Inspired from novel "Devil In Winter" by Lisa Kleypas
This story belongs to sureaLive
Cast:
BTS
OC And other(s)
Pairing:
Jimin x Yoongi/Suga
MinGa / MinYoon
Rated:
M (For Theme and Language)
Length:
Chaptered
Warning:
BoysLove, OOC, Typo(s)
Boring || Don't expect too much on this story :"
Slow Plot and Slow Update
Disclaimer:
They are not mine. Belongs to the rightful owner ^o^
Apabila ada kesamaan nama tokoh OC itu bukanlah hal yang disengaja LoL
Summary:
Kami menikah bukan karena cinta. Tapi karena kebutuhan.
[~]
Hope you can enjoy it
[~]
Sebuah tangan langsung menarik Yoongi dengan kasar saat ia baru saja di dorong ke dalam mobil. Dengan masih memegang sisi kepalanya yang di pukul pamannya Yoongi melihat sosok si penarik, dan dia melihat sosok sepupunya yang tengah melihatnya dengan pandangan marah. Sedang mobil yang mereka tumpangi langsung di jalankan oleh supir yang telah siap di balik kemudi.
"Inilah yang kau dapat atas apa yang kau perbuat." Desisi sepupunya dengan sebelah tangannya mencengkram dagu Yoongi.
"Ha-Han Gu?"
"Ya, ini aku. Kenapa kau begitu bodoh, hah? Kenapa tidak kau cari saja cincin itu dan menikah denganku." Han Gu mendesis marah, karena apa yang telah dilakukan Yoongi juga telah menyusahkannya. Orang tuanya menyalahkan Han Gu karena tidak bisa memaksa Yoongi untuk menikah dengannya dan malah membuatnya melarikan diri.
"A-aku tidak bisa. Kau…"
"Tapi akhirnya kau tetap akan menikah denganku. Dan aku dengar ayahmu telah meninggal, jadi itu akan lebih mudah."
"Tidak. Aku s-sudah menikah. Aku tidak akan pernah menikah denganmu." Dengan berani Yoongi balik menatap mata Han Gu yang semakin menatap Yoongi marah.
"Kau jangan bahagia dulu, sayang. Ayahku akan membuat pernikahanmu tidak…" Sebelum Han Gu menyelesaikan kata-katanya mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti. Karena posisi Yoongi yang masih menghadap sepupunya yang masih mencengkeram dagunya kuat, Yoongi tidak bisa melihat apa yang terjadi di sekelilingnya namun dia melihat sepupunya mengumpat dan menyuruh supirnya kembali melajukan mobil namun tidak bisa karena ada 2 mobil lain yang telah menghalangi jalan mereka.
"Apa yang kau tunggu?! Cepat jalankan." Han Gu kembali berseru kasar kepada supirnya.
Suara pecahan kaca di belakang Yoongi menghentikan apapun yang hendak di lakukan oleh supir tersebut. Dan sebelum Yoongi menyadari keadaan sekelilingnya, sebuah suara yang sangat Yoongi kenal terdengar mengancam di belakangnya.
"Lepaskan dia!" Bukannya menuruti perintah suara itu, sepupunya malah menarik Yoongi lebih mendekat ke arahnya, lalu membalikkan badan Yoongi dan melilitkan tangannya di sekeliling leher Yoongi.
"Tidak akan." Lilitan tangan di lehernya semakin mengencang membuat napas Yoongi sedikit tercekat.
Tanpa di duga sang supir menodongkan sebuah pistol ke arah Jimin yang masih menatap marah sepupu Yoongi tersebut. Namun, dengan gerakan cepat Jimin menarik dan memukulkan pistol tersebut ke arah pemiliknya dengan keras.
"Lepaskan istriku atau aku akan meledakan kepala tak berotakmu itu." Jimin kembali memerintahkan Han Gu untuk melepaskan Yoongi, kini dengan di sertai acungan senjata yang berhasil dia ambil alih.
