[Chaptered]
[Sequel : You Can't Hear]

Title : Love, Dream and Happiness
Chapter : 03/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Exile - Love, Dream and Happiness


Yuhuuu~
Saya datang kembali \(´ー`)┌
Chapter ini Itachi PoV.
Tiap chapter bakal beda-beda PoV ya.


Uchiha Itachi.
27 tahun.

Pagi hari, sebelum berangkat kantor.

"ASTAGA JASHIIIIN!", teriakku histeris bak kebakaran rambut.

Bagaimana tidak kaget, aku baru saja membaca pesan dari Sasuke, otouto kesayanganku ini menyuruhku untuk menjemputnya tadi malam di halte dekat mansion Naruto.

Segera kuhubungi Sasuke, tapi ponselnya tidak aktif. Aku lanjut menghubungi Naruto, semoga saja Sasuke ada bersamanya sekarang.

"Ya, Itachi-san?", sahut Naruto.
"Apa Sasuke bersamamu?", tanyaku langsung.
"Hn! Dia sedang tidur", jawab Naruto.

Akhirnya aku bisa bernafas lega.

"Jangan khawatir, Itachi-san. Sasuke baik-baik saja", kata Naruto.
"Kalian tidak bertengkar kan?", tanyaku curiga, tidak biasanya Sasuke menyuruhku untuk menjemputnya di tengah malam.
"Hehehee... Aku menggodanya dan dia marah..hehehee...", jawab Naruto cengengesan.

Huf~ Kapan mereka berdua akan bersikap dewasa?


Siang hari, di kantor.

Sasuke menghubungiku.
"Aniki, jemput~", pintanya dengan manja.

Suasana di tempat Sasuke sangat berisik, sehingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Kau dimana, otouto?", tanyaku.
"Entahlah. Aku tidak tahu aku ada dimana?", jawabnya.
"Apa Naruto bersamamu?",
"Ah! Toko Buku Ichi-ichi!", seru Sasuke tiba-tiba.
"Toko Buku Ichi-ichi?",
"Hn! Jemput aku ya! Kutunggu! Jya!", Sasuke langsung menutup panggilan.

"Toko Buku Ichi-ichi? Itu dimana ya?", gumanku.

Aku memijit dahiku yang sedikit pusing.

"Ichi-ichi...", gumanku lagi, aku mencoba mengingat tempat itu, tapi tetap saja aku tidak mendapatkan gambaran mengenai tempat yang dikatakan Sasuke.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Naruto.
"Ichi-ichi?", tanya Naruto balik.
"Hn! Ichi-ichi, apa kau tahu itu dimana?", tanyaku.
"Mmmm~", Naruto berpikir sejenak, "Apa maksudmu itu toko buku?",
"Ah! Iya! Toko buku!",

Saking terfokus pada 'Ichi-ichi', aku sampai lupa menambahkan clue 'toko buku'.

"Kalau itu toko buku, berarti Toko Buku Icha-icha", jelas Naruto.
"Icha-icha? Bukan Ichi-ichi?", tanyaku meyakinkannya.
"Hahahaaa... Itachi-san, kau salah mengingat, kau seperti Sasuke saja...hahahaa..", tawa Naruto.
"Heheehee...Mungkin aku salah dengar", cengirku.

Ah~ Otouto, kau membuatku malu.

Naruto memberiku alamat Toko Buku Icha-icha dengan jelas.

"Ano, Itachi-san!", panggil Naruto sebelum aku menutup panggilan.
"Ya?",
"Apa... Sasuke bersamamu?",

Dia mencari Sasuke, pasti mereka bertengkar lagi.

"Sasuke bersama Otou-san", jawabku berbohong.
"Huf~ Syukurlah~", Naruto bernafas lega.
"Kalian bertengkar lagi?",
"Dia masih marah padaku...hahahaa...",

Sebentar bertengkar, sebentar berbaikan. Mereka masih belum dewasa.

Sesampainya di Toko Buku Icha-icha.

"Ternyata memang Icha-icha", aku tersenyum kecut ketika membaca papan nama toko yang terpampang.
"Kau lama sekali, baka-aniki!", cibir Sasuke.

Kutarik pipinya dengan gemas. Kuarahkan wajahnya supaya dia menatap papan nama toko.

"Toko Buku Icha-icha", aku membacakan untuk Sasuke.
"Bukan Ichi-ichi?", tanya Sasuke heran.

