Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas

This story belongs to sureaLive

Cast:

Yoongi from BTS

Jimin from BTS

Jin from BTS (Mentioned)

Namjoon from BTS (Mentioned)

Jungkook from BTS (Mentioned)

Taehyung from BTS (Mentioned)

Hoseok from BTS (as Hoshiki)

Jeonghan from SEVENTEEN (Mentioned)

OC And other(s)

Rated:

M (For Theme and Language)

Length:

Chaptered

Warning:

BoysLove, OOC, Typo(s)

Boring || Don't expect too much on this story :"

Slow Plot and Slow Update

Disclaimer:

They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^

Apabila ada kesamaan nama tokoh OC itu bukanlah hal yang disengaja LoL

Summary:

Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.

~][~

"Istirahatlah, Hime." Suara Hoshiki membuat Yoongi mengalihkan perhatian dari ayahnya yang tengah memejamkan mata.

"Nanti, sekarang aku ingin menjaganya." Yoongi tersenyum tipis saat merasakan elusan lembut di rambutnya oleh tangan besar Hoshiki.

"Bagaimana kau bisa berakhir bersama Park Jimin, Hime?" Hoshiki tiba-tiba bertanya setelah duduk di sisi ranjang ayahnya, sedang tatapannya di fokuskan pada Yoongi yang belum menjawab. "Aku tahu tentang masalah keuangan Park Jimin, bahkan aku sedikit tahu tentang masalahnya dengan ayahnya. Apakah dia datang padamu dan memaksamu untuk menikah dengannya?"

"Bagaimana kau tahu kalau ini bukanlah pernikahan karena cinta?"

"Hanya satu cinta yang cocok dengan seorang Park Jimin, yaitu dirinya sendiri."

Senyum kecil tak dapat Yoongi tahan akan kata-kata Hoshiki, "Sebenarnya, aku yang datang padanya dan menawarkan pernikahan. Itu adalah satu-satunya cara yang aku pikirkan agar aku bisa lepas dari pamanku." Akhirnya Yoongi mengatakan yang sejujurnya pada Hoshiki, jika ada orang yang Yoongi percayai di dunia ini, Hoshiki adalah salah satunya. "Apakah pamanku datang ke sini setelah aku pergi?"

"Ya, kedua pamanmu. Mereka tidak percaya, hingga akhirnya aku mengijinkan mereka untuk mengecek ke seluruh Club."

"Sial." Yoongi yang hampir tidak pernah mengumpat dalam hidupnya akhirnya menggunakan kata-kata umpatan favorit Jeon Jeonghan, "Mereka juga pasti mencari ke rumah teman-temanku, keluarga Kim dan Jeon, berita tentang hilangnya diriku pasti membuat mereka khawatir." Namun jika Yoongi menceritakan apa yang terjadi sebenarnya mereka akan lebih khawatir lagi, mungkin seharusnya dia mengabari Jin dan Jeonghan, mengingat bahwa Jungkook masih dalam perjalanan bulan madunya mungkin dia tidak akan mendengar tentang menghilangnya Yoongi.

Besok, pasti besok keberadaannya di sini akan diketahui. Entah oleh teman-temannya ataupun oleh pamannya. Berita dalam Club akan cepat tersebar. Untuk teman-temannya, Yoongi akan menjelaskan semuanya, mereka pasti mengerti. Tapi bagaimana kalau yang datang adalah pamannya? Dan apakah dia berani menghadapi pamannya? Bagaimana kalau Yoongi tidak bisa melawan?

"Ada apa?" Melihat Yoongi yang gusar Hoshiki bertanya khawatir.

"Saat keberadaanku di sini diketahui oleh pamanku, mereka pasti akan langsung datang dan mencoba membawaku dan mungkin mereka akan mencoba untuk membuat bahwa pernikahanku tidak sah. Aku…" Yoongi berhenti bicara sesaat untuk menarik napas, "Aku takut bahwa aku akan dipaksa untuk kembali pada mereka."

"Bukankah Jimin akan menghentikan mereka?" Hoshiki bertanya, sedang sebelah tangannya mengelus pundak Yoongi pelan untuk menenangkan.