Tahu bahwa posisinya tak menguntungkan, akhirnya Han Gu melepaskan lilitan tangannya dari leher Yoongi. Dan tanpa menunggu lama Jimin langsung menarik Yoongi ke arahnya dan diikuti oleh satu pukulan keras ke arah wajah Han Gu.
"Itu karena kau telah menyentuh istriku. Berani kau memunculkan wajahmu di hadapanku lagi, akan aku pastikan kepalamu hancur di tanganku. Jadi, menghindarlah sejauh mungkin." Setelah itu Jimin keluar dari mobil tersebut diikuti oleh Yoongi yang masih dalam belitan tangannya.
"Kau tidak apa-apa?" Jimin meneliti keseluruhan tubuh Yoongi berharap tak menemukan luka apapun.
Amarah Jimin kembali muncul saat di lihatnya Yoongi meringis ketika ia memegang kepala Yoongi walau Yoongi sendiri mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Hosiki, jaga Yoongi-ku." Yoongi mengalihkan tatapannya kearah Hosiki yang ternyata ikut untuk menyelamatkannya dan kini telah melumpuhkan 2 orang suruhan pamannya yang lain.
Setelah yakin bahwa Yoongi kini aman berada dalam perlindungan Hosiki, Jimin menatap dan mendekat ke arah dua paman Yoongi yang masih memandang mereka dengan marah walaupun keadaan mereka sudah tidak menguntungkan.
"Senang rasanya paman memutuskan untuk berkunjung ke sini." Jimin mentap kedua paman Yoongi dengan senyum di bibirnya, sedang matanya sendiri terlihat sekali masih diliputi oleh amarah.
"Apakah akhirnya paman memutuskan untuk memberikan selamat untuk pernikahan kami?" Lagi-lagi Jimin bersuara, mengabaikan kondisi jalanan yang mulai ramai di hari yang mulai semakin siang.
Sebenarnya Jimin bersyukur atas lokasi tempat mereka berada sekarang bukanlah jalanan utama Seoul yang sudah pasti tidak pernah mengenal sepi, sehingga mereka tidak perlu takut apabila tiba-tiba ada polisi yang mendatangi mereka. Jimin tidak ingin menjadi tontonan, terutama Jimin tidak ingin ayahnya tahu apa yang Jimin lakukan saat ini.
"Tidak ada selamat untuk pernikahan kalian, karena pernikahan itu tidak pernah ada!" Salah satu paman Yoongi akhirnya bersuara.
"Paman tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa Yoongi telah menjadi milikku. Seluruhnya." Jimin berkata santai, bibirnya kembali menampilkan seringaian.
"Tidak ada bukti. Aku akan menyewa pengacara hebat yang bisa menyatakan bahwa sertifikat pernikahan kalian itu palsu."
"Tapi kau tidak bisa menyangkal atas bukti yang aku tinggalkan di sekujur tubuh ponakanmu. Nyatanya aku telah memilikinya seutuhnya. Se-u-tuh-nya, Paman." Jimin kembali berucap dengan memberikan penekanan di beberapa kata. Sedangkan Yoongi sendiri kini tengah melebarkan matanya mendengar kata-kata Jimin. Apa maksudnya itu?
"Kau bodoh Park. Itu bukanlah apa-apa. Siapapun bisa menyentuh tubuhnya." Paman Yoongi kembali berkata kini di sertai dengan kekehan di ujung ucapannya.
"Ahh… Kau menyakiti harga diriku paman. Kau berkata seolah aku tidak sanggup menyenangkan pasanganku di atas ranjang kami sehingga dia harus mencari kesenangan dengan orang lain." Jimin menyentuh dadanya sendiri, mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar terluka dengan ucapan paman Yoongi tersebut. Sedang raut mukanya sendiri semakin menggelap, menandakan bahwa emosinya semakin tersulut. "Dan aku menyimpulkan bahwa kau mengatakan pasanganku adalah seorang murahan yang bisa disentuh oleh siapapun, begitu?"