Aku menggeleng, kuacak-acak rambutnya.
"Aku harus mengajarimu membaca Katakana lagi", godaku.

Apa kerena terlalu lama di Jerman sehingga dia lupa dengan bahasa negerinya sendiri?

"Huh!", Sasuke mendengus sebal.
"Bibirmu kenapa, otouto?", tanyaku sambil menarik dagunya, ada luka di bibir bawahnya.

Sasuke menepis pelan tanganku.
"Terbentur pintu!", jawabnya cepat.

Wajahnya langsung memerah.
Ah! Pasti Naruto menciumnya dengan ganas!

Aku tersenyum usil menatapnya.

"Jangan berpikiran jorok, baka-aniki!", ketus Sasuke.


Sesampainya di kantor.

Setelah kami makan siang bersama, Sasuke tidak ingin pulang ke mansionku, dia ingin melihat-lihat kantorku.

Kuhempaskan pantatku di kursi kerjaku, mengambil sebuah map berwarna putih.
"Haaah~ Kembali ke laporan~", aku menatap jenuh pada mejaku yang berserakan kertas-kertas.
"Perlu bantuan?", tawar Sasuke, tatapan matanya seolah menginginkan pekerjaan dariku.
"Kau yakin bisa membantuku?", aku menatapnya dengan pandangan remeh.
"O! Kau tidak yakin dengan kemampuanku!", cibir Sasuke sambil melipat kedua tangannya di dada.

Wajahnya berubah menjadi jengkel. Aku tertarik untuk menggodanya lagi.

"Membaca huruf Katakana saja kau bisa salah, apalagi laporan ini yang penuh dengan huruf kanji", sindirku.

Wajahnya memerah.
Ah! Rasanya senang telah menggodanya. Ternyata aku kakak yang usil. Hahahahaa...

"Fine! Kerjakan saja sendiri!", ketus Sasuke.

Sasuke berjalan menuju sofa yang letaknya tidak jauh dari meja kerjaku. Dia duduk manis di sana sambil membaca koran. Gayanya seperti Otou-san saja.

"Otouto", panggilku.

Sasuke tidak menyahutku, dia hanya melirikku saja.

"Tangkap!", aku melempar sebuah Professor's Cube -rubiks 5x5- ke arahnya.

Hap! Dia menangkapnya dengan cepat dan tepat.

"Selesaikan itu daripada membaca koran yang penuh dengan huruf KANJI, itu akan membuatmu pusing", kataku dengan penekanan pada kata 'Kanji'.

Sasuke mendengus sebal.
"Thanks!", ketusnya.

Sasuke menyimpan korannya, kini pandangannya terfokus pada Professor's Cube yang dimainkannya.

Aku tersenyum geli melihat wajah Sasuke yang tadinya mencibir sebal, mendadak berubah serius dan tenang. Dahinya berkerut-kerut memikirkan cara menyelesaikan puzzle tersebut.

Moodmu mudah sekali diubah, otouto!


Hari sudah malam dan aku masih betah duduk di kursi kerjaku.

Kurenggangkan otot-otot tubuhku. Pandanganku tertuju pada Sasuke yang sedang tertidur dengan posisi telungkup di sofa, tangan kirinya menjuntai ke bawah. Sedikit lagi, dia nyaris terjatuh.

Aku menghampiri Sasuke untuk membenarkan posisi tidurnya. Kubalikkan posisi tidurnya menjadi telentang. Pandanganku beralih pada cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kirinya.

"Naruto telah melamarmu ternyata", gumanku sambil menarik pelan hidung peseknya.

Naruto bilang dia akan melamar Sasuke ketika Sasuke pulang dari Jerman, aku tidak menyangka dia akan melamar Sasuke secepat ini.

Kakiku menginjak sesuatu, tablet milik Sasuke terjatuh sewaktu dia tertidur. Kuambil tablet tersebut, jariku tidak sengaja menyentuh layar tablet, sehingga layar tablet menunjukkan sebuah halaman website.

Sebuah website belajar kanji online. Pantas saja dia terlihat khusuk dengan tabletnya setelah selesai menyelesaikan Professor's Cubenya tadi.

Mmmm~ ternyata Sasuke sudah lupa dengan huruf kanji.


Karena perutku sudah lapar, dan mataku mulai lelah, aku butuh istirahat. Akupun membangunkan Sasuke.