"Jika dia ada saat itu. Jika dia tidak mabuk. Jika dia mampu." Yoongi memberikan senyum lemah, "Jika dan hanya jika."

"Aku akan ada di sini. Dan aku tidak mabuk. Dan aku mampu. Kenapa kau berpikir bahwa Jimin tidak bisa melakukannya?"

Walaupun Jimin mengatakan seakan ia peduli padanya sore tadi saat menenangkan Yoongi yang ketakutan karena kemarahan Jimin, namun Yoongi tidak yakin Jimin akan benar-benar melakukannya, melindunginya dari pamannya.

"Pernikahan ini hanyalah pernikahan karena kebutuhan. Aku tidak berpikir bahwa kami akan sering bertemu di sini. Dan aku ragu bahwa dia akan mau bersusah payah untuk ikut campur dalam masalahku. Dan aku rasa dia lebih tertarik untuk bersenang-senang dengan Club, mungkin saja saat ini dia sedang menunggu saat… saat…" Yoongi tak melanjutkan perkatannya dan beralih melihat ke arah ayahnya yang tertidur.

"Mungkin saja dia akan berubah pikiran." Hoshiki berkata dengan sinis, "Dia meminta kunci menuju kantor utama, dan saat aku memberikannya dia langsung mengecek segala pembukuan, hutang piutang para penjudi, dan yang lainnya. Aku rasa dia akan menyelesaikan masalah Club -yang memang mulai membesar- sedikit demi sedikit."

"Apa yang dia rencanakan? Aku pikir dia tidak tertarik untuk bekerja. Mengingat dia tidak ingin meneruskan usaha ayahnya." Yoongi berbicara lebih pada dirinya sendiri, mengingat pembicaraan singkatnya dengan Jimin sebelum pulang dari Belanda.

"Baiklah, aku akan turun dulu. Sudah lewat jam 8, Club pasti sudah mulai penuh." Dan Hoshiki meninggalkan Yoongi dengan elusan terakhir di helaian kelamnya.

~][~

Pukul 11.10 malam, Yoongi turun ke lantai 9. Walaupun penghangat di kamar ayahnya sudah di nyalakan, namun ia membutuhkan sesuatu yang dapat menghangatkannya dari dalam, seperti teh, kopi, cokelat, atau apapun itu yang dapat ia temukan di dapur. Musim dingin sudah benar-benar tiba sepertinya, pikir Yoongi. Dia bisa saja meminta pelayan membuatkan minuman untuknya, tapi ini sudah malam, waktunya para pelayan untuk istirahat. Jadi akhirnya dia turun ke dapur untuk membuatnya sendiri.

"Kau di sini?"

Saat Yoongi tengah menuangkan air panas pada cangkir yang telah ia isi dengan kopi instan yang ia temukan, sebuah suara di belakangnya mengagetkan Yoongi. "Y-ya, kau bisa lihat sendiri. Kau sendiri, kenapa di sini?" Yoongi menjawab masih dengan membelakangi Jimin, mulai mengaduk kopinya pelan.

"Tadi aku mengecekmu ke kamar namun hanya ada ayahmu, jadi aku mencarimu kesini."

"Apa kau memerlukan sesuatu?" Yoongi bertanya pada Jimin yang kini telah berdiri di sampingnya.

"Tidak." Jimin menjawab singkat. Fokusnya kini beralih pada tengkuk Yoongi yang terlihat jelas karena posisinya yang masih menunduk ke arah kopinya.

Tanpa menyadari bahaya yang mengintainya, Yoongi masih memfokuskan perhatiannya pada minuman di hadapannya. Namun, beberapa saat kemudian Yoongi berjengit kaget saat dirasakannya napas yang menghembus lehernya di susul dengan bisikan pelan di telinga.

"Kenapa kau begitu menggiurkan, Min Yoongi?" Jimin merasakan sosok di hadapannya itu menegang saat ia menggesekkan hidungnya di sepanjang kulit leher Yoongi.