Dengan gerakan yang tidak disangka oleh siapapun sebelumnya, Jimin memberikan bogeman tepat ke wajah paman Yoongi, melampiaskan amarah atas ucapan yang telah menghina pasangannya. Bagaimana dia tidak marah saat pasangannya direndahkan seperti itu tepat di hadapannya, apalagi dengan kenyataan bahwa Jimin lah satu-satunya orang yang pernah menyentuh Yoongi.
Melihat saudaranya yang jatuh karena pukulan Jimin, paman Yoongi yang lain, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya memberikan balasan kepada Jimin. Jimin yang lengah tidak bisa mengelak dari pukulan itu. Namun dengan cepat, dia memutar tubuhnya dan membalas atas pukulan yang diterimanya tersebut.
Melihat Jimin yang harus melawan kedua pamannya yang memiliki badan besar seorang diri, Yoongi meminta Hosiki untuk membantunya. Karena tidak dapat di pungkiri bahwa Hosiki jauh lebih berpengalaman dalam hal seperti ini, mengingat bahwa perkelahian antar pengunjung Club tidak dapat di hindari sehingga tidak jarang Hosiki harus turun tangan untuk menghentikannya.
"Aku tidak bisa membantunya." Hosiki memberikan penolakan atas permintaan Yoongi. Namun sebelum Yoongi mendebat atas penolakannya, Hosiki kembali bersuara, "Aku akan semakin menyakiti harga diri Jimin kalau aku membantunya. Dia harus melawannya sendiri untuk membuktikan bahwa dia memang bisa melindungimu, Hime. Begitulah lelaki." Hosiki menutup perkataannya dengan senyuman, seakan sisi dirinya yang lain sebenarnya menikamati saat melihat seorang Park Jimin menerima beberapa pukulan di tubuhnya.
Mendengar perkataan Hosiki, akhirnya Yoongi hanya bisa kembali menatap ke arah Jimin yang mulai kepayahan. Walau bagaimanapun dua lawan satu itu bukanlah pertarungan yang seimbang. Namun, karena darah muda Jimin dan juga gerakannya yang lumayan gesit –yang diakui oleh Hosiki bahwa Jimin cukup baik– akhirnya Jimin dapat mengalahkan kedua paman Yoongi.
"Katakan Hime, sebelum Jimin menghampiri kita. Siapa yang membuatmu dapat dibawa oleh pamanmu? Karena aku yakin pasti kau bisa menghindari pamanmu, bagaimanapun caranya." Hosiki bertanya cepat dengan kedua tangannya yang berada di bahu Yoongi.
"Kang-ssi, dia berkata bahwa ada temanku yang menunggu di bawah, aku percaya tentu saja, tapi ternyata…"
"Baik, aku mengerti. Biar aku yang mengatasinya." Hosiki memotong penjelasan Yoongi dengan mengusap lembut rambutnya.
"Baiklah, sudah selesai. Mari kita pulang." Jimin berkata setelah berada di dekat Yoongi dan Hosiki, lalu menarik Yoongi ke arah mobilnya.
"Terimakasih Jung." Dan Hosiki hanya memberikan anggukan atas ucapan terimakasih Jimin.
[~]
Saat mereka kembali ke Club, amarah Jimin belum juga sirna. Bagaimana dia tidak marah, baru saja dia kembali untuk menyelesaikan beberapa urusan Club ia mendapati mobil yang Hosiki tumpangi melewati mobilnya dengan kecepatan yang mengagumkan. Awalnya Jimin tak mengerti, namun penjelasan singkat yang diberikan Hosiki saat menghubunginya melalui ponsel membuat amarah menguasai Jimin dan ia langsung memutar balik mobilnya kembali mengikuti mobil Hosiki.
Berani-beraninya mereka menyentuh Yoongi-nya.
"Kau benar tidak apa-apa?" Jimin kembali bertanya saat dia mengantarkan Yoongi ke kamarnya.
"Iya, hanya sedikit pusing. Di mana ayah?" Yoongi agak memundurkan badan saat dirasakannya Jimin mendekatinya.
