa merasakan betapa besar rasa sayang Yoongi terhadap ayahnya walaupun selama ini ayahnya telah berlaku acuh padanya.

"Kau akan bermalam di sini, Hime?" Jimin sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar panggilan itu lagi. Entah sudah berapa kali Hosiki memanggil Yoongi dengan panggilan tersebut. Itu adalah panggilan yang terlalu feminim menurutnya, tapi kenapa Yoongi membiarkan Hosiki untuk melakukannya?

"Ya, sekarang aku sudah bukan milik mereka. Bahkan seharusnya aku sudah bisa menentukan hidupku sendiri saat aku menginjak usia 20, tapi… ahh, yang penting sekarang aku sudah benar-benar bebas, jadi mulai sekarang aku akan merawat Appa." Yoongi memberikan senyum tipis ke arah Hosiki, dan melirik ke arah Jimin yang berdiri tepat di samping Hosiki, memberitahukan bahwa dia bisa bebas karena campur tangan Jimin.

"Kalau begitu aku akan meminta pelayan agar menyiapkan kamar untuk kalian. Permisi." Dengan bungkukan terakhir, Hosiki meninggalkan mereka.

Sepeninggal Hosiki, Jimin memperhatikan keadaan kamar yang di tinggali oleh ayah Yoongi tersebut. Ruangan itu terasa redup dengan setengah gorden yang menutupi jendela, menghalangi cahaya matahari dari luar. Tercium bau obat-obatan yang cukup menyengat seperti bau rumah sakit, dengan berbagai macam botol obat yang berbaris di nakas di samping tempat tidur. Ada beberapa tisu dan sapu tangan bernoda darah di tempat sampah yang terletak di dekat kaki Yoongi, membuat Jimin mengingat-ingat apa penyakit yang di derita oleh ayah mertuanya. Dari gosip yang terdengar, pemilik WINGS tersebut mengidap penyakit paru-paru. Apakah penyakit paru-paru bisa menular?

"A-Appa?" Suara lirih Yoongi menarik Jimin dari pikirannya, dia melangkahkan kakinya lebih mendekat ke arah Yoongi lalu dia berdiri di sampingnya, melihat seorang Min Yoosuk yang kini telah membuka matanya.

"Su-sugar?" Suara Min Yoosuk terdengar serak, mata caramelnya yang di turunkan pada Yoongi kini memandangi anaknya dengan pandangan tak percaya. Tak ingin mempercayai bahwa putra tersayangnya kini ada di hadapannya.

Mendengar panggilan itu membuat Jimin mengingat bahwa dia juga pernah memanggil Yoongi dengan sebutan itu.

"Nde, Appa. Ini aku, little-sugar mu." Yoongi tersenyum dengan mata berembun, sebelah tangannya mengelus sisi wajah ayahnya dengan lembut, meyakinkan ayahnya bahwa dia nyata.

"Kenapa kau di sini? Bagaimana kalau paman-pamanmu mencarimu?" Yoongi memejamkan matanya saat ayahnya mengelus rambut kelamnya dengan tangannya yang tidak di hiasi selang IV. Sudah berapa lamakah dia tidak merasakan tangan lembut ayahnya?

"Sekarang aku tak perlu lagi kembali pada mereka. Aku sudah bebas ayah. A-aku sudah me-menikah." Dengan pelan, Yoongi melirik ke arah Jimin yang berdiri tepat di sampingnya, membuat ayahnya mengikuti arah pandangnya, dan dia baru menyadari bahwa ada orang lain selain anaknya di ruangan tersebut.

"Selamat sore, Min-ssi." Jimin membungkukan badannya ke arah mertuanya, menghasilkan pandangan heran dari Min Yoosuk.

"Ada apa gerangan seorang Park berada di kamarku?" Tanya ayah Yoongi dengan pelan, tak ingin percaya bahwa yang kini tengah berdiri di samping putranya adalah pewaris keluarga Park.

"Mulai sekarang anda harus membiasakan diri, Min-ssi. Karena saya akan sering berada di sekitar putramu." Jimin menjawab dengan sedikit senyum di sudut bibirnya.

~][~

"Masih sore, dan manajer itu sudah mabuk?"

Suara Jimin sedikit mengagetkan Hosiki yang baru saja mamasuki ruangan Ji Sung Wan, manajer operasional Club. Setelah perkenalan singkatnya dengan Min Yoosuk Jimin memutuskan untuk meninggalkan Yoongi bersama ayahnya, agar mereka bisa menikmati waktu mereka.

