[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 02/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto and Uchiha Sasuke.
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


Uzumaki Naruto.
24 tahun.

Neji menghubungiku, dia menyuruhku untuk mengecek e-mailku sekarang.

Hey, Dobe!
Aku telah kembali! Apakah kau merindukanku?
Kurama-chan merindukanmu.

Sasuke melampirkan sebuah foto dirinya yang sedang memeluk Kurama-chan dengan erat.

Bulunya masih orange cerah seperti baru, tidak ada noda dan bekas jahitan, dia merawat Kurama-chan dengan baik.

Lho, Kok Kurama-chan?!

"Teme! Kurama itu laki-laki! Mengapa kau malah menambahkan embel-embel 'chan'?!", teriakku di depan Kyuubi -laptop kesayanganku- sambil menunjuk wajah Sasuke yang tersenyum, dia tersenyum..

Dia semakin manis, imut dan menggemaskan.
"Ah~ I miss you~", aku memeluk Kyuubi.

Tulalit...Tulalit...
Ponselku berbunyi.
Panggilan dari Neji.

"Yo!", sapaku.
"Kau dapat e-mail darinya?", tanya Neji.
"Hn!", anggukku.
"Dia telah kembali",
"Bisa kita mulai?", seringaiku.


Permainannya cukup simple. Aku hanya perlu berpura-pura amnesia, aku harus beracting sebaik mungkin agar Sasuke percaya bahwa aku benar-benar lupa padanya. Sedangkan Neji bertugas mempengaruhi teman-temanku. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Neji, yang jelas teman-temanku mau ikut terlibat dalam permainan ini.

Mengapa aku melakukan ini? Alasan yang pertama, tentu saja untuk memberi pelajaran pada Uchiha Bakasuke yang telah membuat kami cemas bertahun-tahun. Selama di Jerman, dia tidak menghubungi kami lagi. Beruntung ada Itachi-san yang bisa kuhubungi. Kalau tidak ada Itachi-san, mungkin aku akan menyusul Sasuke ke Jerman saat itu. Aku akan membuatnya merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Dia harus lebih menghargai perasaan orang lain. Aku ingin melihat usahanya untuk mengembalikan ingatanku.

Alasan kedua, aku ingin memastikan apakah Sasuke masih mencintaiku atau tidak? Seharusnya sih dia masih mencintaiku, tapi apa salahnya kalau dipastikan lagi..heheheee...


Di sebuah cafe.
Aku menunggu kedatangan Sasuke. Jantungku terus berdebar, aku sangat merindukannya.

Diapun datang, dia duduk tepat di hadapanku. Wajahnya tetap manis, imut, menggemaskan dan whateverlah. Rambutnya agak pendek, tapi modelnya tetap pantat ayam. Dia sedikit lebih tinggi -tapi tidak lebih tinggi dari aku-, tubuhnya tidak sekurus dulu.

Puja Dewa Jashin! Wuluwuluwulu...
Dia punya otot!

"Hai, Dobe!", sapanya.

Sudah lama sekali aku tidak mendengar suaranya. Dia tetap memanggilku 'Dobe', meskipun artinya jelek, tapi aku suka panggilan kesayangannya ini.

"Kau memanggilku?", tanyaku.
"Kau tidak ingat padaku?", tanya Sasuke sambil menatapku dengan intens.

Wajahnya begitu dekat, aku ingin sekali menciumnya, tapi...

"Kau siapa? Dan, jangan menatapku!", ketusku berpura-pura risih, bagaimanapun juga, aku tidak ingin menggagalkan permainan ini.
"Kau benar-benar tidak ingat?", tanyanya lagi.
"Kalau aku ingat, untuk apa aku bertanya siapa kau?", dengusku.

Wajahnya perlahan menjauhiku, aku bisa bernafas lega, karena melihat wajahnya yang begitu dekat, membuatku ingin menerkamnya.

"Dia benar-benar tidak ingat", guman Sasuke yang masih bisa terdengar jelas olehku, wajahnya sangat kecewa.

Aku berdiri sebentar untuk memperkenalkan diriku padanya.
"Uzumaki Naruto!", jelasku.
"Sasuke", jawabnya pelan, pandangannya menatap ke bawah, dia bahkan tidak menjabat tanganku.