"Ma-maksudmu?" Yoongi tak mengerti maksud dari pertanyaan Jimin maka dari itu dia menolehkan kepalanya untuk memperjelas apa yang di maksudkan oleh Jimin. Namun ternyata dia mengambil langkah yang salah, karena saat ia menggerakkan lehernya ke samping tatapan mata caramelnya langsung bertubrukkan dengan manik kelam Jimin.

Mendapatkan jarak yang begitu dekat, fokus Jimin langsung tertuju pada bibir pink pucat Yoongi yang berjarak tak lebih dari 2 inci dari bibirnya. Mengabaikan raut kaget Yoongi yang mendapati jarak mereka yang terlampau dekat, Jimin langsung meraup sepasang bibir yang telah menjadi candunya sejak dia mencicipinya setelah pernikahan merka kemarin.

Merasakan bibirnya telah di klaim oleh sosok di hadapannya tanpa permisi, Yoongi mencoba untuk menjauhkan dirinya dengan mendorong dada Jimin dengan kedua tangannya. Namun sepasang tangan kuat lain telah menahan pinggang dan juga belakang kepalannya terlebih dahulu. Menghalangi Yoongi dari usahanya untuk melepaskan diri dari jeratan Jimin.

Mendapatkan perlawanan dari Yoongi, membuat Jimin semakin ingin memperdalam pagutan mereka. Maka dari itu Jimin menarik bibir bawah Yoongi dengan mengapitnya menggunakan giginya, menghasilan rintihan pelan dari sela bibir Yoongi.

Mendengar suara yang semakin memancing gairahnya, Jimin kembali memagut bibir Yoongi, kali ini dengan lidahnya yang langsung melesak masuk ke dalam ruang hangat mulut Yoongi tanpa perlawanan. Mencicipi rasa yang memabukan Jimin dengan perlahan.

Yoongi ingin kembali berontak, namun elusan lembut lidah Jimin pada lidahnya menghentikan niatnya. Dan geraman rendah terdengar dari dasar tenggorokan Jimin saat di rasakannya lidah Yoongi mulai mengikuti gerakan lidahnya, saling beradu dan menjilati kehangatan mulut lawannya. Sampai pertarungan lidah mereka terhenti saat Jimin menghisap gemas lidah Yoongi ke dalam mulutnya dan rintihan kembali terdengar bagai nyanyian yang semakin menyesatkan gairah Jimin.

"Tidurlah denganku." Jimin berbisik dengan menggigiti rahang Yoongi pelan.

"Tidak." Jawab Yoongi masih terengah.

"Why? Aku tahu kau menginginkanku seperti aku yang sangat menginginkanmu." Kini Jimin mulai menjilati belakang telinga Yoongi.

"Ingat perjanjian kita." Yoongi mencoba menjauhkan kepalanya dengan percuma karena Jimin masih meletakkan sebelah tangannya di sisi kepalanya.

"Kita bisa merubahnya." Jimin menghentikan godaannya sejenak dan menatap ke arah mata Yoongi yang sama berkabutnya dengan matanya.

"Tidak." Dan Yoongi masih mempertahankan kewarasannya walaupun gairah masih melingkupi mereka dengan kuat.

"Kenapa kau begitu keras kepala? Ya tuhan, aku begitu menginginkanmu." Kembali Jimin membenamkan wajahnya ke lekukan leher putih Yoongi, mencoba semakin menarik gairahnya.

"Berhenti Jimin…" Yoongi kembali menjauh saat dirasakannya Jimin mulai menggigiti kulit lehernya, dan kini ia berhasil melepaskan diri.

"Apa yang harus ku lakukan agar kau mau tidur denganku?" Jimin bertanya dengan sedikit emosi, dia tidak pernah sefrustasi ini saat mengajak seseorang untuk tidur dengannya. Bahkan selama ini orang lain yang melemparkan dirinya dengan suka rela ke ranjang Jimin.

"Kau tidak akan bisa memberikan apa yang ku minta." Yoongi menjawab sambil melipat tangannya di dadanya, sifat defensive.

"Apa yang kau inginkan?"