"Ini dimana?", guman Sasuke baru bangun.
"Ini kantorku", jawabku.
"Sudah bisa pulangkah kita?", tanya Sasuke.
"Hn! Apa kau lapar? Kita makan malam sebentar ya?", tawarku.
"Hn!", angguknya.


Sesampainya di restoran.

Aku memesan menu makanan yang serba rebus, tidak mengandung lemak dan pedas. Sasuke harus menghindari makanan yang berlemak dan pedas.

"Sekali-kali aku ingin makan steak!", cibir Sasuke.
"Lain kali saja, otouto", bujukku.
"Sampai kapan aku harus menjaga pola makanku?", tanya Sasuke, wajahnya muali bosan dengan menu hariannya.
"Kesehatan sebagian besar berasal dari pola makan yang sehat", jawabku.

Sasuke hanya mendengus.
Haah~ Sekali-kali aku harus mentraktirnya makan steak. Ya, hanya sekali saja, tidak masalah bukan?

Ah! Aku teringat sesuatu.

"Cincinmu bagus", kataku melirik cincin di jari manisnya.

Dengan cepat dia melepas cincinnya dan menyimpannya di saku celananya.

"Mengapa dilepas? Cincin itu bagus di jarimu", bujukku.

Sasuke menunduk malu. Tangannya semakin cepat mengaduk-ngaduk jus tomatnya.

"Naruto melamarmu?", tanyaku.
"Hn", angguknya malu-malu Uchiha.
"Wah! Senangnya!", seruku.

Wajah Sasuke seperti tidak senang, ada keraguan di wajahnya.

"Kau tidak senang jika Naruto melamarmu?", tanyaku.
"Entahlah", jawabnya.
"Apa yang membuatmu ragu?",
"Aniki, aku lapar. Aku tidak ingin membahas ini sekarang", tolak Sasuke dengan nada memelas, dia enggan bercerita padaku.
"It's OK!", ngalahku.

Kami sedang dinner, kurasa ini moment yang kurang tepat untuk mengajak Sasuke bercurhat.


Malam hari di mansionku.
Saat aku hampir terlelap dalam mimpi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.

CekleeeeK
Suara pintu kamarku yang terbuka.

"Aniki, kau sudah tidur?", tanya Sasuke.

Aku menyalakan lampu meja, kulihat Sasuke sedang menggendong Kurama-chan, boneka rubah berukuran besar pemberian Naruto.

"Bolehkan kami tidur bersamamu?", tanya Sasuke lagi.

Aku sedikit menggeser tubuhku ke samping, kutepuk tempat kosong di sebelah kiriku.

Sasuke langsung naik dan berbaring di sebelahku.

"Kau takut tidur sendirian?", godaku.

Hari ini aku banyak menggoda Sasuke.

"Kurama-chan ingin merasakan tidur bersamamu", jawab Sasuke sambil menggerak-gerakkan tangan Kurama-chan ke wajahku.

Aku merasa geli ketika bulu-bulu Kurama-chan menggelitik wajahku.

"Cepat tidur, bukankah besok kau ingin ke kantorku lagi?", tanyaku.
"Hn! Oyasuminasai, aniki!",
"Kau tidak ingin menciumku?", aku memajukan bibirku.
"Aniki sama genitnya dengan Dobe!", ketus Sasuke.

Sasuke melempar Kurama-chan ke wajahku, kemudian dia tidur membelakangiku.

Apa seperti ini cara Naruto menggoda Sasuke hingga Sasuke marah?

"Oyasuminasai, otouto~",

Aku mematikan lampu meja, suasana kamar menjadi gelap, tidak begitu gelap karena ada sinar bulan yang menembus jendela kamarku.


"Aniki~", panggil Sasuke pelan.
"Hn?", sahutku, aku belum tidur karena aku merasa Sasuke belum tidur juga, dia sibuk memainkan ekor Kurama-chan.
"Apa kau setuju jika Dobe menikahiku?", tanya Sasuke.
"Tentu saja! Naruto itu baik hati dan tidak sombong", jawabku antusias, apakah sekarang Sasuke ingin bercerita padaku?
"Benarkah dia itu baik?", tanya Sasuke ragu.
"Waktu kuliah kalian kan sekamar, kurasa kau mengenalnya lebih banyak daripada aku. Kalau pendapatku, Naruto itu anak yang baik, ramah dan bertanggung jawab. Kurasa aku tidak perlu cemas menyerahkan adik kesayanganku ini padanya, dia pasti akan membahagiakanmu", jelasku panjang lebar.
"Benarkah Dobe seperti itu?",
"Kau meragukan kebaikan Naruto?",

"Kau tidak ingin menikah dengannya?",
"Aku bingung, aniki~",
"Apa yang membuatmu bingung?",
"Masa depanku. Aku tidak yakin apa aku bisa membahagiakannya? Dan sebaliknya, aku juga tidak tahu, apa dia bisa membahagiakanku?",

Kusingkirkan Kurama-chan yang membatasiku dengan Sasuke.
"Aku takut, aniki~", lirih Sasuke.