"Di Rumah Duka. Hosiki telah mengurusnya." Jimin menaikan sebelah alisnya melihat gerak-gerik Yoongi yang seperti menghindarinya. "Katakan. Bagaimana bisa paman-pamanmu membawamu? Ku pikir kau tidak akan sebodoh itu untuk membiarkan mereka masuk?"
"Ka-Kang-ssi mengatakan bahwa ada temanku yang ingin bertemu, dan dia menyuruh mereka untuk menunggu di pintu belakang. Aku terlalu senang mendengar teman-temanku mengunjungiku maka dari itu aku mengikutinya, tapi ternyata tidak ada teman-temanku…" Suara Yoongi semakin lirih di akhir saat mengulangi penjelasan yang sama dengan yang dia katakan pada Hosiki sebelumnya.
"Kang Ha Jung? Lihat saja aku akan menghabisinya." Suara Jimin berdesis dalam kebencian terhadap lelaki yang telah mencelakai isterinya tersebut.
"Aku ingin bersama ayahku." Yoongi kembali bersuara saat kecanggungan tiba-tiba terasa diantara keduanya.
"Tentu. Bersiaplah…" Yoongi mengangguk, lalu berbalik menuju kamar mandi dengan sebelah tangan yang menyapu sisi kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. "Di mana cincinmu?"
Pertanyaan Jimin yang tiba-tiba menghentikan langkah Yoongi. "Apa?"
"Di mana cincin pernikahan itu?" Jimin kembali bertanya dengan tatapan tajam yang terasa menusuk Yoongi saat dia tidak mendapati cincin di jemari pucatnya.
"O-ooh… aku melepasnya." Yoongi menjawab sambil menempatkan tangannya ke belakang tubuhnya, entah kenapa Yoongi berlaku seperti pencuri yang tengah tertangkap basah.
"Mengapa kau melepasnya?" Kali ini Jimin bertanya dengan mendekatkan langkahnya ke arah Yoongi.
"Tidak apa-apa." Yoongi menghindari tatapan Jimin yang terasa semakin menusuknya.
"Kenapa?"
"A-aku hanya tidak ingin berlaku seperti seorang pasangan menyedihkan yang menunggu pasangannya pulang padahal orang yang ditunggunya tengah bersenang-senang dengan orang lain."
"Apa maksudmu?" Jimin bertanya tak mengerti dengan menarik wajah Yoongi agar menatapnya.
"Kau pasti mengerti." Yoongi memberikan Jimin pandangan marah yang tidak diketahui penyebabnya oleh Jimin.
"Aku tidak." Jimin menjawab cepat, mulai tidak sabar dengan perkataan Yoongi yang sepertinya tidak ingin menjelaskan apapun.
"Aku tahu kau baru kembali dari tempat Meilin Agashi." Akhirnya Yoongi menyuarakan kekesalannya terhadap Jimin yang dia rasakan sejak pagi.
"Meilin?" Jimin bertanya bingung sebelum dia mengerti apa maksud dari perkataan Yoongi yang berbelit-belit. "Kau mengira aku telah bersenang-senang di tempat Meilin?"
Yoongi tak menjawab, namun dari gerakannya yang membuang muka dari Jimin, Jimin tahu bahwa apa yang dia katakan adalah benar.
"Kau si bodoh. Apakah kau tidak mengerti saat aku mengatakan bahwa aku menginginkanmu? Bagaimana aku bisa tidur dengan orang lain sedangkan orang yang aku inginkan berada di atas ranjangku adalah dirimu." Jimin berbisik tepat di sisi telinga Yoongi yang masih memalingkan wajahnya.
"Ta-tapi kau mendatangi tempat Meilin Agashi sejak pagi." Suara Yoongi lirih, tapi Jimin masih bisa mendengarnya dengan cukup jelas karena jaraknya yang begitu dekat.
"Aku ada urusan dengannya masalah Club."
Yoongi kini kembali menatap Jimin, namun Jimin menangkap sorot tidak percaya dari manik caramel Yoongi.