Sasuke hanya diam, dahinya mengkerut-kerut, apa yang dipikirkannya?

"Kau sakit?", tanyaku menyentuh dahinya, suhu tubuhnya normal, dia tidak demam.
"Rasanya...sakit...", lirihnya mencengkram bagian dadanya.

Rasa cemasku muncul, aku takut penyakitnya kambuh lagi.

"Kuantar kau pulang", aku merangkulnya.

Dia memegang kepalaku, kedua mata kami saling bertatapan. Onixnya begitu sendu, bibirnya bergetar, apakah dia akan menciumku? Come on! Cium aku, Suke!

"Kau menyakitiku!", teriak Sasuke tiba-tiba sambil menabrakkan kepalaku ke kepalanya.

Aku terjatuh dan meringis kesakitan.
"Bakasuke!", marahku.

Onix itu terbalik dan memutih, tubuhnya lemas lalu jatuh menimpaku.

"Benar-benar bodoh!", desisku.

Neji keluar dari tempat persembunyiannya, dia membantuku mengangkat tubuh Sasuke dan membawanya ke dalam mobilku. Karena kepalaku pusing, Nejilah yang menyetir dan membawa kami pulang ke mansionku.

"Dia tidak berubah", aku tersenyum nyeri saat aku memijit dahiku.

Neji tertawa pelan.
"Kau selalu membuatnya marah", ejek Neji.
"Aku senang menggodanya..heheheee...",
"Dan inilah hasilnya", Neji menekan dahiku yang memar.
"Huh!", dengusku.
"Sebaiknya kau pindah ke belakang, aku takut dia terjatuh", Neji menunjuk Sasuke yang terbaring di bangku belakang kami.
"Hn! Kubiarkan kau hari ini menjadi supir", ejekku.
"Yeah, supir darurat untuk hari ini saja",

Aku pindah ke bangku belakang. Kuletakkan kepala Sasuke di pangkuanku. Kuelus pipinya yang gempal dan halus. Kutoel-toel hidung mancungnya.

"Jangan mengganggunya, dia tidak bisa tidur semalaman", tegur Neji yang menatapku di balik kaca spion.

Pantas saja ada lingkar hitam di bawah matanya.
Kau tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan aku ya?

CHuuuu~
Kucium bibirnya yang lembut.

"Ehem", Neji berdehem.

Kuangkat wajahku untuk melihat Neji.

"Kau tidak cemburu kan?", tanyaku.
"Entahlah", jawab Neji ragu, Neji tampak salah tingkah.

Apakah dia masih menyukai Sasuke?


Setelah menunggu 6 jam lebih, akhirnya pangeran cantik ini terbangun dan membuka kedua matanya.

Kata pertama yang diucapkannya adalah 'Dobe'. Dia tampak bingung dengan keadaan sekitar. Saat kuangkat poniku sehingga menampakkan dahiku yang bengkak dan memar, barulah dia sadar apa yang telah terjadi.

Dia malah marah dan menyalahkanku. Dia marah karena aku tidak mengingatnya.

"Sebenarnya kau siapa? Mengapa kau begitu marah karena aku melupakanmu?", tanyaku.
"Tentu saja aku marah! Kau telah melupakan pacarmu yang paling imut dan menggemaskan ini! ", teriaknya kesal.

Puja Dewa Jashin dan sesepuhnya! Wuluwuluwulu...
Akhirnya! Inilah yang ingin kudengar dari mulutnya!
Dia masih menganggapku pacarnya!
Ya, Suke! Kau tetap pacarku yang paling imut dan menggemaskan!

"Haah? Kau...pacarku?", tanyaku terkejut dan berpura-pura ragu.

Dia menunduk, tangannya mencengkram sprei dengan erat. Dia pasti kesal padaku.

"Kau tidak merasa ada chemistry di antara kita?", tanyanya.

Chemistry? Tentu saja ada!
Tapi aku kan sedang berpura-pura. Bagaimana menyikapinya ya?

"Pertama kali kita bertemu, saat melihat matamu, aku merasa bahwa kau...mmm~special, mungkin?", jelasku, semoga dia tidak marah.
"Lho? Kok pakai 'mungkin'! Aku ini memang special!", protesnya.