Di samping itu, Jimin juga harus menjaga jarak dengan Yoongi karena entah kenapa matanya bisa menangkap gerakan sekecil apapun yang dilakukan oleh Yoongi. Dan gairahnya, Jimin tak mengerti mengapa hanya dengan menatap tengkuk putih Yoongi membuat Jimin ingin menempatkan bibirnya di sana, dan meninggalkan jejak merah dengan giginya.

"Ada apa anda di sini?" Hosiki memandang Jimin heran atas kemunculannya yang tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Hosiki membuat Jimin kembali tertarik dari khayalan erotisnya tentang Yoongi.

"Aku yakin itu bukan sisa mabuk semalam, dilihat dari botol yang berserakan di sekitarnya." Jimin berkata tanpa menjawab pertanyaan Hosiki, dan menjelajahi seisi ruangan Ji Sung Wan, menghiraukan sang pemilik kamar yang kini tengah tertidur dengan kepala yang bertumpu pada meja kerjanya.

"Semua yang berkaitan dengan Club dia yang mengurusnya kan?" Jimin kembali bersuara tanpa memperhatikan Hosiki yang masih memandanginya dengan kening berkerut.

"Ya." Hosiki menjawab singkat, belum bisa mencerna apa maksud dari pertanyaan Jimin.

"Termasuk pengeluaran dan pembelian untuk inventory Club?"

"Ya. Sebenarnya apa maksud anda menanyakan semua itu? Semua yang anda tanyakan adalah masalah internal Club." Akhirnya Hosiki mengeluarkan apa yang menjadi pertanyaannya.

"Sampai ayah Yoongi membaik, aku yang akan bertanggung jawab dengan semua yang berkaitan dengan Club." Jimin memandang tepat ke mata Hosiki, mempertegas akan semua yang dikatakannya.

"Hahaha… Apakah kau pikir ini adalah arena bermain? Asal kau tau tuan Park, mengelola Club tidaklah semudah menghabiskan uang." Panggilan Hosiki kepada Jimin berubah tak seformal tadinya, dan Hosiki pun tertawa mendengar kata-kata Jimin, dia tau Jimin bukanlah orang yang mau bekerja untuk mendapatkan uang, yang ada di pikirannya hanyalah kesenangan.

"Aku tau. Tapi aku akan tetap melakukannya." Jimin masih menjawab dengan suara penuh keyakinan. Jimin sendiri tidak mengerti pemikiran darimana yang membuatnya memutuskan hal sebesar itu. Mengurus Club sebesar ini tidak akan mudah.

"Dan kau pikir aku akan membiarkannya? Seorang yang tak pernah tau sulitnya mengerjakan pekerjaan sepertimu, mana bisa kau mengelola Club sebesar ini." Hosiki berkata seolah dapat membaca pikiran Jimin.

"Aku memang tak mungkin bisa melakukannya sendiri, tapi kau bisa membantuku."

"Dan kau pikir aku akan membantumu?" Hosiki kembali terkekeh mendengar kata-kata Jimin.

"Tidak." Jimin menjawab cepat pertanyaam Hosiki, "Tapi kau pasti akan membantu Yoongi."

Hosiki langsung terdiam mendengar pernyataan Jimin.

"Saat ini semuanya dalam keadaan jauh dari kata stabil. Dengan sakitnya Min Yoosuk akan banyak pihak yang mamanfaatkannya. Entah manjatuhkan club ataupun mencoba mencelakakan Yoongi sebagai pewaris sah. Aku yakin kau yang lebih mengerti tentang hal ini Hosiki." Jelas Jimin panjang lebar sambil menunjuk sosok yang masih tertidur tanpa terganggu dengan obrolan mereka, menunjuknya sebagai contoh orang-orang yang memanfaatkan keadaan Club yang pengawasannya sedang menurun.

Mengikuti arah tangan Jimin, Hosiki akhirnya menghela napas pelan, "Lakukan apapun yang telah kau rencanakan. Aku akan mengawasimu, Tuan Park. Pertama, buatlah para pegawai mempercayaimu terlebih dahulu, yakinkan mereka bahwa kau bisa sebaik Tuan Min."

~][~

Jimin meninggalkan Hosiki di ruangan Ji Sung Wan. Dalam pembicaraan mereka, setidaknya Jimin telah meyakinkan bahwa mereka berdiri di sisi yang sama, yaitu untuk melindungi Min Yoongi. Walaupun mungkin tujuan utama Jimin hanya ingin mendapatkan bayaran dari kesepakatannya dengan pewaris Club tersebut.