"Ada beberapa hal yang ingin aku rubah tentang Club. Salah satunya aku telah memulangkan semua pelacur yang di pekerjakan oleh ayahmu. Sebagai gantinya aku bekerja sama dengan Meilin untuk menyediakan beberapa wanita penghibur. Jadi, lantai 7 kini hanya untuk para pekerja yang memang tidak mempunyai tempat tinggal. Sedangkan lantai 6 aku akan mengubahnya menjadi kamar-kamar yang bisa di sewa oleh para tamu Club sehingga mereka tidak perlu mencari Hotel di keadaan yang mendesak."
Penjelasan Jimin yang panjang di tutup oleh seringaian menggoda ke arah Yoongi, dan saat di dapatinya pipi pucat Yoongi merona, dia tahu bahwa Yoongi mengerti akan maksud dari godaannya akan keadaan 'mendesak' apa yang sekiranya di alami oleh para tamu Club ayahnya itu.
"Jadi, kau melepas cincin itu karena kau kesal, huh? Yoongi-ku yang manis." Jimin menutup perkataannya dengan menciumi di sepanjang rahang dan dagu Yoongi, menghasilkan desah napas Yoongi yang mulai tidak teratur.
"Aku ha-hanya…"
"Tidurlah denganku." Kembali Jimin mengungkapkan keinginannya terhadap Yoongi.
"Tidak." Yoongi kembali memberi jawaban yang sebenarnya sudah dapat Jimin tebak.
"Aku akan setia, aku berjanji. Aku hanya menginginkanmu, Yoongi." Lagi-laagi Jimin mencoba peruntungannya, berharap semoga pertahanan Yoongi telah luruh.
"Kau tidak. Aku tahu kau tidak akan bisa setia." Yoongi berkata disela desahannya saat Jimin mulai menjilati bagian sensitif Yoongi di belakang telinganya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya? Haruskah kita membuat perjanjian lainnya?" Kini Jimin memberikan gigitan di tulang rapuh daun telinga Yoongi.
"A-aku membutuhkan bukti."
"Bukti?"
"Kau tidak boleh tidur dengan siapapun dalam waktu yang aku tentukan." Yoongi mencoba menjauhkan wajahnya walau gagal.
"Baik, lagipula aku hanya menginginkanmu."
"Tidak, maksudku dalam jangka waktu itu kau tidak bisa tidur dengan siapapun termasuk aku." Akhirnya Jimin menjauhkan wajahnya dari leher Yoongi yang telah menjadi objek bibirnya dari beberapa saat yang lalu.
"Kau ingin aku melakukan selibat?" Jimin bertanya dengan melebarkan kedua matanya tidak percaya. Yoongi pasti gila.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Bagaimana kalau satu tahun? Setelah itu aku akan tidur denganmu." Tak menyadari tatapan mematikan Jimin, Yoongi kembali melanjutkan perkataannya.
"Kau pikir kau sehebat itu sehingga aku harus menunggumu satu tahun?!" Jimin bertanya dengan emosi.
"Aku tidak. Kau tahu, kau bisa tidur dengan siapapun. Dan aku tidak akan pernah tidur denganmu." Yoongi memberikan senyum menggoda saat melihat emosi yang mulai merambati Jimin.
"Sialan kau, Yoongi. Kau tahu hanya kau yang ku inginkan berada di atas ranjang bersamaku." Jimin melilitkan tangannya di sekeliling pinggang ramping Yoongi. Begitu erat dan hampir menyakiti Yoongi. Namun Jimin tidak peduli, dia hanya ingin Yoongi tahu bahwa dia memang benar-benar menginginkannya.
"Kalau begitu satu tahun." Yoongi dapat melihat kilat frustasi di bola mata hitam Jimin, tapi Yoongi akan terus mempertahankan penawarannya. Dia juga menginginkan Jimin, namun Yoongi butuh di yakinkan sebelum menyerahkan dirinya bulat-bulat.