"Aku bukan orang yang suka berbagi. Dan kau seorang lelaki yang tak pernah cukup hanya dengan satu orang. Jadi kau pasti tidak akan pernah bisa melakukannya."

"Maksudmu kau meminta kesetiaan dariku?" Suara Jimin penuh dengan nada ketidak percayaan.

"Ya. Dan setahuku kau bukanlah seorang lelaki yang setia." Yoongi menganggukan kepalanya ke arah Jimin.

"Kau tahu sendiri aku seperti apa." Jimin membenarkan dengan tegas.

"Maka dari itu aku tidak ingin tidur denganmu. Aku hanya mencoba untuk melindungi diriku sendiri." Yoongi berkata pelan namun cukup jelas di pendengaran Jimin, "Aku tidak ingin menjadi seseorang yang menunggu pasangannya dengan setia di rumah sedangkan orang yang aku tunggu tengah menghabiskan malamnya dengan orang lain. Aku tidak bisa seperti itu."

"Aku bisa melakukannya." Jimin berkata setelah terdiam beberapa saat.

"Apa?"

"Aku bisa setia."

Yoongi tertawa pelan, "Kau mengatakannya begitu cepat, justru itu semakin membuatku tidak percaya."

Jimin menggeram emosi saat mendengar tawa Yoongi yang cukup keras. "Kalau begitu aku bisa memaksamu. Aku akan memaksamu untuk tidur di ranjangku."

"Cobalah." Yoongi menggerakan kedua tangannya seolah dia pasrah akan apa yang hendak dilakukan oleh Jimin, dan Yoongi hanya bisa kembali tersenyum saat melihat lelaki di hadapannya justru terdiam. "Kau tidak akan bisa melakukannya. Karena kau pun tidak melakukan itu saat menculik Jungkook kemarin."

Jimin masih diam. Dia tahu apa yang di katakan oleh Yoongi itu benar, dia bukanlah lelaki berengsek yang memaksa seseorang hanya untuk tidur dengannya. Tetapi dia benar-benar menginginkan Yoongi saat ini.

"Sebaiknya kita menghentikan pembicaraan ini. aku akan kembali ke kamar ayahku dan kau bisa kembali ke bawah dan memilih seseorang yang bisa kau ajak bersenang-senang. Oke? Selamat malam Jimin."

Dan Yoongi meninggalkan Jimin yang tengah mengumpat dengan keras di dalam hatinya, bagaimana ia bisa mencari orang lain sedang yang ia inginkan sejak kemarin hanyalah Yoongi? Bersengsek!

~][~

Jam sudah menunjukkan pukul 3.45 pagi, dan Yoongi belum juga memejamkan matanya. Selain karena memikirkan apa yang telah di lakukan oleh Jimin, namun juga karena dari beberapa jam yang lalu keadaan ayahnya semakin menurun bahkan Yoongi sampai memanggil dokter yang selama ini merawat ayahnya.

Dokter itu mengatakan bahwa tubuh ayahnya sudah tidak bisa menerima cairan IV yang di salurkan padanya, sehingga dia harus melepasnya dan mengatakan bahwa Yoongi harus selalu di sisi ayahnya. Entahlah, bahkan rasa sesaknya membuat Yoongi tak bisa menangis saat mendengar perkataan Dokter tersebut.

Jimin dan Hoshiki dengan teratur mengecek ke kamar ayahnya -memastikan bahwa keadaan Yoongi dan ayahnya masih baik-baik saja- secara bergiliran, seolah mereka telah mengatur waktunya.

"Appa…" Yoongi terus menggenggam tangan ayahnya, merasakan suhu tubuhnya yang terus naik turun.

'Tuhan, aku berharap kau memberikan waktu lebih banyak untukku agar bisa bersamanya, namun, jika memang kau tidak bisa memberinya, tolong berikan kekuatan untukku.' Yoongi terus mengucapkan hal yang sama di hatinya, mengharapkan tuhan memberikan sedikit kemurahan padanya.