Jimin memutuskan untuk mengajak Yoongi makan, karena seingatnya terakhir mereka memasukan sesuatu ke dalam perut mereka adalah saat mendapatkan sarapan di pesawat. Lagipula sebenarnya Jimin tidak ingin hubungannya dengan Yoongi menjadi canggung, karena walau bagaimanapun mereka berdua akan sering berinteraksi. Tapi dia sendiri sedikit kesusahan untuk mengontrol gairahnya, setiap inci tubuhnya masih begitu mengingat kehangatan dan kelembutan tubuh pucat Yoongi. Bahkan menghabiskan satu malamnya dengan Yoongi telah menghapus puluhan kenangan malam lain yang telah Jimin lewati bersama wanita dan beberapa lelaki sebelumnya. Jimin tak pernah menyangka lelaki canggung tanpa pengalaman seperti Yoongi dapat mengacaukan gairahnya.

Setelah menarik napas panjang, Jimin mengetuk pintu tiga kali dan memasuki kamar ayah Yoongi, menemukan Yoongi yang tengah tertidur di kursi di samping ranjang ayahnya dengan posisi agak membungkuk. Memperhatikan wajah Yoongi untuk beberapa saat, akhirnya Jimin membangunkan Yoongi dengan mengelus pelan rambut hitam Yoongi.

"Hei, bangunlah…"

Untuk beberapa waktu tak ada respon apapun dari Yoongi, dan Jimin mengalihkan usapannya pada pipi pucat Yoongi. Setelah usapan entah yang ke berapa akhirnya Yoongi membuka matanya.

"Makan dulu. Kita tidak sempat makan siang sejak dari bandara, sekarang sudah mendekati makan malam. Kau bisa melanjutkan tidurmu lagi nanti."

Yoongi terdiam beberapa saat, memproses kata-kata Jimin. Lalu dia menganggukan kepalanya dan mengikuti Jimin ke luar kamar ayahnya.

~][~

Ji Sung Wan telah meninggalkan ruang kerjanya dari sepuluh menit yang lalu. Setelah pembicaraannya bersama Jimin, Hosiki langsung memeriksa semua nota pemasukan dan pembelian dalam Club dalam beberapa bulan terakhir sejak keadaan Min Yoosuk memburuk. Dan selama itu Hosiki mempercayakan semua pengelolaannya pada manajer tersebut karena perhatian Hosiki terbagi antara mengurusi Club dengan kesehatan bos yang telah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri itu.

Dalam pemeriksaanya, Hosiki menemukan beberapa nota pembelian untuk inventory dan pembelian barang-barang lain di club dalam jumlah besar, dan Hosiki tak menemukan barang yang di maksud, dan juga beberapa pengeluaran lainnya. Setelah introgasi, penyangkalan, ancaman dan pembuktian. Akhirnya Ji Sung Wan meninggalkan Club tanpa pembelaan yang berarti.

~][~

"Apa yang kau lakukan beberapa jam ini?" Yoongi akhirnya bersuara setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka. Saat ini mereka tengah beranjak dari lantai 9, tempat di mana ruang makan, ruang keluarga dan dapur pribadi terletak. Ada pelayan khusus yang di tugaskan untuk mengurus semuanya, pelayan yang tidak di ikut campurkan dalam urusan club.

"Berkeliling." Jimin menjawab saat mereka telah berada di dalam lift yang akan mengantarkan mereka kembali ke lantai 10.

"Dan apa kau menemukan sesuatu?"

"Ya. Seekor tikus yang menggerogoti Club ayahmu dari dalam." Jimin memeberikan seringai kecil di sudut bibirnya.

"Maksudmu?"

"Mulai sekarang aku yang akan mengurus semua urusan Club bersama Hosiki." Mendengar itu membuat Yoongi menghadapkan tubuhnya ke arah Jimin sepenuhnya.

"Kenapa? Bagaimana dengan manajer yang lain?" Yoongi bertanya pelan, sedikit penasaran akan apa yang telah Jimin lakukan terhadap Club ayahnya.

"Aku rasa sekarang dia sudah meninggalkan Club."

"Ku pikir kau tidak tertarik untuk bekerja." Yoongi berkata setelah terdiam beberapa saat. Mereka berdua kini tengah berjalan menuju kamar yang akan mereka tempati, kamar yang sama yang sering Yoongi pakai saat kunjungan musim panasnya.

"Memang tidak. Tapi setelah ku pikir-pikir, aku ingin mencobanya."

"Aku rasa kau hanya ingin memastikan bahwa kau mendapatkan apa yang ku janjikan untukmu." Yoongi melirik sosok yang tengah berjalan si sampingnya dari sudut matanya.