"Yoongi, tidak sehat bagi lelaki jika mereka tidak mengeluarkan, kau tahu, dalam jangka waktu yang lama." Jimin mencoba bernegosiasi. Jimin yakin bahwa dia akan impoten kalau tidak bisa menyalurkan gairahnya.
Pipi pucat Yoongi dihisasi semburat merah karena perkataan Jimin.
"Kalau begitu 6 bulan." Yoongi akhirnya memberikan penawaran.
"Satu bulan?"
"Tiga bulan atau tidak sama sekali. Kau bebas meniduri siapapun yang kau inginkan, Jimin, aku tidak melarangmu, kau tahu itu."
"Ya, kau hanya melarangku untuk tidur denganmu, dan kau adalah satu-satunya yang aku inginkan." Jimin berkata dengan frustasi, wajahnya ia tenggelamkan di lekukan leher putih Yoongi. "Di mana cincin sialan itu?"
"Untuk apa?" Yoongi bekata bingung atas perubahan subjek pembicaraan yang dilakukan oleh Jimin.
"Di mana, Yoongi?"
Akhirnya Yoongi menjauhkan badannya dari Jimin dan memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, mengambil cincin pernikahan yang sebelumnya ia lepaskan.
"Mau kau apakan?" Yoongi masih menyembunyikan cincin itu dalam genggamannya, takut Jimin akan membuangnya karena marah. Walau bagaimanapun Yoongi menyukai cincin itu, dia yang memilihnya sendiri.
"Berikan padaku." Tanpa menjawab pertanyaan Yoongi, Jimin masih meminta cincin tersebut. Melihat kilatan tajam di mata Jimin, akhirnya Yoongi memberikan cincin tersebut kepada Jimin walau dengan berat hati.
"Aku menerima tawaranmu. Setelah tiga bulan, bersiaplah di ranjangku." Jimin berkata setelah memasukan cincin yang sebelumnya di pakai Yoongi ke dalam jemarinya. Karena ukuran jari Yoongi lebih kecil darinya, sehingga Jimin hanya dapat memasangkan cincin itu di jari kelingkingnya.
Melihat Jimin memasukkan cincin miliknya ke jarinya sendiri membuat Yoongi terdiam bingung, hingga dia tidak menyadari saat Jimin mulai melumat bibirnya dengan rakus.
"Dalam tiga bulan aku tidak akan menidurimu. Tapi kau tidak bisa melarangku untuk menciummu, sebanyak apapun yang ku mau. Di manapun itu aku menciummu." Dengan itu Jimin kembali melahap habis bibir Yoongi yang masih memerah karena lumatan sebelumnya.
[~]
Keesokan harinya, pemakaman ayah Yoongi di lakukan dengan di iringi gerimis tipis yang telah turun sejak semalam. Dengan memakai setelan hitamnya, Yoongi mengikuti prosesi pemakaman dengan khidmat sampai akhir, didampingi oleh Jimin dan Hosiki yang berdiri di kiri-kanannya saat ia menerima ucapan bela sungkawa dari orang-orang yang datang di penghormatan terakhir ayahnya.
Orang yang menghadiri pemakaman Min Yoosuk tidak bisa dibilang sedikit, dilihat dari deretan mobil yang memenuhi area luar pemakaman dapat disimpulkan bahwa ia di semasa hidupnya bukan hanya seorang lelaki yang dikenal sebagai pemilik Club, namun juga seseorang yang memiliki pergaulan yang luas, bahkan ada beberapa pengusaha ternama juga terlihat disana.
Saat tanah terakhir menutup peti mati ayahnya, rasa sesak kembali mengimpit dada Yoongi. Kini ia hanya sebatang kara di dunia ini, dia tidak pernah mengenal ibunya di sepanjang hidup, walaupun selama ini Yoongi tidak tinggal dengan ayahnya, tapi setidaknya dia tahu bahwa ayahnya masih ada, namun kini ayahnyapun telah meninggalkannya.