Aku tersenyum melihat tingkahnya ini. Ketika dia menggembungkan pipinya, dengan gemas aku menarik pipinya itu. Dia menepis tanganku, takut dia akan marah, maka aku langsung memeluknya. Dia juga memelukku dengan erat.

Kau rindu padaku? Aku juga sangat saaaangat merindukanmu!

"Aneh, ya. Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu. Melihat wajahmu, rasanya rindu. Maaf, aku tidak ingat padamu, tapi bisakah kau membantuku mengingatnya?", aku kembali beracting, aku ingin tahu seperti apa usahanya untuk mengembalikan ingatanku tentangnya?

"Hn!", kuanggap itu 'iya'.
"Hn?",
"Dobe!",
"Hey, Dobe itu aku ya? Hehehee...",
"Dasar Dobe jelek dan menyebalkan!",
"Hey, jangan mengejekku!",

Dia tidak pernah berubah.
Dasar Bakasuke, si teme pantat ayam, pacarku yang imut dan menggemaskan!


Malam harinya, Sasuke menginap di mansionku. Aku mengizinkannya, karena aku ingin terus bersamanya.

Saat ini Sasuke sedang asyik memainkan game PS. Tangannya dengan licah menekan-nekan joystick, mulutnya tidak henti-hentinya berseru-seru.

"Hey, Dobe! Aku lapar!", Sasuke menyudahi permainannya.

Sasuke berbaring di sofa.
"Seharian ini aku belum makan~", rengeknya sambil mengelus-ngelus perutnya.
"Kau tidak kasihan padaku?", dia menatapku dengan ekspresi kucing minta makan.
"Kau mau makan apa?", tanyaku.
"Ramen!", jawabnya antusias.

Sasuke melompat turun dari sofa.
"Ayo kita ke Ichikaru Ramen!", ajak Sasuke.
"Ichikaru? Aha! Maksudmu Ichiraku Ramen?", ralatku.
"Whateverlah! Aku lapar!", katanya cuek.

Hey, Sasuke! Daya ingatmu sangat buruk! Jangan-jangan kau lupa semua kenangan tentang kita?


Sesampainya di Ichiraku Ramen.

Sasuke hanya diam memandangi ramen pesanannya. Dahinya mengkerut, digigitnya bibirnya, seolah-olah sedang berdebat dengan semangkuk ramen di hadapannya.

"Apa yang kau pikirkan?", tanyaku.
"Bolehkah aku memakannya?", tanyanya.
"Kenapa tidak? Bukankah kau ingin makan ramen?", tanyaku heran.

Jelas-jelas tadi dia sangat antusias, sekarang dia malah ragu.

"Aku ingin, tapi ini berlemak dan pedas", lirihnya.
"Kau tidak suka pedas?",

Dia menggeleng.
"Kau diet?",

Dia menggeleng lagi.
"Lalu?", tanyaku.
"Ah! Sekali-kali juga tidak masalah! Itadakimasu!", Sasuke langsung menyumpit dan melahap ramennya.

Dia tersenyum gemas menikmati ramennya. Seperti bertahun-tahun tidak makan ramen saja.

"Di Jerman tidak ada ramen?", tanyaku.
"Ada!",

Jashin! Aku keceplosan! Sasuke kan belum menyinggung tentang Jerman!
Semoga saja dia tidak menyadarinya.

"Pasti rasanya tidak seenak yang di Konoha! Hehehehee...", tebakku.
"Hn!", angguknya.
"Ichikaru Ramen paling top markotop!", seru Sasuke.
"Ichiraku bukan Ichikaru!",
"Whateverlah!",

Dia memang tidak mendengarku dengan baik!


Karena di mansion ini cuma ada 1 kamar yaitu kamarku. Aku tidak menawarkannya untuk tidur di kamar, dan dia juga tidak keberatan tidur di sofa. Padahal aku ingin tidur seranjang dengannya, tapi dia tidak meminta, ya sudahlah!

Aku tidak bisa tidur, akupun keluar memeriksa keadaan Sasuke. Aku tersenyum geli melihatnya terbaring tidak tenang di atas sofa. Pangeran satu ini tidak terbiasa tidur di tempat yang sempit.