"Su-sugar…" Suara lirih ayahnya membuat Yoongi semakin mendekatkan tubuhnya, membuat ayahnya bisa memandang wajahnya dengan lebih dekat.

"Nde, appa…"

"Waktuku sepertinya sudah semakin dekat, little-sugar. Tuhan tidak akan mengijinkanku memasuki surganya, namun ibumu mengatakan akan membantuku lewat melalui pintu belakang." Ayahnya terkekeh kecil dengan kata-katanya sendiri.

"A-appa…"

"Jangan menangis, sayang, sudah terlalu banyak air mata yang kau keluarkan." Ayahnya menghapus air mata yang menuruni pipi pucat Yoongi dengan jarinya pelan, "Yoongi-aah, Appa minta maaf, nde? Maaf karena tidak menjagamu, maaf karena telah membiarkan mereka menyakitimu. Appa minta maaf…"

Mendengar permintaan maaf ayahnya, tangisan Yoongi semakin deras. Ayahnya tahu, dia tahu bahwa paman-pamannya tidak memperlakukan ia dengan baik. Tapi kenapa ayahnya masih membiarkannya tinggal bersama mereka?

"Appa minta maaf, Appa manyayangimu, Appa hanya tidak ingin kau tinggal di lingkungan seperti ini, demi keamananmu… uhukkk…"

"Sudah Appa, istirahatlah, a-aku mengerti…" Kata-kata Yoongi terhenti karena ketukan pintu sebanyak 3 kali dan setelahnya sosok Jimin muncul di ambang pintu.

Mendengar isak lirih yang masih keluar dari Yoongi, membuat Jimin langsung melangkahkan kakinya mendekat. Dan dia melihat Yoongi yang tengah menggenggam tangan ayahnya yang berada di pipinya.

Jimin sudah akan memundurkan tubuhnya kembali, karena dia pikir, dia masihlah orang luar, dia tidak ingin menganggu mereka. Namun suara lirih ayah Yoongi menghentikan niatnya.

"Tetaplah di sini… dan tolong panggilkan Hoshiki." Walaupun masih belum mencerna betul apa maksud dari Min Yoosuk yang menyuruhnya tetap berada dalam ruangan itu, tapi Jimin dengan cepat mengangkat ponselnya dan menghubungi Hoshiki.

"Dia akan segera naik." Jimin berkata setelah menyelesaikan panggilan singkatnya pada Hoshiki.

"Terimakasih…" Ayah Yoongi memejamkan matanya sebentar, dan kembali membukanya dengan pelan, membuat matanya tepat menatap ke arah Jimin yang memang masih melihat ke arahnya, "Park Jimin-ssi, aku tidak tahu alasan apa yang menadasarimu menikahi Yoongi-ku, namun sekarang kau telah memasukkan dirimu ke dalam kehidupan anakku. Maka dari itu aku minta padamu untuk menjaganya. Menjaga hal yang telah gagal aku jaga. Jangan pernah kau menyakitinya."

"Tentu, Min Yoosuk-ssi. Aku akan mengingatnya." Jimin memang sudah menikahi Yoongi bahkan dia telah merasakan tubuhnya, namun entah kenapa baru sekarang Jimin merasa benar-benar memiliki Yoongi seutuhnya, mungkin karena ayahnya sendiri yang telah menyerahkan Yoongi kepadanya.

Pintu kembali terbuka, kali ini tanpa ketukan dan memunculkan wajah Hoshiki yang tegang. Jimin menghubunginya tanpa memberikan penjelasan apapun, hanya menyuruhnya agar naik dengan segera, -yang untungnya keadaan di bawah sudah mulai sepi, mengingat sebentar lagi sang fajar akan muncul- membuatnya mengira-ngira apa yang akan dia dapatkan saat membuka pintu kamar bosnya.

"Tuan Min…" Hosiki memanggil lirih saat sudah berada di samping Yoongi, menggantikan Jimin yang mau tidak mau harus memundurkan tubuhnya.

"Hoshiki… mendekatlah." Yoongi mengangkat kepalanya yang sejak tadi masih menunduk di atas tangan ayahnya, memberi celah agar Hoshiki bisa lebih dekat dengan ayahnya.