"Mungkin saja. Tapi kita bisa membahas itu lagi lain waktu." Jimin sedikit mengedikkan pundaknya, menandakan bahwa dia tidak begitu memikirkan hal itu. Dan Jimin membuka pintu ganda di hadapannya.

"Kenapa hanya satu kamar yang disiapkan?" Jimin bertanya saat melihat kopernya dan tas ransel Yoongi berada di kamar itu, kamar yang telah di siapkan untuk mereka.

Bukannya dia tidak ingin tinggal sekamar dengan Yoongi, hanya saja Jimin harus mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi di antara mereka. Mengingat kembali gairahnya yang begitu mudahnya terpancing dan susah untuk di padamkan hanya dengan berdiri di dekat sosok mungil Yoongi.

"Kau bisa tidur di sini, aku akan tidur di kamar ayahku." Yoongi melangkah untuk mengambil tas ransel yang di letakkan di atas koper Jimin.

"Oke, hanya untuk hari ini aku mengijinkan, mulai besok kau akan tinggal di rumahku." Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya, dan Jimin tidak sadar bahwa kata-kata itu juga telah terucap dari mulutnya.

"Apa? Apakah kau sedang memulai otoritasmu sebagai 'suami'?" Mendengar perkataan Jimin membuat Yoongi menghentikan langkahnya.

"Mungkin. Aku hanya tidak ingin pasanganku tidur di lingkungan seperti ini." entahlah Jimin mendapatkan alasan itu dari mana, setidaknya alasan itu sedikit masuk akal menurutnya.

"Aku menikah denganmu agar aku bisa lepas dari keluarga pamanku dan merawat ayahku. Dan kau, dengan seenaknya menyuruhku untuk tinggal di rumahmu." Yoongi berkata pelan dengan penekannan di setiap katanya.

"Kau bisa menjaganya di siang hari, tapi saat malam aku tidak ingin kau di sini." Aku hanya tidak ingin kau begitu sering berada di sekitarku, lanjut Jimin di sudut hatinya.

"Walaupun aku tinggal di sini, aku tidak akan turun ke bawah. Kau pasti tau itu." Yoongi tidak mengerti akan jalan pikiran Jimin.

"Yah, tapi aku tidak mengijinkanmu tinggal di sini." Jimin berkata dengan suara pelan namun tegas.

"Siapa kau bisa mengatur hid…"

"Aku suamimu. Kenapa kau begitu keras kepala, Min Yoongi?!" Tanpa sadar Jimin menggerakkan tangannya sebagai pelampiasan emosinya yang muncul karena kekeraskepalaan Yoongi. Jimin hanya tidak ingin Yoongi berada di sekitarnya. Karena keberadaan Yoongi dapat mengacaukan kerja otaknya. Menghilangkan akal sehatnya. Karena bayangan tubuh telanjang Yoongi selalu berhasil memancing gairah terdalam Jimin.

Namun Yoongi, seorang yang sering mendapatkan perlakuan kasar dari keluarganya saat mereka marah, menyangka bahwa gerakan Jimin adalah gerakan yang sama yang akan menyakitinya. Maka dari itu, sebagai gerak reflex untuk melindungi diri, Yoongi menangkupkan kedua tangannya untuk melindungi kepalanya. Mengantisipasi rasa sakit yang sebentar lagi akan di terima tubuhnya.

Namun, setelah menunggu beberapa saat, rasa sakit itu tak juga menghampirinya, dan dengan pelan Yoongi mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat ke arah Jimin. Dan Yoongi menemukan Jimin yang tengah menatapnya dengan pandangan dalam yang sulit Yoongi artikan.

"Kau apa? Kau mengira aku akan memukulmu?" Jimin bertanya sambil mendekatkan diri pada Yoongi, namun dia langsung berhenti saat melihat Yoongi melangkah mundur menjauhinya, dengan kedua tangan yang masih melindungi kepalanya.

"Ya Tuhan, sesorang pernah memukulmu?" Jimin tak juga mendapatkan jawaban, sedang Yoongi masih dalam posisi defensive nya.

"Berengsek!" Jimin memaki karena emosi, namun kini emosinya dikarenakan oleh hal yang berbeda, bukan lagi karena kekeras kepalaan Yoongi, namun dengan hal lain yang Jimin tidak tau apa. Mendengar umpatan Jimin, Yoongi semakin beringsut ke arah pintu yang tertutup dan meringkuk di sana.

"Yoongi? Biarkan aku mendekat, oke? Aku tak akan menyakitimu." Jimin memelankan suaranya dan kembali mendekati Yoongi dalam langkah pelan.