Aku menghampirinya, dia bilang dia tidak bisa tidur, lalu aku mengajaknya untuk berbicara. Banyak hal yang dia ceritakan tentang dirinya. Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya. Dia masih menyimpan foto-foto kami ketika kuliah dulu, tidak kusangka ternyata dia suka mengoleksi fotoku yang sedang tertidur dengan mulut terbuka. Semua foto jelekku ada padanya.

"Lihat! Betapa jeleknya kau, Dobe!", Sasuke menunjukkan slide gambar dari tabletnya.
"Ini juga! Nah! Ini lebih jelek lagi!", Sasuke tertawa mengejek.

Teserah deh! Mau mengejekku terus juga tidak masalah, asalkan bisa membuatnya tertawa, itu sudah membuatku bahagia. Bahagia itu sederhana, teman!

Pandanganku tertuju pada omamori yang masih tergantung di tabletnya. Ada 5, masih lengkap, dia merawatnya dengan baik.

Sasuke bertanya padaku, omamori pemberianku berwarna apa? Tentu saja kuning, sengaja kupilih sewarna dengan warna rambutku agar dia mudah mengingatnya. Aku tahu Sasuke punya ingatan yang cukup buruk.

"Ne, Sasuke-san! Apa kau masih mencintaiku?", tanyaku, tiba-tiba pertanyaan itu melintas di otakku.
"Hn?", wajah bahagianya mendadak luntur, pertanyaanku ini tidak tepat pada waktunya ternyata.
"Aku lupa padamu, aku juga lupa pernah mencintaimu, aku lupa segala hal tentangmu",
"Kau pikun!", ketusnya.

Dia menutup wajahnya dengan bantal.
"Sasuke-san?", panggilku.

Dia marah ketika aku memanggilnya 'Sasuke-san'. Sebenarnya berat juga harus memanggilnya seperti ini.

Dengan wajah marah dia menarik kerah piyamaku, dia menabrakkan bibirku ke bibirnya. Dia menciumku sekilas dan kembali menutup wajahnya dengan bantal.

Ada rasa besi di bibirku, aku menjilat bibirku yang berdarah. Bibirku tidak terluka? Jangan-jangan bibir Sasuke berdarah karena terbentur gigiku?

"Sasuke-san, biar kulihat bibirmu", aku cemas jika dia berdarah.
"Pergi! Aku mau tidur!", usirnya.

Aku memeluknya mencoba menenangkannya, tapi dia malah mendorongku menjauh darinya. Bahunya bergetar, aku telah menyakitinya.

"Oyasumi", sebaiknya aku menjauh darinya sebelum dia mengamuk.

Well, Uzumaki Naruto, begitu mudahnya kau buat dia tertawa dan begitu mudah pula kau membuatnya menangis.


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, tanganku mendial nomor Neji di ponselku.

"Yo!", sahut Neji.
"Neji~", panggilku dengan nada manja.
"Ada apa?",
"Kita sudahi saja permainan ini",
"Haah?! Dia sudah tahu?",
"Dia belum tahu",
"Lalu?",
"Aku menyakitinya, aku membuatnya menangis..huhuhu...", jelasku ber-huhuhu ala Sasuke.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membuatnya menangis?", tanya Neji dengan nada tinggi, mungkin dia marah padaku.

Aku menjelaskan semuanya secara singkat pada Neji. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi permainan ini. Kami takut kebohongan ini akan mempengaruhi kesehatan Sasuke. Besok aku akan mengaku pada Sasuke. Aku tidak menyangka permainan ini akan cepat berakhir, padahal aku baru saja memulainya hari ini.

Yah, mau bagaimana lagi?


Keesokan pagi harinya.

Kulihat Sasuke sudah bangun, dia melamunkan sesuatu. Aku menegurnya, dia hanya membalas dengan 'hn' saja. Jiwanya masih belum terkumpul sepenuhnya.

Aku ke dapur untuk membuat sarapan. Aku mengintip Sasuke dari sela-sela rak yang membatasi dapur dengan ruang tamu, tempat Sasuke sekarang.

Sasuke sedang terbaring, kedua matanya terpejam. Kurasa dia kurang tidur. Dengan iseng, aku mendendangkan irama Brahms' Lullaby, lagu pengantar tidur untuk Sasuke.