Untuk menghindari air mata yang mulai menggenang, Yoongi mengalihkan tatapannya dari pusara sang ayah, dan mulai mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang mulai meninggalkan pemakaman. Awalnya Yoongi tidak terlalu memperhatikan orang-orang tersebut, hingga matanya menemukan seseorang yang tengah menatapnya di balik sebuah pohon yang posisinya lumayan jauh dari tempat Yoongi berdiri saat ini.
Walaupun jaraknya jauh, tapi Yoongi yakin bahwa sosok itu adalah dia, sosok yang sama dengan orang yang telah mengumpankan Yoongi kepada pamannya kemarin, sosok itu adalah Kang Ha Jung.
Lelaki itu menatap Yoongi penuh dengan kebencian, sedang bibirnya menyunggingkan seringai kejam yang membuat Yoongi ketakutan. Lalu Yoongi melihat sosok itu menggerakan jari telunjuk kanannya ke arah lehernya, menarik dari sisi kiri ke kanan, gerakan yang kita kenal saat seseorang tengah memperagakan gerakan memotong sesuatu. Dan tubuh Yoongi semakin bergetar ketakutan sedang matanya tetap ia pakukan hingga sosok itu menghilang diantara pelayat lain.
Merasakan tubuh Yoongi yang gemetar di sisinya, Jimin menarik pingganng Yoongi agar lebih mendekatinya. "Kau kedinginan?" Tanyanya dengan lebih mengeratkan belitan lengannya.
Tidak ingin membuat Jimin diliputi kembali oleh amarah, akhirnya Yoongi berbohong dan menganggukan kepalanya.
"Kita akan segera pulang. Tunggu di sini, aku akan berbicara sebentar dengan pendeta." Lalu Jimin meninggalkan Yoongi bersama Hosiki setelah memberikan usapan pada pipinya yang terasa dingin.
"Hosiki, tadi aku melihat Kang-ssi." Yoongi berbicara pelan saat jarak Jimin sudah lumayan jauh.
"Kau yakin, Hime? Di mana?" Yoongi mengangguk lalu menunjuk ke arah pohon tempat di mana Kang Ha Jung sebelumnya berdiri.
"Lalu di pergi setelah melakukan ini." Yoongi memperagakan gerakan persis seperti apa yang pegawai ayahnya itu lakukan membuat Hosiki yang melihatnya melebarkan matanya bingung.
"Kau tidak perlu khawatir, oke. Sejak kemarin aku tidak bisa menemukannya, sekarang aku akan mencarinya sebelum dia semakin jauh." Lalu Hosiki pergi dengan tergesa saat dia melihat Jimin sudah selesai dengan urusannya.
"Kemana Hosiki?"
"Dia ada urusan dengan temannya." Yoongi menjawab asal atas pertanyaan Jimin dan mereka meninggalkan pemakaman saat hujan semakin menderas.
[~]
Hosiki berlari ke arah yang di tujukan oleh Yoongi, dan terus mengikuti jalanan tersebut hingga ia sampai ke daerah yang terlihat agak kumuh dengan deretan toko yang sudah tak terpakai.
"Ha Jung." Hosiki mulai memanggil, karena entah kenapa dia merasa bahwa Kang Ha Jung tahu bahwa dia mengikutinya.
"Ha Jung-ah, aku tahu kau mendengarku." Hosiki kembali memanggil, berharap kali ini Ha Jung akan menjawabnya.
"Aku tahu kau akan mengikutiku. Kau selalu melakukan apapun untuk tikus kecil itu." Akhirnya sebuah suara serak menyahut panggilan Hosiki, namun dia tidak bisa menemukan sosok pemilik suara itu.
"Aku tak mengerti mengapa kau melakukan semua ini, Ha Jung-ah. Tuan Min pasti sedih melihat kau melakukan ini."
"Ya, dia pasti sedih karena aku telah mencelakai anak kesayangannya." Suara Kang Ha Jung terdengar penuh dengan kebencian.