Aku menggenggam kedua tangannya.
"Apa yang kau takutkan?", tanyaku.
"Aku mencintainya dan diapun begitu, tapi di sisi lain ada yang membuatku takut. Aku takut, aku tidak bisa mencintainya sepenuhnya, aku takut dia menyakitiku, aku takut kami akan menyesal dengan keputusan ini. Sifat kami sangat bertolak-belakang, sampai sekarangpun aku tidak bisa memahaminya", curhat Sasuke sedih.

Kutarik pipinya agar ekspresi sedih itu menghilang dari wajahnya.
"Kau takut, karena kau tidak percaya padanya. Dia percaya padamu, sehingga dia berani meminta izin pada otou-san dan aku untuk melamarmu. Aku tidak menyangka dia akan melamarmu secepat ini",
"Hah! Otou-san sudah tahu?", tanya Sasuke terkejut.
"Hn!", anggukku.
"Huh! Dobe! Kau membuatku malu!", Sasuke menyembunyikan wajahnya di balik Kurama-chan.

Wajah Sasuke pasti memerah seperti tomat kesukaanya.

"Dia benar-benar serius dan tulus mencintaimu. Jika dia tahu bahwa kau tidak percaya padanya, dia akan sedih lho", bujukku, kuharap perkataanku ini dapat menghilangkan keraguan di hati Sasuke.
"Bagaimana aku bisa memunculkan kepercayaanku padanya?", tanya Sasuke.
"Hidup bersamanya dengan ikatan", jawabku.

Kuangkat tangan kiri Sasuke, aku bermaksud untuk menunjukkan cincin tunangan pemberian Naruto, tapi cincin itu tidak ada di jari manisnya.

"Kau tidak memakai cincin itu?", tanyaku tidak suka, seolah-olah cincin itu pemberian dariku.
"Aku menyimpannya di laci kamar", jawab Sasuke.
"Kau harus memakainya, itu bukti bahwa kau milik Naruto!", tegurku.
"Bukankah Naruto juga memakainya?", tanyaku.
"Hn", angguk Sasuke.
"Nah! Itu bukti bahwa dia milikmu! Kalian berdua saling memiliki, inilah yang dinamakan ikatan. Jika kau terus bersamanya, kau bisa lebih memahaminya, lama-kelamaan rasa percaya itu akan muncul ", jelasku.

Sasuke malah cuek dan memeluk Kurama-chan, Sasuke kembali memunggungiku.

"Kau sudah mengerti, otouto?",
"Arigatou, aniki~", kata Sasuke pelan.

Aku tersenyum sambil mengacak-ngacak rambutnya. Kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara kami.


Keesokan paginya.
Aku menyiapkan sarapan di dapur.

"Ohayou, aniki!", sapa Sasuke sambil memelukku dari belakang.
"Ohayou, otouto!", balasku.

Sasuke melepaskan pelukannya dan beralih duduk bermalas-malasan di meja makan.
"Aku lapar, aniki~", lirih Sasuke seperti kucing minta makan.
"Kau tidak ingin membantuku?", tanyaku.

Sasuke langsung bangkit berdiri.
"Apa yang bisa kubantu?", tanyanya antusias.
"Tolong cuci itu semua", pintaku menunjuk ke arah bak cuci yang penuh dengan peralatan makan yang kotor.

Awalnya wajahnya cemberut, tapi akhirnya dia mau juga membantuku mencuci.

"Kau otoutoku yang paling rajin", pujiku.
"O, jadi selama ini aku pemalas?", kata Sasuke kurang suka dengan pujianku.

Aku menanggapinya dengan tertawa.

"Huh!", cibir Sasuke.

Kulihat cincin itu sudah terpasang di jari manis tangan kirinya.

"Naruto pasti senang melihat calon istrinya serajin ini", godaku.

KlonTaaaaNG
Sasuke tidak sengaja menjatuhkan tutup panci yang dicucinya.