Dia memintaku untuk menyanyikan lagu itu untuknya. Aku menurutinya, aku mulai bernyanyi dan sengaja membuat liriknya berantakan. Kupikir dia akan memprotesku, tapi ternyata dia malah terhanyut dan tertidur dalam buaian laguku.

Dia pasti semalaman tidak bisa tidur lagi.
"Maaf, aku telah menyakitimu", kusentuh bibirnya yang terluka sebelum kukecup singkat.


Ketika dia terbangun, aku langsung memasang wajah kesal. Seolah-olah aku marah padanya karena sudah membuat sarapan yang kubuat ini dingin.

"Kau bisa memanaskannya lagi", katanya dengan santai dan cuek.
"Panaskan saja sendiri! Aku ada urusan!", ketusku.

Aku tidak boleh membuang waktuku hanya untuk berdebat dengannya. Sebaiknya aku menyelesaikan permainan ini secepatnya.

"Kau mau kemana?", tanyanya.
"Kencan", jawabku.

Wajahnya berubah sendu. Ketika dia ingin pulang, aku langsung mencegahnya. Kutarik paksa agar dia mengikutiku.


Di perjalanan, dia terus mengerucutkan bibirnya. Dia lebih memilih diam dan menatap pemandangan di luar sana daripada menatap wajah tampanku ini.

"Hidung dan bibirmu tidak sedang balapan kan?", candaku.
"Huh!", dia mendengus sebal.
"Dahimu masih sakit?", tanyaku.
"Aku ingin pulang!",
"Kau tidak boleh pulang dulu! Ini hari yang spesial untukku", cegahku.
"Ya, hari yang spesial untukmu, dimana kau berkencan dengan 2 pacarmu sekaligus!", sindirnya.
"Jangan begitu, ini juga hari yang spesial untukmu",
"Untukku? Aha! Spesial untukku karena aku menjadi saksi kemesrahan kalian berdua?",
"Bukan itu",
"Lalu? Ah! Spesial untukku karena aku melihat pacar barumu yang jauh dari kata 'imut dan menggemaskan', bisa dibilang 'amit dan menggenaskan'?",
"Berhentilah menjelek-jelekkan orang!",
"Lalu apa hah!", teriaknya.
"Nanti kau akan tahu",
"Fine! Aku ingin pulang!",
"Nanti, setelah kita berkencan!",

Kami sudah sampai di Konoha Land. Perdebatan kamipun terhenti.

"Kau pernah ke sini?", tanyaku.
"Pernah", jawabnya, pandangannya terfokus pada wahana di sana.
"Ini pertama kalinya aku ke sini, mungkin aku sudah pernah ke sini sebelumnya, tapi aku lupa", kataku, aku masih harus beracting hingga malam nanti.

Aku menyuruh Sasuke untuk menunggu, karena pacarku yang lain belum datang, sebenarnya aku tidak punya pacar selain Uchiha Sasuke...heheheee..


Sudah 1 jam kami menunggu di luar gerbang Konoha Land. Sasuke mulai memanas. Aku hanya bisa tersenyum dengan wajah sendu, seolah kecewa dengan pacar yang tidak kunjung datang saat berkencan.

"Kita masuk saja", ajakku.
"Kita pulang saja!",
"Ne, Suke~ Hari ini...hari ulang tahunku... Dia tidak ingat, dan kau...juga...", lirihku sedih sesedih-sedihnya.
"Aku ingat!", bantahnya cepat.
"Benarkah?",
"Hn!", angguknya.
"Ayo, kita main sampai kering!", ajaknya dengan antusias.

Hey, Suke! Kau memang pikun. Ulang tahunku bukan hari ini, tapi besok.


Tidak terasa hari sudah senja. Sasuke sangat excited mencoba berbagai wahana. Tidak ada kata lelah di wajahnya. Dia sudah sembuh!

"Semangat masa muda!", seru Sasuke.

Ah! Inilah saatnya pengakuan.

"Ne, Suke~", panggilku.
"Ya?",
"A, ada yang i, ingin kukatakan...", jelasku terbata-bata.
"Katakan saja, aku siap mendengar!",
"Kita... putus saja, ya",

Tubuhnya membatu seketika, senyum di wajahnya menghilang.
"Aku tidak ingin menyakiti hatinya, dulu mungkin aku
mencintaimu, tapi sekarang aku...", jelasku terhenti ketika melihat wajah sendu Sasuke.
"Hn!", angguknya, "Lupakan saja! Aku hanya masa lalumu yang tidak penting",
"Suke~",

Jangan berkata seperti itu, teme!