Jimin dan Yoongi tidak dapat mendengar apa yang di bisikkan oleh ayahnya, hanya anggukan Hoshiki lah yang menunjukkan bahwa memang ayahnya tengah mengatakan sesuatu. Entah apa.

Setelah beberapa menit, Hoshiki kembali mengangkat kepalanya sedang ujung jarinya menghapus air mata yang menggenang di sudut matanya.

"Yoongi-aah, Appa mencintaimu, kau begitu mirip dengan Eomma-mu… Ahh, Eomma-mu sudah menjemputku… Sugar, kami mencintaimu…" Dengan itu ayahnya menutup pelan matanya, napasnya terdengar lirih dan putus-putus untuk beberapa saat, lalu tak terdengar apapun lagi. Dan Yoongi tau, ayahnya telah meninggalkannya.

"Aa-appaaa…" Tangis Yoongi kembali pecah, merasakan tangan yang berada di genggamannya sudah tidak membalas genggaman jari-jari Yoongi.

Hoshiki yang masih berada di samping Yoongi langsung menarik Yoongi ke dalam pelukannya. Membenamkan wajah Yoongi yang basah di dadanya.

"Menangislah, Hime. Aku tahu ini berat untukmu, namun inilah yang terbaik untuk ayahmu, dengan begini setidaknya ayahmu tidak merasa kesakitan lagi. Kau mengerti, hmm?" Anggukan lemah dari kepala Yoongi membuat Hoshiki semakin mengeratkan dekapannya dan bibirnya ia tekankan dengan lembut ke pelipis dan ujung kepala Yoongi.

Dan Jimin yang melihat apa yang dilakukan oleh Hoshiki hanya bisa mengepalkan jemarinya, mencoba meredakan emosi yang entah kenapa tiba-tiba muncul melihat kedekatan antara Yoongi dan Bandar Judi tersebut.

Merasakan pandangan seseorang yang seakan membakarnya, Hoshiki melapaskan Yoongi dari pelukannya dan jemarinya menghapus air mata yang masih meleleh di pipi pucat Yoongi.

"Sekarang kau istirahat." Jimin tiba-tiba bersuara membuat Yoongi berjengit seolah baru menyadari keberadaannya di sana.

"Ta-tapi aku… ayah…"

"Biar aku dan Hoshiki yang mengurusnya. Sekarang kau tidur untuk beberapa saat, oke?" Jimin mendekat dan Hoshiki yang tadinya masih duduk di dekat Yoongi langsung berdiri dan bergeser.

Setelah memandangi ayahnya cukup lama akhirnya Yoongi mengangguk dan berdiri, sehingga kini ia tepat berhadapan dengan Jimin. Melihat raut Yoongi yang kuyu dengan wajah yang masih basah karena air mata membuat Jimin dengan refleks mengangkat tangannya dan menangkup wajah Yoongi, memberikan usapan halus di pelipisnya seolah Jimin ingin menghapus bekas bibir Hoshiki di sana.

Saat Yoongi meninggalkan ayahnya, Jimin langsung melihat ke arah Hoshiki dengan pandangan yang tidak bersahabat, "Kali ini aku membiarkanmu karena Yoongi membutuhkan keberadaanmu. Namun jika lain kali kau menyentuh milikku lagi, aku akan membuat perhitungan denganmu."

Hoshiki hanya mengangkat sebelah alisnya heran saat mendengar kata-kata Jimin, lalu dengan ringan dia melangkah ke arah pintu keluar dan berhenti sebentar saat sebelah tangannya ia letakkan di handle pintu.

"Kalau kau yakin bahwa dia memang milikmu, kau tidak akan merasa terancam dengan keberadaanku." Katanya dan meninggalkan Jimin dalam keheningan.

~][~

Saat ia terbangun beberapa jam kemudian, Yoongi menemukan bahwa matahari sudah bersinar cukup terik. Dia masih terdiam cukup lama lalu ingatan akan ayahnya yang telah meninggalkannya langsung menyesakkan dadanya. Mengapa secepat ini Tuhan?