2 hari kemudian, keluarga Uzumaki -Minato-san, Kushina-san, dan Naruto- datang untuk membicarakan pernikahan Naruto dan Sasuke.

Sasuke yang duduk di sebelah kiriku merasa tidak tenang, dia lebih tertarik melihat sandal bebeknya daripada melihat kami. Sedangkan Naruto yang duduk berhadapan dengannya hanya bisa tersenyum tidak jelas. Mereka berdua tampak canggung.

"Kurasa musim semi tahun depan adalah hari yang cocok untuk melaksanakan pernikahan", saran otou-san.
"Itu terlalu lama, Fugaku-san!", tolak ketiga Uzumaki.

Mereka benar-benar keluarga yang kompak.

"Ah! Ma, maaf~ Hehehee...", cengir mereka salah tingkah.

Ya, sangat kompak!

"Sepertinya Naruto sangat tidak sabar ingin segera menikahi Sasuke", aku melirik Naruto dan Sasuke bergantian.

Naruto mengangguk malu, sedangkan Sasuke masih betah menatap sendalnya. Apa yang kau pikirkan, otouto?

"Kau ingin tanggal berapa, nak?", tanya otou-san.
"23 Oktober, tahun ini!", jawab Naruto tegas.
"Yang benar saja, Dobe! Ini terlalu cepat!", bantah Sasuke sambil menunjuk Naruto.

Kini semua mata teruju pada Sasuke. Sasuke yang dari tadi hanya diam menunduk, tiba-tiba bersuara.

"Maaf~", sesal Sasuke.
"23 Oktober. Mmmm~ Musim gugur juga merupakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan", pendapat otou-san.
"Hn! Aku setuju! Semakin cepat semakin baik!", tambahku.
"Aniki~", panggil Sasuke pelan.

Aku menggenggam tangan Sasuke, aku tersenyum padanya mengisyaratkan supaya dia tidak perlu cemas.

"Bagaimana Sasu-chan? Mau ya, please~", pinta Kushina-san memelas.

Sasuke melirik kami bergantian, kami semua menatap Sasuke dengan tatapan 'Say yes'.

"Hn", angguk Sasuke pelan.
"YEAH!", sorak ketiga Uzumaki sambil berhigh-five.
"Arigatou, Suke!", seru Naruto.

Sasuke hanya mengangguk. Aku bisa melihat wajahnya yang memerah ini.

Tanggal 23 Oktober, kurang lebih seminggu lagi, aku tidak sabar menunggu hari itu.


Kita skip saja ya readers, langsung ke tanggal 23 Oktober, hari pernikahan otoutoku tersayang.

Pernikahan Naruto dan Sasuke diadakan di kuil. Sasuke menginginkan pernikahan dengan tradisi Shinto.

"Kau terlihat tampan, otouto", pujiku.

Sasuke mengenakan hakama resmi berwarna putih, padahal aku ingin melihatnya mengenakan shiromuku. Hahahaa.. Sasuke pasti akan marah dan melemparku dengan bakiak jika aku memintanya mengenakan shiromuku.

"Otouto?", panggilku karena Sasuke melamun, dia tidak mendengar pujianku.
"Hn?", sahutnya.
"Kau memikirkan sesuatu?", tanyaku.
"Bukan hal yang penting!", ketus Sasuke.

Sasuke beranjak hendak meninggalkan ruangan.
"Kau mau kemana?", tanyaku.
"Mencari angin segar", jawab Sasuke.
"Sebentar lagi prosesi akan dimulai", aku mengingatkannya.
"Hanya sebentar, aku akan kembali secepatnya", kata Sasuke.

Sasuke langsung pergi tanpa mendengar perkataanku. Raut wajahnya tadi tampak tidak tenang. Dia mungkin grogi.


Ini hampir 1 jam Sasuke pergi, hingga sekarang dia tak kunjung kembali. Aku menghubungi ponselnya, tapi dia tidak membawa ponselnya.

"Kau kemana, otouto?", gumanku cemas.

Aku menyuruh Kakashi-san untuk mencari Sasuke, tapi Kakashi-san tidak berhasil menemukannya.

BRaaaaK
Pintu ruangan digeser dengan kuat.

"Sasuke!", teriak Naruto.

Naruto mencari keberadaan Sasuke.
"Itachi-san, dimana Sasuke?", tanya Naruto panik.
"Sasuke...menghilang...", jawabku ragu.


Terputus


Dimana Sasuke?
Di kamarku #plak

Review, please :3