"Aku rapopo! Hahaaahaa.. Rapopo...",

Bakasuke! Apanya yang rapopo?

"Ah! Kado! Sebenarnya aku lupa dengan ulang tahunmu.
Heheheee... Gomen! Mungkin aku sudah pikun!", dia memukul-mukul kepalanya.

Jangan pukul kepalamu, nanti kau bertambah pikun!

"Tapi aku akan memberimu sesuatu, sesuatu yang menjadi
keinginanmu dulu. Kau mungkin tidak
mengingatnya...heheheee...", dia terus tertawa aneh.

Jangan tertawa lagi! Ini tidak lucu!

"Sedikit konyol, tapi, kuharap kau suka...hehehe...", Sasuke mengangkat kemejanya tinggi-tinggi, hingga memperlihatkan
otot perutnya yang atletis.
"Mau apa kau? Nanti kau bisa...", perkataanku terhenti ketika melihat Sasuke mulai menggoyang-goyangkan pinggul dan perutnya, menari mengikuti irama lagu thema Konoha Land.

Inikah tari perut yang ingin kulihat dari Sasuke?

Tariannya begitu konyol. Seharusnya aku tertawa, tapi mengapa dadaku begitu sesak? Apakah saat ini hati Sasuke sedang terluka?


"Bagaimana? Kau suka? Hahahaaa... Kau harus suka! Karena ini kado dariku...hahahaaa...", Sasuke tidak henti-hentinya tertawa garing, wajahnya semakin aneh, seperti menahan tangis.
"Suke~", panggilku.

Sasuke merapikan pakaiannya, setelah melakukan aksi tari perut di hadapanku yang dilirik dan ditertawakan orang banyak.

"Memalukan ya? Hn! Tapi ini pertunjukan langka, jadi...jangan sampai...kau...", suara Sasuke pelan, dia menunduk sambil menggigit bibirnya, dahinya berkerut-kerut.
"Huf!", Sasuke menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya, pandangannya menatap ke langit yang mulai gelap.

Dia mencoba untuk tersenyum.
"Ini pertunjukan konyol, lupakan saja! Bukan kado yang spesial", senyumnya bergetar, terkesan dipaksakan.
"Suke~", kutatap kedua matanya, air itu sedikit lagi akan tumpah.

Sasuke dengan cepat membalikkan badannya, hingga aku tidak bisa menatapnya.
"Aku lapar, aku mau tidur, aku pulang dulu, Jya!", pamit Sasuke cepat.

Aku mencengkram tangan kirinya sebelum dia kabur.
"Kau tidak pernah mau mendengarkanku, Uchiha Bakasuke!", desisku.
"Apa lagi yang harus kudengar? Semua perkataanmu menyakitiku! Untuk apa aku harus mendengarmu!",

Aku menarik tubuhnya supaya dia menatapku. Dia menatapku tajam. Air itu akhirnya turun dan membasahi pipi gempalnya.

"Kau selalu menyakitiku", desisnya.
"Kaulah yang selalu menyakitiku. Selama 2 tahun kau tidak mengabariku, aku terus menunggu kabar darimu. Aku mencemaskan keadaanmu di sana. Apa terapi itu berjalan lancar? Kapan kau akan kembali? Apa kau sudah melupakanku? Aku takut terjadi apa-apa padamu. Aku takut kau melupakanku. Aku takut kau direbut orang lain. Banyak pikiran negatif menghantuiku. Kau tidak pernah tahu itu!", marahku melampiaskan semua rasa cemasku yang sudah menumpuk selama 2 tahun.

Kedua mata itu terbelalak.
"Kau tidak lupa? Kau tidak pikun?", tanya Sasuke.
"Aku tidak mungkin lupa pada pacarku yang paling manis, paling imut dan paling menggemaskan sepertimu", godaku.

Kuusap air mata di pipinya.
"Aku juga tidak mungkin mencari pengganti yang lebih manis, lebih imut dan lebih menggemaskan darimu", godaku lagi.