"Bukan hanya itu. Ini bukan hanya masalah Yoongi. Ini tentang kau, Ha Jung-ah. Tuan Min juga peduli padamu." Hosiki masih mencari keberadaan kang Ha Jung. Sahabatnya.
Ya, sahabat. Mereka besar dan tumbuh bersama-sama di bawah perlindungan Min Yoosuk. Bahkan Hosiki sudah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri.
"Peduli apa? Lelaki tua itu bahkan tidak mengakui keberadaanku." Kali ini suaranya terdengar lebih keras, pertanda bahwa dia mulai diliputi amarah.
"Dia peduli, dia mengkhawatirkanmu. Kau tahu apa pesan terakhirnya. Dia memastikan padaku bahwa kau mendapatkan warisanmu." Hosiki menjawab dengan suara yang tidak kalah keras.
"Dia mengatakan itu setelah maut sudah hampir menjemputnya. Kemana dia selama ini, yang dia pikirkan hanya tikus kecil itu. Hanya karena aku terlahir dari seorang pelacur dia tidak pernah mengakuiku." Teriakan Kang Ha Jung kembali menjawab perkataan Hosiki.
"Tapi kau tahu sendiri selama inipun kehidupan Yoongi tidak sebaik itu. Bahkan mungkin dia lebih menderita dari kita."
"Dia pantas mendapatkannya. Seharusnya dia tidak pernah ada."
"Jangan seperti itu. Walau bagaimanapun dia saudaramu, Ha Jung-ah. Satu-satunya saudaramu. Kembalilah. Mari kita bicarakan semuanya. Yoongi tidak membencimu, apalagi kalau dia tahu bahwa kau adalah saudaranya."
"Aku tidak pernah mengharapkan mempunyai saudara sepertinya. Lelaki lemah yang bahkan tidak bisa melawan paman-pamannya yang tamak itu."
"Ha Jung-ah…"
"Pergilah, Hosiki."
Dengan itu tidak ada lagi suara, baik dari Hosiki maupun dari Kang Ha Jung sendiri. Hanya ada suara hujan yang semakin membasahi tubuh jangkung Hosiki yang dibalut mantel hitam. Tuan Min, aku harus bagaimana?
[~]
TBC
[~]
Hmm, satu bulan… apa setahun yaa? ehe
Maaf ya atas lamanya update chapter ini… /bow/ Maaf juga karena pendek, padahal pengennya bikin yang panjang~ tapi, udah mentok T^T
Hmm, apa lagi ya… oh, saya memilih ayah Yoongi nggak di kremasi karena di sesuaikan dengan ceritanya. Atas kejanggalan apapun dalam cerita ini mohon di maklumi ya, saya masih belajar hehe
Di tunggu kritik dan sarannya~ /kiss/
Saya kangen Yoongi T^T
Special Thanks To:
Jimyoungi8895 || minshubble || Guest(1) || restikadwii07 || MiniHolly-Nuna || dhankim || Shitae || CandytoPuppy || ndahpardd || taekookga ||Caramelia Jung || LittleDevil94 || arvitakim || haneunseok || rossadilla17 || Minsoo-ie || wulancho95 (baperan~ ehe) || glowrie (alarm T^T) || Guest(2) || Guest(3) || Park RinHyun-Uchiha || Hanami96 || Gigi onta || wow11 || she3nn0 || Nyonya Jung || minyoonlovers || SweetHoon || Guest(4) || Joty Army || anunyajimin || Namjoon's Hair Band || 27tiavy || Diy94 || MiniMinyoonMini || Shui Jing || XiayuweLiu || aya anezaki || syugarmin || Jimsnoona || kim kookie tae || ORUL2
Terimkasih ya atas semua saran dan tanggapannya… terimakasih juga buat yang udah baca cerita saya yang sebelah hehe…
Jangan bosen yaa, di tunggu review lainnya~~ /kiss kiss/
Bagi MinYoon / MinGa shipper~ baca juga cerita di akun MinGa Dudes yaa, siapa tau suka~ ehe /promo/
#TeamTopJimin
#TeamBottomYoongi