Yoongi mengedarkan pandangannya untuk sedikit mengalihkan pikirannya dan matanya langsung tertuju pada nampan yang berisi makanan di atas nakas di samping kanannya. Lalu Yoongi mengambil sebuah catatan yang tertempel pada gelas kopi yang masih terasa hangat dan membacanya.

~Makanlah, beberapa jam lagi aku akan datang dan mengeceknya~

~P.J.M~

Yoongi mengerutkan keningnya bingung, ada pelayan di sini lalu kenapa Jimin repot-repot harus memastikan bahwa Yoongi sudah makan atau belum? Apa Jimin mengkhawatirkannya?

Setelah menyelesaikan sarapan yang hanya ia makan beberapa gigit, Yoongi pergi membersihkan diri dan memakai sweater hitam pinjaman dari Hoshiki yang kebesaran di tubuhnya. Lalu Yoongi keluar dan berjalan menuju kamar ayahnya, namun kamar ayahnya ternyata sudah kosong. Saat bertanya pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan kamar ayahnya, ternyata ayahnya telah di bawa ke Rumah Sakit untuk di bersihkan.

Tidak tahu akan melakukan apa, Yoongi berjalan ke arah lift dan berniat pergi ke manapun untuk menghindarkan pikirannya dari kesedihan akan ayahnya. Sebelum mencapai lift Yoongi berpapasan dengan salah satu pegawai Club dan menanyakan keberadaan Hoshiki maupun Jimin.

"Tuan Hoshiki ikut ke Rumah sakit, tuan. Sedangkan tuan Park Jimin sedang ke tenpat Meilin Agashi." Setelah mengucapkan terimakasih, Yoongi melanjutkan langkahnya menuju lift.

Setahu Yoongi, Meilin adalah tempat pelacuran yang terletak tidak jauh dari Club ayahnya. Apakah hasrat Jimin semalam belum terpuaskan sehingga Jimin harus pergi ke tempat seperti itu sepagi ini? Itu adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang semalam mengatakan bisa setia, Yoongi bodoh kalau sampai mempercayainya. Setia bukanlah kata yang bisa di sandingkan dengan seorang Park Jimin.

Masih dengan gerutuan di dalam hatinya, Yoongi memasuki lift dan memencet angka 9, dan akan berganti lift menuju lantai 8, Yoongi memutuskan ingin melihat dapur dan kantor dari Club ayahnya yang pasti telah di liburkan entah untuk berapa lama. Di dalam lift Yoongi masih memikirkan kemungkinan apa yang tengah Jimin lakukan di tempat Meilin sambil mengetuk-ngetukan jarinya ke dinding lift, lalu pandangan Yoongi tertuju pada cincin di jari manisnya.

'Cintaku hanya untukmu'

Omong kosong, pikir Yoongi. Lalu dia menarik lepas cincin tersebut dan memasukannya ke dalam kantong celananya. Entah kenapa rasa kesal tiba-tiba menyelimutinya saat memikirkan bahwa saat ini Jimin tengah bersenang-senang dengan seorang wanita, mungkin lebih. Entahlah. Dengan kekesalan yang semakin besar, Yoongi melangkah ke luar lift.

Saat menyusuri lorong di lantai 8, sebuah suara tiba-tiba memanggil Yoongi, dan suara itu milik Kang Ha Jung, pekerja ayahnya yang tidak menyukai Yoongi.

"Ada tuan Kim dan Jeon yang ingin bertemu denganmu." Suara lelaki itu terdengar serak.

"Jin? Jeonghan?" Jeon sudah pasti Jeonghan, karena Jeon yang lainnya saat ini masih berbulan madu, sedangkan Kim mungkin Jin namun bisa jadi Namjoon, tapi karena ini bersama Jeonghan kemungkinan besar Jin.

"Mereka menunggumu di bawah."

"K-kau membiarkan mereka menunggu di pintu belakang?" Yoongi bertanya saat memasuki lift yang akan mengantarkan mereka ke bawah.