Kutarik pipinya dengan gemas.
"Sebenarnya kaulah yang pikun", ejekku.

Dia menepis tanganku dari pipinya.
"Aku tidak pikun! Kaulah yang pikun!", bantahnya sambil menujuk kasar ke wajahku.
"Benarkah? Coba tebak, sekarang tanggal berapa?", tanyaku menantangnya.
"10! 10 Oktober!", jawabnya cepat dan yakin.

Aku tertawa mengejek.
"Hari ini tanggal 9, teme!", seruku.
"Kau salah! Hari ini tanggal 10, karena hari ini hari ulang tahunmu! Aku ingat itu!", Sasuke tetap ngotot.

Ternyata Sasuke memang ingat dengan tanggal ulang tahunku, tapi tetap saja dia lupa hari ini tanggal berapa!
Huh, dasar teme!

"Kau bisa melihat kalender di tabletmu", saranku.

Sasuke langsung membongkar isi ransel untuk mengeluarkan tabletnya.

"9?", gumannya.
"Hari ini memang tanggal 9, kau saja yang mulai pikun!", ejekku sambil tersenyum kemenangan.
"Fine!", Sasuke menyimpan kembali tabletnya, ranselnya kembali disandangnya.
"Selamat! Kau berhasil menipuku!", ketus Sasuke.

Dia mulai berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku. Aku mengikutinya dari belakang.

NgiiiiuuuuNG DuaaaaR DuaaaaR
Terdengar suara kembang api, pertanda agar aku mempersiapkan diri. Permainan telah berakhir, saatnya melakukan misi utama!

Sasuke berbalik dan menatap keheranan pada langit yang tiba-tiba muncul kembang api.

Beberapa detik kemudian, muncullah tulisan 'MARRY ME, SUKE!' berwarna orange kemerah-merahan, yang menyala di bianglala.

"Dobe, apa ini ulahmu?", tanyanya dengan tatapan horror.

Aku mendekatinya dan berlutut ala pangeran yang sedang melamar seorang tuan putri. Hey! Aku kan memang sedang melamar pacarku saat ini..hahahaa..

Kukeluarkan sebuah cincin perak dari saku celanaku. Kusodorkan cincin itu pada Sasuke.

"Marry me, Suke", pintaku sambil tersenyum lebar padanya.

Semua mata tertuju pada kami. Aku senang bisa melamar Sasuke di depan orang banyak. Tidak peduli dengan bisikan dan tawa orang-orang di sekitar. Aku senang sekaligus deg-deg-an.

"Dobe! Ini memalukan", kata Sasuke, wajahnya memerah, dia menutup wajahnya dengan ransel.

Teman-temanku mulai berdatangan. Shikamaru sudah siap merekam moment ini dengan handycamnya. Neji melihat kami dengan harap-harap cemas.

"Apa jawabanmu, Suke?", tagihku.

Sasuke masih betah menutup wajahnya dengan ransel.
"Yes, I do! Yes, I do! Yes, I do!", sorak teman-teman memberi dukungan sambil bertepuk tangan.

Sasuke menyingkirkan ransel dari wajahnya, dia tampak terkejut melihat keberadaan teman-teman kami.

"Fine! Kalian bersatu bersekongkol membuatku malu!", cibir Sasuke.
"Ne, Suke! Would you marry me?", tanyaku sekali lagi.

Sasuke berpikir sejenak.
"Ini... terlalu mendadak... Aku perlu waktu untuk berpikir", jelas Sasuke.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Kau mencintaiku dan aku mencintaimu",
"Kau selalu menyakitiku~ Apa ini caramu mencintaiku?", dia menatapku sendu.
"Jadi, kau menolakku?", tanyaku kecewa.
"Yaaah~", koor teman-teman ikut kecewa.
"Ini terlalu mendadak, Dobe!", Sasuke semakin galau.
"Yes or No?", tanyaku menuntut kepastiannya.

Aku tersenyum sambil menunggu jawabannya. Kutatap matanya sambil merapalkan 'say yes! say yes!' berkali-kali.

Sasuke memandang orang-orang di sekitar. Mereka semua menunggu jawaban Sasuke.

Come on, Suke! Say 'YES', please!

"Fine! Yes saja deh!", jawab Sasuke pasrah.