Dalam beberapa langkah Jimin kini sudah berdiri di hadapan Yoongi yang masih melipat tubuhnya, menyembunyikan wajahnya dari Jimin.

"Yoongi?" Jimin memanggil pelan, mengulurkan tangannya, mengelus lengan Yoongi dengan lembut. "Lihat aku, aku tak akan menyakitimu."

Mendengar suara Jimin di sampingnya, akhirnya Yoongi mengangkat kepalanya dengan gerakan ragu-ragu, membuat Jimin dapat melihat wajah Yoongi yang lebih pucat dari biasanya.

"Aku memang bajingan, tapi aku tidak akan pernah memukul pasanganku sendiri. Ingat itu baik-baik, oke?" Jimin sedikit menarik sudut bibirnya, mencoba mengurangi rasa takut Yoongi. "Dapat aku pastikan bahwa kau tak akan pernah merasakan sakit dari tangan-tanganku ini, Yoongi." Setelah melihat anggukan kecil dari Yoongi, Jimin melanjutkan kata-katanya, sedang kedua tangan Jimin melingkupi sisi kepala Yoongi dan menariknya ke dadanya.

"Siapa yang pernah memukulimu?" Jimin kembali bertanya pelan, dengan jarinya yang masih mengusap lembut belakang kepala Yoongi.

"Pa-pamanku." Yoongi menjawab dengan suara gagapnya, membuat Jimin sadar bahwa Yoongi masih diliputi rasa takut.

"Siapa? Lee? Kim? Atau keduanya?"

"Kk-Kim."

"Seberapa sering?" Jimin tau bahwa Yoongi mendapatkan perlakuan kurang baik, tapi dia tidak tau sampai separah ini. apakah ini yang membuat pribadi Yoongi begitu tertutup? Apakah ini yang menimbulkan kegagapan Yoongi?

"Lumayan se-sering, apalagi kalau aa-aku me-membuat paman atau bibiku ma-marah. Terakhir ss-saat aku mencoba kabur, mereka membuat bb-bibirku robek."

Mendengar jawaban Yoongi, Jimin mengangkat wajah Yoongi agar menatapnya. "Benarkah? Berdoalah semoga mereka tidak bertemu denganku, atau aku akan membunuhnya." Jimin menutup kata-katanya dengan mengecup sudut bibir Yoongi.

"Me-mereka mungkin akan mencariku."

"Dan mereka tidak akan mendapatkanmu." Jawaban Jimin membuat gurat takut di wajah Yoongi menghilang.

"Ma-masalah tadi, aku ti-tidak mau…"

"Kita akan membicarakannya lagi nanti. Sekarang mandilah, aku akan turun ke bawah." Dan Jimin meninggalkan Yoongi dengan sapuan lembut di pipinya.

[TBC]

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya lama banget update ini *bow

Sepertinya saya mabok karena abis bikin NC yang gak seberapa itu hahaha, sekali lagi saya mohon maaf ya :"

Baca beberapa review di chapter kemarin, saya ingin menjelaskan sesuatu #ceilaah hehe

Ini emang FF remake, tapi hanya plotnya yang sama, sedang kata-katanya lebih dari 50% itu hasil imajinasi otak saya dan di sesuaikan dengan setiap adegan dari novel aslinya, yang tau novel aslinya pasti tau, banyak yang saya rubah di sini hehe maka dari itu maaf banget karena updatenya lama ^o^'

Yang saya jadikan pedoman(?) pun novel English Version nya, karena novel indonesianya ada di kamar saya di luar kota, jadi ya begitu hehehe :D

Terimakasih buat yang udah baca dan review, semoga masih inget sama cerita ini :*

Terimakasih juga buat yang udah Follow dan Favorite FF maupun saya yang masih pemula ini, mohon masukannya ya :)

Special Thanks To:

minshubble || LittleDevil94 || 07 || jimyoungi8895 || haneunseok || yoongipark || gita9393 || SnowYoongi || minyoonlovers || holly || Tikha Semuel RyeoLhyun || justcallmeBii || khung dae || driccha || CandytoPuppy || FuckMeYoongi || Misswag || SweetHoon || || rossadilla17 || qui23 || she3nn0 || ravoletta || poongi || Uozumi Han || anunyajimin || Hanami96 || whalme160700 || ugotnochim || redose || The Min's || achacha

Terimakasih juga buat yang udah Read, Review, Follow, Favorite di FF abal saya yang sebelah, bener-bener terimakasih loh, saya gak nyangka FF gaje itu masih ada yang mau baca, saya seneng T^T

Sekali lagi terimakasih banyak, di tunggu kritik dan sarannya yaaa :)