"Mereka ingin menunggumu dulu." Jawab lelaki tersebut singkat, lalu sama-sama diam sampai mereka sampai ke pintu belakang di mana teman-teman Yoongi menunggu.

Namun ternyata yang Yoongi dapati bukanlah tubuh kurus tinggi Jin maupun Jeonghan, yang ada justru tubuh besar kedua pamannya.

"Ka-Kang-ssi…" Yoongi memandang tidak percaya ke arah lelaki yang berdiri di belakangnya, dia tidak tahu mengapa lelaki tersebut begitu membencinya.

"Saatnya kau pergi tikus kecil." Dengan itu Kang Ha Jung mendorong tubuh kecil Yoongi ke arah kedua pamannya yang langsung menyentak tangannya dengan kasar.

"Kau begitu menyusahkan." Desis salah satu pamannya sambil menarik rambut Yoongi hingga Yoongi merintih kesakitan.

"A-aku tidak akan ikut denganmu, paman. Aku sudah menikah." Yoongi mencoba melawan namun menghasilkan tarikan di rambutnya yang semakin keras.

"Pernikahan kalian tidak sah." Kini pamannya yang lain yang berbicara sambil menggeret sebelah tangan Yoongi ke arah mobil yang sudah menunggu.

"Ti-tidak. Pernikahanku sah. Kami memiliki surat-suratnya." Yoongi kembali melawan saat semakin dekat menuju mobil pamannya. Dan kali ini perlawanannya membuahkan pukulan keras di samping kepalanya yang membuat pandangannya sedikit mengabur dan ada suara yang berdenging di telinganya.

Rasa sakit itu membuat Yoongi tak bisa kembali melawan, dia hanya mencoba memanggil siapapun, bahkan dia memanggil Kang Ha Jung dan memohon padanya untuk menolong Yoongi, namun lelaki itu hanya tersenyum jahat sambil mengibaskan segepok uang di tangannya.

Sesaat sebelum memasuki mobil, Yoongi melihat seorang anak lelaki di dekat Club ayahnya yang tengah melihatnya dengan mata membulat, tepat sebelum pamannya mendorong tubuhnya ke pintu belakang, Yoongi meneriakan nama Hoshiki ke arah anak lelaki tersebut dan pintu mobilpun tertutup dengan suara keras.

[] TBC []

Hmm, saya bingung, yang bener tuh Hoshiki apa Hosiki? Ehe :D

Saya juga gak tau adat dan system pemakaman di Korea itu bagaimana, kalau di kita kan bisa di mandiin di rumah ya jenazahnya, kalo di Korea gimana? Akhirnya saya nulis bahwa semua proses pembersihan dan yang lainnya di Rumah Sakit… maaf ya kalau ngawur /bow/

Kenapa ya, semangat buat lanjut ini tuh malah muncul di saat titik-titik akhir penghabisan kuota saya… heran, padahal dari kemaren malah semangat nulis yang laen hahaha /yang mana?/ ^o^

Sebenernya saya lagi agak sedih dengan sesuatu hal, gimana yaa? Bikin semangat nulis saya agak menurun dan bikin saya gak pede buat post cerita gaje yang saya bikin T^T /Kenapa jadi curhat?/ /abaikan/

Bingung mau nulis apa lagi… di tunggu kritik dan sarannya yaaa, terimakasih banyaaaaak :*

Maaf pendek TwT

Special Thanks to:

Jimyoungi8895 || restikadwii07 || haneunseok || MinHolly-Nuna || ravoletta || The Min's || littlesugar || LittleDevil94 || anunyajimin || wulancho95 || holly |||| minshubble || dhankim || Guest || rossadilla17 || hibiki kurenai || helenaaaaafela || CandytoPuppy || minyoonlovers || Hanami96 || SweetHoon || dewiseptiany240688 || glowrie || Gigi onta || KazukiNatsu || 27tiavy || rrriiieee || she3nn0 || poongi || Diy94 || achacha || ndahpardd

Terimakasih banyak yaaa, jangan boseeen :* /Kissu/ /jitak/ ehe :D