Jawabannya seperti tidak ikhlas, tapi aku senang dia memberiku 'YES'.

"So, would you marry me, my prince Uchiha Sasuke?", tanyaku lagi, aku bawel sekali.
"Hn! Yes, I do!", jawab Sasuke cepat.
"YeeeaaaH!", sorak orang-orang sekitar sambil bertepuk tangan meriah.
"Cepat pakaikan! Dan kita pulang!", perintah Sasuke sambil menunjuk cincin di tanganku.

Wajahnya sangat merah saat ini.

Aku memakaikan cincin di jari manis tangan kirinya. Kembali terdengar suara sorakan, siulan dan tepuk tangan. Teman-teman mulai merapat dan memeluk kami.

Sasuke tampak risih dikerumini banyak orang, tapi aku bisa melihat senyum kecil di wajahnya.

Lamaran ini berjalan dengan sempurna! Misi utama selesai!


Selesai lamaran dan berpesta bersama teman-teman, aku mengantar Sasuke pulang ke mansionku.

"Aaaah~ Senangnya~", aku merebahkan tubuhku di atas ranjang.

BuuuuG
Sasuke melempar ranselnya ke wajahku.

"Kau berhasil menipuku! Kau membuatku malu! Kau menyebalkan! Dasar Dobe bodoh, jelek dan menyebalkan!", omel Sasuke sambil memukulku dengan bantal berkali-kali.

Aku tertawa keras. Dia hanya mendegus lelah setelah puas memukulku.

"Kau menyebalkan!", dia menjatuhkan tubuhnya di sebelah kananku

Kudekati dia dan kupeluk dia. Kepalanya bersandar di dadaku.
"Aku mencintaimu, Suke~", bisikku.
"Kau bodoh, jelek dan menyebalkan!", ejeknya sambil mencubit perutku.
"Hn! Kau manis, imut dan menggemaskan. Aku telah mencatat itu di otakku", kubelai rambutnya yang halus.
"Seharusnya aku memilih 'NO' tadi!",
"Teganya dirimu! Kau tidak mau menikah denganku?", cibirku sedih.
"Aku masih ragu, Dobe~",
"Kau ragu? Apa kau ragu mencintaiku?", aku mulai cemas.

Sasuke menggeleng.
"Lalu? Apa yang kau ragukan?",
"Ini begitu mendadak",
"Aku takut kau direbut orang lain",
"Hn! Itu karena aku imut dan menggemaskan", bangganya.
"Makanya itu, aku harus memilikimu",

Sasuke mendekapku.
"Aku memang milikmu. Tolong jaga aku, karena aku limited edition!", pintanya dengan nada mengancam.


Sudah tengah malam.

Aku menatap wajah polos Sasuke yang sedang berbaring di dadaku. Kedua matanya terpejam, tapi dia belum tidur.

"Ne, Suke~ Kau tidak mengucapkan selamat ulang tahun untukku?", tagihku.
"Selamat ulang tahun, Dobeku sayang~", katanya santai tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Kau tidak ingin menciumku?", cibirku.

Sasuke langsung berbalik membelakangiku.
"Noprob! Tari perutmu itu adalah kado yang paling spesial untukku", godaku sambil tersenyum-senyum membayangkan tari perut Sasuke kemarin.

Sasuke langsung terbangun dan berdiri.

BuuuuG!
Dia meninju dadaku dengan kuat.

"Ouch!", rintihku tersentak.
"Kau membuatku teringat kembali!", ketus Sasuke.

Sasuke melompat turun dari ranjang. Kemudian dia berlari keluar kamar.

Aku mengelus dadaku yang sakit. Tinjunya benar-benar sakit, dia meninjuku dengan kekuatan penuh!

BLaaaaM!
Terdengar suara pintu tertutup kuat.

"TEME!", teriakku sambil berlari keluar kamar.

Aku tidak menemukan sosok Sasuke. Dia telah pergi!
Ini sudah tengah malam, mau kemana dia?

Aku mengambil ponselku dan menghubunginya, tapi malah direject olehnya.

Jyah! Ngambek lagi dia!


Terputus


Mungkin chapter depan updatenya bakal lama.

Lho kok pake mungkin sih? *protes sasUKE*

Review please ^^v